DADDY'S HOME 2 (2017)

Tidak ada komentar
Komedi dapat dikatakan baik bila mampu memenuhi tujuan memancing tawa, sebagaimana horor menyulut ketakutan, atau laga memacu adrenalin. Menjadi spesial jika terdapat adegan (dengan fungsi mendukung tujuan itu) yang terus tertanam di ingatan. Pada Daddy's Home, momen tersebut hadir ketika Brad (Will Ferrell) terjungkal ke tembok akibat gagal mengontrol motor milik Dusty (Mark Wahlberg). Sekuelnya berusaha mengulangi sihir serupa tatkala Brad kelabakan mengendalikan mesin penyedot salju. Konsep mirip dengan hasil berbeda karena sang sutradara, Sean Anders, sekedar berusaha meniru. Itulah mengapa Daddy's Home 2 bukan suguhan spesial. 

Tapi bukan pula komedi buruk, dan saya pun tergelak menyaksikan situasi absurd saat jumlah ayah berlipat ganda. Selaku versi ekstrim dari anak masing-masing, datanglah para kakek; Don (John Lithgow) yang lebih cerewet, konyol, dan norak dibanding Brad, juga Kurt (Mel Gibson) si tua-tua keladi lewat tingkat kekejaman serta sarkasme yang membuat Dusty terlihat lembut. Demi nuansa kekeluargaan Natal, mereka bersama istri dan bocah-bocah memilih berlibur di sebuah resort. Kondisi ini memfasilitasi pemandangan menarik semisal keempat ayah dengan kegilaan berlainan berkumpul di tengah malam, berdebat soal termostat. 
Banyak perdebatan, banyak pertengkaran, yang disebabkan kekonyolan Don dan Brad maupun sinisme Kurt, takkan berujung pembicaraan waras. Anders mengemas segala perbincangan itu bagai peperangan. Perang verbal di mana kalimat yang karakternya lontarkan tak ubahnya berondongan peluru senapan mesin. Bising, cepat, kacau nan tanpa aturan. Enggan memperhatikan timing, deretan punch line di naskah tulisan Anders dan John Morris gagal mendarat keras pada urat tawa penonton. Walau berkat jajaran pemainnya, rasa kantuk belum sampai menguasai. 

Ferrell tetap pesakitan, seorang anak kecil bertubuh dewasa dengan kesialan beruntun, yang semakin dia menderita, semakin penonton terhibur. Sewaktu Wahlberg sebagai Dusty kini merupakan tokoh berakal paling sehat sementara talenta komikal John Cena dibatasi minimnya materi pendukung, dua kakek sanggup mencuri atensi. Gibson memainkan peran penuh wibawa sekaligus bermulut pedas seperti kerap dia lakoni, hanya saja, kini maskulinitas tersebut dipakai untuk pondasi humor yang nyatanya sukses besar. Begitu mudah ia babat setiap kesempatan. Sedangkan Lithgow, melalui senyum lebar dan mata berbinar adalah yang terbaik. Menggelitik sejak awal, dia remukkan perasaan hanya dalam satu momentum emosional.  
Secara mengejutkan Daddy's Home 2 mempunyai setumpuk porsi drama, atau setidaknya tuturan serius yang bersembunyi di belakang kedok banyolan-banyolan. Wajar, mengingat bertambahnya jumlah ayah berarti bertambah banyak pula masalah. Terlampau banyak malah, sampai filmnya kesulitan menyediakan penanganan total. Beberapa problematika memperoleh resolusi natural, macam hubungan Dusty-Kurt yang manis namun sederhana. Tapi ada pula yang tertinggal, contohnya saat usaha Kurt menarik perhatian cucu-cucu terlupakan. Terdapat 9 orang anggota keluarga (10 ditambah Roger-nya Cena), dan mereka semua diberi subplot. Berlebihan, meski disertakannya sekelumit pesan mengenai hak wanita sejak kecil terasa melegakan. 

Penutup berupa nomor musikal diiringi lagu Do They Know It's Christmas? bak pertunjukan darurat yang tampil lebih mendadak daripada suguhan Bollywood. Konklusi pun terasa ajaib, tapi bukankah Natal memang tentang keajaiaban? Mengusung semangat tersebut, walau dieksekusi memakai jalan yang terkesan malas, Daddy's Home 2 masih suatu komedi yang baik, biarpun takkan hinggap lama di benak para penontonnya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

BLADE OF THE IMMORTAL (2017)

7 komentar
Blade of the Immortal dipromosikan sebagai film ke-100 Takashi Miike, walau mengacu pada kredit IMDb, tanpa menghitung serial televisi dan film pendek, ini "baru" karya nomor 92. Bukan masalah, tetap jumlah yang sulit ditandingi sutradara lain. Terpenting, di usia 57 tahun, setelah 26 tahun berkecimpung di industri perfilman, Miike belum menunjukkan tanda bakal memperlambat laju, meski secara alamiah, kualitasnya naik-turun. Diangkat dari Blade of the Immortal buatan Hiroaki Samura yang brutal memfasilitasi Miike membuat adaptasi manga yang lebih serius, sedikit menjauhi gaya "kartun" sebagaimana biasa ia gunakan. 

Sekuen pembukanya memperlihatkan itu, dibungkus visual hitam-putih, Miike membawa si tokoh utama, samurai bernama Manji (Takuya Kimura), pada pertarungan brutal, pembicaraan soal kematian, lalu ditutup tragedi ketika sosok berharga dalam hidupnya dibunuh. Manji yang siap meregang nyawa justru dianugerahi (atau dikutuk) kehidupan abadi Yaobikuni (Yoko Yamamoto), seorang pertapa wanita misterius. 50 tahun berselang, ia dimintai bantuan oleh Rin (Hana Sugisaki) untuk membunuh Kagehisa Anotsu (Sota Fukushi), ketua Ittō-ryū yang membantai sang ayah di depan matanya. Ittō-ryū sendiri adalah perkumpulan yang berniat menyatukan seluruh perguruan pedang di seluruh negeri.
Memang sepanjang perjalanan, Manji dan Rin berhadapan dengan para anggota Ittō-ryū yang memiliki dandanan aneh, tapi nuansa komikal jarang diberikan. Menjaga absuditas di batas minumum, karakternya tidak bertingkah layaknya tokoh kartun, kuantitas humor khususnya slapstick ditekan, Miike pun turut mengontrol kadar gore. Pertarungan antara samurai masih bersimbah darah, namun urung berlebihan. Sebagaimana Thirteen Assassins, sang sutradara mengutamakan kesolidan koreografi, menempatkan kamera di posisi yang lebih bertujuan menangkap gerak laga ketimbang detail pedang yang memotong bagian tubuh manusia. 

Menyenangkan pula melihat jajaran pelakon yang berakting dalam kadar emosi serta ekspresi secukupnya, meninggalkan gaya over-the-top seperti yang kerap kita temui dalam banyak alih media manga menuju live action (atau film Jepang pada umumnya). Alhasil, Takuya Kimura berkesempatan memamerkan pesona samurai abadi yang ketenangan luarnya merupakan bentuk endapan duka mendalam selama puluhan tahun. 
Sayangnya, naskah Tetsuya Oishi terjebak dalam permasalahan klasik adaptasi manga, yakni kesulitan merangkum puluhan bab menjadi satu film panjang. Blade of the Immortal mengambil dua arcs pertama manga-nya yang terdiri atas 79 chapter. Keputusan merangkai durasi sekitar 2 setengah jam sejatinya tepat, tapi gagal dimaksimalkan. Pergerakan narasi tetap jumpy dan buru-buru tatkala Oishi hanya tertarik memasukkan pertarungan demi pertarungan alih-alih menjalin cerita kokoh. Menonton Blade of the Immortal bagai bermain video game yang berpindah dari satu boss battle ke boss battle berikutnya.

Kelemahan alur menanggalkan tujuan filmnya untuk tampil dramatik, padahal setumpuk potensi dapat kita temukan, dari tendensi bunuh diri Manji, hubungan layaknya kakak-adik dirinya dengan Rin, hingga yang paling menarik, motivasi Kagehisa membentuk Ittō-ryū akibat dendam turun temurun yang bisa dipahami. Semua gagal menyentuh puncak kapasitas, sebab pengembangan kisah maupun penokohan tak berjalan baik, termasuk 35 menit terakhir sewaktu alurnya berbelok ke arah berbeda. Still an entertaining samurai movie though

7 komentar :

Comment Page:

KELUARGA TAK KASAT MATA (2017)

19 komentar
Keluarga Tak Kasat Mata adalah film jelek. Sangat jelek. Dan sesuai tradisi, film berkualitas jauh di bawah rata-rata akan mendapat review spesial. Tapi 2 hari berselang, saya buntu. Ketika ulasan Coco dan Murder on the Orient Express yang ditonton belakangan sudah dipublikasikan, ide belum juga mengalir bagi Keluarga Tak Kasat Mata. Saking bingungnya, sempat terpikir menerbitkan satu halaman nyaris kosong bertuliskan "Ini adalah review tak kasat mata", namun urung saya lakukan. Karena itu sama saja dengan pembuat filmnya, yang kehabisan akal lalu memilih jalur luar biasa malas sekaligus bodoh.

Setahun lalu, ketika horor tanah air cenderung jalan di tempat, kelemahan akut Keluarga Tak Kasat Mata mungkin bisa sedikit (catat: SEDIKIT) dimaafkan. Paling tidak ini bukan tontonan antah berantah macam Dia Pasti Datang atau Video Maut yang memperlihatkan keburukan tidak mempunyai batas. Terima kasih Joko Anwar, Pengabdi Setan memasang standar baru. Kini, production value lumayan (catat: LUMAYAN) saja tak cukup memberi rasa maklum. Apalagi dalam film seperti Keluarga Tak Kasat Mata yang layaknya "kaum sumbu pendek" Indonesia, mudah curiga dan insecure. Pulpen jatuh musik berdentum, sebaris dialog selesai musik berdentum, hantu muncul sekelebat pun musik berdentum. 
Apa yang terjadi saat para makhluk halus sungguh-sungguh menampakkan wujud? Menurut sutradara Hedy Suryawan (Rock N Love), jawabannya adalah close-up ekstrim, dan tentu saja musik berdentum. Bagai Benedict Cumberbatch yang doyan mengganggu sesi foto karpet merah, hantu film ini suka melakukan photo bomb, tiba-tiba muncul memenuhi seisi layar bioskop, yang daripada menakutkan justru memancing tawa. Lucu, jauh lebih lucu ketimbang karakter Bebek (Kemal Palevi) yang memanfaatkan tiap kemunculan untuk merengek, bertingkah menyebalkan, berusaha tampil konyol meski sama sekali tidak lucu.

Soal membangun intensitas filmnya juga punya metode murahan. Ketegangan berbasis kekacauan situasi disamakan dengan editing lompat-lompat, kala secara ajaib, tokohnya bisa mendadak berpindah tempat. Entah di antaranya ada transisi tak kasat mata atau pembuat filmnya menganggap Genta (Deva Mahenra) dan kawan-kawan sebagai David Copperfield yang tengah melakukan sulap pindah tempat dalam sekejap dibantu trik kamera. Deva sendiri kesulitan menangani peran protagonis horor yang dituntut senantiasa takut dan curiga, akibat kosongnya pengekspresian rasa. 
Cerita Keluarga Tak Kasat Mata buatan Bonaventura D Genta yang populer di Kaskus pada dasarnya merupakan rangkaian pengalaman melihat hantu atau mendengar suara aneh, yang mengerikan karena membiarkan imajinasi serta asumsi pembaca berkeliaran. Mengangkatnya mentah-mentah ke layar lebar, seperti tangisan wanita yang rutin terdengar tiap beberapa menit, menghasilkan ketiadaan eksistensi alur pun daya cekam. Walau tidak sampai satu setengah jam, karena sekedar diisi penampakan satu ke berikutnya, Keluarga Tak Kasat Mata seolah berjalan sehari penuh. Bisa dipahami jika anda merasa sedang terjebak di kutukan lingkaran waktu tanpa ujung serupa Jessica Rothe di Happy Death Day.

Ada usaha merajut alur, namun naskah buatan trio Lele Laila, Evelyn Afnila, dan Bonaventura D Genta mengandung setumpuk poin yang pantas dipertanyakan, dari esensi tulisan penanda waktu serta lokasi yang hanya tampak di awal, hingga resolusi seputar para keluarga tak kasat mata di kantor Genta. Penonton bukan Genta dan Rudi (Gandindra Bimo) yang mampu memahami masalah makhluk halus hanya lewat pertanda ambigu dalam mimpi. Penonton butuh elaborasi. Tak perlu gamblang, cukup pemaparan berbentuk struktur cerita rapi alih-alih plot tak kasat mata dalam film berkualitas tak kasat mata pula. 

19 komentar :

Comment Page:

MURDER ON THE ORIENT EXPRESS (2017)

22 komentar
Versi baru Murder on the Orient Express terbentur fakta bahwa banyak pecinta film telah paham seluk beluk misteri adaptasi novel berjudul sama karya Agatha Christie tersebut. Motif, trik, sampai twist mengenai identitas pelaku sudah diketahui. Mengubah berarti mengambil resiko merusak esensi. Penyesuaian yang dilakukan pun bertujuan menggapai pangsa pasar penonton kasual berusia muda, khususnya yang awam akan sumber materinya. Pemakaian huruf bergaya nyala neon plus lagu Believer milik Imagine Dragons pada trailer membuktikannya. Di hasil akhir, peningkatan kuantitas dan kualitas efek visual serta selipan aksi mengusung tujuan serupa. Apakah modernisasi di atas ikut menguatkan poin substansif?

Hercule Poirot (Kenneth Branagh) pun dimodifikasi. Sesekali masih bertingkah jenaka dan punya kepercayaan diri selangit, Poirot bukan lagi jenius tanpa cela. Selain memiliki OCD yang menjelaskan kepekaan analisisnya, ia menunjukkan kerapuhan pria yang kehilangan cinta, gampang terprovokasi, kerap keliru melempar hipotesis, pula terjebak dilema moralitas. Atas nama perbedaan, naskah Michael Green (Logan, Blade Runner 2049) berambisi tak hanya memaparkan kasus pembunuhan, juga drama mengenai sisi problematik tokoh utama. Bahkan tersimpan sikap anti-rasisme tatkala novel maupun cerita pendek Agatha Christie sering mengandung nada rasisme. 
Dasar ceritanya sama, menyoroti pembunuhan terhadap pebisnis bernama Samuel Ratchett (Johnny Depp) yang terjadi kala kereta Orient Express tengah melaju. Seiring salju longsor yang memaksa kereta berhenti, Poirot harus menemukan pelaku di antara para tersangka dari beragam latar belakang. Kunci bangunan intensitas terletak pada proses interogasi yang (seharusnya) jadi sarana penonton terlibat dalam investigasi, ikut menebak makna di balik pertanyaan Poirot, mengaitkannya dengan jawaban penumpang serta berbagai sebaran petunjuk. Sayangnya, di sini naskah Green, juga penyutradaraan Branagh tampak kerepotan. 

Interogasi tampil sambil lalu hingga penggalian informasi terasa dangkal. Dialog tulisan Green sekedar adaptasi hambar, sementara Branagh kurang cakap menyulut ketegangan berbasis barter kalimat. Nampak ketika dua adegan bernuansa aksi dibubuhkan selaku amunisi tambahan kalau penonton bosan mendengar 114 menit penuh pembicaraan. Bahkan momen pengungkapan fakta mengejutkan di akhir bakal seutuhnya gagal menghentak andai tak dibantu iringan Never Foget, musik melankolis nan indah gubahan Patrick Doyle. Namun tidak tertutup kemungkinan, bagi penonton yang sama sekali awam, investigasi Murder on the Orient Express mampu mencengkeram meski sedikit melelahkan.
Seperti sempat disinggung, Murder on the Orient Express memberi porsi lebih untuk eksplorasi karakter Poirot. Keputusan ini menyuntikkan dinamika baru di mana si "detektif terhebat di dunia" tak hanya memecahkan kasus, juga mengalami proses belajar dari pemegang prinsip bahwa hanya ada benar-salah jadi memahami ranah ambigu abu-abu di antaranya. Alhasil, para tersangka yang harusnya memiliki dinamika hasil penokohan berwarna tersisih, sebatas pelengkap dengan kepribadian ala kadarnya sekaligus minim peluang bersinar. Uniknya, berbeda dibanding versi Lumet, Ratchett diberi porsi ekstra khususnya di paruh awal, kemungkinan demi memanfaatkan nama besar Depp.

Sulit dipungkiri, melihat jajaran aktor kelas wahid berbagi layar, saling bertukar argumen tetap menyenangkan disimak. Depp penuh kharisma, untungnya tanpa gaya eksentrik yang kini membosankan, Michelle Pfeiffer dengan tatapan serta tutur kata menusuk namun berkelas, energi Daisy Ridley, wibawa Judi Dench, hingga Penelope Cruz yang mengatur kata-kata atas nama religiusitas. Biar begitu, kegagalan menciptakan karakter utuh membatasi pesona mereka, menyisakan Poirot sebagai satu-satunya tokoh berdimensi. Branagh dan kumis antiknya bak mengandung magnet, sanggup menyandingkan aspek quirky jenaka Poirot bersama sisi bermasalah dirinya. 

22 komentar :

Comment Page:

COCO (2017)

38 komentar
Rilisan Pixar dikenal atas kemampuan mengobrak-abrik perasaan penonton, tapi aspek yang paling saya kagumi adalah kepintaran membangun dunia imajiner yang tersusun rapi, budaya, serta "tata aturan" berdasarkan pernak-pernik kehidupan di sekitar. Setelah serangga, mainan, makhluk laut, monster, pahlawan super hingga isi otak manusia, Coco kembali membawa Pixar dalam ciri terbaiknya, mengangkat Dia de los Muertos alias Day of the Dead, yakni hari perayaan di Meksiko untuk mengenang arwah leluhur. Oleh duo penulis naskah Adrian Molina dan Matthew Aldrich, hari sakral tersebut jadi sarana menuangkan gagasan sekaligus curahan tentang relasi seseorang dengan keluarganya.

Keluarga merupakan rumah, tempat bernaung di mana anggotanya saling menyokong. Tapi seringkali kita merasa itu hanya konsep kelewat bijak yang jauh dari realita. Miguel (Anthony Gonzalez) berada di kondisi serupa. Baik orang tua maupun sang nenek gemar berceramah soal betapa penting dan berharganya keluarga, namun Miguel berpendapat sebaliknya. Ikatan itu tak dirasakan, khususnya akibat larangan bermain musik yang telah diterapkan turun temurun. Konon, larangan itu bermula setelah kakek buyut Miguel meninggalkan istri dan anaknya demi mengejar karir bermusik. 
Kisah protagonis mengejar mimpi di tengah larangan keluarga, meski bakal selalu relevan jelas amat familiar sehingga rawan repetisi. Tapi konflik itu rupanya sekedar pemicu untuk membuka jalan menuturkan kisah yang jauh lebih segar pula bermakna. Mengetahui bahwa idolanya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt) sang musisi paling tersohor merupakan kakek buyutnya sendiri, Miguel memantapkan hati meraih impiannya. Di situlah peristiwa ajaib terjadi. Gitar Ernesto melemparkan Miguel ke dunia orang mati, membawanya bertemu para leluhur yang selama ini cuma ia kenal melalui foto dan warisan cerita. 

Di Land of the Dead yang dihiasi visual menggetarkan dengan kekayaan detail tekstur, kelap-kelip lampu meriah, kilauan kelopak Aztec marigold bertebaran di tanah, dan hewan roh beraneka warna bernama alejibre yang beterbangan, usaha Miguel kembali ke alam manusia dibantu arwah leluhurnya dimulai. Coco pun bergerak menyoroti esensi Dia de los Muertos selaku perenungan koneksi antara manusia hidup dan yang telah tiada, seiring usaha karakter utama memahami makna koneksi dengan keluarga. Berperan memantapkan pondasi dunianya, Molina dan Aldrich cerdas memanfaatkan berbagai elemen Dia de los Muertos, sebutlah foto leluhur di ofrenda (altar persembahan) sebagai kunci presentasi tema.
Seperti setting-nya yang misterius pula kerap mengejutkan Miguel, filmnya menyimpan beberapa kejutan yang menjaga dinamika sambil menambah bobot emosi. Pun terkait dinamika, walau bercerita soal kematian, Coco tetap menawarkan sentuhan komedi supaya tidak terjerembab ke ranah terlampau kelam. Sumber humornya bermacam-macam, mulai anomali tingkah serta anatomi penghuni Land of the Dead yang berwujud tengkorak hingga hal-hal kecil misalnya kemunculan sekilas alejibre kodok. Kebanyakan berkesan absurd, yang mana sesuai dengan keanehan situasi yang Miguel alami. 

Jika anda menjadikan Pixar wahana mencari haru, Coco bakal memuaskan. Dari animasi surgawi yang sempurna melukiskan afterlife sampai kepiawaian Lee Unkrich (Finding Nemo, Toy Story 3, Monsters, Inc.) merangkai adegan yang mencerminkan rasa momen kekeluargaan berharga. Selaras dengan mimpi Miguel, Unkrich memberi peranan penting pada lagu dalam meluapkan emosi. Tatkala nomor Remember Me dilantunkan lembut untuk terakhir kali, di situ seluruh aspek film (senstivitas pengisi suara, musik, detail animasi kerutan wajah Mama Coco) menyatu, sebagaimana keping-keping ceritanya bermuara, menjawab alasan mengapa judul "Coco" dipilih. Coco mengingatkan agar kita menyimpan memori tentang orang-orang tersayang yang sudah pergi sembari meyakini mereka pun mengingat kenangan bersama kita dahulu. Hingga suatu hari kita bersama mereka lagi. 

38 komentar :

Comment Page:

KNIGHT KRIS (2017)

17 komentar
Indonesia punya banyak animator handal yang telah berlalu lalang di kancah internasional, tapi mengapa kualitas animasi layar lebar belum berkembang pesat? Masalahnya satu, yakni anggapan bahwa keterlibatan animator bagus sudah cukup menghasilkan animasi berkualitas. Anggapan salah kaprah ini berujung melahirkan beberapa karya yang memukau secara gambar namun acak-acakan soal penceritaan, contohnya Battle of Surabaya dua tahun lalu. Knight Kris terjangkit penyakit serupa. Menawarkan konsep unik ditambah desain karakter apik, perjalanannya diganggu penceritaan medioker.

Didasari mitologi soal Asura alias raksasa jahat, Knight Kris menempatkan Bayu (Chika Jessica), bocah 8 tahun yang bercita-cita menjadi pahlawan super sebagai karakter sentral. Impian itu terlaksana setelah ia mencabut keris yang tersembunyi di gua, memberinya kemampuan berubah menjadi Bayusekti (Deddy Corbuzier), pahlawan sakti berwujud harimau. Tapi di saat bersamaan, Bayu turut membangunkan Asura (Bimasakti) dari tidurnya. Dibantu sepupunya, Rani (Stella Cornelia) dan Empu Tandra (Bimasakti), Bayu memulai petualangan mengumpulkan enam pecahan keris yang tersebar guna menggagalkan niat Asura menghancurkan dunia.
Knight Kris berpotensi mengembalikan kebahagiaan masa kecil kita kala menyaksikan kemunculan tokoh-tokoh berpenampilan keren. Nahwara (Santosa Amin) dengan tiga topeng di wajahnya, Bayusekti dan baju zirahnya, hingga Asura yang merupakan modifikasi kreatif tampilan raksasa dalam dongeng. Walau tak sampai membentuk parade meriah karena terbatasnya kemunculan karakter akibat upaya menyimpan cerita untuk diteruskan sebagai trilogi, duet sutradara Antonius dan William Fajito sanggup menuangkan kreativitas, merangkai sederet jurus menarik pembungkus adegan aksi yang mendominasi 106 menit durasi.

Namun kembali ke permasalahan dasar, Knight Kris hanya memamerkan gambar (plus konsep). Pada adegan pertarungan misalnya, di antara kekacauan situasi, sulit merasa terikat karena ketiadaan tensi. Kedua sutradara sekedar melempar warna dan jurus sebanyak mungkin, lalai memberikan nyawa dalam momen tersebut. Alhasil, apa yang terlihat hanya wujud-wujud kartun saling serang, nihil ketegangan apalagi emosi. Enak dilihat, tetapi takkan bertahan lama di ingatan, kemudian dapat terlupakan beberapa menit setelahnya. Cukup besar kemungkinan penonton anak terpuaskan meski belum sampai taraf menjadikan Bayusekti dan kawan-kawan sebagai idola baru. 
Menonton film ini layaknya menyaksikan kartun Minggu pagi berisi kalimat klise ketika penjahat gemar tertawa sambil berkata "Akan kuhancurkan kalian". Dialog dalam naskah tulisan Antonius amat kaku untuk ukuran animasi anak yang mengetengahkan petualangan seru hingga filmnya terkesan terlalu serius menyikapi seluruh kondisi. Seolah berkiblat dari sinetron lokal, tiap isi hati karakter wajib dituangkan secara verbal, misalnya saat melihat rumah sepi, karakternya akan berucap "kok sepi, apa tidak ada orang ya?". Bahkan Upin & Ipin pun enggan "secerewet" ini. Jajaran pengisi suara pun gagal menolong. Bimasakti dan Santosa Amin bermodalkan pengalaman mereka enak didengar, namun Deddy Corbuzier, Chika Jessica, juga logat medok Kaesang Pangarep hadir tanpa rasa. 

Tersimpan usungan nilai tentang memperbaiki kesalahan (Bayu penyebab kebangkitan Asura) yang menyentuh ranah pendewasaan, sayangnya urung tersampaikan sepenuhnya mengingat kisahnya masih jauh dari tuntas. Begitu pula mitologi sarat budaya yang ditenggelamkan gempuran aksi bertubi-tubi. Knight Kris tak meninggalkan banyak hal untuk orang tua sampaikan atau ajarkan kepada anak kecuali hiburan sambil lalu. Melihat kualitas gambar Knight Kris, sangat disayangkan animasi negeri ini selalu terbuai oleh visual, lupa memperhatikan penceritaan yang notabene merupakan pondasi film apapun. 

17 komentar :

Comment Page:

VALENTINE (2017)

17 komentar
Alasan industri di luar Hollywood termasuk Indonesia enggan menggarap film superhero adalah keterbatasan teknologi juga biaya. Benar, apabila Avengers atau Justice League yang jadi acuan, kita masih tertinggal puluhan tahun. Garuda Superhero contohnya. Apakah berarti membuat film pahlawan super lebih baik dilupakan? Tentu tidak. Serial Marvel produksi Netflix mengajarkan bahwa vigilante jalanan merupakan solusi mengakali dana minim. Valentine selaku adaptasi komik terbitan Skylar Comics mengambil jalur serupa, tanpa alien, dewa, atau monter, hanya gadis muda jago bela diri yang terpaksa membasmi kejahatan demi menyambung hidup di tengah kota korup marak kriminalitas, Batavia City.

Gadis itu bernama Srimaya (Estelle Linden), yang sehari-hari bekerja sebagai pelayan cafe sambil mencoba peruntungan sebagai aktris, mendatangi audisi demi audisi. Berbekal ajaran mendiang ayahnya, Sri punya kemampuan bela diri mumpuni yang menarik perhatian Bono (Matthew Settle), seorang sutradara yang kesulitan membujuk para produser supaya memproduksi film superhero miliknya. Dibantu oleh Wawan (Arie Dagienkz) sang penata rias, Bono meminta Sri memerankan Valentine dan sungguh-sungguh merekam aksinya menumpas kriminal. Tujuannya agar masyarakat menyukai Valentine, sehingga menarik perhatian produser. Tapi bukan perkara gampang menjadi pahlawan di Batavia City, apalagi sejak Shadow menebar teror dan kerap mempermainkan polisi. 
Menetap di level jalanan ditambah manusia biasa sebagai lawan tak memaksa film karya sutradara Agus Pestol ini banyak memakai CGI yang sesekali masih digunakan (kebanyakan untuk merangkai setting) dan terbukti punya kualitas seadanya. Mayoritas aksi Valentine bertempat di lingkungan biasa, pada siang hari, serta melibatkan baku hantam tangan kosong. Agus Pestol dan tim bersedia menekan ambisi, memaksimalkan potensi pada tingkatan yang realistis untuk dicapai. Alhasil Valentine merupakan sajian laga nikmat berhiaskan ide-ide kreatif (borgol sebagai versi lain batarang, perkelahian dalam dua mobil bergerak), walau cara generik berupa close-up juga pemotongan adegan kilat tetap diandalkan Agus. Pun beberapa koreografi keren sempat tampak canggung akibat lambatnya pergerakan pemain. Toh momen-momen eksplosif yang meyakinkan tanpa perlu terlalu mengeksploitasi CGI sanggup menebus kekurangan itu. 

Tataran teknis Valentine memang masih berlubang, termasuk tata suara yang diganggu kurang mulusnya transisi pula efek suara karakter Shadow yang mengaburkan artikulasi. Ketika telinga tidak terlalu dipuaskan, lain cerita soal mata. Kombinasi busana dari Utami dengan tata rias Eni Tasya menghasilkan desain karakter unik. Adegan pesta kostum sebagai pembuka bak menyiratkan keanehan visualisasi dunia buku komik yang segera penonton masuki. Meski Shadow dengan kostum plus topeng hitamnya bagai Crossbone versi murah, tiga wanita anak buahnya tampil mencolok, selalu berganti dandanan di tiap kemunculan berbeda. Enggan memaksakan pernak-pernik berlebih, Estelle Linden dalam balutan kostum sederhana Valentine pun enak dilihat.
Sebagaimana departemen lain, naskah tulisan Beby Hasibuan (The Witness, Tebus) juga mengutamakan kesederhanaan. Tanpa bumbu kerumitan tak perlu, meski belum tergolong alur yang menjerat atensi, Beby tidak ketinggalan menyelipkan subteks tentang inkapabilitas aparat korup, sampai usungan pesan bahwa negeri ini butuh sosok pahlawan. Tidak harus pahlawan jago berkelahi dengan topeng dan kostum, cukup manusia biasa berbekal kepedulian juga kesedian berbuat baik bagi sesama. Poin itu menjaga relevansi filmnya di luar status selaku hiburan. Apalagi si tokoh utama sekedar manusia biasa yang awalnya bertarung demi kebutuhan materi alih-alih membela kebenaran, pula gentar kala mesti menatap maut.

Selipan humor secukupnya, khususnya yang melibatkan interaksi Wawan dan Sri turut menjaga dinamika. Arie Dagienkz sebagai Wawan merupakan tokoh spesial, seorang pria feminin yang urung jatuh menjadi banyolan murahan. Sedangkan Estelle Linden meyakinkan melakoni porsi laga sembari memastikan Valentine/Sri adalah tokoh "berwarna", tak membosankan nan mudah disukai penonton. Terdapat setumpuk kekurangan, termasuk hambarnya klimaks, namun Valentine sudah memuaskan hasrat akan kebutuhan tontonan pahlawan super lokal, menyadarkan terdapat alternatif untuk mewujudkan film tersebut. Ada dua mid-credit scene di mana salah satunya memberi tease akan ekspansi Skylar cinematic universe

17 komentar :

Comment Page:

THE LITTLE HOURS / THE TRANSFIGURATION / THE VILLAINESS

10 komentar
The Little Hours, selaku film pertama adalah adaptasi The Decameron, novella dari abad 14 karya penulis asal Italia, Giovanni Boccaccio. Terdiri dari 100 cerita pendek yang dituturkan tokoh-tokohnya selama 10 hari, sutradara sekaligus penulis naskah Jeff Baena mengangkat dua kisah pertama di hari ketiga. Selanjutnya ada The Transfiguration, drama gelap yang mengaitkan kesulitan karakternya menjalani kehidupan sosial dengan cerita vampir ala Nosferatu, sembari memindahkan konteks dongeng vampir dari lingkup kultural kulit putih menuju kulit hitam. Terakhir adalah The Villainess yang pada Festival Film Cannes 2017 mendapat empat menit standing ovation.
The Little Hours (2017)
Film dengan Aubrey Plaza memerankan suster di biara terpencil tentu takkan berlangsung normal. Nyatanya, suster di sana memang unik, kalau bukan nakal. Fernanda (Aubrey Plaza) yang galak kerap berbohong agar bisa kabur di pagi hari, Ginevra (Kate Micucci) gemar bergosip, dan Alessandra (Alison Brie) berharap dapat pergi demi memperbaiki hidup. Mengolok-olok tukang kebun, meludahi, bahkan memukulinya jadi rutinitas mereka. Baena menggambarkan para "pelayan Tuhan" sebagai manusia dengan hasrat terpendam, termasuk si pendeta, Tommasso (John C. Reilly) yang doyan mabuk. Meski provokatif pula erotis, Baena mengedepankan komedi yang seluruhnya didasari improvisasi mumpuni jajaran cast, khususnya Plaza lewat deadpan khasnya yang di sini condong pada sikap kasar ketimbang canggung. Bangunan dunianya menarik, dengan akurasi setting abad pertengahan namun dialog plus perilaku tokohnya modern. Kegilaan berlipat begitu Massetto (Dave Franco), pelayan yang kabur setelah berselingkuh dengan istri majikannya, memasuki sentral cerita. Seiring konflik meninggi dan kejutan merangsek, Baena keteteran menyusun tone, meninggalkan kebingungan, apakah harus tertawa, tercengang, atau terjerat oleh drama tentang represi nafsu duniawi manusia. Namun tak menghalangi The Little Hours memberi 90 menit keliaran padat nan menyenangkan. (3.5/5)

The Transfiguration (2016)
Milo (Eric Ruffin) menganggap Nosferatu yang buruk rupa, hidup terasing di kegelapan lebih realistis daripada ketampanan serta tubuh berkilau Edward Cullen. Bagi Milo, istilah "realistis" bisa diterapkan sebab vampir konvensional mencerminkan dirinya yang terasing, punya kepercayaan diri rendah, korban bully, dan ingin menjadi karnivora puncak rantai makanan, di mana Milo berburu di malam hari, menghisap darah sekaligus merampas uang korban. Demikian film ini cerdik membangun metafora lewat naskah Michael O'Shea (juga sutradara). O'Shea memaparkan dampak kesulitan sosialisasi remaja yang memancing krisis identitas, sehingga coping terhadap sosok idola pun dipakai mencari jati diri. Tapi bukan selebritis atau figur pahlawan yang Milo puja, melainkan vampir. Pertemuan Milo dengan Sophie (Chloe Levine) yang juga teralienasi tanpa disadari menariknya dari lubang persembunyian. Ibarat vampir menemukan penawar atau manusia yang mendapatkan arti. Sebagai horor, The Transfiguration menyajikan beberapa pemandangan menjijikkan, walau dalam kuantitas terbatas. Tempo lambat ditambah alur tipis ketika sedang tak bermain analogi bisa menjauhkan penonton umum, tapi sungguh observasi mendalam untuk problematika sosial kelam, termasuk tendensi bunuh diri. (3.5/5)

The Villainess (2017)
Penonton tak lagi menghendaki film laga generik berisi pamer otot si pahlawan dan peluru yang asal dimuntahkan sebanyak mungkin. Diawali dwilogi The Raid, Hollywood menjawab lewat John Wick, dan kini Korea Selatan punya jagoan sendiri. Langsung menggebrak lewat sekuen panjang yang bagai tanpa cut selama enam menit (empat menit sudut pandang orang pertama, dua menit orang ketiga), The Villainess merupakan ambisi Jung Byung-gil menjauhi keklisean. Long take dan gerak kamera yang sekilas semrawut tapi terencana membungkus hampir semua adegan aksi. Alurnya mengetengahkan kehidupan Sok-hee (Kim Ok-bin) yang sejak kecil dilatih sebagai mesin pembunuh dan sekarang menjalankan misi untuk intelijen Korea Selatan. Guna menceritakan masa lalu kelam Sok-hee, flashback kerap dipakai, yang mana menyimpan banyak rahasia, acap kali muncul mendadak, bahkan sempat hadir flashback dalam flashback, membuktikan ambisi Byung-gil tampil beda dan bergaya. Kurang substansif sekaligus berisiko membingungkan, sang sutradara mampu meminimalkan kekacauan sehingga tatanan alur tetap setia dalam jalur. Sempat pula diselipkan sekilas momen manis di bawah guyuran hujan yang berguna mengikat hati penonton, memudahkan kita berpihak pada protagonis. Ok-bin berada di jajaran atas tokoh wanita perkasa, membantai puluhan lawan seorang diri, termasuk di kegilaan klimaks kala laju kencang bus tidak kuasa menahan aksinya. (4/5) 

10 komentar :

Comment Page:

MARROWBONE (2017)

13 komentar
Memasuki sekitar 20 menit durasi, ketika karakter dalam Marrowbone pertama kali menemui peristiwa misterius, salah seorang penonton berujar, "nah, mulai ini, mulai". Sebuah ungkapan kelegaan karena penampakan hantu tak kunjung muncul. Ekspresi yang wajar, terutama bila anda berharap disuguhi konsep haunted house sesuai formula. Tapi bagi penonton yang menaruh perhatian lebih, atau tahu bahwa debut penyutradaraan Sergio G. Sanchez (sebelumnya menulis naskah The Orphanage dan The Impossible) ini menonjolkan drama, teror itu telah berlangsung beberapa saat. Teror tersebut bernama duka, yang menguji ikatan kekeluargaan empat bersaudara Marrowbone.

Jack (George MacKay), Billy (Charlie Heaton), Jane (Mia Goth), dan Sam (Matthew Stagg) terpaksa merahasiakan kematian ibu mereka supaya dapat tetap hidup bersama seiring persoalan hukum dan kejaran sang ayah. Apa perbuatan ayah urung seketika dijabarkan, kecuali pernyataan betapa kejam dirinya. Turut mampir dalam kehidupan keluarga Marrowbone adalah Allie (Anya Taylor-Joy) yang dengan cepat memikat hati Jack, si sulung. Terjadinya sebuah peristiwa membawa alurnya melompat maju enam bulan, ketika makhluk tak kasat mata sudah menghantui kehidupan karakternya. 
Marrowbone bukan cuma tentang menakut-nakuti, tepatnya tidak melalui cara "tradisional". Dalam kekosongan ruang dan kain putih yang membungkus cermin rapa-rapat, Sergio G. Sanchez menyulut ketakutan terhadap ketiadaan serta ketidaktahuan. Tanpa tahu bentuk pastinya, penonton dibuat yakin sosok mengerikan siap menyergap dari balik sudut-sudut gelap rumah keluarga Marrowbone, yang berkat sinematografi garapan Xavi Gimenez, punya atmosfer mencekam. Sayangnya, saat Sergio mulai memperlihatkan hantu walau sedikit, pesona atmosferik filmnya agak menguap. Jump scare yang jumlahnya bisa dihitung jari sesekali menyentak, diiringi tata suara mengejutkan plus scoring "memburu" ala thriller lawas buatan Fernando Velazquez.

Kejadian sebelum lompatan waktu alurnya, gangguan hantu, perbuatan sang ayah, semua disimpan hingga third act, termasuk lewat keberadaan twist. Jika anda menggemari horor, tentu tak sulit menebak arahnya. Tapi ketimbang "seberapa mengejutkan", lebih penting memperhatikan seberapa cerdik penulis naskah menebar petunjuk subtil agar kejutannya tak terkesan membohongi. Di situ naskahnya cukup sukses, sebab begitu fakta diungkap, hal-hal yang tadinya nampak remeh mulai saling bertautan membentuk arti, walau jawaban yang disiapkan termasuk menggampangkan, memanfaatkan kondisi yang kerap jadi jalan pintas horor/thriller menjelaskan rangkaian kejanggalan. 
Terasa spesial tatkala twist, bahkan segala elemen horor dipakai mewakili tema-tema seperti duka dan penyesalan dalam lingkup keluarga. Skenario milik Sergio ditulis dengan indah, melontarkan puncak emosi seiring tersibaknya tabir kebenaran, di mana setiap kengerian berujung mengandung makna lebih. Sergio menyadarkan bahwasanya substansi drama dan horor saling terkait. Apabila drama disusun atas dinamika yang melibatkan emosi negatif (sedih, marah, takut), maka horor menerjemahkan emosi tersebut ke dalam hal-hal seram. Marrowbone mengawinkan keduanya, menghasilkan horor dengan hati yang menyeimbangkan teror supernatural dan kisah keluarga menyentuh. 

Keempat pemeran utama sama-sama solid. MacKay tampil meyakinkan sebagai pemuda dengan timbunan beban yang terus berlipat secara gradual akibat tekanan untuk menjadi kepala keluarga. Goth sebagai Jane tak kalah bermasalah, begitu rapuh apalagi ditambah mata sayunya. Heaton berani melawan typecast pasca dua musim Stranger Things, memerankan Billy yang lebih "gampang panas" dibanding saudara-saudaranya. Sementara Stagg, meski paling muda justru kerap menjembatani penyaluran perasaan film kepada penonton. Jalinan chemistry mereka berempat sangat kuat, sehingga bakal sulit menahan haru sewaktu Marrowbone menampilkan shot terakhirnya.

13 komentar :

Comment Page:

NAURA & GENK JUARA THE MOVIE (2017)

10 komentar
Adyla Rafa Naura Ayu. Baru berusia 12 tahun, puteri Nola Be3 ini telah merilis dua album sekaligus menjadi idola yang tepat di kalangan anak. Dikatakan tepat karena lagu-lagu Naura bukan bicara cinta, melainkan dunia masa kecil dari mimpi, persahabatan, sampai pesan penting soal anti-bullying. Jadi tepat pula ketika debut layar lebarnya ini diharapkan mampu mengobati kerinduan akan film musikal anak yang belum tentu setahun sekali menghiasi bioskop tanah air. Ditangani oleh Eugene Panji (Cita-citaku Setinggi Tanah), Naura & Genk Juara The Movie mengikuti pakem Petualangan Sherina, menghadapkan karakternya pada konflik pertemanan, adu kepintaran, juga ancaman para penjahat konyol.

Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Bimo (Vickram Abdul Faqih Priyono) dan Okky (Joshua Yorie Rundengan) terpilih mewakili sekolahnya mengikuti kompetisi sains pada acara Kemah Kreatif di Situ Gunung. Perselisihan timbul karena Bimo merasa modifikasi drone miliknya adalah yang terbaik sehingga lebih pantas memimpin tim daripada Naura. Tapi masalah lebih besar hadir dalam bentuk Trio Licik (Panjul Williams, Alfian, Dedy Ilyas) yang berniat mencuri hewan-hewan di penangkaran Situ Gunung. Bersama Kipli (Andryan Sulaiman Bima) si ranger cilik, Naura, Bimo, dan Okky mesti mengesampingkan perpecahan guna menggagalkan aksi Trio Licik.
Naura & Genk Juara The Movie bergerak sederhana sesuai formula, tapi serupa dinamika dunia anak, kompleksitas bukan bagian dari kebutuhan. Rasa riang gembira dibumbui beberapa nilai kehidupan mendasar. Skenario buatan Bagus Bramanti, Dendie Archenius Hutauruk, dan Asaf Antariksa memang menyisakan lubang problematika, semisal saat empat protagonis memilih menyerang Trio Licik alih-alih melapor pada ranger, yang dipaksa ada, semata demi peningkatan konflik utama sembari merampungkan konflik interpersonal. Di luar itu, naskahnya cerdik merangkum pesan-pesan guna membantu orang tua menyampaikan berbagai nilai bagi anak. 

Jika Naura-Bimo-Okky mewakili unsur persahabatan yang mengesampingkan ego sampai kecerdikan, maka Kipli, satu-satunya bocah di antara ranger mengajarkan perlunya kepedulian terhadap hewan. Rangkaian pembelajaran tersebut cukup jelas untuk diserap penonton anak, namun lembut tanpa kesan menggurui. Naura & Genk Juara The Movie adalah tentang proses belajar dari pengalaman nyata di dunia luar yang bersifat praktikal, menjadikannya penting mengingat kesempatan anak berinteraksi dengan alam menipis kala sistem pendidikan teoritis kurang aplikatif makin gencar dijejalkan. Klimaks berisi perlawanan bocah-bocah atas Trio Licik menggunakan karya mereka pun bisa dipakai memancing minat anak bekreasi dalam kegiatan belajar sambil bermain.
Di departemen musik, kolaborasi Andi Rianto bersama duo kakak-beradik, Mhala dan Tantra Numata berhasil mengkreasi deretan lagu yang takkan mudah hilang dari ingatan penonton seusai menonton. Dari keceriaan dalam Juara dan Mendengarkan Alam, Jangan Jangan yang bersemangat, sampai Bawakan Cerita Untukku yang hangat selaku ungkapan kasih seorang ibu berkat performa penuh rasa dari Nola Be3, semuanya catchy nan memorable. Walau eksekusi momen musikal tidak sepenuhnya mulus akibat kurang luasnya eksplorasi pengadeganan Eugene Panji. Karena semua nomor tarian didominasi anak kecil, patut dimaklumi saat tatanan koreografi tersaji belum begitu rapi, dan di sinilah kejelian sang sutradara mestinya lebih berperan, seperti saat menyelipkan satu sekuen animasi.

Harus berbagi porsi dengan para "Genk Juara" urung menghambat sinar Naura. Khususnya ketika melakoni nomor musikal, ia mengerahkan semua daya upaya, total baik dalam gerak maupun ekspresi. Bahkan kelemahan mixing suara yang tidak melebur natural, yang mana merupakan kekurangan terbesar film kita dalam mengemas adegan musik, tak kuasa menahan hentakan berenergi Naura. Bukanlah kejutan apabila suatu hari nanti, bocah ini bertransformasi dari bintang cilik menuju mega bintang, entah di industri musik, perfilman, atau keduanya. Naura & Genk Juara The Movie mungkin tidak akan menjadi fenomena layaknya Petualangan Sherina dulu, namun jelas salah satu musikal anak terbaik di masanya.

10 komentar :

Comment Page:

JUSTICE LEAGUE (2017)

104 komentar
Sejak adegan pembuka ketika beberapa bocah merekam wawancara mereka dengan Superman (Henry Cavill), Justice League kentara berpindah dari jalur yang dipasang Man of Steel kemudian dipatenkan Batman v Superman: Dawn of Justice. Si Manusia Baja tersenyum ramah bahkan mau bercanda tentang lambang di dadanya yang mirip huruf "S". Momen singkat itu seketika memperbaiki gambaran Superman sebagai sosok pemanggul harapan pujaan publik. Filmnya pun serupa, mengedepankan harapan, mencerahkan suasana melalui balutan humor, dan mengeliminasi alur rumit tak perlu. Justice League menggiring DCEU (atau apapun namanya) ke jalan yang benar.

Penulisan naskah Chris Terrio sejatinya masih bermasalah. Mengemban obligasi mengenalkan Flash (Ezra Miller), Aquaman (Jason Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher), serta memaparkan usaha Batman (Ben Affleck) dan Wonder Woman (Gal Gadot) menyatukan mereka, mengakibatkan lompatan alur kasar (juga kekurangan Batman v Superman) kembali menghantui. Sementara kurang mampunya Zack Snyder menggarap adegan non-aksi menghasilkan pace melelahkan, khususnya sebelum kelima pahlawan bersatu. Satu-satunya fase dramatis kuat adalah reuni Clark dengan sang ibu (Diane Lane), itu pun berkat kepiawaian Lane bermain emosi ketimbang sensitivitas Snyder. Setidaknya, pemberian porsi mengenai duka/masalah personal tiap tokoh sedikit menambah bobot penokohan.
Untungnya ambisi menyusun alur berlapis berbalut filosofi kini ditiadakan. Ini penting, karena kelemahan penceritaan, bobot emosi, atau ancaman medioker dari Steppenwolf (Ciaran Hinds) dan rencananya mengumpulkan Mother Boxes terjadi dalam lingkup kemurnian blockbuster selaku media senang-senang, sehingga pantas ditoleransi. Berlawanan dengan niat Batman v Superman membangun dunia (sok) serius. Dari sini pula, Terrio, dengan sedikit bantuan Joss Whedon diberi jalan menghembuskan nyawa lewat bumbu humor. Belum sepenuhnya mulus, lagi-lagi akibat kecanggungan Snyder mengemas adegan tanpa baku hantam, namun cukup sebagai penghasil dinamika.

Keenam pahlawan kita tidak ragu bersenda gurau selama atau di sela-sela pertempuran. Flash tentu paling mencuri perhatian. Layaknya bocah di antara lima orang dewasa, ia berulang kali melempar celetukan menggelitik sampai sederet tingkah konyol yang sempurna dijalankan oleh Ezra Miller, termasuk "momen intim" dengan Gal Gadot yang rasanya berasal dari otak Joss Whedon. Pahlawan super mana lagi yang memutar video musik K-Pop di markasnya? Momoa lancar memamerkan machismo pewaris tahta Atlantis arogan yang menikmati berada di medan perang, sedangkan Gal Gadot selalu menonjol bersenjatakan pesona dan ketangguhan meyakinkan. Dua nama terbesar, Batman dan Superman justru mengalami nasib saling berlawanan.
Batman bak bahan olok-olok. Tidak memiliki kekuatan super, perannya selaku otak dan ahli teknologi turut tertutup keberadaan Cyborg. Affleck yang makin sering mengutarakan keinginan "gantung jubah" pun tampak malas. Gaya komedi deadpan-nya jelas dihempaskan antusiasme penuh energi Miller, sedangkan karisma sebagai Bruce Wayne yang menonjol di Batman v Superman juga lenyap. Sebaliknya, Superman kini layak menjadi simbol harapan sekaligus ujung tombak tim. Selain ikut bercanda tawa, setelah sekian lama akhirnya kita bisa melihat sisi badass Superman yang menghindari pukulan Steppenwolf sambil tersenyum. Walau sebelumnya, saat ia mengungguli kekuatan Wonder Woman, Aquaman, dan Cyborg, juga kecepatan Flash, sudah cukup memberi penegasan.

Merupakan film DCEU tersingkat sejauh ini (120 menit), ditambah klimaks singkat nan generik, Justice League mungkin bukan epic seperti dugaan banyak pihak. Toh gelaran laga Snyder masih solid, apalagi terkait penggambaran para meta-human kelas berat setingkat dewa yang aksinya sanggup mengobrak-abrik seisi dunia. Film superhero tidak wajib tenggelam di penderitaan atau kisah kompleks guna memikat, dan blockbuster tidak melulu mesti berbentuk epic cinema. Di samping sederet kekurangan penghasil jalan terjal, Justice League memenuhi hakikatnya selaku hiburan ringan menyenangkan sembari membawa franchise-nya ke masa depan yang menarik melalui pengembangan mitologi sebagaimana diperlihatkan lewat sebuah cameo superhero DC lain dan post-credits scene

104 komentar :

Comment Page:

UNBREAKABLE KIMMY SCHMIDT SEASON 2 - TOP 10 BEST MOMENTS

2 komentar
Melanjutkan 10 momen terbaik dari musim pertama Unbreakable Kimmy Schmidts, sesuai janji saya pun membuat daftar lanjutan. Masih mengandalkan humor absurd yang acap kali merupakan satir tepat sasaran, sayangnya musim kedua ini tidak sesegar pendahulunya, terlebih karena Kimmy (Ellie Kemper) perlahan telah mampu beradaptasi dengan dunia luar. Menariknya, pasokan drama jauh lebih kuat, khususnya seputar para tokoh pendukung. Titus (Titus Burgess) merasakan cinta pertama sementara Jacueline (Jane Krakowski) mulai memahami cara menjadi ibu. Itu sebabnya 10 momen terbaik musim kedua bukan saja soal humor, pula drama hangat. These women are still as strong as hell, though
Titus Falls for Mikey

Mentos Tooth Replacement


Monkey Jesus

Baby No Go Nite Nite


Weird Panicked Noises

Kimmy Goes Happy Tree Friends

Lillian's Heartwarming Speech About Parenting

Dyziplen

Mikey's "Weird" Grandmother


Titus's Geisha Song

2 komentar :

Comment Page:

GERALD'S GAME / BRAWL IN CELL BLOCK 99 / GOOD TIME

18 komentar
Karena serangkaian kesibukan, banyak sekali film yang belum ditonton dan ditulis. Permintaan mengulas judul-judul di luar rilisan bioskop mendorong saya merasa perlu tetap membuat review, tapi karena penulisan review penuh seperti biasa butuh waktu 2-4 jam, mustahil rasanya menerapkan itu di semua film. Akhirnya saya memilih review pendek khusus bagi FILM NON-BIOSKOP, di mana tiap artikel memuat tiga judul, walau tak menutup peluang review panjang bakal sesekali dibuat, tergantung filmnya. 
GERALD'S GAME (2017)
Merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Stephen King, Gerald's Game mengisahkan sepasang suami istri, Gerald (Bruce Greenwood) dan Jessie (Carla Gugino) yang menghabiskan akhir pekan di kawasan terpencil, dengan tujuan menyelamatkan pernikahan mereka. Permainan seks nakal yang direncanakan Gerald berujung ancaman maut begitu kisahnya secara cerdik menghasilkan teror dari jalur tak terduga. Ini bukti ketajaman insting horor King yang oleh Mike Flanagan dan Jeff Howard mampu diterjemahkan dengan baik, termasuk beragam metafora, semisal soal kekangan pria terhadap wanita yang tertuang rapi. Horor psikologis, thriller satu lokasi, sampai sedikit bumbu supernatural tumpah ruah. Pada unsur supernatural, Flanagan mumpuni menyusun kesan atmosferik. Sementara jelang akhir, sang sutradara tidak ragu memberi gore eksplisit nan detail yang dapat membuat penonton mengalihkan tatapan. Gugino memikat, nyaris seorang diri memanggul beban menyampaikan ketegangan hingga rasa sakit. Dia pun tak kalah solid melakoni fase dialogue-based filmnya, tatkala naskah Gerald's Game jeli mengolah psikis Jessie dalam presentasi tentang kematian, pernikahan, dan masa lalu traumatik. (4/5)

BRAWL IN CELL BLOCK 99 (2017)
This is a weird movie for some reasons. Pertama karena Vince Vaughn melawan typecasttampil intimidatif, bahkan saat kamera menyoroti sisi belakangnya, memperlihatkan kepala botak berhiaskan tato salib. Kedua, terkait tone. Brawl in Cell Block 99 dibuka bagai drama realis kelam mengenai Bradley Thomas (Vince Vaughn) yang dihantam pemecatan lalu perselingkuhnya sang istri (Jennifer Carpenter). Sutradara S. Craig Zahler (Bone Tomahawk) merangkai tempo lambat plus nuansa low-key. Namun begitu setting berganti, filmnya bertransformasi, menampilkan penjara maximum security tak masuk akal dengan Tuggs (Don Johnson) sebagai kepala penjara keji nan komikal, sampai kekerasan over-the-top saat kepala manusia dengan mudahnya remuk seperti kue. Uniknya, aura kontemplatif bertahan sepanjang film, yang akan seketika menguap sewaktu Bradley terlibat baku hantam. Brawl in Cell Block 99 tak ubahnya Riki-Oh versi gritty. Kisah Bradley terasa ironis, sebab sejak awal ia berniat memperbaiki hidupnya dan sang istri, hanya untuk dipaksa berjuang pindah dari sel "nyaman" menuju "lubang neraka". Sempat muncul inkonsistensi tone, tapi hawa menusuk penjara kumuh, kekerasan tinggi, pula terjaganya intensitas, berujung menghasilkan b-movie menyenangkan. (3.5/5)

GOOD TIME (2017)
Disutradarai Safdie Brothers, Good Time merupakan drama spesial karena bisa tampil kritis tanpa perlu menjadi ekstrimis. Karakternya melanggar hukum atas nama persaudaraan, namun kriminalitas tidak dijustifikasi. Si karakter adalah Connie (Robert Pattinson), yang mengajak adiknya, Nick (Ben Safdie), selaku penderita gangguan mental untuk merampok bank. Connie mendukung Nick, membuatnya merasa berharga dan berguna, memanusiakannya. Tatkala terjadi kekacauan dan Nick tertangkap polisi, Connie bersedia menempuh segala cara demi membebaskannya. Kisah kasih persaudaraan ditekankan, tapi tanpa glorifikasi tindak kejahatan, memastikan ada harga yang wajib dibayar. Estetika "hipster" pada scoring synth ala 80-an serta pencahayaan warna-warni yang kini makin klise masih diandalkan, namun setidaknya, di departemen musik Oneohtrix Point Never memberi modifikasi berupa aransemen liar pula trippy. Serupa karakternya, Good Time bergerak bak tengah berlari berkat pengarahan chaotic nan dinamis Safide Brothers. Tidak melulu sprint, tapi cukup menjaga kerapatan intensitas. Sementara Robert Pattinson dengan jenggot berantakan langsung menggebrak sejak awal kemunculan, senantiasa menggoncang situasi lewat performa paling powerful sepanjang karirnya. (4/5)

18 komentar :

Comment Page: