TEEN TITANS GO! TO THE MOVIES

14 komentar
Walau tidak reguler seperti semasa kecil dulu tiap Minggu pagi, saya masih kerap menghabiskan waktu menonton serial animasi (lewat YouTube tentu saja), sekedar untuk sejenak bersantai. Setiap menemukan episode yang berhasil menghibur, saya selalu berharap kesenangan itu berlangsung lebih lama dari sekedar belasan samapi 30 menit. Jika anda pernah merasakan hal serupa, Teen Titans Go! To the Movies bakal mengabulkan harapan tersebut. Berasal dari serial Teen Titans Go!, film ini memiliki nuansa ringan yang sama, production value sama (bujetnya cuma $10 juta), tapi melipatgandakan humor meta-nya, dan sudah pasti, durasinya. Yes, this feels like an extended episode of the series, which also means, extended fun.

Ada salah satu episode musim kedua Teen Titans Go! Yang berjudul Let’s Get Serious!, di mana Teen Titans merasa bahwa pahlawan super tak semestinya gemar bercanda. Harus serius, harus tragis. Hasilnya adalah olok-olok yang menyasar mangsa empuk, dibalut dalam bentuk humor meta yang meski tidak bisa disebut cerdas, namun luar biasa menghibur. Teen Titans Go! To the Movies pun sama, kini giliran maraknya film pahlawan super yang jadi sasaran tembak. Superman punya film, Batman punya film, belakangan Wonder Woman pun dibuatkan film. Mengapa Robin (Scott Menville) tidak?

Pertanyaan itu mengganggunya, apalagi banyak pihak menganggap Teen Titans bukan tim pahlawan super sungguhan, karena senantiasa bergurau dan bergurau. Melihat sang teman bersedih, Cyborg (Khary Payton), Starfire (Hynden Walch), Raven (Tara Strong), dan Beast Boy (Greg Cipes) pun mencari alasan mengapa Hollywood ogah membuatkan mereka film layar lebar. Salah satu kesimpulan yang dicapai yaitu ketiadaan musuh besar. Sambut Slade alias Deathstroke (Will Arnett), yang kemunculannya memfasilitasi lelucon soal kemiripannya dengan Deadpool. Humor meta seperti ini—yang menyasar hal populer nan mudah dipahami penonton umum—akan banyak dijumpai sepanjang durasi.

Baik yang bersifat meta maupun bukan, mayoritas humornya tak masuk kategori pintar. Komedi pintar mana yang menggunakan lelucon kentut? Tapi kepintaran tidak berkorelasi dengan kelucuan. Lelucon mengenai “pelafalan dramatis nama supervillain” atau “Slade’s mind manipulation trick” tergolong apa yang disebut “receh”. Bodoh, tapi itu poinnya. Seperti para Teen Titans, film ini hanya ingin bersenang-senang, dan mengajak kita turut serta. Sedangkan terkait plot, saya tidak bisa membahas banyak, bukan demi menghindari spoiler, melainkan memang tidak banyak yang dapat dibicarakan.  

Mayoritas cuma menapilkan usaha Teen Titans memenuhi impian dibuatkan film melalui cara-cara acak. Keacakan menyenangkan tentunya, di mana pada satu titik mereka mengunjungi berbagai peristiwa ikonik dalam sejarah DC. Di sela-sela cerita pun turut diselipkan nomor musikal, yang kentara hanya bertujuan menambal slot durasi. Setidaknya deretan lagunya luar biasa catchy, khususnya Upbeat Inspirational Song About Life (ya, itu judulnya). Seusai film, seorang bocah di toilet terus menerus bernyanyi, “Upbeat! Upbeat!”, dan saya berani bertaruh kebanyakan penonton lain, termasuk dewasa seperti saya, kesulitan menghapus lagu itu dari ingatan.

Disutradarai duo Peter Rida Michail-Aaron Horvath yang memproduseri serialnya, gelaran aksi film ini, sebagaimana elemen lain, mengusung semangat “asal ramai, asal kacau”, yang kadang terlampau kacau,membuatnya tak seberapa memorable. Biar demikian, visual kaya warnannya tak kalah catchy dengan deretan lagunya, apalagi bagi penonton bocah. Masih seputar aksi, tersimpan satu poin pintar, yakni saat Teen Titans selalu mengandalkan kemampuan Raven menciptakan portal dimensi. Sebab kisah superhero punya tendensi enggan memaksimalkan kekuatan atau senjata pamungkas yang bisa dipakai menyelesaikan apa saja, semata demi kesan dramatis.

Jadi apakah film ini pintar atau bodoh? Dari sudut pandang finansial, tidak diragukan lagi sebuah kepintaran. Bermodalkan biaya amat kecil, Warner Bros dan DC niscaya akan bergelimang keuntungan. Dan meski belum layak disematkan status “film bagus”, tingkat rewatchability-nya tinggi. Saya takkan terkejut apabila home video-nya laku keras. Karena sekali lagi, layaknya animasi Minggu pagi, Teen Titans Go! To the Movies mampu memberikan kesenangan tanpa perlu banyak berpikir. Bedanya, kesenangan itu berlangsung lebih dari 30 menit.

14 komentar :

Comment Page:

13: THE HAUNTED (2018)

9 komentar
Ada masa di mana Rudi Soedjarwo termasuk salah satu sutradara kelas satu negeri ini. Menelurkan Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), Pocong 2 (2006), sampai Mendadak Dangdut (2006), separuh awal 2000an adalah bukti sahih. Setelahnya diisi inkonsistensi, meski judul-judul macam Garuda di Dadaku 2 (2011) dan Batas (2011) sesekali mengingatkan agar jangan memandangnya sebelah mata.  Rudi masih pencerita handal. Terbukti, walau diberi bekal medioker dalam 13: The Haunted, sang sutradara tetap mampu menghasilkan karya yang tak terbenam di lubang kehancuran seperti banyak horor lokal belakangan.

Saya sedikit was-was ketika baru menginjak detik pertama, sebelum tampak apa pun selain kredit, telinga ini sudah ditusuk-tusuk oleh volume musiknya. Padahal hanya denting piano, tapi gendang rasanya mau pecah. “Ah, satu lagi horor murahan yang asal melemparkan jump scare berisik.”, begitu pikir saya. Perkenalan dengan jajaran protagonisnya menguatkan prasangka itu. Mereka adalah 7 remaja yang karakteristiknya mentok di julukan masing-masing. Celsi (Valerie Thomas) misal, yang dipanggil “Si Logis” (or something like that). Hampir semua kalimatnya diawali “Logikanya....”.

Atau Farel (Atta Halilintar) si “Hip Hop Boy” yang gemar mengenakan kalung emas, jam tangan emas, cincin emas, walau aksesoris tersebut sebenarnya juga bisa diidentikkan dengan tante-tante girang. Sementara Rama (Al Ghazali) dipanggil “Mr. Perfect” meski bagian mananya yang layak disebut sempurna, saya tidak tahu. Pastinya bukan akting Al Ghazali, yang 4 tahun pasca debut layar lebar di Runaway, masih sekaku batang kayu. Endy Arfian sebagai Garin si “Kentut Boy” lebih luwes dibanding rekan-rekannya, tapi setelah Toni di Pengabdi Setan (2017), ini jelas kemunduran.

Alkisah, mereka bertujuh, sebagai remaja gaul masa kini yang terobsesi untuk jadi yang terdepan, merasa iri dengan kesuksesan kanal YouTube berkonten reality show horror milik The Jackal, yang sukses mengumpulkan jutaan penonton dalam waktu singkat. The Jackal sendiri terdiri dari sepasang kekasih, Joy (Achmad Megantara yang akhirnya layak tonton pasca debut remuk redam di El) dan Klara (Mikha Tambayong), mantan kekasih Rama. Demi menyaingi The Jackal, mereka bertujuh pun nekat pergi membuat vlog ke Pulau Ayunan, tempat terjadinya pembantaian 13 bulan lalu.

Apabila terdengar seperti formula klasik “sekelompok remaja pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”, itu karena 13: The Haunted memang mengedepankan kisah klise “sekelompok remaja pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”. Satu hal yang saya sayangkan, walau tak mengejutkan, adalah kegagalan naskah buatan pasangan suami istri Demas Garin dan Talitha Tan (The Secret: Suster Ngesot Urban Legend) membangun persahabatan kuat antara tokoh-tokohnya. Mereka berpesta bersama, jalan-jalan bersama, selalu menghabiskan waktu bersama, namun tanpa tanda-tanda ikatan solid, sebab interaksi yang terhampar pun tak cukup menarik untuk membuat kita peduli.

Untungnya, 13: The Haunted bukan horor nihil kisah yang menyamakan rentetan jump scare tanpa konteks dengan alur, lalu mengumpulkannya sebanyak mungkin guna mengisi slot durasi. Bahkan, kuantitas jump scare film produksi ketiga RA Pictures ini ada di taraf normal alias secukupnya. Second act-nya dipakai menelusuri misteri yang tersimpan di Pulau Ayunan. Bukan misteri yang digarap apik, tapi keberadaannya berhasil dimanfaatkan Rudi Soedjarwo guna unjuk gigi kapasitas bertutur melalui tempo yang nyaman diikuti. Ketika ada karakter menyelidiki sebuah keanehan dalam film horor, sudah jadi “kewajiban” sang sutradara melambatkan tempo untuk memunculkan ketegangan. Rudi melakukannya, tapi tahu kapan mesti mengakhiri itu supaya tidak berlarut-larut sehingga kehilangan momentum.

Soal menakut-nakuti, trik Rudi medioker. Hantu sekedar muncul tiba-tiba di layar, diam, berpose, sambil diiringi musik buatan Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven), yang untungnya lebih variatif ketimbang asal berisik sebagaimana kerap dijumpai dalam horor kelas teri negeri ini. Musik Andi pun efektif memancing ketegangan pada third act yang kembali, membuktikan kebolehan Rudi memainkan tempo. Bergerak cepat namun tidak terburu-buru, klimaksnya terbukti menyenangkan, apalagi ditambah riasan menarik garapan Cherry Wirawan dan Eba Sheba bagi hantu-hantunya. Anda bisa berargumen hantu-hantu itu terlihat bak cosplay monster Kamen Rider, tapi jelas jauh lebih niat dan imajinatif dibanding jajaran setan muka bubur basi yang kerap menjadi favorit sineas horor bangsa ini. Andai mitologi sarat misteri di balik angka 13 jadi poros utama, seperti saat “13 Cara Melihat Hantu” menyokong klimaksnya. Bodoh, tapi menyenangkan. Setidaknya memancing keingintahuan terhadap hasilnya. Semoga 13: The Return mampu melakukannya.


9 komentar :

Comment Page:

SARA & FEI: STADHUIS SCHANDAAL (2018)

3 komentar
Jika diibaratkan masakan, Sara & Fei: Stadhuis Schandaal berasal dari gagasan ambisius seorang koki untuk menciptakan nasi goreng ternikmat dengan cara mengumpulkan seluruh bahan dan bumbu yang bisa ia temukan di pasar. “Kalau semua bahan baku kucampur, tentu bakal menciptakan kekayaan cita rasa”, begitu pikirnya. Apa daya, ia malah kerepotan, kebingungan, dan akhirnya justru kwetiau yang tercipta, setengah matang pula. Bukan saja tidak enak, esensi dasar nasi goreng, yaitu “NASI”, turut lenyap. Jadilah bencana. Bencana yang ajaib. Seberapa ajaib? Simak kutipan dialog berikut, yang melibatkan polisi dan komandannya.

Lapor Komandan, Abimanyu berhasil ditangkap, namun tersangka Chiko BERHASIL MELARIKAN DIRI.”
Kenapa bisa begitu?”
Karena di saat bersamaan pelaku BERHASIL MELARIKAN DIRI!

Itu sama saja dengan situasi ketika seorang ibu bertanya pada anaknya, “Bagaimana bisa nilai ujian kamu jelek?!”, yang dijawab oleh sang anak, “Karena nilai ujian saya jelek”. Apabila pembicaraan di atas terdengar bodoh, asal, konyol, dan inkonklusif, itu karena keseluruhan filmnya pun begitu. Premisnya menarik, mengenai Fei (Amanda Rigby), mahasiswi yang di tengah risetnya seputar sejarah kota tua Batavia, didatangi sosok misterius dari masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, seorang wanita bernama Sara (Tara Adia). Pertemuan itu membuat Fei terlempar ke masa lalu, menyaksikan langsung skandal perintaan Sara si wanita terhormat dengan Peter (Mikey Lie) si prajurit rendahan.

Terdapat cukup modal untuk mengawinkan unsur sejarah dengan fiksi dengan sampul fantasi. Tapi, layaknya koki pada cerita tadi, naskah buatan Irfan Wijaya bersama Adisurya Abdy (Roman Picisan, Asmara) yang juga merangkap sutradara, berantakan, tanpa tujuan pasti. Perjalanan menembus lorong waktu baru terjadi pasca film menginjak 30 menit. Itu pun cuma sejenak, dan dikemas layaknya video presentasi role play murid-murid SMP, diiringi voice over Sara yang terdengar bak guru sejarah paruh waktu membacakan buku pegangan plus data-data riset dari internet. Petualangan trio Ustaz Addin-Zidan-Haji Husin di lorong waktu jauh lebih menghibur meski penuh ceramah.

Sudah begitu, volume suaranya selirih bisikan manja seekor semut pemalu yang masih bocah. Musik yang sejatinya dimainkan dalam volume normal pun membabat habis dialog “keilmuwan” yang diucapkan para pemain dengan tingkat semangat mendekati nol. Jangan buat saya membahas pilihan musik “eksentrik” dari Adisurya Abdy, yang bagai diambil dari katalog tembang nostalgia. Juga jangan buat saya mempertanyakan alasan Danny (Volland Volt)—pria yang disukai Fei meski merupakan rekan kerja ayahnya—menyanyikan Naik Kereta Api kala sedang menggendong Fei.

Padahal, di suatu wawancara, sang sutradara menyebut film ini diharapkan mampu menggaet ketertarikan generasa millenial, tapi selera estetikanya jelas berlawanan dari tujuan tersebut. Senjata lain guna memikat penonton masa kini adalah pemakaian CGI. Ada CGI untuk salju, CGI untuk meriam, CGI untuk benteng, CGI untuk jendela benteng, bahkan sebagai bentuk totalitas, ruang sederhana yang hanya diisi meja, kursi, serta rak berisi buku-buku pun CGI. Mengapa tidak semua lokasi, bahkan karakternya dibuat memakai CGI? James Cameron pasti bangga.

Sara & Fei: Stadhuis Schandaal sanggup melanglang buana mengambil gambar sampai ke Cina, namun membangun set sederhana untuk halaman benteng beserta sebagian kecil isinya saja tak bersedia. Tunggu? Kenapa film ini turut menyertakan latar Cina? Sebab di situlah Fei dan Danny bertemu. Jika merasa itu membuat fokus kisahnya melebar, tunggu sampai anda bertemu Chiko (Haniv Hawakin), mantan kekasih Fei yang dipekerjakan pebisnis kotor, Abimanyu (Anwar Fuady), untuk meretas sistem perusahaan saingannya. Apa yang diretas menjadi tanda tanya, mengingat ketika Chicko beraksi, kita hanya melihat layar komputer berisi angka serta grafis acak, dan sebuah screen saver bergambar Matrix Digital Rain.

Kisah sejarah, fantasi, romansa, cerita kriminal, drama keluarga, tak heran kalau adonan film ini berantakan. Belum lagi penyuntingan gambar Bimmo DJ (Miss Call, Nyai Ahmad Dahlan) kerap semaunya, di mana adegan acap kali berpindahh meski kalimat atau gerakan karakternya belum tuntas. Kasar dan asal. Jujur saya sedih sekaligus geli melihat Sara & Fei: Stadhuis Schandaal. Rasanya seperti melihat bapak-bapak paruh baya, sedang berusaha terlihat modern dan asyik dengan aktif mengirim gambar atau video di grup WhatsApp keluarga. Akhirnya, saat konsumen nasi goreng yang disuguhi kwetiau tadi bertanya “Nasinya mana???”, saya pun berujar, “Mana unsur sejarah yang bisa dipelajari?”.

3 komentar :

Comment Page:

BROTHER OF THE YEAR (2018)

6 komentar
Awalnya, Brother of the Year tampak seperti dramedi tentang perselisihan sepasang saudara kebanyakan yang mengetengahkan proses terjal menuju kerukunan. Protagonis mengacau, menyulut pertengkaran demi pertengkaran, memuncak pada perpecahan, menyadari kesalahannya, lalu berujung third act yang dihabiskan untuk memperbaiki segalanya guna mendapatkan maaf saudaranya (juga simpati penonton). Ternyata tidak. Protagonis kita mengacau hingga mendekati titik penghabisan, dengan perubahan hati terjadi benar-benar di ujung. Karena Brother of the Year rupanya bukan soal usaha memperbaiki diri, melainkan penyesalan. “Mengapa selama ini, saat kesempatan terbuka lebar, aku enggan bersikap lebih baik?”. Penyesalan semacam itu.

Saya menangis di penghujung kisah. Walau tak memiliki saudara kandung, saya (dan sebagaimana semua orang) pernah mengacau, menyakiti hati orang terkasih, sehingga tahu sesakit apa penyesalan itu. Konklusi film karya sutradara Vithaya Thongyuyong (The Little Comedian, My Girl) ini pun menusuk. Tapi sebelumnya, Brother of the Year total berkomedi terlebih dahulu, bahkan saat menyentuh masalah serius dalam momen serius, humor segera menyusul. Mungkin banyak pihak menganggap itu wujud ketidakseimbangan. Saya pun sempat berpikir demikian. “Mana dramanya? Mana usaha memubuat si tokoh utama simpatik?”.

Sebab lebih mudah membenci Chut (Sunny Suwanmethanont). Dia pemalas kelas satu, membiarkan seisi rumah berantakan, piring kotor menggunung, mengganti lampu saja enggan. Belum lagi kebiasaannya membawa pulang banyak wanita walau telah mempunyai pacar. Sewaktu adiknya, Jane (Urassaya Sperbund) pulang dari studinya di Jepang dan kembali menghuni rumah itu, pertengkaran langsung pecah sejak menit pertama mereka bertemu. Berkebalikan dengan Chut, Jane adalah gadis cerdas pula rajin. Keunggulan yang sejak kecil menumbuhkan kecemburuan dalam hati Chut. Saat Jane menjalin asmara dengan rekan kerjanya, Moji (Nickhun), sudah tentu Chut tidak tinggal diam.

Kalau ia dilarang seenaknya membawa pulang wanita, maka Jane pun tak berhak berpacaran. Begitu pikir Chut. Komedinya berguna sebagai alat presentasi seluruh perilaku Chut yang seenaknya, dan itu terus berlangsung. Film ini tak berniat memunculkan kepedulian kita kepada Chut. Sebaliknya, film ini berniat memperlihatkan betapa menyebalkan dan kelewatan perilakunya, betapa besar kesalahan yang ia perbuat terhadap Jane. Alhasil, saat tiba waktunya Chut menyadari kekeliruan itu lalu menyesalinya, kita tahu betapa besar rasa sesal tersebut. Sebab semakin besar kesalahan, semakin besar pula sakit yang mengiringi penyesalan seseorang.

Sunny, si aktor langganan GDH sejak masih bernama GTH, memainkan perannya dengan apik, bertingkah sejorok dan sengawur mungkin, namun Urassaya a.k.a.Yaya yang paling bersinar. Dia lancar melucu sebagai adik “bossy” yang dibuat jengah oleh sang kakak tapi selalu menemukan cara untuk membalas. Pun di balik senyum simpulnya, Yaya punya cukup sensitivitas guna memaksimalkan momen dramatis. Sementara Nickhun, bersenjatakan “wajah malaikat” miliknya, jelas cocok memerankan sosok kekasih sempurna.

Dibuat oleh tim berisi 4 penulis termasuk Vithaya Thongyuyong, naskahnya menampilkan komedi absurd, serupa komedi-komedi terbaik Thailand—atau tepatnya GDH—lain, yang berkat ketepatan timing dari penyutradaraan Vithaya, sanggup memberi kelucuan mendadak yang efektif memancing tawa. Selalu ada hook di tiap humornya, yang menyengat di momen tepat seperti seharusnya sketsa mumpuni dibuat. Walau saya yakin, mengurangi sedikit porsinya takkan melukai kualitas film, karena durasi 124 menit agak terlalu lama. Tonton, kemudian tanamkan di kepala, jika lain kali terlibat konflik dengan orang yang kita sayangi, entah itu saudara, kekasih, orang tua, maupun anggota keluarga lain, ingat-ingat segala memori indah yang pernah dihabiskan bersama, sambil berusaha memahami mereka. Karena bisa jadi, mereka sangat mencintai kita dan melakukan berbagail hal namun urung memberi tahu kita. Bukankah cinta kasih terbesar seringkali ditunjukkan tanpa kata-kata? Sebelum penyesalan menghampiri.

6 komentar :

Comment Page:

MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018)

29 komentar
Film aksi, agar menghadirkan ketegangan dan decak kagum bagi penonton, harus sama seperti pistol yang ditembakkan jagoannya. Semakin banyak amunisi, semakin besar kemungkinan kena sasaran. Tapi bukan berarti bisa dilakukan asal membabi buta. Aneka sudut maupun strategi mesti dicoba. Fallout, yang masih digawangi Christopher McQuarrie (Jack Reacher, Mission: Impossible – Rogue Nation) sebagai sutradara sekaligus penulis naskah, membawa bekal banyak amunisi berbentuk deretan set piece aksi, yang masing-masing bak dibuat dengan tujuan mengungguli sekuen sebelumnya. And to breathe normally throughout the whole movie, is indeed an impossible mission for the audience.

Formula alur masih serupa. Ethan Hunt (Tom Cruise) harus menghentikan aksi terorisme berskala global (menghancurkan negara, menyebar virus mematikan, menguasai sumber daya, dll.), sementara pemerintah menutup mata dan telinga, bahkan tak jarang berbalik mengejarnya. Pun kali ini, musuh lamanya kembali, yakni Solomon Lane (Sean Harris) yang berhasil Hunt penjarakan di Rogue Nation. Rutinitas ini niscaya segera melelahkan disaksikan, tapi Cruise, menginjak usia 56 tahun, masih belum lelah melakoni rutinitas yang membuat tiap seri Mission: Impossible berkali-kali lipat lebi seru. Apalagi kalau bukan melakukan stunt-nya sendiri.

Cruise terjun bebas dari pesawat yang terbang di ketinggian 9 kilometer, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di tengah keramaian kota, berlari di atap gedung, bergelantungan lalu mengendarai helikopter. Tentu ada bantuan CGI, tapi minimum, sebatas untuk menghapus tali atau alat pengaman lain, kecuali saat Cruise dan Henry Cavill, yang memerankan August Walker si agen CIA brutal, melompat dari pesawat dan mesti menghadapi langit mendung serta petir CGI. Sayang, polesan yang diharapkan menambah intensitas itu justru mengurangi keaslian adegan.

Ya, kekuatan Fallout, dan seri Mission: Impossible setidaknya sejak Ghost Protocol (2011), adalah keaslian. Minim layar hijau pembentuk latar palsu, tidak ada pemakaian quick cut berlebihan, dan dengan sungguh-sungguh melakukan aksinya, Cruise bisa menampilkan ekspresi (takut, cemas, terkejut, lega) nyata. Sementara McQuarrie dan sinematografer Rob Hardy pun terfasilitasi untuk menaruh kamera di mana pun mereka mau tanpa perlu repot memutar otak supaya penonton tak melihat wajah stuntman (because there wasn’t any). Kamera ditempatkan di benda yang terlibat langsung dalam aksi, seperti motor atau jendela helikopter, menghasilkan sensasi gerakan intens, sebab penonton dibuat seolah berada di tengah-tengah peristiwa.

Terkadang wide angle digunakan selaku establishing shot guna menunjukkan bahwa lokasi berlangsungnya aksi adalah nyata, bukan kreasi komputer. Kita tahu di tiap aksi-aksi maut tersebut, Ethan beserta timnya akan berakhir unggul, tetapi McQuarrie mampu memunculkan kesan, walau hanya sepersekian detik, kalau kali ini, mereka takkan keluar hidup-hidup. Tengok konklusi klimaksnya yang ditutup oleh pemandangan dramatis berupa Tom Cruise bersama cahaya matahari senja.

Plotnya memang urung menawarkan gebrakan baru, namun bukan berarti penulisan McQuarrie malas. Beberapa eksposisi terdengar berbelit, tapi masih memungkinkan diikuti. Dan pastinya, sebagai film soal agen rahasia, yang mana bekerja juga mengandalkan otak alih-alih hanya otot, berbagai kejutan yang mayoritas berasal dari trik-trik cerdik protagonis kita pun tersebar, menjadi tikungan demi tikungan yang menjaga film ini bernyawa. Pameran teknologi Fallout tidak sevariatif Ghost Protocol, di mana topeng kembali jadi andalan, tapi McQuarrie, yang paham akan bahaya repetisi, muncul dengan ide pintar sarat kejutan agar strategi itu tetap segar.  

Satu elemen penting yang Hunt miliki, dan kompatriotnya sesama agen rahasia fiktif macam Jason Bourne atau James Bond tidak, adalah karakter pendukung menarik yang aktif terlibat dalam misi. Interaksi Hunt dan timnya menarik, bukan sebatas selipan penyegar, melainkan pondasi penting franchise ini. Kesan jika mereka telah memahami satu sama lain setelah melalui serangkaian misi berbahaya amat terasa. Ilsa (Rebecca Ferguson) masih tangguh, Benji (Simon Pegg) tetap ahlinya memancing tawa, dan Luther (Ving Rhames), secara mengejutkan memberi salah satu momen berperasaan yang juga membawa kita sejenak mendekati ruang personal Ethan Hunt.

Cavill dengan kumis tersohor miliknya sayangnya kurang dimaksimalkan. Penokohan sebagai “tukang bersih-bersih” CIA yang tak kenal ampun seketika lenyap begitu ia terjun ke lapangan. Sejatinya ini bisa dimengerti, sebab seramai apa pun jajaran pemainnya, Mission: Impossible merupakan “Film Tom Cruise”. Wajar bila sang aktor, yang turut merangkap produser, enggan karakternya tersaingi, apalagi setelah melewati serangkaian aksi gila. Lalu apa esensi kumis Cavill? Bisakah kumis itu dibuat memakai CGI layaknya permintaan Warner Bros kepada Paramount? Jelas bisa. Hasilnya akan lebih meyakinkan daripada menghapus kumis. Paramount bagai ingin mempermainkan WB, dan berhasil. Sama seperti keberhasilan menjaga franchise ini terus hidup selama 22 tahun dan 6 film.

29 komentar :

Comment Page:

DHADAK (2018)

6 komentar
Dhadak merupakan remake dari Sairat (2016), fim berbahasa Marathi yang membahas perihal romansa yang terhalang perbedaan kasta, atau dengan kata lain, satu lagi kisah ala Romeo & Juliet dengan penyesuaian kultur. Golongan berkasta tinggi mengatur mereka yang rendah, dan mereka yang di bawah “mesti” menurut sambil mendongak ke atas. Tapi bukankah kondisi serupa kerap terjadi saat manusia dimabuk kepayang? Or let’s say, head over heels? Si laki-laki diminta menyanyikan lagu Bahasa Inggris di depan seisi sekolah oleh si wanita untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia menurut tanpa ragu.

Si laki-laki bernama Madhu (Ishaan Khatter). “Aku akan membangun istana untukmu”, begitu katanya pada si wanita, Parthavi (Janhvi Kapoor). Saat itu Madhu bersedia melakukan apa pun. Dia pikir dia bisa melakukan apa pun. Parthavi menjawab, “aku tidak membutuhkan istana”. Cinta kasih adalah satu-satunya yang ia perlukan. Dia pikir, cinta kasih adalah satu-satunya yang ia perlukan. Sungguh indah bila benar demikian, tapi keduanya masih bocah naif. Di sini, mereka ditempatkan dalam ujian, yang turut mengajarkan bahwa mencintai seseorang lebih dari ungkapan kalimat manis dan pengorbanan bagi sosok tercinta bukan cuma melompat ke kolam di depan orang-orang.

Parthavi adalah puteri Ratan Singh (Ashutosh Rana), pria kaya raya terpandang yang tengah gencar berkampanye untuk pemilu. Cantik, kaya raya, mandiri. Tidak heran jika Madhu, yang hanya anak pemilik restoran biasa, terpikat, bagai kerbau dicucuk hidungnya. Madhu selalu dibuat salah tingkah, hanya bisa mengumbar senyum canggung kala berhadap dengan Parthavi. Janhvi Kapoor, puteri mendiang aktris legendaris Sridevi, memiliki aura memabukkan itu, sementara Ishaan Khatter mengeluarkan cukup energi untuk memerankan pemuda penuh kenekatan. Kedua bintang muda ini (Janhvi Kapoor baru melakoni debutnya) memberi nyawa bagi romansa, yang di paruh awal diisi canda tawa serta talik-ulur plus kegalauan ala percintaan remaja.

Awalnya Madhu menjauhi Parthavi akibat janji kepada sang ayah yang menolak hubungan beda kasta. Tapi Madhu tetap diam-diam mengikuti sambil mengintip si gadis pujaan dari jauh. Begitu Parthavi mengetahui alasan itu dan bersedia menjauh, Madhu justru kelabakan lalu memohon-mohon. Ya, kegalauan dan tarik-ulur macam itu nyatanya cukup sebagai daya agar Dhadak terus melaju. Hal yang kurang dari romansanya malah lagu romantis dan tarian. Daripada itu, filmnya memberi beberapa montage kental gerak lambat, yang oleh sutrdara Shashank Khaitan (Humpty Sharma Ki Dulhania) gagal dikemas lewat bahasa visual menarik. Satu-satunya nomor musikal bertempat kala pesta ulang tahun Roop (Godaan Kumar), kakak Parthavi, yang dibalut lagu Zingaat, menghadirkan festivity yang saya harap tak kunjung usai. Sayang, momen ini pula titik balik suasana filmnya.

Dari sini, Dhadak beranjak menuju teritori lebih serius dengan permasalahan lebih kompleks, di mana senyuman semakin memudar apalagi tawa. Saya takkan menyebut penyebab pastinya, tapi inilah “ujian” yang saya singgung sebelumnya. Di atas kertas, konflik dalam naskah yang juga ditulis Shashank menawarkan elemen formulaik, pun terselip bumbu kecemburuan khas opera sabun. Tapi berkat titik balik ini, perenungan akan makna cinta dapat dihadirkan. Sekali lagi, keduanya masih bocah. Ketika terpaksa melangkah ke fase yang sebenarnya belum ingin dan siap dijalani, pertengkaran tentu saja kerap meledak, api asmara meredup seiring amarah yang sering membara, sehingga menjadi natural saat masing-masing pihak mulai mempertanyakan kesungguhan pasangannya.

Why did you love me?”, tanya Parthavi. Saya suka sewaktu alih-alih “Don’t you still love me?”, naskahnya menanyakan “kenapa”. Because “why” indeed. Kenapa mencintai jika sudah tahu resikonya, dan tatkala resiko itu terjadi justru menyalahkan? Untungnya Shashank enggan memilih jalur “mudah” dengan adegan meletup-letup berurai air mata. Beberapa momen menyentuh di paruh kedua ini bersumber dari hal-hal kecil, misanya ketika Parthavi merasa bersalah dan tak berguna akibat gagal mencuci baju dengan baik, atau saat Parthavi, walau dihadapkan pada perilaku kelewatan Madhu, tetap setia dan membuktikan prasangka buruk sang pria keliru.

Lalu Shashank menggiring kita pada 15 menit terakhir yang luar biasa menegangkan. Melalui petunjuk dari ucapan Ratan, kita tahu hal buruk akan terjadi pada akhirnya (Mayoritas romansa yang menjadikan Romeo & Juliet sebagai dasar selalu menjurus ke sana). Namun Shashank, melalui pengadeganan masterful-nya tetap memancing penonton untuk bertanya, “Apa yang akan terjadi?”, “Pada siapa?”, “Kapan? Di mana? Bagaimana?”, mencekik kita dengan ketidakpastian menantikan sesuatu yang kita curigai bakal jadi kenyataan. Sampai tracking shot di akhir, ditutup oleh kebisuan mendadak menutup Dhadak bak jeritan yang tertahan.

6 komentar :

Comment Page:

MAMMA MIA! HERE WE GO AGAIN (2018)

11 komentar
Berbeda dengan apa yang disugestikan judulnya, Mamma Mia! Here We Go Again bukan cuma undangan mengunjungi ulang kemeriahan di Pulau Kalokairi. Nuansanya masih sama, dengan judul-judul seperti I Have a Dream, Dancing Queen, dan (tentunya) Mamma Mia kembali mengisi deretan lagu dalam jukebox-nya ditambah beberapa karya ABBA lain yang belum diperdengarkan di film pertama, tapi sekuel dari raksasa Box Office 2008 (memperoleh $615 juta di seluruh dunia) ini bukan repetisi. Alurnya memperkuat, memperkaya pondasi bagi kisah serta karakter yang telah diletakkan pendahulunya sambil sesekali menyelipkan nostalgia.

Strukturnya bergerak maju-mundur secara rapi antara masa kini (5 tahun pasca film pertama) ketika Sophie (Amanda Seyfried) membangun ulang hotel Bella Donna demi mengenang mendiang ibunya, Donna (Meryl Streep), dan masa lalu yang menyoroti kehidupan Donna muda (Lily James). Pada Mamma Mia!, kita hanya mendengar bagaimana Donna dahulu merupakan gadis muda penuh semangat yang nekat tinggal serta membangun hotelnya sambil merawat puterinya seorang diri. Here We Go Again mengajak kita menyaksikan itu secara langsung, termasuk romansa kilatnya dengan tiga pria: Sam (Pierce Brosnan), Bill (Stellan Skarsgard) dan Harry (Colin Firth).

Saya termasuk yang dulu bertanya-tanya, mengapa ketiga pria yang telah mapan ini tak hanya bersedia, bahkan antusias menyambut undangan Sophie untuk bertemu Donna lagi. Pertanyaan itu terjawab. Walau singkat, romansa mereka amat berkesan kalau enggan disebut life changing. They had the time of their life, so are we while watching their precious togetherness. Mengambil tampuk penyutradaraan dari Phyllida Lloyd, Ol Parker (Imagine Me & You, Now Is Good) membungkus momen-momen tersebut lewat musikal yang sama meriahnya tapi jauh lebih memikat dalam hal estetika. Simak Waterloo yang mempunyai variasi mise-en-scène juga koreografi luar biasa. Saya ikut bernyanyi, tersenyum lebar, meneteskan air mata. Air mata bahagia.

Pendalaman mitologinya tidak berhenti di situ. Kenapa Donna memilih menikahi Sam, sementara Rosie (Julie Walters) memilih menjalin asmara dengan Bill misalnya, akan kita temui alasannya di sini. Selain meningkatkan kualitas pengadeganan sebagai sutradara, Ol Parker yang merangkap penulis turut memperbaiki kelamahan film sebelumnya terkait naskah. Parker cerdik membangun alur berdasarkan dua hal, yakni lubang-lubang, atau tepatnya unsur yang belum dijelaskan oleh Mamma Mia! dan lirik-lirik lagu yang dipilih. Beberapa nomor macam I’ve Been Waiting for You hingga My Love, My Life yang sejatinya membicarakan cinta romantis disulap jadi cinta ibu-anak, menghasilkan kadar emosi berlipat ganda termasuk konklusi penguras tangis tatkala cukup bermodalkan satu sekuen musikal, Streep dan senyum hangat penuh kasihnya sanggup memberi impresi yang tidak main-main.

Streep memang harus menyerahkan screen time-nya kepada Lily James yang menghadirkan salah satu performa paling lovable, berenergi, dan berkarisma dalam film musikal. Setiap sekuen dilakoninya bak seorang mega bintang/ratu dansa penguasa tiap sudut panggung yang menghipnotis tak saja trio Sam-Bill-Harry agar seketika jatuh hati, juga penonton. Apabila serial Downton Abbey (2012-2015) membawa James meraih beberapa penghargaan sementara Cinderella (2015) membuat namanya dikenal luas di skena film layar lebar, Mamma Mia! Here We Go Again bakal melambungkan statusnya menjadi aktris utama kelas A.

Sedangkan jajaran cast lain yang bertugas memerankan versi muda karakter film pertamanya berjasa memuluskan transisi dua latar waktu alurnya. Saya percaya jika Sam versi Jeremy Irvine akan tumbuh jadi pria berwibawa seperti Brosnan dan Hugh Skinner memiliki kecanggungan dan kekakuan menarik layaknya Firth. Pun acap kali saya sekilas mengira sedang menyaksikan latar sekarang karena kesesuaian fisik juga perilaku Jessica Keenan dan Wynn Alexa Davies dengan kedua senior mereka, Julie Walters dan Christine Baranski.

Di permukaan, Mamma Mia! Here We Go Again bicara perihal kenangan, dan Ol Parker berbaik hati memberi bonus kepada penggemar film pertamanya dengan beberapa momen nostalgia (“stair-slidingand “lady with the woods” scene are my favorites). Nostalgia pun dialami tokoh-tokohnya, di mana banyak dari mereka bereuni dengan sosok spesial dari masa lalu masing-masing. Cheesy, sarat kebetulan, namun alangkah sulit rasanya menyangkal kebahagiaan yang dipancarkan olehnya. Sama seperti kemunculan singkat Ruby, ibunda Donna, nenek Sophie, yang sejatinya kurang esensial terkait plot, tapi siapa menolak melihat Cher mengambil alih panggung? Lebih dari itu, proses saling singgung antar dua latar waktu turut menghasilkan refleksi seputar ikatan batin ibu dan anak yang merupakan penopang rasa utama film ini, salah satu film dengan kandungan rasa paling kaya sepanjang tahun.

11 komentar :

Comment Page:

BUFFALO BOYS (2018)

17 komentar
Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan menyelesaikan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan tepat ke tubuh Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi titik tembak yang jelas tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata. Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, aksi yang dinanti akhirnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang 102 menit Buffalo Boys, yang terasa seperti perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.

Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, dia menunjukkan keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan saat Buffalo Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke Indonesia di era kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan pria tangguh amoral yang akhirnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, karena biar bagaimana, ini negeri Timur.

Jamar dan Suwo jelas tak berada di garis abu-abu. Keduanya pemuda baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas kematian ayah mereka di tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa sejak kecil di Amerika, bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach beserta kaki-tangannya. Sakar memiliki dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan jago memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak dipertanyakan.

Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya luput menyampaikan duka dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para jagoan western beristirahat di malam hari di depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai, jagoan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa lalu dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung dilibatkan, karena akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua pemuda nihil kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar” ketika target mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melakukan perjalanan panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk ditunggu.

Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan riasan “kotor” di sekujur tubuh cocok sebagai karakter yang menghabiskan waktu lama tinggal di wild west, sementara Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di saat bersamaan, Jamar punya kapasitas tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.

Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang jajaran pemain pendukung, termasuk para villain yang punya dandanan sekaligus perilaku unik cenderung aneh macam Alex Abbad dan Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat performa over-the-top yang jelas lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi ancaman pada Jamar dan Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal membalikkan keadaan dengan cepat nan mudah langsung terasa. Di luar tokoh-tokoh yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak wanita Van Trach, yang diperankan Happy Salma, yang memperlihatkan akting dengan kepekaan rasa jauh mengungguli penampil lainnya.

Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski dampaknya menurun akibat dibarengi usaha menghindari gunting sensor lewat penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya adalah pemilihan sudut yang dipakai Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya karena keengganan direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari dekat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas laga, bertambah melelahkan film ini.

Anda bisa berargumen bahwa berbagai judul western terbaik tak memiliki banyak aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah isu sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul ketika filmnya sebatas menunjukkan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo Boys bisa menjadi gambaran alternatif terhadap pertempuran skala kecil bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan dahulu. Namun potensi itu tenggelam bersama poin-poin cerita yang berakhir sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan pelurunya.

Saya begitu menantikan Buffalo Boys karena variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya. Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya mengucap dialog, kerap terbenam. Jadi ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.

17 komentar :

Comment Page:

ANIMAL WORLD (2018)

6 komentar
Animal World punya salah satu trailer paling menipu. Saya berkewajiban mengungkap itu agar anda tidak keliru memasang ekspektasi. Adaptasi lepas dari manga Tobaku Mokushiroku Kaiji karya Nobuyuki Fukumoto ini bukan Deadpoolesque mengenai aksi bertabur warna seorang jagoan super berkostum badut seperti nampak di berbagai materi promo. Bayangkan Sucker Punch (2011) milik Zack Snyder, tapi dengan eksekusi yang tak semata bergantung pada sekuen fantasi, melainkan punya pondasi alur solid yang sedikit menyenggol film-film klasik bertema judi kartu macam God of Gamblers (1989).

Sederet adegan badut menebas monster-monster yang menyemprotkan darah bak cat beraneka warna berasal dari kondisi mental Zheng Kaisi (Li Yifeng), yang menyebut dirinya gila, dan setiap emosinya tersulut, Zheng akan bertransformasi menjadi jagoan badut yang sewaktu kecil ia tonton di layar kaca. Tentu semua hanya di kepalanya saja. Monster yang dihadapi pun hanya manifestasi dari orang-orang di sekitar yang mengganggu pikirannya. Nakah buatan Han Yan (Go Away Mr Tumour), yang turut menduduki kursi sutradara, jelas tak menyasar ketepatan presentasi ilmu psikologi, sebab seiring memuncaknya konflik, perilaku Zheng terlalu tenang untuk ukuran penderita gangguan emosi.

Zheng terbelit kesulitan finansial. Sang ibu telah koma bertahun-tahun dan ia makin sulit melunasi biaya perawatan rumah sakit. Bantuan kerap didapat dari perawat sekaligus temannya sejak kecil, Liu Qing (Zhou Dongyu), yang juga merupakan pujaan hati Zheng, namun keuangan cekak membuatnya ragu menyatakan cinta. Putus asa, ia terpaksa menerima “bisikan setan” dari teman lamanya, Li Jun (Cao Bingkun) agar menggadaikan apartemen ibunya, hanya untuk mendapati contoh kekejaman dunia di mana orang-orang saling tipu dan tikam demi materi.

Singkatnya, Zheng justru terjebak hutang besar, dan untuk melunasinya, ia mesti berada di Animal World, sebuah panggung permainan di kapal pesiar yang dikelola Anderson (Michael Douglas, yang keberadaannya hanya untuk memberi “rasa Hollywood”), di mana para peserta saling bertarung demi melunasi hutang, sementara orang-orang kaya diam-diam menyaksikan dengan nyaman sambil bertaruh siapa yang bakal keluar sebagai pemenang. Walau seperti dunia bawah tanah imajiner, Animal World sejatinya cerminan realita kita. Peserta saling tipu, berkhianat, menanggalkan moral serta nilai-nilai kemanusiaan demi keselamatan pribadi dan (lagi-lagi) materi. Dalam Animal World, Zheng, seperti keseharian kita, menjalani proses sarat ujian. Dia harus bertahan sembari menolong beberapa pihak yang bekerja sama dengannya, di tengah godaan agar memenangkan ego. Perjalanan Zheng pun memunculkan pesan yang tak lekang oleh waktu, bahkan bertambah penting seiring kondisi dunia kita yang makin menyerupai Animal World.

Penonton dengan hati nurani tentu berharap Zheng tetap bertahan di jalur, meski penokohannya penuh kesan dadakan. Dari pecundang menyedihkan nan pemalas, ia jadi jeli, taktis, cekatan, bahkan ahli matematika. Belakangan diungkap ayah Zheng merupakan guru matematika, elemen karakterisasi yang urung dijabarkan selaku pondasi di awal, sehingga sulit rasanya langsung menerima fakta itu begitu saja. Pun status “anak guru matematika” bukan alasan memadahi melihat kompleksitas permainan yang dijalankan, yakni batu-kertas-gunting berbentuk kartu. Tiap peserta diberi 3 bintang plus 6 kartu yang dapat bertambah maupun berkurang seiring waktu. Mereka yang setelah 4 jam memiliki minimal 3 bintang dan tidak satu pun kartu, dinyatakan lolos.

Terdengar gampang, tapi sebagaimana kita tahu, kartu remi di level pos ronda saja butuh hitung-hitungan rumit kalau ingin menjadi ahli, apalagi saat nyawa dipertaruhkan dan melibatkan puluhan orang beradu strategi penuh trik psikolologis dan matematika. Terdapat momen-momen kala protagonis kita tersudut, dan sulit menebak bagaimana caranya keluar dari kesulitan itu.  Hebatnya, Han Yan senantiasa menawarkan resolusi cerdik, menjadikan proses pencarian solusi darurat secara cepat berlangsung menarik berkat penantian atas apa yang bakal dilakukan Zheng berikutnya. Begitu terungkap, kepuasaan selalu saya peroleh.

Barisan taktik kompleks sering Zheng pakai, dan Han Yan coba menjabarkannya lewat kemasan visual kreatif yang turut bertujuan memudahkan pemahaman penonton. Mungkin akhirnya tetap sulit mencerna seluruh detailnya, namun sang sutradara telah melakukan usaha terbaiknya. Sisanya, tinggal mau (dan mampu) atau tidak penonton memperhatikan. Sekali kita menyerap permainannya, Animal World akan menghadirkan pertarungan otak sekaligus mental menarik pula dinamis, yang memudahkan kita memaafkan “promosi tipu-tipu” miliknya.

Di luar yang berguna memperjelas jalannya permainan, tersebar banyak visual bergaya (termasuk semua adegan aksi brutal Zheng dalam kostum badut) yang sesungguhnya, mayoritas kurang substansial. Setidaknya, niat Han Yan membuai mata kita layak diapresiasi. Dia ingin filmnya terlihat menawan, dan itu pula yang terpampang di layar. Kembali, berbeda dengan Snyder di Sukcer Punch yang hanya mengandalkan kemewahan sekuen aksi fantasi guna menutupi kekosongan plot, dalam Anima World, unsur itu berfungsi mempercantik, alias hal sekunder. Meski jika diajukan pertanyaan “perlukah semua itu?”, saya bakal menjawab, “mungkin tidak”.

6 komentar :

Comment Page:

22 MENIT (2018)

16 komentar
22 Menit membuka cerita melalui paparan rutinitas pagi hari karakternya. AKBP Ardi (Ario Bayu) beserta kehangatan keluarganya, Firman (Ade Firman Hakim) si polisi lalu lintas yang mengatur jalanan Thamrin di tengah kegamangan akibat pernikahannya dengan Sinta (Taskya Namya) terancam batal, office boy bernama Anas (Ence Bagus) yang berusaha membantu kakaknya, Hasan (Fanny Fadillah) mencari kerja, juga Mitha (Hana Malasan) yang di sebuah cafe menantikan kedatangan Dessy (Ardina Rasti). Semua berjalan damai, hingga pukul 10:40, terjadi ledakan bom di persimpangan Sarinah.

Lalu layar menampilkan jam digital yang bergerak mundur beberapa menit sebelum tragedi, memindahkan fokus menuju perspektif karakter lain. Rupanya 22 Menit merupakan hyperlink cinema, atau setidaknya, berusaha menjadi itu. Meminjam deksripsi Roger Ebert, hyperlink cinema yaitu tatkala tokoh-tokoh maupun rangkaian peristiwa terjadi dalam kisah berlainan, namun koneksi atau pengaruh di antara kisah-kisah itu perlahan diungkap, menyatukan segalanya. Sederhananya, struktur satu ini adalah penyatuan kisah yang (awalnya) terpisah memakai satu benang merah.

Terinspirasi tragedi bom Sarinah pada 14 Januari 2016, hyperlink  sejatinya merupakan bentuk yang tepat, mungkin malah paling efektif untuk menggambarkan bahwa korban yang berasal dari beragam kalangan, terhubung dalam satu pengalaman kolektif. Bahwa di tengah kekacauan tersebut, ada individu-individu yang menyimpan cerita, atau dalam konteks naskah buatan Husein M. Atmodjo (Parts of the Heart, Midnight Show) dan Gunawan Raharjo (Jingga), sosok tercinta masing-masing. Perspektif itu berpotensi memberi dampak emosional kuat, sebab terdapat hal spesial, misterius, bahkan “ajaib” seputar pengalaman kolektif yang terwujud melalui kebetulan yang diprakarsai takdir.

Sayang, naskahnya gagal mempresentasikan pengalaman kolektif itu, atau menilik kegunaan hyperlink cinema, tautan yang mestinya ada justru tiada. Ketimbang merekatkan, eksekusi 22 Menit justru kacau nan membuyarkan. Fokus lemah menjadi sebab. Daripada menyoroti tokoh atau lingkup waktu tertentu di tiap “segmen”—yang dipisahkan hitung mundur jam digital—alurnya bak produk campur aduk asal terhadap sederet plot sampingan. Sulit menyebut secara pasti, karakter atau situasi mana yang di satu titik tengah dijadikan fokus (kalau fokus itu sendiri dipunyai filmnya). Dalam hyperlink, tentu fatal andai “link”-nya sendiri hilang, yang di film ini turut menyebabkan raibnya jembatan antara cerita dengan perasaan penonton.

Hanya subplot Hasan-Anas yang cukup berkesan, itu pun bukan berkat skrip, tetapi karena seperti dalam Guru Ngaji, Ence Bagus menampilkan sensitivitas. Matanya menyuarakan keresahan. Sisanya hampa, terlebih Mitha dan Dessy. Kita tak tau siapa mereka, tidak pula berbagi momen personal dengan keduanya. Kesannya, para penulis naskah yang sudah terjebak di jeratan benang kusut buatan sendiri, alih-alih coba merapikan justru menambah jalinan benang lain.

Didukung penuh pihak kepolisian, film panjang kedua produksi Buttonijo Films setelah Another Trip to the Moon (2015) ini memiliki production value plus penanganan aksi yang tidak main-main. Prosedur anti-terorisme ditampilkan, beberapa helikopter diterjunkan, detail properti-properti lain pun solid. Apalagi 22 Menit diambil di lokasi asli, di mana pengambilan gambar dilakukan tiap akhir minggu selama sebulan. Namun itu berakhir sebatas kemewahan kulit luar ketika duo sutradara, Eugene Panji (Naura & Genk Juara the Movie) dan Myrna Paramita kurang cakap memaksimalkan modal di atas untuk menghasilkan gelaran aksi intens. Tidak buruk, tapi melihat sumber daya miliknya, wajar jika saya berharap lebih, meski Ario Bayu tentu saja tidak mengecewakan, tampak meyakinkan memerankan polisi tangguh nan pemberani yang mengangkat senjata.

Pada departemen musik, Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven) telah berusaha menyerbu telinga penonton melalui dentuman mendebarkan plus horn megah ala Hans Zimmer, tapi aksinya tidak pernah mencapai klimask. Pun tak berlebihan bila menyebut 22 Menit sebagai film nihil klimaks. Pertempuran polisi melawan teroris berakhir saat mayoritas penonton rasanya mengira filmnya masih menyimpan amunisi lebih, dan memang seharusnya demikian. Tapi tidak. Baku tembaknya tampil pendek dalam durasi keseluruhan yang juga pendek (71 menit), kemudian memberi ruang bagi epilog yang melompat dari fokus utama (peristiwa terorisme 14 Januari), yang dibuat hanya untuk menggambarkan gerak cepat dan kesigapan polisi memberantas antek terorisme sampai ke akarnya. Singkatnya, pembangunan citra. Terdengar voice over Vincent Rompies (tampil singkat selaku cameo) di siaran radio yang terasa melankolis, syahdu, manis tapi pahit. Momen itu seharusnya dijadikan penutup.

16 komentar :

Comment Page: