TEEN TITANS GO! TO THE MOVIES
Rasyidharry
Juli 29, 2018
Aaron Horvath
,
Animated
,
Greg Cipes
,
Hynen Walch
,
Khary Payton
,
Lumayan
,
Peter Rida Michail
,
REVIEW
,
Scott Menville
,
Tara Strong
,
Will Arnett
14 komentar
Walau tidak reguler seperti semasa kecil dulu tiap Minggu
pagi, saya masih kerap menghabiskan waktu menonton serial animasi (lewat YouTube
tentu saja), sekedar untuk sejenak bersantai. Setiap menemukan episode yang
berhasil menghibur, saya selalu berharap kesenangan itu berlangsung lebih lama
dari sekedar belasan samapi 30 menit. Jika anda pernah merasakan hal serupa, Teen Titans Go! To the Movies bakal
mengabulkan harapan tersebut. Berasal dari serial Teen Titans Go!, film ini memiliki nuansa ringan yang sama, production value sama (bujetnya cuma $10
juta), tapi melipatgandakan humor meta-nya,
dan sudah pasti, durasinya. Yes, this
feels like an extended episode of the series, which also means, extended fun.
Ada salah satu episode musim kedua Teen Titans Go! Yang berjudul Let’s
Get Serious!, di mana Teen Titans merasa bahwa pahlawan super tak
semestinya gemar bercanda. Harus serius, harus tragis. Hasilnya adalah
olok-olok yang menyasar mangsa empuk, dibalut dalam bentuk humor meta yang
meski tidak bisa disebut cerdas, namun luar biasa menghibur. Teen Titans Go! To the Movies pun sama,
kini giliran maraknya film pahlawan super yang jadi sasaran tembak. Superman
punya film, Batman punya film, belakangan Wonder Woman pun dibuatkan film.
Mengapa Robin (Scott Menville) tidak?
Pertanyaan itu mengganggunya, apalagi banyak pihak menganggap
Teen Titans bukan tim pahlawan super sungguhan, karena senantiasa bergurau dan
bergurau. Melihat sang teman bersedih, Cyborg (Khary Payton), Starfire (Hynden
Walch), Raven (Tara Strong), dan Beast Boy (Greg Cipes) pun mencari alasan
mengapa Hollywood ogah membuatkan mereka film layar lebar. Salah satu
kesimpulan yang dicapai yaitu ketiadaan musuh besar. Sambut Slade alias
Deathstroke (Will Arnett), yang kemunculannya memfasilitasi lelucon soal
kemiripannya dengan Deadpool. Humor meta
seperti ini—yang menyasar hal populer nan mudah dipahami penonton umum—akan banyak
dijumpai sepanjang durasi.
Baik yang bersifat meta
maupun bukan, mayoritas humornya tak masuk kategori pintar. Komedi pintar mana
yang menggunakan lelucon kentut? Tapi kepintaran tidak berkorelasi dengan
kelucuan. Lelucon mengenai “pelafalan dramatis nama supervillain” atau “Slade’s
mind manipulation trick” tergolong apa yang disebut “receh”. Bodoh, tapi
itu poinnya. Seperti para Teen Titans, film ini hanya ingin bersenang-senang,
dan mengajak kita turut serta. Sedangkan terkait plot, saya tidak bisa membahas
banyak, bukan demi menghindari spoiler, melainkan
memang tidak banyak yang dapat dibicarakan.
Mayoritas cuma menapilkan usaha Teen Titans memenuhi impian
dibuatkan film melalui cara-cara acak. Keacakan menyenangkan tentunya, di mana
pada satu titik mereka mengunjungi berbagai peristiwa ikonik dalam sejarah DC.
Di sela-sela cerita pun turut diselipkan nomor musikal, yang kentara hanya
bertujuan menambal slot durasi. Setidaknya deretan lagunya luar biasa catchy, khususnya Upbeat Inspirational Song About Life (ya, itu judulnya). Seusai
film, seorang bocah di toilet terus menerus bernyanyi, “Upbeat! Upbeat!”, dan saya berani bertaruh kebanyakan penonton
lain, termasuk dewasa seperti saya, kesulitan menghapus lagu itu dari ingatan.
Disutradarai duo Peter Rida Michail-Aaron Horvath yang
memproduseri serialnya, gelaran aksi film ini, sebagaimana elemen lain,
mengusung semangat “asal ramai, asal kacau”, yang kadang terlampau
kacau,membuatnya tak seberapa memorable.
Biar demikian, visual kaya warnannya tak kalah catchy dengan deretan lagunya, apalagi bagi penonton bocah. Masih
seputar aksi, tersimpan satu poin pintar, yakni saat Teen Titans selalu
mengandalkan kemampuan Raven menciptakan portal dimensi. Sebab kisah superhero punya tendensi enggan
memaksimalkan kekuatan atau senjata pamungkas yang bisa dipakai menyelesaikan
apa saja, semata demi kesan dramatis.
Jadi apakah film ini pintar atau bodoh? Dari sudut pandang
finansial, tidak diragukan lagi sebuah kepintaran. Bermodalkan biaya amat
kecil, Warner Bros dan DC niscaya akan bergelimang keuntungan. Dan meski belum
layak disematkan status “film bagus”, tingkat rewatchability-nya tinggi. Saya takkan terkejut apabila home video-nya laku keras. Karena sekali
lagi, layaknya animasi Minggu pagi, Teen
Titans Go! To the Movies mampu memberikan kesenangan tanpa perlu banyak
berpikir. Bedanya, kesenangan itu berlangsung lebih dari 30 menit.
13: THE HAUNTED (2018)
Rasyidharry
Juli 28, 2018
Achmad Megantara
,
Al Ghazali
,
Andi Rianto
,
Atta Halilintar
,
Demas Garin
,
Endy Arfian
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Mikha Tambayong
,
REVIEW
,
Rudi Soedjarwo
,
Talitha Tan
,
Valerie Thomas
9 komentar
Ada masa di mana Rudi Soedjarwo termasuk salah satu sutradara
kelas satu negeri ini. Menelurkan Ada Apa
Dengan Cinta? (2001), Mengejar
Matahari (2004), Pocong 2 (2006),
sampai Mendadak Dangdut (2006),
separuh awal 2000an adalah bukti sahih. Setelahnya diisi inkonsistensi, meski
judul-judul macam Garuda di Dadaku 2 (2011)
dan Batas (2011) sesekali
mengingatkan agar jangan memandangnya sebelah mata. Rudi masih pencerita handal. Terbukti, walau
diberi bekal medioker dalam 13: The
Haunted, sang sutradara tetap mampu menghasilkan karya yang tak terbenam di
lubang kehancuran seperti banyak horor lokal belakangan.
Saya sedikit was-was ketika baru menginjak detik pertama,
sebelum tampak apa pun selain kredit, telinga ini sudah ditusuk-tusuk oleh
volume musiknya. Padahal hanya denting piano, tapi gendang rasanya mau pecah. “Ah,
satu lagi horor murahan yang asal melemparkan jump scare berisik.”, begitu pikir saya. Perkenalan dengan jajaran
protagonisnya menguatkan prasangka itu. Mereka adalah 7 remaja yang
karakteristiknya mentok di julukan masing-masing. Celsi (Valerie Thomas) misal,
yang dipanggil “Si Logis” (or something
like that). Hampir semua kalimatnya diawali “Logikanya....”.
Atau Farel (Atta Halilintar) si “Hip Hop Boy” yang gemar mengenakan kalung emas, jam tangan emas,
cincin emas, walau aksesoris tersebut sebenarnya juga bisa diidentikkan dengan
tante-tante girang. Sementara Rama (Al Ghazali) dipanggil “Mr. Perfect” meski bagian mananya yang layak disebut sempurna, saya
tidak tahu. Pastinya bukan akting Al Ghazali, yang 4 tahun pasca debut layar
lebar di Runaway, masih sekaku batang
kayu. Endy Arfian sebagai Garin si “Kentut
Boy” lebih luwes dibanding rekan-rekannya, tapi setelah Toni di Pengabdi Setan (2017), ini jelas
kemunduran.
Alkisah, mereka bertujuh, sebagai remaja gaul masa kini yang
terobsesi untuk jadi yang terdepan, merasa iri dengan kesuksesan kanal YouTube berkonten
reality show horror milik The Jackal,
yang sukses mengumpulkan jutaan penonton dalam waktu singkat. The Jackal
sendiri terdiri dari sepasang kekasih, Joy (Achmad Megantara yang akhirnya
layak tonton pasca debut remuk redam di El)
dan Klara (Mikha Tambayong), mantan kekasih Rama. Demi menyaingi The Jackal,
mereka bertujuh pun nekat pergi membuat vlog
ke Pulau Ayunan, tempat terjadinya pembantaian 13 bulan lalu.
Apabila terdengar seperti formula klasik “sekelompok remaja
pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu yang ingin merenggut nyawa mereka”,
itu karena 13: The Haunted memang mengedepankan
kisah klise “sekelompok remaja pergi ke tempat terpencil lalu diteror hantu
yang ingin merenggut nyawa mereka”. Satu hal yang saya sayangkan, walau tak
mengejutkan, adalah kegagalan naskah buatan pasangan suami istri Demas Garin dan
Talitha Tan (The Secret: Suster Ngesot
Urban Legend) membangun persahabatan kuat antara tokoh-tokohnya. Mereka
berpesta bersama, jalan-jalan bersama, selalu menghabiskan waktu bersama, namun
tanpa tanda-tanda ikatan solid, sebab interaksi yang terhampar pun tak cukup
menarik untuk membuat kita peduli.
Untungnya, 13: The
Haunted bukan horor nihil kisah yang menyamakan rentetan jump scare tanpa
konteks dengan alur, lalu mengumpulkannya sebanyak mungkin guna mengisi slot
durasi. Bahkan, kuantitas jump scare film
produksi ketiga RA Pictures ini ada di taraf normal alias secukupnya. Second act-nya dipakai menelusuri
misteri yang tersimpan di Pulau Ayunan. Bukan misteri yang digarap apik, tapi
keberadaannya berhasil dimanfaatkan Rudi Soedjarwo guna unjuk gigi kapasitas
bertutur melalui tempo yang nyaman diikuti. Ketika ada karakter menyelidiki
sebuah keanehan dalam film horor, sudah jadi “kewajiban” sang sutradara melambatkan
tempo untuk memunculkan ketegangan. Rudi melakukannya, tapi tahu kapan mesti
mengakhiri itu supaya tidak berlarut-larut sehingga kehilangan momentum.
Soal menakut-nakuti, trik Rudi medioker. Hantu sekedar muncul
tiba-tiba di layar, diam, berpose, sambil diiringi musik buatan Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven), yang
untungnya lebih variatif ketimbang asal berisik sebagaimana kerap dijumpai
dalam horor kelas teri negeri ini. Musik Andi pun efektif memancing ketegangan
pada third act yang kembali,
membuktikan kebolehan Rudi memainkan tempo. Bergerak cepat namun tidak
terburu-buru, klimaksnya terbukti menyenangkan, apalagi ditambah riasan menarik
garapan Cherry Wirawan dan Eba Sheba bagi hantu-hantunya. Anda bisa berargumen
hantu-hantu itu terlihat bak cosplay
monster Kamen Rider, tapi jelas jauh lebih niat dan imajinatif dibanding jajaran
setan muka bubur basi yang kerap menjadi favorit sineas horor bangsa ini. Andai
mitologi sarat misteri di balik angka 13 jadi poros utama, seperti saat “13
Cara Melihat Hantu” menyokong klimaksnya. Bodoh, tapi menyenangkan. Setidaknya
memancing keingintahuan terhadap hasilnya. Semoga 13: The Return mampu melakukannya.
SARA & FEI: STADHUIS SCHANDAAL (2018)
Rasyidharry
Juli 28, 2018
Adisurya Abdy
,
Amanda Rigby
,
Anwar Fuady
,
Drama
,
Fantasy
,
Haniv Hawakin
,
Indonesian Film
,
Irfan Wijaya
,
Mikey Lie
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Tara Adia
,
Volland Volt
3 komentar
Jika diibaratkan masakan, Sara
& Fei: Stadhuis Schandaal berasal dari gagasan ambisius seorang koki
untuk menciptakan nasi goreng ternikmat dengan cara mengumpulkan seluruh bahan
dan bumbu yang bisa ia temukan di pasar. “Kalau semua bahan baku kucampur,
tentu bakal menciptakan kekayaan cita rasa”, begitu pikirnya. Apa daya, ia
malah kerepotan, kebingungan, dan akhirnya justru kwetiau yang tercipta,
setengah matang pula. Bukan saja tidak enak, esensi dasar nasi goreng, yaitu “NASI”,
turut lenyap. Jadilah bencana. Bencana yang ajaib. Seberapa ajaib? Simak
kutipan dialog berikut, yang melibatkan polisi dan komandannya.
“Lapor
Komandan, Abimanyu berhasil ditangkap, namun tersangka Chiko BERHASIL MELARIKAN
DIRI.”
“Kenapa
bisa begitu?”
“Karena
di saat bersamaan pelaku BERHASIL MELARIKAN DIRI!”
Itu sama saja dengan situasi ketika seorang ibu bertanya pada
anaknya, “Bagaimana bisa nilai ujian kamu jelek?!”, yang dijawab oleh sang
anak, “Karena nilai ujian saya jelek”. Apabila pembicaraan di atas terdengar
bodoh, asal, konyol, dan inkonklusif, itu karena keseluruhan filmnya pun
begitu. Premisnya menarik, mengenai Fei (Amanda Rigby), mahasiswi yang di
tengah risetnya seputar sejarah kota tua Batavia, didatangi sosok misterius
dari masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, seorang wanita
bernama Sara (Tara Adia). Pertemuan itu membuat Fei terlempar ke masa lalu,
menyaksikan langsung skandal perintaan Sara si wanita terhormat dengan Peter
(Mikey Lie) si prajurit rendahan.
Terdapat cukup modal untuk mengawinkan unsur sejarah dengan
fiksi dengan sampul fantasi. Tapi, layaknya koki pada cerita tadi, naskah
buatan Irfan Wijaya bersama Adisurya Abdy (Roman
Picisan, Asmara) yang juga merangkap sutradara, berantakan, tanpa tujuan
pasti. Perjalanan menembus lorong waktu baru terjadi pasca film menginjak 30
menit. Itu pun cuma sejenak, dan dikemas layaknya video presentasi role play murid-murid SMP, diiringi voice over Sara yang terdengar bak guru
sejarah paruh waktu membacakan buku pegangan plus data-data riset dari
internet. Petualangan trio Ustaz Addin-Zidan-Haji Husin di lorong waktu jauh
lebih menghibur meski penuh ceramah.
Sudah begitu, volume suaranya selirih bisikan manja seekor
semut pemalu yang masih bocah. Musik yang sejatinya dimainkan dalam volume
normal pun membabat habis dialog “keilmuwan” yang diucapkan para pemain dengan
tingkat semangat mendekati nol. Jangan buat saya membahas pilihan musik “eksentrik”
dari Adisurya Abdy, yang bagai diambil dari katalog tembang nostalgia. Juga
jangan buat saya mempertanyakan alasan Danny (Volland Volt)—pria yang disukai
Fei meski merupakan rekan kerja ayahnya—menyanyikan Naik Kereta Api kala sedang menggendong Fei.
Padahal, di suatu wawancara, sang sutradara menyebut film ini
diharapkan mampu menggaet ketertarikan generasa millenial, tapi selera
estetikanya jelas berlawanan dari tujuan tersebut. Senjata lain guna memikat
penonton masa kini adalah pemakaian CGI. Ada CGI untuk salju, CGI untuk meriam,
CGI untuk benteng, CGI untuk jendela benteng, bahkan sebagai bentuk totalitas,
ruang sederhana yang hanya diisi meja, kursi, serta rak berisi buku-buku pun
CGI. Mengapa tidak semua lokasi, bahkan karakternya dibuat memakai CGI? James
Cameron pasti bangga.
Sara & Fei:
Stadhuis Schandaal sanggup
melanglang buana mengambil gambar sampai ke Cina, namun membangun set sederhana
untuk halaman benteng beserta sebagian kecil isinya saja tak bersedia. Tunggu?
Kenapa film ini turut menyertakan latar Cina? Sebab di situlah Fei dan Danny
bertemu. Jika merasa itu membuat fokus kisahnya melebar, tunggu sampai anda
bertemu Chiko (Haniv Hawakin), mantan kekasih Fei yang dipekerjakan pebisnis
kotor, Abimanyu (Anwar Fuady), untuk meretas sistem perusahaan saingannya. Apa
yang diretas menjadi tanda tanya, mengingat ketika Chicko beraksi, kita hanya
melihat layar komputer berisi angka serta grafis acak, dan sebuah screen saver bergambar Matrix Digital Rain.
Kisah sejarah, fantasi, romansa, cerita kriminal, drama
keluarga, tak heran kalau adonan film ini berantakan. Belum lagi penyuntingan
gambar Bimmo DJ (Miss Call, Nyai Ahmad
Dahlan) kerap semaunya, di mana adegan acap kali berpindahh meski kalimat
atau gerakan karakternya belum tuntas. Kasar dan asal. Jujur saya sedih sekaligus
geli melihat Sara & Fei: Stadhuis
Schandaal. Rasanya seperti melihat bapak-bapak paruh baya, sedang berusaha
terlihat modern dan asyik dengan aktif mengirim gambar atau video di grup WhatsApp keluarga. Akhirnya, saat
konsumen nasi goreng yang disuguhi kwetiau tadi bertanya “Nasinya mana???”,
saya pun berujar, “Mana unsur sejarah yang bisa dipelajari?”.
BROTHER OF THE YEAR (2018)
Rasyidharry
Juli 27, 2018
Comedy
,
Drama
,
Lumayan
,
Nickhun
,
REVIEW
,
Sunny Suwanmethanont
,
Thai Movie
,
Urassaya Sperbund
,
Vithaya Thongyuyong
6 komentar
Awalnya, Brother of the
Year tampak seperti dramedi tentang perselisihan sepasang saudara kebanyakan
yang mengetengahkan proses terjal menuju kerukunan. Protagonis mengacau,
menyulut pertengkaran demi pertengkaran, memuncak pada perpecahan, menyadari kesalahannya,
lalu berujung third act yang dihabiskan
untuk memperbaiki segalanya guna mendapatkan maaf saudaranya (juga simpati
penonton). Ternyata tidak. Protagonis kita mengacau hingga mendekati titik
penghabisan, dengan perubahan hati terjadi benar-benar di ujung. Karena Brother of the Year rupanya bukan soal
usaha memperbaiki diri, melainkan penyesalan. “Mengapa selama ini, saat
kesempatan terbuka lebar, aku enggan bersikap lebih baik?”. Penyesalan semacam
itu.
Saya menangis di penghujung kisah. Walau tak memiliki saudara
kandung, saya (dan sebagaimana semua orang) pernah mengacau, menyakiti hati
orang terkasih, sehingga tahu sesakit apa penyesalan itu. Konklusi film karya
sutradara Vithaya Thongyuyong (The Little
Comedian, My Girl) ini pun menusuk. Tapi sebelumnya, Brother of the Year total berkomedi terlebih dahulu, bahkan saat
menyentuh masalah serius dalam momen serius, humor segera menyusul. Mungkin
banyak pihak menganggap itu wujud ketidakseimbangan. Saya pun sempat berpikir
demikian. “Mana dramanya? Mana usaha memubuat si tokoh utama simpatik?”.
Sebab lebih mudah membenci Chut (Sunny Suwanmethanont). Dia
pemalas kelas satu, membiarkan seisi rumah berantakan, piring kotor menggunung,
mengganti lampu saja enggan. Belum lagi kebiasaannya membawa pulang banyak
wanita walau telah mempunyai pacar. Sewaktu adiknya, Jane (Urassaya Sperbund)
pulang dari studinya di Jepang dan kembali menghuni rumah itu, pertengkaran
langsung pecah sejak menit pertama mereka bertemu. Berkebalikan dengan Chut,
Jane adalah gadis cerdas pula rajin. Keunggulan yang sejak kecil menumbuhkan
kecemburuan dalam hati Chut. Saat Jane menjalin asmara dengan rekan kerjanya,
Moji (Nickhun), sudah tentu Chut tidak tinggal diam.
Kalau ia dilarang seenaknya membawa pulang wanita, maka Jane
pun tak berhak berpacaran. Begitu pikir Chut. Komedinya berguna sebagai alat
presentasi seluruh perilaku Chut yang seenaknya, dan itu terus berlangsung. Film
ini tak berniat memunculkan kepedulian kita kepada Chut. Sebaliknya, film ini
berniat memperlihatkan betapa menyebalkan dan kelewatan perilakunya, betapa besar kesalahan yang ia perbuat
terhadap Jane. Alhasil, saat tiba waktunya Chut menyadari kekeliruan itu lalu
menyesalinya, kita tahu betapa besar rasa sesal tersebut. Sebab semakin besar
kesalahan, semakin besar pula sakit yang mengiringi penyesalan seseorang.
Sunny, si aktor langganan GDH sejak masih bernama GTH, memainkan
perannya dengan apik, bertingkah sejorok dan sengawur mungkin, namun Urassaya
a.k.a.Yaya yang paling bersinar. Dia lancar melucu sebagai adik “bossy” yang dibuat jengah oleh sang
kakak tapi selalu menemukan cara untuk membalas. Pun di balik senyum simpulnya,
Yaya punya cukup sensitivitas guna memaksimalkan momen dramatis. Sementara
Nickhun, bersenjatakan “wajah malaikat” miliknya, jelas cocok memerankan sosok
kekasih sempurna.
Dibuat oleh tim berisi 4 penulis termasuk Vithaya Thongyuyong,
naskahnya menampilkan komedi absurd, serupa komedi-komedi terbaik Thailand—atau
tepatnya GDH—lain, yang berkat ketepatan timing
dari penyutradaraan Vithaya, sanggup memberi kelucuan mendadak yang efektif
memancing tawa. Selalu ada hook di
tiap humornya, yang menyengat di momen tepat seperti seharusnya sketsa mumpuni
dibuat. Walau saya yakin, mengurangi sedikit porsinya takkan melukai kualitas
film, karena durasi 124 menit agak terlalu lama. Tonton, kemudian tanamkan di kepala, jika lain kali
terlibat konflik dengan orang yang kita sayangi, entah itu saudara, kekasih,
orang tua, maupun anggota keluarga lain, ingat-ingat segala memori indah yang
pernah dihabiskan bersama, sambil berusaha memahami mereka. Karena bisa jadi,
mereka sangat mencintai kita dan melakukan berbagail hal namun urung memberi
tahu kita. Bukankah cinta kasih terbesar seringkali ditunjukkan tanpa
kata-kata? Sebelum penyesalan menghampiri.
MISSION: IMPOSSIBLE - FALLOUT (2018)
Rasyidharry
Juli 26, 2018
Action
,
Bagus
,
Christopher McQuarrie
,
Henry Cavill
,
Rebecca Ferguson
,
REVIEW
,
Sean Harris
,
Simon Pegg
,
Tom Cruise
,
Ving Rhames
29 komentar
Film aksi, agar menghadirkan ketegangan dan decak kagum bagi
penonton, harus sama seperti pistol yang ditembakkan jagoannya. Semakin banyak
amunisi, semakin besar kemungkinan kena sasaran. Tapi bukan berarti bisa
dilakukan asal membabi buta. Aneka sudut maupun strategi mesti dicoba. Fallout, yang masih digawangi
Christopher McQuarrie (Jack Reacher,
Mission: Impossible – Rogue Nation) sebagai sutradara sekaligus penulis
naskah, membawa bekal banyak amunisi berbentuk deretan set piece aksi, yang masing-masing bak dibuat dengan tujuan
mengungguli sekuen sebelumnya. And to
breathe normally throughout the whole movie, is indeed an impossible mission
for the audience.
Formula alur masih serupa. Ethan Hunt (Tom Cruise) harus
menghentikan aksi terorisme berskala global (menghancurkan negara, menyebar
virus mematikan, menguasai sumber daya, dll.), sementara pemerintah menutup
mata dan telinga, bahkan tak jarang berbalik mengejarnya. Pun kali ini, musuh
lamanya kembali, yakni Solomon Lane (Sean Harris) yang berhasil Hunt penjarakan
di Rogue Nation. Rutinitas ini
niscaya segera melelahkan disaksikan, tapi Cruise, menginjak usia 56 tahun, masih
belum lelah melakoni rutinitas yang membuat tiap seri Mission: Impossible berkali-kali lipat lebi seru. Apalagi kalau
bukan melakukan stunt-nya sendiri.
Cruise terjun bebas dari pesawat yang terbang di ketinggian 9
kilometer, mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh di tengah keramaian
kota, berlari di atap gedung, bergelantungan lalu mengendarai helikopter. Tentu
ada bantuan CGI, tapi minimum, sebatas untuk menghapus tali atau alat pengaman
lain, kecuali saat Cruise dan Henry Cavill, yang memerankan August Walker si
agen CIA brutal, melompat dari pesawat dan mesti menghadapi langit mendung serta
petir CGI. Sayang, polesan yang diharapkan menambah intensitas itu justru
mengurangi keaslian adegan.
Ya, kekuatan Fallout,
dan seri Mission: Impossible setidaknya
sejak Ghost Protocol (2011), adalah
keaslian. Minim layar hijau pembentuk latar palsu, tidak ada pemakaian quick cut berlebihan, dan dengan sungguh-sungguh
melakukan aksinya, Cruise bisa menampilkan ekspresi (takut, cemas, terkejut,
lega) nyata. Sementara McQuarrie dan sinematografer Rob Hardy pun terfasilitasi
untuk menaruh kamera di mana pun mereka mau tanpa perlu repot memutar otak
supaya penonton tak melihat wajah stuntman
(because there wasn’t any). Kamera
ditempatkan di benda yang terlibat langsung dalam aksi, seperti motor atau
jendela helikopter, menghasilkan sensasi gerakan intens, sebab penonton dibuat
seolah berada di tengah-tengah peristiwa.
Terkadang wide angle digunakan
selaku establishing shot guna menunjukkan
bahwa lokasi berlangsungnya aksi adalah nyata, bukan kreasi komputer. Kita tahu
di tiap aksi-aksi maut tersebut, Ethan beserta timnya akan berakhir unggul, tetapi
McQuarrie mampu memunculkan kesan, walau hanya sepersekian detik, kalau kali
ini, mereka takkan keluar hidup-hidup. Tengok konklusi klimaksnya yang ditutup
oleh pemandangan dramatis berupa Tom Cruise bersama cahaya matahari senja.
Plotnya memang urung menawarkan gebrakan baru, namun bukan
berarti penulisan McQuarrie malas. Beberapa eksposisi terdengar berbelit, tapi
masih memungkinkan diikuti. Dan pastinya, sebagai film soal agen rahasia, yang
mana bekerja juga mengandalkan otak alih-alih hanya otot, berbagai kejutan yang
mayoritas berasal dari trik-trik cerdik protagonis kita pun tersebar, menjadi
tikungan demi tikungan yang menjaga film ini bernyawa. Pameran teknologi Fallout tidak sevariatif Ghost Protocol, di mana topeng kembali
jadi andalan, tapi McQuarrie, yang paham akan bahaya repetisi, muncul dengan
ide pintar sarat kejutan agar strategi itu tetap segar.
Satu elemen penting yang Hunt miliki, dan kompatriotnya
sesama agen rahasia fiktif macam Jason Bourne atau James Bond tidak, adalah
karakter pendukung menarik yang aktif terlibat dalam misi. Interaksi Hunt dan
timnya menarik, bukan sebatas selipan penyegar, melainkan pondasi penting franchise ini. Kesan jika mereka telah
memahami satu sama lain setelah melalui serangkaian misi berbahaya amat terasa.
Ilsa (Rebecca Ferguson) masih tangguh, Benji (Simon Pegg) tetap ahlinya
memancing tawa, dan Luther (Ving Rhames), secara mengejutkan memberi salah satu
momen berperasaan yang juga membawa kita sejenak mendekati ruang personal Ethan
Hunt.
Cavill dengan kumis tersohor miliknya sayangnya kurang
dimaksimalkan. Penokohan sebagai “tukang bersih-bersih” CIA yang tak kenal
ampun seketika lenyap begitu ia terjun ke lapangan. Sejatinya ini bisa
dimengerti, sebab seramai apa pun jajaran pemainnya, Mission: Impossible merupakan “Film Tom Cruise”. Wajar bila sang
aktor, yang turut merangkap produser, enggan karakternya tersaingi, apalagi
setelah melewati serangkaian aksi gila. Lalu apa esensi kumis Cavill? Bisakah
kumis itu dibuat memakai CGI layaknya permintaan Warner Bros kepada Paramount?
Jelas bisa. Hasilnya akan lebih meyakinkan daripada menghapus kumis. Paramount
bagai ingin mempermainkan WB, dan berhasil. Sama seperti keberhasilan menjaga franchise ini terus hidup selama 22
tahun dan 6 film.
DHADAK (2018)
Rasyidharry
Juli 24, 2018
Ashutosh Rana
,
Godaan Kumar
,
Hindi Movie
,
Ishaan Khatter
,
Janhvi Kapoor
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Romance
,
Shashank Khaitan
6 komentar
Dhadak merupakan remake dari Sairat (2016),
fim berbahasa Marathi yang membahas perihal romansa yang terhalang perbedaan
kasta, atau dengan kata lain, satu lagi kisah ala Romeo & Juliet dengan penyesuaian kultur. Golongan berkasta
tinggi mengatur mereka yang rendah, dan mereka yang di bawah “mesti” menurut
sambil mendongak ke atas. Tapi bukankah kondisi serupa kerap terjadi saat
manusia dimabuk kepayang? Or let’s say,
head over heels? Si laki-laki diminta menyanyikan lagu Bahasa Inggris di
depan seisi sekolah oleh si wanita untuk mengungkapkan isi hatinya. Dia menurut
tanpa ragu.
Si laki-laki bernama Madhu (Ishaan Khatter). “Aku akan
membangun istana untukmu”, begitu katanya pada si wanita, Parthavi (Janhvi
Kapoor). Saat itu Madhu bersedia melakukan apa pun. Dia pikir dia bisa
melakukan apa pun. Parthavi menjawab, “aku tidak membutuhkan istana”. Cinta
kasih adalah satu-satunya yang ia perlukan. Dia pikir, cinta kasih adalah
satu-satunya yang ia perlukan. Sungguh indah bila benar demikian, tapi keduanya
masih bocah naif. Di sini, mereka ditempatkan dalam ujian, yang turut
mengajarkan bahwa mencintai seseorang lebih dari ungkapan kalimat manis dan
pengorbanan bagi sosok tercinta bukan cuma melompat ke kolam di depan orang-orang.
Parthavi adalah puteri Ratan Singh (Ashutosh Rana), pria kaya
raya terpandang yang tengah gencar berkampanye untuk pemilu. Cantik, kaya raya,
mandiri. Tidak heran jika Madhu, yang hanya anak pemilik restoran biasa, terpikat,
bagai kerbau dicucuk hidungnya. Madhu selalu dibuat salah tingkah, hanya bisa
mengumbar senyum canggung kala berhadap dengan Parthavi. Janhvi Kapoor, puteri
mendiang aktris legendaris Sridevi, memiliki aura memabukkan itu, sementara
Ishaan Khatter mengeluarkan cukup energi untuk memerankan pemuda penuh
kenekatan. Kedua bintang muda ini (Janhvi Kapoor baru melakoni debutnya)
memberi nyawa bagi romansa, yang di paruh awal diisi canda tawa serta
talik-ulur plus kegalauan ala percintaan remaja.
Awalnya Madhu menjauhi Parthavi akibat janji kepada sang ayah
yang menolak hubungan beda kasta. Tapi Madhu tetap diam-diam mengikuti sambil
mengintip si gadis pujaan dari jauh. Begitu Parthavi mengetahui alasan itu dan bersedia
menjauh, Madhu justru kelabakan lalu memohon-mohon. Ya, kegalauan dan
tarik-ulur macam itu nyatanya cukup sebagai daya agar Dhadak terus melaju. Hal yang kurang dari romansanya malah lagu
romantis dan tarian. Daripada itu, filmnya memberi beberapa montage kental gerak lambat, yang oleh
sutrdara Shashank Khaitan (Humpty Sharma
Ki Dulhania) gagal dikemas lewat bahasa visual menarik. Satu-satunya nomor
musikal bertempat kala pesta ulang tahun Roop (Godaan Kumar), kakak Parthavi, yang
dibalut lagu Zingaat, menghadirkan festivity yang saya harap tak kunjung
usai. Sayang, momen ini pula titik balik suasana filmnya.
Dari sini, Dhadak
beranjak menuju teritori lebih serius dengan permasalahan lebih kompleks, di
mana senyuman semakin memudar apalagi tawa. Saya takkan menyebut penyebab
pastinya, tapi inilah “ujian” yang saya singgung sebelumnya. Di atas kertas,
konflik dalam naskah yang juga ditulis Shashank menawarkan elemen formulaik,
pun terselip bumbu kecemburuan khas opera sabun. Tapi berkat titik balik ini,
perenungan akan makna cinta dapat dihadirkan. Sekali lagi, keduanya masih
bocah. Ketika terpaksa melangkah ke fase yang sebenarnya belum ingin dan siap
dijalani, pertengkaran tentu saja kerap meledak, api asmara meredup seiring
amarah yang sering membara, sehingga menjadi natural saat masing-masing pihak
mulai mempertanyakan kesungguhan pasangannya.
“Why did you love me?”,
tanya Parthavi. Saya suka sewaktu alih-alih “Don’t you still love me?”, naskahnya menanyakan “kenapa”. Because “why” indeed. Kenapa mencintai
jika sudah tahu resikonya, dan tatkala resiko itu terjadi justru menyalahkan?
Untungnya Shashank enggan memilih jalur “mudah” dengan adegan meletup-letup
berurai air mata. Beberapa momen menyentuh di paruh kedua ini bersumber dari
hal-hal kecil, misanya ketika Parthavi merasa bersalah dan tak berguna akibat
gagal mencuci baju dengan baik, atau saat Parthavi, walau dihadapkan pada
perilaku kelewatan Madhu, tetap setia dan membuktikan prasangka buruk sang pria
keliru.
Lalu Shashank menggiring kita pada 15 menit terakhir yang
luar biasa menegangkan. Melalui petunjuk dari ucapan Ratan, kita tahu hal buruk
akan terjadi pada akhirnya (Mayoritas romansa yang menjadikan Romeo & Juliet sebagai dasar selalu
menjurus ke sana). Namun Shashank, melalui pengadeganan masterful-nya tetap memancing penonton untuk bertanya, “Apa yang
akan terjadi?”, “Pada siapa?”, “Kapan? Di mana? Bagaimana?”, mencekik kita
dengan ketidakpastian menantikan sesuatu yang kita curigai bakal jadi
kenyataan. Sampai tracking shot di
akhir, ditutup oleh kebisuan mendadak menutup Dhadak bak jeritan yang tertahan.
MAMMA MIA! HERE WE GO AGAIN (2018)
Rasyidharry
Juli 22, 2018
Amanda Seyfried
,
Cher
,
Christine Baranski
,
Colin Firth
,
Hugh Skinner
,
Jeremy Irvine
,
Julie Walters
,
Lily James
,
Meryl Streep
,
Musical
,
Ol Parker
,
Pierce Brosnan
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Stellan Skarsgard
11 komentar
Berbeda dengan apa yang disugestikan judulnya, Mamma Mia! Here We Go Again bukan cuma
undangan mengunjungi ulang kemeriahan di Pulau Kalokairi. Nuansanya masih sama,
dengan judul-judul seperti I Have a
Dream, Dancing Queen, dan (tentunya) Mamma
Mia kembali mengisi deretan lagu
dalam jukebox-nya ditambah beberapa
karya ABBA lain yang belum diperdengarkan di film pertama, tapi sekuel dari
raksasa Box Office 2008 (memperoleh $615 juta di seluruh dunia) ini bukan
repetisi. Alurnya memperkuat, memperkaya pondasi bagi kisah serta karakter yang
telah diletakkan pendahulunya sambil sesekali menyelipkan nostalgia.
Strukturnya bergerak maju-mundur secara rapi antara masa kini
(5 tahun pasca film pertama) ketika Sophie (Amanda Seyfried) membangun ulang
hotel Bella Donna demi mengenang mendiang ibunya, Donna (Meryl Streep), dan
masa lalu yang menyoroti kehidupan Donna muda (Lily James). Pada Mamma Mia!, kita hanya mendengar
bagaimana Donna dahulu merupakan gadis muda penuh semangat yang nekat tinggal
serta membangun hotelnya sambil merawat puterinya seorang diri. Here We Go Again mengajak kita
menyaksikan itu secara langsung, termasuk romansa kilatnya dengan tiga pria: Sam
(Pierce Brosnan), Bill (Stellan Skarsgard) dan Harry (Colin Firth).
Saya termasuk yang dulu bertanya-tanya, mengapa ketiga pria
yang telah mapan ini tak hanya bersedia, bahkan antusias menyambut undangan
Sophie untuk bertemu Donna lagi. Pertanyaan itu terjawab. Walau singkat,
romansa mereka amat berkesan kalau enggan disebut life changing. They had the
time of their life, so are we while
watching their precious togetherness. Mengambil tampuk penyutradaraan dari
Phyllida Lloyd, Ol Parker (Imagine Me
& You, Now Is Good) membungkus momen-momen tersebut lewat musikal yang
sama meriahnya tapi jauh lebih memikat dalam hal estetika. Simak Waterloo yang mempunyai variasi mise-en-scène juga koreografi luar biasa.
Saya ikut bernyanyi, tersenyum lebar, meneteskan air mata. Air mata bahagia.
Pendalaman mitologinya tidak berhenti di situ. Kenapa Donna
memilih menikahi Sam, sementara Rosie (Julie Walters) memilih menjalin asmara
dengan Bill misalnya, akan kita temui alasannya di sini. Selain meningkatkan
kualitas pengadeganan sebagai sutradara, Ol Parker yang merangkap penulis turut
memperbaiki kelamahan film sebelumnya terkait naskah. Parker cerdik membangun
alur berdasarkan dua hal, yakni lubang-lubang, atau tepatnya unsur yang belum
dijelaskan oleh Mamma Mia! dan
lirik-lirik lagu yang dipilih. Beberapa nomor macam I’ve Been Waiting for You hingga My Love, My Life yang sejatinya membicarakan cinta romantis disulap
jadi cinta ibu-anak, menghasilkan kadar emosi berlipat ganda termasuk konklusi
penguras tangis tatkala cukup bermodalkan satu sekuen musikal, Streep dan
senyum hangat penuh kasihnya sanggup memberi impresi yang tidak main-main.
Streep memang harus menyerahkan screen time-nya kepada Lily James yang menghadirkan salah satu
performa paling lovable, berenergi,
dan berkarisma dalam film musikal. Setiap sekuen dilakoninya bak seorang mega
bintang/ratu dansa penguasa tiap sudut panggung yang menghipnotis tak saja trio
Sam-Bill-Harry agar seketika jatuh hati, juga penonton. Apabila serial Downton Abbey (2012-2015) membawa James
meraih beberapa penghargaan sementara Cinderella
(2015) membuat namanya dikenal luas di skena film layar lebar, Mamma Mia! Here We Go Again bakal
melambungkan statusnya menjadi aktris utama kelas A.
Sedangkan jajaran cast
lain yang bertugas memerankan versi muda karakter film pertamanya berjasa
memuluskan transisi dua latar waktu alurnya. Saya percaya jika Sam versi Jeremy
Irvine akan tumbuh jadi pria berwibawa seperti Brosnan dan Hugh Skinner memiliki
kecanggungan dan kekakuan menarik layaknya Firth. Pun acap kali saya sekilas
mengira sedang menyaksikan latar sekarang karena kesesuaian fisik juga perilaku
Jessica Keenan dan Wynn Alexa Davies dengan kedua senior mereka, Julie Walters
dan Christine Baranski.
Di permukaan, Mamma
Mia! Here We Go Again bicara perihal kenangan, dan Ol Parker berbaik hati memberi
bonus kepada penggemar film pertamanya dengan beberapa momen nostalgia (“stair-sliding” and “lady with the woods” scene are my favorites). Nostalgia pun
dialami tokoh-tokohnya, di mana banyak dari mereka bereuni dengan sosok spesial
dari masa lalu masing-masing. Cheesy,
sarat kebetulan, namun alangkah sulit rasanya menyangkal kebahagiaan yang
dipancarkan olehnya. Sama seperti kemunculan singkat Ruby, ibunda Donna, nenek Sophie, yang sejatinya kurang esensial terkait plot, tapi siapa menolak melihat Cher mengambil alih panggung? Lebih dari itu, proses saling singgung antar dua latar
waktu turut menghasilkan refleksi seputar ikatan batin ibu dan anak yang
merupakan penopang rasa utama film ini, salah satu film dengan kandungan rasa
paling kaya sepanjang tahun.
BUFFALO BOYS (2018)
Rasyidharry
Juli 20, 2018
Action
,
Alex Abbad
,
Ario Bayu
,
Donny Damara
,
Hannah Al-Rashid
,
Happy Salma
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Mike Wiluan
,
Mikha Tambayong
,
Pevita Pearce
,
REVIEW
,
Tio Pakusadewo
,
Western
,
Yoshi Sudarso
17 komentar
Pada sebuah adegan, protagonis kita, Jamar (Ario Bayu) dan
Suwo (Yoshi Sudarso) bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) berkesempatan
menyelesaikan misi balas dendam mereka. Senapan telah diarahkan tepat ke tubuh
Van Trach (Reinout Bussemaker). Awalnya senapan dipegang Jamar. Kita menunggu, tapi
titik tembak yang jelas tak kunjung didapat. Giliran Arana mengangkat senjata.
Kita menunggu lagi, peluru tak juga meletus. Setelah beberapa menit, aksi yang
dinanti akhirnya urung terlaksana. Perasaan serupa selalu terulang sepanjang
102 menit Buffalo Boys, yang terasa seperti
perjalanan melelahkan sepanjang tiga jam.
Ketika Sam Peckinpah meletakkan senjata, dia menunjukkan
keintiman dan kerapuhan di balik machismo para koboi. Sewaktu Sergio Leone
meletakkan senjata, ia mengeksplorasi ambiguitas moral, dunia brutal, atau
pembangunan yang sama—kalau tidak lebih—menegangkan dari showdown-nya. Sedangkan saat Buffalo
Boys meletakkan senjata, filmnya tidak memberi apa pun, kecuali penantian
yang tak pernah ditebus. Dunia barat yang gersang nan keras dipidahkan ke
Indonesia di era kolonialisme, yang meski hijau, tetaplah keras. Para koboi pun
bukan pengembara tanpa tujuan atau segerombolan pria tangguh amoral yang
akhirnya tergerak angkat senjata demi menegakkan keadilan. Mungkin, karena biar
bagaimana, ini negeri Timur.
Jamar dan Suwo jelas tak berada di garis abu-abu. Keduanya
pemuda baik. Hal personal, tepatnya balas dendam atas kematian ayah mereka di
tangan Van Trach si penjajah jadi tujuan. Ditempa sejak kecil di Amerika,
bersama Arana, mereka kembali ke Indonesia, berjumpa dengan sekelompok warga
desa yang dikepalai Sakar (Donny Damara), yang juga korban penindasan Van Trach
beserta kaki-tangannya. Sakar memiliki dua puteri, Sri (Mikha Tambayong) yang
tak punya peranan selain untuk diselamatkan (damsel in distress) dan Kiona (Pevita Pearce) yang digambarkan jago
memanah sambil menunggangi kerbau, namun substansi karakternya pun layak
dipertanyakan.
Ditulis oleh sutradara Mike Wiluan bersama Raymond Lee, naskahnya
luput menyampaikan duka dan amarah dalam hati protagonis. Ketika para jagoan western beristirahat di malam hari di
depan api unggun, sesekali sambil bernyanyi atau bermain harmonika, itulah
waktu bagi penonton mengenal mereka. Karena di keheningan malam yang damai,
jagoan tertangguh sekalipun bisa berubah melankolis. Buffalo Boys tak menghadirkan keintiman serupa, pula alpa memaparkan
isi kepala juga hati Jamar dan Suwo. Hanya Arana dengan kisah mengenai masa
lalu dan alasan kenapa dua keponakannya itu harus balas dendam yang rutin
terdengar. Kita berulang kali dicekoki alasan “mengapa”, namun urung
dilibatkan, karena akhirnya, koboi-koboi tanah air ini cuma dua pemuda nihil
kepribadian. Sulit merasa terikat, apalagi mengantisipasi hadirnya “momen besar”
ketika target mereka berhasil dicapai. Seolah, kita dibawa melakukan perjalanan
panjang menaiki kuda (atau kerbau) di hamparan tanah kosong tanpa sesuatu untuk
ditunggu.
Tentu Ario Bayu, dengan jenggot lebat, kulit sawo matang, dan
riasan “kotor” di sekujur tubuh cocok sebagai karakter yang menghabiskan waktu
lama tinggal di wild west, sementara
Yoshi Sudarso, berbekal pengalamannya memainkan Koda/Ranger biru di Power Rangers Dino Charge, tampa
meakinkan melakoni porsi laga. Jauh lebih meyakinkan dari kemampuannya
melafalkan Bahasa Indonesia. Bisa dimaklumi mengingat bagi Suwo, Bahasa
Indonesia bukan “bahasa ibu”, andai di saat bersamaan, Jamar punya kapasitas
tak jauh beda. Masalahnya, jarak di antara mereka terlalu lebar.
Pun kedua tokoh utama kita ini kalah menarik ketimbang
jajaran pemain pendukung, termasuk para villain
yang punya dandanan sekaligus perilaku unik cenderung aneh macam Alex Abbad dan
Hannah Al-Rashid, yang walau muncul singkat, paling mencuri perhatian berkat
performa over-the-top yang jelas
lebih menarik bila disejajarkan dengan para protagonis yang datar. Sunny Pang
turut ambil bagian. Sayang, kemampuan bela dirinya disia-siakan, sebagaimana
beberapa Van Trach beserta anak buahnya (kecuali Alex dan Hannah) gagal
dimanfaatkan potensinya, tak diberi kesempatan memberi ancaman pada Jamar dan
Suwo. Sekalinya antagonis di atas angin, kesan bila kedua protagonis bakal
membalikkan keadaan dengan cepat nan mudah langsung terasa. Di luar tokoh-tokoh
yang terlibat baku hantam dan tembak, terselip Seruni, budak wanita Van Trach,
yang diperankan Happy Salma, yang memperlihatkan akting dengan kepekaan rasa
jauh mengungguli penampil lainnya.
Gelaran aksinya bukan rendah di kualitas, melainkan
kuantitas. Terdapat elemen kekerasan dan hentakan di tiap-tiap aksi, yang meski
dampaknya menurun akibat dibarengi usaha menghindari gunting sensor lewat
penyampaian tak terlalu eksplisit, masih cukup efektif “menampar” guna
menghilangkan kantuk yang disebabkan lemahnya narasi. Masalahnya adalah
pemilihan sudut yang dipakai Mike Wiluan. Beberapa “hook”, yang telah berkurang efektivitasnya karena keengganan
direpotkan urusan sensor tadi, makin lemah ketika urung disokong sudut kamera
yang mendukung. Kadang, apa yang harusnya terlihat justru di luar frame, apa yang mestinya diambil dari
dekat justru dibungkus wide shot, vice versa. Ditambah minimnya kuantitas
laga, bertambah melelahkan film ini.
Anda bisa berargumen bahwa berbagai judul western terbaik tak memiliki banyak
aksi. Betul, namun di antaranya, terdapat sesuatu untuk disampaikan, sebutlah
isu sosial, kemanusiaan, hingga problema personal. Buffalo Boys telah mempunyai pondasi guna melangkah ke sana. Selain
kisah balas dendam, ini juga paparan soal kolonialisme, yang berujung tumpul
ketika filmnya sebatas menunjukkan dari jauh, dari luar, tanpa menggiring kita
masuk dan ikut merasakannya sendiri. Buffalo
Boys bisa menjadi gambaran alternatif terhadap pertempuran skala kecil
bersifat kedaerahan yang banyak meletus di tengah perang meraih kemerdekaan
dahulu. Namun potensi itu tenggelam bersama poin-poin cerita yang berakhir
sebatas latar bagi sebuah film melelahkan tanpa hal menarik di sela-sela hujan
pelurunya.
Saya begitu menantikan Buffalo
Boys karena variasi tema dipadu sumber daya kelas internasional miliknya.
Memang film ini terlihat (cukup) mahal. Production
value-nya layak dinikmati, tetapi tata suara, terlebih sewaktu karakternya
mengucap dialog, kerap terbenam. Jadi ya, entah dari perspektif aksi, nuansa western, maupun produksi berskala
besarnya, film ini mengecewakan. Buffalo
Boys merupakan kekecewaan terbesar tahun 2018.....sejauh ini.
ANIMAL WORLD (2018)
Rasyidharry
Juli 19, 2018
Cao Bingkun
,
Han Yan
,
Li Yifeng
,
Lumayan
,
Michael Douglas
,
REVIEW
,
Thriller
,
Zhou Dongyu
6 komentar
Animal World punya salah satu trailer paling menipu. Saya berkewajiban
mengungkap itu agar anda tidak keliru memasang ekspektasi. Adaptasi lepas dari manga
Tobaku Mokushiroku Kaiji karya
Nobuyuki Fukumoto ini bukan Deadpoolesque
mengenai aksi bertabur warna seorang jagoan super berkostum badut seperti
nampak di berbagai materi promo. Bayangkan Sucker
Punch (2011) milik Zack Snyder, tapi dengan eksekusi yang tak semata
bergantung pada sekuen fantasi, melainkan punya pondasi alur solid yang sedikit
menyenggol film-film klasik bertema judi kartu macam God of Gamblers (1989).
Sederet adegan badut menebas monster-monster yang
menyemprotkan darah bak cat beraneka warna berasal dari kondisi mental Zheng
Kaisi (Li Yifeng), yang menyebut dirinya gila, dan setiap emosinya tersulut,
Zheng akan bertransformasi menjadi jagoan badut yang sewaktu kecil ia tonton di
layar kaca. Tentu semua hanya di kepalanya saja. Monster yang dihadapi pun
hanya manifestasi dari orang-orang di sekitar yang mengganggu pikirannya. Nakah
buatan Han Yan (Go Away Mr Tumour),
yang turut menduduki kursi sutradara, jelas tak menyasar ketepatan presentasi
ilmu psikologi, sebab seiring memuncaknya konflik, perilaku Zheng terlalu
tenang untuk ukuran penderita gangguan emosi.
Zheng terbelit kesulitan finansial. Sang ibu telah koma
bertahun-tahun dan ia makin sulit melunasi biaya perawatan rumah sakit. Bantuan
kerap didapat dari perawat sekaligus temannya sejak kecil, Liu Qing (Zhou
Dongyu), yang juga merupakan pujaan hati Zheng, namun keuangan cekak membuatnya
ragu menyatakan cinta. Putus asa, ia terpaksa menerima “bisikan setan” dari
teman lamanya, Li Jun (Cao Bingkun) agar menggadaikan apartemen ibunya, hanya
untuk mendapati contoh kekejaman dunia di mana orang-orang saling tipu dan
tikam demi materi.
Singkatnya, Zheng justru terjebak hutang besar, dan untuk
melunasinya, ia mesti berada di Animal World, sebuah panggung permainan di
kapal pesiar yang dikelola Anderson (Michael Douglas, yang keberadaannya hanya
untuk memberi “rasa Hollywood”), di mana para peserta saling bertarung demi
melunasi hutang, sementara orang-orang kaya diam-diam menyaksikan dengan nyaman
sambil bertaruh siapa yang bakal keluar sebagai pemenang. Walau seperti dunia
bawah tanah imajiner, Animal World sejatinya cerminan realita kita. Peserta
saling tipu, berkhianat, menanggalkan moral serta nilai-nilai kemanusiaan demi
keselamatan pribadi dan (lagi-lagi) materi. Dalam Animal World, Zheng, seperti keseharian
kita, menjalani proses sarat ujian. Dia harus bertahan sembari menolong
beberapa pihak yang bekerja sama dengannya, di tengah godaan agar memenangkan
ego. Perjalanan Zheng pun memunculkan pesan yang tak lekang oleh waktu, bahkan
bertambah penting seiring kondisi dunia kita yang makin menyerupai Animal World.
Penonton dengan hati nurani tentu berharap Zheng tetap
bertahan di jalur, meski penokohannya penuh kesan dadakan. Dari pecundang
menyedihkan nan pemalas, ia jadi jeli, taktis, cekatan, bahkan ahli matematika.
Belakangan diungkap ayah Zheng merupakan guru matematika, elemen karakterisasi
yang urung dijabarkan selaku pondasi di awal, sehingga sulit rasanya langsung
menerima fakta itu begitu saja. Pun status “anak guru matematika” bukan alasan
memadahi melihat kompleksitas permainan yang dijalankan, yakni batu-kertas-gunting
berbentuk kartu. Tiap peserta diberi 3 bintang plus 6 kartu yang dapat
bertambah maupun berkurang seiring waktu. Mereka yang setelah 4 jam memiliki
minimal 3 bintang dan tidak satu pun kartu, dinyatakan lolos.
Terdengar gampang, tapi sebagaimana kita tahu, kartu remi di
level pos ronda saja butuh hitung-hitungan rumit kalau ingin menjadi ahli,
apalagi saat nyawa dipertaruhkan dan melibatkan puluhan orang beradu strategi
penuh trik psikolologis dan matematika. Terdapat momen-momen kala protagonis
kita tersudut, dan sulit menebak bagaimana caranya keluar dari kesulitan itu. Hebatnya, Han Yan senantiasa menawarkan
resolusi cerdik, menjadikan proses pencarian solusi darurat secara cepat berlangsung
menarik berkat penantian atas apa yang bakal dilakukan Zheng berikutnya. Begitu
terungkap, kepuasaan selalu saya peroleh.
Barisan taktik kompleks sering Zheng pakai, dan Han Yan coba
menjabarkannya lewat kemasan visual kreatif yang turut bertujuan memudahkan
pemahaman penonton. Mungkin akhirnya tetap sulit mencerna seluruh detailnya,
namun sang sutradara telah melakukan usaha terbaiknya. Sisanya, tinggal mau (dan
mampu) atau tidak penonton memperhatikan. Sekali kita menyerap permainannya, Animal World akan menghadirkan
pertarungan otak sekaligus mental menarik pula dinamis, yang memudahkan kita
memaafkan “promosi tipu-tipu” miliknya.
Di luar yang berguna memperjelas jalannya permainan, tersebar
banyak visual bergaya (termasuk semua adegan aksi brutal Zheng dalam kostum
badut) yang sesungguhnya, mayoritas kurang substansial. Setidaknya, niat Han
Yan membuai mata kita layak diapresiasi. Dia ingin filmnya terlihat menawan,
dan itu pula yang terpampang di layar. Kembali, berbeda dengan Snyder di Sukcer Punch yang hanya mengandalkan
kemewahan sekuen aksi fantasi guna menutupi kekosongan plot, dalam Anima World, unsur itu berfungsi
mempercantik, alias hal sekunder. Meski jika diajukan pertanyaan “perlukah
semua itu?”, saya bakal menjawab, “mungkin tidak”.
22 MENIT (2018)
Rasyidharry
Juli 18, 2018
Action
,
Ade Firman Hakim
,
Andi Rianto
,
Ardina Rasti
,
Ario Bayu
,
Ence Bagus
,
Eugene Panji
,
Fanny Fadillah
,
Gunawan Raharjo
,
Husein M. Atmodjo
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Myrna Paramita
,
REVIEW
,
Taskya Namya
16 komentar
22 Menit membuka cerita melalui paparan
rutinitas pagi hari karakternya. AKBP Ardi (Ario Bayu) beserta kehangatan
keluarganya, Firman (Ade Firman Hakim) si polisi lalu lintas yang mengatur
jalanan Thamrin di tengah kegamangan akibat pernikahannya dengan Sinta (Taskya
Namya) terancam batal, office boy bernama
Anas (Ence Bagus) yang berusaha membantu kakaknya, Hasan (Fanny Fadillah) mencari
kerja, juga Mitha (Hana Malasan) yang di sebuah cafe menantikan kedatangan
Dessy (Ardina Rasti). Semua berjalan damai, hingga pukul 10:40, terjadi ledakan
bom di persimpangan Sarinah.
Lalu layar menampilkan jam digital yang bergerak mundur beberapa
menit sebelum tragedi, memindahkan fokus menuju perspektif karakter lain.
Rupanya 22 Menit merupakan hyperlink cinema, atau setidaknya,
berusaha menjadi itu. Meminjam deksripsi Roger Ebert, hyperlink cinema yaitu tatkala tokoh-tokoh maupun rangkaian
peristiwa terjadi dalam kisah berlainan, namun koneksi atau pengaruh di antara
kisah-kisah itu perlahan diungkap, menyatukan segalanya. Sederhananya, struktur
satu ini adalah penyatuan kisah yang (awalnya) terpisah memakai satu benang
merah.
Terinspirasi tragedi bom Sarinah pada 14 Januari 2016, hyperlink sejatinya merupakan bentuk yang tepat, mungkin
malah paling efektif untuk menggambarkan bahwa korban yang berasal dari beragam
kalangan, terhubung dalam satu pengalaman kolektif. Bahwa di tengah kekacauan
tersebut, ada individu-individu yang menyimpan cerita, atau dalam konteks
naskah buatan Husein M. Atmodjo (Parts of
the Heart, Midnight Show) dan Gunawan Raharjo (Jingga), sosok tercinta masing-masing. Perspektif itu berpotensi
memberi dampak emosional kuat, sebab terdapat hal spesial, misterius, bahkan “ajaib”
seputar pengalaman kolektif yang terwujud melalui kebetulan yang diprakarsai
takdir.
Sayang, naskahnya gagal mempresentasikan pengalaman kolektif
itu, atau menilik kegunaan hyperlink
cinema, tautan yang mestinya ada justru tiada. Ketimbang merekatkan,
eksekusi 22 Menit justru kacau nan membuyarkan.
Fokus lemah menjadi sebab. Daripada menyoroti tokoh atau lingkup waktu tertentu
di tiap “segmen”—yang dipisahkan hitung mundur jam digital—alurnya bak produk
campur aduk asal terhadap sederet plot sampingan. Sulit menyebut secara pasti,
karakter atau situasi mana yang di satu titik tengah dijadikan fokus (kalau
fokus itu sendiri dipunyai filmnya). Dalam hyperlink,
tentu fatal andai “link”-nya sendiri
hilang, yang di film ini turut menyebabkan raibnya jembatan antara cerita
dengan perasaan penonton.
Hanya subplot Hasan-Anas yang cukup berkesan, itu pun bukan
berkat skrip, tetapi karena seperti dalam Guru
Ngaji, Ence Bagus menampilkan sensitivitas. Matanya menyuarakan keresahan.
Sisanya hampa, terlebih Mitha dan Dessy. Kita tak tau siapa mereka, tidak pula berbagi
momen personal dengan keduanya. Kesannya, para penulis naskah yang sudah
terjebak di jeratan benang kusut buatan sendiri, alih-alih coba merapikan
justru menambah jalinan benang lain.
Didukung penuh pihak kepolisian, film panjang kedua produksi
Buttonijo Films setelah Another Trip to
the Moon (2015) ini memiliki production
value plus penanganan aksi yang tidak main-main. Prosedur anti-terorisme
ditampilkan, beberapa helikopter diterjunkan, detail properti-properti lain pun
solid. Apalagi 22 Menit diambil di
lokasi asli, di mana pengambilan gambar dilakukan tiap akhir minggu selama
sebulan. Namun itu berakhir sebatas kemewahan kulit luar ketika duo sutradara,
Eugene Panji (Naura & Genk Juara the
Movie) dan Myrna Paramita kurang cakap memaksimalkan modal di atas untuk
menghasilkan gelaran aksi intens. Tidak buruk, tapi melihat sumber daya miliknya,
wajar jika saya berharap lebih, meski Ario Bayu tentu saja tidak mengecewakan,
tampak meyakinkan memerankan polisi tangguh nan pemberani yang mengangkat
senjata.
Pada departemen musik, Andi Rianto (Arisan!, Kartini, Critical Eleven) telah berusaha menyerbu telinga
penonton melalui dentuman mendebarkan plus horn
megah ala Hans Zimmer, tapi aksinya tidak pernah mencapai klimask. Pun tak
berlebihan bila menyebut 22 Menit
sebagai film nihil klimaks. Pertempuran polisi melawan teroris berakhir saat mayoritas
penonton rasanya mengira filmnya masih menyimpan amunisi lebih, dan memang
seharusnya demikian. Tapi tidak. Baku tembaknya tampil pendek dalam durasi
keseluruhan yang juga pendek (71 menit), kemudian memberi ruang bagi epilog
yang melompat dari fokus utama (peristiwa terorisme 14 Januari), yang dibuat
hanya untuk menggambarkan gerak cepat dan kesigapan polisi memberantas antek
terorisme sampai ke akarnya. Singkatnya, pembangunan citra. Terdengar voice over Vincent Rompies (tampil
singkat selaku cameo) di siaran radio
yang terasa melankolis, syahdu, manis tapi pahit. Momen itu seharusnya
dijadikan penutup.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)




















14 komentar :
Comment Page:Posting Komentar