TWIVORTIARE (2019)

10 komentar
“Saat bayi kembar siam dipisahkan, mereka akan mempunyai jantung, suhu tubuh, dan organ-organ lain sendiri-sendiri”, begitu kira-kira penjelasan Beno (Reza Rahadian) kepada Alex (Raihaanun). Begitu pula pasangan, atau dalam konteks film ini perceraian suami-istri. Twivortiare, selaku adaptasi novel berjudul sama (plus sebagian kisah Divortiare) karya Ika Natassa, mengupas bagaimana sepasang insan yang saling mencintai berjuang mengatasi perbedaan-perbedaan individual tersebut.

Pastikan anda tak ketinggalan sedikit pun adegan pembuka yang menata pondasi hubungan kedua tokoh utama. Merasa pernikahan mereka telah kehilangan nyawa, Beno dan Alex memutuskan bercerai. Dua tahun berselang, rupanya cinta itu belum padam. Ketika Beno pelan-pelan berusaha merebut lagi hati si mantan istri, Alex kesulitan beranjak pergi walau tengah berpacaran dengan Denny (Denny Sumargo).

Keduanya pun mengikat janji suci untuk kali kedua, berjanji bakal bersikap lebih baik. Alex berjanji akan melatih kesabaran, sementara Beno perlu meluangkan waktu di luar kesibukan sebagai dokter bedah. Tapi tidak ada hubungan tanpa gesekan. Di sini menariknya Twivortiare. Dipandu naskah buatan Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan, Ayat-Ayat Cinta 2) sutradara Benni Setiawan (Sepatu Dahlan, Toba Dreams, Insya Allah Sah), kisahnya bukan menawarkan buaian romantika manis bahwa “semua akan baik-baik saja”. Karena semua tidak akan (selalu) baik-baik saja.

Kita diajak melihat Beno dan Alex bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi, berbaikan lagi, begitu seterusnya. Tidak secara asal, sebab segala pertengkaran itu dipicu alasan serupa. Biarpun mencapai pertengahan kesan repetitif gagal dihindari, dari situ, naskahnya berhasil menyuguhkan proses belajar secara bertahap guna saling mengenali, memahami, agar dapat memperbaiki. Pertengkaran jelas berarti masalah, namun bukan musibah, bukan pula bukti ketiadaan cinta.

Twivortiare merupakan cerita cinta berbasis karakter yang mengedepankan pasangan itu sendiri ketimbang elemen-elemen lain. Alhasil, kepiawaian duet penampil utama jadi faktor terpenting. Dan saya berani menyatakan bahwa urusan chemistry, Reza-Raihaanun merupakan kombinasi tanpa tanding. Tidak berlebihan menyebut mereka salah satu pasangan terbaik yang pernah saya saksikan.

Bagaimana interaksi verbal dituturkan begitu dinamis lewat penghantaran kaya variasi ditambah kejelian mengatur tempo hingga bagaimana rasa dihidupkan di layar dalam otentitas luar biasa yang dengan mudah “menulari” penonton, jadi beberapa bukti kehebatan Reza dan Raihaanun mengagkat standar “on-screen couple” ke tingkat lebih tinggi, yang tidak pernah saya bayangkan mampu dicapai film negeri ini.

Sedangkan di jajaran pendukung, Anggika Bolsterli dan Boris Bokir, masing-masing sebagai dua sahabat Alex, Wina dan Ryan, berjasa mencairkan suasana lewat kejenakaan yang sesekali terselip di antara intensitas konflik. Anggika seperti biasa bersenjatakan antusiasme bertenaga, sementara Boris jeli melontarkan kelakar-kelakar singkat namun segar.

Padukan akting Reza dan Raihaanun dengan pengarahan Benni Setiawan yang kembali menemukan sensitivitas sejak Toba Dreams (2015)—sambil sesekali dibarengi lagu manis Kembali ke Awal dari Glenn Fredly—jadilah sajian emosional bahkan sejak menit-menit awal. Benni enggan mencoba macam-macam. Memahami esensi kisah (berbasis karakter) sekaligus kapasitas dua pemeran utamanya, Benni “cuma” berusaha membangun keintiman dua sejoli. Daripada gambar cantik, kamera berfokus untuk sesempurna mungkin menangkap permainan rasa Reza dan Raihaanun. Rasa yang begitu kuat sehingga memancing pertanyaan, “Inikah cinta?”.

10 komentar :

Comment Page:

GUNDALA (2019)

184 komentar
Gundala mengawali “Jagat Sinema Bumilangit” yang beberapa waktu lalu mengumumkan jajaran pemain bertabur bintang. Proyek paling ambisius sepanjang sejarah perfilman Indonesa yang wajib disaksikan bagaimanapun hasil akhirnya, mengingat peran pentingnya sebagai gerbang pembuka menuju genre pahlawan super. Ya, karena saya menekankan urgensi menonton bukan pada kualitas, mungkin anda bisa menebak bahwa karya teranyar Joko Anwar ini meninggalkan kekecewaan.

Mengadaptasi komik buatan Hasmi, Joko Anwar selaku penulis naskah, sutradara, sekaligus produser kreatif “Jagat Sinema Bumilangit” jelas tidak berniat menyajikan film keluarga. Latarnya adalah versi alternatif negeri ini, yang sejatinya tak sejauh itu dari realita, di mana ketidakadilan merajalela, si kaya berkuasa atas si miskin, kerusuhan senantiasa pecah, sementara mafia menguasai wakil rakyat yang sibuk menimbun keuntungan pribadi ketimbang mewakili aspirasi.

Bahkan sedari awal, kita langsung berhadapan dengan tragedi tatkala Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) mesti kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang meregang nyawa akibat menuntuk keadilan bagi buruh. Setahun kemudian giliran sang ibu (Marissa Anita) menghilang entah ke mana. Dihimpit kemiskinan, Sancaka tumbuh dalam dilema antara menegakkan kepedulian atas nama kemanusiaan, atau bersikap tak acuh demi keselamatan diri.

Beberapa tahun berselang, Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) yang berprofesi sebagai penjaga keamanan pabrik masih bergulat dengan sikap apatis, sampai keputusannya membantu Wulan (Tara Basro) mulai menyadarkan Sancaka, mendorongnya bertarung demi kaum tertindas berbekal kekuatan misterius yang ia peroleh melalui sambaran petir.

Seperti biasa, dunia Joko adalah dunia kelam yang dilebihkan tanpa harus kehilangan relevansi. Krisis moral dan kemanusiaan disorot, sehingga pemilihan Pengkor (Bront Palarae) sebagai antagonis merupakan keputusan tepat. Serupa Sancaka, si mafia penguasa ini menyimpan masa lalu tragis. Kehilangan segalanya lalu terbuang, Pengkor akrab dengan aksi bunuh-membunuh sejak kecil, sebagaimana ditampilkan adegan paling menghantui sepanjang film kala ia menginisiasi pembantaian di sebuah panti asuhan.

Pertentangan Sancaka melawan Pengkor menciptakan dinamika menarik walau keduanya baru bertatap muka di babak ketiga. Sama-sama dinaungi tragedi, tatkala Pengkor terdorong untuk “membalas”, Sancaka merasa perlu “membela”. Bukan sekadar menghilangkan kekliesean hitam melawan putih, melalui elemen itu, Joko juga mengingatkan jika manusia selalu punya pilihan: Menjadikan masa lalu suram sebagai justifikasi perbuatan buruk, atau pelecut semangat juang, atau dalam konteks berbangsa, penyulut patriotisme.

Naskah Gundala pun sanggup cukup seimbang menghadirkan drama yang berdiri sendiri dengan proses menanam benih bagi masa depan “Jagat Sinema Bumilangit”. Walau aspek yang disebut terakhir sempat memberi distraksi saat menyoroti intensi terselubung Ghazul (Ario Bayu) plus sebuah kejutan beraroma deus ex machina jelang akhir yang saya tak bisa sebutkan, melaluinya, rasa penasaran serta ketertarikan terhadap masa depan jagat sinema satu ini berhasil dipancing.

Sementara di departemen penyutradaraan, Joko membuktikan pemilihan dirinya adalah keputusan tepat, ketika mulus membaurkan elemen horor ciri khasnya. Gejolak batin Sancaka dibungkus layaknya horor supranatural, sedangkan jajaran lawan Gundala digambarkan bak horror villain, khususnya sosok Pengkor dan Swara Batin (Cecep Arif Rahman). Pendekatan ini sesuai dengan gaya komik pahlawan super lokal yang kerap meleburkan beraneka genre, termasuk horor. Jangan khawatir Gundala terlampau suram, sebab Joko tetap mencurahkan humor-humor segar yang sejak dulu mampu memperkaya warna karyanya.

Tapi hal-hal di atas bukan kekhawatiran saya bagi proyek ini. Bukan pula kualitas CGI, yang untungnya digunakan secara bijak, walau keterbatasan dana turut mengecilkan kesempatan Gundala memamerkan sambaran petirnya. Bagaimana Joko bersama sinematografi garapan Ical Tanjung (Pengabdi Setan, Ave Maryam) menangkap gelaran laga hasil rancangan Cecep Arif Rahman-lah sumber kekhawatiran tersebut, yang sayangnya, jadi kenyataan.

Teknik quick cuts memang tak digunakan. Kamera cenderung setia mengikuti tiap gerakan, namun banyaknya close up kerap melucuti intensitas. Mayoritas baku hantam pun bergulir amat lambat, seolah kita tengah menonton gladi daripada produk final. Teknik itu efektif membungkus perkelahian “kasar” ala jalanan, tapi melemahkan dampak saat gerak bela diri yang lebih tertata dikedepankan, yang mana sering filmnya terapkan. Alhasil, musik megah gubahan trio Aghi Narottama (Pengabdi Setan, Sweet 20), Bemby Gusti (Ini Kisah Tiga Dara, Pengabdi Setan), dan Tony Merle (Pengabdi Setan, Sesat) acap kali terdengar salah tempat sewaktu membungkus adu jotos yang berlangsung canggung.

Gundala turut bermasalah dengan konklusi penuh penyederhanaan (kalau tidak mau disebut penggampangan) juga pertarungan puncak antiklimaks. Perkenalan bagi barisan “anak-anak" badass Pengkor yang memancing antusiasme harus ditutup secara mengecewakan setelah tokoh-tokoh unik ini ditumbangkan begitu mudah. Belum lagi membahas cara sang bos besar ditaklukkan (tentu ini bukan spoiler).

Diisi penampilan mumpuni, biarpun penuh lubang, setidaknya Gundala urung kehilangan nyawa. Abimana bisa diandalkan baik sebagai pahlawan tangguh maupun pria baik hati yang gampang disukai. Menjadi lawannya adalah Bront Palarae melalui tutur kata intimidatif yang lebih dari cukup menambal kekurangan fisik seorang Pengkor. Di jajaran pendukung, Pritt Timothy sebagai Agung si satpam senior mencuri perhatian lewat keluwesan dan kejenakaan, sedangkan kebolehan bela diri Faris Fajar membuat saya tidak sabar menantikan versi dewasa Awang alias Godam.

Apakah Gundala merupakan pembuka yang memadai bagi “Jagat Sinema Bumilangit”? Bisa dibilang demikian. Apakah mencapai potensi maksimal? Tidak.  Apakah Gundala karya terlemah Joko Anwar sejauh ini? Begitulah. Tapi haruskah diberi kesempatan? Jelas! Just go watch it!

184 komentar :

Comment Page:

READY OR NOT (2019)

7 komentar
Pernikahan itu menyeramkan. Pertanyaan “sudahkah aku siap?” bakal setia menggelayuti. Tapi kita takkan pernah siap berada di posisi Grace (Samara Weaving), tatkala keluarga sang suami (Keluarga Le Domas) bukan cuma menolak, tapi berusaha membunuhnya. Dan sembari Grace ketakutan setengah mati, penonton diajak bersenang-senang menikmati penderitaan sang protagonis.

Sejatinya Grace telah mengetahui bahwa Alex (Mark O’Brien) punya keluarga disfungsional. Si ayah mertua (Henry Czerny) membencinya, si kakak ipar (Adam Brody) gemar merayunya, sementara Helene (Nicky Guadagni), bibi Alex, terus memandanginya lewat tatapan menghantui. Grace siap menghadapi kesulitan adaptasi, tapi tidak dengan ritual aneh yang memaksanya mengikuti permainan tepat tengah malam selepas upacara pernikahan.

Ritual ini adalah rutinitas, layaknya perploncoan bagi calon anggota keluarga baru. Kenapa melalui permainan? Karena kekayaan melimpah Dinasti Le Domas dibangun di atas bisnis permainan. “Kamu hanya perlu bermain”, demikian ucap Alex guna menenangkan sang istri. Tiba tengah malam, dan Grace mesti memilih jenis permainan dengan mengambil kartu acak dari kotak misterius, yang konon diperoleh kakek buyut Keluarga Le Domas dari seorang pria bernama Mr. Le Bail.

Grace menarik kartu bertuliskan “Hide & Seek”. Bukan petak umpet biasa tentunya, karena di sini Grace mesti bersembunyi dari kejaran Keluarga Le Domas yang berusaha membunuhnya sebelum matahari terbit. Muncul pertanyaan, “Apa yang terjadi bila Grace mendapat kartu lain?”. Permainan lain jelas lebih ringan, melihat banyaknya menantu Keluarga Le Domas yang selamat. Sebuah eksplorasi tambahan yang niscaya menambah daya tarik, namun ketiadaannya bukanlah dosa.

Terpenting, bagaimana Ready or Not menghantarkan hiburan efektif melalui sajian horor/thriller seru berbumbu komedi hitam yang cenderung brutal. Tingkat kekerasannya di atas rata-rata, yang bersumber dari situasi sepeti wajah meledak, kepala pecah, pemenggalan, dan lain-lain. Tapi hampir seluruh kebrutalan tersebut berujung memancing tawa, tatkala duo penulis naskahnya, R. Christopher Murphy (Minutes Past Midnight) dan Guy Busick, berani menerapkan selera humor unik sekaligus sakit milik mereka.

Filmnya semakin menggelitik pasca kondisi berbalik, ketika Keluarga Le Domas yang awalnya ditampilkan bak gerombolan psikopat, mulai memperlihatkan kecanggungan, ketidakmampuan, serta kebodohan masing-masing, sedangkan Grace sang buruan pelan-pelan menemukan pijakan bahkan berbalik mengancam para pemburunya.

Diperankan begitu apik oleh Samara Weaving, sosok Grace jadi bukti nyata bahwa skena horor butuh lebih banyak figur protagonis wanita yang sanggup melawan balik. Selain tampak tangguh, Samara pun mampu menangani sikap (dan tutur kata) “peduli setan” milik Grace untuk menciptakan situasi komedik yang tak jarang histerikal. Serupa kesuksesan Jessica Rothe dalam peran serupa di seri Happy Death Day, Samara Weaving pantas mendapat perhatian lebih selepas film ini.

Sayang, penyutradaraan duet Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (V/H/S, Devil’s Due, Southbound) kerap kurang mampu mengejar naskah playful dan performa energetik sang aktris utama. Di beberapa kesempatan, khususnya momen aksi bernuansa kacau, sulit melihat detail kejadian akibat pemakaian close up plus pergerakan kamera yang terlampau cepat. Pun keduanya tak kuasa memberi pertolongann saat naskahnya sempat kehabisan ide jelang babak ketiga, di mana jalan menuju ke sana disusun oleh repetisi melelahkan.

Beruntung, baik departemen penulisan maupun penyutradaraan sama-sama enggan menahan diri meluapkan banjir arah pada klimaks yang menyentuh ranah horor splatter, bak gabungan Scanners dan Dead Alive. Pun selagi menggila, Ready or Not tak ketinggalan menyisipkan pesan, dari persoalan keluarga seperti pola asuh, keserakahan, sampai pertanyaan, “Jika seseorang memihak keluarga ketimbang pasangan hidupnya, apakah itu sungguh wujud kasih sayang atau sebatas sikap pengecut?”

7 komentar :

Comment Page:

ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD (2019)

14 komentar
(Tulisan ini mengandung SPOILER)
Once Upon a Time in Hollywood diawali dengan gaya, sebagaimana karya Quentin Tarantino biasanya. Cuplikan serial televisi hitam putih era 1950an berjudul Bounty Law yang dibintangi sekaligus melambungkan nama Rick Dalton (Leonardo DiCaprio), diikuti dua situasi yang muncul bergantian: Rick bersama stuntman-nya, Cliff Booth (Brad Pitt) berkendara, sementara Sharon Tate (Margot Robbie) dan sang suami, Roman Polanski (Rafał Zawierucha) baru turun dari pesawat. Menjadi latar adalah lagu Treat Her Right dari Roy Head.

Sebuah adegan pembuka keren yang menset karakterisasi tiga protagonis: Rick si mega bintang yang popularitasnya memudar, Cliff si stuntman tangguh, dan Sharon si bintang muda. Tapi jangan tertipu, sebab Once Upon a Time in Hollywood bukan sajian khas Tarantino. Benar bahwa filmnya dibangun oleh dialog, referensi budaya populer, lagu-lagu asyik, juga penceritaan yang kerap menerapkan flashback, namun siapa sangka ini menjadi karya paling dewasa sekaligus emosional dari sanng sutradara. Seolah, mencapai karya kesembilan, Tarantino ingin berkata, “Saya memiliki hati”.

Selepas adegan pembuka, alurnya melaju bolak-balik antara persahabatan Rick-Cliff dan kehidupan Sharon. Rick merasa ketenarannya anjlok drastis, karena alih-alih pemeran utama, ia cuma menerima tawaran sebagai antagonis yang berakhir tewas atau dihajar oleh sang jagoan, atau penampilan singkat di episode pilot. Akibatnya, Cliff pun kehilangan lahan pekerjaan, menghabiskan hari-harinya mengatar-jemput atau memperbaiki antena di rumah Rick.

Amat disayangkan, sebab Cliff merupakan petarung badass. Bahkan ia sempat menghajar Bruce Lee (Mike Moh) dalam satu momen yang menegaskan kapasitasnya, agar penonton bisa mempercayai apa yang Cliff sanggup lakukan di klimaks. Pitt, bersenjatakan persona bak koboi, tampil berkarisma bahkan saat hanya berdiri diam, mengamati dari balik kaca mata hitamnya.

Berlawanan dengan Cliff, di layar, Rick penuh wibawa, tapi di balik layar dia adalah pria penuh ketakutan, keraguan, yang sering tergagap kala berbicara. Beruntung, bukan saja pegawai, Cliff menjadi sahabat setia yang senantiasa mendukung Rick. Rasanya, bila mampu, Rick bakal meminta Cliff untuk menjadi stuntman-nya di dunia nyata.

Memerankan Rick, DiCaprio memamerkan salah satu performa paling berwarna sepanjang karir lewat interpretasi luar biasa terhadap dua sisi (depan dan belakang kamera) Rick. Dualitas sang aktor terpapar nyata saat Rick menjalani proses pengambilan gambar sebagai antagonis serial televisi western. DiCaprio menghantarkan jangkauan akting luas yang menyulut kekonyolan, kepedihan, hingga kekaguman.

Kalau kisah Rick memaparkan kejatuhan bintang di akhir golden age Hollywood, maka Sharon menuturkan soal terbitnya bintang baru. Tapi serupa Rick, Sharon juga “berwajah ganda”. Dan serupa DiCaprio pula, Robbie berhasil menghidupkan dualitas tersebut. Sekilas Sharon cuma gadis muda yang gemar berpesta, namun di balik itu, dia menjadi cerminan para pemimpi industri perfilman yang berharap bisa menghibur penonton melalui kemunculannya di layar lebar. Kunjungan Sharon ke bioskop untuk menonton The Wrecking Crew yang ia bintangi (juga konklusi proses syuting Rick yang saya singgung di atas) jadi ajang pembuktian sensibilitas Tarantino. Bahwa selain gaya dan kekerasan, ia pun bisa menyentuh hati.

Secara spesifik bertindak selaku penghormatan bagi Hollywood era 1960an, Once Upon a Time in Hollywood tentunya dipenuhi referensi, misalnya penyebutan beberapa judul film atau serial televisi (The Man From U.N.C.L.E., Batman, The Dick Van Dyke Show, FBI, Rosemary's Baby, dan lain-lain), cameo sosok-sosok nyata seperti Bruce Lee dan Steve McQueen (Damian Lewis), atau modifikasi elemen-elemen realita dari nama figur hingga peristiwa tertentu, contohnya perkelahian Cliff melawan Bruce Lee yang terjadi pada set serial The Green Hornet.

Penonton yang familiar dengan hal-hal tadi bakal menemukan surga, sebaliknya, bagi kalangan awam, Once Upon a Time in Hollywood bisa saja terasa kosong atau bertutur tanpa fokus. Bukan sebuah dosa, karena sejak awal, Tarantino memang berniat menulis surat cinta. Keinginan melahirkan surat cinta itulah faktor kemenangan filmnya.

Berbeda dibanding Inglourious Basterds, imajinasi suka-suka Tarantino kali ini, daripada didorong “kenakalan” eksplorasi, bagai sebuah curahan hati tulus atas kondisi yang ia harapkan terjadi. Puncaknya terletak di konklusi. Babak ketiganya, biarpun diawali kurang mulus akibat alasan yang terkesan dipaksakan dalam usaha memodifikasi kasus pembantaian oleh Keluarga Manson, jadi hiburan kelas satu berkat parade kekerasan favorit Tarantino.  Tapi pesona terbesarnya bukan di situ.

(SPOILER STARTS) Klimaksnya boleh merenggut beberapa nyawa, namun tujuan utama Tarantino justru menyelamatkan nyawa. Melalui kelembutan yang belum pernah ditunjukkan, Tarantino mengkreasi penutup magis nan menyentuh, di mana sosok-sosok fiktif macam Rick Dalton dan Cliff Booth tercipta agar nyawa-nyawa yang melayang di malam berdarah 8 Agustus 1969 berkesempatan melanjutkan tawa mereka, bahkan membaginya pada orang lain. Bila semesta sinema Quentin Tarantino memang ada, Once Upon a Time in Hollywood mungkin perwujudan surga semesta itu (SPOILER ENDS).

14 komentar :

Comment Page:

BALI: BEATS OF PARADISE (2019)

18 komentar

Bali: Beats of Paradise memberi saya salah satu pengalaman gala premiere paling sureal. Pertama mesti dipahami dulu, dokumenter ini merupakan karya Livi Zheng, sineas yang memperoleh popularitas di Indonesia berkat Brush with Danger (2014), yang akibat kemalasan media serta masyarakat menggali info ditambah pembiaran dari Livi, digembar-gemborkan sebagai peraih nominasi Oscar.

Saya pun terkejut ketika sebelum pemutaran, ia tak menyampaikan sambutan. “Apakah Livi sudah berubah, mulai merendah, dan membiarkan karya yang bicara?”, begitu pikir saya. Sungguh saya salah mengira. Sang sutradara telah mempersiapkan absurditas lain. Dimainkanlah video gelaran premiere di Amerika Serikat, rekaman konferensi pers bersama beberapa Menteri termasuk Sri Mulyani, deretan pesan video himbauan menonton dari figur-figur “pembesar” negara, liputan-liputan media soal “kesuksesan” Livi “menembus Hollywood”, hingga trailer film-filmnya yang lain, dari Brush with Danger hingga Insight yang dibintangi Tony Todd.

Tidak berlebihan jika Livi disebut narsis pula haus popularitas, sebab kesan itu pun begitu kentara dalam hasil akhir Bali: Beats of Paradise, walau sejatinya, tuturan di paruh awal membuka kisah secara meyakinkan. Kita diajak melihat bagaimana musik gamelan amat dikagumi, berpengaruh, dan diperdalam oleh masyarakat luar negeri, termasuk Amerika. Biarpun singkat, setidaknya penuturan para narasumber sedikit menjelaskan alasan kekaguman mereka kepada gamelan.

Lalu diperkenalkanlah para tokoh sentral, pasangan suami istri Nyoman Wenten dan Naniek Wenten, dua musisi sekaligus penari Bali yang sudah 40 tahun tinggal di Amerika, guna mengajar di departemen Etnomusikologi di UCLA, juga CalArts. Pak Nyoman dikenal ramah, kenyamanan bukan hanya dirasakan murid-muridnya, begitu pula saya selaku penonton. Ada kehangatan kala mendengarkannya bercerita tentang karir sampai hubungan dengan sang istri.

Timbul juga kekaguman menyaksikan pasangan ini berkesenian di satu panggung, menunjukkan talenta yang sudah membuat ribuan (bahkan sepertinya lebih) manusia terpesona. Livi tidak perlu berbuat macam-macam, Bali: Beats of Paradise sudah terkatrol kualitasnya berkat subyek luar biasa miliknya. Tapi bukan Livi Zheng namanya kalau tidak macam-macam.

Titik balik filmnya terjadi kala Pak Nyoman mengutarakan niat mengunggah video tentang gamelan ke YouTube, dengan target sejuta penonton. Harapannya, masyarakat khususnya generasi muda lebih mengenal kesenian tradisional ini. Beliau pun merasa “sutradara kita, Livi Zheng, pasti bisa membantu”. Dimulailah acara pamer CV sutradara internasional peraih nominasi Oscar kebanggaan tanah air proses produksi video tersebut. Jangan kaget saat rekaman acara televisi plus kutipan berita layaknya kliping tentang “prestasi” Livi Zheng kembali bermunculan di layar.

Saya bakal diam, membiarkan yang bersangkutan pamer sesuka hati, bila filmnya sungguh berkualitas. Masalahnya, Livi tampak tidak tahu apa-apa, baik terkait tata cara bercerita maupun proses produksi. Alkisah, terjadilah kolaborasi antara Pak Nyoman dan Bu Naniek dengan Judith Hill, musisi funk yang pernah menjadi penyanyi latar bagi Michael Jackson, Stevie Wonder, hingga Josh Groban. Kisah Hill sendiri pernah diangkat dalam dokumenter 20 Feet from Stardom (2013), di mana ia turut mengisi suara untuk lagu berjudul sama yang memenangkan Grammy Awards di kategori Best Music Film.

Rencananya, Livi bakal menyutradarai video klip lagu kolaborasi mereka yang berjudul Queen of the Hill. Sewaktu ditanya perihal kesulitan proyek ini, Livi menjawab kurang lebih demikian, “Kesulitannya adalah harus merekam lagu, membuat koreografi, dan merekam video”. Jawaban tersebut mengesankan ketidaktahuan sang sutradara akan proyek yang dikerjakannya.

Livi pun tergagap dalam bertutur. Terdapat banyak modal cerita, dari perjalanan karir Pak Nyoman, proyek bersama Judith Hill, dan tentunya perkembangan gamelan itu sendiri. Tapi dari modal sebanyak itu, tak satupun sempat dieksplorasi. Durasi 56 menit (termasuk 3 menit 43 detik video Queen of the Hill sebelum kredit) sudah menyiratkan itu. Livi sebatas melontarkan gagasan-gagasan yang makin lama makin bertumpuk, membuatnya kerepotan mengatur aliran cerita yang terus melompat secara acak dari satu tema ke tema berikutnya.

Anda bakal sering mempertanyakan esensi dimunculkannya sesuatu. Mengapa Balawan sering tiba-tiba datang lalu pergi? Menjelang akhir, sempat muncul narasi singkat mengenai pemakaian gamelan di karya-karya besar seperti Avatar, Fellini Satyricon, Akira, hingga Star Trek. Mengapa tak memperdalam bahasan itu, yang pastinya lebih menarik ketimbang satu jam aktivitas di balik layar pembuatan video klip? Livi pun tak mengeksplorasi proses kreatif yang terjadi, baik di antara tiga seniman hebat itu maupun dirinya sendiri. Kita cuma melihatnya memegang clapperboard alih-alih menyutradarai.

Selain dangkal, Bali: Beats of Paradise adalah dokumenter canggung. Tentu dalam dokumenter tetap ada momen rekayasa. Tugas sutradara adalah menjadikannya nampak alami. Livi tidak mampu. Diskusi awal antara Pak Nyoman dengan Judith contohnya, dikemas bak variety show kacangan khas televisi kita. Singkatnya, Bali: Beats of Paradise merupakan salah satu dokumenter paling buruk yang pernah saya saksikan.

18 komentar :

Comment Page:

WEATHERING WITH YOU (2019)

14 komentar
Weathering with You seolah merupakan perwujudan ambisi besar seorang Makoto Shinkai, yang pasca kesuksesan Your Name meraup $361 juta tiga tahun lalu,mungkin merasa mampu dan/atau perlu membuat sesuatu yang lebih besar, baik dari segi cerita, usungan pesan, hingga elemen fantasi. Ambisi itu sayangnya hadir prematur, sehingga meski tetap sebuah parade visual cantik, Weathering with You kehilangan sentuhan magis serta keintiman yang selalu menghipnotis dalam karya-karya Makoto sebelumnya.

Masih soal romansa sepasang remaja berbalut bumbu fantasi yang mempertemukan sebelum akhirnya mengancam kebersamaan mereka. Alkisah, Hodaka (Kotaro Daigo) nekat kabur ke Tokyo dari rumahnya yang terletak di pulau terpencil. Masih di bawah umur (16 tahun), Hodaka kesulitan mencari kerja, dan tak butuh lama hingga ia kelaparan. Beruntung, bantuan didapat dari Keisuke “Kei” Suga (Shun Oguri), pria yang sempat menyelamatkan Hodaka kala nyaris tenggelam di feri.

Kei mempekerjakan Hodaka sebagai asisten di perusahaan majalah kecil miliknya yang menuliskan hal-hal berbau klenik dan fantasi. Turut bekerja di sana adalah Natsumi (Tsubasa Honda), seorang gadis yang dicurigai Hodaka sebagai wanita simpanan Kei. Bersama Natsumi, Hodaka berburu berita, termasuk mengenai sosok Sunshine Girl, yang konon bisa membuat cuaca cerah hanya dengan berdoa. Kebetulan, saat itu Tokyo tengah dirundung hujan tanpa henti.

Hodaka tidak menyangka mitos itu nyata. Apalagi sang “gadis matahari” rupanya adalah Hina (Nana Mori) yang pernah memberinya makanan di suatu malam. Melihat kondisi Hina yang kesulitan ekonomi akibat harus menghidupi adiknya, Nagi (Sakura Kiryu) seorang diri, Hodaka mencetuskan ide untuk menjadikan kemampuan Hina sebagai sumber pencaharian. Mereka pun mulai menerima permintaan dari orang-orang yang membutuhkan cuaca cerah. “Pawang hujan” kalau menurut orang Indonesia.

Pada dasarnya, Weathering with You masih menyimpan formula kegemaran Makoto yang masih mengagumi semesta, terkait bagaimana fenomena (abnormal) alam mempengaruhi fenomena paling misterius dalam hidup manusia: cinta. Dibungkus visual yang nyaris menyentuh ranah fotorealistik serta musik garapan band rock Radwimps yang ampuh menyetel mood, Makoto menciptakan dunia di mana pancaran sinar matahari dari balik awan merupakan anugerah indah yang melahirkan kebahagiaan.

Di ranah penulisan, Makoto masih lihai mengkreasi karakter dengan kemampuan mencuri hati. Hina bukan sekadar mengembalikan cahaya ke bumi Tokyo, ia pun seolah bercahaya. Sesosok gadis ceria yang tidak hanya memantik semangat Hodaka, juga menghembuskan nyawa bagi filmnya. Saya agak terganggu dengan karakter Hodaka yang kerap jadi media melempar humor-humor mesum, namun mau bagaimana lagi? Tidak semua sineas seberani Hayao Miyazaki perihal penolakan memfasilitasi budaya fan service. Contoh fan service tak perlu lain adalah cameo dua protagonis Your Name yang ketimbang menguatkan narasi justru memberi distraksi.

Sayangnya, penulisan alur Makoto kali ini tidak sekuat penokohannya. Dia terlampau berambisi memasukkan unsur-unsur besar guna melebarkan cakupan cerita, yang berujung melucuti keintiman romansa. Weathering with You bukan lagi tentang hubungan Hodaka-Hina semata tatkala konflik turut melibatkan investigasi polisi, subplot soal keluarga Kei, sampai kritik terkait perubahan iklim yang dipicu ulah manusia.

Makoto nampak kerepotan menangani ambisinya sendiri, alhasil banyak elemen penceritaan dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Pistol yang ditemukan Hodaka misalnya, keberadaannya terlalu acak, bak hanya jalan keluar malas demi memperumit masalah. Sedangkan soal isu perubahan iklim, Makoto tidak pernah secara tegas melempar kritik tersebut, menjadikan konklusinya salah tempat sekaligus melucuti dampak emosi. Ya, Weathering with You adalah parade visual cantik khas Makoto Shinkai, hanya saja kali ini minim rasa.

14 komentar :

Comment Page:

ANGEL HAS FALLEN (2019)

5 komentar
Angel Has Fallen membawa seri film Fallen dari gelaran aksi destruktif berskala besar ke arah tontonan medioker yang mayoritas bagiannya lebih pantas berjajar di rak DVD ketimbang diputar di layar lebar. Dan bagi Gerard Butler, fakta bahwa ia kalah badass dibanding Nick Nolte yang telah menginjak 78 tahun, seolah jadi pertanda bahaya untuk karirnya sebagai jagoan laga.

Jangankan Leonidas, Butler bahkan tak lagi seprima tiga tahun lalu dalam London Has Fallen. Dia tampak kepayahan dan kurang fit, yang sejatinya bisa digunakan selaku materi menarik dalam eksplorasi naskah buatan sutradara Ric Roman Waugh (Felon, Snitch) bersama Robert Mark Kamen (The Fifth Element, The Transporter, Taken) dan Matt Cook (Patriots Day, Triple 9) tentang kondisi fisik sang protagonis.

Selepas menyelamatkan petinggi negara dua kali, tubuh Mike Banning (Gerard Butler) mencapai batas. Gegar otak membuatnya kerap mendadak pusing, pun tulang punggungnya semakin rapuh. Fisik ditambah keberadaan keluarga, membuat Mike mulai berpikir hendak mengambil pekerjaan di belakang meja sebagai direktur paspampres, walau sebagaimana diungkapkan kawan lamanya, Wade Jennings (Danny Huston), Mike selamanya adalah singa yang haus akan aksi di lapangan.

Tapi apa guna memberi penyakit pada karakter bila itu cuma berpengaruh kala ia tidak sedang beraksi? Setiap Mike mengangkat senjata, dia selalu baik-baik saja. Seperti saat ratusan drone coba membunuh Presiden Allan Trumbull (Morgan Freeman), pula membantai seluruh paspampres kecuali Mike. Dia sempoyongan sebelum serangan, namun tiba-tiba segar bugar saat dibutuhkan. Bahkan Mike mampu selamat dari ledakan bom persis di bawah tubuhnya!

Bukan saja satu-satunya paspampres yang selamat, penyelidikan FBI yang dipimpinn Helen Thomposn (Jada Pinkett Smith) menemukan DNA Mike di kendaraan pelaku bersama bukti-bukti lain yang menyudutkannya. Malaikat penjaga Presien telah jatuh, namun kita tahu pasti, nantinya Mike bakal berhasil membersihkan namanya. Tidak sulit pula menebak siapa dalang di balik percobaan pembunuhan itu.

Tapi elemen alur semacam itu bukan poin substansial dalam seri Fallen. Seberapa besar, gila, dan bombastis adegan aksinya merupakan hal terpenting. Sayang, khususnya di paruh pertama, penyutradaraan Ric Roman Waugh begitu medioker, sukar mencerna detail adegan. Baku tembak maupun hantam dikemas lewat quick cuts yang tersusun oleh (terlalu) banyak shot, sedangkan aski kejar-kejaran bertempat di latar super gelap, menghasilkan tensi nol besar.

Beruntung, sejurus kemudian diperkenalkanlah sosok Clay (Nick Nolte), ayah Mike, yang meninggalkan keluarganya selepas kembali dari Perang Vietnam dalam kondisi mengidap PTSD. Dia hidup sendirian di kabin di tengah hutan, membangun terowongan bawah tanah serta memasang bom perangkap yang cukup untuk meratakan seluruh area hutan. Jangan mengharapkan kisah kekeluargaan emosional, tapi kehadiran Clay sanggup menambah energi aksinya, membawa filmnya kembali ke hakikat seri Fallen, dengan ledakan-ledakan over the top yang menambah daya hibur Angel Has Fallen, di luar sentuhan humor yang tampil menggelitik berkat perilaku antik plus kegemaran Clay berkelakar.

Berikutnya, Angel Has Fallen sempat cukup bernyawa, menyuguhkan aksi solidi di tengah alur bertempo cepat, sebelum mencapai pertarungan puncak, sewaktu Ric akhirnya memutuskan tak lagi menutupi perkelahian dengan trik kamera atau penyuntingan.....yang malah berujung bencana. Tersusun atas penyutradaraan lemah dan koreografi malas, kita hanya disuguhi dua pria paruh baya yang kurang prima saling berpelukan, mencengkeram, lalu menggeram.

Tanpa ekspektasi apa pun, Angel Has Fallen berpotensi jadi hiburan sekali waktu sebelum dengan mudah anda lupakan, tapi tatkala sebuah franchise dikenal karena aksi masif berskala raksasa plus jagoan badass, percuma melanjutkannya jika skala diperkecil sementara sang jagoan tidak lagi tampak tangguh. Hasilnya murahan.

5 komentar :

Comment Page:

MISSION MANGAL (2019)

4 komentar
Mengadaptasi lepas dari pelaksanaan Mars Orbiter Mission (MOM) pada 2013 yang menjadikan India sebagai negara Asia pertama yang berhasil mencapai orbit Mars, sekaligus negara pertama di dunia yang sanggup melakukannya pada percobaan perdana, Mission Mangal yang perilisannya bertepatan dengan hari kemerdekaan India sekaligus perayaan 50 tahun berdirinya Indian Space Research Organization (ISRO) yang sama-sama jatuh pada 15 Agustus, membawa penonton mengamati proses di balik layar dari eksekusi misi bersejarah tersebut.

Sudah tentu kontennya kental bernuansa sains, namun Mission Mangal enggan mengalienasi penonton awam lewat teknik pendekatan bak soal cerita, di mana pemahaman didapat dari mengaitkan teori dengan aspek kehidupan sehari-hari.
Karena tergolong awam, saya tak bisa mengonfirmasi akurasi filmnya, namun begitu kisah berakhir, kemungkinan besar anda dapat menjelaskan “5W1H” terkait proses peluncuran roket PSLV-XL C25. Contohnya, dibebani keterbatasan bahan bakar, bagaimana cara menerbangkan roket yang aslinya dibuat untuk ekspedisi ke bulan agar mencapai orbit Mars?

Guru yang buruk bakal memaksa muridnya memahami teori akademis atau rumus fisika tanpa memperhatikan kemampuan atau modal ilmu dasar mereka, yang niscaya cuma menghasilkan sakit kepala. Tapi Mission Mangal adalah guru yang baik. Naskah garapan empat penulis termasuk R. Balki yang tahun lalu menyutradarai Pad Man, mengaitkan problematika itu dengan logika soal penghematan gas dalam memasak roti. Singkat, mudah dipahami, dan penonton tak perlu tersesat dalam upaya memahami formula sains.

Cerita dibuka dengan menunjukkan kekacauan rutinitas pagi hari Tara Shinde (Vidya Balan). Dia mesti menyiapkan sarapan, menghadapi puterinya yang meributkan habisnya pasta gigi, sang suami yang selalu mengeluh, dan putera yang sibuk di depan layar komputer membuat musik. Tapi dia bukan ibu rumah tangga. Tara adalah anggota ISRO. Dua aktivitas yang sekilas bertolak belakang, namun sejatinya saling mengisi. Nantinya, Tara—dan para ilmuwan lain—membuktikan itu saat mencetuskan ide-ide brilian yang terinspirasi dari elemen keseharian, membuat filmnya menarik sekaligus gampang dimengerti.

Tara merupakan anggota tim yang dipimpin Rakesh Dhawan (Akhsay Kumar). Tim ini baru saja mengalami kegagalan akibat kekeliruan analisis Tara, menyebabkan Rakesh “diasingkan” ke program Mars yang kurang mendapat perhatian dari ilmuwan lain. Mengapa? Karena program ini dianggap mustahil.

Merasa bersalah, Tara menawarkan bantuan kepada Rakesh, meyakinkannya bahwa meluncurkan roket ke Mars bukan kemustahilan walau membutuhkan kerja keras dan kesabaran. Benar saja, masalah tak henti menghadang. Selepas diberi lampu hijau, keterbatasan terus saja jadi lawan. Pemerintah menolak menyuntikkan dana bagi program dengan persentase keberhasilan kecil, pun Rakesh dan Tara cuma disediakan anggota yang terdiri dari muda-mudi kurang pengalaman, atau malah karyawan lansia.

Tapi tentu, mengikuti pola from zero to hero, kelak tim itu bakal membuktikan kapasitasnya. Mereka hanya berlian yang belum terasah. Naskahnya pun mampu menangani jajaran ensemble dengan membagi sama rata kesempatan bersinar, kala satu per satu berkesempatan memamerkan keahlian lewat metode-metode kreatif dalam menyelesaikan masalah.

Pujian serupa sayangnya tak bisa diberikan kepada penanganan terhadap deretan subplot dan subteks. Sewaktu pesan “Kejar mimpimu. Mimpi bukan sesuatu yang kamu lihat saat tidur. Mimpi adalah sesuatu yang membuatmu tidak bisa tidur” mampu menambah bobot emosi serta kehangatan—seperti dalam sebuah flashback ketika anggota tim mengingat kali pertama mereka bermimpi menjadi ilmuwan—ada juga kisah setengah matang dalam wujud konflik keluarga Tara, yang awalnya berjalan apik serta kompleks, hanya untuk diakhiri dengan terlampau mudah.

Dan ketika elemen soal perpaduan religi dengan sains berupa proses saling melengkapi atara kekuatan doa dan ilmu pengetahuan jadi suatu selipan segar, Mission Mangal membuang kesempatan mempresentasikan tuturan kuat tentang women’s empowerment. Tidak seutuhnya dikesampingkan, hanya masih “malu-malu”. Fakta bahwa tim mayoritas diisi wanita mengingatkan saya akan Hidden Figures, sayangnya elemen ini kurang diberi sorotan. Silahkan baca kisah sesungguhnya dan anda bakal menemukan perjuangan para wanita yang lebih luar biasa.

Meninjau segi teknis, pencapaian Mission Mangal jelas tidak bisa dipandang remeh, termasuk CGI solid dalam membungkus peluncuran roket. Biarpun klimaksnya agak goyah dan terasa kosong dibanding babak-babak sebelumnya akibat Jagan Shakti selaku sutradara cenderung menitikberatkan pada pemanangan digital (layar komputer, satelit yang mengorbit) ketimbang aspek humanis, keeluruhan, Mission Mangal tetap suguhan dengan hati. Tidak banyak tontonan dengan kadar sains kental mampu menampilkan proses di balik layar dengan lumayan komplet sembari menjadi hiburan yang gampang diakses segala kalangan.

4 komentar :

Comment Page:

EXIT (2019)

14 komentar
Film bagus sanggup menyajikan beberapa momen menegangkan, namun saat ketegangan berlangsung sepanjang durasi, artinya kita sedang menyaksikan suatu karya spesial. Diproduseri oleh Ryoo Seung-wan sang ekspertis film crowd pleaser (Veteran, The Battleship Island), Exit—yang sampai tulisan ini dibuat merupakan film Korea Selatan terlaris ketiga selama 2019—untuk sementara merupakan sajian paling intens tahun ini.

Sutradara sekaligus penulis naskah debutan, Lee Sang-geun tahu, bahwa untuk mendobrak tembok pemisah antara fantasi (film) dan realita (penonton), wajib hukumnya memunculkan kepedulian atas karakter. Di situlah partisipasi elemen cerita keluarga dibutuhkan, yang membuka kisahnya lewat papara komedik mengeai kehidupan Yong-nam (Jo Jung-suk).

Yong-nam tak ubahnya pecundang. Seorang pengangguran, yang sebagaimana ia deskripsikan sendiri, mengisi hari-hari hanya dengan tidur, makan, dan buang air besar. Gaya hidup itu kerap memancing amarah kakak perempuannya, sedangkan kedua orang tua Yong-nam gemar cekcok akibat hal kecil. Ketika ulang tahun ke-70 sang ibu datang, Yong-nam seolah melangkah memasuki neraka dunia, di mana ia banyak dipandang remeh oleh keluarga besarnya.

Pembukaan itu bukan sebatas pemenuhan obligasi layaknya banyak film bertema bencana lain, yang mengawali kisah melalui drama hampa sebelum kekacauan pecah. Prolognya ceria, menggelitik, dan terpenting, memberi pondasi bagi karakter. Kita mengenal satu per satu saudara Yong-nam melalui celaan yang dilontarkan, dan nantinya, masing-masing mendapat peran penting meski kecil. Alhasil, jajaran karakter pendukungnya pun menancap di ingatan.

Yong-nam memilih menggelar ulang tahun ibunya di lokasi yang jauh dari rumah. Dia beralasan, tempat itu memperoleh ulasan positif di internet, tapi kita tahu, alasan sebenarnya adalah karena Eui-joo (Yoona), gadis yang menolak cintanya  semasa kuliah, bekerja di sana sebagai Vice Manager. Tapi keduanya punya satu kemiripan, yaitu ketertarikan pada panjat tebing. Satu-satunya talenta yang bisa Yong-nam banggakan.

Malam berjalan damai hingga seorang teroris melepaskan gas beracun yang dapat mengakibatkan kematian bila dihirup atau mengenai tubuh manusia. Gas itu mampu memperluas jangkauan, lalu dengan cepat mengakibatkan kekacauan di seluruh kota. Dibantu Eui-joo, Yong-nam berusaha menyelamatkan keluarganya, tapi hanya ada satu jalan keluar: atap gedung. Sebab, selain gas yang pelan-pelan naik, itulah satu-satunya tempat yang mampu dijamah helikopter penyelamat.

Exit tidak pernah kehilangan cengkeraman berkat naskah yang muncul dengan beragam rintangan. Deretan rintangan gila didesain secara kreatif oleh Lee Sang-geun, dan mayoritas melibatkan kegiatan memanjat, melompat, atau meniti. Kita dibuat menduga-duga bagaimana karakternya bisa lolos, dan Exit terus menampilkan solusi kreatif, yang biarpun gila, tidak sepenuhnya tanpa otak. Kurang tepat disebut realistis, namun bukan pula suatu kemustahilan.

Karena itu, karakternya bukan pahlawan super. Mereka individu rapuh yang “kebetulan” memiliki kemampuan yang cocok untuk menyelamatkan diri. Pun Yong-nam maupun Eui-joo tak digambarkan sebagai sosok heroik. Mereka hanya nekat, masih merasakan takut, bahkan sesekali, hati kecil keduanya menyesali pengorbanan yang dilakukan. Bagi Yong-nam, kenekatannya didasari sikap “nothing to lose”, mengingat keluarga Yong-nam memandangnya tidak berguna. Dia merasa kenekatan tersebut bisa membuktikan bahwa ia berguna. Alasan itu memicu kepedulian dalam segala aksi gila yang ia lakukan.

Kata “gila” bukanlah hiperbola. Selain set pieces kreatif dengan kadar bahaya yang terus meningkat, tanpa penyutradaraan solid Lee Sang-geun, semuanya akan berakhir di ranah konsep belaka. Dibantu musik ritmis gubahan Mowg (I Saw the Devil, The Age of Shadows, Burning) yang efekif memacu detak jantung tanpa menciptakan distraksi, Sang-geun piawai memilih sudut kamera, mengatur tempo, serta mengatur penempatan momen guna menjaga kestabilan tensi. Meneruskan track record sineas Korea Selatan, baik selaku sutradara atau penulis, Sang-geun kompeten melahirkan dramatisasi melalui unsur keluarga.

Keluarga adalah pondasi. Contohnya di babak ketiga, saat kita menyaksikan perjuangan dua protagonisnya bersama keluarga Yong-nam. Kita tegang seperti mereka, bersorak seperti mereka, ketakutan seperti mereka. Nyawa Yong-nam dan Eui-joo jadi lebih berharga, sebab kepulangan mereka dinantikan orang-orang tercinta.

Terkait akting, Jo Jung-suk sempurna menghidupkan sosok “everyday guy”. Dia bukan jagoan super, sebatas pria bertalenta, dan kita mempercayai talenta tersebut, tatkala Jong-suk melakoni deretan stunt secara meyakinkan. Sedangkan penampilan Yoona mencerminkan personanya di variety show yang mencuri hati jutaan orang. Begitu mudah jatuh cinta pada dua sisinya: Si gadis lucu nan menggemaskan, serta wanita tangguh yang mampu mencetuskan ide-ide cerdik bahkan di situasi darurat sekalipun.

Sewaktu berbagi layar, Jong-suk dan Yoona menawarkan interaksi dinamis sebagai tim sempurna yang mendorong kita bersorak kala menyaksikan keberhasilan mereka. Dan dalam usaha Exit menjadi hiburan ringan, keduanya tampil bak duo komedik yang telah sekian lama berduet. Ya, biarpun menegangkan, Exit sarat kelucuan, yang (lagi-lagi) dibalut kreativitas tinggi. Siapa sangka mode panggilan video bisa dipakai sedemikian rupa seperti yang dilakukan karakter film ini?

Saya siap menganugerahkan nilai sempurna andai bukan karena kemasan konklusinya. Usaha Exit “menipu” penonton terkait nasib kedua protagonis justru mengorbankan intensitas yang susah payah dibangun, lalu mengakhiri perjuangan mereka secara antiklimaks. Tapi itu sebatas lubang kecil dibanding pencapaian keseluruhan film, yang menyuguhkan ketegangan luar biasa.

14 komentar :

Comment Page:

THE ANGRY BIRDS MOVIE 2 (2019)

8 komentar
Receh. Itu respon umum yang akan muncul selepas menonton The Angry Birds Movie 2, sebuah film di mana dalam kepala para penulis, yang terdiri dari Peter Ackerman (Ice Age), Jonathon E. Stewart , dan Eyal Podell, tak pernah terbersit keinginan tampil pintar apalagi serius, dengan menyusun komedinya atas situasi absurd, seperti saat seekor burung kecil menggelembung, terbang bak balon hingga melewati atmosfer, bertabrakan dengan satelit, sementara Space Oddity milik David Bowie mengiringi.

Itu cuma satu dari banyak perbedaan sekuel ini dibading pendahulunya. Berbeda dari film pertama yang setia mengikuti sumber adaptasinya ketika humor, aksi, maupun cerita dibuat mengacu pada gameplay, The Angry Birds Movie 2 memilih rute lain, yang menunjukkan usaha menghindari repetisi.

Bagian awalnya masih familiar. Setelah peristiwa di film pertama, Red (Jason Sudeikis) tak lagi dikucilkan, malah dielu-elukan sebagai pahlawan. Berkatnya, penghuni Bird Island menemukan metode transportasi baru menggunakan ketapel. Dan rutinitas di sana pun tetap sama, yakni perang prank antara burung melawan babi, di mana Red bersama Chuck (Josh Gad) dan Bomb (Danny McBride) bertindak selaku pelindung pulau.

Tapi, serupa gimnya, pulau baru “terbuka”. Leonard (Bill Hader) si raja kaum babi, menemukan pulau ketiga. Sebuah pulau bernama Eagle Island yang dipimpin oleh Zeta (Leslie Jones). Zeta berambisi menguasai dua pulau lain dengan cara menembakkan bola es raksasa, sebab ia lelah tinggal di tempat beku. Karena semua air menjadi es batu, ia tidak bisa berenang mandi, sikat gigi, bahkan kesulitan menyantap makanan.

Kehadiran musuh bersama tersebut memaksa para burung dan babi bersatu menjalankan misi heist yang tak melibatkan aktivitas terbang memakai ketapel. Kalimat di atas rasanya cukup memberi gambaran bagaimana The Angry Birds Movie 2 sejatinya merupakan adaptasi lepas.

Tidak ketinggalan pula beberapa subplot. Pertama soal ketakutan Red, bahwa jika ia kehilangan status pahlawan, orang-orang akan meninggalkannya lagi. Alhasil Red merasa terancam saat Silver (Rachel Bloom), burung jenius yang canggung dalam kehidupan sosial yang kebetulan juga adik Chuck, bergabung dalam tim. Sepanjang mayoritas durasi, Red adalah sosok egois menyebalkan yang bersedia mempertaruhkan keselamatan burung lain demi urusan pribadi. Saya pun mendapat kepusan sewaktu akhirnya Red menyadari kekeliruan itu, lalu mengakui jika Silver jauh lebih mampu.

Subplot lain melibatkan petualangan Zoe (Brooklynn Princne) beserta dua temannya guna menyelamatkan telur adik-adik Zoe yang mereka hilangkan kala bermain. Awalnya, subplot ini bagai kisah Scrat di Ice Age (bukan kejutan mengingat keberadaan Peter Ackerman) yang tak punya kaitan dengan alur utama, sebelum dipaksa terkoneksi, sebagai sebuah solusi terlampau mudah bagi konflik di klimaks. Walau menjadi “alat plot” yang buruk, perjalanan tiga burung kecil menggemaskan (tapi bisa pula bersikap ganas) ini berjasa menyajikan deretan humor paling segar, paling lucu, paling kreatif, dan tentunya paling receh di film ini.

Di samping Space Oddity, The Angry Birds Movie 2 memang memiliki beragam koleksi lagu dari berbagai genre (Eye of the Tiger, Baby Shark,Turn Down for What) yang menghibur indera pendengaran, meski kerap membuat filmnya bagai jukebox, tatkala seringkali, begitu sebuah lagu berakhir—setelah hanya diputar secara singkat—lagu lain langsung menyusul seketika.

Tanpa ketapel, aksi macam apa yang ditawarkan? Pada dasarnya masih di area slapstick klise bertempo cepat, namun klimaksnya berhasil memunculkan kepuasan lewat penebusan bagi premis soal bersatunya burung dan babi. Berkat pengarahan sutradara debutan Thurop Van Orman yang bertenaga, babak finalnya menyenangkan dan memuaskan, sebagaimana keseluruhan The Angry Birds Movie 2 yang enggan pasrah terjangkit penyakit khas sekuel, yaitu kemalasan.

8 komentar :

Comment Page: