TWIVORTIARE (2019)
Rasyidharry
Agustus 31, 2019
Alim Sudio
,
Anggika Bolsterli
,
Bagus
,
Benni Setiawan
,
Boris Bokir
,
Denny Sumargo
,
Ika Natassa
,
Indonesian Film
,
Raihaanun
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
,
Romance
10 komentar
“Saat bayi kembar siam dipisahkan,
mereka akan mempunyai jantung, suhu tubuh, dan organ-organ lain sendiri-sendiri”,
begitu kira-kira penjelasan Beno (Reza Rahadian) kepada Alex (Raihaanun).
Begitu pula pasangan, atau dalam konteks film ini perceraian suami-istri. Twivortiare, selaku adaptasi novel
berjudul sama (plus sebagian kisah Divortiare)
karya Ika Natassa, mengupas bagaimana sepasang insan yang saling mencintai
berjuang mengatasi perbedaan-perbedaan individual tersebut.
Pastikan anda tak ketinggalan sedikit
pun adegan pembuka yang menata pondasi hubungan kedua tokoh utama. Merasa
pernikahan mereka telah kehilangan nyawa, Beno dan Alex memutuskan bercerai.
Dua tahun berselang, rupanya cinta itu belum padam. Ketika Beno pelan-pelan
berusaha merebut lagi hati si mantan istri, Alex kesulitan beranjak pergi walau
tengah berpacaran dengan Denny (Denny Sumargo).
Keduanya pun mengikat janji suci
untuk kali kedua, berjanji bakal bersikap lebih baik. Alex berjanji akan
melatih kesabaran, sementara Beno perlu meluangkan waktu di luar kesibukan
sebagai dokter bedah. Tapi tidak ada hubungan tanpa gesekan. Di sini menariknya
Twivortiare. Dipandu naskah buatan
Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan,
Ayat-Ayat Cinta 2) sutradara Benni Setiawan (Sepatu Dahlan, Toba Dreams, Insya Allah Sah), kisahnya bukan
menawarkan buaian romantika manis bahwa “semua akan baik-baik saja”. Karena
semua tidak akan (selalu) baik-baik saja.
Kita diajak melihat Beno dan Alex
bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi, berbaikan lagi, begitu seterusnya. Tidak
secara asal, sebab segala pertengkaran itu dipicu alasan serupa. Biarpun
mencapai pertengahan kesan repetitif gagal dihindari, dari situ, naskahnya
berhasil menyuguhkan proses belajar secara bertahap guna saling mengenali,
memahami, agar dapat memperbaiki. Pertengkaran jelas berarti masalah, namun
bukan musibah, bukan pula bukti ketiadaan cinta.
Twivortiare merupakan cerita cinta berbasis karakter yang
mengedepankan pasangan itu sendiri ketimbang elemen-elemen lain. Alhasil,
kepiawaian duet penampil utama jadi faktor terpenting. Dan saya berani
menyatakan bahwa urusan chemistry, Reza-Raihaanun
merupakan kombinasi tanpa tanding. Tidak berlebihan menyebut mereka salah satu
pasangan terbaik yang pernah saya saksikan.
Bagaimana interaksi verbal dituturkan
begitu dinamis lewat penghantaran kaya variasi ditambah kejelian mengatur tempo
hingga bagaimana rasa dihidupkan di layar dalam otentitas luar biasa yang
dengan mudah “menulari” penonton, jadi beberapa bukti kehebatan Reza dan
Raihaanun mengagkat standar “on-screen
couple” ke tingkat lebih tinggi, yang tidak pernah saya bayangkan mampu
dicapai film negeri ini.
Sedangkan di jajaran pendukung,
Anggika Bolsterli dan Boris Bokir, masing-masing sebagai dua sahabat Alex, Wina
dan Ryan, berjasa mencairkan suasana lewat kejenakaan yang sesekali terselip di
antara intensitas konflik. Anggika seperti biasa bersenjatakan antusiasme
bertenaga, sementara Boris jeli melontarkan kelakar-kelakar singkat namun
segar.
Padukan akting Reza dan Raihaanun
dengan pengarahan Benni Setiawan yang kembali menemukan sensitivitas sejak Toba Dreams (2015)—sambil sesekali
dibarengi lagu manis Kembali ke Awal dari
Glenn Fredly—jadilah sajian emosional bahkan sejak menit-menit awal. Benni
enggan mencoba macam-macam. Memahami esensi kisah (berbasis karakter) sekaligus
kapasitas dua pemeran utamanya, Benni “cuma” berusaha membangun keintiman dua
sejoli. Daripada gambar cantik, kamera berfokus untuk sesempurna mungkin
menangkap permainan rasa Reza dan Raihaanun. Rasa yang begitu kuat sehingga memancing pertanyaan, “Inikah cinta?”.
GUNDALA (2019)
Rasyidharry
Agustus 30, 2019
Abimana Aryasatya
,
Action
,
Ario Bayu
,
Bront Palarae
,
Cecep Arif Rahman
,
Cukup
,
Fantasy
,
Faris Fajar
,
Indonesian Film
,
Joko Anwar
,
Marissa Anita
,
Muzakki Ramdhan
,
REVIEW
,
Rio Dewanto
,
Tara Basro
184 komentar
Gundala mengawali “Jagat Sinema Bumilangit” yang beberapa waktu lalu
mengumumkan jajaran pemain bertabur bintang. Proyek paling ambisius sepanjang
sejarah perfilman Indonesa yang wajib disaksikan bagaimanapun hasil akhirnya,
mengingat peran pentingnya sebagai gerbang pembuka menuju genre pahlawan super.
Ya, karena saya menekankan urgensi menonton bukan pada kualitas, mungkin anda
bisa menebak bahwa karya teranyar Joko Anwar ini meninggalkan kekecewaan.
Mengadaptasi komik buatan Hasmi,
Joko Anwar selaku penulis naskah, sutradara, sekaligus produser kreatif “Jagat
Sinema Bumilangit” jelas tidak berniat menyajikan film keluarga. Latarnya
adalah versi alternatif negeri ini, yang sejatinya tak sejauh itu dari realita,
di mana ketidakadilan merajalela, si kaya berkuasa atas si miskin, kerusuhan
senantiasa pecah, sementara mafia menguasai wakil rakyat yang sibuk menimbun
keuntungan pribadi ketimbang mewakili aspirasi.
Bahkan sedari awal, kita langsung
berhadapan dengan tragedi tatkala Sancaka kecil (Muzakki Ramdhan) mesti
kehilangan ayahnya (Rio Dewanto) yang meregang nyawa akibat menuntuk keadilan
bagi buruh. Setahun kemudian giliran sang ibu (Marissa Anita) menghilang entah
ke mana. Dihimpit kemiskinan, Sancaka tumbuh dalam dilema antara menegakkan
kepedulian atas nama kemanusiaan, atau bersikap tak acuh demi keselamatan diri.
Beberapa tahun berselang, Sancaka
dewasa (Abimana Aryasatya) yang berprofesi sebagai penjaga keamanan pabrik
masih bergulat dengan sikap apatis, sampai keputusannya membantu Wulan (Tara
Basro) mulai menyadarkan Sancaka, mendorongnya bertarung demi kaum tertindas
berbekal kekuatan misterius yang ia peroleh melalui sambaran petir.
Seperti biasa, dunia Joko adalah
dunia kelam yang dilebihkan tanpa harus kehilangan relevansi. Krisis moral dan
kemanusiaan disorot, sehingga pemilihan Pengkor (Bront Palarae) sebagai
antagonis merupakan keputusan tepat. Serupa Sancaka, si mafia penguasa ini
menyimpan masa lalu tragis. Kehilangan segalanya lalu terbuang, Pengkor akrab
dengan aksi bunuh-membunuh sejak kecil, sebagaimana ditampilkan adegan paling
menghantui sepanjang film kala ia menginisiasi pembantaian di sebuah panti
asuhan.
Pertentangan Sancaka melawan
Pengkor menciptakan dinamika menarik walau keduanya baru bertatap muka di babak
ketiga. Sama-sama dinaungi tragedi, tatkala Pengkor terdorong untuk “membalas”,
Sancaka merasa perlu “membela”. Bukan sekadar menghilangkan kekliesean hitam
melawan putih, melalui elemen itu, Joko juga mengingatkan jika manusia selalu
punya pilihan: Menjadikan masa lalu suram sebagai justifikasi perbuatan buruk,
atau pelecut semangat juang, atau dalam konteks berbangsa, penyulut
patriotisme.
Naskah Gundala pun sanggup cukup seimbang menghadirkan drama yang berdiri
sendiri dengan proses menanam benih bagi masa depan “Jagat Sinema Bumilangit”.
Walau aspek yang disebut terakhir sempat memberi distraksi saat menyoroti
intensi terselubung Ghazul (Ario Bayu) plus sebuah kejutan beraroma deus ex machina jelang akhir yang saya
tak bisa sebutkan, melaluinya, rasa penasaran serta ketertarikan terhadap masa
depan jagat sinema satu ini berhasil dipancing.
Sementara di departemen
penyutradaraan, Joko membuktikan pemilihan dirinya adalah keputusan tepat,
ketika mulus membaurkan elemen horor ciri khasnya. Gejolak batin Sancaka dibungkus
layaknya horor supranatural, sedangkan jajaran lawan Gundala digambarkan bak horror villain, khususnya sosok Pengkor
dan Swara Batin (Cecep Arif Rahman). Pendekatan ini sesuai dengan gaya komik
pahlawan super lokal yang kerap meleburkan beraneka genre, termasuk horor. Jangan
khawatir Gundala terlampau suram,
sebab Joko tetap mencurahkan humor-humor segar yang sejak dulu mampu memperkaya
warna karyanya.
Tapi hal-hal di atas bukan
kekhawatiran saya bagi proyek ini. Bukan pula kualitas CGI, yang untungnya
digunakan secara bijak, walau keterbatasan dana turut mengecilkan kesempatan
Gundala memamerkan sambaran petirnya. Bagaimana Joko bersama sinematografi
garapan Ical Tanjung (Pengabdi Setan, Ave
Maryam) menangkap gelaran laga hasil rancangan Cecep Arif Rahman-lah sumber
kekhawatiran tersebut, yang sayangnya, jadi kenyataan.
Teknik quick cuts memang tak digunakan. Kamera cenderung setia mengikuti
tiap gerakan, namun banyaknya close up kerap
melucuti intensitas. Mayoritas baku hantam pun bergulir amat lambat, seolah
kita tengah menonton gladi daripada produk final. Teknik itu efektif membungkus
perkelahian “kasar” ala jalanan, tapi melemahkan dampak saat gerak bela diri
yang lebih tertata dikedepankan, yang mana sering filmnya terapkan. Alhasil,
musik megah gubahan trio Aghi Narottama (Pengabdi
Setan, Sweet 20), Bemby Gusti (Ini
Kisah Tiga Dara, Pengabdi Setan), dan Tony Merle (Pengabdi Setan, Sesat) acap kali terdengar salah tempat sewaktu
membungkus adu jotos yang berlangsung canggung.
Gundala turut bermasalah dengan konklusi penuh penyederhanaan (kalau
tidak mau disebut penggampangan) juga pertarungan puncak antiklimaks. Perkenalan
bagi barisan “anak-anak" badass Pengkor yang memancing antusiasme harus ditutup secara mengecewakan setelah
tokoh-tokoh unik ini ditumbangkan begitu mudah. Belum lagi membahas cara sang
bos besar ditaklukkan (tentu ini bukan spoiler).
Diisi penampilan mumpuni, biarpun
penuh lubang, setidaknya Gundala urung
kehilangan nyawa. Abimana bisa diandalkan baik sebagai pahlawan tangguh maupun pria
baik hati yang gampang disukai. Menjadi lawannya adalah Bront Palarae melalui
tutur kata intimidatif yang lebih dari cukup menambal kekurangan fisik seorang
Pengkor. Di jajaran pendukung, Pritt Timothy sebagai Agung si satpam senior
mencuri perhatian lewat keluwesan dan kejenakaan, sedangkan kebolehan bela diri
Faris Fajar membuat saya tidak sabar menantikan versi dewasa Awang alias Godam.
Apakah Gundala merupakan pembuka yang memadai bagi “Jagat Sinema
Bumilangit”? Bisa dibilang demikian. Apakah mencapai potensi maksimal? Tidak. Apakah Gundala karya terlemah Joko Anwar sejauh ini? Begitulah. Tapi haruskah diberi kesempatan? Jelas! Just go watch it!
READY OR NOT (2019)
Rasyidharry
Agustus 29, 2019
Adam Brody
,
Comedy
,
Guy Busick
,
Henry Czerny
,
horror
,
Lumayan
,
Mark O'Brien
,
Matt Bettinelli-Olpin
,
Nicky Guadagni
,
R. Christopher Murphy
,
REVIEW
,
Samara Weaving
,
Thriller
,
Tyler Gillett
7 komentar
Pernikahan itu menyeramkan.
Pertanyaan “sudahkah aku siap?” bakal setia menggelayuti. Tapi kita takkan
pernah siap berada di posisi Grace (Samara Weaving), tatkala keluarga sang
suami (Keluarga Le Domas) bukan cuma menolak, tapi berusaha membunuhnya. Dan
sembari Grace ketakutan setengah mati, penonton diajak bersenang-senang
menikmati penderitaan sang protagonis.
Sejatinya Grace telah mengetahui
bahwa Alex (Mark O’Brien) punya keluarga disfungsional. Si ayah mertua (Henry
Czerny) membencinya, si kakak ipar (Adam Brody) gemar merayunya, sementara
Helene (Nicky Guadagni), bibi Alex, terus memandanginya lewat tatapan
menghantui. Grace siap menghadapi kesulitan adaptasi, tapi tidak dengan ritual
aneh yang memaksanya mengikuti permainan tepat tengah malam selepas upacara
pernikahan.
Ritual ini adalah rutinitas,
layaknya perploncoan bagi calon anggota keluarga baru. Kenapa melalui
permainan? Karena kekayaan melimpah Dinasti Le Domas dibangun di atas bisnis
permainan. “Kamu hanya perlu bermain”, demikian ucap Alex guna menenangkan sang
istri. Tiba tengah malam, dan Grace mesti memilih jenis permainan dengan
mengambil kartu acak dari kotak misterius, yang konon diperoleh kakek buyut
Keluarga Le Domas dari seorang pria bernama Mr. Le Bail.
Grace menarik kartu bertuliskan “Hide & Seek”. Bukan petak umpet
biasa tentunya, karena di sini Grace mesti bersembunyi dari kejaran Keluarga Le
Domas yang berusaha membunuhnya sebelum matahari terbit. Muncul pertanyaan, “Apa
yang terjadi bila Grace mendapat kartu lain?”. Permainan lain jelas lebih
ringan, melihat banyaknya menantu Keluarga Le Domas yang selamat. Sebuah
eksplorasi tambahan yang niscaya menambah daya tarik, namun ketiadaannya
bukanlah dosa.
Terpenting, bagaimana Ready or Not menghantarkan hiburan
efektif melalui sajian horor/thriller seru
berbumbu komedi hitam yang cenderung brutal. Tingkat kekerasannya di atas
rata-rata, yang bersumber dari situasi sepeti wajah meledak, kepala pecah,
pemenggalan, dan lain-lain. Tapi hampir seluruh kebrutalan tersebut berujung
memancing tawa, tatkala duo penulis naskahnya, R. Christopher Murphy (Minutes Past Midnight) dan Guy Busick,
berani menerapkan selera humor unik sekaligus sakit milik mereka.
Filmnya semakin menggelitik pasca
kondisi berbalik, ketika Keluarga Le Domas yang awalnya ditampilkan bak
gerombolan psikopat, mulai memperlihatkan kecanggungan, ketidakmampuan, serta
kebodohan masing-masing, sedangkan Grace sang buruan pelan-pelan menemukan
pijakan bahkan berbalik mengancam para pemburunya.
Diperankan begitu apik oleh Samara
Weaving, sosok Grace jadi bukti nyata bahwa skena horor butuh lebih banyak figur
protagonis wanita yang sanggup melawan balik. Selain tampak tangguh, Samara pun
mampu menangani sikap (dan tutur kata) “peduli setan” milik Grace untuk
menciptakan situasi komedik yang tak jarang histerikal. Serupa kesuksesan
Jessica Rothe dalam peran serupa di seri Happy
Death Day, Samara Weaving pantas mendapat perhatian lebih selepas film ini.
Sayang, penyutradaraan duet Matt
Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (V/H/S,
Devil’s Due, Southbound) kerap kurang mampu mengejar naskah playful dan performa energetik sang
aktris utama. Di beberapa kesempatan, khususnya momen aksi bernuansa kacau,
sulit melihat detail kejadian akibat pemakaian close up plus pergerakan kamera yang terlampau cepat. Pun keduanya
tak kuasa memberi pertolongann saat naskahnya sempat kehabisan ide jelang babak
ketiga, di mana jalan menuju ke sana disusun oleh repetisi melelahkan.
Beruntung, baik departemen
penulisan maupun penyutradaraan sama-sama enggan menahan diri meluapkan banjir
arah pada klimaks yang menyentuh ranah horor splatter, bak gabungan Scanners
dan Dead Alive. Pun selagi menggila,
Ready or Not tak ketinggalan menyisipkan
pesan, dari persoalan keluarga seperti pola asuh, keserakahan, sampai
pertanyaan, “Jika seseorang memihak keluarga ketimbang pasangan hidupnya,
apakah itu sungguh wujud kasih sayang atau sebatas sikap pengecut?”
ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD (2019)
Rasyidharry
Agustus 28, 2019
Brad Pitt
,
Comedy
,
Drama
,
Leonardo DiCaprio
,
Margot Robbie
,
Mike Moh
,
Quentin Tarantino
,
Rafal Zawierucha
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
14 komentar
(Tulisan ini mengandung SPOILER)
Once Upon a Time in Hollywood diawali dengan gaya, sebagaimana karya
Quentin Tarantino biasanya. Cuplikan serial televisi hitam putih era 1950an
berjudul Bounty Law yang dibintangi
sekaligus melambungkan nama Rick Dalton (Leonardo DiCaprio), diikuti dua
situasi yang muncul bergantian: Rick bersama stuntman-nya, Cliff Booth (Brad Pitt) berkendara, sementara Sharon
Tate (Margot Robbie) dan sang suami, Roman Polanski (Rafał Zawierucha) baru
turun dari pesawat. Menjadi latar adalah lagu Treat Her Right dari Roy Head.
Sebuah adegan pembuka keren yang
menset karakterisasi tiga protagonis: Rick si mega bintang yang popularitasnya
memudar, Cliff si stuntman tangguh,
dan Sharon si bintang muda. Tapi jangan tertipu, sebab Once Upon a Time in Hollywood bukan sajian khas Tarantino. Benar
bahwa filmnya dibangun oleh dialog, referensi budaya populer, lagu-lagu asyik,
juga penceritaan yang kerap menerapkan flashback,
namun siapa sangka ini menjadi karya paling dewasa sekaligus emosional dari
sanng sutradara. Seolah, mencapai karya kesembilan, Tarantino ingin berkata, “Saya
memiliki hati”.
Selepas adegan pembuka, alurnya
melaju bolak-balik antara persahabatan Rick-Cliff dan kehidupan Sharon. Rick
merasa ketenarannya anjlok drastis, karena alih-alih pemeran utama, ia cuma
menerima tawaran sebagai antagonis yang berakhir tewas atau dihajar oleh sang
jagoan, atau penampilan singkat di episode pilot. Akibatnya, Cliff pun kehilangan
lahan pekerjaan, menghabiskan hari-harinya mengatar-jemput atau memperbaiki
antena di rumah Rick.
Amat disayangkan, sebab Cliff
merupakan petarung badass. Bahkan ia
sempat menghajar Bruce Lee (Mike Moh) dalam satu momen yang menegaskan
kapasitasnya, agar penonton bisa mempercayai apa yang Cliff sanggup lakukan di
klimaks. Pitt, bersenjatakan persona bak koboi, tampil berkarisma bahkan saat
hanya berdiri diam, mengamati dari balik kaca mata hitamnya.
Berlawanan dengan Cliff, di layar,
Rick penuh wibawa, tapi di balik layar dia adalah pria penuh ketakutan,
keraguan, yang sering tergagap kala berbicara. Beruntung, bukan saja pegawai,
Cliff menjadi sahabat setia yang senantiasa mendukung Rick. Rasanya, bila
mampu, Rick bakal meminta Cliff untuk menjadi stuntman-nya di dunia nyata.
Memerankan Rick, DiCaprio
memamerkan salah satu performa paling berwarna sepanjang karir lewat
interpretasi luar biasa terhadap dua sisi (depan dan belakang kamera) Rick.
Dualitas sang aktor terpapar nyata saat Rick menjalani proses pengambilan
gambar sebagai antagonis serial televisi western.
DiCaprio menghantarkan jangkauan akting luas yang menyulut kekonyolan,
kepedihan, hingga kekaguman.
Kalau kisah Rick memaparkan
kejatuhan bintang di akhir golden age Hollywood,
maka Sharon menuturkan soal terbitnya bintang baru. Tapi serupa Rick, Sharon juga
“berwajah ganda”. Dan serupa DiCaprio pula, Robbie berhasil menghidupkan
dualitas tersebut. Sekilas Sharon cuma gadis muda yang gemar berpesta, namun di
balik itu, dia menjadi cerminan para pemimpi industri perfilman yang berharap
bisa menghibur penonton melalui kemunculannya di layar lebar. Kunjungan Sharon
ke bioskop untuk menonton The Wrecking
Crew yang ia bintangi (juga konklusi proses syuting Rick yang saya singgung
di atas) jadi ajang pembuktian sensibilitas Tarantino. Bahwa selain gaya dan
kekerasan, ia pun bisa menyentuh hati.
Secara spesifik bertindak selaku
penghormatan bagi Hollywood era 1960an, Once
Upon a Time in Hollywood tentunya dipenuhi referensi, misalnya penyebutan
beberapa judul film atau serial televisi (The
Man From U.N.C.L.E., Batman, The Dick Van Dyke Show, FBI, Rosemary's Baby, dan
lain-lain), cameo sosok-sosok nyata
seperti Bruce Lee dan Steve McQueen (Damian Lewis), atau modifikasi
elemen-elemen realita dari nama figur hingga peristiwa tertentu, contohnya perkelahian Cliff melawan Bruce Lee yang
terjadi pada set serial The Green Hornet.
Penonton yang familiar dengan
hal-hal tadi bakal menemukan surga, sebaliknya, bagi kalangan awam, Once Upon a Time in Hollywood bisa saja
terasa kosong atau bertutur tanpa fokus. Bukan sebuah dosa, karena sejak awal,
Tarantino memang berniat menulis surat cinta. Keinginan melahirkan surat cinta
itulah faktor kemenangan filmnya.
Berbeda dibanding Inglourious Basterds, imajinasi suka-suka
Tarantino kali ini, daripada didorong “kenakalan” eksplorasi, bagai sebuah curahan
hati tulus atas kondisi yang ia harapkan terjadi. Puncaknya terletak di
konklusi. Babak ketiganya, biarpun diawali kurang mulus akibat alasan yang
terkesan dipaksakan dalam usaha memodifikasi kasus pembantaian oleh Keluarga
Manson, jadi hiburan kelas satu berkat parade kekerasan favorit Tarantino. Tapi pesona terbesarnya bukan di situ.
(SPOILER STARTS) Klimaksnya
boleh merenggut beberapa nyawa, namun tujuan utama Tarantino justru
menyelamatkan nyawa. Melalui kelembutan yang belum pernah ditunjukkan, Tarantino
mengkreasi penutup magis nan menyentuh, di mana sosok-sosok fiktif macam Rick
Dalton dan Cliff Booth tercipta agar nyawa-nyawa yang melayang di malam
berdarah 8 Agustus 1969 berkesempatan melanjutkan tawa mereka, bahkan
membaginya pada orang lain. Bila semesta sinema Quentin Tarantino memang ada, Once Upon a Time in Hollywood mungkin
perwujudan surga semesta itu (SPOILER
ENDS).
BALI: BEATS OF PARADISE (2019)
Rasyidharry
Agustus 22, 2019
Documentary
,
Indonesian Film
,
Jelek
,
Judith Hill
,
Livi Zheng
,
Naniek Wenten
,
Nyoman Wenten
,
REVIEW
18 komentar
Bali: Beats of Paradise memberi saya salah satu pengalaman gala
premiere paling sureal. Pertama mesti dipahami dulu, dokumenter ini merupakan
karya Livi Zheng, sineas yang memperoleh popularitas di Indonesia berkat Brush with Danger (2014), yang akibat
kemalasan media serta masyarakat menggali info ditambah pembiaran dari Livi,
digembar-gemborkan sebagai peraih nominasi Oscar.
Saya pun terkejut ketika sebelum
pemutaran, ia tak menyampaikan sambutan. “Apakah Livi sudah berubah, mulai
merendah, dan membiarkan karya yang bicara?”, begitu pikir saya. Sungguh saya
salah mengira. Sang sutradara telah mempersiapkan absurditas lain. Dimainkanlah
video gelaran premiere di Amerika Serikat, rekaman konferensi pers bersama
beberapa Menteri termasuk Sri Mulyani, deretan pesan video himbauan menonton
dari figur-figur “pembesar” negara, liputan-liputan media soal “kesuksesan”
Livi “menembus Hollywood”, hingga trailer
film-filmnya yang lain, dari Brush
with Danger hingga Insight yang
dibintangi Tony Todd.
Tidak berlebihan jika Livi disebut
narsis pula haus popularitas, sebab kesan itu pun begitu kentara dalam hasil
akhir Bali: Beats of Paradise, walau
sejatinya, tuturan di paruh awal membuka kisah secara meyakinkan. Kita diajak
melihat bagaimana musik gamelan amat dikagumi, berpengaruh, dan diperdalam oleh
masyarakat luar negeri, termasuk Amerika. Biarpun singkat, setidaknya penuturan
para narasumber sedikit menjelaskan alasan kekaguman mereka kepada gamelan.
Lalu diperkenalkanlah para tokoh
sentral, pasangan suami istri Nyoman Wenten dan Naniek Wenten, dua musisi
sekaligus penari Bali yang sudah 40 tahun tinggal di Amerika, guna mengajar di
departemen Etnomusikologi di UCLA, juga CalArts. Pak Nyoman dikenal ramah, kenyamanan
bukan hanya dirasakan murid-muridnya, begitu pula saya selaku penonton. Ada
kehangatan kala mendengarkannya bercerita tentang karir sampai hubungan dengan
sang istri.
Timbul juga kekaguman menyaksikan
pasangan ini berkesenian di satu panggung, menunjukkan talenta yang sudah
membuat ribuan (bahkan sepertinya lebih) manusia terpesona. Livi tidak perlu berbuat
macam-macam, Bali: Beats of Paradise sudah
terkatrol kualitasnya berkat subyek luar biasa miliknya. Tapi bukan Livi Zheng namanya
kalau tidak macam-macam.
Titik balik filmnya terjadi kala
Pak Nyoman mengutarakan niat mengunggah video tentang gamelan ke YouTube, dengan
target sejuta penonton. Harapannya, masyarakat khususnya generasi muda lebih
mengenal kesenian tradisional ini. Beliau pun merasa “sutradara kita, Livi
Zheng, pasti bisa membantu”. Dimulailah acara pamer CV sutradara
internasional peraih nominasi Oscar kebanggaan tanah air proses produksi
video tersebut. Jangan kaget saat rekaman acara televisi plus kutipan berita
layaknya kliping tentang “prestasi” Livi Zheng kembali bermunculan di layar.
Saya bakal diam, membiarkan yang
bersangkutan pamer sesuka hati, bila filmnya sungguh berkualitas. Masalahnya,
Livi tampak tidak tahu apa-apa, baik terkait tata cara bercerita maupun proses
produksi. Alkisah, terjadilah kolaborasi antara Pak Nyoman dan Bu Naniek dengan
Judith Hill, musisi funk yang pernah menjadi penyanyi latar bagi Michael
Jackson, Stevie Wonder, hingga Josh Groban. Kisah Hill sendiri pernah diangkat
dalam dokumenter 20 Feet from Stardom (2013),
di mana ia turut mengisi suara untuk lagu berjudul sama yang memenangkan Grammy
Awards di kategori Best Music Film.
Rencananya, Livi bakal
menyutradarai video klip lagu kolaborasi mereka yang berjudul Queen of the Hill. Sewaktu ditanya
perihal kesulitan proyek ini, Livi menjawab kurang lebih demikian, “Kesulitannya
adalah harus merekam lagu, membuat koreografi, dan merekam video”. Jawaban tersebut
mengesankan ketidaktahuan sang sutradara akan proyek yang dikerjakannya.
Livi pun tergagap dalam bertutur. Terdapat
banyak modal cerita, dari perjalanan karir Pak Nyoman, proyek bersama Judith
Hill, dan tentunya perkembangan gamelan itu sendiri. Tapi dari modal sebanyak
itu, tak satupun sempat dieksplorasi. Durasi 56 menit (termasuk 3 menit 43
detik video Queen of the Hill sebelum
kredit) sudah menyiratkan itu. Livi sebatas melontarkan gagasan-gagasan yang
makin lama makin bertumpuk, membuatnya kerepotan mengatur aliran cerita yang
terus melompat secara acak dari satu tema ke tema berikutnya.
Anda bakal sering mempertanyakan
esensi dimunculkannya sesuatu. Mengapa Balawan sering tiba-tiba datang lalu
pergi? Menjelang akhir, sempat muncul narasi singkat mengenai pemakaian gamelan
di karya-karya besar seperti Avatar, Fellini
Satyricon, Akira, hingga Star Trek.
Mengapa tak memperdalam bahasan itu, yang pastinya lebih menarik ketimbang satu
jam aktivitas di balik layar pembuatan video klip? Livi pun tak mengeksplorasi
proses kreatif yang terjadi, baik di antara tiga seniman hebat itu maupun
dirinya sendiri. Kita cuma melihatnya memegang clapperboard alih-alih menyutradarai.
Selain dangkal, Bali: Beats of Paradise adalah
dokumenter canggung. Tentu dalam dokumenter tetap ada momen rekayasa. Tugas
sutradara adalah menjadikannya nampak alami. Livi tidak mampu. Diskusi awal
antara Pak Nyoman dengan Judith contohnya, dikemas bak variety show kacangan khas televisi kita. Singkatnya, Bali: Beats of Paradise merupakan salah
satu dokumenter paling buruk yang pernah saya saksikan.
WEATHERING WITH YOU (2019)
Rasyidharry
Agustus 21, 2019
Animated
,
Japanese Movie
,
Kotaro Daigo
,
Makoto Shinkai
,
Nana Mori
,
REVIEW
,
Sakura Kiryu
,
Shun Oguri
,
Tsubasa Honda
14 komentar
Weathering with You seolah merupakan perwujudan ambisi besar seorang
Makoto Shinkai, yang pasca kesuksesan Your
Name meraup $361 juta tiga tahun lalu,mungkin merasa mampu dan/atau perlu membuat
sesuatu yang lebih besar, baik dari segi cerita, usungan pesan, hingga elemen fantasi.
Ambisi itu sayangnya hadir prematur, sehingga meski tetap sebuah parade visual
cantik, Weathering with You
kehilangan sentuhan magis serta keintiman yang selalu menghipnotis dalam
karya-karya Makoto sebelumnya.
Masih soal romansa sepasang remaja
berbalut bumbu fantasi yang mempertemukan sebelum akhirnya mengancam
kebersamaan mereka. Alkisah, Hodaka (Kotaro Daigo) nekat kabur ke Tokyo dari
rumahnya yang terletak di pulau terpencil. Masih di bawah umur (16 tahun),
Hodaka kesulitan mencari kerja, dan tak butuh lama hingga ia kelaparan.
Beruntung, bantuan didapat dari Keisuke “Kei” Suga (Shun Oguri), pria yang
sempat menyelamatkan Hodaka kala nyaris tenggelam di feri.
Kei mempekerjakan Hodaka sebagai
asisten di perusahaan majalah kecil miliknya yang menuliskan hal-hal berbau
klenik dan fantasi. Turut bekerja di sana adalah Natsumi (Tsubasa Honda),
seorang gadis yang dicurigai Hodaka sebagai wanita simpanan Kei. Bersama Natsumi,
Hodaka berburu berita, termasuk mengenai sosok Sunshine Girl, yang konon bisa membuat cuaca cerah hanya dengan
berdoa. Kebetulan, saat itu Tokyo tengah dirundung hujan tanpa henti.
Hodaka tidak menyangka mitos itu
nyata. Apalagi sang “gadis matahari” rupanya adalah Hina (Nana Mori) yang
pernah memberinya makanan di suatu malam. Melihat kondisi Hina yang kesulitan
ekonomi akibat harus menghidupi adiknya, Nagi (Sakura Kiryu) seorang diri,
Hodaka mencetuskan ide untuk menjadikan kemampuan Hina sebagai sumber
pencaharian. Mereka pun mulai menerima permintaan dari orang-orang yang
membutuhkan cuaca cerah. “Pawang hujan” kalau menurut orang Indonesia.
Pada dasarnya, Weathering with You masih menyimpan formula kegemaran Makoto yang
masih mengagumi semesta, terkait bagaimana fenomena (abnormal) alam mempengaruhi
fenomena paling misterius dalam hidup manusia: cinta. Dibungkus visual yang
nyaris menyentuh ranah fotorealistik serta musik garapan band rock Radwimps yang
ampuh menyetel mood, Makoto menciptakan
dunia di mana pancaran sinar matahari dari balik awan merupakan anugerah indah
yang melahirkan kebahagiaan.
Di ranah penulisan, Makoto masih
lihai mengkreasi karakter dengan kemampuan mencuri hati. Hina bukan sekadar
mengembalikan cahaya ke bumi Tokyo, ia pun seolah bercahaya. Sesosok gadis
ceria yang tidak hanya memantik semangat Hodaka, juga menghembuskan nyawa bagi
filmnya. Saya agak terganggu dengan karakter Hodaka yang kerap jadi media
melempar humor-humor mesum, namun mau bagaimana lagi? Tidak semua sineas
seberani Hayao Miyazaki perihal penolakan memfasilitasi budaya fan service. Contoh fan service tak perlu lain adalah cameo dua protagonis Your
Name yang ketimbang menguatkan narasi justru memberi distraksi.
Sayangnya, penulisan alur Makoto
kali ini tidak sekuat penokohannya. Dia terlampau berambisi memasukkan unsur-unsur
besar guna melebarkan cakupan cerita, yang berujung melucuti keintiman romansa.
Weathering with You bukan lagi tentang
hubungan Hodaka-Hina semata tatkala konflik turut melibatkan investigasi
polisi, subplot soal keluarga Kei, sampai kritik terkait perubahan iklim yang
dipicu ulah manusia.
Makoto nampak kerepotan menangani
ambisinya sendiri, alhasil banyak elemen penceritaan dibiarkan menggantung
tanpa penjelasan. Pistol yang ditemukan Hodaka misalnya, keberadaannya terlalu
acak, bak hanya jalan keluar malas demi memperumit masalah. Sedangkan soal isu
perubahan iklim, Makoto tidak pernah secara tegas melempar kritik tersebut, menjadikan
konklusinya salah tempat sekaligus melucuti dampak emosi. Ya, Weathering with You adalah parade visual
cantik khas Makoto Shinkai, hanya saja kali ini minim rasa.
ANGEL HAS FALLEN (2019)
Rasyidharry
Agustus 21, 2019
Action
,
Danny Huston
,
Gerard Butler
,
Jada Pinkett Smith
,
Kurang
,
Matt Cook
,
Morgan Freeman
,
Nick Nolte
,
REVIEW
,
Ric Roman Waugh
,
Robert Mark Kamen
5 komentar
Angel Has Fallen membawa seri film Fallen
dari gelaran aksi destruktif berskala besar ke arah tontonan medioker yang
mayoritas bagiannya lebih pantas berjajar di rak DVD ketimbang diputar di layar
lebar. Dan bagi Gerard Butler, fakta bahwa ia kalah badass dibanding Nick Nolte yang telah menginjak 78 tahun, seolah
jadi pertanda bahaya untuk karirnya sebagai jagoan laga.
Jangankan Leonidas, Butler bahkan
tak lagi seprima tiga tahun lalu dalam London
Has Fallen. Dia tampak kepayahan dan kurang fit, yang sejatinya bisa
digunakan selaku materi menarik dalam eksplorasi naskah buatan sutradara Ric
Roman Waugh (Felon, Snitch) bersama
Robert Mark Kamen (The Fifth Element, The
Transporter, Taken) dan Matt Cook (Patriots
Day, Triple 9) tentang kondisi fisik sang protagonis.
Selepas menyelamatkan petinggi
negara dua kali, tubuh Mike Banning (Gerard Butler) mencapai batas. Gegar otak
membuatnya kerap mendadak pusing, pun tulang punggungnya semakin rapuh. Fisik
ditambah keberadaan keluarga, membuat Mike mulai berpikir hendak mengambil
pekerjaan di belakang meja sebagai direktur paspampres, walau sebagaimana diungkapkan
kawan lamanya, Wade Jennings (Danny Huston), Mike selamanya adalah singa yang
haus akan aksi di lapangan.
Tapi apa guna memberi penyakit pada
karakter bila itu cuma berpengaruh kala ia tidak sedang beraksi? Setiap Mike
mengangkat senjata, dia selalu baik-baik saja. Seperti saat ratusan drone coba
membunuh Presiden Allan Trumbull (Morgan Freeman), pula membantai seluruh
paspampres kecuali Mike. Dia sempoyongan sebelum serangan, namun tiba-tiba
segar bugar saat dibutuhkan. Bahkan Mike mampu selamat dari ledakan bom persis
di bawah tubuhnya!
Bukan saja satu-satunya paspampres
yang selamat, penyelidikan FBI yang dipimpinn Helen Thomposn (Jada Pinkett
Smith) menemukan DNA Mike di kendaraan pelaku bersama bukti-bukti lain yang
menyudutkannya. Malaikat penjaga Presien telah jatuh, namun kita tahu pasti,
nantinya Mike bakal berhasil membersihkan namanya. Tidak sulit pula menebak
siapa dalang di balik percobaan pembunuhan itu.
Tapi elemen alur semacam itu bukan
poin substansial dalam seri Fallen.
Seberapa besar, gila, dan bombastis adegan aksinya merupakan hal terpenting.
Sayang, khususnya di paruh pertama, penyutradaraan Ric Roman Waugh begitu
medioker, sukar mencerna detail adegan. Baku tembak maupun hantam dikemas lewat
quick cuts yang tersusun oleh
(terlalu) banyak shot, sedangkan aski
kejar-kejaran bertempat di latar super gelap, menghasilkan tensi nol besar.
Beruntung, sejurus kemudian
diperkenalkanlah sosok Clay (Nick Nolte), ayah Mike, yang meninggalkan
keluarganya selepas kembali dari Perang Vietnam dalam kondisi mengidap PTSD.
Dia hidup sendirian di kabin di tengah hutan, membangun terowongan bawah tanah
serta memasang bom perangkap yang cukup untuk meratakan seluruh area hutan. Jangan
mengharapkan kisah kekeluargaan emosional, tapi kehadiran Clay sanggup menambah
energi aksinya, membawa filmnya kembali ke hakikat seri Fallen, dengan ledakan-ledakan over
the top yang menambah daya hibur Angel
Has Fallen, di luar sentuhan humor yang tampil menggelitik berkat perilaku
antik plus kegemaran Clay berkelakar.
Berikutnya, Angel Has Fallen sempat cukup bernyawa, menyuguhkan aksi solidi di
tengah alur bertempo cepat, sebelum mencapai pertarungan puncak, sewaktu Ric
akhirnya memutuskan tak lagi menutupi perkelahian dengan trik kamera atau
penyuntingan.....yang malah berujung bencana. Tersusun atas penyutradaraan
lemah dan koreografi malas, kita hanya disuguhi dua pria paruh baya yang kurang
prima saling berpelukan, mencengkeram, lalu menggeram.
Tanpa ekspektasi apa pun, Angel Has Fallen berpotensi jadi hiburan
sekali waktu sebelum dengan mudah anda lupakan, tapi tatkala sebuah franchise dikenal karena aksi masif
berskala raksasa plus jagoan badass, percuma
melanjutkannya jika skala diperkecil sementara sang jagoan tidak lagi tampak
tangguh. Hasilnya murahan.
MISSION MANGAL (2019)
Rasyidharry
Agustus 20, 2019
Akshay Kumar
,
Biography
,
Hindi Movie
,
Jagan Shakti
,
Lumayan
,
R. Balki
,
REVIEW
,
Vidya Balan
4 komentar
Mengadaptasi lepas dari pelaksanaan
Mars Orbiter Mission (MOM) pada 2013
yang menjadikan India sebagai negara Asia pertama yang berhasil mencapai orbit
Mars, sekaligus negara pertama di dunia yang sanggup melakukannya pada
percobaan perdana, Mission Mangal yang
perilisannya bertepatan dengan hari kemerdekaan India sekaligus perayaan 50
tahun berdirinya Indian Space Research
Organization (ISRO) yang sama-sama jatuh pada 15 Agustus, membawa penonton
mengamati proses di balik layar dari eksekusi misi bersejarah tersebut.
Sudah tentu kontennya kental
bernuansa sains, namun Mission Mangal enggan
mengalienasi penonton awam lewat teknik pendekatan bak soal cerita, di mana
pemahaman didapat dari mengaitkan teori dengan aspek kehidupan sehari-hari.
Karena tergolong awam, saya tak
bisa mengonfirmasi akurasi filmnya, namun begitu kisah berakhir, kemungkinan
besar anda dapat menjelaskan “5W1H” terkait proses peluncuran roket PSLV-XL
C25. Contohnya, dibebani keterbatasan bahan bakar, bagaimana cara menerbangkan
roket yang aslinya dibuat untuk ekspedisi ke bulan agar mencapai orbit Mars?
Guru yang buruk bakal memaksa
muridnya memahami teori akademis atau rumus fisika tanpa memperhatikan
kemampuan atau modal ilmu dasar mereka, yang niscaya cuma menghasilkan sakit
kepala. Tapi Mission Mangal adalah
guru yang baik. Naskah garapan empat penulis termasuk R. Balki yang tahun lalu
menyutradarai Pad Man, mengaitkan
problematika itu dengan logika soal penghematan gas dalam memasak roti.
Singkat, mudah dipahami, dan penonton tak perlu tersesat dalam upaya memahami
formula sains.
Cerita dibuka dengan menunjukkan
kekacauan rutinitas pagi hari Tara Shinde (Vidya Balan). Dia mesti menyiapkan
sarapan, menghadapi puterinya yang meributkan habisnya pasta gigi, sang suami
yang selalu mengeluh, dan putera yang sibuk di depan layar komputer membuat
musik. Tapi dia bukan ibu rumah tangga. Tara adalah anggota ISRO. Dua aktivitas
yang sekilas bertolak belakang, namun sejatinya saling mengisi. Nantinya, Tara—dan
para ilmuwan lain—membuktikan itu saat mencetuskan ide-ide brilian yang
terinspirasi dari elemen keseharian, membuat filmnya menarik sekaligus gampang
dimengerti.
Tara merupakan anggota tim yang
dipimpin Rakesh Dhawan (Akhsay Kumar). Tim ini baru saja mengalami kegagalan
akibat kekeliruan analisis Tara, menyebabkan Rakesh “diasingkan” ke program
Mars yang kurang mendapat perhatian dari ilmuwan lain. Mengapa? Karena program
ini dianggap mustahil.
Merasa bersalah, Tara menawarkan
bantuan kepada Rakesh, meyakinkannya bahwa meluncurkan roket ke Mars bukan
kemustahilan walau membutuhkan kerja keras dan kesabaran. Benar saja, masalah
tak henti menghadang. Selepas diberi lampu hijau, keterbatasan terus saja jadi
lawan. Pemerintah menolak menyuntikkan dana bagi program dengan persentase
keberhasilan kecil, pun Rakesh dan Tara cuma disediakan anggota yang terdiri
dari muda-mudi kurang pengalaman, atau malah karyawan lansia.
Tapi tentu, mengikuti pola from zero to hero, kelak tim itu bakal
membuktikan kapasitasnya. Mereka hanya berlian yang belum terasah. Naskahnya
pun mampu menangani jajaran ensemble dengan
membagi sama rata kesempatan bersinar, kala satu per satu berkesempatan
memamerkan keahlian lewat metode-metode kreatif dalam menyelesaikan masalah.
Pujian serupa sayangnya tak bisa
diberikan kepada penanganan terhadap deretan subplot dan subteks. Sewaktu pesan
“Kejar mimpimu. Mimpi bukan sesuatu yang kamu lihat saat tidur. Mimpi adalah
sesuatu yang membuatmu tidak bisa tidur” mampu menambah bobot emosi serta
kehangatan—seperti dalam sebuah flashback
ketika anggota tim mengingat kali pertama mereka bermimpi menjadi ilmuwan—ada
juga kisah setengah matang dalam wujud konflik keluarga Tara, yang awalnya
berjalan apik serta kompleks, hanya untuk diakhiri dengan terlampau mudah.
Dan ketika elemen soal perpaduan
religi dengan sains berupa proses saling melengkapi atara kekuatan doa dan ilmu
pengetahuan jadi suatu selipan segar, Mission
Mangal membuang kesempatan mempresentasikan tuturan kuat tentang women’s empowerment. Tidak seutuhnya
dikesampingkan, hanya masih “malu-malu”. Fakta bahwa tim mayoritas diisi wanita
mengingatkan saya akan Hidden Figures, sayangnya
elemen ini kurang diberi sorotan. Silahkan baca kisah sesungguhnya dan anda
bakal menemukan perjuangan para wanita yang lebih luar biasa.
Meninjau segi teknis, pencapaian Mission Mangal jelas tidak bisa dipandang
remeh, termasuk CGI solid dalam membungkus peluncuran roket. Biarpun klimaksnya
agak goyah dan terasa kosong dibanding babak-babak sebelumnya akibat Jagan
Shakti selaku sutradara cenderung menitikberatkan pada pemanangan digital
(layar komputer, satelit yang mengorbit) ketimbang aspek humanis, keeluruhan, Mission Mangal tetap suguhan dengan
hati. Tidak banyak tontonan dengan kadar sains kental mampu menampilkan proses
di balik layar dengan lumayan komplet sembari menjadi hiburan yang gampang
diakses segala kalangan.
EXIT (2019)
Rasyidharry
Agustus 20, 2019
Action
,
Comedy
,
Jo Jung-suk
,
Korean Movie
,
Lee Sang-geun
,
REVIEW
,
Ryoo Seung-wan
,
Sangat Bagus
,
Yoona
14 komentar
Film bagus sanggup menyajikan
beberapa momen menegangkan, namun saat ketegangan berlangsung sepanjang durasi,
artinya kita sedang menyaksikan suatu karya spesial. Diproduseri oleh Ryoo
Seung-wan sang ekspertis film crowd
pleaser (Veteran, The Battleship Island),
Exit—yang sampai tulisan ini dibuat
merupakan film Korea Selatan terlaris ketiga selama 2019—untuk sementara
merupakan sajian paling intens tahun ini.
Sutradara sekaligus penulis naskah
debutan, Lee Sang-geun tahu, bahwa untuk mendobrak tembok pemisah antara
fantasi (film) dan realita (penonton), wajib hukumnya memunculkan kepedulian
atas karakter. Di situlah partisipasi elemen cerita keluarga dibutuhkan, yang
membuka kisahnya lewat papara komedik mengeai kehidupan Yong-nam (Jo Jung-suk).
Yong-nam tak ubahnya pecundang.
Seorang pengangguran, yang sebagaimana ia deskripsikan sendiri, mengisi
hari-hari hanya dengan tidur, makan, dan buang air besar. Gaya hidup itu kerap
memancing amarah kakak perempuannya, sedangkan kedua orang tua Yong-nam gemar
cekcok akibat hal kecil. Ketika ulang tahun ke-70 sang ibu datang, Yong-nam
seolah melangkah memasuki neraka dunia, di mana ia banyak dipandang remeh oleh
keluarga besarnya.
Pembukaan itu bukan sebatas
pemenuhan obligasi layaknya banyak film bertema bencana lain, yang mengawali
kisah melalui drama hampa sebelum kekacauan pecah. Prolognya ceria,
menggelitik, dan terpenting, memberi pondasi bagi karakter. Kita mengenal satu
per satu saudara Yong-nam melalui celaan yang dilontarkan, dan nantinya,
masing-masing mendapat peran penting meski kecil. Alhasil, jajaran karakter
pendukungnya pun menancap di ingatan.
Yong-nam memilih menggelar ulang
tahun ibunya di lokasi yang jauh dari rumah. Dia beralasan, tempat itu
memperoleh ulasan positif di internet, tapi kita tahu, alasan sebenarnya adalah
karena Eui-joo (Yoona), gadis yang menolak cintanya semasa kuliah, bekerja di sana sebagai Vice Manager. Tapi keduanya punya satu
kemiripan, yaitu ketertarikan pada panjat tebing. Satu-satunya talenta yang
bisa Yong-nam banggakan.
Malam berjalan damai hingga seorang
teroris melepaskan gas beracun yang dapat mengakibatkan kematian bila dihirup
atau mengenai tubuh manusia. Gas itu mampu memperluas jangkauan, lalu dengan
cepat mengakibatkan kekacauan di seluruh kota. Dibantu Eui-joo, Yong-nam
berusaha menyelamatkan keluarganya, tapi hanya ada satu jalan keluar: atap
gedung. Sebab, selain gas yang pelan-pelan naik, itulah satu-satunya tempat
yang mampu dijamah helikopter penyelamat.
Exit tidak pernah kehilangan cengkeraman berkat naskah yang muncul
dengan beragam rintangan. Deretan rintangan gila didesain secara kreatif oleh
Lee Sang-geun, dan mayoritas melibatkan kegiatan memanjat, melompat, atau
meniti. Kita dibuat menduga-duga bagaimana karakternya bisa lolos, dan Exit terus menampilkan solusi kreatif,
yang biarpun gila, tidak sepenuhnya tanpa otak. Kurang tepat disebut realistis,
namun bukan pula suatu kemustahilan.
Karena itu, karakternya bukan
pahlawan super. Mereka individu rapuh yang “kebetulan” memiliki kemampuan yang
cocok untuk menyelamatkan diri. Pun Yong-nam maupun Eui-joo tak digambarkan
sebagai sosok heroik. Mereka hanya nekat, masih merasakan takut, bahkan
sesekali, hati kecil keduanya menyesali pengorbanan yang dilakukan. Bagi
Yong-nam, kenekatannya didasari sikap “nothing
to lose”, mengingat keluarga Yong-nam memandangnya tidak berguna. Dia
merasa kenekatan tersebut bisa membuktikan bahwa ia berguna. Alasan itu memicu
kepedulian dalam segala aksi gila yang ia lakukan.
Kata “gila” bukanlah hiperbola.
Selain set pieces kreatif dengan
kadar bahaya yang terus meningkat, tanpa penyutradaraan solid Lee Sang-geun,
semuanya akan berakhir di ranah konsep belaka. Dibantu musik ritmis gubahan
Mowg (I Saw the Devil, The Age of
Shadows, Burning) yang efekif memacu detak jantung tanpa menciptakan
distraksi, Sang-geun piawai memilih sudut kamera, mengatur tempo, serta
mengatur penempatan momen guna menjaga kestabilan tensi. Meneruskan track record sineas Korea Selatan, baik
selaku sutradara atau penulis, Sang-geun kompeten melahirkan dramatisasi
melalui unsur keluarga.
Keluarga adalah pondasi. Contohnya
di babak ketiga, saat kita menyaksikan perjuangan dua protagonisnya bersama
keluarga Yong-nam. Kita tegang seperti mereka, bersorak seperti mereka,
ketakutan seperti mereka. Nyawa Yong-nam dan Eui-joo jadi lebih berharga, sebab
kepulangan mereka dinantikan orang-orang tercinta.
Terkait akting, Jo Jung-suk
sempurna menghidupkan sosok “everyday guy”.
Dia bukan jagoan super, sebatas pria bertalenta, dan kita mempercayai talenta
tersebut, tatkala Jong-suk melakoni deretan stunt
secara meyakinkan. Sedangkan penampilan Yoona mencerminkan personanya di variety show yang mencuri hati jutaan
orang. Begitu mudah jatuh cinta pada dua sisinya: Si gadis lucu nan menggemaskan,
serta wanita tangguh yang mampu mencetuskan ide-ide cerdik bahkan di situasi
darurat sekalipun.
Sewaktu berbagi layar, Jong-suk dan
Yoona menawarkan interaksi dinamis sebagai tim sempurna yang mendorong kita
bersorak kala menyaksikan keberhasilan mereka. Dan dalam usaha Exit menjadi hiburan ringan, keduanya
tampil bak duo komedik yang telah sekian lama berduet. Ya, biarpun menegangkan,
Exit sarat kelucuan, yang (lagi-lagi)
dibalut kreativitas tinggi. Siapa sangka mode panggilan video bisa dipakai
sedemikian rupa seperti yang dilakukan karakter film ini?
Saya siap menganugerahkan nilai
sempurna andai bukan karena kemasan konklusinya. Usaha Exit “menipu” penonton terkait nasib kedua protagonis justru
mengorbankan intensitas yang susah payah dibangun, lalu mengakhiri perjuangan
mereka secara antiklimaks. Tapi itu sebatas lubang kecil dibanding pencapaian
keseluruhan film, yang menyuguhkan ketegangan luar biasa.
THE ANGRY BIRDS MOVIE 2 (2019)
Rasyidharry
Agustus 19, 2019
Animated
,
Bill Hader
,
Brooklynn Prince
,
Danny McBride
,
Eyal Podell
,
Jason Sudeikis
,
Jonathon E. Stewart
,
Josh Gad
,
Leslie Jones
,
Lumayan
,
Peter Ackerman
,
Rachel Bloom
,
REVIEW
,
Thurop Van Orman
8 komentar
Receh. Itu respon umum yang akan
muncul selepas menonton The Angry Birds
Movie 2, sebuah film di mana dalam kepala para penulis, yang terdiri dari
Peter Ackerman (Ice Age), Jonathon E.
Stewart , dan Eyal Podell, tak pernah terbersit keinginan tampil pintar apalagi
serius, dengan menyusun komedinya atas situasi absurd, seperti saat seekor burung
kecil menggelembung, terbang bak balon hingga melewati atmosfer, bertabrakan
dengan satelit, sementara Space Oddity milik
David Bowie mengiringi.
Itu cuma satu dari banyak perbedaan
sekuel ini dibading pendahulunya. Berbeda dari film pertama yang setia
mengikuti sumber adaptasinya ketika humor, aksi, maupun cerita dibuat mengacu
pada gameplay, The Angry Birds Movie 2
memilih rute lain, yang menunjukkan usaha menghindari repetisi.
Bagian awalnya masih familiar.
Setelah peristiwa di film pertama, Red (Jason Sudeikis) tak lagi dikucilkan,
malah dielu-elukan sebagai pahlawan. Berkatnya, penghuni Bird Island menemukan
metode transportasi baru menggunakan ketapel. Dan rutinitas di sana pun tetap
sama, yakni perang prank antara
burung melawan babi, di mana Red bersama Chuck (Josh Gad) dan Bomb (Danny
McBride) bertindak selaku pelindung pulau.
Tapi, serupa gimnya, pulau baru “terbuka”.
Leonard (Bill Hader) si raja kaum babi, menemukan pulau ketiga. Sebuah pulau
bernama Eagle Island yang dipimpin oleh Zeta (Leslie Jones). Zeta berambisi
menguasai dua pulau lain dengan cara menembakkan bola es raksasa, sebab ia
lelah tinggal di tempat beku. Karena semua air menjadi es batu, ia tidak bisa
berenang mandi, sikat gigi, bahkan kesulitan menyantap makanan.
Kehadiran musuh bersama tersebut
memaksa para burung dan babi bersatu menjalankan misi heist yang tak melibatkan aktivitas terbang memakai ketapel.
Kalimat di atas rasanya cukup memberi gambaran bagaimana The Angry Birds Movie 2 sejatinya merupakan adaptasi lepas.
Tidak ketinggalan pula beberapa
subplot. Pertama soal ketakutan Red, bahwa jika ia kehilangan status pahlawan,
orang-orang akan meninggalkannya lagi. Alhasil Red merasa terancam saat Silver
(Rachel Bloom), burung jenius yang canggung dalam kehidupan sosial yang
kebetulan juga adik Chuck, bergabung dalam tim. Sepanjang mayoritas durasi, Red
adalah sosok egois menyebalkan yang bersedia mempertaruhkan keselamatan burung
lain demi urusan pribadi. Saya pun mendapat kepusan sewaktu akhirnya Red
menyadari kekeliruan itu, lalu mengakui jika Silver jauh lebih mampu.
Subplot lain melibatkan petualangan
Zoe (Brooklynn Princne) beserta dua temannya guna menyelamatkan telur adik-adik
Zoe yang mereka hilangkan kala bermain. Awalnya, subplot ini bagai kisah Scrat
di Ice Age (bukan kejutan mengingat
keberadaan Peter Ackerman) yang tak punya kaitan dengan alur utama, sebelum
dipaksa terkoneksi, sebagai sebuah solusi terlampau mudah bagi konflik di
klimaks. Walau menjadi “alat plot” yang buruk, perjalanan tiga burung kecil
menggemaskan (tapi bisa pula bersikap ganas) ini berjasa menyajikan deretan humor
paling segar, paling lucu, paling kreatif, dan tentunya paling receh di film
ini.
Di samping Space Oddity, The Angry Birds
Movie 2 memang memiliki beragam koleksi lagu dari berbagai genre (Eye of the Tiger, Baby Shark,Turn Down for
What) yang menghibur indera pendengaran, meski kerap membuat filmnya bagai
jukebox, tatkala seringkali, begitu sebuah lagu berakhir—setelah hanya diputar
secara singkat—lagu lain langsung menyusul seketika.
Tanpa ketapel, aksi macam apa yang
ditawarkan? Pada dasarnya masih di area slapstick
klise bertempo cepat, namun klimaksnya berhasil memunculkan kepuasan lewat
penebusan bagi premis soal bersatunya burung dan babi. Berkat pengarahan
sutradara debutan Thurop Van Orman yang bertenaga, babak finalnya menyenangkan
dan memuaskan, sebagaimana keseluruhan The
Angry Birds Movie 2 yang enggan pasrah terjangkit penyakit khas sekuel,
yaitu kemalasan.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)




















10 komentar :
Comment Page:Posting Komentar