JAFF 2018 - AVE MARYAM (2018)
Rasyidharry
November 30, 2018
Allan Sebastian
,
Chicco Jerikho
,
Drama
,
Ertanto Robby Soediskam
,
Ical Tanjung
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
Maudy Koesnaedi
,
REVIEW
,
Tutie Kirana
6 komentar
Ave Maryam membuktikan betapa perfilman kita masih terjebak pada
monotonitas tema. Bukan karena karya terbaru Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita) ini luar
biasa. Sebaliknya, fakta bahwa filmnya tampak segar dan menonjol meski hasilnya
tak sebegitu hebat apalagi baru (dibanding sinema dunia secara umum) saat eksplorasi
temanya masih menyimpan setumpuk pekerjaan rumah, makin menegaskan permasalahan
tersebut.
Ditulis sendiri naskahnya oleh
Robby, Ave Maryam mengisahkan
biarawati bernama Maryam (Maudy Koesnaedi) yang jatuh cinta pada Yosef (Chicco
Jerikho), seorang pastor baru. Maryan menghabiskan rutinitasnya merawat para
biarawati tua, memandikan, menyediakan makanan hingga obat-obatan. Tapi dalam
hatinya tersimpan hasrat membara yang ditekan kuat-kuat. Itulah mengapa, ketika
sang pastor muda nan tampan hadir, jalan hidup Maryam berubah.
Ini adalah kisah mengenai sosok
relijius yang mengambil sumpah suci, tapi ternyata ia tak sesuci kelihatannya
(atau semestinya?). Tentu saya berharap melihat perjuangannya, kesulitan yang
dialami dalam upaya menekan ketidaksucian itu. Ave Maryam urung menghadirkannya dengan kadar memadahi. Hanya
muncul satu momen singkat kala Maryam membaca novel esek-esek, itu pun tanpa menampakkan bagaimana proses pikir dan “merasa”
yang dialami Maryam pula bagaimana tahapan stimulus-respon yang dilaluinya.
Buku hanya dibaca, ditutup, lalu rutinitas biasa berlanjut.
Demikian juga Yosef yang sempat
dideskripsikan ingin menghadirkan perubahan. Kita melihatnya menari bersama
para biarawati , tapi tidak dengan pemikiran dan ideologinya. Serupa Maryam, cuma
terselip sebuah momen pendek jelang akhir tatkala ia mempertanyakan konsep
dosa.
Ave Maryam malah menghabiskan mayoritas paruh pertama membagi fokus
ruang personal tokoh utama dengan hal lain, termasuk paparan tentang seorang
biarawati senior (Tutie Kirana) yang menjalin kedekatan dengan Yosef, di mana
paparan ini nyaris terasa sebagai red
herring. Betul, presentasi lingkungan sekitar Maryam diperlukan, namun demi
memperkaya karakternya alih-alih berujung mengorbankan eksplorasi sisi
personalnya.
Butuh waktu sampai Ave Maryam benar-benar menemukan
pijakan, tepatnya saat romansa Maryam dan Yosef mulai bersemi. Dilema Maryam tersampaikan
berkat kepiawaian Maudy berekspresi ketika tuturan verbal ditekan seminimal
mungkin. Sebagai pastor aktif nan bersahabat yang sanggup menembus benteng hati
Maryam, aksi Chicco pun asyik disimak.
Romansanya tampil apik lewat beberapa
kencan “kucing-kucingan” yang tak jarang menggelitik karena kecanggungan
mereka. Adegan favorit saya pun terjadi di tengah kencan, sewaktu Maryam dan
Yosef duduk diam di sebuah cafe, sementara dialog dari film yang diputar di sana menjadi latar
sekaligus mewakili isi hati masing-masing. Pemandangan kreatif ini
turut memperlihatkan bagaimana film acap kali dapat bertindak sebagai media ekspresi
perasaan yang sukar diutarakan. Sayangnya dinamika itu berakhir dini, tepat saat
situasi makin menarik dan intensitas emosional mencapai titik tertinggi
(berkulminasi pasca adegan yang saya yakin takkan muncul di versi bioskop
komersil). Sulit menampik pemikiran jika Ave
Maryam bakal bekerja lebih efektif sebagai film pendek berdurasi 30-45
menit.
Tapi kelemahan naskah perihal
pengembangan alur mampu ditebus penulisan kalimat kaya makna, yang bukan
sebatas indah, juga sesuai dengan usungan tema Catholicism filmnya. Dari “Aku ingin melihat lautan tapi tidak mau
terperangkap dalam ombak”, “Jika surga belum pasti untuk saya, mengapa saya
urusi nerakamu?” (maaf jika beberapa kutipan kata meleset), hingga
kalimat-kalimat lain, sukses meninggalkan kekaguman.
Ave Maryam pun tak diragukan adalah suguhan dalam negeri tercantik yang
saya tonton sepanjang tahun. Pemakaian static
shot memberi kesempatan bersinar untuk desain artistik buatan Allan Sebastian (Kartini, Pengabdi Setan), color
grading menawan, sampai sinematografi Ical Tanjung (A Copy of My Mind, Pengabdi Setan) yang jeli memainkan pencahayaan plus
memilih sudut cantik dibantu mise-en-scène
presisi. Pun kita, penonton, punya waktu lebih guna
menyerap pencapaian elemen-elemen artistik di atas. Ave Maryam mungkin belum menghadirkan kedalaman eksplorasi berani,
tapi setidaknya, tampak segar ketimbang banyak film lokal lain seperti yang
diharapkan.
JAFF 2018 - KELUARGA CEMARA (2018)
Rasyidharry
November 30, 2018
Asri Welas
,
Bagus
,
Drama
,
Gina S. Noer
,
Indonesian Film
,
Nirina Zubir
,
REVIEW
,
Ringgo Agus Rahman
,
Widuri Puteri
,
Yandy Laurens
,
Zara JKT48
13 komentar
Di tangan yang salah, Keluarga Cemara bisa berujung suffering porn, di mana tiap sudut
ibarat musibah yang melulu memicu ratap tangis. Beruntung, naskahnya ditangani
duo penulis, Yandy Laurens dan Gina S. Noer (Posesif, Kulari ke Pantai) yang tahu batas pemisah antara
dramatisasi dengan eksploitasi, juga penyutradaraan berbekal pemahaman milik
Yandy perihal kapan serta seberapa dramatisasi perlu diterapkan. Adaptasi sinetron
legendaris Keluarga Cemara (1996-2005)
yang juga dibuat berdasarkan kumpulan cerita pendek berjudul sama karya
Arswendo Atmowiloto ini pun menjadi drama keluarga yang menyentuh hati lewat
kehangatan alih-alih kesedihan.
Walau bukan hyperrealism (dan tak
perlu menjejakkan kaki ke sana), Keluarga
Cemara coba tampil senyata mungkin. Mengambil latar sebelum peristiwa di
sinetron, filmnya memulai kisah kala Cemara (Widuri Puteri) sekeluarga masih
hidup makmur, sehingga menyulut pertanyaan, “Bagaimana mungkin Abah si
pengusaha properti jatuh begitu dalam hingga memilih profesi tukang becak?”.
Rupanya film ini mampu menawarkan
jawaban logis yang juga relevan bila dihadapkan pada situasi sosial sekarang
(salah satunya berbentuk peletakkan produk cerdik). Beberapa perubahan perlu
dilakukan, namun tanpa mengkhianati substansi materi asalnya, bahkan masih
sempat menyelipkan deretan referensi untuk momen-momen ikonik sinetronnya, dalam
penempatan tepat yang selaras dengan keperluan cerita ketimbang bentuk
pemaksaan diri menebar easter eggs.
Alkisah, kejatuhan Abah (Ringgo
Agus Rahman) memaksa keluarganya pindah ke rumah masa kecilnya di sebuah desa
di Jawa Barat. Abah terjerat rasa bersalah, terlebih setelah mendapati faktor
usia menyulitkannya memperoleh pekerjaan layak secepatnya, sedangkan di saat
bersamaan Emak (Nirina Zubir) mesti ikut menyokong ekonomi keluarga, Cemara
harus berjalan jauh menuju sekolah, dan Euis (Zara JKT48) terpaksa bersekolah
di tempat baru, meninggalkan para sahabat (sekaligus rekan tim dance) lamanya.
Khususnya bagi Euis yang tengah
menginjak masa remaja awal, perubahan tersebut amatlah berat, yang akhirnya
menyulut salah satu konflik utama, termasuk pertengkaran beruntun dengan Abah.
Sosok Abah sendiri belum sebijak versi Adi Kurdi di sinetron. Wajar, sebab ia masih pria berusia prima (35
tahun) yang tiba-tiba terjerembab ke titik terendah hidupnya. Dampaknya, emosi
gampang tersulut, keputusan-keputusan buruk dibuat, kalimat-kalimat menyakitkan
terlontar, menjauhkannya dari kesempurnaan, yang mana merupakan wujud
karakterisasi menarik.
Bukan berarti anggota keluarga lain
dikesampingkan. Cemara sang peluluh hati keluarga diperankan begitu alamiah
oleh peforma kaya dinamika milik Widuri. Tingkah laku dan tutur katanya mampu
mendinginkan pertikaian panas. Tapi tiang penyangga keluarga sesungguhnya adalah
Emak. Berkatnya, keluarga tetap berdiri meski kerap terombang-ambing. Emak
menyediakan tempat mengadu, meluapkan kegundahan terpendam, meski artinya, ia
dituntut menyimpan beban berlebih dalam hati yang bisa kita lihat jelas melalui
tatapan kaya rasa Nirina.
Gempuran masalah-masalahnya adalah
gambaran keseharian yang tak terasa episodik, sebab Yandy dan Gina bukan sedang
mengadaptasi mentah-mentah sinetronnya. Pun di sela-selama problematika, Keluarga Cemara bersedia menyegarkan
suasana berkat kemampuan jajaran pemeran pendukung—pastinya termasuk Asri Welas
sebagai “loan woman turns enter woman”—memaksimalkan
gaya hiperbola guna memancing tawa.
Pilihan lagu-lagunya tak kalah
memikat. Berasal dari beragam genre
dan masa, membentang dari Sepanjang Jalan
Kenangan, Tentang Rumahku, sampai Harta
Berharga versi Bunga Citra Lestari, berbagai adegan diiringi, dengan mood berhasil terwakili. Ketepatan pemilihan
lagu termasuk pembuktian kepekaan Yandy terkait membangun suasana dan rasa.
Kalau mau, tearjerker bisa saja
diciptakan dari semua konflik, namun ia bersedia menunggu hingga tiba titik
terbaik untuk meletupkannya. Resolusinya menghadirkan payoff melalui ekspresi cinta kasih jujur nan sederhana yang bakal
menumpahkan air mata.
Keberhasilan momen tersebut tak lepas
juga dari kombinasi Ringgo-Zara. Walau perlu mengasah lagi kemampuan menangani
ledakan amarah yang belum seberapa meyakinkan, sebagai ayah lembut, Ringgo piawai
mencuri hati. Sementara Zara memberi kejutan terbesar, ketika air mata dan
senyumnya bisa memicu penonton memunculkan respon serupa sewaktu menyaksikan
adegan puncak.
Tidak ada konflik pengancam
pernikahan, tidak ada murid baru dari kota jadi korban perundugan, tidak ada anak bermasalah yang memberontak (hanya beberapa ketidakpatuhan), tidak ada
penyakit kronis dan kecelakaan (Thank
God!), atau masalah-masalah tak perlu lain. Keluarga Cemara menyulut tangis tanpa menjual air mata semata, pula memperlihatkan
perjuangan tanpa mengeksplotasi penderitaan. Karena akhirnya, film ini “cuma” memaparkan
nilai kekeluargaan sederhana tentang memiliki dan dimiliki, menjaga dan dijaga, di mana
kala semua bersatu dalam harmoni, tercipta harta yang paling berharga:
Keluarga.
CREED II (2018)
Rasyidharry
November 29, 2018
Dolph Lundgren
,
Juel Taylor
,
Michael B. Jordan
,
REVIEW
,
Sangat Bagus
,
Sports
,
Steven Caple Jr.
,
Sylvester Stallone
,
Tessa Thompson
,
Vlorian Munteanu
7 komentar
Biarpun ikonik dan menghibur, harus
diakui bahwa Ivan Drago (Dolph Lundgren) adalah antagonis satu dimensi, “karakter
kartun”, yang sebagaimana Rocky IV
(1985), merupakan produk politis pada masa Perang Dingin. Kini, sewaktu masa
itu tinggal sejarah, Creed II menjadikan
Ivan salah satu tokoh paling menarik sepanjang eksistensi franchise-nya, ketika ia bersama sang putera, Viktor Drago (Vlorian
Munteanu) berusaha menulis ulang sejarah.
Sekuen pembukanya, walau singkat,
namun efektif memaparkan inti hubungan dua generasi Drago. Hubungan yang
dingin. Dahulu, Ivan bak robot yang diciptakan Rusia guna menegaskan kejayaan
negara. Sedangkan Viktor diciptakan oleh Ivan sebagai mesin pembalas dendam
demi mengembalikan kejayaan. Bukan perihal negara, melainkan kejayaan personal.
Sempat dianggap pahlawan, jangankan dielu-elukan, sekarang Ivan hidup terasing
di Ukraina, pun dicampakkan sang istri. Poin ini nantinya menghasilkan momen
memilukan yang seketika menjadikan Ivan Drago sesosok manusia biasa dengan
kerapuhan.
Ya, drama klan Drago memang
memikat, tapi ini tetap film milik Adonis Creed (Michael B. Jordan), dan
perhatian lebih yang diberikan bagi antagonis tak sampai membuat protagonis
terpinggirkan. Kita bertemu Adonis lagi ketika ia akhirnya mengalahkan Danny “Stuntman”
Wheeler (Andre Ward) dan mengklaim gelar tinju dunia kelas berat, dalam suatu
momen emosional yang memperlihatkan kapasitas Tessa Thompson membuat kalimat
sederhana (“Did you know what just
happened?”) terdengar menyentuh hati. Sebagai Bianca, ia tak ubahnya versi
lebih aktif dari Adrian. Berkat para wanita ini, perjuangan dua tokoh utama
seri Rocky lebih bermakna.
Berhasil mengikuti jejak mendiang
ayahnya ternyata belum cukup bagi Adonis. Dia ingin meninggalkan jejaknya
sendiri, sehingga saat ayah-anak Drago menantangnya, Adonis tak gentar. Seperti
mereka, Adonis pun ingin menulis ulang sejarah, kala 33 tahun lalu, Apollo
Creed tewas di tangan si petarung Rusia. Tapi Rocky (Sylvester Stallone)
berbeda pemikiran. Menurutnya, pertarungan tersebut bukan saja berbahaya, juga
tidak perlu. Rocky pun menolak permintaan Adonis melatihnya, sebab, sebagaimana
pernyataannya kepada Ivan, dia bukan “hari
kemarin yang ingin jadi hari ini”.
Bicara soal reuni Rocky Balboa-Ivan
Drago, pertemuan kembali keduanya turut menyediakan panggung bagi Stallone dan
Lundgren untuk membuktikan kualitas akting. Kedua aktor veteran ini bagai wine
yang semakin tua semakin nikmat. Pertambahan usia memberi mereka pengalaman,
kompleksitas, dan kelelahan yang dipupuk penderitaan bertahun-tahun baik
sebagai karakter yang diperankan maupun diri sendiri. Andai Creed II dirilis satu atau dua dekade
lalu, saya bisa membayangkan Dolph Lungren menyabet nominasi Oscar perdananya.
Di luar arena tinju, Creed II menampilkan drama keluarga
mengenai rekonsiliasi, sedangkan pertarungan dalam arena merupakan manifestasi narasi
tersebut. Serupa film-film terbaik Rocky,
pertarungannya didasari cinta. Kali ini pun, kita melihat rekonsiliasi
keluarga, tatkala kekuatan terbesar Adonis bukan dipicu amarah atau hasrat
balas dendam, tetapi layaknya Rocky dahulu, cinta. Dan serupa suguhan terbaik
seri Rocky pula, sutradara Steven
Caple Jr. (The Land) menyuguhkan
montase latihan keras nan membara yang turut memamerkan kelayakan Michael B.
Jordan meneruskan tongkat estafet dari Sly sebagai jagoan tangguh.
Bagi saya, sekuen latihan terbaik dimiliki
Rocky III (1982) berkat dampak nyata kepada
pertarungan puncaknya. Gaya serta taktik bertinju Rocky kala mengungguli
Clubber Lang dibangun dari situ. Begitu pula di film ini. Adonis merupakan
tubuh yang melancarkan serangan bertubi-tubi, sementara otaknya ialah Rocky,
selaku satu-satunya orang yang mengetahui cara mengalahkan Drago. Elemen itu
adalah pencapaian tersendiri bagi naskah tulisan Stallone bersama Juel Taylor,
sewaktu proses “passing the torch”
dilakukan sembari tetap menghormati karakter lama. Rocky mungkin bukan lagi
jagoan utama, tapi kontribusinya luar biasa.
Banyak mempresentasikan drama tak
membuat Caple Jr. melupakan esensi sebagai film tinju. Adegan tinjunya
menghibur sekaligus intens, dengan hantaman demi hantaman keras, juga Victor
Drago sebagai lawan intimidatif yang bakal membuat tubuh bergetar tiap kali ia
merangsek, hendak melancarkan serangan. Tambahkan lagu tema Rocky, maka kita memperoleh klimaks yang
memancing sorak sorai, teriakan, bahkan mungkin air mata dikarenakan euforia. Creed II adalah suguhan terbaik seri Rocky sejak film pertamanya 42 tahun
lalu.
RALPH BREAKS THE INTERNET (2018)
Rasyidharry
November 26, 2018
Alan Tudyk
,
Animated
,
Gal Gadot
,
John C. Reilly
,
Pamela Ribon
,
Phil Johnston
,
REVIEW
,
Rich Moore
,
Sangat Bagus
,
Sarah Silverman
19 komentar
Ralph Breaks the Internet adalah Inside Out versi gim dan internet dalam hal kepintaran serta
kreativitasnya membangun dunia. Seperti normalnya sekuel, cakupan diperluas.
Kalau Wreck-It Ralph “hanya”
menunjukkan apa yang karakter permainan arkade lakukan saat tak sedang
dimainkan manusia, sekuel ini berpindah ke dunia yang lebih besar, yakni
internet, tempat yang memiliki segalanya, dan Ralph Breaks the Internet memanfaatkan itu untuk menciptakan dunia
kreatif nan kaya, disertai cara kerjanya.
Enam tahun berlalu sejak peristiwa
film pertama, dan kini Ralph (John C. Reilly) hidup bahagia, tak lagi dipandang
sebagai perusak jahat, dan bersahabat dengan Vanellope (Sarah Silverman), di
mana mereka setiap hari menghabiskan waktu bersama di tempat dan waktu yang
sama. Bagi Ralph, rutinitas tersebut merupakan kedamaian, namun Vanellope ingin
lebih. Dunia manis sarat warna di Sugar
Rush tak lagi seberwarna itu baginya, dengan balapan yang terlampau gampang
sebab Vanellope sudah hafal semua trik dan track.
Pasca sebuah kecelakaan yang
berpotensi membuat Sugar Rush ditutup
selamanya, dan demi menyelamatkannya, dua protagonis kita memulai perjalanan
menuju internet. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, mereka terpukau
melihat dunia tanpa ujung yang internet tawarkan. Begitu pun saya kala
mendapati bagaimana di Ralph Breaks the
Internet, berbagai aspek dalam internet bertransformasi menghasilkan lingkungan
imajinatif yang hidup lengkap dengan rutinitasnya sendiri.
Pop-up ads menjadi penjaja produk yang agresif, eBay merupakan
tempat lelang, mesin pencarian adalah pria bernama KnowsMore (Alan Tudyk) yang
mengetahui semuanya, dan lain-lain. Fakta bahwa hal-hal di atas cocok dengan
cara kerja internet di realita, jadi bukti kecerdikan duo penulis naskahnya,
Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village)
dan Phil Johnston (juga selaku sutradara). Pun terdapat setumpuk detail kecil,
yang dijamin bakal memberi penemuan baru untuk pengalaman menonton berulang.
Bila film pertamanya menyimpan
setumpuk cameo karakter gim, Ralph Breaks the Internet punya beragam
produk internet serta referensi kultur populer dalam beraneka bentuk (yang
lagi-lagi) kreatif. Dan selaku produsen, wajar saat referensi untuk Disney
paling kaya. Anda akan mendengar The Imperial March kala menyambangi area
Star Wars; meet & greet dengan seorang tokoh MCU; dan sebagaimana trailer-nya tampilkan, Disney Princess.
Beberapa karakteristik mereka dijadikan lelucon menggelitik termasuk sebuah
elemen yang baru saya sadari di sini. Elemen yang melibatkan musikal.
Ya, film ini turut menghadirkan
satu adegan musikal, yang oleh duo sutradara, Rich Moore (Wreck-It Ralph, Zootopia) dan Phil Johnston, dikemas dalam visual
meriah ditambah musik megah gubahan Henry Jackman (Captain America: Civil War, Jumanji: Welcome to the Jungle).
Hasilnya adalah gegap gempita indah yang dewasa ini, mungkin hanya sanggup
ditandingi La La Land, yang oleh Ralph Breaks the Internet turut
dijadikan acuan subtil.
Kembali ke perihal Disney Princess,
saya terkecoh kala mengira pertemuan tersebut hanya bakal jadi sempilan ringan
pengisi durasi. Rupanya momen itu berguna menyampaikan salah satu pesan
filmnya. Rapunzel bertanya pada Vanellope, “Do
people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?”.
Vanellope mengiyakan. Ralph sendiri belakangan semakin posesif, ingin Vanellope
selalu dan hanya bersamanya. Tatkala Ralph bersusah payah meyakinkan Vanellope
jika Slaughter Race terlalu berbahaya baginya, si gadis cilik menampik
pernyataan itu. Poin tersebut selaras dengan upaya rebranding Disney terhadap karakter wanitanya yang makin independen
di tiap sendi kehidupan, bukan saja soal percintaan.
Oh, saya lupa menjelaskan mengenai
Slaughter Race, sebuh permainan balapan brutal, sarat kekerasa, berbanding
terbalik dengan kesan warna-warni manis bagi semua umur milik Sugar Rush. Vanellope
menemukan hasratnya kembali begitu menyadari ketiadaan batasan di Slaughter
Race. Tidak ada lintasan monoton, dan ia bebas bermanuver sesuka hati.
Jangankan Vanellope, bukankah itu alasan permainan open world macam Grand Theft
Auto maupun Red Dead Redemption
amat digandrungi?
Slaughter Race dikuasai pembalap
wanita bernama Shank yang diisi suaranya oleh Gal Gadot dalam salah satu
performa terbaiknya, berkat kemampuan menyuntikkan dinamika untuk menjadikan
Shank sosok keren berkharisma. Wajar Vanellope mengaguminya. Ralph? Tentu Ralph
membenci Shank. Baginya, wanita itu tidak bisa dipercaya, walau kita tahu, itu
sebatas ungkapan kecemburuan. Konflik itu berujung pada konklusi menyentuh
setelah kita disuguhi gelaran aksi raksasa ala King Kong. Dari dunia yang teramat kaya, lelucon pintar, hingga
drama emosional, Ralph Breaks the
Internet mungkin rilisan “paling Pixar” dari Walt Disney Animation Studios.
PIHU (2018)
Rasyidharry
November 24, 2018
Bagus
,
Hindi Movie
,
Myra Vishwakarma
,
Prerna Sharma
,
REVIEW
,
Thriller
,
Vinod Kapri
25 komentar
Dalam sebuah suguhan berani yang
terinspirasi dari kisah nyata yang dibaca sang sutradara, Vinod Kapri (Miss Tanakpur Haazir Ho), empat tahun
lalu, Pihu melontarkan pertanyaan, “Apa
jadinya bila balita ditinggal sendirian di rumah?”. Gabungkan itu dengan
kelalaian mematikan beberapa peralatan elektronik, terciptalah skenario
menerikan yang turut menampar kita lewat studi kasus perihal parenting.
Guna menghindari spoiler, saya cuma bisa bilang kalau
film ini menceritakan bocah dua tahun bernama Pihu (Myra Vishwakarma) yang
ditinggal sendirian di rumah tanpa bekal makanan layak, serta setrika dan kran
air yang menyala. Seiring durasi berjalan, kita mulai mengetahui keberadaan
orang tua Pihu, pula alasan ia sendirian, dalam cerita yang juga bicara soal
konflik rumah tangga, termasuk dampaknya terhadap anak.
Melakukan pengambilan gambar selama
dua jam tiap hari dengan tiga kamera ditempatkan di lokasi, Pihu memiliki dialog minimalis. Kita
hanya mendengar beberapa pembicaraan melalui telepon dan sedikit interaksi di
luar rumah Pihu. Lebih jauh lagi, selain sang titular character dan sang ibu (diperankan Prerna Sharma, ibunda
Myra di dunia nyata), tidak ada karakter yang wajahnya diperlihatkan secara
langsung. Entah sekedar kaki yang nampak, atau suara yang terdengar.
‘Pihu’ is a case study first, thriller later. Vinod
Kapri yang turut bertindak selaku penulis bahkan bersedia mengubah naskahnya
beberapa kali untuk menyesuaikan dengan perilaku aktris ciliknya, demi menangkap gambar-gambar senatural mungkin. Dan
usaha itu berhasil. Kita bisa merasakan kebebasan yang diberikan kepada Myra,
di mana berbeda dengan banyak pelakon cilik, ia tak terlihat berpura-pura atau
menjalankan instruksi. Dan terpenting, Pihu bertingkah sebagaimana mestinya balita
berkelakuan jika ditempatkan dalam beragam situasi tersebut.
Kata kuncinya memang “balita”.
Karena protagonisnya balita, hal-hal yang biasanya mengganggu, karena merupakan
wujud kebodohan bagi karakter dewasa, di sini merupakan kewajaran yang didasari
rasa ingin tahu khas anak kecil. Kita pun bisa duduk santai menikmati filmnya, Well, sebenarnya “santai” bukan pilihan
kata yang pas, sebab keberadaan balita sebagai tokoh utama menjadikan
kepedulian dan kekhawatiran kita berlipat ganda. Semakin menegangkan karena
kemampuan bocah memecahkan masalah tentu belum sebaik orang dewasa. Apa yang
bagi kita keseharian (memanaskan makanan, membuka kulkas) adalah petualangan
menantang untuk mereka.
Pujian pantas disematkan kepada
penulisan Vinod Kapri, yang sangup memikirkan deretan rintangan sederhana guna
membangun ketegangan. Siapa sangka setrika bisa terlihat begitu mengerikan?
Gabungkan dengan kapasitas penyutradaraan Vinod, yang piawai memilih timing pula sudut kamera, Pihu menjadi perjalanan yang dapat
membuat anda kesulitan mengontrol jeritan kala mengkhawatirkan nasib
karakternya.
Filmnya semakin menyiksa (in a good way) akibat rasa
ketidakberdayaan yang dimunculkan. Pihu tidak memahami situasinya, pula
pentingnya berusaha keluar dari rumah. Dia sekedar “mengikut arus”, bersikap
sesuai insting untuk melakukan apa pun yang diinginkan. Kita hanya bisa
berharap supaya dewi fortuna senantiasa menaunginya. Ya, terdapat penurunan
tensi sekaligus kekosongan di sana-sini, sehingga durasi yang cuma 91 menit itu
tetap agak terlalu panjang, namun setiap tensi meningkat, debaran jantung anda pun
bakal ikut melonjak drastis.
MAMA MAMA JAGOAN (2018)
Rasyidharry
November 23, 2018
Cok Simbara
,
Comedy
,
Enggong Supardi
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Lolox
,
Niniek L. Karim
,
Ratna Riantiarno
,
REVIEW
,
Sidi Saleh
,
Tian Pranyoto Gafar
,
Widyawati Sophiaan
2 komentar
Tidak semua usaha “goes (more) mainstream” oleh sineas yang berangkat dari akar skena
alternatif berujung kesuksesan. Ismail Basbeth melalui Talak 3 (2016, disutradarai bersama Hanung Bramantyo) dan Edwin
melalui dua karya terakhirnya merupakan segelintir contoh keberhasilan.
Sayangnya, Mama Mama Jagoan termasuk
salah satu yang gagal. Bukan bencana besar, namun filmnya mempunyai dua wajah
berbeda yang urung bersatu padu. Sementara bagi sutradara Sidi Saleh, pasca
kegagalan Pai Kau (dari segi kualitas
maupun perolehan penonton) pada Februari lalu, ini adalah lampu kuning.
Paruh pertamanya bagai usaha Sidi
memindahkan drama panggung ke layar lebar. Mayoritas berlokasi di penjara
tempat mendekamnya tiga mama: Dayu (Widyawati), Myrna (Niniek L. Karim), dan
Hasnah (Ratna Riantiarno). Ketiganya ditangkap akibat kesalahpahman, disangka
terlibat jual-beli narkoba sewaktu polisi menggerebek sebuah kelab malam di
Bali, sewatu sedang mencari putera tunggul Myrna, Monang (Lolox), yang telah
lama menolak pulang. Di dalam penjara, mereka terus bertengkar, memperdebatkan
apa pun, yang oleh penulis naskah, Tian Pranyoto Gafar (Liburan Seru...!!) dijadikan sarana pembentukan karakter.
Serupa drama panggung, rangkaian
dialog beserta akting pemain jadi suguhan terdepan. Kamera yang diarahkan
Enggong Supardi (Alangkah Lucunya Negeri
Ini, Kentut) jarang mengalami pergerakan dinamis, bahkan sering menerapkan shot statis, membiarkan penampilan tiga
aktrisnya mengambil alih. Ketiga aktris legendaris ini memberi chemistry membara yang mampu mengubah
baris kalimat mana pun terdengar menggelitik, walau kebanyakan materi humornya
gampang ditebak sekaligus minim kreativitas. Khususnya Widyawati sebagai Dayu
yang bengal, berlawanan dengan citra feminin atau keibuan yang lebih identik
dengannya.
Sebagai bagian pembentukan
karakter, kita turut disuguhi beberapa flashback
seputar masa lalu para mama, termasuk awal mula persahabatan mereka. Ini bentuk
kompromi Sidi. Dia bisa saja bertahan pada pendekatan drama panggung, menaruh
seluruh eksposisi dalam dialog, tapi sang sutradara memilih pendekatan lebih
ringan nan menghibur menggunakan visualiasi. Fase ini pun dipakai guna
menekankan sisi “jagoan” ketiga mama, yang mampu menguasai” penjara, membuat
semua pria patuh, dari sesama tahanan hingga polisi.Tidak bisa disangkal, ketiganya
adalah wanita tangguh, namun bukan berarti masalah terkait pria dapat
disingkirkan dari hidup mereka.
Myrna sempat terguncang jiwanya
pasca sang suami (Cok Simbara) meninggal, belum lagi kerinduan akan sang putera
yang tak kunjung pulang; Hasnah merupakan model bikini yang bangga akan
fisiknya sewaktu muda, sebelum pernikahan memaksanya menjadi pelayan suami yang
patuh; sementara Dayu menolak terikat pernikahan dengan alasan ingin bebas,
meski kedua rekannya yakin, patah hati akibat ditinggal kawin oleh cintanya
dahulu termasuk salah satu penyebab.
Mama Mama Jagoan berpotensi menghadirkan komedi relevan yang mengikat,
tapi begitu trio mama jagoan keluar dari penjara, filmnya kehilangan daya. Setidaknya
hiburan masih mampu diberikan, saat di luar performa para pemeran utama, Sidi
dan Tian tahu cara menyajikan “situasi emak-emak”. Dari sentuhan kecil seperti
menawari lemper di mobil (yang tak mendapat satu pun respon) hingga konflik
besar kala mereka terlibat kekacauan, akan memancing penonton bergumam, “Wah,
emak-emak banget nih”.
Paruh pertama dan kedua milik Mama Mama Jagoan bak berasal dari dua
film berbeda. Paruh keduanya seperti usaha kompromi untuk tampil ringan yang
berujung sebagai paparan roadtrip dangkal,
tatkala pesan bermakna dikalahkan oleh kekonyolan, sementara aspek penceritaan
dikesampingkan. Puncaknya adalah konklusi sarat simplifikasi berupa pemakaian
elemen kebetulan. Mama Mama Jagoan
diakhiri secara mendadak, menyisakan beberapa cabang cerita yang belum
terselesaikan.
DI BALIK LAYAR - DONGENG MISTIS (2018)
Rasyidharry
November 21, 2018
Achmad Romie
,
Ade Firman Hakim
,
Andra Fembriarto
,
Btari Chinta
,
Dea Ananda
,
Gandhi Fernando
,
horror
,
Indonesian Film
,
Khiva Iskak
,
Kiky Armando
,
Maryam Supraba
,
Orizon Astonia
,
Putri Ayudya
,
Vicky Ray
30 komentar
Bukan, ini bukan review seperti biasa, karena sebagaimana
beberapa dari kalian tahu, saya adalah salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan
sekelumit proses di balik layar film ini.
Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, saat
Gandhi Fernando datang ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017)
karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser eksekutif
sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai
pemutaran spesial Midnight Show
(2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.
Karena datang terlalu pagi, saya
(disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah dia menunjukkan
beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017),
klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana
rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee
Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada usaha tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di
naskah dan chemistry, namun berani
menghadirkan romansa bergaya Before
Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak
menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet
gaya giallo yang jarang disentuh
sineas kita.
Selang beberapa bulan, sewaktu saya
disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, menawarkan posisi
produser untuk Dongeng Mistis, yang
saat itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan
ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Jadi Produser?
Apakah etis jika saya terjun ke
industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa
reviewer kita sudah melakukan itu.
Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah
bersama Charles Gozali untuk Malam
Jahanam yang hendak diproduksi,
Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo
Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra
Asliga yang beberapa waktu lalu merilis film panjang perdananya, The Returning.
Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?
Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?
Intinya, saya merasa bodoh dan
ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai
pasca-produksi. Peran saya adalah mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh aktivitas Mister Indonesia lalu Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama
dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke
mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots.
If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”.
Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan
bunyi-bunyian asal berisik.
Proses berikutnya sekaligus yang
paling menantang (Baca: ruwet) adalah urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun
LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan
birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck
them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) kini tahu
tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya akhirnya mengalami langsung betapa
ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian
jatah layar, juga aktivitas pasca-produksi lain.
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis adalah omnibus berisi enam cerita buatan enam
sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan
yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi
talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar
termasul salah satu syarat penting jika sutradara ingin dilirik).
Sementara keenam hantunya adalah
Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama
yang disebut terakhir, itu adalah makhluk baru ciptaan sutradara/penulis naskah
Andra Fembriarto (Sinema Purnama)
yang dibuat berdasarkan gabungan budaya-budaya milik beragam daerah Indonesia.
Saya tidak bisa memberi penilaian
pada film ini, tapi saya bisa memberi sedikit gambaran mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling
atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari,
seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh
akal bulus guna menjebak korbannya. Pocong
garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji,
kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok
pocong. Saya suka bagaimana ahli agama tidak digambarkan sebagai jagoan
sempurna di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang karya Vicky Ray adalah hantu
yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda
Begu Ganjang melalui investigasi wartawan bernama Daniel (Gandhi Fernando).
Terakhir adalah Lehak yang rasanya
cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni
serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan
Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta)
melakukan tarian terkutuk pemanggil Lehak.
Silahkan sambangi bioskop mulai 22
NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai
filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya
akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan mustahil ini merupakan
yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya
di layar lebar, hehehe....
Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini
ROBIN HOOD (2018)
Rasyidharry
November 21, 2018
Action
,
Ben Chandler
,
Ben Mendelsohn
,
Cukup
,
David James Kelly
,
Eve Hewson
,
Jamie Foxx
,
Joseph Trapanese
,
Otto Bathurst
,
REVIEW
,
Taron Egerton
6 komentar
Para purist akan menyebut Robin
Hood—sebagaimana King Arthur: Legend
of the Sword (2017)—produk hina penuh dosa akibat keengganannya setia pada gaya
tradisional. Padahal filmnya sendiri sudah meminta, “Lupakan sejarah dan kisah
pengantar tidur yang kalian kenal”. Jadi apa perlunya kita meminta sesuatu yang
jelas-jelas tidak coba filmnya raih? Robin
Hood merupakan modernisasi yang meski tidak luar biasa maupun cerdas, namun
menyenangkan pula efektif. Terima saja kenyataan itu.
Sang bangsawan muda, Robin of
Loxley (Taron Egerton), menerima perintah wajib militer dari Sheriff of
Nottingham (Ben Mendelsohn), di mana ia mesti terjun ke Perang Salib,
memaksanya meninggalkan kehidupan mewah serta cintanya, Marian (Eve Hewson).
Otto Bathurst, dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, mengemas Perang Salib
layaknya Perang Irak dengan parade “boom
bang”. Para prajurit mengangkat busur panah seperti senapan, dan pihak
lawan menghujani mereka dengan crossbow
seolah benda itu adalah senapan mesin. Dan saya mengaguminya.
Robin, yang sejatinya pemuda
berhati mulia, terganggu menyaksikan rekan-rekannya membantai tawanan perang secara
keji. Dia pun memberontak hingga dikirim kembali ke Nottingham. Salah satu
tawanan, Yahya alias John (Jamie Foxx), setelah melihat sang putera dipenggal
di depan matanya, merencanakan kudeta. John memutuskan diam-diam mengikuti
Robin kembali ke Nottingham. Bagaimana John bisa bersembunyi selama tiga bulan
di bawah geladak? Bagaimana ia makan dan minum?
Tidak perlu mempertanyakan itu,
sebab ketika otak anda sibuk memikirkan setumpuk lubang alurnya, film ini, yang
bergerak dalam tempo cepat, telah mencapai destinasi: Nottingham, yang sekarang
telah jauh berubah. Di bawah perintah Sheriff, semua penduduk dipindahkan ke
tambang untuk bekerja paksa, termasuk Marian yang kini menjalin kasih dengan
Will (Jamie Dornan), sebab nama Robin tertera dalam daftar buatan Sheriff of
Nottingham perihal prajurit yang gugur dua tahun lalu (Robin pergi selama empat
tahun).
Bukan saja urusan kerja, pemaksaan
Sheriff of Nottingham juga terjadi perihal pembayaran pajak yang terlampau
tinggi. Konon pajak itu dipakai mendanai Perang Salib. Didorong hasrat balas dendam dan patah hati,
Robin, dengan bantuan John yang mengajarinya teknik memanah tingkat lanjut,
berubah menjadi “The Hood” yang terkenal lewat aksinya mencuri dari para
bangsawan guna dibagikan kepada rakyat miskin. Sedangkan sebagai bangsawan
Robin of Loxley, dia coba memenangkan hati Sheriff, untuk mengungkap siapa
dalang di balik kediktatoran kejam ini.
Tentu alur dalam naskah buatan Ben
Chandler dan David James Kelly tipis sekaligus penuh lubang. Salah satunya
lagi-lagi melibatkan perjalanan jalur air menuju Nottingham. Bagaimana bisa
para Crusaders (termasuk “kawan lama”
Robin di medan perang) tiba sedemikian cepat guna menjadi kaki tangan Sheriff
meski jarak tempuhnya memakan waktu tiga bulan? Tapi lagi-lagi, sungguh
buang-buang waktu menyibukkan pikiran dengan pertanyaan tersebut ketika Bathurst
sibuk mempersembahkan banyak aksi menghibur.
Gerak lambat, musik bombastis
buatan Joseph Trapanese (dwilogi The Raid,
The Greatest Showman),
ledakan-ledakan, set piece raksasa,
sampai aksi tembak-menembak panah super cepat dengan koreografi yang
mengingatkan saya akan gun fu milik
John Woo, semua merupakan usaha modernisasi untuk tuturan medieval yang bagi
penonton sekarang rasanya sudah ketinggalan zaman. Aksi-aksinya takkan membuat
jantung berdegup keras, namun setidaknnya, mampu menyunggingkan senyum puas.
Robin Hood merupakan film di mana protagonisnya bertarung demi merebut
cintanya lagi sembari meruntuhkan pemerintahan korup. Bagaimana saya tidak
mendukungnya? Apalagi saat Taron Egerton enggan berusaha terlalu keras tampak
keren (yang acap kali menyulut penampilan kaku seorang aktor), membiarkan gaya
asyiknya terhampar lepas. Ketika Ben Mendelsohn melakoni pekerjaan langganannya
(baca: memerankan pejabat biadab), Eve Hewson yang juga puteri Bono U2, akan
mencuri hati penonton sebagaimana yang ia perbuat pada Robin.
Film ini bukan pelajaran sejarah,
bukan adaptasi legenda yang setia terhadap sumbernya, bukan blockbuster yang berkesempatan unjuk
gigi di ajang penghargaan, bukan pula interpretasi bergaya gritty realism layaknya versi Ridley Scott 8 tahun lalu, yang
sejatinya jauh lebih ngawur (Robin Hodd tanpa tudung dan panah???). Film ini
adalah hiburan sekali waktu. Cukup terima kenyataan tersebut.
RAMPANT (2018)
Rasyidharry
November 20, 2018
Action
,
horror
,
Hwang Jo-yoon
,
Hyun bin
,
Kim Sung-hoon
,
Kim Tae-woo
,
Korean Movie
,
Kurang
,
REVIEW
3 komentar
Rampant membuktikan jika semakin tinggi suatu konsep, semakin sulit
pula pengembangannya. Saya langsung kepincut begitu mendengar premis soal
serbuan zombie pada era Dinasti Joseon. Bayangkan bagaimana orang-orang di masa
itu bereaksi. Bayangkan cara pihak kerajaan menerapkan strategi perang untuk
membasmi monster-monster haus darah itu. Bayangkan pula betapa menyegarkan
gambar-gambar di dalamnya, setelah selama ini kita terbiasa menyaksikan zombie
berkeliaran di masa modern, di antara bangunan modern dan masyarakat
berpenampilan modern.
Lalu bayangkan, betapa
mengecewakannya saat film garapan sutradara Kim Sung-hoon (Confidential Assignment) ini rupanya minim perbedaan dengan film
zombie kebanyakan. Rampant adalah
satu lagi ide brilian yang berhenti di ranah premis, tatkala pembuatnya
kekurangan akal guna mengembangkannya menjadi suatu sajian baru. Tidak semua
film mesti menyajikan hal baru, namun Rampant
jelas mengincar pencapaian tersebut dan gagal total.
Pasca adegan pembuka yang
memperlihatkan seorang pria berubah menjadi zombie dan memakan warga desa termasuk
anaknya yang masih balita, Rampant
bergerak tak terkontrol, menuturkan kisah berbelit soal pemberontakan dan
perebutan kekuasaan di kerajaan. Saya tersesat, sebab naskah buatan Hwang
Jo-yoon (Masquerade, Oldboy) enggan
repot-repot memperkenalkan dahulu identitas karakter serta garis besar gambaran
situasi. Seolah filmnya sendiri tidak sabar untuk melenggang ke poin
berikutnya, di mana sang protagonis akhirnya memasuki sentral cerita. Dia adalah
Pangeran Lee Chung (Hyun Bin) yang baru kembali ke Joseon setelah sekian lama
tinggal di Qing. Lee Chung kembali atas wasiat kakaknya, Putera Mahkota Lee
Young (Kim Tae-woo), yang bunuh diri sebagai bentuk penebusan dosa karena menyulut
api pemberontakan.
Lee Chung adalah sosok membingungkan.
Terkadang ia Pangeran menyebalkan yang cuma memedulikan wanita dan enggan
mengemban tanggung jawab, namun kadang kala menyimpan kepedulian, hanya saja
berlagak menyebalkan karena gengsi. Di lain waktu dia murni seorang pria dengan
kebaikan hati. Inkonsistensi penokohannya menghasilkan kesan seolah sedang
menyaksikan beberapa orang berbeda.
Sewaktu Lee Chung tiba, ia mendapati
desa telah hancur lebur. Ketika ia mengira tengah terjadi perang atau wabah
penyakit (banyak mayat gosong bergelimpangan), sesosok zombie, atau yang mereka
panggil “Iblis Malam”, menyerang. Beruntung, beberapa anggota kelompok pemberontak
memberi pertolongan. Sebagai gantinya, mereka meminta Lee Chung membujuk Raja
supaya mengirim pasukan untuk membasmi zombie-zombie itu.
Bagi warga, situasi semakin genting
kala stok makanan dan air bersih menipis. Kita digiring agar peduli akan
penderitaan serta perjuangan mereka, sehingga saat ada yang meregang nyawa,
diharapkan emosi kita tercabik-cabik. Tapi tidak. Saya tidak cukup mengenal
karakternya untuk bisa meluangkan simpati, tidak pula mengetahui hubungan
antara mereka, bahkan tidak tahu bahwa ada kakak-beradik di antaranya, kalau
bukan karena panggilan “kakak” yang diucapkan. Atau panggilan itu bukan merujuk
pada saudara kandung? Bagaimana saya bisa menangisi karakternya kalau filmnya
sendiri gagal menjabarkan penokohan?
Bukan karakterisasi saja yang tidak
jelas, pula pembangunan dunianya. Seolah ada banyak keping puzzle menghilang.
Keping-keping yang menjelaskan detail situasi Joseon hingga peristiwa-peristiwa
penting sebelum dan selama serbuan zombie, yang penting diketahui guna memahami
gambaran utuh kondisinya. Sedangkan elemen aksinya tidak buruk, meski tak juga
luar biasa, hanya mengandalkan tebasan-tebasan pedang tanpa koreografi
menonjol, yang dibungkus penyutradaraan minim gaya. Praktis, Rampant sekedar mengandalkan gore berdosis medium. Biar bagaimana,
melihat zombie-zombie ditusuk, disayat, lalu dipenggal, memang cukup menyenangkan.
Tapi sungguh sulit menahan
pertanyaan, “Lalu apa perbedaan Rampant
dengan film zombie kebanyakan?”. Didominasi serbuan zombie cepat di malam hari
(seperti vampir, sinar matahari membakar tubuh mereka), desain lokasi serta
kostum yang mestinya mampu memberi warna baru urung dimanfaatkan. Pun akhirnya,
karakternya menerapkan rencana pemusnahan zombie paling klise. Rencana yang
kalau dipikir lebih jauh, sejatinya tidak efektif, memiliki probabilitas
kesuksesan tak seberapa tinggi. Rampant
gagal memadukan elemen teror zombie dan film period bertema kerajaan, yang seharunya identik dengan adu taktik
cerdik dalam medan pertempuran.
THE HOWS OF US (2018)
Rasyidharry
November 19, 2018
Bagus
,
Cathy Garcia-Molina
,
Comedy
,
Daniel Padilla
,
Jessie Lasaten
,
Kathryn Bernard
,
Noel Teehankee
,
Philippine Movie
,
REVIEW
,
Romance
,
Susan Africa
4 komentar
The Hows of Us—yang kini resmi menjadi film Filipina terlaris sepanjang
masa dengan ₱810 juta atau sekitar $15 juta—mengajak kita mempercayai suratan
takdir, terus melangkah maju bersamanya, meski di awal terasa menyakitkan dan
destruktif. Karena seperti matahari, takdir bakal menenggelamkan hidup kita, meninggalkannya
di kegelapan untuk sementara waktu, sebelum terbit kembali sembari memancarkan
cahaya luar biasa benderang.
Filmnya dibuka melalui time-lapse yang memperlihatkan satu demi
satu perabotan mengisi sebuah rumah kosong, sementara perbincangan dua tokoh
utama, yang menggambarkan progres hubungan mereka, terdengar di belakang.
Sebagaimana romansa menjadi lengkap saat sepasang kekasih saling mengisi, kondisi
serupa berlaku untuk rumah beserta barang-barang di dalamnya. Tapi ketika
terlalu banyak barang tergeletak tanpa ditata rapi, kita hanya akan menemui
ruang penuh sesak, kacau, dan berantakan.
Primo (Daniel Padilla) dan George (Kathryn
Bernard) adalah pasangan yang akan kita ikuti perjalanannya. Mereka bertemu semasa
kuliah di sebuah kompetisi debat mengenai peran gender, yang berujung konklusi kalau
perbedaan pria dan wanita bukan masalah sebab keduanya ditakdirkan untuk saling
melengkapi. Kesetaraan gender bukan topik utama filmnya, tapi saya suka fakta bahwa
terdapat dua momen terpisah saat mereka saling terpesona oleh tubuh
masing-masing. Terpikat pada fisik lawan jenis bukan eksklusif milik pria
semata, dan selama tak ada tindakan kelewatan yang mengikuti, itu merupakan
suatu kewajaran.
Keduanya jatuh cinta, lalu tinggal
bersama di rumah mendiang nenek George, Tita Lola (Susan Africa), yang berpesan
agar merawat rumah tersebut. George ingin menjadi dokter, Primo terus mengejar
ambisinya sebagai musisi. Tapi seiring bergulirnya hidup, mereka semakin
menjauh dari mimpi-mimpi itu, juga satu sama lain.
Tidak diragukan lagi, ini kesalahan
Primo. Kesuksesan yang ia janjikan tak kunjung datang, dan mereka pun kesusahan
membayar tagihan. Tapi ia enggan menyerah. Saat Primo sibuk berusaha terbang,
ia tak menyadari jika George susah payah menahan permukaan tempatnya berpijak
agar tidak runtuh. George rela banting tulang membagi brosur di pinggir jalan,
bahkan melewatkan National Medical
Admission Test (NMAT) demi menjemput Primo yang terlalu mabuk bahkan untuk
berdiri.
George merasa menyia-nyiakan
hidupnya, sedangkan Primo lupa kalau mereka mesti berjuang bersama. Sampai pada
suatu malam gelap di bawah guyuran hujan
lebat, George tiba di batas ketahanannya, mengusir Primo, yang akhirnya pergi,
tak pernah kembali atau sekedar memberi kabar.....hingga dua tahun berselang,
sewaktu George telah mulai menata lagi hidupnya dan berniat menjual rumah
peninggalan Tita Lola.
The Hows of Us memaparkan perjalanan panjang tanpa coba melakukan
simplifikasi. Seluruh proses diperlihatkan, seluruh usaha yang menyatukan,
seluruh pertengkaran yang memisahkan. Hasilnya, tiap perasaan karakternya mudah
dimengerti, dan timbul bukan tanpa alasan. Naskah yang ditulis empat orang
termasuk sang sutradara, Cathy Garcia-Molina (Seven Sundays, You Changed My Life, A Very Special Love), enggan
buru-buru guna memaksa penonton menangis secepat mungkin, melainkan perlahan membangun
momen demi momen, yang walau tampil sedikit terlampau panjang ketika beberapa
situasi terus bergulir meski tujuan eksistensinya telah dicapai, menghasilkan
penebusan sepadan berupa puncak emosi. Tapi betul, film ini tidak perlu
berjalan selama 117 menit.
Musik gubahan Jessie Lasaten (Unexpectedly Yours, Seven Sundays) nyaris
tak pernah absen, konsisten mengalunkan nada melankolis yang urung terdengar
manipulatif. Sebelum waktunya tiba, musiknya sebatas latar, ketika Cathy
Garcia-Molina membiarkan makna di balik tiap momen serta performa dua pemeran
utama mengarahkan jalan. Pasca kembalinya Primo, sebagai komedi-romantis, The Hows of Us mulai menyuguhi kita
bagian komedinya, yang tampil lucu sekaligus manis berkat pesona di balik
kengototan Daniel Padilla untuk memenangkan kembali pujaan hatinya, juga gaya “malu-malu-mau”
dari Kathryn Bernardo yang bakal merekahkan senyum di bibir anda.
Di satu titik, lokasinya berpindah
ke Amsterdam. Dalam sebuah adegan yang tersaji indah dari balik lensa kamera
sinematografer Noel Teehankee (My Perfect
You, Fangirl Fanboy), kedua karakternnya mengarungi taman bunga bersama, di
bawah siraman cahaya matahari senja, mengingat masa lalu, memori-memori yang
tersimpan, berkontemplasi, kemudian bertanya, “Apa jadinya jika hari itu mereka
tak berpisah? Apakah itu jaminan hubungan mereka bakal awet? Apakah mereka
dapat belajar menjadi orang yang lebih baik dan dewasa seperti sekarang?”.
Tidak ada yang tahu, tapi mungkin ungkapan “Indah pada waktunya” bukan cuma
omong kosong.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)

























6 komentar :
Comment Page:Posting Komentar