JAFF 2018 - AVE MARYAM (2018)

6 komentar
Ave Maryam membuktikan betapa perfilman kita masih terjebak pada monotonitas tema. Bukan karena karya terbaru Ertanto Robby Soediskam (7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita) ini luar biasa. Sebaliknya, fakta bahwa filmnya tampak segar dan menonjol meski hasilnya tak sebegitu hebat apalagi baru (dibanding sinema dunia secara umum) saat eksplorasi temanya masih menyimpan setumpuk pekerjaan rumah, makin menegaskan permasalahan tersebut.

Ditulis sendiri naskahnya oleh Robby, Ave Maryam mengisahkan biarawati bernama Maryam (Maudy Koesnaedi) yang jatuh cinta pada Yosef (Chicco Jerikho), seorang pastor baru. Maryan menghabiskan rutinitasnya merawat para biarawati tua, memandikan, menyediakan makanan hingga obat-obatan. Tapi dalam hatinya tersimpan hasrat membara yang ditekan kuat-kuat. Itulah mengapa, ketika sang pastor muda nan tampan hadir, jalan hidup Maryam berubah.

Ini adalah kisah mengenai sosok relijius yang mengambil sumpah suci, tapi ternyata ia tak sesuci kelihatannya (atau semestinya?). Tentu saya berharap melihat perjuangannya, kesulitan yang dialami dalam upaya menekan ketidaksucian itu. Ave Maryam urung menghadirkannya dengan kadar memadahi. Hanya muncul satu momen singkat kala Maryam membaca novel esek-esek, itu pun tanpa menampakkan bagaimana proses pikir dan “merasa” yang dialami Maryam pula bagaimana tahapan stimulus-respon yang dilaluinya. Buku hanya dibaca, ditutup, lalu rutinitas biasa berlanjut.

Demikian juga Yosef yang sempat dideskripsikan ingin menghadirkan perubahan. Kita melihatnya menari bersama para biarawati , tapi tidak dengan pemikiran dan ideologinya. Serupa Maryam, cuma terselip sebuah momen pendek jelang akhir tatkala ia mempertanyakan konsep dosa.

Ave Maryam malah menghabiskan mayoritas paruh pertama membagi fokus ruang personal tokoh utama dengan hal lain, termasuk paparan tentang seorang biarawati senior (Tutie Kirana) yang menjalin kedekatan dengan Yosef, di mana paparan ini nyaris terasa sebagai red herring. Betul, presentasi lingkungan sekitar Maryam diperlukan, namun demi memperkaya karakternya alih-alih berujung mengorbankan eksplorasi sisi personalnya.

Butuh waktu sampai Ave Maryam benar-benar menemukan pijakan, tepatnya saat romansa Maryam dan Yosef mulai bersemi. Dilema Maryam tersampaikan berkat kepiawaian Maudy berekspresi ketika tuturan verbal ditekan seminimal mungkin. Sebagai pastor aktif nan bersahabat yang sanggup menembus benteng hati Maryam, aksi Chicco pun asyik disimak.

Romansanya tampil apik lewat beberapa kencan “kucing-kucingan” yang tak jarang menggelitik karena kecanggungan mereka. Adegan favorit saya pun terjadi di tengah kencan, sewaktu Maryam dan Yosef duduk diam di sebuah cafe, sementara dialog dari  film yang diputar di sana menjadi latar sekaligus mewakili isi hati masing-masing. Pemandangan kreatif ini turut memperlihatkan bagaimana film acap kali dapat bertindak sebagai media ekspresi perasaan yang sukar diutarakan. Sayangnya dinamika itu berakhir dini, tepat saat situasi makin menarik dan intensitas emosional mencapai titik tertinggi (berkulminasi pasca adegan yang saya yakin takkan muncul di versi bioskop komersil). Sulit menampik pemikiran jika Ave Maryam bakal bekerja lebih efektif sebagai film pendek berdurasi 30-45 menit.

Tapi kelemahan naskah perihal pengembangan alur mampu ditebus penulisan kalimat kaya makna, yang bukan sebatas indah, juga sesuai dengan usungan tema Catholicism filmnya. Dari “Aku ingin melihat lautan tapi tidak mau terperangkap dalam ombak”, “Jika surga belum pasti untuk saya, mengapa saya urusi nerakamu?” (maaf jika beberapa kutipan kata meleset), hingga kalimat-kalimat lain, sukses meninggalkan kekaguman.

Ave Maryam pun tak diragukan adalah suguhan dalam negeri tercantik yang saya tonton sepanjang tahun. Pemakaian static shot memberi kesempatan bersinar untuk desain artistik buatan Allan Sebastian (Kartini, Pengabdi Setan), color grading menawan, sampai sinematografi Ical Tanjung (A Copy of My Mind, Pengabdi Setan) yang jeli memainkan pencahayaan plus memilih sudut cantik dibantu mise-en-scène presisi. Pun kita, penonton, punya waktu lebih guna menyerap pencapaian elemen-elemen artistik di atas. Ave Maryam mungkin belum menghadirkan kedalaman eksplorasi berani, tapi setidaknya, tampak segar ketimbang banyak film lokal lain seperti yang diharapkan.

6 komentar :

Comment Page:

JAFF 2018 - KELUARGA CEMARA (2018)

13 komentar
Di tangan yang salah, Keluarga Cemara bisa berujung suffering porn, di mana tiap sudut ibarat musibah yang melulu memicu ratap tangis. Beruntung, naskahnya ditangani duo penulis, Yandy Laurens dan Gina S. Noer (Posesif, Kulari ke Pantai) yang tahu batas pemisah antara dramatisasi dengan eksploitasi, juga penyutradaraan berbekal pemahaman milik Yandy perihal kapan serta seberapa dramatisasi perlu diterapkan. Adaptasi sinetron legendaris Keluarga Cemara (1996-2005) yang juga dibuat berdasarkan kumpulan cerita pendek berjudul sama karya Arswendo Atmowiloto ini pun menjadi drama keluarga yang menyentuh hati lewat kehangatan alih-alih kesedihan.

Walau bukan hyperrealism (dan tak perlu menjejakkan kaki ke sana), Keluarga Cemara coba tampil senyata mungkin. Mengambil latar sebelum peristiwa di sinetron, filmnya memulai kisah kala Cemara (Widuri Puteri) sekeluarga masih hidup makmur, sehingga menyulut pertanyaan, “Bagaimana mungkin Abah si pengusaha properti jatuh begitu dalam hingga memilih profesi tukang becak?”.

Rupanya film ini mampu menawarkan jawaban logis yang juga relevan bila dihadapkan pada situasi sosial sekarang (salah satunya berbentuk peletakkan produk cerdik). Beberapa perubahan perlu dilakukan, namun tanpa mengkhianati substansi materi asalnya, bahkan masih sempat menyelipkan deretan referensi untuk momen-momen ikonik sinetronnya, dalam penempatan tepat yang selaras dengan keperluan cerita ketimbang bentuk pemaksaan diri menebar easter eggs.

Alkisah, kejatuhan Abah (Ringgo Agus Rahman) memaksa keluarganya pindah ke rumah masa kecilnya di sebuah desa di Jawa Barat. Abah terjerat rasa bersalah, terlebih setelah mendapati faktor usia menyulitkannya memperoleh pekerjaan layak secepatnya, sedangkan di saat bersamaan Emak (Nirina Zubir) mesti ikut menyokong ekonomi keluarga, Cemara harus berjalan jauh menuju sekolah, dan Euis (Zara JKT48) terpaksa bersekolah di tempat baru, meninggalkan para sahabat (sekaligus rekan tim dance) lamanya.

Khususnya bagi Euis yang tengah menginjak masa remaja awal, perubahan tersebut amatlah berat, yang akhirnya menyulut salah satu konflik utama, termasuk pertengkaran beruntun dengan Abah. Sosok Abah sendiri belum sebijak versi Adi Kurdi di sinetron.  Wajar, sebab ia masih pria berusia prima (35 tahun) yang tiba-tiba terjerembab ke titik terendah hidupnya. Dampaknya, emosi gampang tersulut, keputusan-keputusan buruk dibuat, kalimat-kalimat menyakitkan terlontar, menjauhkannya dari kesempurnaan, yang mana merupakan wujud karakterisasi menarik.

Bukan berarti anggota keluarga lain dikesampingkan. Cemara sang peluluh hati keluarga diperankan begitu alamiah oleh peforma kaya dinamika milik Widuri. Tingkah laku dan tutur katanya mampu mendinginkan pertikaian panas. Tapi tiang penyangga keluarga sesungguhnya adalah Emak. Berkatnya, keluarga tetap berdiri meski kerap terombang-ambing. Emak menyediakan tempat mengadu, meluapkan kegundahan terpendam, meski artinya, ia dituntut menyimpan beban berlebih dalam hati yang bisa kita lihat jelas melalui tatapan kaya rasa Nirina.

Gempuran masalah-masalahnya adalah gambaran keseharian yang tak terasa episodik, sebab Yandy dan Gina bukan sedang mengadaptasi mentah-mentah sinetronnya. Pun di sela-selama problematika, Keluarga Cemara bersedia menyegarkan suasana berkat kemampuan jajaran pemeran pendukung—pastinya termasuk Asri Welas sebagai “loan woman turns enter woman”—memaksimalkan gaya hiperbola guna memancing tawa.

Pilihan lagu-lagunya tak kalah memikat. Berasal dari beragam genre dan masa, membentang dari Sepanjang Jalan Kenangan, Tentang Rumahku, sampai Harta Berharga versi Bunga Citra Lestari, berbagai adegan diiringi, dengan mood berhasil terwakili. Ketepatan pemilihan lagu termasuk pembuktian kepekaan Yandy terkait membangun suasana dan rasa. Kalau mau, tearjerker bisa saja diciptakan dari semua konflik, namun ia bersedia menunggu hingga tiba titik terbaik untuk meletupkannya. Resolusinya menghadirkan payoff melalui ekspresi cinta kasih jujur nan sederhana yang bakal menumpahkan air mata.

Keberhasilan momen tersebut tak lepas juga dari kombinasi Ringgo-Zara. Walau perlu mengasah lagi kemampuan menangani ledakan amarah yang belum seberapa meyakinkan, sebagai ayah lembut, Ringgo piawai mencuri hati. Sementara Zara memberi kejutan terbesar, ketika air mata dan senyumnya bisa memicu penonton memunculkan respon serupa sewaktu menyaksikan adegan puncak.

Tidak ada konflik pengancam pernikahan, tidak ada murid baru dari kota jadi korban perundugan, tidak ada anak bermasalah yang memberontak (hanya beberapa ketidakpatuhan), tidak ada penyakit kronis dan kecelakaan (Thank God!), atau masalah-masalah tak perlu lain. Keluarga Cemara menyulut tangis tanpa menjual air mata semata, pula memperlihatkan perjuangan tanpa mengeksplotasi penderitaan. Karena akhirnya, film ini “cuma” memaparkan nilai kekeluargaan sederhana tentang memiliki dan dimiliki, menjaga dan dijaga, di mana kala semua bersatu dalam harmoni, tercipta harta yang paling berharga: Keluarga.

13 komentar :

Comment Page:

CREED II (2018)

7 komentar
Biarpun ikonik dan menghibur, harus diakui bahwa Ivan Drago (Dolph Lundgren) adalah antagonis satu dimensi, “karakter kartun”, yang sebagaimana Rocky IV (1985), merupakan produk politis pada masa Perang Dingin. Kini, sewaktu masa itu tinggal sejarah, Creed II menjadikan Ivan salah satu tokoh paling menarik sepanjang eksistensi franchise-nya, ketika ia bersama sang putera, Viktor Drago (Vlorian Munteanu) berusaha menulis ulang sejarah.

Sekuen pembukanya, walau singkat, namun efektif memaparkan inti hubungan dua generasi Drago. Hubungan yang dingin. Dahulu, Ivan bak robot yang diciptakan Rusia guna menegaskan kejayaan negara. Sedangkan Viktor diciptakan oleh Ivan sebagai mesin pembalas dendam demi mengembalikan kejayaan. Bukan perihal negara, melainkan kejayaan personal. Sempat dianggap pahlawan, jangankan dielu-elukan, sekarang Ivan hidup terasing di Ukraina, pun dicampakkan sang istri. Poin ini nantinya menghasilkan momen memilukan yang seketika menjadikan Ivan Drago sesosok manusia biasa dengan kerapuhan.

Ya, drama klan Drago memang memikat, tapi ini tetap film milik Adonis Creed (Michael B. Jordan), dan perhatian lebih yang diberikan bagi antagonis tak sampai membuat protagonis terpinggirkan. Kita bertemu Adonis lagi ketika ia akhirnya mengalahkan Danny “Stuntman” Wheeler (Andre Ward) dan mengklaim gelar tinju dunia kelas berat, dalam suatu momen emosional yang memperlihatkan kapasitas Tessa Thompson membuat kalimat sederhana (“Did you know what just happened?”) terdengar menyentuh hati. Sebagai Bianca, ia tak ubahnya versi lebih aktif dari Adrian. Berkat para wanita ini, perjuangan dua tokoh utama seri Rocky lebih bermakna.  

Berhasil mengikuti jejak mendiang ayahnya ternyata belum cukup bagi Adonis. Dia ingin meninggalkan jejaknya sendiri, sehingga saat ayah-anak Drago menantangnya, Adonis tak gentar. Seperti mereka, Adonis pun ingin menulis ulang sejarah, kala 33 tahun lalu, Apollo Creed tewas di tangan si petarung Rusia. Tapi Rocky (Sylvester Stallone) berbeda pemikiran. Menurutnya, pertarungan tersebut bukan saja berbahaya, juga tidak perlu. Rocky pun menolak permintaan Adonis melatihnya, sebab, sebagaimana pernyataannya kepada Ivan, dia bukan “hari  kemarin yang ingin jadi hari ini”.

Bicara soal reuni Rocky Balboa-Ivan Drago, pertemuan kembali keduanya turut menyediakan panggung bagi Stallone dan Lundgren untuk membuktikan kualitas akting. Kedua aktor veteran ini bagai wine yang semakin tua semakin nikmat. Pertambahan usia memberi mereka pengalaman, kompleksitas, dan kelelahan yang dipupuk penderitaan bertahun-tahun baik sebagai karakter yang diperankan maupun diri sendiri. Andai Creed II dirilis satu atau dua dekade lalu, saya bisa membayangkan Dolph Lungren menyabet nominasi Oscar perdananya.

Di luar arena tinju, Creed II menampilkan drama keluarga mengenai rekonsiliasi, sedangkan pertarungan dalam arena merupakan manifestasi narasi tersebut. Serupa film-film terbaik Rocky, pertarungannya didasari cinta. Kali ini pun, kita melihat rekonsiliasi keluarga, tatkala kekuatan terbesar Adonis bukan dipicu amarah atau hasrat balas dendam, tetapi layaknya Rocky dahulu, cinta. Dan serupa suguhan terbaik seri Rocky pula, sutradara Steven Caple Jr. (The Land) menyuguhkan montase latihan keras nan membara yang turut memamerkan kelayakan Michael B. Jordan meneruskan tongkat estafet dari Sly sebagai jagoan tangguh.

Bagi saya, sekuen latihan terbaik dimiliki Rocky III (1982) berkat dampak nyata kepada pertarungan puncaknya. Gaya serta taktik bertinju Rocky kala mengungguli Clubber Lang dibangun dari situ. Begitu pula di film ini. Adonis merupakan tubuh yang melancarkan serangan bertubi-tubi, sementara otaknya ialah Rocky, selaku satu-satunya orang yang mengetahui cara mengalahkan Drago. Elemen itu adalah pencapaian tersendiri bagi naskah tulisan Stallone bersama Juel Taylor, sewaktu proses “passing the torch” dilakukan sembari tetap menghormati karakter lama. Rocky mungkin bukan lagi jagoan utama, tapi kontribusinya luar biasa.

Banyak mempresentasikan drama tak membuat Caple Jr. melupakan esensi sebagai film tinju. Adegan tinjunya menghibur sekaligus intens, dengan hantaman demi hantaman keras, juga Victor Drago sebagai lawan intimidatif yang bakal membuat tubuh bergetar tiap kali ia merangsek, hendak melancarkan serangan. Tambahkan lagu tema Rocky, maka kita memperoleh klimaks yang memancing sorak sorai, teriakan, bahkan mungkin air mata dikarenakan euforia. Creed II adalah suguhan terbaik seri Rocky sejak film pertamanya 42 tahun lalu.

7 komentar :

Comment Page:

RALPH BREAKS THE INTERNET (2018)

19 komentar
Ralph Breaks the Internet adalah Inside Out versi gim dan internet dalam hal kepintaran serta kreativitasnya membangun dunia. Seperti normalnya sekuel, cakupan diperluas. Kalau Wreck-It Ralph “hanya” menunjukkan apa yang karakter permainan arkade lakukan saat tak sedang dimainkan manusia, sekuel ini berpindah ke dunia yang lebih besar, yakni internet, tempat yang memiliki segalanya, dan Ralph Breaks the Internet memanfaatkan itu untuk menciptakan dunia kreatif nan kaya, disertai cara kerjanya.

Enam tahun berlalu sejak peristiwa film pertama, dan kini Ralph (John C. Reilly) hidup bahagia, tak lagi dipandang sebagai perusak jahat, dan bersahabat dengan Vanellope (Sarah Silverman), di mana mereka setiap hari menghabiskan waktu bersama di tempat dan waktu yang sama. Bagi Ralph, rutinitas tersebut merupakan kedamaian, namun Vanellope ingin lebih. Dunia manis sarat warna di Sugar Rush tak lagi seberwarna itu baginya, dengan balapan yang terlampau gampang sebab Vanellope sudah hafal semua trik dan track.

Pasca sebuah kecelakaan yang berpotensi membuat Sugar Rush ditutup selamanya, dan demi menyelamatkannya, dua protagonis kita memulai perjalanan menuju internet. Pertama kali menginjakkan kaki di sana, mereka terpukau melihat dunia tanpa ujung yang internet tawarkan. Begitu pun saya kala mendapati bagaimana di Ralph Breaks the Internet, berbagai aspek dalam internet bertransformasi menghasilkan lingkungan imajinatif yang hidup lengkap dengan rutinitasnya sendiri.

Pop-up ads menjadi penjaja produk yang agresif, eBay merupakan tempat lelang, mesin pencarian adalah pria bernama KnowsMore (Alan Tudyk) yang mengetahui semuanya, dan lain-lain. Fakta bahwa hal-hal di atas cocok dengan cara kerja internet di realita, jadi bukti kecerdikan duo penulis naskahnya, Pamela Ribon (Smurfs: The Lost Village) dan Phil Johnston (juga selaku sutradara). Pun terdapat setumpuk detail kecil, yang dijamin bakal memberi penemuan baru untuk pengalaman menonton berulang.

Bila film pertamanya menyimpan setumpuk cameo karakter gim, Ralph Breaks the Internet punya beragam produk internet serta referensi kultur populer dalam beraneka bentuk (yang lagi-lagi) kreatif. Dan selaku produsen, wajar saat referensi untuk Disney paling kaya.  Anda akan mendengar The Imperial March kala menyambangi area Star Wars; meet & greet dengan seorang tokoh MCU; dan sebagaimana trailer-nya tampilkan, Disney Princess. Beberapa karakteristik mereka dijadikan lelucon menggelitik termasuk sebuah elemen yang baru saya sadari di sini. Elemen yang melibatkan musikal.

Ya, film ini turut menghadirkan satu adegan musikal, yang oleh duo sutradara, Rich Moore (Wreck-It Ralph, Zootopia) dan Phil Johnston, dikemas dalam visual meriah ditambah musik megah gubahan Henry Jackman (Captain America: Civil War, Jumanji: Welcome to the Jungle). Hasilnya adalah gegap gempita indah yang dewasa ini, mungkin hanya sanggup ditandingi La La Land, yang oleh Ralph Breaks the Internet turut dijadikan acuan subtil.

Kembali ke perihal Disney Princess, saya terkecoh kala mengira pertemuan tersebut hanya bakal jadi sempilan ringan pengisi durasi. Rupanya momen itu berguna menyampaikan salah satu pesan filmnya. Rapunzel bertanya pada Vanellope, “Do people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?”. Vanellope mengiyakan. Ralph sendiri belakangan semakin posesif, ingin Vanellope selalu dan hanya bersamanya. Tatkala Ralph bersusah payah meyakinkan Vanellope jika Slaughter Race terlalu berbahaya baginya, si gadis cilik menampik pernyataan itu. Poin tersebut selaras dengan upaya rebranding Disney terhadap karakter wanitanya yang makin independen di tiap sendi kehidupan, bukan saja soal percintaan.

Oh, saya lupa menjelaskan mengenai Slaughter Race, sebuh permainan balapan brutal, sarat kekerasa, berbanding terbalik dengan kesan warna-warni manis bagi semua umur milik Sugar Rush. Vanellope menemukan hasratnya kembali begitu menyadari ketiadaan batasan di Slaughter Race. Tidak ada lintasan monoton, dan ia bebas bermanuver sesuka hati. Jangankan Vanellope, bukankah itu alasan permainan open world macam Grand Theft Auto maupun Red Dead Redemption amat digandrungi?

Slaughter Race dikuasai pembalap wanita bernama Shank yang diisi suaranya oleh Gal Gadot dalam salah satu performa terbaiknya, berkat kemampuan menyuntikkan dinamika untuk menjadikan Shank sosok keren berkharisma. Wajar Vanellope mengaguminya. Ralph? Tentu Ralph membenci Shank. Baginya, wanita itu tidak bisa dipercaya, walau kita tahu, itu sebatas ungkapan kecemburuan. Konflik itu berujung pada konklusi menyentuh setelah kita disuguhi gelaran aksi raksasa ala King Kong. Dari dunia yang teramat kaya, lelucon pintar, hingga drama emosional, Ralph Breaks the Internet mungkin rilisan “paling Pixar” dari Walt Disney Animation Studios.

19 komentar :

Comment Page:

PIHU (2018)

25 komentar
Dalam sebuah suguhan berani yang terinspirasi dari kisah nyata yang dibaca sang sutradara, Vinod Kapri (Miss Tanakpur Haazir Ho), empat tahun lalu, Pihu melontarkan pertanyaan, “Apa jadinya bila balita ditinggal sendirian di rumah?”. Gabungkan itu dengan kelalaian mematikan beberapa peralatan elektronik, terciptalah skenario menerikan yang turut menampar kita lewat studi kasus perihal parenting.

Guna menghindari spoiler, saya cuma bisa bilang kalau film ini menceritakan bocah dua tahun bernama Pihu (Myra Vishwakarma) yang ditinggal sendirian di rumah tanpa bekal makanan layak, serta setrika dan kran air yang menyala. Seiring durasi berjalan, kita mulai mengetahui keberadaan orang tua Pihu, pula alasan ia sendirian, dalam cerita yang juga bicara soal konflik rumah tangga, termasuk dampaknya terhadap anak.

Melakukan pengambilan gambar selama dua jam tiap hari dengan tiga kamera ditempatkan di lokasi, Pihu memiliki dialog minimalis. Kita hanya mendengar beberapa pembicaraan melalui telepon dan sedikit interaksi di luar rumah Pihu. Lebih jauh lagi, selain sang titular character dan sang ibu (diperankan Prerna Sharma, ibunda Myra di dunia nyata), tidak ada karakter yang wajahnya diperlihatkan secara langsung. Entah sekedar kaki yang nampak, atau suara yang terdengar.

‘Pihu’ is a case study first, thriller later. Vinod Kapri yang turut bertindak selaku penulis bahkan bersedia mengubah naskahnya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan perilaku aktris ciliknya, demi  menangkap gambar-gambar senatural mungkin. Dan usaha itu berhasil. Kita bisa merasakan kebebasan yang diberikan kepada Myra, di mana berbeda dengan banyak pelakon cilik, ia tak terlihat berpura-pura atau menjalankan instruksi. Dan terpenting, Pihu bertingkah sebagaimana mestinya balita berkelakuan jika ditempatkan dalam beragam situasi tersebut.

Kata kuncinya memang “balita”. Karena protagonisnya balita, hal-hal yang biasanya mengganggu, karena merupakan wujud kebodohan bagi karakter dewasa, di sini merupakan kewajaran yang didasari rasa ingin tahu khas anak kecil. Kita pun bisa duduk santai menikmati filmnya, Well, sebenarnya “santai” bukan pilihan kata yang pas, sebab keberadaan balita sebagai tokoh utama menjadikan kepedulian dan kekhawatiran kita berlipat ganda. Semakin menegangkan karena kemampuan bocah memecahkan masalah tentu belum sebaik orang dewasa. Apa yang bagi kita keseharian (memanaskan makanan, membuka kulkas) adalah petualangan menantang untuk mereka.

Pujian pantas disematkan kepada penulisan Vinod Kapri, yang sangup memikirkan deretan rintangan sederhana guna membangun ketegangan. Siapa sangka setrika bisa terlihat begitu mengerikan? Gabungkan dengan kapasitas penyutradaraan Vinod, yang piawai memilih timing pula sudut kamera, Pihu menjadi perjalanan yang dapat membuat anda kesulitan mengontrol jeritan kala mengkhawatirkan nasib karakternya.

Filmnya semakin menyiksa (in a good way) akibat rasa ketidakberdayaan yang dimunculkan. Pihu tidak memahami situasinya, pula pentingnya berusaha keluar dari rumah. Dia sekedar “mengikut arus”, bersikap sesuai insting untuk melakukan apa pun yang diinginkan. Kita hanya bisa berharap supaya dewi fortuna senantiasa menaunginya. Ya, terdapat penurunan tensi sekaligus kekosongan di sana-sini, sehingga durasi yang cuma 91 menit itu tetap agak terlalu panjang, namun setiap tensi meningkat, debaran jantung anda pun bakal ikut melonjak drastis.

25 komentar :

Comment Page:

MAMA MAMA JAGOAN (2018)

2 komentar
Tidak semua usaha “goes (more) mainstream” oleh sineas yang berangkat dari akar skena alternatif berujung kesuksesan. Ismail Basbeth melalui Talak 3 (2016, disutradarai bersama Hanung Bramantyo) dan Edwin melalui dua karya terakhirnya merupakan segelintir contoh keberhasilan. Sayangnya, Mama Mama Jagoan termasuk salah satu yang gagal. Bukan bencana besar, namun filmnya mempunyai dua wajah berbeda yang urung bersatu padu. Sementara bagi sutradara Sidi Saleh, pasca kegagalan Pai Kau (dari segi kualitas maupun perolehan penonton) pada Februari lalu, ini adalah lampu kuning.

Paruh pertamanya bagai usaha Sidi memindahkan drama panggung ke layar lebar. Mayoritas berlokasi di penjara tempat mendekamnya tiga mama: Dayu (Widyawati), Myrna (Niniek L. Karim), dan Hasnah (Ratna Riantiarno). Ketiganya ditangkap akibat kesalahpahman, disangka terlibat jual-beli narkoba sewaktu polisi menggerebek sebuah kelab malam di Bali, sewatu sedang mencari putera tunggul Myrna, Monang (Lolox), yang telah lama menolak pulang. Di dalam penjara, mereka terus bertengkar, memperdebatkan apa pun, yang oleh penulis naskah, Tian Pranyoto Gafar (Liburan Seru...!!) dijadikan sarana pembentukan karakter.

Serupa drama panggung, rangkaian dialog beserta akting pemain jadi suguhan terdepan. Kamera yang diarahkan Enggong Supardi (Alangkah Lucunya Negeri Ini, Kentut) jarang mengalami pergerakan dinamis, bahkan sering menerapkan shot statis, membiarkan penampilan tiga aktrisnya mengambil alih. Ketiga aktris legendaris ini memberi chemistry membara yang mampu mengubah baris kalimat mana pun terdengar menggelitik, walau kebanyakan materi humornya gampang ditebak sekaligus minim kreativitas. Khususnya Widyawati sebagai Dayu yang bengal, berlawanan dengan citra feminin atau keibuan yang lebih identik dengannya.

Sebagai bagian pembentukan karakter, kita turut disuguhi beberapa flashback seputar masa lalu para mama, termasuk awal mula persahabatan mereka. Ini bentuk kompromi Sidi. Dia bisa saja bertahan pada pendekatan drama panggung, menaruh seluruh eksposisi dalam dialog, tapi sang sutradara memilih pendekatan lebih ringan nan menghibur menggunakan visualiasi. Fase ini pun dipakai guna menekankan sisi “jagoan” ketiga mama, yang mampu menguasai” penjara, membuat semua pria patuh, dari sesama tahanan hingga polisi.Tidak bisa disangkal, ketiganya adalah wanita tangguh, namun bukan berarti masalah terkait pria dapat disingkirkan dari hidup mereka.

Myrna sempat terguncang jiwanya pasca sang suami (Cok Simbara) meninggal, belum lagi kerinduan akan sang putera yang tak kunjung pulang; Hasnah merupakan model bikini yang bangga akan fisiknya sewaktu muda, sebelum pernikahan memaksanya menjadi pelayan suami yang patuh; sementara Dayu menolak terikat pernikahan dengan alasan ingin bebas, meski kedua rekannya yakin, patah hati akibat ditinggal kawin oleh cintanya dahulu termasuk salah satu penyebab.

Mama Mama Jagoan berpotensi menghadirkan komedi relevan yang mengikat, tapi begitu trio mama jagoan keluar dari penjara, filmnya kehilangan daya. Setidaknya hiburan masih mampu diberikan, saat di luar performa para pemeran utama, Sidi dan Tian tahu cara menyajikan “situasi emak-emak”. Dari sentuhan kecil seperti menawari lemper di mobil (yang tak mendapat satu pun respon) hingga konflik besar kala mereka terlibat kekacauan, akan memancing penonton bergumam, “Wah, emak-emak banget nih”.

Paruh pertama dan kedua milik Mama Mama Jagoan bak berasal dari dua film berbeda. Paruh keduanya seperti usaha kompromi untuk tampil ringan yang berujung sebagai paparan roadtrip dangkal, tatkala pesan bermakna dikalahkan oleh kekonyolan, sementara aspek penceritaan dikesampingkan. Puncaknya adalah konklusi sarat simplifikasi berupa pemakaian elemen kebetulan. Mama Mama Jagoan diakhiri secara mendadak, menyisakan beberapa cabang cerita yang belum terselesaikan.

2 komentar :

Comment Page:

DI BALIK LAYAR - DONGENG MISTIS (2018)

30 komentar
Bukan, ini bukan review seperti biasa, karena sebagaimana beberapa dari kalian tahu, saya adalah salah satu produser Dongeng Mistis. Seperti judul artikelnya, kali ini saya hendak menceritakan sekelumit proses di balik layar film ini.

Awal Keterlibatan
Semua bermula di awal 2017, saat Gandhi Fernando datang ke Yogyakarta untuk proses pra-produksi Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran (2017) karya Ismail Basbeth, di mana ia termasuk salah satu produser eksekutif sekaligus aktor. Sebelumnya kami sempat bertemu sejenak dua kali, yakni seusai pemutaran spesial Midnight Show (2016) di Yogyakarta dan pada Jogja Asian Film Festival (JAFF) 2016.

Karena datang terlalu pagi, saya (disusul Taufiqur Rizal dari Cinetariz) berbaik hati menemani. Di situlah dia menunjukkan beberapa proyek yang sedang dikerjakan, dari trailer Mantan (2017), klip Zodiac: Apa Bintangmu? (rencana rilis awal 2019), dan konsep film horor omnibus yang merupakan cikal bakal Dongeng Mistis.
Sejujurnya saya bukan penggemar Renee Pictures. Tapi satu yang saya suka, selalu ada usaha tampil segar. The Right One (2014) memang lemah di naskah dan chemistry, namun berani menghadirkan romansa bergaya Before Sunrise. Tuyul: Part 1 (2015) tampak menonjol bila disandingkan dengan horor-horor lokal belakangan. Lalu ada Midnight Show buatan Ginanti Rona, slasher solid yang bahkan menyerempet gaya giallo yang jarang disentuh sineas kita.

Selang beberapa bulan, sewaktu saya disibukkan penyelesaian skripsi, Gandhi kembali menghubungi, menawarkan posisi produser untuk Dongeng Mistis, yang saat itu berada di tengah fase produksi. Saya tentu tertarik, tapi pertanyaan ini terus berkecamuk.....
Reviewer Kok Jadi Produser?
Apakah etis jika saya terjun ke industri film sebagai pembuat tapi meneruskan kegiatan review film? Selama beberapa bulan saya gamang. Sebenarnya beberapa reviewer kita sudah melakukan itu. Daniel Irawan sebagai konsultan di Magma Entertainment bahkan menulis naskah bersama Charles Gozali untuk Malam Jahanam yang hendak  diproduksi, Elbert Reyner menjadi astrada Buffalo Boys, Vincent Jose sebagai produser di Renee Pictures, dan tentunya Witra Asliga yang beberapa waktu lalu merilis film panjang perdananya, The Returning.

Tapi itu mereka. Bagaimana dengan saya sendiri? Bagaimana respon pihak luar? Akhirnya saya sadar. Tujuan utama saya terlibat di Dongeng Mistis bukan mencari uang, melainkan belajar mengenai seluk-beluk produksi film. Saya percaya, reviewer harus tahu banyak, setidaknya lebih dari masyarakat umum tentang proses di balik layar film. Tentu kita bisa belajar dengan membaca artikel atau bertanya pada praktisi, namun bukankah mengalami langsung bakal memberi pembelajaran lebih besar?

Intinya, saya merasa bodoh dan ingin menjadi pintar.
Peran di ‘DONGENG MISTIS’
Begitu saya bergabung, Dongeng Mistis hendak memulai pasca-produksi. Peran saya adalah mengisi posisi Gandhi yang sudah mulai disibukkan oleh aktivitas Mister Indonesia lalu Mistet Supranationl. Salah satunya soal pengisian musik, di mana kami bekerja sama dengan Spinach Records milik DJ Riri. Saat itu kami kebingungan. “Mau dibawa ke mana musiknya kalau diisi para DJ yang minim pengalaman di film?”. Akhirnya, kami nekat berkata, “Just use your roots. If it’s an electronic music, we’re gonna make an electro-horror then”. Hasilnya tidak mengecewakan. Terselip keunikan yang pastinya bukan bunyi-bunyian asal berisik.

Proses berikutnya sekaligus yang paling menantang (Baca: ruwet) adalah urusan birokrasi, baik ke bioskop maupun LSF. Di sinilah tujuan awal saya terpenuhi. Saya yang biasanya mengacuhkan birokrasi (saat kuliah selalu berkata “Fuck them!” ketika kampus menyulitkan pementasan yang saya buat) kini tahu tahap-tahap mengurus sensor, di mana saya akhirnya mengalami langsung betapa ajaibnya LSF. Begitu pula soal distribusi—poster, trailer, maupun DCP film—, penentuan tanggal tayang, pembagian jatah layar, juga aktivitas pasca-produksi lain. 
Filmnya Sendiri Bagaimana?
Dongeng Mistis adalah omnibus berisi enam cerita buatan enam sutradara yang menampilkan enam hantu khas Indonesia (666, get it?). Enam sutradara ini hampir semuanya debutan, keputusan yang kerap dilakukan Renee Pictures, berpijak pada tujuan membukakan pintu bagi talenta-talenta muda untuk terjun ke industri (Mempunyai kredit layar lebar termasul salah satu syarat penting jika sutradara ingin dilirik).

Sementara keenam hantunya adalah Pocong, Sundel Bolong, Genderuwo, Begu Ganjang, Bajang, dan Lehak. Khusus nama yang disebut terakhir, itu adalah makhluk baru ciptaan sutradara/penulis naskah Andra Fembriarto (Sinema Purnama) yang dibuat berdasarkan gabungan budaya-budaya milik beragam daerah Indonesia.

Saya tidak bisa memberi penilaian pada film ini, tapi saya bisa memberi sedikit gambaran mengenai tiap segmen. Sundel Bolong karya Ihsan Fadli (sempat menjadi astrada 2 di Cek Toko Sebelah) jadi segmen paling atmosferik berkat visualnya. Di rumah yang tengah mati lampu di malam hari, seorang ibu hamil (Maryam Supraba) harus menghadapi teror Sundel Bolong yang penuh akal bulus guna menjebak korbannya. Pocong garapan Achmad Romie mengisahkan ustaz (Kiky Armando) yang keimanannya diuji, kala di tengah perjalanan pulang seusai mengajar ngaji, diganggu sesosok pocong. Saya suka bagaimana ahli agama tidak digambarkan sebagai jagoan sempurna di sini.
Bajang garapan Kristian Panca Nugroho yang menceritakan teror Bajang (hantu berwujud anak kecil) kepada wanita (Putri Ayudya) yang baru melakukan keputusan besar dalam hidupnya, merupakan segmen dengan performa akting terbaik. Tidak mengejutkan, mengingat Putri Ayudya (Kafir, Kenapa Harus Bule?), Ade Firman Hakim (22 Menit, Bidah Cinta), dan Khiva Iskak (Gerbang Neraka, Love for Sale) mengisi jajaran cast-nya. Genderuwo dibuat oleh Orizon Astonia yang dikenal lewat film-film pendek langganan festival seperti Lewat Sepertiga Malam (2013) dan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala (2014). Bertutur mengenai wanita (Dea Ananda) yang mendapati bahwa penyakit ayahnya diakibatkan gangguan Genderuwo, sebagaimana karya-karya Orizon sebelumnya, ada poin terselubung di balik alur yang sekilas nampak sederhana.
Daya tarik terbesar Begu Ganjang  karya Vicky Ray adalah hantu yang belum pernah diangkat ke layar lebar. Anda akan diajak memahami legenda Begu Ganjang melalui investigasi wartawan bernama Daniel (Gandhi Fernando). Terakhir adalah Lehak yang rasanya cukup tepat disebut sebagai segmen paling artistik. Efek visual warna-warni serta tarian tradisional akan membawa anda mengunjungi dunia fantasi rekaan Andra Fembriarto yang mengetengahkan keputusan seorang gadis (Btari Chinta) melakukan tarian terkutuk pemanggil Lehak.

Silahkan sambangi bioskop mulai 22 NOVEMBER 2018, dan jangan ragu-ragu mengutarakan pendapat kalian mengenai filmnya di kolom komentar, entah baik atau buruk. Saya tidak tahu apakah saya akan terlibat pada produksi film lain, sehingga bukan mustahil ini merupakan yang pertama sekaligus terakhir. Jadi, ini kesempatan langka melihat nama saya di layar lebar, hehehe....

Sebelum menonton, simak dulu trailer-nya berikut ini

30 komentar :

Comment Page:

ROBIN HOOD (2018)

6 komentar
Para purist akan menyebut Robin Hood—sebagaimana King Arthur: Legend of the Sword (2017)—produk hina penuh dosa akibat keengganannya setia pada gaya tradisional. Padahal filmnya sendiri sudah meminta, “Lupakan sejarah dan kisah pengantar tidur yang kalian kenal”. Jadi apa perlunya kita meminta sesuatu yang jelas-jelas tidak coba filmnya raih? Robin Hood merupakan modernisasi yang meski tidak luar biasa maupun cerdas, namun menyenangkan pula efektif. Terima saja kenyataan itu.

Sang bangsawan muda, Robin of Loxley (Taron Egerton), menerima perintah wajib militer dari Sheriff of Nottingham (Ben Mendelsohn), di mana ia mesti terjun ke Perang Salib, memaksanya meninggalkan kehidupan mewah serta cintanya, Marian (Eve Hewson). Otto Bathurst, dalam debut penyutradaraan layar lebarnya, mengemas Perang Salib layaknya Perang Irak dengan parade “boom bang”. Para prajurit mengangkat busur panah seperti senapan, dan pihak lawan menghujani mereka dengan crossbow seolah benda itu adalah senapan mesin. Dan saya mengaguminya.

Robin, yang sejatinya pemuda berhati mulia, terganggu menyaksikan rekan-rekannya membantai tawanan perang secara keji. Dia pun memberontak hingga dikirim kembali ke Nottingham. Salah satu tawanan, Yahya alias John (Jamie Foxx), setelah melihat sang putera dipenggal di depan matanya, merencanakan kudeta. John memutuskan diam-diam mengikuti Robin kembali ke Nottingham. Bagaimana John bisa bersembunyi selama tiga bulan di bawah geladak? Bagaimana ia makan dan minum?

Tidak perlu mempertanyakan itu, sebab ketika otak anda sibuk memikirkan setumpuk lubang alurnya, film ini, yang bergerak dalam tempo cepat, telah mencapai destinasi: Nottingham, yang sekarang telah jauh berubah. Di bawah perintah Sheriff, semua penduduk dipindahkan ke tambang untuk bekerja paksa, termasuk Marian yang kini menjalin kasih dengan Will (Jamie Dornan), sebab nama Robin tertera dalam daftar buatan Sheriff of Nottingham perihal prajurit yang gugur dua tahun lalu (Robin pergi selama empat tahun).

Bukan saja urusan kerja, pemaksaan Sheriff of Nottingham juga terjadi perihal pembayaran pajak yang terlampau tinggi. Konon pajak itu dipakai mendanai Perang Salib.  Didorong hasrat balas dendam dan patah hati, Robin, dengan bantuan John yang mengajarinya teknik memanah tingkat lanjut, berubah menjadi “The Hood” yang terkenal lewat aksinya mencuri dari para bangsawan guna dibagikan kepada rakyat miskin. Sedangkan sebagai bangsawan Robin of Loxley, dia coba memenangkan hati Sheriff, untuk mengungkap siapa dalang di balik kediktatoran kejam ini.

Tentu alur dalam naskah buatan Ben Chandler dan David James Kelly tipis sekaligus penuh lubang. Salah satunya lagi-lagi melibatkan perjalanan jalur air menuju Nottingham. Bagaimana bisa para Crusaders (termasuk “kawan lama” Robin di medan perang) tiba sedemikian cepat guna menjadi kaki tangan Sheriff meski jarak tempuhnya memakan waktu tiga bulan? Tapi lagi-lagi, sungguh buang-buang waktu menyibukkan pikiran dengan pertanyaan tersebut ketika Bathurst sibuk mempersembahkan banyak aksi menghibur.

Gerak lambat, musik bombastis buatan Joseph Trapanese (dwilogi The Raid, The Greatest Showman), ledakan-ledakan, set piece raksasa, sampai aksi tembak-menembak panah super cepat dengan koreografi yang mengingatkan saya akan gun fu milik John Woo, semua merupakan usaha modernisasi untuk tuturan medieval yang bagi penonton sekarang rasanya sudah ketinggalan zaman. Aksi-aksinya takkan membuat jantung berdegup keras, namun setidaknnya, mampu menyunggingkan senyum puas.

Robin Hood merupakan film di mana protagonisnya bertarung demi merebut cintanya lagi sembari meruntuhkan pemerintahan korup. Bagaimana saya tidak mendukungnya? Apalagi saat Taron Egerton enggan berusaha terlalu keras tampak keren (yang acap kali menyulut penampilan kaku seorang aktor), membiarkan gaya asyiknya terhampar lepas. Ketika Ben Mendelsohn melakoni pekerjaan langganannya (baca: memerankan pejabat biadab), Eve Hewson yang juga puteri Bono U2, akan mencuri hati penonton sebagaimana yang ia perbuat pada Robin.

Film ini bukan pelajaran sejarah, bukan adaptasi legenda yang setia terhadap sumbernya, bukan blockbuster yang berkesempatan unjuk gigi di ajang penghargaan, bukan pula interpretasi bergaya gritty realism layaknya versi Ridley Scott 8 tahun lalu, yang sejatinya jauh lebih ngawur (Robin Hodd tanpa tudung dan panah???). Film ini adalah hiburan sekali waktu. Cukup terima kenyataan tersebut.

6 komentar :

Comment Page:

RAMPANT (2018)

3 komentar
Rampant membuktikan jika semakin tinggi suatu konsep, semakin sulit pula pengembangannya. Saya langsung kepincut begitu mendengar premis soal serbuan zombie pada era Dinasti Joseon. Bayangkan bagaimana orang-orang di masa itu bereaksi. Bayangkan cara pihak kerajaan menerapkan strategi perang untuk membasmi monster-monster haus darah itu. Bayangkan pula betapa menyegarkan gambar-gambar di dalamnya, setelah selama ini kita terbiasa menyaksikan zombie berkeliaran di masa modern, di antara bangunan modern dan masyarakat berpenampilan modern.

Lalu bayangkan, betapa mengecewakannya saat film garapan sutradara Kim Sung-hoon (Confidential Assignment) ini rupanya minim perbedaan dengan film zombie kebanyakan. Rampant adalah satu lagi ide brilian yang berhenti di ranah premis, tatkala pembuatnya kekurangan akal guna mengembangkannya menjadi suatu sajian baru. Tidak semua film mesti menyajikan hal baru, namun Rampant jelas mengincar pencapaian tersebut dan gagal total.

Pasca adegan pembuka yang memperlihatkan seorang pria berubah menjadi zombie dan memakan warga desa termasuk anaknya yang masih balita, Rampant bergerak tak terkontrol, menuturkan kisah berbelit soal pemberontakan dan perebutan kekuasaan di kerajaan. Saya tersesat, sebab naskah buatan Hwang Jo-yoon (Masquerade, Oldboy) enggan repot-repot memperkenalkan dahulu identitas karakter serta garis besar gambaran situasi. Seolah filmnya sendiri tidak sabar untuk melenggang ke poin berikutnya, di mana sang protagonis akhirnya memasuki sentral cerita. Dia adalah Pangeran Lee Chung (Hyun Bin) yang baru kembali ke Joseon setelah sekian lama tinggal di Qing. Lee Chung kembali atas wasiat kakaknya, Putera Mahkota Lee Young (Kim Tae-woo), yang bunuh diri sebagai bentuk penebusan dosa karena menyulut api pemberontakan.

Lee Chung adalah sosok membingungkan. Terkadang ia Pangeran menyebalkan yang cuma memedulikan wanita dan enggan mengemban tanggung jawab, namun kadang kala menyimpan kepedulian, hanya saja berlagak menyebalkan karena gengsi. Di lain waktu dia murni seorang pria dengan kebaikan hati. Inkonsistensi penokohannya menghasilkan kesan seolah sedang menyaksikan beberapa orang berbeda. 

Sewaktu Lee Chung tiba, ia mendapati desa telah hancur lebur. Ketika ia mengira tengah terjadi perang atau wabah penyakit (banyak mayat gosong bergelimpangan), sesosok zombie, atau yang mereka panggil “Iblis Malam”, menyerang. Beruntung, beberapa anggota kelompok pemberontak memberi pertolongan. Sebagai gantinya, mereka meminta Lee Chung membujuk Raja supaya mengirim pasukan untuk membasmi zombie-zombie itu.

Bagi warga, situasi semakin genting kala stok makanan dan air bersih menipis. Kita digiring agar peduli akan penderitaan serta perjuangan mereka, sehingga saat ada yang meregang nyawa, diharapkan emosi kita tercabik-cabik. Tapi tidak. Saya tidak cukup mengenal karakternya untuk bisa meluangkan simpati, tidak pula mengetahui hubungan antara mereka, bahkan tidak tahu bahwa ada kakak-beradik di antaranya, kalau bukan karena panggilan “kakak” yang diucapkan. Atau panggilan itu bukan merujuk pada saudara kandung? Bagaimana saya bisa menangisi karakternya kalau filmnya sendiri gagal menjabarkan penokohan?

Bukan karakterisasi saja yang tidak jelas, pula pembangunan dunianya. Seolah ada banyak keping puzzle menghilang. Keping-keping yang menjelaskan detail situasi Joseon hingga peristiwa-peristiwa penting sebelum dan selama serbuan zombie, yang penting diketahui guna memahami gambaran utuh kondisinya. Sedangkan elemen aksinya tidak buruk, meski tak juga luar biasa, hanya mengandalkan tebasan-tebasan pedang tanpa koreografi menonjol, yang dibungkus penyutradaraan minim gaya. Praktis, Rampant sekedar mengandalkan gore berdosis medium. Biar bagaimana, melihat zombie-zombie ditusuk, disayat, lalu dipenggal, memang cukup menyenangkan.

Tapi sungguh sulit menahan pertanyaan, “Lalu apa perbedaan Rampant dengan film zombie kebanyakan?”. Didominasi serbuan zombie cepat di malam hari (seperti vampir, sinar matahari membakar tubuh mereka), desain lokasi serta kostum yang mestinya mampu memberi warna baru urung dimanfaatkan. Pun akhirnya, karakternya menerapkan rencana pemusnahan zombie paling klise. Rencana yang kalau dipikir lebih jauh, sejatinya tidak efektif, memiliki probabilitas kesuksesan tak seberapa tinggi. Rampant gagal memadukan elemen teror zombie dan film period bertema kerajaan, yang seharunya identik dengan adu taktik cerdik dalam medan pertempuran.

3 komentar :

Comment Page:

THE HOWS OF US (2018)

4 komentar
The Hows of Us—yang kini resmi menjadi film Filipina terlaris sepanjang masa dengan ₱810 juta atau sekitar $15 juta—mengajak kita mempercayai suratan takdir, terus melangkah maju bersamanya, meski di awal terasa menyakitkan dan destruktif. Karena seperti matahari, takdir bakal menenggelamkan hidup kita, meninggalkannya di kegelapan untuk sementara waktu, sebelum terbit kembali sembari memancarkan cahaya luar biasa benderang.

Filmnya dibuka melalui time-lapse yang memperlihatkan satu demi satu perabotan mengisi sebuah rumah kosong, sementara perbincangan dua tokoh utama, yang menggambarkan progres hubungan mereka, terdengar di belakang. Sebagaimana romansa menjadi lengkap saat sepasang kekasih saling mengisi, kondisi serupa berlaku untuk rumah beserta barang-barang di dalamnya. Tapi ketika terlalu banyak barang tergeletak tanpa ditata rapi, kita hanya akan menemui ruang penuh sesak, kacau, dan berantakan.

Primo (Daniel Padilla) dan George (Kathryn Bernard) adalah pasangan yang akan kita ikuti perjalanannya. Mereka bertemu semasa kuliah di sebuah kompetisi debat mengenai peran gender, yang berujung konklusi kalau perbedaan pria dan wanita bukan masalah sebab keduanya ditakdirkan untuk saling melengkapi. Kesetaraan gender bukan topik utama filmnya, tapi saya suka fakta bahwa terdapat dua momen terpisah saat mereka saling terpesona oleh tubuh masing-masing. Terpikat pada fisik lawan jenis bukan eksklusif milik pria semata, dan selama tak ada tindakan kelewatan yang mengikuti, itu merupakan suatu kewajaran.

Keduanya jatuh cinta, lalu tinggal bersama di rumah mendiang nenek George, Tita Lola (Susan Africa), yang berpesan agar merawat rumah tersebut. George ingin menjadi dokter, Primo terus mengejar ambisinya sebagai musisi. Tapi seiring bergulirnya hidup, mereka semakin menjauh dari mimpi-mimpi itu, juga satu sama lain.

Tidak diragukan lagi, ini kesalahan Primo. Kesuksesan yang ia janjikan tak kunjung datang, dan mereka pun kesusahan membayar tagihan. Tapi ia enggan menyerah. Saat Primo sibuk berusaha terbang, ia tak menyadari jika George susah payah menahan permukaan tempatnya berpijak agar tidak runtuh. George rela banting tulang membagi brosur di pinggir jalan, bahkan melewatkan National Medical Admission Test (NMAT) demi menjemput Primo yang terlalu mabuk bahkan untuk berdiri.

George merasa menyia-nyiakan hidupnya, sedangkan Primo lupa kalau mereka mesti berjuang bersama. Sampai pada suatu malam gelap  di bawah guyuran hujan lebat, George tiba di batas ketahanannya, mengusir Primo, yang akhirnya pergi, tak pernah kembali atau sekedar memberi kabar.....hingga dua tahun berselang, sewaktu George telah mulai menata lagi hidupnya dan berniat menjual rumah peninggalan Tita Lola.

The Hows of Us memaparkan perjalanan panjang tanpa coba melakukan simplifikasi. Seluruh proses diperlihatkan, seluruh usaha yang menyatukan, seluruh pertengkaran yang memisahkan. Hasilnya, tiap perasaan karakternya mudah dimengerti, dan timbul bukan tanpa alasan. Naskah yang ditulis empat orang termasuk sang sutradara, Cathy Garcia-Molina (Seven Sundays, You Changed My Life, A Very Special Love), enggan buru-buru guna memaksa penonton menangis secepat mungkin, melainkan perlahan membangun momen demi momen, yang walau tampil sedikit terlampau panjang ketika beberapa situasi terus bergulir meski tujuan eksistensinya telah dicapai, menghasilkan penebusan sepadan berupa puncak emosi. Tapi betul, film ini tidak perlu berjalan selama 117 menit.

Musik gubahan Jessie Lasaten (Unexpectedly Yours, Seven Sundays) nyaris tak pernah absen, konsisten mengalunkan nada melankolis yang urung terdengar manipulatif. Sebelum waktunya tiba, musiknya sebatas latar, ketika Cathy Garcia-Molina membiarkan makna di balik tiap momen serta performa dua pemeran utama mengarahkan jalan. Pasca kembalinya Primo, sebagai komedi-romantis, The Hows of Us mulai menyuguhi kita bagian komedinya, yang tampil lucu sekaligus manis berkat pesona di balik kengototan Daniel Padilla untuk memenangkan kembali pujaan hatinya, juga gaya “malu-malu-mau” dari Kathryn Bernardo yang bakal merekahkan senyum di bibir anda.

Di satu titik, lokasinya berpindah ke Amsterdam. Dalam sebuah adegan yang tersaji indah dari balik lensa kamera sinematografer Noel Teehankee (My Perfect You, Fangirl Fanboy), kedua karakternnya mengarungi taman bunga bersama, di bawah siraman cahaya matahari senja, mengingat masa lalu, memori-memori yang tersimpan, berkontemplasi, kemudian bertanya, “Apa jadinya jika hari itu mereka tak berpisah? Apakah itu jaminan hubungan mereka bakal awet? Apakah mereka dapat belajar menjadi orang yang lebih baik dan dewasa seperti sekarang?”. Tidak ada yang tahu, tapi mungkin ungkapan “Indah pada waktunya” bukan cuma omong kosong.

4 komentar :

Comment Page: