PETER RABBIT (2018)
Rasyidharry
Februari 25, 2018
Comedy
,
Domhnall Gleeson
,
James Corden
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Rose Byrne
,
Sam Neill
,
Will Gluck
14 komentar
“Everyone is allergic
to something nowadays”, demikian ucap Peter (disuarakan James Corden). Kebetulan
kalimat ini mengundang paralel terkait tudingan bahwa film ini melakukan “allergic bullying”. Sebab di salah satu
adegan, Peter dan teman-temannya memanfaatkan alergi blackberry yang diderita Thomas
McGregor (Domhnall Gleeson) untuk melemparinya menggunakan buah tersebut.
Fenomena ini memperlihatkan mengapa tontonan macam Peter Rabbit dibutuhkan. Sebuah film dengan satu-satunya tujuan
adalah bersenang-senang, meski hiburan miliknya takkan awet di ingatan
penonton.
Ketika hampir segala hal di dunia dipandang sebagai
permasalahan, Peter Rabbit enggan
peduli, tanpa takut menggelar petualangan anarkis yang bagai adaptasi Tom & Jerry. Apabila Tom dan Jerry saling melempar meriam,
maka Peter beserta saudara-saudaranya memasang perangkap listrik yang dapat
membuat seseorang tersetrum hingga terlempar. Kedua tontonan itu pun sama-sama
menampilkan karakernya dihantam pegangan garpu taman yang mereka injak. Bedanya,
Peter Rabbit berani menunjukkan
kematian tokoh manusia secara on-screen.
Mr. McGregor (Sam Neill) yang amat membenci kelinci dan
pernah membunuh ayah Peter lalu memakannya, mendadak tewas karena serangan
jantung. Dia tewas kala memburu Peter yang kerap mencuri sayur serta buah di
ladangnya. Baru sebentar hewan-hewan berpesta pora, datanglah Thomas, keponakan
jauh Mr. McGregor yang mewarisi rumah tersebut. Thomas rupanya tidak kalah
kejam dibanding sang paman soal memburu kelinci. Malang bagi Peter,
keberuntungan bagi penonton, karena kemunculan Gleeson memperbaiki dinamika
film yang sempat kurang stabil di awal.
Domhnall Gleeson menyimpan talenta komedi luar biasa melalui
histeria komikal yang selalu berhasil menyentuh urat tertawa. Gleeson menjadikan
Thomas sosok antagonis yang menyenangkan ditonton pula mudah disukai. Bukan
hanya oleh penonton, juga Bea (Rose Byrne), pelukis yang selama ini melindungi
para kelinci dari kejaran Mr. McGregor. Ya, Bea dan Thomas saling jatuh cinta.
Peter yang selama ini merupakan kelinci favorit Bea pun cemburu, memfasilitasi
naskah buatan Will Gluck (juga selaku sutradara) dan Rob Lieber berpetuah soal
cinta. Bahwa cinta semestinya dibagi, disebarkan ke semua makhluk alih-alih
jadi bahan obsesi diri sendiri.
Walau mengandung pesan, pemaknaan terhadapnya urung diposisikan
selaku fokus terdepan. Peter Rabbit
tetap menyimpan secuil momen hangat seputar keluarga, tapi bersenang-senang masih
jadi tujuan utama. Film ini boleh berasal dari buku cerita anak yang
dipublikasikan pertama kali pada tahun 1902, Will Gluck berusaha membuat
filmnya sebisa mungkin terasa kekinian. Tengok saja penggunaan deretan lagu “Top
40” macam Feel it Still yang sekilas
merupakan pilihan klise nan malas, namun efektif mendukung niatnya
bersenang-senang.
Semakin brutal pertarungan Peter dan saudara-saudaranya
melawan Thomas, semakin menyenangkan. Pula seiring bergulirnya kejenakaan aneh
nan kreatif berbungkus kesempurnaan timing
dari Gluck, turut bertambah daya pikat filmnya. Peter Rabbit bagai enggan menahan diri, menggila guna menghadirkan
hiburan. Lagipula, ini sajian petualangan kental komponen slapstick tentang kelinci-kelinci yang
bisa bicara dan mengenakan jaket (tanpa celana)? Jadi untuk apa menahan diri?
MEET ME AFTER SUNSET (2018)
Rasyidharry
Februari 24, 2018
Agatha Chelsea
,
Billy Davidson
,
Fatmaningsih Bustamar
,
Haqi Achmad
,
Indonesian Film
,
Iszur Muchtar
,
Kurang
,
Maxime Bouttier
,
REVIEW
8 komentar
Meet Me After Sunset adalah film romansa, sehingga saat
tokoh utama laki-laki melihat perempuan misterius berjalan sendiri di tengah
malam, membwa lentera sambil bersenandung untuk kemudian tiba-tiba hilang di
balik kabut, bukan jadi hal menyeramkan. Si laki-laki justru makin tertarik
dengan si perempuan. Di film horor, peristiwa itu bakal disebut penampakan.
Sementara di kehidupan nyata, saya akan menutup jendela rapat-rapat, berbaring
sambil mendengarkan lagu riang. Namun dengan begitu takkan ada drama, takkan
ada film.
Si laki-laki bernama Vino (Maxime Bouttier), remaja tampan
asal Jakarta yang terpaksa menuruti keinginan orang tuanya pindah ke Ciwidey,
Bandung. Walau digilai seisi sekolah, Vino terlanjur kepincut pada perempuan
bertudung merah tadi. Gadis (Agatha Chelsea) namanya. Orang-orang
memandangnya aneh karena jangankan bersekolah, keluar rumah pun hanya di malam
hari, menuju bukit, menari di tengah kunang-kunang. Gadis hanya memiliki
seorang sahabat, yakni Bagas (Billy Davidson), yang tahu segala rahasianya.
Usaha Vino merebut hati Gadis dengan cara mewujudkan
mimpi-mimpinya pun dimulai. Apabila Vino bagai pangeran dari negeri dongeng,
wajar. Sebab Meet Me After Sunset
memang ingin terasa dan terlihat seperti dongeng. Negeri dongeng di mana rumah
kampung bertembok anyaman bambu memiliki perabot unik berwarna-warni ketimbang
nuansa cokelat dari kayu yang telah usang. Di luar, rembulan selalu benderang
di malam hari, sedangkan kala sore, langit selalu memamerkan warna khas magic hour tanpa pernah dirundung
mendung.
Plotnya bergerak semata demi memfasilitasi sinematografi
arahan Gunung Nusa Pelita memamerkan gambar-gambar yang meski acap kali artificial, tampak cantik. Meet Me After Sunset memang enak dilihat
berkat komponen visual unik. Tidak hanya sinematografi, pilihan kostum termasuk
pemakaian baju astronot saat Vino dan Gadis berkencan meletakkan garis pembeda
dibanding romansa remaja di kebanyakan film kita. Aspek ini cukup membantu
selaku penawar bagi alur lemah penuh peristiwa yang dipaksakan.
Mengapa Gadis tidak bisa ke Bandung? Bukankah Bagas atau
ayahnya (Iszur Muchtar) bisa mengantar? Bagaimana mungkin sang ayah tidak tahu
anaknya tidak suka badut atau cokelat? Daftar pertanyaan seputar kejanggalannya
bisa diteruskan tetapi akan terlalu panjang. Sisi positifnya, skenario ciptaan
Haqi Achmad dan Fatmaningsih Bustamar mampu menggambarkan dilema Gadis yang
terjebak cinta segitiga dengan baik. Alasan kebingungannya jelas, biarpun pembagian
waktu—kapan penonton mesti mendukung Vino sang protagonis, kapan mesti ikut
merasa dilematis—tersaji kusut. Resolusi masalah tersebut kurang berdasar, tapi
bukankah cinta tak perlu alasan logis?
Filmnya ditutup oleh twist
yang—berbeda dengan paparan konfliknya—tidak datang mendadak. Beberapa benih ditebar
sepanjang durasi sehingga penonton yang jeli dapat mengira-ira apa yang bakal
terjadi. Sementara iringan lagu Dulu Kini
Nanti milik Citra Scholastika tak pernah gagal menyuntikkan rasa manis
sekaligus haru pada sebuah adegan film (sebelumnya dipakai oleh Mars Met Venus). Agatha Chelsea cocok
mewakili nuansa manis tersebut, sedangkan Maxime Bouttier untuk ke depannya
perlu lebih berhati-hati memilah, mana bad
boy unik pula asyik, mana yang sebatas tengil dan menyebalkan. Jefri Nichol
selalu siap mengajari.
YOWIS BEN (2018)
Rasyidharry
Februari 23, 2018
Bagus Bramanti
,
Bayu Skak
,
Brandon Salim
,
Comedy
,
Cukup
,
Cut Meyriska
,
Fajar Nugros
,
Gea Rexy
,
Indonesian Film
,
Joshua Suherman
,
REVIEW
,
Tutus Thomson
10 komentar
Saya—dan mungkin banyak dari kalian—pernah merasa jadi manusia
paling kreatif ketika mencetuskan nama-nama nyeleneh
seperti “Tambal Band”, “Elek Yo Band”, “KepriBand”, dan sebagainya untuk nama
band, tanpa menyadari ribuan orang lain di seluruh penjuru Indonesia menyimpan
ide serupa. Dalam prosesnya, dengan tujuan utama: a) Mengejar mimpi bermusik,
dan b) Memikat hati wanita, studio-studio pun dijajah, panggung demi panggung dijamah.
Sampai tujuan kedua terpenuhi dan salah seorang anggota membawa pacar barunya
ke latihan selaku ajang pamer, di situ awal perpecahan bermula.
Yowis Ben, yang merupakan debut penyutradaraan
Bayu Skak di mana ia berduet dengan Fajar Nugros (Cinta Selamanya, Moammar Emka’s Jakarta Undercover), berpotensi
jadi gambaran akurat nan menggelitik soal lika-liku perjalanan band anak SMA
kalau bukan karena fokus cerita yang melucuti spesifikasi tersebut. Naskah
buatan Bagus Bramanti dan Gea Rexy memilih jalur formulaik from zero to hero. Yowis Ben
lebih menyoroti berbagai implikasi dari terciptanya band ketimbang seluk-beluk
internal band tersebut, yang mana lebih menarik, unik, dan menggelitik.
Bayu (Bayu Skak) yang dijuluki “Pecel Boy” karena tiap hari
membantu ibunya berjualan pecel di sekolah jengah dianggap remeh serta ingin
memikat hati Susan (Cut Meyriska). Doni (Joshua Suherman) tidak jauh berbeda, coba
membuktikan pada orang tuanya bahwa dia mampu meraih kesuksesan. Akhirnya
tercetus ide membuat band guna memenuhi mimpi keduanya. Yayan (Tutus Thomson)
si penabuh beduk dan Nando (Brandon Salim) sang keyboardist yang berharap
dikenal lewat karya daripada wajah ganteng belaka pun direkrut. Terciptalah Yowis
Ben.
Panggung pertama Yowis
Ben berujung kegagalan tatkala banyak film memilih langsung menonjolkan
para tokoh utama sebagai rising star yang
talentanya langsung mencuri perhatian publik di percobaan perdana. Pilihan realistis
yang sayangnya ditinggalkan pada fase-fase berikutnya. Yowis Ben tiba-tiba
sukses lewat YouTube berkat video klip ratusan ribu penonton yang menampilkan
Yowis Ben bernyanyi di hadapan puluhan orang. Bagaimana band SMA melarat mampu
merekrut talenta sebanyak itu? Bagaimana lagu-lagunya tercipta? Bagaimana latihan
di studio yang tentunya penuh intrik sekaligus kejenakaan berlangsung? Film ini
tak mempedulikan proses-proses itu, sehingga sulit pula mempedulikan perjuangan
serta merayakan kesuskesan karakternya.
Hambar pula romantika Bayu dan Susan, meski pembawaan membumi,
seringai naif, ditambah bakat alam Bayu Skak melucu, memudahkan kita tersenyum.
Berstatus penulis cerita, entah seberapa banyak masukan yang Bayu berikan
terkait penulisan naskah khususnya bumbu komedi, tapi memang humornya paling
efektif tatkala Bahasa Jawa memainkan peranan besar khususnya sewaktu
umpatan-umpatan dan selorohan menyeruak masuk. Ganti dengan Bahasa Indonesia,
kelucuannya dipastikan menurun drastis. Unsur Jawa akhirnya lebih berperan
menguatkan komedi ketimbang alur yang minim kekhasan dan bisa dipindah ke
balahan dunia manapun tanpa menimbulkan perbedaan signifikan.
Yowis Ben menyasar banyak hal, mulai pembuktian
orang-orang yang dipandang sebelah mata—termasuk Bahasa Jawa yang disebut
kampungan oleh netizen—percintaan, persahabatan,
hubungan anak dan orang tua, hingga band SMA, tanpa ada yang benar-benar tampil
solid. Setidaknya keempat tokoh utamanya amat menghibur berkat ciri
masing-masing, terlebih Yayan dengan kebiasaannya meminum kuah pop mie memakai
sedotan. Ya, menghibur. Jangan berharap lebih dari itu bagi sebuah film tentang
band beraliran musik pop-punk “towat-towet”
yang gemar melafalkan “t” sebagai “c”.
MONSTER HUNT 2 (2018)
Rasyidharry
Februari 22, 2018
Bai Baihe
,
Chinese Movie
,
Jing Boran
,
Li Yuchun
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Tony Leung
13 komentar
Suatu ketika pacar saya pernah berkata bahwa ibunya suka
menonton film di bioskop, tapi hanya sebagai media hiburan. “Yang penting gambarnya
enak dilihat”, sebutnya. Saya percaya itu bukan cuma mewakili penonton dari
kalangan ibu-ibu, tapi secara umum. Beramai-ramai, entah bersama kawan atau
keluarga, mereka datang mencari eskapisme. Kebanyakan enggan melihat
pemandangan sehari-hari di layar. Mereka ingin dihibur, tertawa, terpana, dan
kalau bisa, sedikit disentuh perasaannya. Blockbuster
Cina belakangan makin ahli melakukan itu sehingga menghasilkan iklim industri
yang makin positif.
Monster Hunt 2, selaku sekuel film terlaris keempat
sepanjang masa di Cina, sanggup melakukannya. Hebatnya, pencapaian tersebut berlaku
ke semua umur. Penonton dewasa akan menyukai tingkah konyol tokoh-tokohnya,
Wuba yang menggemaskan, juga tata artistik megah dari penataan setting hingga
kostum, sementara anak tentu menyukai pertarungan monster-monster berpenampilan
bagai karakter kartun. Monster
Hunt 2 memang memposisikan diri sebagai tontonan keluarga. An entertaining one.
Tidak ada usaha untuk menjadi suguhan cerdas dalam naskah
buatan Jack Ng, Sunny Chan, dan Su Liang. Bahkan cenderung memaksa untuk
melanjutkan kisah yang telah ditutup manis. Bila film pertamanya ditutup saat Song
Tianyin (Jing Boran) dan Huo Xiaolan (Bai Baihe) merelakan anak monster mereka,
Wuba, tinggal di dunia monster, maka kali ini keduanya menyadari bahwa hidup
terpisah dengan keluarga bukan hal terbaik bagi Wuba. Dua cerita terpisah yang merupakan
satu rangkaian proses dan sejatinya dapat dirangkum dalam satu film.
Seperti Wuba yang sulit diam dan berlarian semaunya tak tentu
arah, alurnya bergerak cepat hanya guna melayani satu aksi menuju aksi
berikutnya, melompat dari kekacauan satu ke kekacauan lain, tanpa tertarik memaparkan narasi runtut yang
solid. Namun seperti Wuba pula, alurnya memang hanya ingin bersenang-senang.
Pertemuan Wuba dengan Tu Sigu (Tony Leung), seorang penjudi dan penipu beserta
asistennya, monster tambun bernama BenBen, membuka gerbang petualangan
menyenangkan tersebut.
Bersama Tu Sigu lah kita bertemu Zhu Jinzhen (Li Yuchun)
dengan metode hukuman uniknya, kegaduhan di kasino, pula kekonyolan sebuah pertunjukan sulap. Kata kuncinya adalah “imajinatif”. Monster Hunt 2 berbeda dengan suguhan Hollywood yang kerap
mengasosiasikan hiburan ringan dengan minimnya kreativitas. Karena bukan “film
serius”, Monster Hunt 2 bebas
bermain-main dan bereksplorasi tanpa peduli logika, menghasilkan bumbu komedi
yang tidak berhenti di tataran slapstick,
hingga beragam cara terkait eksekusi aksi, termasuk dalam klimaks yang enggan
asal besar. Walau ada satu momen di klimaks yang mungkin terlampau mengerikan,
bahkan bagi orang dewasa sekalipun.
CGI para monster jelas belum setingkat Hollywood, dan meski penokohannya
tidak kompleks, sosok-sosok seperti Wuba yang menggemaskan dan BenBen yang
lembut mampu merebut hati penonton. Untuk karakter manusia, Bai Baihe
mengasyikkan disimak, tetapi Tony Leung paling
menyedot atensi tiap kali Tu Sigu
mengisi layar. Dia lancar menangani porsi komedi juga (tentu saja) drama. Tu
Sigu menjadi tokoh terbaik, sebab ia paling banyak mengalami proses dibanding
karakter lain di sini, hingga akhirnya bertransformasi. Andai franchise Monster Hunt hendak bergerak
ke haluan berbeda, Leung jelas lebih dari cukup mengisi slot protagonis utama.
THE POST (2017)
Rasyidharry
Februari 18, 2018
Bagus
,
Bruce Greenwood
,
Drama
,
John Williams
,
Josh Singer
,
Liz Hannah
,
Meryl Streep
,
REVIEW
,
Steven Spielberg
,
Thriller
,
Tom Hanks
13 komentar
Jika Alfred Hitchcock adalah master of suspense, maka gelar master
of emotion layak disematkan kepada Steven Spielberg. Tidak peduli betapa
rumit konspirasi dan investigasi dalam The
Post, sang sutradara bakal menyoroti kehidupan personal tokoh-tokohnya guna
menitikberatkan gejolak batin mereka. Karakter Spielberg adalah manusia dengan
perasaan yang tengah berusaha mengatasi kekurangan miliknya demi kebaikan. Alhasil,
walau name-dropping maupun gempuran
beruntun fakta-fakta kompleks memusingkan anda, filmnya tak pernah terasa
kosong. Karena The Post tidak pernah
sepenuhnya soal konspirasi pemerintah.
Kita sesekali terpapar beberapa hasil riset rahasia mengenai keterlibatan
Amerika Serikat di Perang Vietnam, yang telah disembunyikan dari publik sejak
era Harry S. Truman sampai Richard Nixon. Namun, ini bukan Spotlight apalagi All the
President’s Men. Investigasi jurnalistik memegang peran besar, tapi
pergolakan personal karakter lebih diutamakan. Pergolakan yang memicu berbagai debat
ideologi. Ben Bradlee (Tom Hanks), pimpinan redaksi The Washington Post, merasa wajib mempublikasikan riset di atas
setelah The New York Times—media
pertama yang mengungkap konspirasi itu—diperintahkan pengadilan untuk berhenti
memuat berita tersebut karena dianggap membahayakan keberlangsungan pemerintah.
Larangan ini tentunya melanggar amandemen pertama soal kebebasan
pers. Ketika Ben berhasrat, Katharine Graham (Meryl Streep) si pemilik surat
kabar justru meragu, sebab The Washington
Post sedang berada dalam proses penjualan saham guna mengatasi permasalahan
finansial. Sedikit saja timbul masalah, para investor bisa kabur. Belum lagi pria-pria
di jajaran direksi kerap mengatur Katharine yang memang kurang tegas
dan minim pengalaman. Pun sahabatnya, Robert McNamara (Bruce Greenwood)
termasuk salah satu pihak yang paling dirugikan atas terbongkarnya konspirasi.
Seberapa besar seseorang bersedia berkorban demi kebenaran?
Dalam pertukaran ideologinya, Spielberg terkadang membiarkan
para aktor memainkan intensitas adegan. Sebab, menyatukan Hanks dan Streep di
layar sudah lebih dari cukup. Seperti tampak di momen pertama Katharine dan Ben
bersama, saat Spielberg tak menggerakkan kamera dalam satu take panjang. Dinamika suasana tumbuh secara alamiah seiring
keduanya saling melempar opini dan lelucon. Hanks, sebagaimana biasa, memancarkan
pesona magnetis, tapi Streep lebih memukau. Penuh rasa ragu, bicara yang
terbata dengan suara seolah mengawang tak tentu. Begitu ia mampu mengatasi
kekurangannya, Streep bukan menunjukkan “perubahan mendadak”, melainkan transformasi
alamiah yang tak berkontradiksi dengan karakterisasi.
Perlahan mendekatkan kamera menuju objek (track-in) untuk menguatkan intensitas
adalah strategi mendasar pengadeganan. Berulang kali Spielberg menerapkannya untuk menangkap emosi di mata pemain, dan tidak banyak sutradara dengan kepekaan timing
sekuat dirinya. Di tangan Spielberg, adegan Tom Hanks menjajarkan koran di meja
saja bisa begitu emosional. “It’s not a
party, it’s a war”. Demikian ucap seorang tokoh. Spielberg memang
menjadikan thriller politik bernuansa
jurnalistik ini bak tontonan epic.
Musik John Williams sesekali menyeruak di sela-sela kantor surat kabar yang
riuh rendah akan bunyi mesin ketik, sedangkan penyuntingan gambar taktis
Michael Kahn dan Sarah Broshar acap kali berjasa menyusun ketegangan.
The Post memakai formula bercerita yang
familiar, seperti halnya penindasan Nixon terhadap pers menjadi pemandangan
familiar bagi publik Amerika di tengah kekuasaan Trump kini. Sepanjang film terdengar
rekaman pembicaraan telepon Nixon yang bermuara pada salah satu skandal paling
menghebohkan, apalagi kalau bukan Watergate. Skenario buatan Liz Hannah dan Josh
Singer menjadikan Watergate sebagai penutup The
Post tak lain selaku pengingat, betapa pemerintah mungkin selalu
menyembunyikan rahasia lain, yang bisa jadi lebih besar dari sebelumnya.
PREDIKSI PEMENANG OSCAR 2018
Tidak
sampai sebulan lagi, tepatnya pada 4 Maret, ajang Academy Awards ke-90 siap
digelar. The Shape of Water memimpin dengan 13 nominasi, diikuti Dunkirk (8) lalu Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (7). Seperti banyak orang telah ketahui, Oscar semakin kental nuansa politis. Ketimbang sekedar kualitas,
beragam isu dan kepentingan berperan sangat besar menentukan siapa saja yang bakal
berjaya. Faktor tersebut tentu saja mempengaruhi prediksi saya kali ini. Tanpa
perlu panjang lebar, ini dia prediksi pemenang Oscar 2018 versi Movfreak:
BEST VISUAL EFFECTS
Juri
bakal lebih mengagungkan sinematografi Blade
Runner 2049 ketimbang efek visualnya. Ini pertarungan Star Wars: The Last Jedi melawan War for the Planet of the Apes. Kemenangan Ex-Machina atas The Force Awakens
2 tahun lalu menunjukkan bahwa Oscar lebih menyukai efek realis ketimbang
bombastis. War for the Planet of the Apes
memenuhi kriteria itu.
Should
Win: War for the Planet of the Apes
Will
Win: War for the Planet of the Apes
BEST FILM EDITING
Butuh
kejelian luar biasa guna menyesuaikan hentakan musik dengan perpindahan adegan
dalam Baby Driver, tapi gerak taktis
di medan perang Dunkirk bakal lebih
membuai. Apalagi Dunkirk berdasarkan
aspek teknis, dan berpeluang besar menguasai kategori-kategori terkait.
Should
Win: Baby Driver
Will
Win: Dunkirk
BEST COSTUME DESIGN
Phantom Thread adalah film tentang desainer. Fakta itu sudah cukup
menyegel kemenangannya.
Should
Win: Phantom Thread
Will
Win: Phantom Thread
BEST MAKEUP AND HAIRSTYLING
Tidak
ada kontes. Victoria & Abdul masuk
hanya sebagai pelengkap, dan kemampuan tata rias Darkest Hour mendukung akting Gary Oldman, yang bisa dipastikan
memenangkan Best Actor, memberinya
keuntungan.
Should
Win: Darkest Hour
Will
Win: Darkest Hour
BEST CINEMATOGRAPHY
Nominasi
ke-14 Roger Deakins. Mau sampai kapan Oscar membiarkannya nihil piala? Sudah
waktunya itu diakhiri.
Should
Win: Roger Deakins – Blade Runner 2049
Will
Win: Roger Deakins – Blade Runner 2049
BEST PRODUCTION DESIGN
Ada
kemegahan Beauty and the Beast serta
cyberpunk memukau Blade Runner 2049, tapi mustahil rasanya
peraih nominasi terbanyak tak memenangkan satu pun kategori teknis. Ini jatah The Shape of Water.
Should
Win: Blade Runner 2049
Will
Win: The Shape of Water
BEST SOUND MIXING
Saya
tidak begitu menyukai Dunkirk, tapi
kehebatan tata suaranya tak perlu diragukan. Tidak ada lawan berarti.
Should
Win: Dunkirk
Will
WIn: Dunkirk
BEST SOUND EDITING
Kasusnya
serupa dengan kategori Best Sound Mixing.
Should
Win: Dunkirk
Will
Win: Dunkirk
BEST ORIGINAL SONG
Pertarungan
Remember Me melawan This is Me. Remember Me adalah pondasi emosi Coco.
Should
Win: Remember Me
Will
Win: Remember Me
BEST ORIGINAL SCORE
Musik
bak negeri dongeng Desplat sama indahnya dengan nada-nada elegan ciptaan Jonny
Greenwood di Phantom Thread. Tapi
cinta juri jelas lebih tercurah pada The
Shape of Water.
Should
Win: Alexandre Desplat – The Shape of Water
Will
Win: Alexandre Desplat – The Shape of
Water
BEST DOCUMENTARY – FEATURE
Kategori
paling sulit ditebak tatkala dua unggulan, Jane
dan City of Ghosts absen sebagai
nominee. Strong Island dengan isu
rasisme cukup berpeluang, tapi sejauh ini gaung lebih condong ke arah Faces Places.
Should
Win: Icarus
Will
Win: Faces Places
BEST FOREIGN LANGUAGE FILM
Loveless adalah film luar biasa dengan setumpuk shot-shot superior. Tapi kembali, faktor
relevansi isu memegang peranan. A
Fantastic Woman yang mengusung tema LGBT adalah unggulan.
Should
Win: Loveless
Will
WIn: A Fantastic Woman
BEST ANIMATED FEATURE FILM
Come on, there’s no contest here.
Should
Win: Coco
Will
Win: Coco
BEST ADAPTED SCREENPLAY
Naskah
Aaron Sorkin luar biasa dalam merangkum fakta berbasis dialog tanpa melupakan
hati. Namun kemenangan Call Me by Your
Name di Writers Guild Awards
makin menguatkan posisinya.
Should
Win: Molly’s Game
Will
Win: Call Me by Your Name
BEST ORIGINAL SCREENPLAY
Semula
Lady Bird adalah unggulan, hingga Get Out memenangkan Writers Guild Awards. Ditambah usungan isu rasisme, jalur
kemenangannya terbuka lebar.
Should
Win: Three Billboards Outside Ebing, Missouri
Will
Win: Get Out
BEST SUPPORTING ACTRESS
Laurie
Metcalf jelas menyuguhkan akting yang lebih kompleks ketimbang Allison Janney,
tapi menilik hasil Screen Actors Guild
Awards, kemenangan Janney sulit dibendung.
Should
Win: Laurie Metcalf – Lady Bird
Will
Win: Allison Janney – I, Tonya
BEST SUPPORTING ACTOR
Kemenangan
Rockwell di Screen Actors Guild Awards
merupakan modal utama. Satu-satunya penghalang apabila juri termakan backlash seputar karakter rasis yang ia
perankan. Bila terjadi, Willem Dafoe siap mencuri
kesempatan.
Should
Win: Sam Rockwell – Three Billboards
Outside Ebbing, Missouri
Will
Win: Sam Rockwell – Three Billboards
Outside Ebbing, Missouri
BEST ACTRESS
Alasan
yang sama: Screen Actors Guild Awards.
Akting McDormand memang luar biasa, walau saya tak keberatan jika Sally Hawkins
muncul sebagai pemenang.
Should
Win: Frances McDormand - Three Billboards
Outside Ebbing, Missouri
Will
Win: Frances McDormand - Three Billboards
Outside Ebbing, Missouri
BEST ACTOR
Satu-satunya
yang bisa menggagalkan kemenangan Oldman adalah kasus kekerasan yang pernah ia
lakukan ke mantan istrinya, Donya Fiorentino mempengaruhi pilihan juri. Di situ
peluang Timothée Chalamet muncul.
Should
Win: Gary Oldman – Darkest Hour
Will
Win: Gary Oldman – Darkest Hour
BEST DIRECTOR
Hasil
Directors Guild Awards jelas
menguntungkan del Toro. Lawan beratnya adalah Greta Gerwig yang bakal selaras
dengan gerakan-gerakan terkait hak wanita yang marak terjadi belakangan.
Should
Win: Guillermo del Toro – The Shape of
Water
Will
Win: Guillermo del Toro – The Shape of
Water
BEST PICTURE
Ini
perlonbaan tiga kuda pacu: Three
Billboards Outside Ebing, Missouri, The Shape of Water, dan Lady Bird. Empat jika menghitung Get Out dengan tema rasialisme miliknya,
tapi juri akan puas memberi kemenangan di naskah. Three Billboards merupakan unggulan sampai beberapa waktu terakhir tuduhan
rasisme mencuat. Untuk menebak, kita perlu memahami sistem penghitungan
kategori ini. Bukan cuma “Siapa yang paling disukaii” yang harus diperhatikan,
juga “siapa yang paling tidak dibenci”. The Shape of Water sesuai dengan syarat itu.
Should
Win: Three Billboards Outside Ebbing,
Missouri
Will
Win: The Shape of Water
EIFFEL...I'M IN LOVE 2 (2018)
Rasyidharry
Februari 16, 2018
Cukup
,
Donna Rosamayna
,
Hilda Arifin
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Romance
,
Samuel Rizal
,
Shandy Aulia
10 komentar
Eiffel...I’m In Love 2 adalah produk budaya Indonesia
terkait pernikahan. Pernyataan “Menikah jangan ditunda-tunda” atau pertanyaan “Kapan
nikah?” pun jamak mampir di telinga kita, termasuk telinga Tita (Shandy Aulia).
Bayangkan, sudah 12 tahun ia berpacaran dengan Adit (Samuel Rizal) tapi bahtera
rumah tangga tak kunjung ditempuh. Bagi kebanyakan masyarakat kita, itu
permasalahan besar. Bagi Tita, menanti kalimat “will you marry me?” dari Adit makin lama makin meresahkan. Apakah Adit
benar-benar serius menjalani hubungan? Tita kerap mempertanyakan itu.
Sedangkan saya mempertanyakan “Apakah filmnya mampu mengolah
isu kekinian yang kompleks tersebut?”. Alkisah 12 tahun pasca film pertama,
Adit dan Tita masih menjalani LDR dengan bentuk interaksi serupa: bertengkar,
bertengkar, dan bertengkar. Tita yang manja dan selalu merengek, Adit yang
ketus dan galak. Sekilas mereka tidak berubah. Tapi sejatinya ada perubahan
besar yang menggiring Eiffel...I’m
In Love 2 berpindah jalur dibandingkan pendahulunya, yakni status pacaran dua tokoh utama.
Konon setelah berpacaran, romantisme berkurang, hubungan lebih
hambar serta gampang ditebak. Eiffel...I’m
In Love 2 terjangkit hal serupa. Elemen kejutan dalam dinamika Adit-Tita memudar,
sedangkan konfliknya terjerumus keklisean seputar kesalahpahaman yang mestinya
dapat diselesaikan dengan mudah dan cepat. Pertengahan durasi praktis sekedar
diisi jalan-jalan berkeliling Paris sembari diselingi rutinitas obrolan
berujung pertengkaran. Obrolan dangkal sekaligus repetitif yang urung dipakai
menggali isu pernikahan yang diangkat.
Beruntung chemistry
Shandy Aulia dan Samuel Rizal kian rekat, hingga efektif menyunggingkan senyum
di bibir penonton. Samuel yang semakin matang tidak lagi datar saat
menyampaikan dialog, sementara Shandy adalah sumber tenaga filmnya. Keduanya
menyatu bersama warna-warna lembut dari kamera Yunus Pasolang serta lagu-lagu catchy Melly Goeslaw, menciptakan rasa manis
guna menebus usaha pendewasaan cerita yang belum dibarengi naskah mendalam
maupun kecanggungan Rizal Mantovani membungkus sederet adegan komedi.
Kekurangan naskah buatan Donna Rosamayna tampak dalam
penokohan yang inkonsisten bila disandingkan dengan usungan tema. Eiffel...I’m In Love 2 coba merobohkan
anggapan “lebih cepat menikah lebih baik”. Pola pikirnya kekinian, tetapi diisi
tokoh-tokoh macam Adit dan Bunda (Hilda Arifin) yang kolot pula mengekang. Khususnya
Bunda. Di film pertama, sikapnya masuk akal mengingat Tita merupakan gadis 15
tahun sekaligus anak bungsu. Bermaksud membangun kontinuitas, hasilnya justru karakter
yang seolah tak berkembang seiring waktu.
Pesan agar tak menggampangkan pernikahan memang relevan pada
era saat banyak orang buru-buru menikah karena dipandang selaku solusi
permasalahan (yang justru memancing masalah lebih besar kala minim persiapan). Andaikan pesan itu disampaikan bertahap sembari menyertakan gambaran nyata ketimbang diringkas di penghujung dan cuma berbentuk
petuah. Kekurangan Eiffel...I’m In Love 2
jelas menumpuk. Saya akan mengingatnya sebagai film buruk kalau bukan
karena beberapa menit terakhir yang berisi ciuman romantis dan perbincangan
intim nan menyentuh. Konklusi itu bersifat krusial. Bisa menghancurkan atau
melambungkan kualitas film. Eiffel...I’m
In Love 2 termasuk golongan kedua.
BLACK PANTHER (2018)
Rasyidharry
Februari 15, 2018
Action
,
Andy Serkis
,
Bagus
,
Chadwick Boseman
,
Letitia Wright
,
Ludwig Göransson
,
Michael B. Jordan
,
REVIEW
,
Ryan Coogler
,
Science-Fiction
66 komentar
Di Black Panther, Wakanda
digambarkan sebagai negara adidaya makmur, berteknologi maju, yang tak
melupakan akar kulturalnya. Sementara para pemegang tampuk kekuasaan tidak
memanfaatkan kekuatan mereka untuk berlaku semena-mena. Itulah surat cinta
sekaligus pernyataan filmnya. Apabila kulit hitam yang ditekan diberi kuasa dan
sumber daya, apakah mereka akan balik menginjak-injak?
Dengan tegas Black Panther menjawab, “TIDAK”.
Ketika realita memperlihatkan Trump enggan menampung pengungsi, T’Challa
(Chadwick Boseman) membuka pintu Wakanda lebar-lebar. Setelah pengalami
pergolakan batin dan politik tentu saja.
Bisakah orang baik menjadi Raja? Menurut mendiang T’Chaka
(John Kani), hal itu sulit, sehingga takkan mudah bagi sang putera memimpin
Wakanda. Bagaimana T’Challa berusaha menjadi Raja sebaik mungkin yang dapat
memakmurkan dan membahagiakan rakyatnya adalah fokus utama Black Panther. Tidak ada invasi alien, tidak ada Dewa kematian
menyerbu. Skala dijaga di lingkup internal Wakanda, dan sebagaimana negara
kebanyakan, perebutan kekuasaan serta invasi asing jadi problematika. Ulysses
Klaue (Andy Serkis) adalah pihak luar yang ingin mencuri vibranium, tapi ancaman
terbesar selalu berasal dari dalam.
Datanglah Erik “Killmonger” Stevens (Michael B. Jordan) demi
merebut tahta T’Challa sekaligus bergabung bersama Loki, Baron Zemo, dan
Vulture di jajaran villain terbaik
MCU. Mampu ia jatuhkan T’Challa ke titik terendahnya, satu hal yang tidak semua
villain bisa lakukan pada pahlawan
super. Pun terdapat alasan personal sehingga Erik Killmonger tak semudah itu
diklasifikasikan sebagai “orang jahat”, di mana pertemuan dengan sang ayah
memberi momen personal yang memantapkan pondasi penokohan itu. Saat Chadwick
Boseman adalah Raja yang meneduhkan, maka Michael B. Jordan menjadi ekstrimis
berapi-api. Keduanya karismatik.
Mengusung gesekan ideologi bernuansa politis, wajar tatkala Black Panther tanpa injeksi humor
sebesar mayoritas film MCU, meski balutan komedi tetap hadir dalam takaran
secukupnya. Apa jadinya film positif nan penuh harapan macam Black Panther jika tidak dibarengi tawa?
Naskah tulisan sutradara Ryan Coogler bersama Joe Robert Cole mungkin bukan
naskah dengan alur revolusioner, bahkan cenderung repetitif. Tapi kekurangan
itu ditebus lewat dialog kaya subteks soal ras, politik, hingga budaya.
Bicara mengenai budaya, suasana afrofuturism milik Black
Panther jelas salah satu penataan artistik terbaik dalam film pahlawan
super. Kostum beraneka warna berbalut desain unik, beberapa upacara adat, bahkan
pesawat milik T’Challa menyerupai topeng suku-suku di Afrika. Peleburan sisi
tradisional dan modernnya berjalan sempurna. Wakanda melestarikan budaya tanpa
menutup pintu akan perkembangan teknologi, seperti diwakili oleh Shuri (Letitia
Wright), adik T’Challa yang memfasilitasi Ryan Coogler menyuntikkan rasa James
Bond ke dalam Black Panther.
Sayangnya Coogler belum terlalu ahli merangkai adegan aksi. Tampak
jelas kala klimaks medioker berbalut CGI ala kadarnya berlangsung. Tapi itu pun dikarenakan deretan aksi yang mendahuluinya jauh lebih superior: Kejar-kejaran
di jalanan Korea yang melibatkan senjata futuristik hingga pertarungan memperebutkan
tahta di samping air terjun yang kental keindahan budaya termasuk musik nuansa
Afrika buatan Ludwig Göransson. Semua hal dalam Black Panther, entah musik, kostum, atau penghormatan ala Wakanda
bakal membuat black culture lebih
terdengar bahkan terlihat keren di mata publik. Apa saya sudah menyebut kalau film
ini turut meninggikan para wanitanya yang demikian tangguh? Sungguh sebuah
representasi penting.
BAYI GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI (2018)
Rasyidharry
Februari 13, 2018
Ashraf Sinclair
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Dheeraj Kalwani
,
Dorman Brosiman
,
horror
,
Indonesian Film
,
KK Dheeraj
,
Kurang
,
REVIEW
,
Rianti Cartwright
,
Rizal Mantovani
17 komentar
Seorang polisi (Dorman Borisman) tiba di TKP pembantaian
sebuah keluarga. Seluruh tulang sang suami remuk, sang istri terguncang dan
meracau, sementara bayi mereka tewas kehabisan darah. Adegan pembuka ini tidak
punya maksud kecuali menyiratkan fenomena mistis yang akan jadi pusat konflik
filmnya, memperkenalkan tokoh sampingan yang cuma berperan menjelaskan fenomena
itu pada protagonis, dan menyebutkan sub-judul “Bayi Tumbal, Bayi Mati”. Bukan awal meyakinkan bagi usaha seorang
KK Dheeraj alias KKD alias Dheeraj Kalwani naik kelas.
Dheeraj memang bagai sedang berusaha mengubah persepsi
publik. Tidak hanya menanggalkan identitas legendaris KKD, sejak Gasing Tengkorak (2017) rumah
produksinya pun mengusung nama Dee
Company, bukan lagi K2K Production. Tidak pula ia menggaet bintang porno luar
negeri atau Dewi Perssik sebagai pemain. Lupakan sangkalannya terhadap
pernyataan bahwa film ini merupakan remake
Bayi Ajaib (1982). Sebab, menilik trailer-nya,
Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati tampak
well-made. Meski kegagalan production value apik menutupi kelemahan
naskah dan penyutradaraan yang berujung merusak film bukan lagi hal baru di
industri kita.
Setelah dua tahun, Farah (Rianti Cartwright) dan Rafa (Ashraf
Sinclair) akhirnya memiliki momongan. Namun begitu putera perdana yang diberi
nama Rangga itu lahir, kejadian aneh mulai menimpa mereka. Rafa dihantui
mimpi-mimpi buruk, sementara Farah kerap melihat bayinya dalam wujud
mengerikan. Rafa yang skeptis terhadap hal gaib meyakini sang istri menderita baby blues. Pondasi menarik untuk
membangun horor psikologis yang sayangnya terlalu malas digali dalam naskah
buatan Baskoro Adi Wuryanto.
Satu penyakit akut film horor negeri ini adalah, apa pun
sumber terornya, mau ajian maut berbentuk gasing, iblis, santet, atau bahkan
imajinasi karakternya, cara yang dipakai untuk menakut-nakuti nihil perbedaan.
Hantu akan berlari cepat di balik sofa, muncul di kamar mandi, hingga kasur.
Mungkin memang kenyataannya itu tempat favorit makhluk halus. Setidaknya beberapa
jump scare punya penempatan waktu
yang tepat sehingga tersaji mengejutkan. Poin plus bagi Rizal Mantovani,
tatkala penataan kamera Rudy Novan acap kali menyulitkan penonton untuk
mengidentifikasi hal menakutkan apa yang tengah muncul.
Menjalani debut di film horor, Rianti tampak kesulitan
menjual kengerian yang meyakinkan. Teriakannya, ekspresi ketakutannya, urung
menyalurkan perasaan serupa kepada penonton. Tidak bisa sepenuhnya disalahkan.
Melihat desain si bayi gaib (atau bayi tumbal? atau bayi mati? Saya tak peduli),
tawa memang akan lebih mudah hadir ketimbang rasa takut. Penampilan Ashraf Sinclair
cukup bisa dinikmati, namun lebih dikarenakan tuntutan yang belum sebesar
Rianti. Karakter Rafa tidak sesering Farah mendapat gangguan mistis.
Ending-nya memperlihatkan sang pelaku
sesungguhnya mendatangi kediaman Farah dan Rafa. Untuk apa repot-repot saat
santet yang dikirim terbukti manjur? Lima menit terakhir bak cerminan kebingungan
Baskoro Adi Wuryanto mengenai harus bagaimana kisahnya ditutup. Serupa Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism, Jailangkung,
hingga Ghost Diary, film ini dipenuhi
detail-detail khas Baskoro yang amat menggelitik dan niscaya memberi anda
dan teman-teman pengalaman mengasyikkan kala menertawakannya bersama-sama.
BUNDA: KISAH CINTA 2 KODI (2018)
Rasyidharry
Februari 11, 2018
Acha Septriasa
,
Ali Eunoia
,
Ario Bayu
,
Asma Nadia
,
Bobby Prasetyo
,
Drama
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
REVIEW
,
Yadi Sugandi
19 komentar
Inspira Pictures. Dengan nama seperti itu, bisa ditebak rumah
produksi satu ini bertujuan melahirkan film inspiratif. Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi selaku karya komersil perdananya
merupakan adaptasi novel Cinta 2 Kodi
buatan Asma Nadia, yang didasari kisah nyata Kartika, seorang pengusaha baju
muslim anak. Film ini bukan cuma ingin bicara soal kesuksesan bisnis, walau bagaimana
Kartika mampu mengembangkan usaha kecilnya jadi sebesar sekarang sejatinya
sudah cukup mengagumkan. Tapi ini buah pikir Asma Nadia. Harus ada yang lebih
dari sekedar menghasilkan uang.
Ibarat proses membuat lagu, Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menyertakan sebanyak mungkin instrumen
demi hasil maksimal. Ketika semua alat beserta musisi telah terkumpul, sang
komposer justru kebingungan menata porsi dan posisi masing-masing. Pun sang komposer meminta penggebuk drumnya
memainkan pedal ganda walau lagunya bergenre pop. Proses sederhana akhirnya
berujung kerumitan tak perlu. Kartika (Acha Septriasa) tertegun mendapati
suaminya, Fahrul (Ario Bayu) meminta izin menikah lagi untuk memenuhi keinginan
ibunya yang sakit parah. Apa perlunya konflik ini?
Fahrul bahkan meminta Kartika menggugurkan bayi kedua mereka.
Lagi-lagi apa perlunya? Selain itu, permintaan ini berlawanan dengan penokohan
Fahrul si ayah penyayang. Melompat ke pertengahan film, Fahrul tak sengaja
menjatuhkan bahan pesanan Kartika. Fahrul yakin bahan itu jatuh ketika ia
nyaris tertabrak mobil. Bila saya di posisi Fahrul, saya akan bergegas kembali
ke lokasi, mencarinya. Alih-alih demikian, Fahrul cuma minta maaf, meratap,
masuk ke dalam rumah. Tentu Kartika marah besar. Masalah yang takkan
berkepanjangan jika terjadi pada manusia normal di dunia nyata.
Penokohan Kartika sebenarnya cukup menarik. Dia mengatur
hidup kedua puterinya, angkuh, tenggelam dalam pekerjaan dan lupa keluarga. Keputusan karakterisasi yang dalam konteks “film inspiratif”
termasuk berisiko sehingga patut diapresiasi. Andai konflik dikerucutkan di
bagian ini, yaitu tentang orang tua yang membanting tulang demi para buah hati
namun sempat melupakan tujuan tersebut, alurnya bakal lebih tertata. Sebab
seiring masalah bertambah, makin sulit mengidentifikasi arahnya. Soal
pemberdayaan wanita? Kesetiaan cinta? Pengorbanan ibu bagi anak? Mana yang
utama mana yang pendukung tampak kabur, tak saling mengikat, seolah berdiri
sendiri-sendiri.
Penyutradaraan Ali Eunoia dan Bobby Prasetyo untungnya
memiliki sensitivitas. Lihat saat Fahrul memohon agar Kartika menerimanya lagi.
Ali dan Bobby enggan meledakkan dramatisasi. Dibungkus cahaya temaram sinematografi
Yadi Sugandi, dialognya diucapkan setengah berbisik pun tanpa musik. Kedua sutradara
membangun keintiman sembari mengandalkan akting pemain. Acha dituntut meluapkan
amarah sambil berteriak berulang kali dan sanggup membuatnya tidak repetitif.
Selalu ada detail kecil untuk pembeda antar situasi. Bermodalkan charm-nya, Ario Bayo meyakinkan
memerankan sosok ayah idola anak-anaknya, yang turut diperankan dengan baik
oleh Arina Mindhisya dan Shaquilla Nugraha.
Apakah Bunda: Kisah
Cinta 2 Kodi inspiratif? Sebagai inspirasi semu mungkin saja. Aspek
bisnisnya penuh simplifikasi, berorientasi pada hasil ketimbang menelusuri
pergulatannya lebih mendalam. Memang baru sampai situ makna “inspiratif”
bagi sebagian masyarakat kita. Pokoknya kesuksesan
dapat diraih di tengah keterbatasan tanpa tertarik memahami cara menuju ke sana.
Pokoknya permasalahan seberat apa pun dapat terselesaikan. Entah benar-benar selesai
atau cuma dijustifikasi sebagaimana film ini menyelesaikan problematika
tokoh-tokohnya. Baik Kartika maupun Fahrul menyulut masalah-masalah pelik, berbuat kekeliruan fatal, lalu begitu saja dimaafkan dan terlupakan.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)





































14 komentar :
Comment Page:Posting Komentar