REVIEW - VAL
Sekitar 800 jam materi berisi rekaman di balik layar berbagai produksi film, audition tapes, home video, dan lain-lain, jadi modal pembentukan Val, selaku dokumenter mengenai Val Kilmer, salah satu bintang terbesar Hollywood era 90-an, sekaligus figur kontroversial yang dianggap biang masalah. Di tangan pihak eksternal, modal di atas lebih dari cukup untuk melahirkan eksplorasi kompleks, yang merayakan kehebatan sembari merenungkan kelemahan seorang manusia.
Val disutradarai Leo Scott dan Ting Poo, tapi jelas ini proyek Kilmer. Dia tampil di depan kamera, memproduseri, pula menulis narasi yang dibaca puteranya, Jack, karena selepas menderita kanker tenggorokan, Kilmer kehilangan suaranya. Sementara Mercedes, puterinya, menjadi associate producer. Alhasil, meski tetap mengajak penonton mengunjungi ruang-ruang personal sang aktor, Val tampil tak sedalam yang dijanjikan, pun sering terasa seperti usaha membangun ulang citra.
Sedikit meninggalkan kekecewaan? Mungkin. Apakah salah? Tentu tidak. Dan bukan berarti filmnya buruk. Sekali lagi, ada modal sekitar 800 jam video. Ditambah karir sarat cerita yang membentang nyaris 40 tahun, minimal tiap sudut Val menyimpan nilai hiburan.
Tujuan utama Val adalah menjawab tudingan, bahwa meski bertalenta, Kilmer sulit diajak bekerja sama. Menurut film ini, ada dua penyebab. Pertama, kematian adiknya, Wesley (meninggal di umur 15 tahun akibat epilepsi), meninggalkan lubang yang tak pernah terobati di hati Kilmer. Berbagi kecintaan pada film, keduanya kerap membuat ulang judul-judul favorit mereka, termasuk Batman, yang mendorong Kilmer menerima peran di Batman Forever (1995).
Alasan kedua menyoroti bagaimana Kilmer menangani sebuah peran. Baginya akting adalah "a place where you end and the character begins". Di mana fiksi dan realita membaur. Tumbuh di dunia teater membuat Kilmer menjunjung tinggi totalitas berperan, beberapa kali menerapkan method acting, dan terganggu bila totalitas itu tak difasilitasi.
Terdengar seperti justifikasi, "Sikap bermasalahnya merupakan wujud kekecewaan terkekangnya ekspresi artistik seorang seniman". Di sebuah wawancara, Joel Schumacher menyebut Kilmer "childish and impossible". Di sini, Kilmer mengeluhkan keterbatasan performa kala memerankan Batman, merasa cuma harus "berdiri di mana pun ia diminta". Mana yang benar? Entahlah. Sebab Val, biarpun memiliki segudang materi video, terkesan pelit membagi rekaman proses pembuatan film dalam kuantitas memadai, guna memberi pemahaman lebih akan suatu peristiwa pada penonton.
Terkait proses di balik layar, bagi saya bukan Batman Forever, Top Gun (1986), Tombstone (1993), maupun Heat (1995) yang paling dinantikan, melainkan The Island of Dr. Moreau (1996), karena begitu banyaknya konflik selama produksi. Kembali, presentasinya terlalu singkat dan hanya berada di permukaan untuk bisa memancing pemikiran, namun melihat kekacauan kala Marlon Brando menghilang dari set, lalu harus diganti oleh pria bernama Norm, menghasilkan hiburan tersendiri.
Begitu pula saat filmnya secara bergantian menampilkan adegan Kilmer di The Doors (1991) dan aksi panggung asli Jim Morrison. Apakah itu mengeksplorasi area psikis aktor sewaktu menyatu dengan peran? Tidak, namun melihat bagaimana Kilmer membaurkan batasan "bermain peran" dan realita sungguh memukau (meski kesan itu bisa didapat dengan menonton filmnya langsung).
Val baru mulai lepas landas memasuki paruh kedua yang lebih intim. Menyaksikan Val Kilmer si "biang onar Hollywood" terduduk lemas, mesti menunda fansign gara-gara kondisi fisiknya melemah, terasa memilukan.
Momen paling menyentuh terjadi, ketika Kilmer menghadiri jumpa fans sekaligus pemutaran Tombstone di Texas. Dia tampak bersemangat membuka acara di atas panggung. Lalu penonton bersorak, sedangkan sang bintang berjalan seorang diri di tengah kegelapan, mencurahkan kegetiran karena merasa menjual kegemilangan masa lalu untuk hidup. Di momen itu, mungkin Val tetap belum menyediakan jawaban atas segala pertanyaan mengenai subjeknya, namun di situ muncul sisi lain seorang Val Kilmer.
Available on PRIME VIDEO (US)
REVIEW - THE COURIER
REVIEW - IN THE SAME BREATH
REVIEW - TRIBHANGA
Selama menonton Tribhanga, berkali-kali saya bertanya dalam hati, "Apa yang mau disampaikan film ini?". Terkadang, Renuka Shahane selaku sutradara sekaligus penulis naskah, seperti ingin menampik segala macam paham konservatif tanpa ampun, namun di kesempatan lain, cenderung bersikap toleran. Baru setelah beberapa lama, saya sudah telah salah kaprah membaca narasinya.
Judulnya merujuk pada posisi berdiri dalam tari tradisional India, yang diambil dari Bahasa Sansekerta. "Tri" berarti "tiga", "bhanga" berarti "posisi" atau "sikap". Tribhanga menceritakan tiga generasi wanita, yang mengambil posisi dan sikap berbeda dalam hidup masing-masing. Seperti apa pun sikap serta posisi yang diambil wanita (yang selalu berhadapan dengan stigma-stigma dari masyarakat konservatif), bukan masalah selama merupakan pilihan sendiri. Itulah mengapa filmnya tak berpihak. Satu-satunya yang keliru adalah ketika pilihan diambil karena paksaan.
Anuradha "Anu" Apte (Kajol) adalah bintang besar Bollywood yang kerap memancing kontroversi. Kata-katanya kesar, dikenal doyan berganti-ganti pasangan, juga seorang ibu tunggal. Puterinya, Masha (Mithila Palkar), menikahi pria dari keluarga kolot, dan kini tengah hamil. Lalu tiba, sebuah kabar mengejutkan. Ibu Anu, Nayantara (Tanvi Azmi), koma akibat serangan strok.
Hubungan Anu dengan sang ibu, yang dikenal sebagai penulis ternama, tidaklah baik. Saking tidak akurnya, Anu tidak memanggil ibunya "ibu", melainkan "Nayan". Sebelum koma, Nayan sedang membuat otobiografi miliknya, dengan bantuan Milan (Kunaal Roy Kapur). Bersama proses penulisan itu, kita diajak mengunjungi masa lalu melalui flashback, yang secara spesifik menjelaskan alasan ketidaksukaan Anu kepada Nayan.
Secara lebih general, flashback tersebut menyoroti generational trauma sembari memaknai empowerment. Shahane, yang seperti memadukan otobiografi (dia juga seorang aktris dengan ibu penulis) dan fiksi, tidak menawarkan jawaban mudah. Ada kalanya saya berdiri di samping Nayan, mengagumi keteguhannya mengejar kemandirian. Tapi sakit hati Anu jelas bisa dimengerti. Anak takkan peduli betapa sang ibu dipandang hebat lewat karya maupun aktivismenya. Apakah si anak merasa disayang, itu yang utama.
Membuat penonton memahami, bahwa penolakan Anu memahami Nayan, pula sebaliknya, kegagalan Nayan memahami Anu, jadi tujuan Tribhanga, dan itu berhasil dilakukan. Memahami berbeda dengan membenarkan. Memahami berarti tidak menutup mata, akan kemungkinan adanya alasan di balik suatu kesalahan.
Lalu bagaimana dengan Masha si generasi termuda? Dia melambangkan harapan atas era baru, di mana generational trauma berakhir. Ketika psikis anak terbebas dari "dosa" orang tua, sedangkan orang tua, yang akhirnya memerdekakan diri dari trauma masa lalu mereka, bisa total melimpahkan kasih sayang, supaya si anak mendapatkan kemerdekaan sejak dini.
Akting ketiga aktrisnya pun mencerminkan dinamika tersebut. Mithila Palkar lebih cerah, ramah, terbuka akan segala kemungkinan. Kajol berada di pusat konflik, dengan kemarahan yang belum terselesaikan, sehingga sarkasme serta sumpah serapah mengalir deras dari mulutnya. Sementara Tanvi Azmi lebih tenang, bijak, karena sudah berdamai dengan dirinya, mengakui tiap kesalahan yang pernah diperbuat.
Kedekatan personal dengan materinya membuat Renuka Shahane paham titik-titik emosi yang mesti ditampilkan. Satu pertengkaran besar antara Anu dan Nayan tampil sangat heartbreaking, mewakili momen tatkala semua rasa tak lagi dapat dibendung. Demikian pula adegan penutupnya, yang menggambarkan sebuah keutuhan, saat ketiga protagonis wanita melakukan hal yang paling dicintai, dalam satu ruang bersama orang-orang tercinta. Di situlah diri mereka utuh, baik sebagai individu atau bagian keluarga.
Available on NETFLIX
REVIEW - PESAN DI BALIK AWAN
Di antara tiga film Indonesia yang rilis 20 Agustus, Pesan di Balik Awan tampak paling kurang menarik. Paling klise. Walau perihal keklisean itu memang benar, romansa karya sutradara Dyan Sunu Prastowo (termasuk film ini, telah menelurkan tiga judul sepanjang 2021, yang semua tayang eksklusif di Klik Film) ini rupanya merupakan yang terbaik. Setidaknya paling layak tonton.
Pada mayoritas genre, kekurangan dalam penyutradaraan, naskah, dan lain-lain, sangat sulit (bisa juga mustahil) diselamatkan oleh cast. Tapi romansa lain cerita. Karena esensi dasarnya mengenai kisah cinta dua orang atau lebih. Selama penonton percaya karakternya saling mencintai, lalu mencintai mereka, berharap mereka bisa bersatu, segala kelemahan bisa dimaafkan.
Hanggini dan Refal Hady memenuhi syarat-syarat di atas. Hanggini, yang menegaskan bahwa 2021 jadi tahun breakout-nya, memerankan Kirana, yang putus dari pacarnya, Daffin (Thomas Sparringa), tepat di hari jadi mereka. Di tengah kesedihannya, Kirana menerima tantangan sang kakak, Binar (senang melihat Girindra Kara kembali sejak Ok-Jek), untuk sejenak melangkah dari zona nyaman penuh keteraturan.
Kirana menerbangkan balon berisi pesan. Jika jatuh ke tangan perempuan, akan ia jadikan sahabat, sementara kalau laki-laki, bakal menjadi kekasih. Selang dua hari, muncul email dari Awan (Refal Hady), si penerima balon. Keduanya sepakat melakukan tiga kali kencan, guna mencari tahu apakah mereka memang berjodoh. Salah satu kencannya berupa kunjungan ke rumah nenek Kirana, yang diperankan Djenar Maesa Ayu, dalam sebuah penampilan singkat namun berkesan.
Sekali lagi, memang klise. Kita tahu di mana kisahnya bermuara, kita tahu Kirana yang awalnya ragu akhirnya akan jatuh hati, kita tahu second act-nya ditutup oleh sebuah "obligatory break-up". Pun menyaksikan cara Dyan Sunu Prastowo mengarahkan filmnya (termasuk soal scoring manis dan/atau mengharu biru formulaik yang langsung terdengar tiap mencapai momen dramatis), pasti banyak penonton berujar, "FTV banget".
Tidak salah, namun sekali lagi, Hanggini dan Refal Hady menciptakan dua sosok yang mencuri hati, baik sebagai individu atau pasangan. Hanggini dengan pendekatan naturalnya, Refal yang berkarisma, memberi dinamika manis, dalam romansa tentang sepasang manusia yang berusaha keluar dari zona nyaman, baik untuk diri sendiri maupun pasangannya. Mereka memikat, bahkan saat beberapa dialog sukar didengar. Terkadang akibat buruknya tata suara, terkadang karena penempatan scoring dan lagu yang kurang tepat.
Pesan di Balik Awan hanya berdurasi sekitar 73 menit. Pendek, klise dan tak menawarkan perspektif baru, tapi ringan sekaligus manis. Menonton di bioskop butuh mengeluarkan uang serta tenaga yang tidak sedikit. Lain cerita untuk film di layanan streaming (apalagi yang berbiaya murah). Kadang kita mencari tontonan sekadar demi menghabiskan sedikit waktu, bersantai, atau menemani makan. Pesan di Balik Awan cocok untuk hal-hal tersebut.
Available on KLIK FILM
REVIEW - MAN IN LOVE
Stigma remake sebagai wujud minimnya kreativitas adalah pemikiran dangkal. Walau eksistensi "cashgrab remake" tidak bisa dipungkiri, ada beberapa hal bisa dicapai dari membuat ulang karya lama. Sebut saja modernisasi, proses alih budaya (terutama jika dibuat oleh negara lain), eksperimen terhadap visi yang berbeda, atau memperbaiki kekurangan versi aslinya.
Man in Love, selaku remake film Korea Selatan berjudul sama yang rilis tahun 2014, sekilas cuma cashgrab. Apa yang bisa dieksplorasi dari drama tearjerker formulaik? Ternyata banyak. Chih-Chung Chien dan Lyra Fu selaku penulis naskah, tahu plus-minus film aslinya, lalu mempertahankan (bahkan memperkuat) keunggulannya, sembari memperbaiki deretan kelemahannya. Man in Love bak remedial yang berhasil.
Keseluruhan ceritanya masih sama, yakni tentang cinta Ah Cheng (Roy Chiu) si penagih utang, pada Hao Ting (Ann Hsu), seorang gadis yang "diwarisi" utang ayahnya. Alih-alih menagih, Ah Cheng berjanji bakal menghapus utang ayah Hao Ting, selama ia mau diajak berkencan. Meski awalnya terpaksa, lama-lama hati Hao Ting luluh oleh kebaikan tulus dari si preman.
Sama persis. Beberapa shot yang digunakan sang sutradara, Yin Chen-hao, pun serupa dengan kepunyaan Han Dong-wook. Di dua pertiga awal, modifikasi memang lebih subtil. Misalnya pertemuan perdana Ah Cheng dan Hao Ting. Sejak kali pertama tatapan mereka terhubung, kita tahu Ah Cheng sudah jatuh cinta. Alhasil insiden saat ia menyuruh anak buahnya membawa paksa ayah Hao Ting yang koma, hanya tampak seperti gertak sambal.
Bandingkan dengan versi Koreanya. Belum jelasnya perasaan si protagonis pria, pula durasi peristiwa yang lebih panjang, membuat dia terlihat sama kejamnya dengan penagih hutang biasa. Poin ini penting, sebab esensi Man in Love adalah, proses jatuh cinta seorang pria baik, yang terjebak di lingkungan buruk, sehingga menjadi buruk juga, dan tidak tahu cara mengekspresikan cinta. Pemberian latar belakang ekstra terkait alasan Ah Cheng menekuni profesi sebagai penagih utang, turut menguatkan kesan bahwa ia sejatinya orang baik.
Hal-hal ekstra itulah keunggulan utama filmnya. Entah kalimat ekstra, atau tambahan adegan, yang meski pendek, punya dampak besar. Salah satunya ketika Ah Cheng mengutarakan niat untuk menikahi Hao Ting. Bagaimana ia memahami hal apa yang berharga bagi sang pujaan, menegaskan kelembutan hati sekaligus kesungguhan cinta Ah Cheng.
Penampilan Ann Hsu, yang piawai menangani gradasi perasaan Hao Ting secara bertahap (dari wajah dingin nan ketus, kemudian senyum simpul mulai ia perlihatkan walau masih malu-malu), tidak jauh beda dengan interpretasi Han Hye-jin. Lain cerita bila menyandingkan Roy Chiu dan Hwang Jung-min. Keduanya mampu mencuri hati, melalui akting yang serupa tapi tak sama.
Kita tahu Hwang Jung-min adalah ahlinya dalam memerankan karakter "kacau", yang sekilas kurang bersahabat, namun begitu memamerkan senyum dan mata berbinar, seketika mampu meruntuhkan dinding emosi penonton. Gayanya senada dengan tearjerker khas Korea Selatan yang mengiris di tengah nuansa hangat. Sementara Roy Chiu mendekati figur gangster sinema Taiwan yang menyimpan tragedi di balik machismo mereka.
Artinya, selain "meremedi", Man in Love juga melakukan alih budaya. Poin ini terasa betul di sebuah adegan pemakaman. Perbedaan tradisi upacara pemakaman Korea Selatan dan Taiwan mengharuskan adanya modifikasi, namun tetap harus mempertahankan substansi serta dampak emosi. Di sini, Yin Chen-hao dan tim bukan cuma berhasil mempertahankan, tapi menguatkan. Momen itu tersaji lebih menyentuh. Lebih sakral.
Di third act, modifikasi meningkat, dan lagi-lagi, menjadikan remake ini tampil superior di hadapan karya aslinya. Penerapan struktur penceritaan non-linear yang lebih rapi (menghasilkan twist apabila anda belum menonton versi Korea), penghilangan bagian-bagian kurang penting supaya narasi lebih terfokus, sampai perihal motivasi karakter yang lebih berdasar (contoh: alasan Hao Ting marah besar ke Ah Cheng). Man in Love mungkin tetap sebuah tearjerker klise, baik di ranah romansa atau drama keluarga, namun ini pun bukti, mengapa tidak seharusnya semua remake dipukul rata, lalu dipandang sebagai bentuk kemalasan berkreasi.
Available on NETFLIX
REVIEW - MARRIAGE
Reviu ini mengandung SPOILER
Klik Film kembali merilis beberapa film Indonesia dalam satu hari. Selain Marriage, ada Pesan di Balik Awan dan Balada Sepasang Kekasih Gila. Film yang disebut terakhir hanya kuat saya tonton selama 40 menit, sebelum akhirnya sadar kalau saya bisa lebih gila daripada karakternya andai nekat meneruskan. Sedangkan Marriage, meski belum pantas disebut "solid", setidaknya masih punya sedikit kelebihan. Sekali lagi, "sedikit".
Pernikahan Mirza dan Vika (diperankan pasutri asli, Ge Pamungkas dan Anastasia Herzigova) terancam kandas. Keduanya selalu bertengkar, menyatakan bahwa selama lima tahun bersama, tak ada satu pun momen bahagia. Bagi Vika, Mirza sangat kekanak-kanakan. Sebaliknya, Mirza tak tahan lagi dengan buruknya regulasi emosi sang istri. Mereka sepakat pisah rumah sembari mengurus proses perceraian.
Mirza yang kembali ke rumah ibunya (Ira Wibowo), bertemu lagi dengan Dara (Lania Fira), mantan kekasihnya. Cinta lama mulai bersemi kembali. Di sisi lain, Vika bertemu Rio (Axel Matthew Thomas), yang baginya jauh lebih perhatian ketimbang si suami. Tidak sulit menebak bakal dibawa ke mana permasalahan tersebut.
Tapi di film seperti Marriage, hal terpenting bukanlah destinasi, melainkan proses. Proses agar penonton percaya jika Mirza dan Vika pernah, bahkan masih saling mencintai, kemudian mendukung keduanya supaya rujuk. Di situ asal mula kegagalan naskah buatan Evelyn Afnilla (Keluarga Tak Kasat Mata, Surat dari Kematian, Janin).
Sebagai individu, saya sulit mendefinisikan kelebihan masing-masing. Mirza adalah psikiater ngawur, yang diam-diam memberi antidepresan pada istrinya, lalu asal melempar diagnosis dengan menyebut kalau Vika bisa saja mengidap bipolar. Vika sendiri bersikap egois dengan mengirim surat cerai ke rumah ibu Mirza, walaupun tahu jantung mertuanya lemah. Secara individual, protagonisnya kekurangan kualitas untuk diberi simpati.
Bagaimana sebagai pasangan? Sejak menit-menit awal, keduanya sudah bersitegang. Seiring bergulirnya durasi, Marriage tak kunjung berhasil meyakinkan, bahwa ada romantisme indah di antara mereka. Sesekali kita sejenak melihat ada tawa, tapi pasangan mana yang tak pernah tertawa? Presentasinya terlalu dangkal, terlalu general untuk bisa menggambarkan betapa spesial hubungan tokoh utamanya.
"Aku kangen kamu yang dulu...kangen kita", begitu ucap Vika. Tapi seperti apa "Mirza yang dulu"? Entahlah. Pasangan ini terlalu asing. Padahal, Ge dan Anastasia tampil cukup menghibur kala bersama. Terutama Anastasia lewat lemparan komentar-komentar menggelitik bernada sarkas. Walau di momen dramatik, biarpun tidak bisa sepenuhnya disebut "buruk", kedua pemain terjebak dalam gaya klise berupa parade teriakan guna meluapkan segala emosi negatif.
Terkait elemen drama, momen terbaik Marriage jatuh pada adegan kala Mirza dan Vika duduk berdua, meneteskan air mata tanpa meraung-raung, sambil membicarakan soal perceraian yang makin dekat. Dikemas oleh penyutradaraan sensitif Danial Rifki (La Tahza, Haji Backpacker, 99 Nama Cinta), rasa sakit terpancar di sana, kala menyadari rumah tangga ini bakal segera berakhir. Mungkin juga ada penyesalan dan keinginan menata ulang, yang urung terucap karena merasa sudah terlambat.
Sebenarnya ada potensi mengangkat perspektif unik, mengenai cekcok yang justru jadi perekat. Wajar, sebab suatu pertengkaran yang telah lama berlalu, kerap memancing romantisme yang kelak bakal dirindukan. Tapi sekali lagi, naskahnya tak melakukan eksplorasi memadai. Durasi pendek (79 menit) menekan potensi filmnya terasa membosankan, tapi juga mengurangi kesempatan mengulik temanya secara lebih jauh. Babak ketiga menjadi titik nadir naskah, termasuk konklusi yang buru-buru. Tapi kelemahan paling fatal adalah penggambaran karakter Mirza.
(SPOILER STARTS) Akhirnya Mirza memilih rujuk, namun terkesan, ia melakukan itu bukan karena sungguh-sungguh mencintai Vika sehingga menyadari kekeliruannya, melainkan didorong kekecewaan, sebab Dara tidak seperti yang ia bayangkan. Seumpama Dara "lebih baik", apakah keputusan Mirza tetap sama? Marriage gagal membuat saya percaya bahwa itu akan terjadi. (SPOILER ENDS)
Available on KLIK FILM
REVIEW - TOGETHER TOGETHER
Cinta. Kemesraan. Apakah keduanya melulu soal hubungan romantis yang melibatkan pacaran/pernikahan dan/atau seks? Mengutip KBBI, salah satu arti kata "mesra" yaitu "sangat erat; karib; mendalam (tentang hubungan persahabatan dan sebagainya)". Ya, pendefinisian kemesraan lebih luas dari apa yang kerap banyak orang maksud, kala mengucapkan, "Mereka mesra sekali".
Matt (Ed Helms) dan Anna (Patti Harrison) tampak mesra. Keduanya pun saling berkata, "Aku cinta kamu" tanpa niatan bercinta. Sebab dengan jarak usia sekitar 20 tahunan, sebagaimana disampaikan Anna, itu akan seperti film-film Woody Allen yang menyiratkan gelagat pedofilia.
Lalu dari mana asal kedekatan mereka? Matt ingin mempunyai anak, namun tak merasa ingin menikah. Dia pernah menjalani hubungan selama delapan tahun, dengan wanita yang diharap bakal menjadi ibu dari anak-anaknya, sebelum akhirnya kandas. Mungkin Matt lelah, atau trauma akan tetek bengek percintaan yang melibatkan sakit hati. Akhirnya ia memilih surogasi, di mana Anna menjadi ibu pengganti. Sebelumnya Anna pernah melahirkan semasa SMA (bayinya diadopsi orang lain), dan sejak itu hubungannya dengan keluarga merenggang.
Matt dan Anna sepakat untuk menjaga hubungan profesional sesuai kontrak. Tidak mudah, karena adanya perbedaan kepribadian. Biarpun tak ingin menjalani hubungan romantis, Matt punya tendensi meromantisasi. Dia ingin proses kehamilan ini bermakna, dan mengharapkan hal serupa dari Anna. Sebaliknya, Anna cenderung lebih sinis. Baginya, kehamilan ini hanya perjanjian bisnis, sehingga tak perlu meninggalkan kesan apa pun.
Tentu akhirnya mereka bisa mengatasi perbedaan, lalu saling mendekat dan mengisi satu sama lain, bukan? Benar, tapi tidak dalam formula "boy meets girl then both fall in love". Ketimbang rom-com, Together Together lebih tepat disebut friend-com. Nikole Beckwith selaku sutradara sekaligus penulis naskah, mengeksplorasi perihal koneksi tanpa terjebak keklisean.
Ditemani musik manis nan membuai garapan Alex Somers, kita melihat proses dua individu menjalin ikatan, yang bukan dilandasi persamaan, melainkan perbedaan. Menurut Beckwith, bila disikapi secara tepat, perbedaan tidaklah memecah, tapi justru menyatukan. Saling mengisi, saling melengkapi.
Prosesnya tidak instan. Together Together menekankan bahwa ikatan, yang kemudian diekspresikan melalui kemesraan, timbul setelah dua indvidu berbagi momen demi momen yang bentuknya beragam, mulai dari menunjukkan kepeduliaan, melakukan kegiatan berdua dengan satu tujuan, mencurahkan pemikiran, berdebat, atau sekadar menonton serial televisi bersama.
Chemistry kedua pemain berperan besar menguatkan momen-momennya. Ed Helms ahlinya menghidupkan sosok pria canggung yang kaku, namun hatinya dipenuhi kebaikan. Sementara Patti Harrison dengan deadpan andalannya, merupakan figur likeable yang berusaha memahami arti di balik sebuah koneksi. Sajian character-driven macam ini memerlukan naskah "cair", dan Beckwith berhasil menyediakan itu. Penulisannya menggelitik, dinamis, biarpun di beberapa titik, pendekatan episodik yang dipakai merangkai perjalanan kedua karakternya, agak mengganggu aliran alur.
Selain terkait romansa, Together Together turut mendobrak paham-paham lain. Perihal gender dikupas, yang mempertanyakan, "Kenapa ibu tunggal kerap dicap buruk sedangkan ayah tunggal dipandang hebat?", begitu pula peran ibu pengganti yang bukan cuma "tempat penitipan janin".
Available on CATCHPLAY+
REVIEW - CODA
CODA merupakan singkatan dari "child of deaf adults", atau anak dengan orang tua tuli. Di musik, coda adalah bagian penutup. Mengakhiri, juga melengkapi komposisi. Remake dari film Prancis berjudul La Famille Bélier (2014) ini mengisahkan soal keutuhan keluarga, pula bagaimana akhir sebuah fase justru menandai kesempurnaan keluarga tersebut.
Ruby Rossi (Emilia Jones) adalah puteri bungsu, sekaligus satu-satunya yang bisa mendengar dalam keluarganya. Karena itulah Ruby mesti selalu hadir ketika ayahnya, Frank (Troy Kotsur), dan kakaknya, Leo (Daniel Durant), berlayar mencari ikan. Kondisi para nelayan sendiri sedang tidak baik. Ikan hasil tangkapan dihargai terlalu murah, biaya-biaya tambahan yang dibebankan dewan setempat pun makin membengkak.
Musik jadi pelarian Ruby. Dia bergabung di tim paduan suara sekolah, dan kesempatan-kesempatan pun mulai terbuka. Mr. V (Eugenio Derbez) selaku pengajar mengakui talenta Ruby, lalu menawarinya mencoba audisi untuk masuk ke Berklee. Ruby juga bakal berduet dengan murid yang menarik perhatiannya, Miles (Ferdia Walsh-Peelo), di resital tim paduan suara. Tapi realitanya jauh dari kata mulus.
Ruby kesulitan membagi waktu antara bermusik dan menjadi penerjemah bagi keluarganya. Andai ia berhasil diterima di Berklee, siapa yang akan mengisi posisi itu? Belum lagi sang ibu, Jackie (diperankan Marlee Matlin, pemenang termuda di kategori "Aktris Terbaik", sekaligus satu-satunya penampil tuli penyabet piala Oscar hingga kini), turut menentang niat Ruby.
CODA merupakan film tanpa benar/salah. Sebagai anak, tentu saya bisa berempati pada kekesalan Ruby saat pilihan hidupnya ditentang orang tua. Tapi seperti Ruby juga, CODA membuat saya memahami hal yang tidak pernah dirasakan orang-orang dengan pendengaran normal. Wajar Jackie dihantui setumpuk kekhawatiran. Hidupnya dipenuhi ketidakpahaman masyarakat, yang mengecap teman tuli dengan sebutan "aneh".
Di sisi lain, tekanan Mr. V pun tidak keliru. Agar diterima di Berklee, Ruby memang harus rutin berlatih. Semua pihak punya hak, keinginan, serta kepentingan masing-masing yang tak bisa disalahkan. Termasuk Ruby, yang terhimpit di antaranya. Ruby sudah menghabiskan seluruh hidupnya sebagai penerjemah, tapi adakah yang dapat menerjemahkan isi hatinya?
Sian Heder (Tallulah) selaku sutradara dan penulis naskah, mengangkat kompleksitas permasalahannya, mengajak penonton melihat dari sudut pandang para tokoh, guna menghadirkan pemahaman menyeluruh. Rumit, berliku, namun tetap menyertakan tawa. Menariknya, selain memancing tawa, humor milik CODA bisa membuat penonton berujar, "Benar juga".
Sebutlah saat Frank menjelaskan, "alasan Tuhan menciptakan bau kentut" maupun larangan mendengarkan musik saat makan bersama, sementara bermain Tinder malah diperbolehkan. Semua itu adalah kelakar, namun bukan kelakar kosong. Ibaratnya, CODA sedang mengedukasi melalui cara yang menyenangkan.
Meski mengetengahkan perihal musik, Heder justru tidak banyak memakai musik pengiring, membiarkan suasana natural, seolah mengesankan, bahwa CODA merupakan presentasi apa adanya. Bahkan agar penonton mengerti kondisi teman tuli, Heder sempat menyelipkan keheningan total, yang berlangsung lebih lama dari kebanyakan film yang coba memberi dampak serupa.
Ketimbang suara bombastis, CODA menghentak lewat kesunyian. Satu kesunyian yang menyinggung pertanyaan terbesar filmnya. Ruby tidak punya privilege seperti karakter anak lain, yang mampu meruntuhkan keraguan orang tua atas bakatnya, dengan cara memperlihatkan dan/atau memperdengarkan bakat itu secara langsung di hadapan mereka. Bagaimana Ruby meyakinkan orang tua jika ia jago bernyanyi? Pertanyaan lain, "Bagaimana filmnya memberi dampak emosi bila tak menampilkan adegan (formulaik) tersebut?".
Third act-nya mengupas pertanyaan-pertanyaan di atas, yang dijawab oleh Heder, melalui momen-momen tak terduga, yang sukses mengaduk-aduk rasa. Sensitivitas penyutradaraan Heder luar biasa, terutama soal pemaksimalan reaction shot, selaku teknik filmmaking dasar, yang saking mendasarnya, kerap dipakai hanya untuk memenuhi kewajiban.
Reaction shot versi Heder tidak (cuma) bertujuan memanipulasi emosi penonton, pula menjabarkan isi hati teman tuli. Seperti apa rasanya berada di antara keriuhan apresiasi terhadap pencapaian orang tercinta, sementara kita tidak dapat memahaminya?
Penampilan jajaran pemain memperkuat narasinya. Jones jadi protagonis yang memudahkan penonton terhubung secara emosional, tapi bagi saya, tiga penampil lain, Kotsur, Matlin, dan Durant (seluruhnya tuli) merupakan yang terkuat. Matlin menerjemahkan pahitnya sering disalahartikan, Kotsur membombardir hati penonton di satu adegan yang melibatkan nyanyian, sedangkan Durant mencuri perhatian sebagai kakak yang ingin membuktikan kapasitasnya demi sang adik (senyum simpul yang berusaha ia munculkan kala menyaksikan resital meski tak mampu mendengar, betul-betul wujud akting subtil yang menyentuh).
Semua soal saling mengerti. Mengerti bahwa tiap anggota keluarga punya kelebihan sekaligus kekurangan. Mengerti bahwa tidak cuma ada satu cara mengekspresikan kasih sayang. Mengerti bahwa sebuah keluarga mesti saling mengisi, namun tanpa melupakan identitas masing-masing sebagai individu. Pada akhirnya, ego yang dikesampingkan merupakan koda paling indah yang menyempurnakan sebuah keluarga.
Available on APPLE TV+
REVIEW - VIVO
Selepas Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) dan The Mitchells vs. the Machines (2021), Sony Pictures Animation resmi jadi kekuatan baru dunia animasi (kualitas sebelumnya cenderung naik-turun). Sedangkan dalam dua tahun terakhir, kita belajar bahwa keberadaan Lin-Manuel Miranda selaku komposer ibarat jaminan mutu. Vivo menyatukan kedua pihak dalam kisah mengenai cinta yang tak lekang oleh waktu. Cinta yang terabadikan dalam nada-nada.
Berlatar Havana, Cuba, musisi tua bernama Andrés Hernández (Juan de Marcos González) selalu memainkan musik bersama seekor kinkajou miliknya, Vivo (Lin-Manuel Miranda). Kecintaan Andrés terhadap musik mungkin cuma bisa ditandingi oleh cintanya pada Marta (Gloria Estefan). Dahulu, Andrés dan Marta adalah duo. Andrés mencintai Marta, namun memilih memendam perasaan, kala si pujaan hati mendapat tawaran berkarir di Amerika. Puluhan tahun berselang, Marta telah menjadi musisi legendaris, tapi isi hati Andrés tidaklah berubah.
Andrés membuat lagu untuk Marta, yang tak pernah sempat ia berikan. Peluang itu datang saat Marta mengundang kawan lamanya itu untuk berduet di konser terakhirnya di Miami. Malang, sebuah tragedi merenggut peluang tersebut. Kini semua tergantung Vivo, yang harus mengantarkan lagu terakhir Andrés sebelum konser Martha usai.
First act-nya tampil dengan sensitivitas tinggi, di mana Kirk DeMicco (The Croods) selaku sutradara, menekankan spiritualitas. Baik lagu, maupun alam beserta segala isinya, seolah merupakan entitas bernyawa, yang berbicara kepada manusia melalui caranya masing-masing. Sederhananya, sebuah keajaiban.
Demi mencapai Miami, Vivo menyelundup ke tas Gabi (Ynairaly Simo), puteri Rosa (Zoe Saldana), keponakan Andrés yang tinggal di Key West. Bagaimana seekor kinkajou dalam tas tak terdeteksi oleh pemeriksaan bandara, biarlah jadi suspension of disbelief. Gabi sepakat menolong Vivo, walau akibat kurangnya perencanaan, perjalanan singkat ke Miami menjadi petualangan berbahaya, yang mempertemukan mereka dengan hewan buas di hutan dan.....girl scout.
Vivo membawa second act-nya ke arah petualangan ringan semua umur (walaupun piton raksasa yang disuarakan Michael Rooker rasanya terlalu mengerikan bagi penonton anak), yang belakangan bak jadi kekhasan Sony Pictures Animation (terletak di antara gaya Pixar dan Dreamworks). Cukup berjarak dibanding sensitivitas dramatik paruh pertama, namun bukan di situ masalahnya. Masalah muncul ketika naskah buatan DeMicco dan Quiara Alegría Hudes (In the Heights), terlalu bergantung pada kemunculan tokoh-tokoh baru, guna menggerakkan alur dan menyelesaikan konflik, alih-alih mematangkan dua protagonis.
Gabi membantu Vivo bukan cuma karena ingin bertualang, pun didorong empati terhadap Andrés. Serupa Andrés, Gabi tak sempat mengucap "I love you" sebelum ayahnya meninggal. Motivasi kuat tersebut gagal dimaksimalkan. Pada akhirnya, semua dampak emosional timbul dari hubungan Andrés-Marta semata.
Tapi terkait tujuan melahirkan petualangan menghibur, paruh kedua Vivo jelas berhasil. Perpaduan komponen audiovisual memegang kunci. Lagu-lagu ciptaan Lin-Manuel Miranda selalu bisa membuat penonton tergerak mengikuti irama. My Own Drum yang makin bertenaga berkat vokal Ynairaly Simo, sementara nomor elektronik catchy Running Out of Time (bagian "M-I-A-M-I running out of time" bakal terus terngiang) dikemas kreatif lewat sinkronisasi lagu dengan dialog, di bawah cahaya neon yang mewarnai kemeriahan malam Miami.
Available on NETFLIX
REVIEW - SELESAI
Selesai, selaku kolaborasi kedua Tompi (sutradara) dan Imam Darto (penulis naskah) setelah Pretty Boys (2019), berupaya memberi warna baru di tema lama (kalau tidak mau disebut "usang") soal perselingkuhan. Baik pengembangan alur maupun tata artistik, semua dipilih dengan tujuan tampil beda, setidaknya di skena film Indonesia modern.
Niat itu patut diapresiasi, namun di saat bersamaan, Selesai juga wujud salah kaprah pemahaman atas anggapan bahwa "beda" berarti "bagus". Bahwa film bagus harus unik, harus punya twist, harus berani memasang sensualitas (atau setidaknya, cukup guna memancing rasa penasaran kaum adam dengan birahi tak tersalurkan).
Alurnya mengisahkan pernikahan Broto (Gading Marten) dan Ayu (Ariel Tatum) yang telah mendekati "selesai". Cinta keduanya memudar, apalagi setelah Broto berkali-kali selingkuh dengan Anya (Anya Geraldine dalam porsi yang tak lebih dari glorified cameo). Sewaktu Ayu menemukan celana dalam yang ia yakini sebagai milik Anya, ia pun meminta cerai.
Di tengah pertengkaran, mendadak Sri (Marini Soerjosoemarno), ibunda Broto, datang karena ingin menghabiskan masa lockdown bersama si anak dan menantu. Alhasil keduanya terpaksa berpura-pura akur, sambil terus berupaya mengungkap keburukan masing-masing.
"Apa benar Broto selingkuh?". Itulah pertanyaan pertama yang naskahnya lempar, sekaligus awal timbulnya pertanyaan-pertanyaan lain. Melalui rangkaian pertanyaan tersebut, Imam Darto membawa Selesai, dari drama perselingkuhan biasa ke arah misteri, yang harus diakui cukup menarik. Bukankah di realita, mempertanyakan kesetiaan pasangan juga membuat kita merasa bak karakter dalam cerita misteri?
Sedangkan di kursi penyutradaraan, Tompi, yang notabene seorang musisi, jeli memilih iringan musik. Ditangani oleh Ricky Lionardi, musiknya menjauh dari orkestra mengharu-biru yang kerap jadi andalan suguhan drama kita, menggantinya dengan nuansa jazzy, yang seperti berkiblat pada film noir. Di sini, tujuan Selesai untuk tampil beda telah terpenuhi.
Lalu datanglah penyakit itu. Penyakit di mana penulis naskah merasa, agar cerita lebih menarik, penonton harus dibuat terkejut oleh twist, alih-alih memperdalam tema serta karakter. Mungkin Darto memegang prinsip "the more the better" di segala sisi penceritaan. Termasuk saat memasukkan subplot hubungan Yani (Tika Panggabean) selaku ART di rumah Broto dan Ayu, dengan Bambang (diperankan Darto sendiri). Subplot itu cuma berfungsi menambah jumlah perselingkuhan, di saat naskah semestinya berkonsentrasi memperkuat eksplorasi isu perselingkuhan tersebut.
Beberapa twist-nya cenderung dipaksakan, namun tak ada yang lebih menggelikan dibanding kejutan pamungkasnya. Kejutan berisi trik yang entah sudah berapa kali dipakai banyak film untuk menipu penonton. Saya sebut "menipu", karena kehadirannya begitu tiba-tiba. Something that came out of nowhere. Bukan cuma itu, akibat twist-nya, film ini terasa miskin empati, bagi para istri korban ketidakmampuan suami menahan kelaminnya berkeliaran.
Meski menganggapnya penting, saya bukan orang yang membabi buta menuntut representasi di segala hal tanpa mempertimbangkan aspek lain. Tapi saya cukup yakin, bila ditulis oleh seorang wanita, Selesai bakal mengambil jalan lain dalam merangkum kisahnya. Jalan yang tidak mengorbankan rasa berbasis empati, semata-mata demi shock value. Style over substance.
Begitu pula terkait sensualitas berkadar minimum yang tak berpengaruh apa pun bagi narasinya. Anya Geraldine dalam balutan handuk? Darto bermasturbasi sambil mengintip Ariel Tatum? Shot dari belakang saat Gading Marten telanjang bulat saat mandi? Semua dimunculkan, hanya agar penonton berujar, "WOW! Liar sekali!", sambil terkekeh nakal. Tompi berkata kalau ia ingin membuat film bernuansa sensual yang tak murahan, tapi sensualitas tanpa esensi, di film yang bahkan tidak sampai melangkah ke jalur erotika, justru terkesan murahan. Padahal Selesai tidak perlu semua itu. Pondasi misterinya sudah cukup mengundang rasa penasaran selama menonton. Sayang sekali.
Available on BIOSKOP ONLINE
REVIEW - PIG
Semenjak Joe (dan The Frozen Ground) delapan tahun lalu, sudah berkali-kali kritikus menyematkan embel-emble "return to form" pada penampilan Nicolas Cage. Menyusul berikutnya adalah Mandy (2018), Color Out of Space (2019), hingga Willy's Wonderland yang rilis awal 2021. Seolah puja-puji itu bukan ketusulan, melainkan cuma agar reviunya terdengar "seksi".
Deretan akting kuat di antara setumpuk judul direct-to-video buruk itu membuktikan bahwa Cage tidak pernah pergi (minimal sejak Joe). Tapi Pig berbeda. Debut penyutradaraan sekaligus penulisan Michael Sarnoski ini membawa kita menyaksikan warna lain Cage, yang melangkah keluar dari gaya "Nouveau Shamanic". Pig adalah film yang mengecoh berbagai ekspektasi, baik soal sang aktor, maupun genrenya.
Cage memerankan Rob, pengumpul truffle yang tinggal sendirian di kabin terpencil di tengah hutan. Well, tidak benar-benar sendirian, sebab ada si babi kesayangan, yang membantu Rob mengumpulkan truffle berkualitas tinggi, untuk dijual ke Amir (Alex Wolff), yang menyuplainya kepada berbagai restoran mewah.
Sampai suatu malam Rob kedatangan tamu tak diundang yang mencuri babi miliknya. Dibantu Amir, dimulailah pencarian Rob, yang turut membuka rahasia terkait masa lalunya. Rob bukan sekadar pria paruh baya kumuh penyendiri. Terdengar seperti premis kisah balas dendam yang bakal menggila di paruh kedua kala Nicolas Cage melepaskan segala kemarahannya? Saya pun berpikir demikian, dan di situlah Pig mengecoh ekspektasi.
Sarnoski memakai tempo medium, cenderung pelan di beberapa titik, namun progres alur tidak diseret-seret, di mana masing-masing fase berlangsung sesuai kebutuhan. Kita mengunjungi dunia yang beda dari kelihatannya, bersama individu yang beda dari kelihatannya, dalam film yang juga beda dari kelihatannya. Pig memancing rasa penasaran di tiap langkahnya.
Cage menjadi magnet, yang menunjukkan betapa misteri terbesar adalah isi hati manusia. Terutama di separuh awal, matanya tidak dipenuhi amarah. Bukannya tak punya. Amarah itu (maupun emosi dasar manusia lainnya) sudah terhapus oleh kelelahan. Rasa lelah yang didahului duka mendalam, sebelum berubah jadi ketidakpedulian.
Rob adalah seorang nihilis. Kenapa peduli terhadap eksistensi, jika kelak kita juga akan mati, terkubur, tenggelam, bak orang-orang dari puluhan ribu tahun lalu? Saking tidak pedulinya, ia enggan mandi, atau minimal membersihkan wajahnya yang berlumuran darah, bahkan ketika duduk di sebuah restoran mahal. "Untuk apa?", mungkin begitu pikirnya.
Di restoran itu pula, Sarnoski lagi-lagi memainkan ekspektasi penonton, yang mungkin mengira Rob (akhirnya) bakal hilang kesabaran. Tapi alih-alih otot, Rob malah memakai otak. Ketimbang fisik, ia memilih mengarah psikis lawan. Nantinya, sewaktu gejolak batin mustahil dikendalikan, Cage tidak melempar tantrum sebagaimana kita kerap temui. Amukannya lebih terkontrol.
Babak ketiganya merupakan puncak usaha Sarnoski mengobrak-abrik formula film alternatif bertema duka, yang biasanya tampil kelam, pula didominasi pesimisme. Konklusinya hopeful, yang bisa saja dituding naif oleh sebagian kalangan. Bagi saya, Pig bukan naif, melainkan usaha untuk tidak kehilangan hati, di tengah kondisi segelap dan sesulit apa pun.
Available on KLIK FILM
REVIEW - CAVEAT
Pernah merasa ingin sekali menyukai sebuah film, entah karena dibuat dengan niat baik, potensi besar, atau momen-momen berkualitas yang sesekali tampak? Caveat membuat saya merasakan itu.
Damian Mc Carthy selaku sutradara sekaligus penulis naskah, jelas berbakat. Kelak, seiring bertambahnya pengalaman dan modal, ia bisa saja berada di jajaran sineas horor papan atas. Caveat yang merupakan debutnya ini belum membawa Mc Carthy ke posisi tersebut, namun cukup untuk membuka jalan sebagai batu loncatan.
Kisahnya berpusat pada Isaac (Jonathan French), yang ditawari pekerjaan oleh Barret (Ben Caplan), untuk menjaga ponakannya, Olga (Leila Sykes), yang tinggal sendirian di daerah terpencil. Ibunya menghilang, ayahnya bunuh diri, sedangkan Olga mengalami gangguan psikis, yang bisa tiba-tiba membuatnya berada di kondisi katatonik.
Sesampainya di lokasi, Isaac terkejut karena ada beberapa informasi yang sebelumnya tidak Barret bagikan. Pertama, rumah Olga bukan terletak di sembarang daerah terpencil, melainkan di tengah pulau kosong. Kedua, karena Olga tidak nyaman atas kehadiran orang lain, Isaac wajib memakai rompi yang terikat rantai. Bayaran menggiurkan serta rasa iba pada Olga membuat Isaac akhirnya bersedia, walau sempat ragu.
Menit-menit awal dipakai oleh Mc Carthy guna menanamkan informasi. Ada ruang apa saja di sana? Lokasi dan barang apa saja yang berpotensi menebar teror? Seberapa jauh rantai yang mengikat Isaac membatasi pergerakannya? Temponya lambat, namun sebagaimana judul filmnya, efektif memberi peringatan bagi penonton. Antisipasi pun terbangun.
Boneka kelinci mekanik buruk rupa yang sering tiba-tiba memukul drum yang dibawanya, lukisan wanita mengerikan, ruang bawah tanah gelap, rumah tak terawat, semua bekal yang dibutuhkan untuk menghasilkan formula teror khas horor rumah hantu sudah tersedia, dan Caveat berjalan mulus di awal.
Isaac pelan-pelan menyadari ketidakberesan di sana. Saat akhirnya ia (dan kita) menyaksikan pemandangan mengerikan secara nyata untuk kali pertama, Caveat terasa akan menjadi horor terbaik tahun ini. Saya takkan membocorkan detail adegan, pastinya, Mc Carthy piawai menakut-nakuti. Dibiarkannya kamera beberapa saat menyorot sebuah objek (lebih lama dari kebanyakan jump scare) supaya penonton melihat jelas apa yang muncul di layar. Karena objek itu memang mengerikan. Mc Carthy tidak perlu memanipulasi pikiran penonton, agar kita salah mengartikan "kaget" sebagai "takut".
Lalu setelah beberapa saat, teror berikutnya tak kunjung muncul, dan saya menyadari betapa Mc Carthy dihadapkan pada keterbatasan biaya. Dia punya banyak ide brilian terkait set-piece. Saya bisa jamin itu. Terbukti, tiap jump scare, penampakan, atau segala bentuk teror lain hadir, eksekusinya selalu menyeramkan. Tapi teror mistis, sesederhana apa pun, membutuhkan biaya (efek spesial, tata rias, dll.). Tanpanya, seperti Isaac dengan rantainya, Mc Carthy seolah terkekang.
Di sinilah pengalaman bermain. Sineas horor dengan jam terbang tinggi, akan tahu cara mengolah intensitas di tengah keterbatasan. Mc Carthy bukan anak kemarin sore. Sejak 2009, ia telah menelurkan enam film pendek. Tapi film panjang adalah medium berbeda. Terdapat puluhan menit durasi yang harus diisi, dan Mc Carthy keteteran melakukannya.
Menambah elemen misteri jadi cara yang ia pilih. Dibuatlah Isaac meragukan kebenaran di rumah itu. Benarkah ayah Olga bunuh diri? Benarkah Barret merupakan teman lamanya? Apakah Olga seorang gadis malang sekaligus korban, atau justru sosok berbahaya? Menarik atensi penonton lewat pertanyaan di antara jeda teror sejatinya keputusan tepat. Sayang, Caveat gagal tampil menarik, akibat lemahnya naskah.
Naskah tak menyediakan investigasi memadai. Alih-alih diajak terlibat menyelidiki misterinya, penonton cuma dibiarkan menunggu, sementara flashback muncul secara berkala, guna menyediakan jawaban. Flashback yang membawa kita keluar dari rumah Olga, sehingga melucuti atmosfer klaustrofobik filmnya. Sewaktu Caveat mencoba tampil ambigu, saya tidak cukup peduli untuk terdorong berpikir lebih keras, karena tak dilibatkan dalam misterinya.
Paruh keduanya membawa Caveat bergerak ke ranah kucing-kucingan, menjadikannya terasa seperti punya dua cerita berbeda yang dipaksa menyatu. Bukan memperkaya, malah terkesan mengesampingkan teror utama. Tapi sekali lagi, tiap Mc Carthy menampakkan wajah mistisnya, Caveat senantiasa berhasil membuat bulu kuduk berdiri.
Available on SHUDDER
REVIEW - LITTLE FISH
Adaptasi dari cerita pendek buatan Aja Gabel ini mengingatkan pada Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) buatan Michael Gondry. Sama-sama romansa soal bagaimana kekuatan cinta mengatasi hilangnya memori. Bahkan adegan pembuka dan penutup keduanya memiliki latar serta prinsip sama. Bedanya, Little Fish tampil lebih realis. Mungkin pada akhirnya, tidak semua terasa bahagia, namun harapan terpancar di sana.
Mesin ajaib penghapus memori "digantikan" oleh NIA (Neuroinflammatory Affliction), sebuah virus serupa alzheimer, yang membuat penderitanya kehilangan ingatan. Bisa secara berkala, bisa pula tiba-tiba. Virus cepat tersebar, menciptakan pandemi global, masyarakat cemas, kekacauan di mana-mana, banyak tempat dikarantina.
Terdengar familiar? Tentu hanya kebetulan, mengingat cerita pendeknya dibuat pada 2011, sedangkan filmnya memulai pra-produksi sejak awal 2019. Seolah memperlihatkan bahwa kepanikan massal akibat hal tak kasat mata yang dapat menyerang, lalu membunuh kapan saja, selalu jadi salah satu ketakutan kolektif umat manusia.
Protagonis kita adalah Emma (Olivia Cooke) dan Jude (Jack O'Connell), sepasang suami-istri yang belum genap setahun menikah. Langsung timbul ketertarikan sejak pertemuan pertama, dan itu wajar. Sebab saya sendiri cuma butuh beberapa menit untuk terpikat pada mereka. O'Connell sudah memamerkan akting subtil sejak Starred Up (2013) dan '71 (2014), sementara Cooke jagonya mencuri hati, sebagaimana di Me and Earl and the Dying Girl (2015), maupun lewat performa emosional dalam Sound of Metal (2020). Pencapaian yang sama-sama diulangi keduanya di film ini.
They made such a lovely, happy, healthy couple. Kesan yang ditegaskan oleh sebuah momen. Emma dengan canggung mengajak berhubungan seks, yang ditolak lembut oleh Jude, karena saat itu, Emma belum secara resmi mengakhiri hubungannya dengan sang kekasih (walau lebih tepat disebut "friends with benefit"). Emma memedulikan consent, sementara Jude tak ingin melukai perasaan orang lain.
Awalnya, NIA tak begitu mempengaruhi, hingga menjangkiti Ben (Raul Castillo), sahabat mereka. Ben lupa cara memainkan musik (hal kedua yang paling ia cintai), lalu suatu hari, melupakan Samantha (Soko), kekasihnya, sekaligus hal yang paling ia cintai. Bukankah realita kita pun demikian? Pandemi terasa jauh, bak mimpi, sebelum orang-orang terdekat dan terkasih ikut terjerat.
Puncaknya ketika Jude terjangkit, mulai melupakan hal kecil, dan kelak juga bakal melupakan Emma. Di titik ini, saya berharap naskah buatan Mattson Tomlin (Project Power) bersedia sedikit mengupas perihal NIA. Apa penyebab virus itu? Bagaimana proses penularannya? Peniadaan detail tersebut mungkin bertujuan menjaga fokus tetap di ruang intim protagonis, namun gambaran lebih terkait virus, meski cuma sekilas, bisa membantu penonton lebih terlibat dalam dunianya. Biar demikian, Tomlin, terutama lewat deretan kalimatnya, menghadirkan perenungan mendalam tentang kehidupan di tengah pandemi (Contoh: "When your disaster is everyone's disaster, how do you gried?").
Bicara soal keintiman, di situlah letak keunggulan Chad Hartigan (This Is Martin Bonner, Morris from America) selaku sutradara. Little Fish begitu menyentuh, berkat kemampuan Hartigan menyusun momen-momen yang mampu menerjemahkan perasaan abstrak. Tepatnya bagaimana perasaan seperti cinta dan memori meninggalkan keindahan dalam hati pemiliknya. Dibalut musik dreamy karya Keegan DeWitt, dan sinematografi garapan Sean McElwee yang sering memakai cahaya temaram, Hartigan membawa ruang personal Emma dan Jude ke hati penontonnya.
Menurut seorang dokter, otak penderita NIA akan membentuk memori palsu guna menjembatani memori yang hilang, sebagai wujud mekanisme pertahanan diri. Jude mengalami itu. Membedakan memori mana yang asli dan palsu semakin sulit dari hari ke hari. Beberapa kenangan memang tidak nyata, dan nantinya semua yang nyata bakal terhapus, tapi setelah menghabiskan waktu selama hampir dua jam bersama Emma dan Jude, kita dibuat yakin bahwa cinta mereka nyata. Sangat nyata.
Sebagaimana kita semua umat manusia, Emma dan Jude mungkin hanya dua "ikan kecil" yang susah payah berjuang dalam kolam besar, atau malah samudera. Tapi bukan berarti hidup keduanya tidak signifikan. Setidaknya bagi satu sama lain, hidup mereka, beserta segala cinta dan kenangan yang ada, merupakan hal paling signifikan. Di antara luasnya samudera penuh ketidakpastian, dua ikan kecil ini terus berenang menuju masa depan. Ada atau tidaknya masa lalu bukan masalah, selama mereka terus bersama.
Available on CATCHPLAY+




























1 komentar :
Comment Page:Posting Komentar