REVIEW - THE ADDAMS FAMILY 2
The Addams Family versi animasi (2019) punya satu keunggulan dibanding live action-nya (1991), yakni memanfaatkan keanehan The Addams untuk menyampaikan pesan soal perbedaan. Tapi pesona absurditasnya ditekan agar lebih bersahabat bagi penonton anak. The Addams Family 2 masih berjalan di trek serupa. Upaya menormalkan yang dapat dipahami (dan terbukti mendatangkan keuntungan finansial), meski tetap sebuah titik lemah.
Kualitas The Addams Family 2 selalu menukik kala melempar keklisean slapstick atau tarian-tarian konyol, dan sebaliknya, melonjak tiap humor gelap mengambil alih. Tidak perlu terlampau kelam. Misal saat pameran sains yang diikuti Wednesday (Chloë Grace Moretz) mengumumkan bahwa seluruh peserta adalah pemenang sebagai cara menghargai usaha. Sebuah sindiran yang mengingatkan ke sketsa You Can Do Anything (2012) milik Saturday Night Live (it's funny and still relevant now).
Pada pameran tersebut, Wednesday mempresentasikan eksperimennya, yang bertujuan meningkatkan kapasitas manusia, dengan menyuntikkan DNA gurita ke tubuh Uncle Fester (Nick Kroll). Kegagalan jadi pemenang tunggal memang mengecewakan, tapi setidaknya hasil kerja Wednesday diakui oleh Cyrus Strange (Bill Hader, yang kebetulan membintangi sketsa yang saya sebut di atas).
Akibat eksperimen itu, perlahan tubuh Uncle Fester berubah, namun bagi The Addams, tumbuhnya tentakel di tangan anggota keluarga bukanlah keanehan. Gomez (Oscar Isaac) dan Morticia (Charlize Theron) lebih mengkhawatirkan kerenggangan hubungan dengan anak-anak mereka. Lebih tepatnya Wednesday, sebab di luar keinginannya memikat hati wanita, Pugsley (Javon Walton) masih sama. Masih doyan menghancurkan semua hal di depan mata, masih jadi korban "candaan mematikan" sang kakak.
Demi merekatkan kekeluargaan, Gomez mencetuskan road trip keliling Amerika, yang tentu saja tak berjalan sesuai rencana. Salah satunya gara-gara ancaman Mr. Mustela (Wallace Shawn), seorang pengacara yang tiba-tiba datang mengungkap rahasia mengejutkan tentang Wednesday. Di tengah perjalanan mereka pun menemui Cousin Itt (Snoop Dogg) guna meminta saran, walaupun sampai akhir, tak pernah jelas bantuan macam apa yang diulurkan si "manusia rambut".
Memindahkan latar dari rumah aneh The Addams ke dunia luar semakin "menormalkan" film ini dibanding pendahulunya, tetapi seperti telah saya sebut, selama naskahnya mengutamakan humor gelap, The Addams 2 mampu tampil menghibur. Contohnya celetukan morbid Morticia, atau saat secara mengejutkan, filmnya menyiratkan aksi pembunuhan oleh karakter bocah. Terjadi off-screen, tapi biar bagaimanapun, ini adalah film dengan rating PG.
Pengarahan duo sutradara Greg Tiernan dan Conrad Vernon (Shrek 2, Sausage Party, The Addams Family) sayangnya meninggalkan satu titik lemah, yakni perihal humor-humor yang bertindak selaku transisi antar adegan. Humor tersebut mayoritas menampilkan keabsurdan sebagai punchline (semisal waktu Wednesday menjadikan Lurch si pelayan sebagai perahu) sekaligus transisi, namun melesetnya penanganan dua sutradara, justru melahirkan suasana canggung.
Tapi sekali lagi, The Addams Family 2 masih sebuah hiburan memadai, terlebih bagi para pecinta serinya. Ketika klimaks mendadak membawa penonton sejenak menyambangi genre kaiju, itu sudah membuktikan bahwa biarpun mencoba tampil normal demi merangkul pasar seluas mungkin, element of surprise khas The Addams Family tetap bertahan.
REVIEW - LUZZU
Apa yang mendefinisikan sesuatu? Ketika sebuah kapal telah diganti seluruh bagiannya setelah melalui perbaikan demi perbaikan, masihkah itu kapal yang sama? Begitu pun manusia. Ketika berbagai tuntutan, entah zaman atau finansial, mengharuskannya berubah, apakah ia masih orang yang sama?
Ditangani Alex Camilleri selaku sutradara sekaligus penulis naskah yang baru melakoni debutnya, Luzzu (perwakilan Malta di Academy Awards 2022) mengetengahkan dilema nelayan bernama Jesmark (Jesmark Scicluna). Dia kukuh menjunjung tradisi. Luzzu (kapal kayu tradisional Malta) warisan kakek buyutnya masih ia pakai melaut. Pun Jesmark keras menentang penggunaan pukat karena dampak destruktifnya.
Belakangan situasi makin terasa mencekik. Ikan sulit didapat, terutama akibat regulasi EU (European Union) yang melarang penangkapan jenis-jenis tertentu selama closed season. Di tempat lelang pun ikan-ikannya dihargai tak seberapa. Secara bersamaan, putera Jesmark yang masih bayi mengalami masalah gizi. Asupan susu formula serta penanganan dari dokter spesialis dibutuhkan. Istri Jesmark, Denise (Michela Farrugia), cuma bekerja sebagai pelayan restoran, yang artinya, keuangan keluarga ini benar-benar dalam kondisi darurat.
Prinsip Jesmark pun diuji. Dia mulai tergoda memasuki bisnis pasar gelap. Jesmark, si nelayan berdedikasi tinggi yang mengutuk pemakaian pukat dan ketidakadilan regulasi bagi sejawatnya, kini mencetuskan ide menjual kerang palsu yang diolah menggunakan ikan buangan. Seiring waktu, pekerjaan yang mesti ia jalani semakin buruk.
Alurnya familiar (kalau tidak mau disebut "klise"), mengikuti formula kisah-kisah seputar keterpaksaan mengkhianati prinsip dan tradisi demi bertahan hidup. Tapi di tangan Camilleri, Luzzu jadi tuturan naturalistik yang tersusun rapi, kemudian pelan-pelan menggenggam emosi penonton.
Keberadaan Jesmark Scicluna, yang memang seorang nelayan sebelum ditunjuk jadi pemeran utama (membawanya memenangkan World Cinema Dramatic Special Jury Award untuk kategori akting pada Festival Film Sundance 2021), menguatkan kesan naturalistik tersebut. Scicluna bukan cuma meyakinkan di atas kapal, pula perihal bermain rasa, berbekal pemahamannya atas gejolak-gejolak sang protagonis.
Luzzu milik Jesmark (maupun nelayan lain) membawa kenangan masa lalu. Cerita kejayaan, kehebatan, atau sekadar kelakar untuk ditertawakan bersama. Luzzu dipakai mencari ikan sebagai penghidupan, namun ia lebih dari sebatas alat pencari uang. Bagaimana di tubuhnya tercetak jejak kaki si pewaris (sebagaimana dilakukan sang ayah dahulu, Jesmark mencap luzzu miliknya dengan telapak kaki si buah hati) adalah perwujudan cinta, yang didasari nilai-nilai dan tradisi.
Lalu apa yang mesti dilakukan sewaktu alasan ekonomi, juga perubahan zaman menuntut perubahan? Di sinilah Luzzu berkembang dari cerita yang "sangat Malta" menjadi presentasi universal. Sebagai manusia, mau tidak mau kita bakal berubah, untuk kemudian menghilang suatu hari nanti. Kulit luar boleh berubah, namun jiwa harus tetap sama. Tubuh akan tiada, namun cerita-cerita tidak boleh sirna.
(Klik Film)
REVIEW - THE POLICEMAN'S LINEAGE
Mengadaptasi novel Jepang berjudul Blood of the Policeman karya Joh Sasaki, The Policeman's Lineage mengusung pola serupa film-film yang mengetengahkan kisah mata-mata yang ditanam dalam dan/atau oleh pihak kepolisian (kiblat judul-judul modern takkan jauh-jauh dari Infernal Affairs). Sesuai formula, penonton dibawa mempertanyakan moralitas, seiring dilema yang dialami sang protagonis selaku mata-mata.
Choi Min-jae (Choi Woo-shik, fresh from the first strong contender of the best Kdrama of 2022, 'Our Beloved Summer') adalah polisi berprinsip. Kejujuran serta ketaatan pada aturan ia utamakan, yang membuatnya terasing dan dibenci rekan-rekannya.
Di tengah pemikiran bahwa "tiada tempat bagi polisis jujur sepertinya", Min-jae diberi misi rahasia oleh Hwang In-ho (Park Hee-soon), kepala divisi internal affairs (semacam provos di sini). Misinya adalah menyelidiki Park Gang-yoon (Cho Jin-woong), yang meski berprestasi dalam urusan menangkap kriminal, dikenal tak segan memakai metode ilegal. Min-jae diutus menyusup ke tim Gang-yoon, guna mencari tahu apakah benar ia menerima dana kotor. Sebagai imbalan, In-ho menjanjikan sebuah berkas rahasia mengenai ayah Min-jae, yang juga seorang polisi dan tewas kala bertugas.
Butuh waktu membiasakan diri dengan gaya bertutur naskah karya Bae Young-ik, yang di menit-menit awal membeberkan setumpuk fakta, nama, serta peristiwa dengan cepat. Tapi memang begitulah kekhasan genre ini. Cukup berikan atensi ekstra, dan anda bakal terjerat dalam proses Min-jae menguraikan dua macam benang: misteri (Apakah Gang-yoon korupsi?) dan moralitas (Apakah metode Gang-yoon bisa dibenarkan?).
Min-jae yang terbiasa dialienasi, perlahan merasa diapresiasi. Rekan-rekan barunya memuji hasil kerjanya, sementara Gang-yoon rupanya lebih bersahabat dari dugaan. Dia bak mentor yang mengayomi. Min-jae mulai goyah, apalagi bukti nyata soal korupsi Gang-yoon tak kunjung didapat.
Akting para aktor memegang peranan penting dalam perkembangan hubungan kedua karakter. Cho Jin-woong tampil karismatik, dengan kapasitas yang membuat penonton (dan Min-jae) percaya, bahwa di luar metode problematiknya, ia sungguh berniat memberantas kriminalitas. Sedangkan Choi Woo-shik punya aura yang tepat untuk menangani sosok pemuda "hijau" yang tengah berproses menanggalkan kenaifan. Muncul dinamika menarik antara individu yang patut dipertanyakan, dengan yang aktif mempertanyakan.
Sekilas, The Policeman's Lineage menyampaikan cerita kesatria pembasmi iblis, namun akibat terlampau sering bermandikan darah buruannya, ia pun akhirnya menjadi iblis. Tapi ada lapisan-lapisan lain dalam kisahnya. Apakah si kesatria berada di pihak yang benar? Apakah iblis yang dia buru adalah penebar ancaman sesungguhnya? Terpenting, apakah darah iblis membuat si kesatria lebih buruk? Kompleksitas tersebut memperkuat narasi The Policeman's Lineage, sebagai wujud hilangnya kepercayaan atas aparat beserta sistem.
Di antara penuturan solid itu, terselip satu kelemahan: penyutradaraan. Lee Kyoo-man belum piawai menangani aksi. Alih-alih menambah daya hibur, deretan aksi The Policeman's Lineage justru memusingkan, akibat ketidaktepatan pilihan shot, pula pergerakan-pergerakan kamera, yang bertujuan menciptakan kesan dinamis namun malah terkesan kacau. Paling kentara adalah aksi di babak akhir. Babak yang kebetulan juga menandai penurunan kualitas penceritaan filmnya. Terburu-buru. Seolah si penulis terkejut, mendadak sadar sudah kehabisan durasi, di saat masih banyak hal belum menemukan konklusi.
REVIEW - BEN & JODY
Opini soal kualitas karya-karyanya mungkin beragam, tapi Visinema jelas rumah produksi terbaik Indonesia, terkait cara menangani IP (Intellectual Property). Tidak perlu secara detail membahas model bisnis. Simak saja bagaimana perkembangan terkini dua franchise mereka. Arini by Love.inc bakal menggiring Love for Sale ke ranah fiksi ilmiah (rilis 4 Februari di Bioskop Online), tapi terlebih dahulu, Ben & Jody membawa drama dua sahabat pecinta kopi ke lingkup aksi.
Pertanyaan terbesarnya tentu saja, "Bisakah perubahan dilakukan secara natural?". Ditulis oleh sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, bersama Muhamad Nurman Wardi (Nussa), naskahnya memahami bahwa hal paling penting bukanlah mempertahankan genre, melainkan jiwa.
Fast & Furious menjadi film heist di Fast Five, namun masih membicarakan tentang keluarga, serta dipenuhi mobil-mobil keren. Begitu pula Ben & Jody, yang tetap mengetengahkan kisah persahabatan ditemani cangkir demi cangkir kopi. Oh, dan satu lagi: environmentalisme.
Dua film pertama Filosofi Kopi tidak hanya menyoroti kopi dari perspektif bisnis, juga lingkungan dan budaya. Maka tidaklah aneh ketika di sini, Ben (Chicco Jerikho) banting setir jadi aktivis di kampung halamannya, selepas keluar dari kedai. Bersama warga setempat, Ben membela hak petani yang lahannya hendak dikuasai korporasi. Ketika timbul perlawanan akar rumput, apa yang terjadi berikutnya? Tentu saja premanisme.
Apabila korporat memandang rakyat terlalu bebal untuk diajak negosiasi, maka tiba waktunya melempar ancaman fisik. Di sinilah gerbang menuju genre aksi terbuka, saat para pembalak liar di bawah pimpinan Tubir (Yayan Ruhian), mulai menculik warga satu per satu. Salah satunya Ben. Hilangnya Ben mendorong Jody (Rio Dewanto) nekat melakukan pencarian seorang diri.
Lingkungan, aktivisme, premanisme. Semua saling berkaitan. Efek domino yang hadir amat logis, sehingga pergeseran genrenya pun demikian. Mungkin yang agak mengganggu adalah penyertaan kopi di alur. Kebetulan Tubir sering mengeluhkan ketidakbecusan anak buahnya membuat kopi, dan Ben melihat itu sebagai jalan memuluskan rencana kaburnya. Sebagai pembuat kopi bagi Tubir, ia berharap bisa memperoleh informasi penting. Masalahnya, tatkala rencana dijalankan, anda akan sadar bahwa segala kerepotan itu sejatinya tak perlu, dan semata-mata eksis agar filmnya dapat menyelipkan kopi dalam penceritaan.
Selain itu, penceritaannya berlangsung mulus. Transisi menuju aksi juga memberi progresi natural terhadap persahabatan dua tokoh utama, yang banter-nya masih efektif membangun dinamika. Pasca bertaruh materi, kemudian saling bergesekan idealisme dan rasa, sudah sepantasnya pertaruhan nyawa jadi pembuktian pamungkas mengenai persahabatan sejati keduanya.
Apalagi, bukankah figur Ben dan Jody memancarkan machismo khas jagoan aksi? Teurtama Ben, dengan tubuh kekar Chicco yang lebih pantas menjadi superhero ketimbang penjual kopi (perannya sebagai Godam turut dipakai sebagai bahan guyonan).
Pun patut ditekankan, Ben & Jody tak serta merta menyulap protagonisnya jadi jagoan tangguh. Mereka bukan Rambo atau Chuck Norris. Wajar Ben dengan perangainya bisa berkelahi, tapi ia tetap tak kuasa menghabisi sepasukan musuh seorang diri. Sedangkan Jody harus menghadapi sulitnya mencabut nyawa manusia, sekalipun seorang penjahat yang juga berusaha membunuhnya. Bahkan bukan keduanya yang mendominasi klimaks baku hantam film ini.
Peran tersebut diberikan pada beberapa warga lokal yang menyelamatkan Ben dan Jody. Rinjani (Hana Malasan) dengan panah miliknya, Tambora (Aghniny Haque) si jago beladiri, hingga Musang (Muzakki Ramdhan) si cilik bersenjatakan ketapel. Hana akhirnya berkesempatan memamerkan karismanya, sementara kemampuan fisik Aghniny jelas tidak perlu diragukan.
Pertarungan Rinjani-Tambora melawan Tubir selaku klimaks punya semua bekal untuk tampil mumpuni, mulai dari kapasitas jajaran cast, sampai beberapa ide koreografi menarik. Sayangnya, pengarahan aksi Angga dan camerawork Arnand Pratikto selaku penata kamera, kurang mendukung terciptanya aksi intens, akibat pilihan-pilihan shot yang meleset.
Itulah ganjalan terbesar Ben & Jody dalam upayanya membawa Filosofi Kopi bertransformasi. Angga belum mampu memperbaiki kelemahannya mengarahkan adegan dinamis bertempo tinggi (termasuk situasi berupa pertengkaran hebat, seperti nampak di Story of Kale: When Someone in Love). Kelemahan yang untungnya selalu berhasil ditutupi oleh kualitas penceritaan. Sebab Angga memang salah satu pencerita terbaik kita.
REVIEW - I'M YOUR MAN
Kita senang berfantasi, karena berfantasi itu mudah. Fantasi tak terikat logika, pula lepas dari sebab-akibat. Kita bisa membayangkan jadi orang terkenal tanpa memedulikan hilangnya privasi. Kita bisa berangan-angan menikahi pujaan hati tanpa memusingkan repotnya tetek bengek rumah tangga. Berfantasi itu ibarat kembali ke masa kecil yang bebas sekaligus sederhana.
I'm Your Man, selaku perwakilan Jerman di ajang Academy Awards 2022, menyoroti semua itu. Bagaimana rumitnya ketika fantasi diwujudkan di hadapan carut marut pemikiran orang dewasa, sekalipun yang dibawa olehnya adalah kebahagiaan.
Demi mendapat pendanaan riset, Alma (Maren Eggert), seorang arkeolog, setuju terlibat dalam eksperimen, yang mengharuskannya hidup selama tiga minggu bersama Tom (Dan Stevens). Tom bukan pria biasa. Tepatnya, ia bukan pria. Tom adalah robot yang didesain sesuai citra "pria ideal" di mata Alma, dan diprogram untuk membahagiakannya.
Tersusun atas berkas pikiran 17 juta orang, Tom senantiasa menuruti permintaan Alma. Tapi apakah itu cukup menghadirkan kebahagiaan? Di film Hollywood arus utama, jawabannya tentu "ya", lalu seiring waktu kita bakal menyaksikan sang robot menemukan sisi kemanusiaannya. I'm Your Man bukan film Hollywood. Sang sutradara, Maria Schrader, yang turut menulis naskah bersama Jan Schomburg, baru akan menjalani debutnya di Hollywood akhir tahun ini, lewat She Said yang mengetengahkan proses investigasi terhadap kasus Harvey Weinstein.
Schrader tidak tertarik memanusiakan Tom. Hingga akhir, sejago apa pun meniru ekspresi rasa manusia, ia tetap robot, yang diperankan secara meyakinkan oleh Stevens dengan gerak-gerik kaku, juga senyum aritificial. Dia nampak bisa berempati, namun itu hanya produk algoritma. Bukan humanisme Tom yang Schrader pertanyakan, melainkan Alma.
Tepatnya bagaimana Alma, sebagai manusia, menyikapi kebahagiaan. Hasilnya kompleks. Di satu titik, ia bahagia, namun itu pun meninggalkan dilema. Apakah nyata, ataukah semu sebagaimana fantasi? Akting Eggert, yang membawanya menyabet piala di Berlin International Film Festival (Best Leading Performance) dan German Film Award (Best Actress), sama sekali tak menyederhanakan emosi karakternya. Seorang wanita yang khawatir jika kebahagiaannya merupakan kekeliruan.
Begitulah orang dewasa. Terjebak rasa sakit dan kekecewaan masa lalu, sembari mengkhawatirkan masa depan, sehingga membingungkan cara menjalani masa kini. Sepanjang film, terdapat tiga titik tatkala Alma nampak sungguh-sungguh bahagia. Pertama, saat Tom membantu Julian (Hans Low), mantan kekasihnya, membawa lukisan, yang seolah jadi gambaran harmoni masa lalu dengan masa depan. Kedua, saat di suatu malam bersama Tom, ia menenggelamkan diri dalam "momen sekarang". Terakhir di penghujung durasi, tatkala Alma "mengunjungi" masa kecilnya.
I'm Your Man tampil mempertanyakan rasa. Menggugat afeksi memakai kognisi. Sayangnya, terkait pengarahan, Schrader terlampau menekan emosi adegan. Seolah seperti karakternya, enggan membuka pintu bagi rasa. Biarpun tak mengurangi tingkat kecerdasan penuturannya, percikan-percikan romansa yang mestinya tetap ada, cenderung sukar ditemukan.
(Hulu)
REVIEW - MERINDU CAHAYA DE AMSTEL
Merindu Cahaya de Amstel diadaptasi dari novel berjudul sama buatan Arumi E, yang konon terinspirasi kisah nyata seorang wanita Belanda, Marien (Amanda Rawles), yang memutuskan jadi mualaf setelah hidupnya hancur. Pacarnya berselingkuh lalu menyebarkan video pribadi mereka, membuat orang tua Marien yang religius mengusirnya. Marien coba bunuh diri. Beruntung, Fatimah (Oki Setiana Dewi) menemukannya tepat waktu.
Marien, yang berganti nama menjadi Khadija, merasa Islam memberinya "kesembuhan". Lewat cara apa? Bagaimana Khadija mampu mentas dari titik terendahnya? Entahlah. Melalui flashback, kita cuma melihat Fatimah memakaikan hijab, saat Khadija menanyakan cara untuk menjadi manusia yang lebih baik. Itulah permasalahan Merindu Cahaya de Amstel. Terlalu menggambangkan, dangkal, mendahulukan tampak luar ketimbang unsur spiritual.
Kebetulan (disebut "takdir Allah" oleh filmnya) Khadija bertemu Nicholas (Bryan Domani), seorang fotografer jurnalistik. Nicholas tidak sengaja memotret Khadija, dan alangkah terkejut ia, kala foto itu memperlihatkan tubuh si wanita memancarkan cahaya. Terdengar bak "berita" sensasional yang gemar dibagikan boomers di grup WhatsApp, tapi biarlah.
Bersama rekannya, orang Indonesia bernama Joko (Ridwan Remin), Nicholas berniat menjadikan Khadija narasumber untuk artikel mengenai wanita muslim Eropa. Ada poin menarik tentang dua protagonis kita. Mereka lancar berbicara Bahasa Indonesia, sebab sama-sama pernah tinggal di Indonesia. Sungguh kebetulan (baca: takdir Allah) yang luar biasa. Setidaknya film ini mau susah payah mencari alasan, daripada secara ajaib membuat orang Belanda tulen fasih berbahasa Indonesia.
Kebetulan (baca: takdir Allah) kembali menampakkan kuasanya, dengan mempertemukan Khadija dan Kamala (Rachel Amanda), mahasiswi asal Indonesia. Mereka akhirnya bersahabat, meski Kamala terkadang kurang nyaman di dekat Khadija, yang dianggapnya seperti guru agama. "Kamu hidup bebas, sama seperti wanita-wanita di sini", ucap Nicholas pada Kamala. Oh, sudahkah saya menuliskan soal kebetulan (baca: takdir Allah) yang turut mempertemukan Nicholas dan Kamala?
Sebebas apa hidup Kamala? Jawabannya, dia tidak pernah salat. Kamala selalu jengah tiap sang ibu (Maudy Koesnaedi) menelepon jam lima pagi agar dia salat subuh. Tapi Kamala tidak mabuk-mabukkan, tidak menganut seks bebas, tidak suka clubbing, bahkan menerapkan larangan membawa masuk pria ke apartemennya. Jadi bagian mana yang di mata Nicholas "seperti wanita Belanda?".
Harus diakui 30 menit pertamanya menyenangkan. Empat karakter saling bertegur sapa, bercanda, bertukar cerita, diperankan empat aktor yang ahli berkomunikasi. Rachel selalu natural, Ridwan tak pernah gagal memancing tawa, sedangkan Bryan-Amanda, meski kerap mengalami inkonsistensi logat (beberapa kali berubah dari "bule berbahasa Indonesia" ke "orang Jakarta biasa"), sanggup menghindari kesan hiperbolis dalam akting mereka. Bryan tidak berusaha keras agar terlihat keren, Amanda tidak berlebihan sebagai sosok wanita solehah. Di titik ini, pengarahan Hadrah Daeng Ratu pun menitikberatkan pada interaksi sederhana alih-alih dramatisasi.
Sayang, seiring meningkatnya kuantitas konflik, semakin kualitas film menurun. Kisah cinta segitiga klisenya bisa dimaklumi, mengingat itu elemen khas genre romansa religi yang digandrungi target pasarnya (remaja-remaja wanita di studio tempat saya menonton jelas memberi respon positif), namun beberapa subplot yang lebih "berat" justru lebih mengganggu.
Sebagaimana saya singgung di atas, Merindu Cahaya de Amstel adalah suguhan religi dangkal. Mengangkat perihal agama tanpa pembahasan tentang batin, spiritual, atau semacamnya. Khadija akhirnya menerima tawaran Nicholas sebagai narasumber, dengan harapan bisa mengangkat soal wanita muslim di Eropa. Seperti apa wanita muslim di Eropa? Kisah apa yang mereka lalui? Tidak pernah jelas, sebab penuturan Khadija pun hanya ditampilkan sambil lalu. Mendadak di penghujung durasi, disebut bahwa ceritanya tersebar luas dan dikagumi warga Eropa. Cerita apa?
Muncul kesan jika Merindu Cahaya de Amstel sebatas mendefinisikan wanita muslim Eropa (atau wanita muslim secara keseluruhan) melalui tampilan luar saja. Selalu pemakaian hijab yang dibahas. Ingin jadi manusia yang lebih baik? Pakailah hijab. Ingin menjadi muslimah yang membanggakan sang ibu? Pakailah hijab. Tidak lupa, naskah buatan Benni Setiawan (tentu seorang pria), melempar analogi permen saat membahas alasan wanita perlu menutup aurat.
Film ini menganggap wanita bak permen yang sebaiknya tetap dibungkus? Baik. Saya juga bisa memakai analogi serupa. Merindu Cahaya de Amstel juga sebaiknya tetap dibungkus. Biarkan saja DCP-nya tersimpan di dalam lemari. Tidak perlu ditayangkan. Sayang kan? Sudah keluar banyak uang untuk memproduksi DCP, kok malah disebarkan ke bioskop-bioskop. Nanti rusak lho!
REVIEW - NIGHTMARE ALLEY
Di sebuah kesempatan, protagonis Nightmare Alley dibaca garis nasibnya memakai kartu tarot. Hasilnya, ia bakal tertimpa nasib buruk. Keburukan seperti apa? Begitulah rasanya menonton film ini. Mengetahui bagaimana noir bekerja, kita tahu tragedi menanti, namun rupanya tak diketahui. Sama seperti ketidaknyamanan kala menyusuri gang gelap di tengah malam. Seolah ada yang siap menerkam, tapi entah apa.
Karya terbaru Guillermo del Toro ini, yang naskahnya dia tulis bersama Kim Morgan selaku adaptasi layar lebar kedua bagi novel berjudul sama buatan William Lindsay Gresham (versi pertamanya rilis tahun 1947), adalah tontonan sarat foreshadowing, yang bertujuan menelusuri sisi kelam manusia, serta bagaimana putaran takdir seolah enggan mengalah, lalu ingin memamerkan betapa kelam ironi yang dibawanya.
Protagonis kita bernama Stan (Bradley Cooper). Di sekuen pembuka, Stan membakar rumahnya, bersamaan dengan tubuh yang terbungkus kain. Apakah ia pembunuh? Ataukah penonton sedang dikecoh? Pastinya Stan bukan pria polos. Kematian tak asing baginya, sehingga ini pun bukan kisah hilangnya kepolosan individu.
Stan tiba di kelompok sirkus milik Clem (Willem Dafoe). Salah satu aksi andalan mereka adalah geek show, di mana pria berpenampilan kumuh menggigit kepala ayam hidup. Aksi ini dahulu marak dilakukan, dan sang penampil, yang biasanya tanpa talenta apa pun, bersedia direndahkan demi asupan opium dan/atau alkohol. Stan bertanya-tanya, "Bagaimana bisa ada manusia yang terjatuh sedemikian dalam?".
Kerlap-kerlip lampu karnaval di malam hari, pencahayaan temaram, ditangkap oleh kamera Dan Laustsen, sinematografer yang sudah empat kali berkolaborasi dengan del Toro. Cantik sekaligus misterius. Serupa karya-karya sang sutradara biasanya, namun Nightmare Alley bagai melangkah di garis batas antara magisnya dunia fantasi dan realita.
Tapi tiada monster di sini. Hanya ada manusia-manusia, yang dianggap monster oleh sesamanya (geek, janin bermata tiga bernama "Enoch" yang diawetkan dalam toples). Pula tidak ada sihir. Hanya ada rangkaian trik yang dilakukan sedemikian meyakinkan sampai tampak bak keajaiban.
Salah satunya cold reading, yang dipelajari Stan dari pasangan suami-istri, Pete (David Strathairn) dan Zeena (Toni Collette). Berbekal metode rumit, mereka bisa menebak benda apa yang orang lain pegang dengan mata tertutup, bahkan membaca sejarah di baliknya. Del Toro seperti punya ketertarikan tinggi akan praktek tersebut (dan pertunjukan sirkus secara umum), lalu dengan antusias mengajak kita menelisik seluk beluknya.
Salah satu poin terbaik Nightmare Alley adalah tiap mempresentasikan detail pertunjukan, yang tak jarang menutupi lubang penceritaan. Jika versi 1947 cuma berdurasi 111 menit, maka versi del Toro berjalan hingga dua setengah jam. Terlalu panjang, pun tidak jarang kisahnya hilang arah.
Ada istilah "kill your darlings", yang merujuk pada keharusan penulis untuk berani menghilangkan bagian alur, adegan, atau kalimat yang dirasa kurang signifikan. Del Toro dan Morgan bak enggan melakukannya, hingga penceritaannya, terlebih di paruh pertama, seperti sedang menaiki komidi putar yang tidak pernah berhenti.
Cukup lama pula sampai kisahnya memasuki ranah romansa. Stan jatuh cinta pada Molly (Rooney Mara) si "gadis listrik", mengajak sang pujaan hati turut serta dalam upayanya mengejar mimpi, yang jadi titik balik film. Nantinya Stan juga berurusan dengan Dr. Lilith Ritter (Cate Blanchett), seorang psikolog. Blanchett menghipnotis layaknya femme fatale khas noir.
Semakin jauh Stan melangkah, semakin kentara apa yang menantinya di ujung gang gelap. Sekali lagi, tidak ada monster. Bagi Stan, monster itu justru dirinya sendiri. Seorang pria dengan father issue, yang berujung menjadi sesuatu yang amat dia benci. Tatkala kebohongan tidak lagi dapat dikendalikan, si pembohong pun mulai memercayai kebohongan itu, lalu terjebak dalam mimpi buruk yang ia wujudkan sendiri.
Babak akhirnya membawa filmnya menyuguhkan beberapa kekerasan, tapi hal paling mengerikan justru bukan berasal dari pertumpahan darah, melainkan ironi takdir di penghujung cerita. Tawa Cooper di shot penutup saat karakternya (dan penonton) menyadari ironi tersebut, terdengar sangat mengiris, juga menghantui, sebab kita pun bisa saja bernasib serupa. Penuturan Nightmare Alley memang tergolong lemah dibanding deretan karya Guillermo del Toro lain, namun konklusinya salah satu yang paling menusuk.
REVIEW - MASS
"Mass" di judul film ini lebih merujuk pada "mass shooting", bukan misa. Tidak ada ibadah dijalankan di sini, namun tokoh-tokohnya jelas berdoa. Beberapa demi memperoleh jawaban, lainnya demi pengampunan. Tapi mungkin mereka tak berdoa pada Tuhan. Bahkan mungkin tidak tahu, doa itu mesti dipanjatkan ke siapa, serta bagaimana. Mereka tersesat.
Kisah dibuka saat Judy (Breeda Wool) mempersiapkan ruang untuk suatu pertemuan. Judy wanita baik. Walau agak canggung, cenderung menekan emosi guna menghindari situasi tak menyenangkan (tipikal white church lady), ia baik. Judy ingin menolong sebisanya. Tapi bagi keempat orang yang terlibat dalam pertemuan itu, niat baik Judy menyediakan camilan dan kopi bukan bentuk pertolongan yang dibutuhkan.
Jay (Jason Isaacs) dan Gail (Martha Plimpton) masih berduka atas tragedi penembakan di sekolah, yang menewaskan putera mereka enam tahun lalu. Sedangkan Richard (Reed Birney) dan Linda (Ann Dowd) selaku orang tua pelaku, banyak menerima ancaman serta kebencian akibat perbuatan keji sang putera. Diperantarai oleh Kendra (Michelle N. Carter), seorang pengacara, dua pasang suami istri itu bersedia bertemu di gereja untuk saling bicara.
Membicarakan apa? Tanyakan itu pada karakternya, niscaya mereka pun bakal kesulitan menjawab. Sedangkan bagi Fran Kranz selaku sutradara sekaligus penulis naskah (baru menjalani debut), pertemuan dijadikan cara mengupas kompleksitas individu-individu yang terlibat langsung dalam kasus penembakan massal.
Bagaimana orang tua korban dapat menemukan kedamaian? Apakah orang tua pelaku patut disalahkan? Haruskah orang tua pelaku menghapus cinta kepada puteranya? Kranz tak mengambil jalan mudah dalam mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas. Tuturannya thought-provoking. Beberapa poin mungkin akan sulit diterima, dan di situlah ujian bagi kita, penonton, datang.
Eksplorasinya mengonfrontasi perspektif penonton sebagai orang luar, yang lebih mudah menghakimi, menilai, pula menyalahkan pihak mana pun, karena tidak punya ikatan personal. Penonton diajak mengerti, ikut mencari jawaban tanpa menaruh prasangka. Mass bukan sebuah proses memahami (apalagi membenarkan) pelaku, melainkan proses mengamati dua belah pihak saling memahami, untuk kemudian belajar menerima. Satu pihak belajar menerima fakta putera mereka pembunuh, pihak lain belajar menerima bahwa pembunuh putera mereka juga putera orang lain.
Mengingat karakternya sendiri tidak selalu tahu mesti membicarakan apa, wajar ketika beberapa kali penceritaannya terkesan berputar-putar. Wajar, namun tetap wujud kekurangan, yang untungnya dapat ditekan oleh performa jajaran pemain. Birney menghapus keklisean figur "ayah sibuk tak perhatian", Dowd yang senantiasa coba berempati, Isaacs yang bak bom waktu, dan Plimpton, yang walaupun paling banyak diam, selalu menggetarkan tiap menjadi sorotan.
Kranz sadar cast-nya luar biasa, lalu dengan sensitivitas tinggi, memilih shot-nya dengan tujuan memaksimalkan emosi seluruh karakter. Kapan harus menaruh fokus ke sosok yang tengah bicara, kapan reaction shot harus diselipkan agar bukan sekadar aksi memenuhi basic filmmaking. Dia layaknya sosok tak terlibat di ruangan, yang mengamati, memperhatikan, juga menyelami rasa keempat manusia di sana.
Mass adalah drama tentang saling bercerita dan mendengarkan, guna mencari kesembuhan melalui proses memahami. Memahami bagaimana perasaan orang lain dan kita sendiri. Memahami bahwa biarpun amatlah rapuh, nyatanya kita sebagai manusia, cukup kuat untuk menemukan pijakan melalui satu sama lain, tanpa bergantung pada "higher power".
(Klik Film)
REVIEW - THE TRAGEDY OF MACBETH
The Tragedy of Macbeth menandai kali pertama Joel Coen menyutradarai tanpa sang adik, Ethan Coen, yang sementara waktu mengambil jeda dari dunia film untuk fokus pada teater. Hasilnya bakal membuat penonton pangling. Seperti tertera di judul, ada tragedi, namun tanpa kejenakaan khas Coen Brothers. Seperti dunia mimpi yang aneh, misterius, pun tidak jarang mencekam.
Sebelumnya, adaptasi layar lebar bagi cerita Macbeth buatan William Shakespeare, hadir tahun 2015 lewat tangan Justin Kurzel. Apabila versi Kurzel didominasi warna jingga, membuat kita bak melihat neraka dari balik kabut pekat, maka The Tragedy of Macbeth sebaliknya, dibungkus visual hitam putih.
Tapi garis besar ceritanya tetap sama. Macbeth (Denzel Washington) sang prajurit gagah berani, mendengar ramalan tiga penyihir (Kathryn Hunter dalam kombinasi olah rasa dan tubuh yang menghantui), bahwa kelak ia akanmenjadi raja Skotlandia. Mendengar ramalan tersebut, sang istri, Lady Macbeth (Frances McDormand), menyusun rencana membunuh Raja Duncan (Brendan Gleeson), agar suaminya segera naik tahta.
Dari situlah Macbeth si jagoan heroik mulai berubah jadi tiran pengecut, yang tak segan menumpahkan darah siapa saja yang dirasa mengancam. Macbeth hidup dalam ketakutan, karena menurut ramalan si penyihir, alih-alih keturunannya, tahta kerajaan bakal diteruskan oleh putera Banquo (Bertie Carvel).
Seperti telah disebut, naskah buatan Joel Coen masih mempertahankan pola penceritaan Macbeth, termasuk bahasa figuratif sarat metafora yang dipakai Shakespeare. Pembedanya terletak pada pilihan cast. Denzel tidak pernah salah dalam berakting, tapi ia bukan Macbeth. Karisma sang aktor cocok dengan sosok "Macbeth si prajurit", namun lain halnya saat ia mulai tenggelam di kegelapan.
Denzel terlalu berwibawa sebagai Macbeth yang plin-plan, berulang kali ragu melancarkan aksi pembunuhan perdananya. Terlalu kokoh sebagai Macbeth yang mengaku dibuat takut oleh suara sekecil apa pun, sebagai Macbeth si "pencuri kerdil berjubah raksasa". Macbeth yang "gila" dan pongah bisa Denzel hidupkan, tapi tidak dengan Macbeth yang pengecut.
Sedangkan McDormand kembali tampil tanpa cela, memerankan wanita yang perlahan menyadari telah menciptakan monster. Semakin besar kesadaran tersebut, semakin mata McDormand menampakkan teror. Teriakan McDormand kala Lady Macbeth menumpahkan ketakutan, pilu, serta penyesalan secara bersamaan, terdengar begitu menusuk.
The Tragedy of Macbeth semacam percobaan. Sebuah eksperimen seorang Joel Coen, terutama pada departemen artistik. Melakukan pengambilan gambar di soundstage, muncul kesan artificia. Tentunya kesan itu sebuah kesengajaan. Joel berhasil melahirkan dunia dreamy yang menghipnotis, dibantu hasil tangkapan kamera Bruno Delbonnel dan pilihan rasio 1.37 :1 yang atensi serasa dicengkeram. Joel bukan membangun Skotlandia, melainkan dunia psikologis protagonisnya.
Maka jangan heran jika latarnya terlihat minimalis. Kastil Macbeth megah tetapi kosong tanpa ornamen atau barang apa pun. Bahkan tidak jarang karakternya berdiri di tengah kehampaan, dalam lokasi yang sepenuhnya tercipta dari trik pencahayaan. Minimalisme ini mencerminkan kekosongan batin karakternya, walau ia sudah bermandikan kekuasaan dan kekuatan.
(Apple TV+)
REVIEW - DEAR NATHAN: THANK YOU SALMA
Rilis pada 2017, Dear Nathan memperoleh 700 ribu penonton. Setahun berselang, Hello Salma selaku sekuel disaksikan oleh 840 ribu orang. Pun peran Nathan melambungkan nama Jefri Nichol sebagai salah satu aktor muda paling bersinar. Menyebutnya "underrated" jelas kurang pas, tapi secara kualitas, nyatanya adaptasi novel karya Erisca Febriani ini memang belum mendapat pengakuan yang sesuai.
Coba sebutkan trilogi film Indonesia yang kualitasnya konsisten. Laskar Pelangi dan Jelangkung terjun bebas di installment ketiga, sementara kalau Kuntilanak yang muncul di kepala anda, percayalah itu lebih karena faktor nostalgia. Sehingga Thank You Salma merupakan produk langka. Sebuah penutup kuat nan segar, yang memantapkan status Dear Nathan sebagai salah satu trilogi terbaik negeri ini.
Kini Nathan (Jefri Nichol) dan Salma (Amanda Rawles) adalah mahasiswa. Salma aktif menulis puisi, percaya bahwa dunia dapat berubah melalui gagasan-gagasan modern media digital, sebaliknya Nathan, yang aktif demo bersama kelompok himpunan mahasiswa, menganggap aktivisme sebaiknya dilakukan langsung di jalan. Jurang perbedaan tersebut mulai memunculkan keraguan akan masa depan hubungan mereka.
Serupa dua film pertama, naskah buatan Bagus Bramanti dan Gea Rexy masih tampil sederhana tetapi kuat dalam presentasi romansanya. Pasca kerusuhan di sebuah demo, Salma meminta Nathan berhenti. Perspektif Salma adalah, semestinya Nathan lebih mementingkan orang-orang terdekat yang memedulikan keselamatannya. Sedangkan Nathan tetap kukuh bahwa membela kaum tertindas melalui demonstrasi merupakan keharusan.
Soal siapa benar atau salah itu relatif. Tergantung pada kacamata mana yang dipakai. Terpenting, filmnya memastikan bahwa dua sudut pandang berlawanan itu masuk akal, serta didasari cinta masing-masing. Gesekan ini makin rumit lewat kehadiran Afkar (Ardhito Pramono), musisi yang menyembunyikan identitasnya memakai nama panggung Gema Senja. Salma mengidolakan Gema Sanja, dan keduanya bertemu di kelompok mahasiswa pecinta puisi yang diketuai Afkar.
Sama seperti Salma, Afkar meyakini perubahan bisa dibawa oleh gagasan dalam karya seni, alih-alih melalui demonstrasi. Thank You Salma punya romantika di fase yang tricky. Bukan lagi remaja SMA yang terpikat rayuan gombal atau (cuma) fisik, bukan pula cerita cinta dewasa yang penuh lika-liku kompleks. Karakternya berada di usia dewasa awal. Usia pencarian jati diri yang sesungguhnya, tatkala ideologi terbentuk dan dipuja, sehingga individu mencari "teman perjalanan" berdasarkan itu. Apa yang film ini hadirkan adalah proses pendewasaan, guna mencari titik tengah di antara dua ideologi, yang walau berbeda, namun menyimpan satu tujuan.
Tapi yang membuat Thank You Salma terasa segar (sekaligus ambisius, karena menggiring konklusi sebuah trilogi keluar dari pakem romansa) adalah selipan isu tentang pelecehan seksual di latar kampus. Korbannya Zanna (Indah Permatasari dalam satu lagi performa emosional), teman sekelas Nathan. Pelakunya Rio (Sani Fahreza), rekan Nathan di himpunan mahasiswa. Dibantu Rebecca (Susan Sameh), Zanna memperjuangkan keadilan, meski ditentang banyak pihak, termasuk kampus yang justru membela si pelaku.
Identitas pelaku adalah alasan urgensi isu milik Thank You Salma. Aktivis, berasal dari keluarga terpandang, pula berprestasi di kampus. Fenomena serupa belakangan makin marak, ketika aktivisme jadi kedok predator seksual menyembunyikan ketidakmampuan mengontrol kelamin busuk mereka. Apa yang terjadi saat si aktivis mesum hendak diperkarakan? Seperti respon teman-teman "seperjuangan" Nathan, terucaplah "Jangan merusak pergerakan".
Beberapa kalimat seputar pelecehan seksualnya acap kali terdengar preachy, terutama saat Rebecca "menceramahi" Nathan tentang cara menyikapi pengakuan para penyintas. Tapi itu wajar terjadi, karena masih luar biasa tololnya laki-laki Indonesia menyikapi isu tersebut. Melihat situasi sekarang, penyampaian secara lebih halus dan subtil takkan berdampak. Sudah sepantasnya edukasi itu diteriakkan dengan gamblang tepat di depan muka orang-orang.
Menjelang babak akhir, penceritaannya memang agak goyah. Bagaimana Salma ditarik memasuki lingkup konflik Zanna tampak canggung, baik dalam penulisan maupun pengadeganan Kuntz Agus selaku sutradara. Begitu juga resolusi percintaan Nathan-Salma, yang penempatannya kurang tepat, sehingga terkesan "mencuri panggung" dari isu pelecehan seksualnya.
Tapi saya mengapresiasi penggambaran karakter Nathan. Tentu pada akhirnya ia jadi figur pahlawan (a dependable and likeable one thanks to Jefri's usual charisma), namun di awal, ia gagal memahami penyintas. "Kalau Zanna jujur, kenapa dia nggak langsung lapor?", tanya Nathan. Bedanya, jika banyak masyarakat negeri ini menolak paham, Nathan mau belajar. Karena Nathan tahu cara menjadi manusia. Kita pun seharusnya demikian.
REVIEW - TILL WE MEET AGAIN
Jika anda memercayai cinta sejati, bahwa sedemikian kuatnya rasa cinta sampai mampu meruntuhkan sekat pemisah apa pun, maka adaptasi novel Yue Lao buatan Nine Knives ini adalah tontonan sempurna. Meraih 11 nominasi di Golden Horse Awards 2021 (memenangkan Best Makeup & Costume Design dan Best Sound Effects), Till We Meet Again bicara soal cinta yang membuat konsep hidup-mati jadi tak relevan di hadapannya.
Dibuka saat Aaron (Kai Ko) tewas tersambar petir, kita langsung dibawa menyusuri kreativitas konsep filmnya. Aaron diberi dua buah pilihan oleh petugas akhirat yang bekerja bak pegawai administrasi kantor pemerintah, lengkap dengan komputer dan setumpuk berkas. Dia bisa bereinkarnasi, meski tak sebagai manusia karena catatan kehidupannya kurang baik, atau memilih salah satu profesi, yang dapat dipakai untuk menabung kebaikan. Aaron mengambil opsi kedua.
Profesi yang ia pilih adalah dewa cinta. Bersama si partner, Pinky (Gingle Wang), bersenjatakan benang merah ajaib, Aaron bertugas menyatukan sepasang manusia (apa pun gendernya bukan masalah). Kalau mau, bisa saja mereka memasangkan manusia dengan makhluk, atau bahkan benda apa pun, sebagaimana diperlihatkan salah satu momen komedi paling lucu sekaligus ekstrim film ini.
Berlatar dunia fantasi penuh visual cantik serta ragam desain karakter menarik, babak pertamanya jadi fase perkenalan yang menyenangkan. Aaron dan Pinky awalnya saling membenci, selalu saling ejek, bahkan di tengah tes-tes unik selaku ujian bagi para calon dewa cinta. Playful!
Bukan berarti penuturannya tanpa masalah. Naskah karya sang sutradara, Giddens Ko (You Are the Apple of My Eye), kesulitan menyatukan berbagai subplot. Ada tentang arwah jahat misterius (Umin Boya) yang menebar kematian di dunia manusia, juga wanita bernama Xiao Mi (Vivian Sung) yang selalu tampak gamang. Perpindahan antar kisah berlangsung amat cepat, membuat penuturannya mengalir kurang mulus.
Barulah memasuki babak kedua, tatkala misteri tiap subplot mulai tersibak dan saling terhubung, penceritaan Giddens Ko menemukan pijakannya, termasuk dalam memadukan aneka genre, dari fantasi, komedi romantis, hingga horor berdarah. Terutama romansa, selaku penyumbang rasa terbesar Till We Meet Again.
Romansa penuh rahasia, di mana setiap rahasia bukan cuma berfungsi sebagai pemberi efek kejut, pula menegaskan betapa besar cinta dalam hati karakter-karakternya. Di sini, cinta adalah sumber kekuatan, dan kekuatan cinta tak bisa dilawan. Tapi cinta juga terkadang menuntut pengorbanan, pun dapat meninggalkan rasa sakit.
Biarpun sentralnya romansa, bentuk lain cinta turut film ini munculkan, yaitu cinta yang berasaskan kepedulian antar makhluk hidup. Familiar dengan kisah pelacur yang masuk surga berkat memberi minum seekor anjing? Till We Meet Again punya cerita serupa. Bagaimana satu kebaikan kecil nyatanya berdampak luar biasa besar, baik bagi si penolong maupun yang ditolong.
Memasuki third act, presentasinya sesekali terganjal penceritaan kurang rapi, ketika Giddens Ko (lagi-lagi) kelabakan saat menangani banyak peristiwa yang terjadi bersamaan sehingga tidak jarang membingungkan, namun kelemahan tersebut sanggup dibayar lunas oleh kemampuan sang sutradara mengolah rasa. Entah di paparan cinta monyet lugu nan manis beriringkan lagu legendaris Qing Fei De Yi, atau klimaks epiknya, yang jadi salah satu sekuen romansa terdahsyat dalam beberapa waktu terakhir.
Kai Ko adalah aktor yang mampu menguras air mata penonton lewat air matanya sendiri, Gingle Wang tampil menggelitik sekaligus simpatik, sedangkan Vivian Sung mendefinisikan ketulusan mencintai. Di tangan ketiganya, cinta tak hanya kata-kata manis, tetapi pertemuan dua (atau beberapa) hati yang menanti untuk dipertemukan, dipersatukan, meskipun harus melalui perpisahan, bahkan kematian.
REVIEW - SCREAM
Jika Scream 4 (2011) ibarat acungan jari tengah bagi tren "passing the torch", maka film kelima ini, yang berstatus semi-sekuel sekaligus semi-reboot (disebut "requel" oleh filmnya sendiri), jadi upaya modernisasi yang tetap menaruh hormat kepada versi aslinya.
Tapi masihkah Scream relevan di zaman sekarang? Horor meta yang jadi jualan utamanya sejak 26 tahun lalu kini telah marak diusung. Sementara generasi muda cenderung menggandrungi horor dengan penuturan sarat subteks (elevated horror) alih-alih slasher yang sering dianggap murahan. Ditangani naskahnya oleh James Vanderbilt (Zodiac, The Amazing Spider-Man) dan Guy Busick (Ready or Not), Scream tidak ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan tadi, bahkan dengan cara khasnya, menjadikan semua itu materi humor menggelitik.
Seperti biasa, film dibuka saat seorang gadis muda mendapat telepon dari Ghostface, diajukan pertanyaan, "What's your favorite scary movie?", sebelum kemudian dijadikan mangsa. Menariknya, kali ini si gadis, Tara Carpenter (Jenna Ortega) selamat. Seolah menegaskan, bahwa sebagai requel, filmnya mempertahankan formula sembari memberi modifikasi.
Peristiwa yang menimpa Tara membuat kakaknya, Sam (Melissa Barrera), memutuskan pulang ke Woodsboro bersama kekasihnya, Richie (Jack Quaid), setelah selama ini hubungannya dengan sang adik merenggang. Berikutnya bisa ditebak, satu demi satu remaja setempat tewas di tangan Ghostface.
Sebagai jembatan, beberapa nama baru diberi kaitan dengan nama lama. Entah keponakan, anak, atau sebatas menempati rumah yang dahulu dihuni salah satu karakter. Seperti biasa, jawaban misterinya memiliki kaitan dengan rahasia kelam Woodsboro, yang meski terkesan dipaksakan, mampu membawa ceritanya membentuk full circle yang menarik, sambil mewakili proses si jagoan utama, Sidney Prescott (Neve Campbell), untuk berdamai dengan masa lalunya.
Bicara soal Sidney (dan para protagonis lama), porsi minim mereka agak disayangkan. Dewey Riley (David Arquette), yang sekarang bukan lagi polisi canggung, melainkan pria tua lelah di fase tergelap hidupnya (memberi Arquette kesempatan memamerkan akting terbaik dalam seluruh kemunculannya di seri ini), baru muncul di babak kedua, sebagai figur pembimbing para remaja guna memahami modus operandi pelaku.
Gale Weathers (Courteney Cox) dan Sidney lebih minim. Sidney baru menampakkan wajah setelah 30 menit, dan mulai beraksi bersama Gale selepas kurang lebih 70 menit, ketika film mendekati klimaks. Walaupun meninggalkan kekecewaan, keputusan itu dapat dipahami. Berbekal segudang pengalaman, menempatkan trio tersebut di posisi yang sama untuk kesekian kalinya, terasa kurang masuk akal. Mereka bak ekspertis, dan melihat sepak terjang Sidney di babak puncak, film bisa berakhir prematur bila ia tampil sedari awal.
Tetap tidak bisa dipungkiri, bagian terbaik Scream mayoritas terjadi kala trio orisinalnya mengisi layar. Satu-satunya momen emosional film ini juga melibatkan story arc mereka. Tanpa ketiganya, mengandalkan jajaran remaja yang bagai kopian kelas dua dari para tokoh lama, elemen kisah ala opera sabun miliknya (termasuk salah satu kekhasan Scream), kerap menjemukan.
Beruntung unsur meta-nya tampil kuat, yang terkuat sejak film pertama. Proses investigasi menggunakan formula-formula film slasher, hingga sindiran menggelitik terhadap beberapa hal terutama toxic fandom, adalah wujud hiburan menyenangkan bagi penggemar film. Penonton kasual akan tersesat, namun mereka memang bukanlah target pasar Scream.
Menggantikan Wes Craven yang meninggal dunia pada 2015 lalu di kursi penyutradaraan, nyatanya duo Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett (Ready or Not) punya energi yang tak jauh beda. Pembunuhannya cukup brutal nan kreatif, dengan klimaks yang bukan cuma seru, pula secara cerdik membawa filmnya memenuhi tujuan utama, yakni melahirkan modernisasi tanpa lupa menghormati versi asli.
REVIEW - BELLE
Mamoru Hosoda (The Girl Who Leapt Through Time, The Boy and the Beast, Mirai) memberi twist pada dongeng klasik Beauty and the Beast, membawanya ke era modern, memberi sentuhan coming-of-age khasnya lewat pencarian identitas remaja di era media sosial, sembari melempar komparasi antara kejamnya orang dewasa dan kemurnian hati anak-anak.
Hosoda kembali membuat protagonis gadis remaja, kali ini bernama Suzu (Kaho Nakamura), yang selepas meninggalnya sang ibu, kehilangan rasa percaya dirinya. Suzu tak lagi bisa menyanyi, pun enggan mengungkapkan cinta kepada teman sejak kecilnya, Shinobu (Ryo Narita). Satu-satunya tempat Suzu menemukan kebebasan adalah di U, sebuah dunia virtual di mana para pengguna memakai avatar sebagai persona.
Dibantu si sahabat jenius, Hiroka (Lilas Ikuta), Suzu menciptakan avatar bernama Bell. Sebagai Bell, Suzu mendapati dirinya dapat bernyanyi lagi, dan seketika menjadi idola terpopuler di U. Lupakan perihal dunia virtual canggihnya, maka kisah Suzu akan jadi kisah banyak orang, terutama remaja, yang menemukan safe space di dunia maya, tatkala dunia nyata semakin menampakkan kekejamannya.
Entah forum internet, karakter persona dalam gim, maupun stan account media sosial, semua menyediakan ruang yang bebas. Konsep anonimus dalam ruang-ruang tersebut, memungkinkan para pengguna "menjadi sosok lain untuk menjadi diri sendiri". Tapi biar bagaimanapun, seperti istilahnya, dunia maya bukanlah realita. Suatu saat bakal ada titik di mana individu perlu belajar mengaktualisasi diri secara nyata. Proses itulah yang Suzu alami.
Proses yang sesungguhnya sudah berkali-kali muncul di medium animasi, baik produksi Hollywood atau negara lain termasuk Jepang. Pun kali ini cara bertutur Hosoda tak semulus biasanya, tatkala progres alur acap kali berjalan kurang rapi dan terburu-buru. Tapi sensitivitas sang sutradara yang piawai menemukan keindahan dalam kisah familiar sama sekali tidak luntur.
Nantinya kita diajak menyelami dunia U (yang dibungkus visual imajinatif) secara lebih dalam, lewat kemunculan The Dragon (Takeru Satoh), avatar berwujud naga misterius, yang diburu akibat dirasa merusak tatanan serta mengganggu keamanan U. The Dragon diburu oleh sekelompok viglante, yang dibawah pimpinan Justin (Toshiyuki Morikawa), mengatasnamakan diri mereka sebagai pelindung U.
Di sinilah Hosoda mulai melempar kritik bagi isi kepala orang dewasa yang dipenuhi kebencian dan prasangka. Berlawanan dengan kepolosan anak, orang dewasa dengan obsesi mereka menegakkan nilai yang secara buta mereka anggap (paling) benar, justru kerap menyulut kehancuran.
Sementara dalam hubungan Bell dan The Dragon, Hosoda menggeser kisah ala Belle dan Beast menuju konsep cinta yang lebih luas. Bukan sebatas di tataran romansa, melainkan kemanusiaan. Hubungan dua tokoh utama memang berkembang agak terlalu cepat, tapi berhasil ditambal oleh konklusi kuat, yang turut menyinggung soal parenting. Klimaksnya epik, emosional, indah, tatkala Hosoda mengajak penonton menyaksikan sesosok gadis remaja biasa, membuktikan di hadapan jutaan orang bahwa dirinya luar biasa.
TOP 20 MOVIES OF 2021
Memasuki 2021, industri film belum benar-benar pulih, jumlah judul yang tayang di bioskop, walau bertambah dibanding 2020, masih tak sebanyak dahulu. Tapi bukan berarti tidak ada kabar baik. Sebagai wujud adaptasi, layanan streaming makin menggeliat, memberi akses terhadap film-film biasanya sulit dijamah penonton luar Amerika. Beberapa festival yang diadakan secara daring turut memberi kontribusi serupa. Begitu Spider-Man: No Way Home jadi film pertama yang menembus perolehan 1 miliar dollar setelah dua tahun, harapan untuk kembalinya era normal tak pernah sekuat ini.
Berikut adalah 20 film yang paling berkesan bagi saya sepanjang 2021, baik yang ditonton di bioskop, streaming, maupun festival.
20) THE MEDIUM
Tontonan paling meneror tahun lalu. Bukan saja bersumber dari kengerian mistis, pula ketidakberdayaan yang menghantui psikis. Kisah mengerikan tentang hancurnya kekokohan akibat ketidakpastian dan keputusasaan. (Shudder)
19) IN THE HEIGHTS
Sebuah kemeriahan yang memamerkan kekuatan sejati musikal, di mana eksplorasi penceritaan serta rasa mampu diwakili oleh deretan lagu-lagu (Catchplay+, HBO GO)
18) TICK, TICK... BOOM!
Melalui debut penyutradaraannya, Lin-Manuel Miranda mempersembahkan kado bagi para pemimpi, bagi mereka yang tengah berjuang sembari melawan waktu. (Netflix)
17) THE MITCHELLS VS. THE MACHINES
Begini jadinya ketika tiadanya batasan di medium animasi dimanfaatkan sebaik-baiknya lewat kreativitas tingkat tinggi, yang meleburkan drama, komedi, serta aksi dengan luar biasa. (Netflix)
16) SPIDER-MAN: NO WAY HOME
Jelas terdapat berbagai kekurangan filmis di sini, tapi tidak ada film yang mampu memberi pengalaman sinematik sedahsyat No Way Home tahun lalu.
15) THE POWER OF THE DOG
Tontonan yang mencengkeram secara perlahan, dalam presentasinya soal kompleksitas manusia, dalam sebuah twist terhadap machismo khas genre koboi. (Netflix)
14) YUNI
Kisah dengan relevansi dan urgensi luar biasa tinggi. Kamila Andini sampai di titik terbaiknya sebagai pencerita, yang mampu memadukan kesubtilan sinema alternatif tanpa mengalienasi penonton awam.
13) WEST SIDE STORY
Keberhasilan melebihi pencapaian versi 1961 yang legendaris terdengar bak kemustahilan, namun "mendobrak kemustahilan" adalah sesuatu yang telah berkali-kali dilakukan Steven Spielberg selama setengah abad.
12) PIG
Nicolas Cage tampil bagai magnet berdaya tarik tinggi, dalam sebuah film yang berhasil mementahkan berbagai macam ekspektasi di segala lini penceritaan. (Klik Film)
11) CODA
Film bertema musik sederhana dengan dampak emosi tidak sederhana. Suguhan menyentuh mengenai proses mengesampingkan ego dan saling mengerti dalam keluarga. (Apple TV+)
10) UNDINE
Melalui modernisasi dongeng miliknya, Undine membuktikan betapa kata "klise" tidak selalu berarti buruk, sebagai bukti bahwa jatuh cinta itu tidak biasa saja. (Hulu)
9) LOVE AND MONSTERS
Sajian blockbuster yang mempunyai segalanya. Aksi seru, humor segar, konsep unik, efek visual mumpuni, akting solid, serta protagonis likeable yang memudahkan penonton mendukung perjuangan cintanya. (Netflix)
8) QUO VADIS, AIDA?
Pewakilan Bosnia di ajang Academy Awards 2021 ini membawa penonton dalam ketegangan tanpa henti berlatar tragedi nyata, sambil melempar kritik terhadap para pemegang kuasa. (Hulu)
7) A HERO
Satir tajam nan menggelitik mengenai rumitnya mendefinisikan "kebaikan" dan "kebenaran". Asghar Farhardi kembali mempertunjukkan kepiawaian mengolah kata-kata. (Klik Film - 21 Januari)
6) MINARI
Tuturan sarat sensitivitas karya Lee Isaac Chung, yang menyentuh rasa melalui keintiman sebuah drama keluarga dan cerminan kultur, yang tampil bak pelukan lembut menghangatkan.
5) LITTLE FISH
Romansa berbumbu fiksi ilmiah yang mengingatkan pada Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) ini, secara menyentuh membahas perihal kekuatan cinta yang tak lekang oleh ujian apa pun, termasuk virus yang menghapus memori penderitanya. (Catchplay+)
4) FREE GUY
Blockbuster terbaik tahun 2021, berkat keberhasilannya mengeksekusi penuturan high concept, di mana kreativitas bertemu keseruan aksi dan penceritaan menggugah. (Disney+ Hotstar)
3) THE FATHER
Film yang menyulap premis klise tentang pria tua penderita alzheimer, menjadi drama keluarga bercampur misteri dengan gaya penceritaan unik yang belum pernah ditemukan sebelumnya. (Catchplay+)
2) DRIVE MY CAR
Siapa sangka drama berdurasi hampir tiga jam (179 menit) bertempo lambat dapat terasa begitu cepat? Kisah kemanusiaan kompleks yang mampu memperhalus luapan emosi, dan kaya akan detail-detail subtil yang tersimpan rapi di berbagai titik. (Klik Film - Coming Soon)
1) MEMORIA
Slow cinema khas Apichatpong Weerasethakul ini adalah eksperimen, baik di departemen tata suara, atau penceritaannya yang mengeksplorasi konsep ruang dan waktu melalui perspektif spiritual. Keputusan untuk meniadakan perilisan di streaming seperti aksi mengeksklusifkan diri, tapi efek yang dihasilkan departemen visual dan suaranya memang cuma bisa maksimal di layar lebar. Luar biasa menyihir!
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar