THE INVISIBLE MAN (2020)

5 komentar
Leigh Whannell (Saw, Insidious, Upgrade) membuka filmnya lewat sekuen menegangkan yang nyaris seluruhnya diisi kesunyian ditambah pemakaian tata suara dan hentakan dengan presisi sempurna. Pemandangan serupa takkan kita temukan pada versi 1933-nya, yang menegaskan status modernisasi milik adaptasi teranyar dari novel The Invisible Man karya H. G. Wells ini. Dan sungguh modernisasi yang tepat guna dan memuaskan.

Sekuen pembuka di atas memperlihatkan usaha protagonis kita, Cecilia Kass (Elisabeth Moss), kabur dari kediaman kekasihnya, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Bukan cuma ilmuwan jenius sekaligus pebisnis sukses di bidang optik, Adrian juga kekasih abusive dan manipulatif. Dibantu sang adik, Emily (Harriet Dyer), Cecilia berhasil melarikan diri, lalu menetap sementara di kediaman kawan lamanya yang juga seorang polisi, James (Aldis Hodge).

Tapi rasa aman tidak serta merta didapat. Kecemasan terus menghinggapi Cecilia. Dia takut melangkah keluar rumah, bahkan khawatir Adrian bakal meretas webcam di laptopnya untuk memata-matai. Respon tersebut wajar dialami Cecilia. Adrian mengatur segalanya, dari cara berpakaian, perkataan, bahkan pikirannya. Sebelum elemen horornya menerjang masuk, naskah Leigh Whannell sudah terlebih dahulu memulai tuturannya mengenai perjuangan seorang perempuan merebut kebebasan dari kontrol figur patriarki.

Dan tidak segampang itu kebebasan diraih. Whannell menunjukkan, bahwa setelah fisiknya terbebas pun, dampaknya masih menguasai psikis si wanita. Bukan cuma di paruh awal saja, sebab keseluruhan The Invisible Man pun secara tersirat juga menyinggung soal kontrol lelaki, bahkan tatkala sosoknya tak kasat mata. Penonton diajak mengutuk Adrian dan mendukung Cecilia, yang mana berhasil. Sampai di satu titik, ketika Adrian dikabarkan mati bunuh diri dan ketenangan mulai didapatkan, saya ingin ketenangan itu berlanjut, dan tidak mempermasalahkan andai filmnya bertransformasi jadi dokumenter tanpa konflik tentang kedamaian hidup Cecilia.

Tentu kedamaian tersebut tak berlangsung lama. Peristiwa-peristiwa aneh mulai menimpa Cecilia, dan ia percaya, Adrian adalah pelakunya. Menurut Cecilia, sang mantan memalsukan kematiannya, lalu memanfaatkan kejeniusannya di bidang optik, menemukan cara guna membuat tubuhnya tembus pandang. Bisa ditebak, semua orang kesulitan mempercayai Cecilia dan mengira mentalnya terganggu. Demikian pula penonton, yang turut dibuat bertanya-tanya, apakah memang sudah kehilangan kewarasannya.

Kemampuan menghadirkan pertanyaan tersebut, salah satunya hadir berkat penampilan Elisabeth Moss, yang dari kegamangan matanya saja, mencerminkan individu dengan masalah psikis. Hanya dari raut mukanya, keraguan akan kebenaran pernyataan Cecilia langsung timbul. Selain itu, bukti-bukti kuat mengenai kematian Adrian juga jadi pembantah keyakinan bahwa ia masih hidup. Bukti-bukti yang berperan membangun misteri alurnya.

Sayang, Whannell tidak pernah menggali misteri tersebut lebih lanjut. Selain berujung meninggalkan setumpuk pertanyaan tanpa jawaban begitu film usai, alurnya sempat mengalami stagnansi, sebatas mengetengahkan teror yang protagonisnya alami. Tapi setidaknya, urusan membangun teror, Whannell yang mengawali karir penyutradaraannya secara solid (walau tak spesial) lewat Insidious: Chapter 3 (2015), mampu membuktikan kapasitasnya tak tertinggal jauh dari sang rekan, James Wan.

Whannell mementahkan anggapan jika teror mustahil dibangun di horor arus utama apabila di mayoritas durasi antagonis tak menampakkan wujudnya. Justru faktor itu jadi kunci utama penyusun ketegangan The Invisible Man, saat kita secara otomatis dibuat memperhatikan gerakan-gerakan kecil di sekitar Cecilia, yang mungkin saja merupakan ulah si pria tak kasat mata. Hasilnya adalah penantian sarat kecemasan.

Intensitas itu agak menurun kala terornya semakin frontal dan melibatkan serangan fisik secara langsung. Meski dibungkus efek spesial mumpuni, ditambah totalitas akting Moss yang membuat pergulatan Cecilia dengan sosok tak terlihat berlangsung meyakinkan, ketegangan atmosferik yang menyelimuti separuh pertama durasi tak pernah kembali. Setidaknya, di paruh kedua, kita sempat menyaksikan lagi kemampuan Whannell mengekskusi aksi beroktan tinggi di lorong rumah sakit, yang sebelumnya ia pamerkan kala menggarap Upgrade (2018).

Selain metode teror, modernisasi juga diterapkan pada satu unsur substansial seputar si pria tak terlihat, yang tak bisa saya jabarkan demi menghindari spoiler. Modernisasi yang sesuai, tidak dipaksakan, juga secara subtil, menyimpan relevansi dengan isu surveillance. Memang beginilah seharusnya. Ketimbang mencanangkan shared cinematic universe sebagaimana rencana Universal dulu, ketepatan modernisasi memang lebih substansial diterapkan kepada monster-monster klasik ini.

5 komentar :

Comment Page:

TEMAN TAPI MENIKAH 2 (2020)

6 komentar
Ketika film romansa kita sedang jatuh hati pada adaptasi Wattpad dengan judul-judul absurd, gombalan puitis, serta tipikal bad boy yang semakin lama justru makin bergeser ke arah brengsek ketimbang keren, Teman tapi Menikah, yang merupakan film Indonesia favorit saya tahun 2018 lalu, menelurkan sekuelnya, lalu memperlihatkan definisi romantisme yang sebenarnya. Berbagi tawa dan rasa, bukan cuma kata-kata tanpa nyawa atau drama sarat hiperbola.

Walau peran Ayu berpindah ke tangan Mawar de Jongh yang menggantikan Vanesha Prescilla, kedua tokoh utamanya masih sama. Mereka masih Ditto (Adipati Dolken) dan Ayu yang akan merinding jijik saat mendengar gombalan, walau dorongan untuk saling bersikap manja selalu ada. Begitulah bentuk hubungan “teman rasa pacar, pacar rasa teman”. Tapi kini sepasang teman itu sudah menikah. Teman tapi Menikah 2 bukan lagi tentang susahnya mencintai teman, walau kesan tersebut tetap bisa dirasakan kala mendengar keduanya berinteraksi secara kasual, yang justru memberi romantisme tersendiri.

Ditto dan Ayu ingin menikmati masa bulan madu terlebih dulu, namun belum sempat itu terlaksana, Ayu terlanjur hamil. Pengaruh hormon ditambah ketakutan akan kehamilan membuat Ayu sering marah-marah, dan respon Ditto tidak mempermudah keadaan. “Gua nggak tahu salah gua apa”, ungkap Ditto kepada rekan-rekan bandnya. Mungkin laki-laki memang sebodoh itu, kesulitan memahami kondisi fisik dan mental (yang saling berkaitan) dari ibu hamil.

Naskah buatan Johanna Wattimena (Teman tapi Menikah, Sin, The Way I Love You) sayangnya tidak memperdalam urusan itu. Ketimbang membawa Ditto sepenuhnya melewati proses pemahaman, ia berulang kali terlalu gampang “lolos” dari permasalahan. Setidaknya ketiadaan elemen itu bukan diakibatkan kelalaian, melainkan kesengajaan demi memberi ruang pada tuturan lain, yakni tentang hubungan suportif pasangan suami-istri kala menghadapi kehamilan.

Meski pemaparannya ringan dan tidak semuanya dieksplorasi secara memadai, naskahnya mampu mencakup berbagai permasalahan dalam pernikahan secara umum, maupun fase kehamilan secara khusus. Kekhawatiran seorang ibu mendapati perubahan fisik, suami yang terpaksa merelakan waktu bersama teman-teman, campur tangan orang tua, pilihan metode persalinan, dan lain-lain.

Kalau mencari penelusuran kompleks, mungkin anda bakal kecewa, tapi jika romansa ringan kaya rasa yang diinginkan, sebagaimana pendahulunya, Teman tapi Menikah 2 adalah juaranya. Interaksi “suami-istri-rasa-teman” Ditto dan Ayu tidak pernah gagal menghadirkan senyum. Entah senyum karena tergelitik, senyum karena gemas, atau senyum karena membayangkan hubungan semanis itu (akan atau sedang) kita jalani. Naskahnya jago memproduksi kata, sedangkan kedua pemeran utama lihai melontarkannya.

Bagi Ditto, pernikahan ini adalah mimpi yang jadi nyata setelah menunggu 13 tahun (walau nantinya kita tahu bahwa Ayu pun sama saja), dan sepanjang film, Adipati berhasil memperlihatkan tatapan berbinar dan senyum lebar dari kebahagiaan seseorang yang impiannya terwujud. Sementara Mawar—yang secara fisik pun lebih punya kemiripan dengan Ayudia dibanding Vanesha—mampu memberi pendewasaan terhadap karakternya, walau tetap menampilkan kemanjaan-kemanjaan yang tak mungkin gagal meluluhkan, bukan cuma hati Ditto, juga penonton.

Adipati dan Mawar punya dinamika luar biasa, sehingga inkonsistensi terkait pacing, di mana beberapa momen bergulir terlalu lama, tidak menjadi persoalan fatal. Penceritaan Rako Prijanto selaku sutradara memang tidak semulus di film pertama, tapi sensitivitasnya tidak berkurang. Terbukti dari kesuksesannya merangkai klimaks emosional, yang menyertakan suasana sakral lewat alunan mantra Tvameva Mata. Teman tapi Menikah 2 mengajak penonton tertawa, berbahagia bersama mereka, dalam sebuah tuturan cinta yang membuat kita ikut jatuh cinta.

6 komentar :

Comment Page:

THE MAN STANDING NEXT (2020)

Tidak ada komentar
Iago. Nama antagonis dalam drama Othello karya William Shakespeare tersebut dipakai sebagai nama sandi seorang figur rahasia dalam adaptasi novel nonfiksi Namsanui Bujangdeul buatan Kim Choong-Sik ini. Apakah terdapat signifikansi? Secara tersirat, ya, sebab The Man Standing Next melibatkan konspirasi perebutan kekuasaan, pertumpahan darah, dan tragedi, sehingga memberinya rasa “Shakesperean”.

Pada 26 Oktober 1979, presiden ketiga Korea Selatan, Park Chung-hee (hanya dipanggil “Presiden Park” di sini, diperankan Lee Sung-min), dibunuh oleh ketua Korean Central Intelligence Agency (KCIA), Kim Jae-gyu, yang namanya juga disamarkan menjadi Kim Kyu-pyeong (Lee Byung-hun). Peristiwa itu bukan rahasia, dan filmnya tak berupaya merahasiakan itu, dengan menjadikannya sekuen pembuka. Kita tahu sejak awal bahwa Kim menembak mati Presiden Park. Tapi kenapa?

Kenapa ketua KCIA yang amat loyal, bersama-sama melahirkan Republik Ketiga Korea melalui kudeta 16 Mei, dan berkali-kali menyatakan “siap terus berdiri di samping presiden” melakukan itu? Sepanjang 114 menit, naskah buatan Woo Min-ho (juga duduk di kursi sutradara) dan Lee Ji-min pelan-pelan menjawab itu. Semuanya diawali pemberontakan Park Yong-kak (Kwak Do-won), mantan ketua KCIA yang diasingkan, bersaksi memberatkan pemerintah Korea Selatan di pengadilan Amerika Serikat.

Di mata dunia (baca: Amerika), nama Presiden Park memang sudah tercoreng. Kediktatoran Presiden Park yang telah memerintah selama 16 tahun atau lima periode, dianggap sudah waktunya berakhir. Di memoarnya, Park Yong-kak menyebut Presiden Park merasa masih berada di medan perang sebagaimana saat memulai kudeta dahulu. Sang presiden murka. Tapi di lain kesempatan, saat makan malam bersama Kim, Presiden Park menyatakan bahwa minuman terenak adalah yang ia teguk selama perang, secara tersirat membenarkan tudingan di atas.

Ketersiratan semacam itu kerap dipakai The Man Standing Next untuk memperkuat narasi sekaligus memahami tiap karakternya. Kedua penulis naskah tahu jika kisahnya sudah mengandung berbagai intrik rumit, sehingga eksplorasi karakter lewat metode konvensional dapat menyita lebih banyak waktu. Dengan begini, selama penonton meluangkan atensi, pemahaman menyeluruh bisa didapat.

Ketika Kim meminta Presiden Park agar memandang politik secara lebih luas, kita paham kalau ketua KCIA ini, walau mungkin bukan seorang humanis, lebih kooperatif kala berpolitik, yang juga nampak pada kesediaannya berdialog dengan pihak Amerika. Sebaliknya, Presiden Park berpikiran sempit, seorang diktator tulen yang lebih menyukai televisi hitam-putih ketimbang televisi berwarna (perlambang persepsi sempit dan luas).

Serupa kebanyakan thriller bertema politik sarat konspirasi, The Man Standing Next mengandung setumpuk permasalahan, melibatkan tidak sedikit nama, pula mengambil latar di cukup banyak tempat. Tapi tidak perlu repot-repot berusaha menghafalkan keterangan lokasi serta waktu yang berganti tiap beberapa menit sekali. Cukup perhatikan kalimat-kalimat dari mulut karakternya. Untungnya gaya penceritaan Woo Min-ho sangat membantu. Temponya cenderung agak lambat demi memudahkan penonton memproses informasi.

Alurnya bergerak penuh kesabaran, namun tidak jalan di tempat. Kisahnya selalu berprogres, padat, melahirkan misteri menegangkan hasil ketidaktahuan penonton.....dan Kim. Ya, di antara tokoh-tokohnya, malah si protagonis yang paling sedikit tahu soal apa pun. Ketidaktahuan yang menyulut kecemasan, kecemasan yang mampu ditampilkan begitu nyata oleh Lee Byung-hun di balik wajah keras dan postur kokohnya yang sekilas mustahil diruntuhkan, namun sejatinya begitu rapuh. Bahkan mungkin dia sendiri kebingungan menentukan tujuan dari tindakannya (diwakili simbol sebelah sepatu yang hilang). Kebingungan itu bermuara pada peristiwa yang memantapkan status The Man Standing Next sebagai sebuah “Shakesperean”.

Tidak ada komentar :

Comment Page:

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT AYAT 2 (2020)

15 komentar
Sesuatu yang begitu saya suka dari gaya Timo Tjahjanto—walau kerap jadi sasaran kritik banyak pihak—adalah keengganan menghemat amunisi dan menginjak pedal rem. Tengok saja Sebelum Iblis Menjemput (2018), yang selama 110 menit nyaris tidak membiarkan penonton menghela napas. Belum lagi kalau membicarakan kegilaan bernama The Night Comes for Us (2018). Sehingga, saya masih tidak percaya akan menulis kalimat berikut ini: Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 adalah horor yang cenderung monoton, kurang menegangkan, meski tetap patut disaksikan.

Timo ingin mencoba pendekatan berbeda. Kadar kekerasan diturunkan (untuk standarnya, karena darah tetap tumpah di sana-sini). Teror pun tak disajikan secara membabi buta. Antara satu momen dengan momen lain diberikan jeda, yang sejatinya bisa berdampak positif andai dibarengi alur mumpuni, tapi sebagaimana kita tahu, penulisan cerita tidak pernah jadi kekuatan terbesar Timo.

Kisah dibuka dengan memperkenalkan karakter baru bernama Gadis (Widika Sidmore), yang bercerita pada sahabatnya, Dewi (Aurelie Moeremans), soal gangguan mistis yang sampai memberinya luka fisik. Lalu kita kembali bertemu Alfie (Chelsea Islan) dan adiknya, Nara (Hadijah Shahab), yang berusaha menata ulang hidup mereka. Pasca peristiwa film pertama, Alfie masih belum menemukan kedamaian. Sesekali, hantu-hantu masih menampakkan wujud di sekitarnya. Lalu Alfie dikejutkan oleh kemunculan beberapa orang bertopeng yang memasuki apartemennya, kemudian menculik dia dan Nara.

Rupanya sekelompok orang itu adalah Gadis beserta teman-temannya: Budi (Baskara Mahendra), Jenar (Shareefa Daanish), Kristi (Lutesha), Leo (Arya Vasco), dan Martha (Karina Salim). Pun mereka datang bukan untuk merampok, melainkan meminta bantuan guna mengakhiri sebuah kutukan, didorong keyakinan bahwa setelah pengalamannya mengalahkan iblis, Alfie merupakan sosok yang tepat untuk dimintai pertolongan. Tapi kenapa harus memakai topeng jika kerahasiaan identitas bukan perkara penting?

Serupa film pertama, rentetan teror terjadi, satu demi satu muda-mudi tewas mengenaskan, tapi kali ini dalam kadar ketegangan tidak seberapa. Keputusan Timo memberi jeda justru jadi bumerang kala tak dibarengi kisah menggigit, meski terdapat latar belakang lebih kelam dibanding pendahulunya. Timo pernah menyatakan kalau di Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, elemen horor supernatural lebih dikedepankan ketimbang gore, dan ternyata, realisasi dari pernyataan tersebut adalah penampakan lewat jump scare yang lebih dominan.

Dibanding mayoritas horor lokal, tentu jump scare film ini superior, apalagi dengan perpaduan efek spesial plus tata rias mumpuni sehingga jajaran “hantu” tampil mengerikan alih-alih tampak bak peserta cosplay bermodal rendah. Tapi ini karya Timo Tjahjanto. “Lebih baik dari kebanyakan horor lokal” saja tidak cukup. Beberapa momen tersaji kreatif, misalnya keheningan mencekam saat Timo memanfaatkan kemunculan (semacam) pocong dengan metode yang berbeda dibanding sineas lain.

Tapi sisanya repetitif. Hantu akan muncul, berpose, sebelum menerjang karakter kita dengan efek patah-patah klise, yang setelah dieksploitasi oleh entah berapa ratus ribu judul, kehilangan keseramannya. Salah satu elemen penolong (yang bagi beberapa penonton mungkin malah merupakan distraksi) hadir ketika Timo sesekali masih memamerkan keusilannya, bersenang-senang melalui humor-humor tak terduga, yang bahkan jauh lebih berani ketimbang aksi saling bunuhnya.

Di jajaran pemain, ketiadaan Karina Suwandi cukup berhasil ditambal oleh Lutesha dan Widika Sidmore yang kebagian jatah menggila. Khususnya Widika, yang memasuki paruh akhir, menampilkan akting over-the-top yang terkontrol. Menghibur tanpa harus terasa menggelikan. Sesuatu yang mestinya dipelajari oleh Chelsea Islan. Ketika film pertama memfasilitasi gaya aktingnya, di sini Chelsea berusaha terlalu keras terlihat tangguh, membabat semua line dengan intensitas berlipat-lipat. Saya pun teringat pada Nicolas Cage di fase terburuk karirnya.

15 komentar :

Comment Page:

THE CALL OF THE WILD (2020)

4 komentar
Menjadi rilisan pertama 20th Century Studios pasca akuisisi 20th Century Fox oleh Disney, The Call of the Wild mengadaptasi novel berjudul sama karya Jack London yang dipublikasikan 117 tahun lalu, dan sebelumnya sudah enam kali diangkat ke medium film (empat layar lebar, dua televisi). Artinya, jangan mengharapkan kebaruan. Tapi sebagai kisah timeless, kebaruan bukan kewajiban. Apalagi, sesekali kesederhanaan macam ini diperlukan. Tanpa kompleksitas, tanpa kepentingan, tanpa isu politis, tanpa pahlawan super. Hanya beberapa makhluk hidup yang coba memaknai hidup.

Berlatar 1890-an kala terjadi demam emas di Klondike, tokoh sentralnya adalah anjing peliharaan bernama Buck, yang akibat sikap luar biasa aktifnya, kerap memancing kekacauan yang memusingkan si majikan. Figur Buck dibuat sepenuhnya memakai CGI. Sebuah keputusan dengan hasil inkonsisten. Terkadang bulu-bulunya sepeti bisa benar-benar kita belai, namun di lain kesempatan, ia tak ubahnya Scooby-Doo. Tapi ada alasan kuat di balik pilihan tersebut.

Buck—beserta hewan-hewan lain—bisa melakukan kemustahilan, seperti terlibat aksi menegangkan di bawah sungai yang membeku, atau melakoni momen komedik, yang sesekali diselipkan oleh Michael Green (Logan, Murder on the Orient Express) dalam naskah buatannya, agar film ini tetap menghibur bagi penonton anak. Keberadaan Chris Sanders yang berpengalaman menyutradarai animasi-animasi seperti Lilo & Stitch (2002), How to Train Your Dragon (2010), hingga The Croods (2013), memuluskan pembauran karakter CGI dengan dunia nyata.

CGI juga membantu penyampaian rasa melalui mata, mengingat di The Call of the Wild, hewan-hewan tidak bisa berbicara. Penonton diajak memahami isi hati hewan, tanpa harus memanusiakan mereka (secara berlebihan). Sedangkan Buck sendiri diharuskan memahami dunia dalam cakupan lebih luas, kala suatu malam ia dicuri, untuk dijual kepada para pengangkut barang di Yukon. Maka dimulailah petualangan Buck, yang mempertemukannya dengan beragam manusia, hewan liar, dan petualangan berbahaya.

Buck sempat menjadi anjing penarik kereta bagi dua pengirim surat, Perrault (Omar Sy) dan Françoise (Cara Gee). Omar Sy kembali pamer kapasitas menghidupkan seorang pria hangat, sementara Cara Gee, dengan kacamata biru serta sedikit keeksentrikan, membuat saya berharap suatu saat ia mendapat peran utama di film high profile. Tapi sosok yang sejak awal selalu bersinggungan jalan dengan Buck adalah John Thornton (Harrison Ford), si pria tua pemendam duka. Ford pun tidak kesulitan menangani peran pria tua lelah yang tak kehilangan kebaikan hatinya.

Penyutradaraan Chris Sanders, dibantu CGI mumpuni yang melonjakkan biaya produksi filmnya ke angka $125-150 juta, mampu memproduksi spectacle seru (walau tak pernah benar-benar menegangkan) berlatarkan visual pemikat mata. Dan di sela-sela spectacle tersebut, naskahnya jeli menyelipkan intisari kisahnya secara rapi. Seperti judulnya, The Call of the Wild merupakan kisah tentang panggilan bagi makhluk hidup (dalam konteks film ini, seekor anjing) untuk menemukan kebebasannya di alam bebas, sebagai wujud rumah tanpa batas.

Di alam liar, Buck dituntut belajar beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menandakan ketiadaan zona nyaman. Sebagai pemandu, sesekali Buck melihat penampakan seekor anjing hitam bermata kuning, yang acap kali membantunya menemukan jalan keluar dari masalah. Ada ambiguitas mengenai identitas si anjing misterius, walau jika mengacu pada novelnya, ia adalah nenek moyang Buck, yang dahulu hidup berdampingan dengan manusia purba. Bagi bocah, elemen ini berpotensi menciptakan kebingungan. Sama halnya dengan penyampaian pesan yang agak terlalu subtil, ditambah gaya bertutur yang sesekali menyentuh ranah kontemplasi, untuk bisa dicerna dengan gampang oleh mereka. Tapi di luar itu, The Call of the Wild adalah interpretasi solid terhadap kisah klasik yang tak lekang oleh waktu.

4 komentar :

Comment Page:

SONIC THE HEDGEHOG (2020)

3 komentar
Masih segar di ingatan saat April tahun lalu, pesimisme terhadap proyek live action ini mencapai puncak, setelah trailer perdana Sonic the Hedgehog menerima respon luar biasa negatif akibat desain “realistis” si landak biru. Entah bagaimana jadinya bila pihak studio menutup mata atas protes tersebut, tapi proses desain ulang dengan penambahan biaya $5 juta serta penundaan tanggal tayang selama tiga bulan sepertinya membuahkan hasil positif.

Dari sisi komersil, raupan $86,7 juta menempatkan filmnya di posisi puncak daftar film adaptasi permainan video berpendapatan terbesar pada opening weekend di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan soal kualitas, Sonic the Hedgehog memang tidak memberi warna baru, tapi sebagai tontonan semua umur, hasilnya cukup menghibur, bahkan di luar dugaan, tidak melupakan hati dalam penuturannya.

Sonic (Ben Schwartz) terpaksa meninggalkan planetnya setelah kecepatan supersonik miliknya diketahui suku echidnas (jangan berharap ada Knuckles di sini). Memakai cincin ajaib pemberian penjaganya, Longclaw si burung hantu (Donna Jay Fulks), Sonic kabur ke Bumi. Satu dekade berselang, ia menetap di gua persembunyiannya, yang terletak dekat kota kecil yang damai, Green Hills. Tinggal sendirian, Sonic semakin akrab dengan kesepian dan mulai mengharapkan adanya sesosok teman.

Tapi nyawanya justru terancam, setelah suatu malam Sonic tidak sengaja melepaskan kekuatannya, yang menyebabkan padamnya seluruh listrik di area Pacific Northwest. Pemerintah mengirim Dr. Robotnik (Jim Carrey) si ilmuwan jenius gila pemilik IQ 300, untuk melakukan investigasi. Sonic kembali harus terus berlari dan berlari, namun kali ini dia tidak sendiri. Tom Wachowski (James Marsden), Sheriff setempat yang bosan dengan minimnya aksi kriminal serius di Green Hills, (terpaksa) turut serta.

Tidak sulit menebak ke mana duo penulis naskah, Jeff Fowler dan Patrick Casey bakal mengarahkan kisahnya. Sonic akan menemukan teman dalam diri Tom, sementara berkat Sonic, Tom akan menyadari betapa berharganya rumah beserta orang-orang tercinta yang ada di sana. Tapi paling penting bukanlah destinasi, melainkan perjalanannya. Pertemanan keduanya terjalin dinamis berkat performa masing-masing pemeran, meski banter berbasis selorohan komedik mereka tidak ditulis secara solid, sehingga kelucuan kerap gagal tercipta.

James Marsden tidak canggung berinteraksi dengan karakter CGI, sedangkan Ben Schwartz memberi kepribadian serta nyawa bagi Sonic melalui suaranya, yang diperkuat oleh desain karakter yang setia pada materi asalnya. Tidak semua makhluk atau benda perlu tampil realistis, apalagi di dunia berisi alian berwujud landak biru berkekuatan supersonik yang bisa bicara. Belum lagi membahas elemen fantasi lain. Pada dunia semacam itu, figur cartoonish Sonic sebagaimana dalam gim jauh lebih sesuai.

Walau bukan fokus utama, saya mengapresiasi penggambaran hubungan Tom dan sang istri, Maddie (Tika Sumpter). Akibat menolong Sonic, Tom dituduh sebagai teroris (masalah yang nantinya selesai terlalu mudah). Di banyak film, mungkin Tom bakal terus menyembunyikan keberadaan Sonic, memantik kesalahpahaman Maddie, sehingga berujung memperpanjang konflik di antara mereka. Tidak di Sonic the Hedgehog. Hubungan saling dukung keduanya yang sudah dibangun sejak awal, terus dipertahankan, bahkan kemudian bekerja sama. Cukup hangat, biarpun tidak sehangat momen sewaktu Jojo (Melody Niemann), keponakan Maddie, memberikan sepatu merah kepada Sonic.

Presentasi aksi sutradara Josh Miller tak sepenuhnya berhasil memaksimalkan potensi eksplosif dari kekuatan Sonic. Penggarapannya masih kekurangan tenaga. Setidaknya ada satu sekuen aksi menarik ketika Dr. Robotnik memamerkan robot unik dengan konsep ala russian doll (robot dalam robot). Beruntung, asupan tenaga itu bisa disuplai oleh penampilan Jim Carrey yang akhirnya kembali memerankan sosok manik. Belum setingkat masa kejayaannya sebagai Si Muka Karet, tapi keeksentrikan Carrey lewat absurditas gerak dan ekspresi serta reaksi-reaksi yang sukar diprediksi, lumayan mengobati kerinduan.

3 komentar :

Comment Page:

4 MANTAN (2020)

3 komentar
Sutradara Hanny R. Saputra (Heart, Sajen, Bisikan Iblis) bersama duo penulis naskah langganan rumah produksi RA Pictures, Demas Garin dan Talitha Tan, berniat menyalurkan kecintaan (?) mereka terhadap mahakarya Alfred Hitchcock, Psycho. Beberapa adegan (contoh: kematian Milton Arbogast di tangga) direka ulang, elemen gangguan mental dipakai, bahkan twist di pertengahan durasi yang mengubah drastis arah film turut diterapkan. Tapi “peniruan” tersebut hanya di kulit luar semata, sedangkan hal fundamental justru dilupakan.

Hitchcock tidak berusaha terlihat keren. Sang maestro melakukan hal-hal kecil substansial yang berdampak besar. Sebaliknya, 4 Mantan cuma berkutat di kebombastisan. Diawali secara kacau oleh sekuen pembuka carut-marut yang tampak seperti trailer berantakan ketimbang adegan sungguhan, kemudian disusul momen-momen penyutradaraan canggung yang terkesan amatiran, film ini mulai menemukan pijakan tatkala misteri mulai menyelimuti. Dikisahkan, pasca pemakaman pemuda bernama Alex (Jeff Smith), terjadi pertemuan empat wanita yang rupanya sama-sama mantan almarhum, yang dipacarinya di waktu bersamaan.

Sara (Ranty Maria) si musisi yang mesti merawat sang ibu, Airin (Melanie Berentz) si gadis tangguh, Rachel (Melayu Nicole) si model berkemampuan Bahasa Inggris buruk (entah disengaja atau tidak), dan Amara (Denira Wiraguna) si pelayan cafe. Kematian tidak wajar sang mantan menyatukan mereka, terlebih saat masing-masing menerima surat misterius dari Alex, yang menyatakan bahwa ia dibunuh oleh salah satu di antara keempatnya.

Bergerak cepat, tanpa banyak basa-basi, pula rutin mengundang pertanyaan-pertanyaan yang kerap bermuara pada kejutan, 4 Mantan sempat berhasil mementahkan keraguan di separuh pertama durasi. Walau penyelipan paksa elemen supernatural berupa deretan jump scare medioker demi memfasilitasi kegemaran penonton umum untuk dikageti oleh penampakan hantu terasa mengganggu, intensitasnya mampu terjaga berkat pengolahan misteri yang cukup baik. Ekspektasi kerap dibantah, kisah bergerak ke arah yang tak terduga bakal dijamah.

Pun segelintir isu sosial sempat disinggung, meski ada yang tak dieksplorasi lebih jauh (bulimia) dan ada pula yang penyampaiannya terlampau on the nose (soal pelecehan, khususnya di konklusi). Semakin jauh misteri bergerak, semakin saya dibuat bersemangat sembari bertanya-tanya, “Bagaimana kiranya Hanny dan tim akan menjawab semua ini?”. Sayang, begitu memasuki paruh kedua tatkala jawaban dipaparkan, yang tersisa justru kekecewaan.

4 Mantan menghabiskan sekitar setengah jam terakhir hanya untuk mengupas semua kebenaran. Misteri tidak tersisa, alur menjadi stagnan. Mengapa perlu selama itu untuk mempresentasikan jawaban? Karena kembali pada apa yang telah disinggung di atas, film ini berambisi tampil bombastis, saat memasukkan kejutan berbasis versi modifikasi dari elemen psikologi yang jamak digunakan di banyak horor/thriller.

Sayangnya bukan modifikasi positif. Unsur psikologisnya mustahil dan penuh keasalan. Di ranah film genre, ketepatan keilmuan memang bukan kewajiban, hanya saja, 4 Mantan tidak dibarengi kreativitas memadai agar menjadi “fantasi” mumpuni, juga tanpa kesolidan bercerita. Naskahnya tersesat sendiri dalam kerumitan ambisius yang coba dibangun, sehingga pemaparannya berlarut-larut. Berniat memuaskan dahaga penonton arus utama kekinian atas twist yang identik dengan status “film keren”, 4 Mantan malah berpotensi membingungkan mereka. Setidaknya cukup mengasyikkan melihat Jeff Smith akhirnya tidak cuma memasang satu ekspresi datar sepanjang film.

3 komentar :

Comment Page:

TOKO BARANG MANTAN (2020)

9 komentar
Toko Barang Mantan relevan untuk masa sekarang, di mana kata “mantan” dipandang begitu dramatis, sementara keambyaran diagungkan. Kisahnya tentang Tristan (Reza Rahadian) si “mahasiswa abadi” yang rela meninggalkan kuliah demi mengelola Toko Barang Mantan. Seperti namanya, toko ini melayani jual-beli barang-barang kenangan pemberian mantan. Bila sunguh-sungguh ada di dunia nyata, mungkin toko ini sudah viral. Tapi tidak di filmnya. Bahkan Tristan sampai kesulitan membayar sewa gedung.

Kenapa? Mungkin akibat kengototan Tristan untuk tidak berpromosi lewat media sosial. Menurutnya, proses tatap muka antara penjual dan pembeli wajib terjadi, demi pemaknaan mendalam terhadap barangnya. Mungkin juga karena sebagai seseorang yang tidak percaya cinta, bahkan sampai menyebutnya “tai kucing”, Tristan tidak cocok menjalankan bisnis ini. Jadi bagaimana bisa sosok skeptis sekaligus idealis sepertinya terpikir akan konsep tersebut? Konsep yang semestinya hanya dipedulikan oleh mereka yang memuja cinta (terkadang secara berlebihan) beserta segala kenangannya.

Inkonsistensi itulah kelemahan terbesar Toko Barang Mantan. Penceritaan, yang dimotori Viva Westi (Jenderal Soedirman, Koki-Koki Cilik 2) di kursi sutradara dan Titien Wattimena (trilogi Dilan) selaku penulis naskah, memang tak sebegitu solid. Tampak dari beberapa menit awal yang berlangsung cepat cenderung buru-buru, berantakan, dan sulit diikuti. Satu per satu konsumen mengunjungi Tristan dan dua karyawannya, Rio (Iedil Dzuhrie Alaudin) dan Amel (Dea Panendra), guna menjual barang pemberian mantan masing-masing, yang juga memfasilitasi penampilan deretan cameo.

Humor absurd mengiringi kemunculan tiap konsumen, yang sejatinya tidak dibarengi materi dasar kuat, namun setidaknya berhasil memancing senyum berkat penampilan maksimal jajaran cast, di mana mereka tak jarang melakukan improvisasi, yang berjasa memperkuat kesan organik. Nanti saya bakal membahas Reza Rahadian, tapi pertama-tama pujian harus diberikan kepada Dea Panendra, yang sekali lagi melahirkan karakter pendukung memorable. Asyik, sesekali menggelitik, pun berperan menambah bobot emosi kala melakoni adegan dramatis.

Kealamian akting juga memegang kunci dalam presentasi romansa Tristan dan Laras (Marsha Timothy). Laras merupakan mantan Tristan semasa kuliah. Bisa dibilang mantan terindah, sebab hingga kini, Tristan masih menyimpan perasaan. Tapi reuni keduanya dibarengi hal mengejutkan, saat Laras memberikan undangan pernikahan. Dahulu, Laras pergi karena Tristan selalu enggan mengucap kata “cinta”. Sekarang permasalah serupa lagi-lagi jadi penghalang usaha Tristan merebut kembali hati sang mantan.

Penokohan Tristan dan Laura yang sama-sama keras, memproduksi dinamika berupa naik-turun rasa yang amat dibutuhkan sajian romansa. Rasa manis saat keduanya saling menggoda, atau kepedihan sewaktu pertengkaran pecah, semua terasa nyata berkat penampilan Reza dan Marsha yang memang “nyata”. Di satu titik, Tristan mengutarakan kekagumannya atas respon malu-malu Laras. Di situ, Marsha mampu menunjukkan bagaimana seseorang yang sedang jatuh cinta dibuat tersipu mendengar gombalan-gombalan, yang walau ditampik oleh otak, nyatanya membuat hati tidak karuan.

Saya selalu lebih menyukai penampilan Reza di film-film sederhana seperti ini ketimbang transformasi ekstrim yang kerap ia lakukan. Karena seperti sudah sering saya sampaikan di ulasan-ulasan lain, minimal di generasi ini, tidak ada pelakon lain yang sebaik Reza dalam urusan kreativitas mengolah emosi, memainkan intonasi, dan mengeksplorasi ragam aksi-reaksi saat berakting. Natural sekaligus jauh dari monoton.

Viva Westi sadar betul kapasitas kedua pemain utamanya, lalu menggantungkan semua urusan membentuk rasa kepada mereka. Tidak banyak modifikasi atau inovasi di pengadeganan. Kamera lebih sering mengambil posisi close up agar menangkap ekspresi aktor semaksimal mungkin. Dan itu bukan masalah, melainkan keberhasilan memanfaatkan potensi. Satu-satunya kelemahan adalah, begitu konfik memanas meningkat, sutradara terlalu bergantung pada peningkatan intensitas melalui adu teriakan. Tapi itu pun bukan dosa besar. Tidak sebesar dosa mantan yang meninggalkan kita saat sedang sayang-sayangnya.

9 komentar :

Comment Page:

HITMAN: AGENT JUN (2020)

1 komentar
Mengejutkan. Sebutan itu pantas disematkan kepada Hitman: Agent Jun. Alurnya tidak dipenuhi twist, namun outcome dari situasi-situasi kerap berakhir di luar ekspektasi, terkait gaya komedi filmnya. Setiap anda mengira bakal disuguhi momen keren, menegangkan, atau menyentuh, Choi Won-sub selaku sutradara sekaligus penulis naskah, siap mengecoh dengan banyolan-banyolan. Apa saja bisa dijadikan bahan lawakan olehnya. Keputusan tepat mengingat absurditas premisnya.

Apa jadinya saat agen rahasia yang dikenal atas kemampuan membunuhnya bercita-cita menjadi komikus? Begitulah Jun (Kwon Sang-woo), yang selepas kematian orang tuanya saat kecil, dilatih oleh Duk-gyoo (Jung Joon-Ho) agar tumbuh sebagai aset mematikan milik Badan Intelijen Nasional Korea Selatan. Seluruh misi dilibas, lawan-lawan dihabisi, status agen legendaris pun diraih. Tapi Jun tidak bahagia dan menolak mengubur impiannya. Akhirnya ia nekat memalsukan kematiannya demi memulai hidup baru.

Lima belas tahun berselang, Jun menyembunyikan identitas masa lalunya, menikahi Mi-na (Hwang Woo-seul-hye), mempunyai seorang puteri bernama Ka-young (Lee Ji-won) yang terobsesi pada rap, dan akhirnya bekerja sebagai kreator webtoon. Sayang, komik buatan Jun dibanjiri respon negatif para pembaca. Kondisi finansialnya pun dalam bahaya, yang membuat sang istri—yang praktis membiayai semua kebutuhan keluarga—kerap memarahinya.

Putus asa akibat komiknya dipaksa berhenti di tengah jalan oleh penerbit, di bawah pengaruh alkohol, Jun memilih membuat komik berdasarkan pengalamannya sebagai pembunuh. Begitu bangun keesokan harinya, komik tersebut sudah diunggah. Walau memperoleh respon luar biasa dan berhasil viral, akibat banyaknya konten sensitif serta rahasia negara tertuang di sana, rentetan masalah yang mengancam keselamatan Jun dan keluarganya mulai datang.

Hitman: Agent Jun terkesan normal di awal. Sebuah drama-komedi bercampur aksi yang mengetengahkan dinamika keluarga di antara bumbu spionase. Familiar, cenderung formulaik. Momen-momen “wajib”, semisal saat Jun tersentuh kala tidak sengaja membaca lirik rap tulisan Ka-young yang menceritakan kemiskinan keluarganya, sehingga membuat si bocah terdorong mengikuti Show Me the Money, sebuah acara kompetisi rap televisi.

Sampai webtoon terbaru Jun menciptakan kehebohan, lalu Hitman: Agent Jun melepas kontrol diri dalam hal presentasi komedi. Keunggulan Choi Won-sub adalah kemampuan menemukan kelucuan apa saja yang bisa ditimbulkan dari kondisi segenting apa pun, dengan pemilihan timing yang kerap tidak terduga. Di tengah usaha menyelamatkan korban penculikan hingga pertarungan melawan teroris gila, Won-sub enggan membiarkan keseriusan mendapat sorotan utama. Seolah kata “serius” dan “Choi Won-sub” merupakan dua kutub berlawanan.

Keputusan di atas sejatinya berisiko besar. Pertama, walau kesenangan mampu digandakan, potensi paparan drama keluarga yang emosional gagal dipenuhi. Karena keberadaan adegan dramatis kala Jun membaca lirik rap puterinya, pergeseran tone ke arah kekonyolan total, menghasilkan inkonsistensi. Ibaratnya, Hitman: Agent Jun menanam benih yang tidak pernah dituai. Pun tak cukup porsi diberikan terhadap eksplorasi soal transformasi Jun dari pembunuh berdarah dingin menjadi family man supaya membuatnya lebih bermakna.

Kedua, intensitas bisa melemah akibat urgensi yang dilucuti. Masalah ini dapat diatasi, karena tidak sulit mendukung keberhasilan protagonisnya melewati segala rintangan. Kita ingin karirnya sukses, keluarganya selamat, dan tentu saja kita ingin ia berkesempatan memamerkan lagi ketangguhannya. Kwon Sang-woo piawai melakoni dua sisi karakternya: agen rahasia tangguh yang meyakinkan kala beraksi dan pria malang sekaligus seorang pecundang, tapi dengan kebaikan hati serta kesungguhan untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, sehingga tetap kuat menarik simpati. Tidak kalah memikat adalah Hwang Woo-seul-hye dan si kecil Lee Ji-won yang berkontribusi besar melahirkan tawa demi tawa.

Di ranah aksi, Won-sub memang menerapkan teknik quick cuts standar yang membuat detail koreografi baku hantam sulit dilihat, tapi dengan pengarahan yang bertenaga, sang sutradara memastikan bahwa ada bobot di tiap pukulan atau tendangan. Ada dampak yang terasa pada serangan yang berhasil mengenai lawan alih-alih rekayasa yang terlalu kentara.

1 komentar :

Comment Page:

THE GENTLEMEN (2019)

7 komentar
Mickey Pearson (Matthew McConaughey) sang Raja ganja di Inggris hendak pensiun dan menjual bisnisnya. Tapi The Gentlemen bukan potret seorang gangster yang tengah mencari kedamaian. Tidak ada kedamaian di sini, tidak ada upaya menggali sisi kemanusiaan dari para kriminal. Bukan pula mengenai benturan kekuasaan antar generasi gangster maupun perenungan tentang kematian yang menggelayuti pelaku dunia hitam, sebab The Gentlemen menandai kembalinya Guy Ritchie ke “akarnya” melalui suguhan komedi/kriminal bergaya yang melambungkan namanya dahulu.

Jika familiar dengan filmografi sang sutradara/penulis naskah, anda tentu tahu bahwa substansi tidak seberapa diperhatikan. Kisahnya dibuka saat Mickey berjalan memasuki bar, meminum bir, melakukan panggilan telepon, lalu seseorang yang wajahnya tak diperlihatkan berdiri di belakangnya, menodongkan senjata, dan layar menampilkan cipratan darah di gelas bir. Apa yang terjadi?

Jawaban atas pertanyaan tersebut takkan didapat secara instan. Tidak sebelum kita menyaksikan peristiwa-peristiwa liar yang diceritakan oleh Fletcher (Hugh Grant), seorang detektif swasta, kepada Raymond (Charlie Hunnam), tangan kanan Mickey. Fletcher disewa oleh Big Dave (Eddie Marsan), editor tabloid Daily Print, yang menyimpan dendam, sehingga ingin menjatuhkan Mickey dengan cara mengungkap rahasianya. Bukannya melaporkan hasil temuan pada Big Dave, Fletecher justru menawarkan itu pada Raymond dengan harga £20 juta.

Fletcher menceritakan seluruh temuannya, dan kita pun dibawa mengikuti perjalanan panjang yang membentang dari paparan masa lalu Mickey, sampai intrik-intrik yang melibatkan para pengincar kekuasaan dunia gelap perdagangan mariyuana. Ada Matthew Berger (Jeremy Strong) si milyuner Amerika Serikat yang berniat membeli semua lahan mariyuana Mickey, Dry Eye (Henry Golding) si anggota gangster Cina yang penuh ambisi, hingga seorang pelatih tinju tanpa nama (Colin Farrell) yang kebetulan terseret akibat ulah murid-muridnya.

Dalam merangkai naskahnya, Ritchie bermain-main menggunakan Fletcher selaku unreliable narrator yang gemar memalsukan cerita hanya karena iseng atau memperseru situasi. Tentu sebenarnya Ritchie yang ingin memperseru situasi. Tapi berkat penokohan Fletcher, mudah bagi kita menerima keliaran narasinya. Mudah menerima kala rasio aspek layar berubah agar tampak bak film zaman dulu atau ketika segelintir humor meta dilontarkan Fletcher. Mudah juga menerima saat beberapa kejadian diralat dan ternyata hanya rekaan yang dia pakai untuk menambah bumbu.

The Gentlemen memang kaya akan bumbu. Bumbu berupa ciri sang sutradara, yang meliputi: gerak lambat, penyuntingan kilat, dan banyak twist yang tak perlu repot-repot kita pikirkan logika serta kepentingannya, karena sekali lagi, hal-hal semacam esensi bukan budaya film-film Guy Ritchie. Budaya film-film Guy Ritchie adalah keseruan sarat machismo keren para gentlemen yang sekilas nampak bermartabat dengan setelan jas necis yang sesungguhnya adalah topeng penutup kebengisan.

Dampaknya, sewaktu adegan aksi (yang secara mengejutkan kuantitasnya tidak seberapa) atau pameran gaya Ritchie tak mengisi layar, dinamika dan daya tarik filmnya turut mengendur. Ritchie bukan seorang pencerita mumpuni, alhasil sewaktu gaya itu dilucuti, pacing-nya melemah, seolah The Gentlemen kehilangan daya. Pertanyaannya, seberapa sering itu terjadi? Untungnya tidak terlalu, mengingat elemen-elemen lain turut mengulurkan bantuan.

Selain barisan musik asyik yang tak pernah absen dari judul-judul Ritchie, performa para pemainnya mengibur lewat keberhasilan menghidupkan image jajaran “penjahat brutal berkelas”. McConaughey, Hunnam, dan Farrell menyimpan hewan buas di balik ketenangan mereka. Hewan buas yang lebih sering dilepaskan dari kandang oleh Golding dalam peran yang berlawanan dengan sosok pria kharismatik baik-baik yang mulai identik dengan dirinya. Begitu pun Grant. Selalu menyenangkan melihat Grant melawan stereotip. Sebaliknya, selalu menyenangkan melihat Ritchie tidak berusaha mengubah image dalam berkarya.

7 komentar :

Comment Page:

MILEA: SUARA DARI DILAN (2020)

15 komentar
Berlawanan dengan prinsip banyak pecinta film, saya mendukung keberlangsungan sekuel, prekuel, atau ragam bentuk karya “non-original” lain yang bertujuan mendulang keuntungan finansial. Eksistensinya berguna menyehatkan industri. Tapi Milea: Suara dari Dilan terlalu jauh mendorong batasan produk berorientasi profit, dengan menyamarkan diri sebagai pelengkap perspektif terhadap seri film Dilan, walau mayoritas hanya rangkuman kisah-kisah sebelumnya.

Kisahnya dibuka oleh narasi meta dari Dilan (Iqbaal Ramadhan), tentang bagaimana Pidi Baiq mengadaptasi kisah cintanya dan Milea (Vanesha Prescilla) menjadi dua novel dari sudut pandang si gadis. Kini, dalam rangka penulisan novel ketiga, giliran perspektif Dilan yang diangkat. Seperti judulnya, kali ini penonton mendengarkan suara Dilan guna memandang kisah melalui sisinya. Pertanyaannya, seberapa banyak pemahaman baru yang didapat setelah menyaksikan film ini?

Milea: Suara dari Dilan bermaksud melengkapi Dilan 1990 (review) dan Dilan 1991 (review) sebagai film kolektif. Bentuk tersebut kira-kira tidak jauh beda dengan The Disappearance of Eleanor Rigby (2013) yang terdiri atas tiga versi: Him, Her, dan Them. Film kolektif semacam itu wajib saling melengkapi. Tapi, alih-alih demikian, naskah buatan Pidi Baiq bersama Titien Wattimena, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Pidi, sebatas melakukan reka ulang berisi momen-momen memorable dari dua film pertama, yang disusun menggunakan kumpulan stok footage lama. Ibarat album musik, ini adalah album The Best of...

Para penggemar fanatik mungkin bakal terbuai saat mendengar lagi gombalan ikonik Dilan, sebutlah “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu”, “Jangan rindu. Berat. Biar aku saja”, dan lain-lain. Tapi ini bukan nostalgia, mengingat dua filmnya masing-masing baru dirilis pada tahun 2018 dan 2019. Dan berbicara soal pemahaman baru, Milea: Suara dari Dilan kekurangan asupan tersebut. Sebab selama sekitar 100 menit, filmnya bak sebatas fragmen yang dijahit paksa serta minim tambahan suntikan bobot, makna, atau perspektif baru.

Pada akhirnya kita tetap tidak tahu mengapa Dilan jatuh cinta pada Milea dan memutuskan untuk “meramalnya” dari atas motor dahulu. Bukan berarti cinta butuh penjabaran logis, namun Dilan memperlihatkan ketertarikan, bahkan sebelum bertatap muka dan baru mengetahui eksistensi Milea si murid baru berdasarkan cerita teman-temannya. Akting jajaran pemain jadi terkena dampaknya. Karena filmnya sebatas penyatuan paksa keping-keping kisah, baik penampilan perseorangan Iqbaal dan Vanesha maupun chemistry keduanya, yang tersaji kuat di film-film sebelumnya, terasa tidak utuh.

Perihal sudut pandang baru atas peristiwa masa lalu cuma terjadi dalam peristiwa kematian Akew (Gusti Rayha). Milea menjauh, bahkan kemudian meninggalkan Dilan karena rasa khawatir ditambah ketidaksukaan akan keterlibatan Dilan dalam geng motor. Penonton bisa ikut merasakan kebingungan Dilan. Baginya, Milea mendadak pergi tanpa alasan justru tatkala Dilan sedang membutuhkannya selepas kematian sang sahabat.

Tapi terkait konflik dua tokoh utama, khususnya ketika hubungan mereka mulai tergerus, inkonsistensi Milea: Suara dari Dilan sebagai film mengenai...well, “suara dari Dilan”, semakin tampak nyata. Kalau ini merupakan kisah dari sisi Dilan, kenapa masih ada bagian-bagian di mana hanya Milea saja yang tahu? Terkadang narasinya memakai sudut pandang orang pertama, lalu berubah menjadi orang ketiga serba tahu. Inkonsisten.

Fase terbaik tiba ketika filmnya melewati satu jam. Kisahnya berhenti melakukan reka ulang, mulai menjamah era baru, membicarakan perihal memori di mana karakernya dituntut move on, melangkah menuju babak baru dalam kehidupan mereka. Di situ kenangan-kenangan masa SMA, romansa, hingga keluarga, dikupas. Momen-momen emosional yang menjadikan Dilan 1991 begitu berkesan pun berhasil diulangi. Sayangnya fase ini datang terlambat dan tidak berlangsung lama.

Begitu Dilan dan Milea akhirnya bertemu kembali, ada harapan tinggi menanti konklusi dari salah satu kisah cinta paling fenomenal yang pernah menghiasi layar lebar Indonesia. Sampai akhirnya harapan tersebut hancur akibat konklusi dingin yang berlawanan dengan penuturan overly dramatic dan overly romantic (entah berupa konflik atau kalimat-kalimat gombal) yang begitu identik dengan seri Dilan. Baik penulisan maupun penyutradaraan duo Pidi Baiq dan Fajar Bustomi gagal mempersembahkan momen penutup memorable bagi Dilan dan Milea. Mencapai babak penutup, Dilan justru menyentuh titik nadir.

15 komentar :

Comment Page:

FANTASY ISLAND (2020)

14 komentar
Dari sutradara dan tim penulis naskah penghasil horor PG-13 tanpa darah dan taji Truth or Dare (2018), hadir satu lagi horor PG-13 tanpa darah dan taji berjudul Fantasy Island. Berbeda dengan Truth or Dare, ini bukan karya original, melainkan berbasis serial telvisi berjudul sama yang tayang tahun 1977-1984. Tapi seperti Truth or Dare, kekonyolan menggelikan banyak ditemui. Memang ada kesengajaan menyelipkan humor sungguhan di beberapa titik, tapi sekali lagi, pengarahan sekaligus penulisan Jeff Wadlow kerap menghadirkan tawa-tawa tak disengaja.

Berstatus reimagining, sebagian dari Fantasy Island juga dapat dilihat selaku prekuel, mengacu pada penjelasan asal usul salah satu karakter regularnya. Masih bercerita mengenai pulau di mana para tamu dapat mewujudkan fantasi masing-masing, dan harus menjalaninya hingga mencapai “konklusi natural”. Artinya, walau fantasi itu ternyata tak seindah perkiraan atau bahkan berbahaya, semua harus terus berlanjut.

Pengelola pulau tersebut adalah pria misterius dengan setelan jas putih bernama Mr. Roarke yang diperankan Michael Peña, dan membuktikan bahwa peran serius sangat tidak cocok untuknya. Kalau Roarke dari serial televisi bak figur supranatural yang bahkan pernah berhadapan dengan iblis (beberapa percaya ia sejatinya Tuhan, sementara sang pemeran, Ricardo Montalbán, berpikir Roarke adalah malaikat), film ini memanusiakan sosoknya, terlebih setelah rahasia masa lalunya terungkap.

Mr. Roarke menyambut lima tamu yang konon berkesempatan mengunjungi pulau setelah menang undian. Dua bersaudara JD (Ryan Hansen) dan Brax (Jimmy O. Yang) punya fantasi klise khas pria-pria penuh nafsu; Melanie (Lucy Hale) ingin membalas dendam pada perundungnya semasa sekolah; Gwen (Maggie Q) berharap bisa mengulang masa lalu; dan Patrick (Austin Stowell) terobsesi pada hal-hal militer. Satu per satu fantasi kelimanya diwujudkan, tapi ketidakberesan sudah tercium sejak beberapa penampakan sosok pria berwajah penuh luka bakar.

Serialnya sering memposisikan fantasi tamu selaku media bagi mereka mempelajari nilai-nilai berharga, sehingga ungkapan “fantasimu tak seindah kenyataan” jadi punya arti. Filmnya berusaha mengusung pesan serupa, namun tertutupi oleh ambisi mengejutkan penonton sesering mungkin, ditambah mitologi amburadul soal pulau beserta segala aturannya. Sekali lagi, horor garapan Jeff Wadlow bermasalah pada “rules”.

Elemen supranatural dipakai supaya Wadlow bersama dua penulisnya, Christopher Roach dan Jillian Jacobs, bisa berbuat sesuka hati tanpa memedulikan apa pun. Saya tidak mempermasalahkan unsur lintas ruang dan waktunya, yang justru menginjeksi lebih banyak kadar hiburan. Tapi bagaimana dengan para zombie yang mengeluarkan cairan hitam dari mata? Apakah seluruh individu dari fantasi karakternya berubah? Mengapa peluru tak kuasa menghabisi zombie sementara cekikan bisa? Kenapa pula di akhir cerita, fantasi bisa menjadi sebuah realita permanen?

Dan twist-nya.....ya Tuhan, twist-nya! Inilah twist yang eksis hanya untuk mengejutkan dengan cara mencurangi penonton, dan melahirkan kontradiksi bagi hal-hal yang sebelumnya terjadi. Kontradiksi yang menciptakan lubang alur besar. Lubang yang menyulitkan saya menahan tawa terhadap kebodohan Fantasy Island yang seolah tak berujung. Harus diakui beberapa “tawa asli” datang dari segelintir humor, khususnya yang berbentuk kelakar dari mulut karakternya. Di samping premis menarik sekaligus absurdnya, itulah aspek lain yang sedikit meningkatkan kualitas hiburan Fantasy Island.

Wadlow acap kali membangun kecanggungan, yang saya percaya justru bakal berdampak positif bila diterapkan di komedi sungguhan. Minimnya cipratan darah sebagai horor PG-13 bukan masalah selama sutradara sanggup membangun intensitas, yang mana jauh lebih sulit dan gagal dilaksanakan oleh Wadlow. Tapi pesakitan bukan dia seorang. Departemen akting tak kalah menggelikan. Selain Maggie Q yang mampu menghembuskan nyawa tiap kali muncul di layar, pemain lain menyuguhkan akting one-dimentional, yang makin diperparah oleh barisan kalimat cheesy.

Ada dua cara menanggapi film ini. Fantasy Island dapat dipandang sebagai: 1) Semata-mata suguhan buruk, atau 2) guilty pleasure yang kebodohannya bisa ditertawakan. Tapi apakah waktu dan uang kalian pantas dihabiskan hanya untuk menertawakan keburukan seperti ini? Silahkan pikir ratusan kali.

14 komentar :

Comment Page: