THE INVISIBLE MAN (2020)
Rasyidharry
Februari 28, 2020
Aldis Hodge
,
Elisabeth Moss
,
Harriet Dyer
,
horror
,
Leigh Whannell
,
Lumayan
,
Oliver Jackson-Cohen
,
REVIEW
,
Science-Fiction
5 komentar
Leigh Whannell (Saw, Insidious, Upgrade) membuka filmnya
lewat sekuen menegangkan yang nyaris seluruhnya diisi kesunyian ditambah
pemakaian tata suara dan hentakan dengan presisi sempurna. Pemandangan serupa
takkan kita temukan pada versi 1933-nya, yang menegaskan status modernisasi
milik adaptasi teranyar dari novel The
Invisible Man karya H. G. Wells ini. Dan sungguh modernisasi yang tepat
guna dan memuaskan.
Sekuen pembuka di atas
memperlihatkan usaha protagonis kita, Cecilia Kass (Elisabeth Moss), kabur dari
kediaman kekasihnya, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Bukan cuma ilmuwan
jenius sekaligus pebisnis sukses di bidang optik, Adrian juga kekasih abusive dan manipulatif. Dibantu sang
adik, Emily (Harriet Dyer), Cecilia berhasil melarikan diri, lalu menetap
sementara di kediaman kawan lamanya yang juga seorang polisi, James (Aldis
Hodge).
Tapi rasa aman tidak serta merta
didapat. Kecemasan terus menghinggapi Cecilia. Dia takut melangkah keluar
rumah, bahkan khawatir Adrian bakal meretas webcam
di laptopnya untuk memata-matai. Respon tersebut wajar dialami Cecilia.
Adrian mengatur segalanya, dari cara berpakaian, perkataan, bahkan pikirannya.
Sebelum elemen horornya menerjang masuk, naskah Leigh Whannell sudah terlebih
dahulu memulai tuturannya mengenai perjuangan seorang perempuan merebut
kebebasan dari kontrol figur patriarki.
Dan tidak segampang itu kebebasan
diraih. Whannell menunjukkan, bahwa setelah fisiknya terbebas pun, dampaknya
masih menguasai psikis si wanita. Bukan cuma di paruh awal saja, sebab
keseluruhan The Invisible Man pun
secara tersirat juga menyinggung soal kontrol lelaki, bahkan tatkala sosoknya
tak kasat mata. Penonton diajak mengutuk Adrian dan mendukung Cecilia, yang
mana berhasil. Sampai di satu titik, ketika Adrian dikabarkan mati bunuh diri
dan ketenangan mulai didapatkan, saya ingin ketenangan itu berlanjut, dan tidak
mempermasalahkan andai filmnya bertransformasi jadi dokumenter tanpa konflik
tentang kedamaian hidup Cecilia.
Tentu kedamaian tersebut tak
berlangsung lama. Peristiwa-peristiwa aneh mulai menimpa Cecilia, dan ia
percaya, Adrian adalah pelakunya. Menurut Cecilia, sang mantan memalsukan
kematiannya, lalu memanfaatkan kejeniusannya di bidang optik, menemukan cara
guna membuat tubuhnya tembus pandang. Bisa ditebak, semua orang kesulitan
mempercayai Cecilia dan mengira mentalnya terganggu. Demikian pula penonton,
yang turut dibuat bertanya-tanya, apakah memang sudah kehilangan kewarasannya.
Kemampuan menghadirkan pertanyaan tersebut, salah satunya hadir berkat penampilan Elisabeth Moss, yang dari kegamangan
matanya saja, mencerminkan individu dengan masalah psikis. Hanya dari raut
mukanya, keraguan akan kebenaran pernyataan Cecilia langsung timbul. Selain
itu, bukti-bukti kuat mengenai kematian Adrian juga jadi pembantah keyakinan
bahwa ia masih hidup. Bukti-bukti yang berperan membangun misteri alurnya.
Sayang, Whannell tidak pernah
menggali misteri tersebut lebih lanjut. Selain berujung meninggalkan setumpuk
pertanyaan tanpa jawaban begitu film usai, alurnya sempat mengalami stagnansi,
sebatas mengetengahkan teror yang protagonisnya alami. Tapi setidaknya, urusan
membangun teror, Whannell yang mengawali karir penyutradaraannya secara solid
(walau tak spesial) lewat Insidious:
Chapter 3 (2015), mampu membuktikan kapasitasnya tak tertinggal jauh dari
sang rekan, James Wan.
Whannell mementahkan anggapan jika
teror mustahil dibangun di horor arus utama apabila di mayoritas durasi
antagonis tak menampakkan wujudnya. Justru faktor itu jadi kunci utama penyusun
ketegangan The Invisible Man, saat
kita secara otomatis dibuat memperhatikan gerakan-gerakan kecil di sekitar
Cecilia, yang mungkin saja merupakan ulah si pria tak kasat mata. Hasilnya
adalah penantian sarat kecemasan.
Intensitas itu agak menurun kala
terornya semakin frontal dan melibatkan serangan fisik secara langsung. Meski
dibungkus efek spesial mumpuni, ditambah totalitas akting Moss yang membuat
pergulatan Cecilia dengan sosok tak terlihat berlangsung meyakinkan, ketegangan
atmosferik yang menyelimuti separuh pertama durasi tak pernah kembali. Setidaknya,
di paruh kedua, kita sempat menyaksikan lagi kemampuan Whannell mengekskusi
aksi beroktan tinggi di lorong rumah sakit, yang sebelumnya ia pamerkan kala
menggarap Upgrade (2018).
Selain metode teror, modernisasi
juga diterapkan pada satu unsur substansial seputar si pria tak terlihat, yang
tak bisa saya jabarkan demi menghindari spoiler.
Modernisasi yang sesuai, tidak dipaksakan, juga secara subtil, menyimpan
relevansi dengan isu surveillance. Memang
beginilah seharusnya. Ketimbang mencanangkan shared cinematic universe sebagaimana rencana Universal dulu,
ketepatan modernisasi memang lebih substansial diterapkan kepada
monster-monster klasik ini.
TEMAN TAPI MENIKAH 2 (2020)
Rasyidharry
Februari 28, 2020
Adipati Dolken
,
Bagus
,
Biography
,
Indonesian Film
,
Johanna Wattimena
,
Mawar de Jongh
,
Rako Prijanto
,
REVIEW
6 komentar
Ketika film romansa kita sedang
jatuh hati pada adaptasi Wattpad dengan judul-judul absurd, gombalan puitis, serta
tipikal bad boy yang semakin lama
justru makin bergeser ke arah brengsek ketimbang keren, Teman tapi Menikah, yang merupakan film Indonesia favorit saya
tahun 2018 lalu, menelurkan sekuelnya, lalu memperlihatkan definisi romantisme
yang sebenarnya. Berbagi tawa dan rasa, bukan cuma kata-kata tanpa nyawa atau
drama sarat hiperbola.
Walau peran Ayu berpindah ke tangan
Mawar de Jongh yang menggantikan Vanesha Prescilla, kedua tokoh utamanya masih
sama. Mereka masih Ditto (Adipati Dolken) dan Ayu yang akan merinding jijik
saat mendengar gombalan, walau dorongan untuk saling bersikap manja selalu ada.
Begitulah bentuk hubungan “teman rasa pacar, pacar rasa teman”. Tapi kini sepasang
teman itu sudah menikah. Teman tapi
Menikah 2 bukan lagi tentang susahnya mencintai teman, walau kesan tersebut
tetap bisa dirasakan kala mendengar keduanya berinteraksi secara kasual, yang
justru memberi romantisme tersendiri.
Ditto dan Ayu ingin menikmati masa
bulan madu terlebih dulu, namun belum sempat itu terlaksana, Ayu terlanjur
hamil. Pengaruh hormon ditambah ketakutan akan kehamilan membuat Ayu sering
marah-marah, dan respon Ditto tidak mempermudah keadaan. “Gua nggak tahu salah
gua apa”, ungkap Ditto kepada rekan-rekan bandnya. Mungkin laki-laki memang
sebodoh itu, kesulitan memahami kondisi fisik dan mental (yang saling
berkaitan) dari ibu hamil.
Naskah buatan Johanna Wattimena (Teman tapi Menikah, Sin, The Way I Love You)
sayangnya tidak memperdalam urusan itu. Ketimbang membawa Ditto sepenuhnya
melewati proses pemahaman, ia berulang kali terlalu gampang “lolos” dari
permasalahan. Setidaknya ketiadaan elemen itu bukan diakibatkan kelalaian,
melainkan kesengajaan demi memberi ruang pada tuturan lain, yakni tentang
hubungan suportif pasangan suami-istri kala menghadapi kehamilan.
Meski pemaparannya ringan dan tidak
semuanya dieksplorasi secara memadai, naskahnya mampu mencakup berbagai
permasalahan dalam pernikahan secara umum, maupun fase kehamilan secara khusus.
Kekhawatiran seorang ibu mendapati perubahan fisik, suami yang terpaksa
merelakan waktu bersama teman-teman, campur tangan orang tua, pilihan metode
persalinan, dan lain-lain.
Kalau mencari penelusuran kompleks,
mungkin anda bakal kecewa, tapi jika romansa ringan kaya rasa yang diinginkan,
sebagaimana pendahulunya, Teman tapi Menikah
2 adalah juaranya. Interaksi “suami-istri-rasa-teman” Ditto dan Ayu tidak
pernah gagal menghadirkan senyum. Entah senyum karena tergelitik, senyum karena
gemas, atau senyum karena membayangkan hubungan semanis itu (akan atau sedang) kita
jalani. Naskahnya jago memproduksi kata, sedangkan kedua pemeran utama lihai
melontarkannya.
Bagi Ditto, pernikahan ini adalah mimpi
yang jadi nyata setelah menunggu 13 tahun (walau nantinya kita tahu bahwa Ayu
pun sama saja), dan sepanjang film, Adipati berhasil memperlihatkan tatapan
berbinar dan senyum lebar dari kebahagiaan seseorang yang impiannya terwujud.
Sementara Mawar—yang secara fisik pun lebih punya kemiripan dengan Ayudia
dibanding Vanesha—mampu memberi pendewasaan terhadap karakternya, walau tetap
menampilkan kemanjaan-kemanjaan yang tak mungkin gagal meluluhkan, bukan cuma
hati Ditto, juga penonton.
Adipati dan Mawar punya dinamika
luar biasa, sehingga inkonsistensi terkait pacing,
di mana beberapa momen bergulir terlalu lama, tidak menjadi persoalan fatal.
Penceritaan Rako Prijanto selaku sutradara memang tidak semulus di film
pertama, tapi sensitivitasnya tidak berkurang. Terbukti dari
kesuksesannya merangkai klimaks emosional, yang menyertakan suasana sakral
lewat alunan mantra Tvameva Mata. Teman tapi Menikah 2 mengajak penonton tertawa, berbahagia bersama mereka, dalam sebuah tuturan cinta yang membuat kita ikut jatuh cinta.
THE MAN STANDING NEXT (2020)
Rasyidharry
Februari 27, 2020
Bagus
,
Korean Movie
,
Kwak Do-won
,
Lee Byeong-heon
,
Lee Ji-min
,
Lee Sung-min
,
REVIEW
,
Thriller
,
Woo Min-ho
Tidak ada komentar
Iago. Nama antagonis dalam drama Othello karya William Shakespeare
tersebut dipakai sebagai nama sandi seorang figur rahasia dalam adaptasi novel
nonfiksi Namsanui Bujangdeul buatan Kim
Choong-Sik ini. Apakah terdapat signifikansi? Secara tersirat, ya, sebab The Man Standing Next melibatkan
konspirasi perebutan kekuasaan, pertumpahan darah, dan tragedi, sehingga memberinya
rasa “Shakesperean”.
Pada 26 Oktober 1979, presiden
ketiga Korea Selatan, Park Chung-hee (hanya dipanggil “Presiden Park” di sini,
diperankan Lee Sung-min), dibunuh oleh ketua Korean Central Intelligence Agency
(KCIA), Kim Jae-gyu, yang namanya juga disamarkan menjadi Kim Kyu-pyeong (Lee
Byung-hun). Peristiwa itu bukan rahasia, dan filmnya tak berupaya
merahasiakan itu, dengan menjadikannya sekuen pembuka. Kita tahu sejak awal
bahwa Kim menembak mati Presiden Park. Tapi kenapa?
Kenapa ketua KCIA yang amat loyal,
bersama-sama melahirkan Republik Ketiga Korea melalui kudeta 16 Mei, dan
berkali-kali menyatakan “siap terus berdiri di samping presiden” melakukan itu?
Sepanjang 114 menit, naskah buatan Woo Min-ho (juga duduk di kursi sutradara)
dan Lee Ji-min pelan-pelan menjawab itu. Semuanya diawali pemberontakan Park
Yong-kak (Kwak Do-won), mantan ketua KCIA yang diasingkan, bersaksi memberatkan
pemerintah Korea Selatan di pengadilan Amerika Serikat.
Di mata dunia (baca: Amerika), nama
Presiden Park memang sudah tercoreng. Kediktatoran Presiden Park yang telah
memerintah selama 16 tahun atau lima periode, dianggap sudah waktunya berakhir.
Di memoarnya, Park Yong-kak menyebut Presiden Park merasa masih berada di medan
perang sebagaimana saat memulai kudeta dahulu. Sang presiden murka. Tapi di
lain kesempatan, saat makan malam bersama Kim, Presiden Park menyatakan bahwa
minuman terenak adalah yang ia teguk selama perang, secara tersirat
membenarkan tudingan di atas.
Ketersiratan semacam itu kerap
dipakai The Man Standing Next untuk
memperkuat narasi sekaligus memahami tiap karakternya. Kedua penulis naskah
tahu jika kisahnya sudah mengandung berbagai intrik rumit, sehingga eksplorasi
karakter lewat metode konvensional dapat menyita lebih banyak waktu. Dengan
begini, selama penonton meluangkan atensi, pemahaman menyeluruh bisa didapat.
Ketika Kim meminta Presiden Park
agar memandang politik secara lebih luas, kita paham kalau ketua KCIA ini,
walau mungkin bukan seorang humanis, lebih kooperatif kala berpolitik, yang
juga nampak pada kesediaannya berdialog dengan pihak Amerika. Sebaliknya,
Presiden Park berpikiran sempit, seorang diktator tulen yang lebih menyukai televisi
hitam-putih ketimbang televisi berwarna (perlambang persepsi sempit dan luas).
Serupa kebanyakan thriller bertema politik sarat
konspirasi, The Man Standing Next mengandung
setumpuk permasalahan, melibatkan tidak sedikit nama, pula mengambil latar di
cukup banyak tempat. Tapi tidak perlu repot-repot berusaha menghafalkan keterangan
lokasi serta waktu yang berganti tiap beberapa menit sekali. Cukup perhatikan
kalimat-kalimat dari mulut karakternya. Untungnya gaya penceritaan Woo Min-ho sangat
membantu. Temponya cenderung agak lambat demi memudahkan penonton memproses
informasi.
Alurnya bergerak penuh kesabaran,
namun tidak jalan di tempat. Kisahnya selalu berprogres, padat, melahirkan misteri menegangkan hasil ketidaktahuan penonton.....dan Kim. Ya, di antara
tokoh-tokohnya, malah si protagonis yang paling sedikit tahu soal apa pun.
Ketidaktahuan yang menyulut kecemasan, kecemasan yang mampu ditampilkan begitu
nyata oleh Lee Byung-hun di balik wajah keras dan postur kokohnya yang sekilas mustahil
diruntuhkan, namun sejatinya begitu rapuh. Bahkan mungkin dia sendiri
kebingungan menentukan tujuan dari tindakannya (diwakili simbol sebelah sepatu
yang hilang). Kebingungan itu bermuara pada peristiwa yang memantapkan status The Man Standing Next sebagai sebuah “Shakesperean”.
SEBELUM IBLIS MENJEMPUT AYAT 2 (2020)
Rasyidharry
Februari 26, 2020
Arya Vasco
,
Aurelie Moeremans
,
Baskara Mahendra
,
Chelsea Islan
,
Cukup
,
Hadijah Shahab
,
horror
,
Indonesian Film
,
Karina Salim
,
Lutesha
,
REVIEW
,
Shareefa Daanish
,
Timo Tjahjanto
,
Widika Sidmore
15 komentar
Sesuatu yang begitu saya suka dari
gaya Timo Tjahjanto—walau kerap jadi sasaran kritik banyak pihak—adalah
keengganan menghemat amunisi dan menginjak pedal rem. Tengok saja Sebelum Iblis Menjemput (2018), yang
selama 110 menit nyaris tidak membiarkan penonton menghela napas. Belum lagi
kalau membicarakan kegilaan bernama The
Night Comes for Us (2018). Sehingga, saya masih tidak percaya akan menulis
kalimat berikut ini: Sebelum Iblis
Menjemput Ayat 2 adalah horor yang cenderung monoton, kurang menegangkan,
meski tetap patut disaksikan.
Timo ingin mencoba pendekatan
berbeda. Kadar kekerasan diturunkan (untuk standarnya, karena darah tetap
tumpah di sana-sini). Teror pun tak disajikan secara membabi buta. Antara satu
momen dengan momen lain diberikan jeda, yang sejatinya bisa berdampak positif
andai dibarengi alur mumpuni, tapi sebagaimana kita tahu, penulisan cerita
tidak pernah jadi kekuatan terbesar Timo.
Kisah dibuka dengan memperkenalkan
karakter baru bernama Gadis (Widika Sidmore), yang bercerita pada sahabatnya,
Dewi (Aurelie Moeremans), soal gangguan mistis yang sampai memberinya luka
fisik. Lalu kita kembali bertemu Alfie (Chelsea Islan) dan adiknya, Nara
(Hadijah Shahab), yang berusaha menata ulang hidup mereka. Pasca peristiwa film
pertama, Alfie masih belum menemukan kedamaian. Sesekali, hantu-hantu masih
menampakkan wujud di sekitarnya. Lalu Alfie dikejutkan oleh kemunculan beberapa
orang bertopeng yang memasuki apartemennya, kemudian menculik dia dan Nara.
Rupanya sekelompok orang itu adalah
Gadis beserta teman-temannya: Budi (Baskara Mahendra), Jenar (Shareefa
Daanish), Kristi (Lutesha), Leo (Arya Vasco), dan Martha (Karina Salim). Pun
mereka datang bukan untuk merampok, melainkan meminta bantuan guna mengakhiri
sebuah kutukan, didorong keyakinan bahwa setelah pengalamannya mengalahkan
iblis, Alfie merupakan sosok yang tepat untuk dimintai pertolongan. Tapi kenapa
harus memakai topeng jika kerahasiaan identitas bukan perkara penting?
Serupa film pertama, rentetan teror
terjadi, satu demi satu muda-mudi tewas mengenaskan, tapi kali ini dalam kadar
ketegangan tidak seberapa. Keputusan Timo memberi jeda justru jadi bumerang
kala tak dibarengi kisah menggigit, meski terdapat latar belakang lebih kelam
dibanding pendahulunya. Timo pernah menyatakan kalau di Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2, elemen horor supernatural lebih
dikedepankan ketimbang gore, dan
ternyata, realisasi dari pernyataan tersebut adalah penampakan lewat jump scare yang lebih dominan.
Dibanding mayoritas horor lokal,
tentu jump scare film ini superior,
apalagi dengan perpaduan efek spesial plus tata rias mumpuni sehingga jajaran “hantu”
tampil mengerikan alih-alih tampak bak peserta cosplay bermodal rendah. Tapi ini karya Timo Tjahjanto. “Lebih baik
dari kebanyakan horor lokal” saja tidak cukup. Beberapa momen tersaji kreatif,
misalnya keheningan mencekam saat Timo memanfaatkan kemunculan (semacam) pocong
dengan metode yang berbeda dibanding sineas lain.
Tapi sisanya repetitif. Hantu akan
muncul, berpose, sebelum menerjang karakter kita dengan efek patah-patah klise,
yang setelah dieksploitasi oleh entah berapa ratus ribu judul, kehilangan
keseramannya. Salah satu elemen penolong (yang bagi beberapa penonton mungkin
malah merupakan distraksi) hadir ketika Timo sesekali masih memamerkan
keusilannya, bersenang-senang melalui humor-humor tak terduga, yang bahkan jauh
lebih berani ketimbang aksi saling bunuhnya.
Di jajaran pemain, ketiadaan Karina
Suwandi cukup berhasil ditambal oleh Lutesha dan Widika Sidmore yang kebagian
jatah menggila. Khususnya Widika, yang memasuki paruh akhir, menampilkan akting
over-the-top yang terkontrol.
Menghibur tanpa harus terasa menggelikan. Sesuatu yang mestinya dipelajari oleh
Chelsea Islan. Ketika film pertama memfasilitasi gaya aktingnya, di sini
Chelsea berusaha terlalu keras terlihat tangguh, membabat semua line dengan intensitas berlipat-lipat.
Saya pun teringat pada Nicolas Cage di fase terburuk karirnya.
THE CALL OF THE WILD (2020)
Rasyidharry
Februari 24, 2020
Adventure
,
Cara Gee
,
Chris Sanders
,
Harrison Ford
,
Lumayan
,
Michael Green
,
Omar Sy
,
REVIEW
4 komentar
Menjadi rilisan pertama 20th
Century Studios pasca akuisisi 20th Century Fox oleh Disney, The Call of the Wild mengadaptasi novel
berjudul sama karya Jack London yang dipublikasikan 117 tahun lalu, dan
sebelumnya sudah enam kali diangkat ke medium film (empat layar lebar, dua
televisi). Artinya, jangan mengharapkan kebaruan. Tapi sebagai kisah timeless, kebaruan bukan kewajiban. Apalagi,
sesekali kesederhanaan macam ini diperlukan. Tanpa kompleksitas, tanpa
kepentingan, tanpa isu politis, tanpa pahlawan super. Hanya beberapa makhluk
hidup yang coba memaknai hidup.
Berlatar 1890-an kala terjadi demam
emas di Klondike, tokoh sentralnya adalah anjing peliharaan bernama Buck, yang
akibat sikap luar biasa aktifnya, kerap memancing kekacauan yang memusingkan si
majikan. Figur Buck dibuat sepenuhnya memakai CGI. Sebuah keputusan dengan
hasil inkonsisten. Terkadang bulu-bulunya sepeti bisa benar-benar kita belai,
namun di lain kesempatan, ia tak ubahnya Scooby-Doo. Tapi ada alasan kuat di
balik pilihan tersebut.
Buck—beserta hewan-hewan lain—bisa melakukan
kemustahilan, seperti terlibat aksi menegangkan di bawah sungai yang membeku,
atau melakoni momen komedik, yang sesekali diselipkan oleh Michael Green (Logan, Murder on the Orient Express)
dalam naskah buatannya, agar film ini tetap menghibur bagi penonton anak.
Keberadaan Chris Sanders yang berpengalaman menyutradarai animasi-animasi
seperti Lilo & Stitch (2002), How to Train Your Dragon (2010), hingga The Croods (2013), memuluskan pembauran
karakter CGI dengan dunia nyata.
CGI juga membantu penyampaian rasa
melalui mata, mengingat di The Call of
the Wild, hewan-hewan tidak bisa berbicara. Penonton diajak memahami isi
hati hewan, tanpa harus memanusiakan mereka (secara berlebihan). Sedangkan Buck
sendiri diharuskan memahami dunia dalam cakupan lebih luas, kala suatu malam ia
dicuri, untuk dijual kepada para pengangkut barang di Yukon. Maka dimulailah
petualangan Buck, yang mempertemukannya dengan beragam manusia, hewan liar, dan
petualangan berbahaya.
Buck sempat menjadi anjing penarik
kereta bagi dua pengirim surat, Perrault (Omar Sy) dan Françoise (Cara Gee). Omar
Sy kembali pamer kapasitas menghidupkan seorang pria hangat, sementara Cara
Gee, dengan kacamata biru serta sedikit keeksentrikan, membuat saya berharap
suatu saat ia mendapat peran utama di film high
profile. Tapi sosok yang sejak awal selalu bersinggungan jalan dengan Buck
adalah John Thornton (Harrison Ford), si pria tua pemendam duka. Ford pun tidak
kesulitan menangani peran pria tua lelah yang tak kehilangan kebaikan hatinya.
Penyutradaraan Chris Sanders,
dibantu CGI mumpuni yang melonjakkan biaya produksi filmnya ke angka $125-150
juta, mampu memproduksi spectacle seru
(walau tak pernah benar-benar menegangkan) berlatarkan visual pemikat mata. Dan
di sela-sela spectacle tersebut,
naskahnya jeli menyelipkan intisari kisahnya secara rapi. Seperti judulnya, The Call of the Wild merupakan kisah tentang
panggilan bagi makhluk hidup (dalam konteks film ini, seekor anjing) untuk menemukan
kebebasannya di alam bebas, sebagai wujud rumah tanpa batas.
Di alam liar, Buck dituntut belajar
beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang menandakan ketiadaan zona nyaman.
Sebagai pemandu, sesekali Buck melihat penampakan seekor anjing hitam bermata
kuning, yang acap kali membantunya menemukan jalan keluar dari masalah. Ada
ambiguitas mengenai identitas si anjing misterius, walau jika mengacu pada
novelnya, ia adalah nenek moyang Buck, yang dahulu hidup berdampingan dengan
manusia purba. Bagi bocah, elemen ini berpotensi menciptakan kebingungan. Sama
halnya dengan penyampaian pesan yang agak terlalu subtil, ditambah gaya
bertutur yang sesekali menyentuh ranah kontemplasi, untuk bisa dicerna dengan
gampang oleh mereka. Tapi di luar itu, The
Call of the Wild adalah interpretasi solid terhadap kisah klasik yang tak
lekang oleh waktu.
SONIC THE HEDGEHOG (2020)
Rasyidharry
Februari 23, 2020
Action
,
Ben Schwartz
,
Comedy
,
Cukup
,
Donna Jay Fulks
,
James Marsden
,
Jeff Fowler
,
Jim Carrey
,
Josh Miller
,
Melody Niemann
,
Patrick Casey
,
REVIEW
,
Tika Sumpter
3 komentar
Masih segar di ingatan saat April
tahun lalu, pesimisme terhadap proyek live
action ini mencapai puncak, setelah trailer
perdana Sonic the Hedgehog
menerima respon luar biasa negatif akibat desain “realistis” si landak biru.
Entah bagaimana jadinya bila pihak studio menutup mata atas protes tersebut,
tapi proses desain ulang dengan penambahan biaya $5 juta serta penundaan
tanggal tayang selama tiga bulan sepertinya membuahkan hasil positif.
Dari sisi komersil, raupan $86,7
juta menempatkan filmnya di posisi puncak daftar film adaptasi permainan video
berpendapatan terbesar pada opening
weekend di Amerika Serikat dan Kanada. Sedangkan soal kualitas, Sonic the Hedgehog memang tidak memberi
warna baru, tapi sebagai tontonan semua umur, hasilnya cukup menghibur, bahkan
di luar dugaan, tidak melupakan hati dalam penuturannya.
Sonic (Ben Schwartz) terpaksa
meninggalkan planetnya setelah kecepatan supersonik miliknya diketahui suku
echidnas (jangan berharap ada Knuckles di sini). Memakai cincin ajaib pemberian
penjaganya, Longclaw si burung hantu (Donna Jay Fulks), Sonic kabur ke Bumi.
Satu dekade berselang, ia menetap di gua persembunyiannya, yang terletak dekat
kota kecil yang damai, Green Hills. Tinggal sendirian, Sonic semakin akrab
dengan kesepian dan mulai mengharapkan adanya sesosok teman.
Tapi nyawanya justru terancam,
setelah suatu malam Sonic tidak sengaja melepaskan kekuatannya, yang
menyebabkan padamnya seluruh listrik di area Pacific Northwest. Pemerintah
mengirim Dr. Robotnik (Jim Carrey) si ilmuwan jenius gila pemilik IQ 300, untuk
melakukan investigasi. Sonic kembali harus terus berlari dan berlari, namun
kali ini dia tidak sendiri. Tom Wachowski (James Marsden), Sheriff setempat
yang bosan dengan minimnya aksi kriminal serius di Green Hills, (terpaksa)
turut serta.
Tidak sulit menebak ke mana duo
penulis naskah, Jeff Fowler dan Patrick Casey bakal mengarahkan kisahnya. Sonic
akan menemukan teman dalam diri Tom, sementara berkat Sonic, Tom akan menyadari
betapa berharganya rumah beserta orang-orang tercinta yang ada di sana. Tapi
paling penting bukanlah destinasi, melainkan perjalanannya. Pertemanan keduanya
terjalin dinamis berkat performa masing-masing pemeran, meski banter berbasis selorohan komedik mereka
tidak ditulis secara solid, sehingga kelucuan kerap gagal tercipta.
James Marsden tidak canggung berinteraksi
dengan karakter CGI, sedangkan Ben Schwartz memberi kepribadian serta nyawa
bagi Sonic melalui suaranya, yang diperkuat oleh desain karakter yang setia
pada materi asalnya. Tidak semua makhluk atau benda perlu tampil realistis, apalagi
di dunia berisi alian berwujud landak biru berkekuatan supersonik yang bisa
bicara. Belum lagi membahas elemen fantasi lain. Pada dunia semacam itu, figur cartoonish Sonic sebagaimana dalam gim
jauh lebih sesuai.
Walau bukan fokus utama, saya mengapresiasi
penggambaran hubungan Tom dan sang istri, Maddie (Tika Sumpter). Akibat
menolong Sonic, Tom dituduh sebagai teroris (masalah yang nantinya selesai terlalu
mudah). Di banyak film, mungkin Tom bakal terus menyembunyikan keberadaan
Sonic, memantik kesalahpahaman Maddie, sehingga berujung memperpanjang konflik
di antara mereka. Tidak di Sonic the
Hedgehog. Hubungan saling dukung keduanya yang sudah dibangun sejak awal,
terus dipertahankan, bahkan kemudian bekerja sama. Cukup hangat, biarpun tidak
sehangat momen sewaktu Jojo (Melody Niemann), keponakan Maddie, memberikan
sepatu merah kepada Sonic.
Presentasi aksi sutradara Josh
Miller tak sepenuhnya berhasil memaksimalkan potensi eksplosif dari kekuatan
Sonic. Penggarapannya masih kekurangan tenaga. Setidaknya ada satu sekuen aksi
menarik ketika Dr. Robotnik memamerkan robot unik dengan konsep ala russian doll (robot dalam robot). Beruntung,
asupan tenaga itu bisa disuplai oleh penampilan Jim Carrey yang akhirnya
kembali memerankan sosok manik. Belum setingkat masa kejayaannya sebagai Si
Muka Karet, tapi keeksentrikan Carrey lewat absurditas gerak dan ekspresi serta
reaksi-reaksi yang sukar diprediksi, lumayan mengobati kerinduan.
4 MANTAN (2020)
Rasyidharry
Februari 22, 2020
Demas Garin
,
Denira Wiraguna
,
Hanny R. Saputra
,
Indonesian Film
,
Jeff Smith
,
Kurang
,
Melanie Berentz
,
Melayu Nicole
,
Ranty Maria
,
REVIEW
,
Talitha Tan
,
Thriller
3 komentar
Sutradara
Hanny R. Saputra (Heart, Sajen, Bisikan
Iblis) bersama duo penulis naskah langganan rumah produksi RA Pictures,
Demas Garin dan Talitha Tan, berniat menyalurkan kecintaan (?)
mereka terhadap mahakarya Alfred Hitchcock, Psycho.
Beberapa adegan (contoh: kematian Milton Arbogast di tangga) direka ulang,
elemen gangguan mental dipakai, bahkan twist
di pertengahan durasi yang mengubah drastis arah film turut diterapkan.
Tapi “peniruan” tersebut hanya di kulit luar semata, sedangkan hal fundamental
justru dilupakan.
Hitchcock tidak berusaha terlihat keren. Sang maestro melakukan hal-hal
kecil substansial yang berdampak besar. Sebaliknya, 4 Mantan cuma berkutat di kebombastisan. Diawali secara kacau oleh
sekuen pembuka carut-marut yang tampak seperti trailer berantakan ketimbang adegan sungguhan, kemudian disusul momen-momen
penyutradaraan canggung yang terkesan amatiran, film ini mulai menemukan
pijakan tatkala misteri mulai menyelimuti. Dikisahkan, pasca pemakaman pemuda
bernama Alex (Jeff Smith), terjadi pertemuan empat wanita yang rupanya
sama-sama mantan almarhum, yang dipacarinya di waktu bersamaan.
Sara (Ranty Maria) si musisi yang mesti merawat sang ibu, Airin (Melanie
Berentz) si gadis tangguh, Rachel (Melayu Nicole) si model berkemampuan Bahasa
Inggris buruk (entah disengaja atau tidak), dan Amara (Denira Wiraguna) si
pelayan cafe. Kematian tidak wajar sang mantan menyatukan mereka, terlebih saat
masing-masing menerima surat misterius dari Alex, yang menyatakan bahwa ia
dibunuh oleh salah satu di antara keempatnya.
Bergerak cepat, tanpa banyak basa-basi, pula rutin mengundang pertanyaan-pertanyaan
yang kerap bermuara pada kejutan, 4
Mantan sempat berhasil mementahkan keraguan di separuh pertama durasi. Walau
penyelipan paksa elemen supernatural berupa deretan jump scare medioker demi memfasilitasi kegemaran penonton umum
untuk dikageti oleh penampakan hantu terasa mengganggu, intensitasnya mampu
terjaga berkat pengolahan misteri yang cukup baik. Ekspektasi kerap dibantah,
kisah bergerak ke arah yang tak terduga bakal dijamah.
Pun segelintir isu sosial sempat disinggung, meski ada yang tak dieksplorasi
lebih jauh (bulimia) dan ada pula yang penyampaiannya terlampau on the nose (soal pelecehan, khususnya
di konklusi). Semakin jauh misteri bergerak, semakin saya dibuat bersemangat
sembari bertanya-tanya, “Bagaimana kiranya Hanny dan tim akan menjawab semua
ini?”. Sayang, begitu memasuki paruh kedua tatkala jawaban dipaparkan, yang
tersisa justru kekecewaan.
4 Mantan menghabiskan sekitar setengah jam terakhir hanya untuk mengupas semua
kebenaran. Misteri tidak tersisa, alur menjadi stagnan. Mengapa perlu selama
itu untuk mempresentasikan jawaban? Karena kembali pada apa yang telah
disinggung di atas, film ini berambisi tampil bombastis, saat memasukkan
kejutan berbasis versi modifikasi dari elemen psikologi yang jamak digunakan di
banyak horor/thriller.
Sayangnya bukan modifikasi positif. Unsur psikologisnya mustahil dan penuh
keasalan. Di ranah film genre,
ketepatan keilmuan memang bukan kewajiban, hanya saja, 4 Mantan tidak dibarengi kreativitas memadai agar menjadi “fantasi”
mumpuni, juga tanpa kesolidan bercerita. Naskahnya tersesat sendiri dalam kerumitan
ambisius yang coba dibangun, sehingga pemaparannya berlarut-larut. Berniat
memuaskan dahaga penonton arus utama kekinian atas twist yang identik dengan status “film keren”, 4 Mantan malah berpotensi membingungkan mereka. Setidaknya cukup
mengasyikkan melihat Jeff Smith akhirnya tidak cuma memasang satu ekspresi
datar sepanjang film.
TOKO BARANG MANTAN (2020)
Rasyidharry
Februari 21, 2020
Comedy
,
Cukup
,
Dea Panendra
,
Iedil Dzuhrie Alaudin
,
Indonesian Film
,
Marsha Timothy
,
REVIEW
,
Reza Rahadian
,
Romance
,
Titien Wattimena
,
Viva Westi
9 komentar
Toko Barang Mantan relevan untuk masa sekarang, di mana kata “mantan”
dipandang begitu dramatis, sementara keambyaran diagungkan. Kisahnya tentang
Tristan (Reza Rahadian) si “mahasiswa abadi” yang rela meninggalkan kuliah demi
mengelola Toko Barang Mantan. Seperti namanya, toko ini melayani jual-beli
barang-barang kenangan pemberian mantan. Bila sunguh-sungguh ada di dunia
nyata, mungkin toko ini sudah viral. Tapi tidak di filmnya. Bahkan Tristan
sampai kesulitan membayar sewa gedung.
Kenapa? Mungkin akibat kengototan
Tristan untuk tidak berpromosi lewat media sosial. Menurutnya, proses tatap
muka antara penjual dan pembeli wajib terjadi, demi pemaknaan mendalam terhadap
barangnya. Mungkin juga karena sebagai seseorang yang tidak percaya cinta,
bahkan sampai menyebutnya “tai kucing”, Tristan tidak cocok menjalankan bisnis ini.
Jadi bagaimana bisa sosok skeptis sekaligus idealis sepertinya terpikir akan
konsep tersebut? Konsep yang semestinya hanya dipedulikan oleh mereka yang
memuja cinta (terkadang secara berlebihan) beserta segala kenangannya.
Inkonsistensi itulah kelemahan terbesar
Toko Barang Mantan. Penceritaan, yang
dimotori Viva Westi (Jenderal Soedirman,
Koki-Koki Cilik 2) di kursi sutradara dan Titien Wattimena (trilogi Dilan) selaku penulis naskah, memang tak
sebegitu solid. Tampak dari beberapa menit awal yang berlangsung cepat
cenderung buru-buru, berantakan, dan sulit diikuti. Satu per satu konsumen mengunjungi
Tristan dan dua karyawannya, Rio (Iedil Dzuhrie Alaudin) dan Amel (Dea
Panendra), guna menjual barang pemberian mantan masing-masing, yang juga memfasilitasi
penampilan deretan cameo.
Humor absurd mengiringi kemunculan
tiap konsumen, yang sejatinya tidak dibarengi materi dasar kuat, namun
setidaknya berhasil memancing senyum berkat penampilan maksimal jajaran cast, di mana mereka tak jarang
melakukan improvisasi, yang berjasa memperkuat kesan organik. Nanti saya bakal
membahas Reza Rahadian, tapi pertama-tama pujian harus diberikan kepada Dea
Panendra, yang sekali lagi melahirkan karakter pendukung memorable. Asyik, sesekali menggelitik, pun berperan menambah bobot
emosi kala melakoni adegan dramatis.
Kealamian akting juga memegang
kunci dalam presentasi romansa Tristan dan Laras (Marsha Timothy). Laras
merupakan mantan Tristan semasa kuliah. Bisa dibilang mantan terindah, sebab
hingga kini, Tristan masih menyimpan perasaan. Tapi reuni keduanya dibarengi
hal mengejutkan, saat Laras memberikan undangan pernikahan. Dahulu, Laras pergi
karena Tristan selalu enggan mengucap kata “cinta”. Sekarang permasalah serupa
lagi-lagi jadi penghalang usaha Tristan merebut kembali hati sang mantan.
Penokohan Tristan dan Laura yang
sama-sama keras, memproduksi dinamika berupa naik-turun rasa yang amat
dibutuhkan sajian romansa. Rasa manis saat keduanya saling menggoda, atau
kepedihan sewaktu pertengkaran pecah, semua terasa nyata berkat penampilan Reza
dan Marsha yang memang “nyata”. Di satu titik, Tristan mengutarakan
kekagumannya atas respon malu-malu Laras. Di situ, Marsha mampu menunjukkan
bagaimana seseorang yang sedang jatuh cinta dibuat tersipu mendengar
gombalan-gombalan, yang walau ditampik oleh otak, nyatanya membuat hati tidak
karuan.
Saya selalu lebih menyukai
penampilan Reza di film-film sederhana seperti ini ketimbang transformasi
ekstrim yang kerap ia lakukan. Karena seperti sudah sering saya sampaikan di
ulasan-ulasan lain, minimal di generasi ini, tidak ada pelakon lain yang sebaik
Reza dalam urusan kreativitas mengolah emosi, memainkan intonasi, dan
mengeksplorasi ragam aksi-reaksi saat berakting. Natural sekaligus jauh dari
monoton.
Viva Westi sadar betul
kapasitas kedua pemain utamanya, lalu menggantungkan semua urusan membentuk
rasa kepada mereka. Tidak banyak modifikasi atau inovasi di pengadeganan.
Kamera lebih sering mengambil posisi close
up agar menangkap ekspresi aktor semaksimal mungkin. Dan itu bukan masalah, melainkan keberhasilan memanfaatkan potensi. Satu-satunya kelemahan adalah,
begitu konfik memanas meningkat, sutradara terlalu bergantung pada peningkatan
intensitas melalui adu teriakan. Tapi itu pun bukan dosa besar. Tidak sebesar dosa mantan yang meninggalkan kita saat sedang sayang-sayangnya.
HITMAN: AGENT JUN (2020)
Rasyidharry
Februari 20, 2020
Action
,
Choi Won-sub
,
Comedy
,
Hwang Woo-seul-hye
,
Jung Joon-ho
,
Korean Movie
,
Kwon Sang-soo
,
Lee Ji-won
,
Lumayan
,
REVIEW
1 komentar
Mengejutkan. Sebutan itu pantas
disematkan kepada Hitman: Agent Jun. Alurnya
tidak dipenuhi twist, namun outcome dari situasi-situasi kerap
berakhir di luar ekspektasi, terkait gaya komedi filmnya. Setiap anda mengira
bakal disuguhi momen keren, menegangkan, atau menyentuh, Choi Won-sub selaku
sutradara sekaligus penulis naskah, siap mengecoh dengan banyolan-banyolan. Apa
saja bisa dijadikan bahan lawakan olehnya. Keputusan tepat mengingat absurditas
premisnya.
Apa jadinya saat agen rahasia yang
dikenal atas kemampuan membunuhnya bercita-cita menjadi komikus? Begitulah Jun
(Kwon Sang-woo), yang selepas kematian orang tuanya saat kecil, dilatih oleh
Duk-gyoo (Jung Joon-Ho) agar tumbuh sebagai aset mematikan milik Badan
Intelijen Nasional Korea Selatan. Seluruh misi dilibas, lawan-lawan dihabisi,
status agen legendaris pun diraih. Tapi Jun tidak bahagia dan menolak mengubur
impiannya. Akhirnya ia nekat memalsukan kematiannya demi memulai hidup baru.
Lima belas tahun berselang, Jun
menyembunyikan identitas masa lalunya, menikahi Mi-na (Hwang Woo-seul-hye),
mempunyai seorang puteri bernama Ka-young (Lee Ji-won) yang terobsesi pada rap,
dan akhirnya bekerja sebagai kreator webtoon. Sayang, komik buatan Jun
dibanjiri respon negatif para pembaca. Kondisi finansialnya pun dalam bahaya,
yang membuat sang istri—yang praktis membiayai semua kebutuhan keluarga—kerap
memarahinya.
Putus asa akibat komiknya dipaksa
berhenti di tengah jalan oleh penerbit, di bawah pengaruh alkohol, Jun memilih
membuat komik berdasarkan pengalamannya sebagai pembunuh. Begitu bangun
keesokan harinya, komik tersebut sudah diunggah. Walau memperoleh respon luar
biasa dan berhasil viral, akibat banyaknya konten sensitif serta rahasia negara
tertuang di sana, rentetan masalah yang mengancam keselamatan Jun dan
keluarganya mulai datang.
Hitman: Agent Jun terkesan normal di awal. Sebuah drama-komedi bercampur
aksi yang mengetengahkan dinamika keluarga di antara bumbu spionase. Familiar,
cenderung formulaik. Momen-momen “wajib”, semisal saat Jun tersentuh kala tidak
sengaja membaca lirik rap tulisan Ka-young yang menceritakan kemiskinan
keluarganya, sehingga membuat si bocah terdorong mengikuti Show Me the Money, sebuah acara kompetisi rap televisi.
Sampai webtoon terbaru Jun
menciptakan kehebohan, lalu Hitman: Agent
Jun melepas kontrol diri dalam hal presentasi komedi. Keunggulan Choi
Won-sub adalah kemampuan menemukan kelucuan apa saja yang bisa ditimbulkan dari
kondisi segenting apa pun, dengan pemilihan timing
yang kerap tidak terduga. Di tengah usaha menyelamatkan korban penculikan
hingga pertarungan melawan teroris gila, Won-sub enggan membiarkan keseriusan mendapat
sorotan utama. Seolah kata “serius” dan “Choi Won-sub” merupakan dua kutub
berlawanan.
Keputusan di atas sejatinya
berisiko besar. Pertama, walau kesenangan mampu digandakan, potensi paparan
drama keluarga yang emosional gagal dipenuhi. Karena keberadaan adegan dramatis
kala Jun membaca lirik rap puterinya, pergeseran tone ke arah kekonyolan total, menghasilkan inkonsistensi.
Ibaratnya, Hitman: Agent Jun menanam
benih yang tidak pernah dituai. Pun tak cukup porsi diberikan terhadap
eksplorasi soal transformasi Jun dari pembunuh berdarah dingin menjadi family man supaya membuatnya lebih
bermakna.
Kedua, intensitas bisa melemah
akibat urgensi yang dilucuti. Masalah ini dapat diatasi, karena tidak sulit
mendukung keberhasilan protagonisnya melewati segala rintangan. Kita ingin
karirnya sukses, keluarganya selamat, dan tentu saja kita ingin ia
berkesempatan memamerkan lagi ketangguhannya. Kwon Sang-woo piawai melakoni dua
sisi karakternya: agen rahasia tangguh yang meyakinkan kala beraksi dan pria
malang sekaligus seorang pecundang, tapi dengan kebaikan hati serta kesungguhan
untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga, sehingga tetap kuat menarik
simpati. Tidak kalah memikat adalah Hwang Woo-seul-hye dan si kecil Lee Ji-won
yang berkontribusi besar melahirkan tawa demi tawa.
Di ranah aksi, Won-sub memang
menerapkan teknik quick cuts standar
yang membuat detail koreografi baku hantam sulit dilihat, tapi dengan
pengarahan yang bertenaga, sang sutradara memastikan bahwa ada bobot di tiap
pukulan atau tendangan. Ada dampak yang terasa pada serangan yang berhasil
mengenai lawan alih-alih rekayasa yang terlalu kentara.
THE GENTLEMEN (2019)
Rasyidharry
Februari 16, 2020
Action
,
Charlie Hunnam
,
Colin Farrell
,
Comedy
,
Crime
,
Eddie Marsan
,
Guy Ritchie
,
Henry Golding
,
Hugh Grant
,
Jeremy Strong
,
Lumayan
,
Matthew McConaughey
,
REVIEW
7 komentar
Mickey Pearson (Matthew McConaughey) sang Raja ganja di
Inggris hendak pensiun dan menjual bisnisnya. Tapi The Gentlemen bukan potret seorang gangster yang tengah mencari
kedamaian. Tidak ada kedamaian di sini, tidak ada upaya menggali sisi
kemanusiaan dari para kriminal. Bukan pula mengenai benturan kekuasaan antar
generasi gangster maupun perenungan tentang kematian yang menggelayuti pelaku
dunia hitam, sebab The Gentlemen menandai
kembalinya Guy Ritchie ke “akarnya” melalui suguhan komedi/kriminal bergaya
yang melambungkan namanya dahulu.
Jika familiar dengan filmografi sang sutradara/penulis
naskah, anda tentu tahu bahwa substansi tidak seberapa diperhatikan. Kisahnya
dibuka saat Mickey berjalan memasuki bar, meminum bir, melakukan panggilan
telepon, lalu seseorang yang wajahnya tak diperlihatkan berdiri di belakangnya,
menodongkan senjata, dan layar menampilkan cipratan darah di gelas bir. Apa
yang terjadi?
Jawaban atas pertanyaan tersebut takkan didapat secara
instan. Tidak sebelum kita menyaksikan peristiwa-peristiwa liar yang
diceritakan oleh Fletcher (Hugh Grant), seorang detektif swasta, kepada Raymond
(Charlie Hunnam), tangan kanan Mickey. Fletcher disewa oleh Big Dave (Eddie
Marsan), editor tabloid Daily Print, yang menyimpan dendam, sehingga ingin
menjatuhkan Mickey dengan cara mengungkap rahasianya. Bukannya melaporkan hasil
temuan pada Big Dave, Fletecher justru menawarkan itu pada Raymond dengan harga
£20 juta.
Fletcher menceritakan seluruh temuannya, dan kita pun dibawa
mengikuti perjalanan panjang yang membentang dari paparan masa lalu Mickey,
sampai intrik-intrik yang melibatkan para pengincar kekuasaan dunia gelap
perdagangan mariyuana. Ada Matthew Berger (Jeremy Strong) si milyuner Amerika
Serikat yang berniat membeli semua lahan mariyuana Mickey, Dry Eye (Henry
Golding) si anggota gangster Cina yang penuh ambisi, hingga seorang pelatih
tinju tanpa nama (Colin Farrell) yang kebetulan terseret akibat ulah
murid-muridnya.
Dalam merangkai naskahnya, Ritchie bermain-main menggunakan
Fletcher selaku unreliable narrator yang
gemar memalsukan cerita hanya karena iseng atau memperseru situasi. Tentu
sebenarnya Ritchie yang ingin memperseru situasi. Tapi berkat penokohan
Fletcher, mudah bagi kita menerima keliaran narasinya. Mudah menerima kala
rasio aspek layar berubah agar tampak bak film zaman dulu atau ketika segelintir
humor meta dilontarkan Fletcher. Mudah
juga menerima saat beberapa kejadian diralat dan ternyata hanya rekaan yang dia
pakai untuk menambah bumbu.
The Gentlemen memang kaya akan bumbu. Bumbu berupa ciri
sang sutradara, yang meliputi: gerak lambat, penyuntingan kilat, dan banyak twist yang tak perlu repot-repot kita
pikirkan logika serta kepentingannya, karena sekali lagi, hal-hal semacam
esensi bukan budaya film-film Guy Ritchie. Budaya film-film Guy Ritchie adalah keseruan
sarat machismo keren para gentlemen yang sekilas nampak
bermartabat dengan setelan jas necis yang sesungguhnya adalah topeng penutup
kebengisan.
Dampaknya, sewaktu adegan aksi (yang secara mengejutkan
kuantitasnya tidak seberapa) atau pameran gaya Ritchie tak mengisi layar,
dinamika dan daya tarik filmnya turut mengendur. Ritchie bukan seorang
pencerita mumpuni, alhasil sewaktu gaya itu dilucuti, pacing-nya melemah, seolah The
Gentlemen kehilangan daya. Pertanyaannya, seberapa sering itu terjadi?
Untungnya tidak terlalu, mengingat elemen-elemen lain turut mengulurkan bantuan.
Selain barisan musik asyik yang tak pernah absen dari
judul-judul Ritchie, performa para pemainnya mengibur lewat keberhasilan
menghidupkan image jajaran “penjahat
brutal berkelas”. McConaughey, Hunnam, dan Farrell menyimpan hewan buas di
balik ketenangan mereka. Hewan buas yang lebih sering dilepaskan dari kandang
oleh Golding dalam peran yang berlawanan dengan sosok pria kharismatik baik-baik
yang mulai identik dengan dirinya. Begitu pun Grant. Selalu menyenangkan
melihat Grant melawan stereotip. Sebaliknya, selalu menyenangkan melihat
Ritchie tidak berusaha mengubah image dalam
berkarya.
MILEA: SUARA DARI DILAN (2020)
Rasyidharry
Februari 14, 2020
Fajar Bustomi
,
Indonesian Film
,
Iqbaal Ramadhan
,
Jelek
,
Pidi Baiq
,
REVIEW
,
Romance
,
Titien Wattimena
,
Vanesha Prescilla
15 komentar
Berlawanan dengan prinsip banyak pecinta film, saya mendukung
keberlangsungan sekuel, prekuel, atau ragam bentuk karya “non-original” lain
yang bertujuan mendulang keuntungan finansial. Eksistensinya berguna
menyehatkan industri. Tapi Milea: Suara dari
Dilan terlalu jauh mendorong batasan produk berorientasi profit, dengan
menyamarkan diri sebagai pelengkap perspektif terhadap seri film Dilan, walau mayoritas hanya rangkuman kisah-kisah
sebelumnya.
Kisahnya dibuka oleh narasi meta dari Dilan (Iqbaal Ramadhan), tentang bagaimana Pidi Baiq
mengadaptasi kisah cintanya dan Milea (Vanesha Prescilla) menjadi dua novel
dari sudut pandang si gadis. Kini, dalam rangka penulisan novel ketiga, giliran
perspektif Dilan yang diangkat. Seperti judulnya, kali ini penonton
mendengarkan suara Dilan guna memandang kisah melalui sisinya. Pertanyaannya, seberapa
banyak pemahaman baru yang didapat setelah menyaksikan film ini?
Milea: Suara dari Dilan
bermaksud melengkapi
Dilan 1990 (review) dan Dilan 1991 (review) sebagai film kolektif. Bentuk tersebut kira-kira tidak
jauh beda dengan The Disappearance of
Eleanor Rigby (2013) yang terdiri atas tiga versi: Him, Her, dan Them. Film
kolektif semacam itu wajib saling melengkapi. Tapi, alih-alih demikian, naskah
buatan Pidi Baiq bersama Titien Wattimena, yang mengadaptasi novel berjudul
sama karya Pidi, sebatas melakukan reka ulang berisi momen-momen memorable dari dua film pertama, yang
disusun menggunakan kumpulan stok footage
lama. Ibarat album musik, ini adalah album The Best of...
Para penggemar fanatik mungkin bakal terbuai saat mendengar
lagi gombalan ikonik Dilan, sebutlah “Kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu”,
“Jangan rindu. Berat. Biar aku saja”, dan lain-lain. Tapi ini bukan nostalgia,
mengingat dua filmnya masing-masing baru dirilis pada tahun 2018 dan 2019. Dan
berbicara soal pemahaman baru, Milea:
Suara dari Dilan kekurangan asupan tersebut. Sebab selama sekitar 100
menit, filmnya bak sebatas fragmen yang dijahit paksa serta minim tambahan
suntikan bobot, makna, atau perspektif baru.
Pada akhirnya kita tetap tidak tahu mengapa Dilan jatuh cinta
pada Milea dan memutuskan untuk “meramalnya” dari atas motor dahulu. Bukan
berarti cinta butuh penjabaran logis, namun Dilan memperlihatkan ketertarikan,
bahkan sebelum bertatap muka dan baru mengetahui eksistensi Milea si murid baru
berdasarkan cerita teman-temannya. Akting jajaran pemain jadi terkena dampaknya.
Karena filmnya sebatas penyatuan paksa keping-keping kisah, baik penampilan
perseorangan Iqbaal dan Vanesha maupun chemistry
keduanya, yang tersaji kuat di film-film sebelumnya, terasa tidak utuh.
Perihal sudut pandang baru atas peristiwa masa lalu cuma
terjadi dalam peristiwa kematian Akew (Gusti Rayha). Milea menjauh, bahkan
kemudian meninggalkan Dilan karena rasa khawatir ditambah ketidaksukaan akan
keterlibatan Dilan dalam geng motor. Penonton bisa ikut merasakan kebingungan
Dilan. Baginya, Milea mendadak pergi tanpa alasan justru tatkala Dilan sedang membutuhkannya
selepas kematian sang sahabat.
Tapi terkait konflik dua tokoh utama, khususnya ketika
hubungan mereka mulai tergerus, inkonsistensi Milea: Suara dari Dilan sebagai film mengenai...well, “suara dari Dilan”, semakin tampak
nyata. Kalau ini merupakan kisah dari sisi Dilan, kenapa masih ada
bagian-bagian di mana hanya Milea saja yang tahu? Terkadang narasinya memakai
sudut pandang orang pertama, lalu berubah menjadi orang ketiga serba tahu.
Inkonsisten.
Fase terbaik tiba ketika filmnya melewati satu jam. Kisahnya
berhenti melakukan reka ulang, mulai menjamah era baru, membicarakan perihal
memori di mana karakernya dituntut move
on, melangkah menuju babak baru dalam kehidupan mereka. Di situ
kenangan-kenangan masa SMA, romansa, hingga keluarga, dikupas. Momen-momen
emosional yang menjadikan Dilan 1991 begitu
berkesan pun berhasil diulangi. Sayangnya fase ini datang terlambat dan tidak
berlangsung lama.
Begitu Dilan dan Milea akhirnya bertemu kembali, ada harapan
tinggi menanti konklusi dari salah satu kisah cinta paling fenomenal yang pernah
menghiasi layar lebar Indonesia. Sampai akhirnya harapan tersebut hancur akibat
konklusi dingin yang berlawanan dengan penuturan overly dramatic dan overly
romantic (entah berupa konflik atau kalimat-kalimat gombal) yang begitu
identik dengan seri Dilan. Baik
penulisan maupun penyutradaraan duo Pidi Baiq dan Fajar Bustomi gagal
mempersembahkan momen penutup memorable bagi
Dilan dan Milea. Mencapai babak penutup, Dilan
justru menyentuh titik nadir.
FANTASY ISLAND (2020)
Rasyidharry
Februari 13, 2020
Austin Stowell
,
Chris Roach
,
horror
,
Jeff Wadlow
,
Jillian Jacobs
,
Jimmy O. Yang
,
Kurang
,
Lucy Hale
,
Maggie Q
,
Michael Pena
,
Michael Rooker
,
REVIEW
,
Ryan Hansen
14 komentar
Dari sutradara dan tim penulis naskah penghasil horor PG-13
tanpa darah dan taji Truth or Dare (2018),
hadir satu lagi horor PG-13 tanpa darah dan taji berjudul Fantasy Island. Berbeda dengan Truth
or Dare, ini bukan karya original, melainkan berbasis serial telvisi
berjudul sama yang tayang tahun 1977-1984. Tapi seperti Truth or Dare, kekonyolan menggelikan banyak ditemui. Memang ada
kesengajaan menyelipkan humor sungguhan di beberapa titik, tapi sekali lagi,
pengarahan sekaligus penulisan Jeff Wadlow kerap menghadirkan tawa-tawa tak
disengaja.
Berstatus reimagining,
sebagian dari Fantasy Island juga
dapat dilihat selaku prekuel, mengacu pada penjelasan asal usul salah satu
karakter regularnya. Masih bercerita mengenai pulau di mana para tamu dapat
mewujudkan fantasi masing-masing, dan harus menjalaninya hingga mencapai
“konklusi natural”. Artinya, walau fantasi itu ternyata tak seindah perkiraan
atau bahkan berbahaya, semua harus terus berlanjut.
Pengelola pulau tersebut adalah pria misterius dengan setelan
jas putih bernama Mr. Roarke yang diperankan Michael Peña, dan membuktikan
bahwa peran serius sangat tidak cocok untuknya. Kalau Roarke dari serial
televisi bak figur supranatural yang bahkan pernah berhadapan dengan iblis
(beberapa percaya ia sejatinya Tuhan, sementara sang pemeran, Ricardo Montalbán,
berpikir Roarke adalah malaikat), film ini memanusiakan sosoknya, terlebih
setelah rahasia masa lalunya terungkap.
Mr. Roarke menyambut lima tamu yang konon berkesempatan
mengunjungi pulau setelah menang undian. Dua bersaudara JD (Ryan Hansen) dan
Brax (Jimmy O. Yang) punya fantasi klise khas pria-pria penuh nafsu; Melanie
(Lucy Hale) ingin membalas dendam pada perundungnya semasa sekolah; Gwen
(Maggie Q) berharap bisa mengulang masa lalu; dan Patrick (Austin Stowell)
terobsesi pada hal-hal militer. Satu per satu fantasi kelimanya diwujudkan,
tapi ketidakberesan sudah tercium sejak beberapa penampakan sosok pria berwajah
penuh luka bakar.
Serialnya sering memposisikan fantasi tamu selaku media bagi
mereka mempelajari nilai-nilai berharga, sehingga ungkapan “fantasimu tak
seindah kenyataan” jadi punya arti. Filmnya berusaha mengusung pesan serupa,
namun tertutupi oleh ambisi mengejutkan penonton sesering mungkin, ditambah
mitologi amburadul soal pulau beserta segala aturannya. Sekali lagi, horor
garapan Jeff Wadlow bermasalah pada “rules”.
Elemen supranatural dipakai supaya Wadlow bersama dua
penulisnya, Christopher Roach dan Jillian Jacobs, bisa berbuat sesuka hati tanpa
memedulikan apa pun. Saya tidak mempermasalahkan unsur lintas ruang dan
waktunya, yang justru menginjeksi lebih banyak kadar hiburan. Tapi bagaimana
dengan para zombie yang mengeluarkan cairan hitam dari mata? Apakah seluruh
individu dari fantasi karakternya berubah? Mengapa peluru tak kuasa menghabisi
zombie sementara cekikan bisa? Kenapa pula di akhir cerita, fantasi bisa
menjadi sebuah realita permanen?
Dan twist-nya.....ya
Tuhan, twist-nya! Inilah twist yang eksis hanya untuk mengejutkan
dengan cara mencurangi penonton, dan melahirkan kontradiksi bagi hal-hal yang
sebelumnya terjadi. Kontradiksi yang menciptakan lubang alur besar. Lubang yang
menyulitkan saya menahan tawa terhadap kebodohan Fantasy Island yang seolah tak berujung. Harus diakui beberapa
“tawa asli” datang dari segelintir humor, khususnya yang berbentuk kelakar dari
mulut karakternya. Di samping premis menarik sekaligus absurdnya, itulah aspek
lain yang sedikit meningkatkan kualitas hiburan Fantasy Island.
Wadlow acap kali membangun kecanggungan, yang saya percaya
justru bakal berdampak positif bila diterapkan di komedi sungguhan. Minimnya cipratan
darah sebagai horor PG-13 bukan masalah selama sutradara sanggup membangun
intensitas, yang mana jauh lebih sulit dan gagal dilaksanakan oleh Wadlow. Tapi
pesakitan bukan dia seorang. Departemen akting tak kalah menggelikan. Selain
Maggie Q yang mampu menghembuskan nyawa tiap kali muncul di layar, pemain lain menyuguhkan
akting one-dimentional, yang makin
diperparah oleh barisan kalimat cheesy.
Ada dua cara menanggapi film ini. Fantasy Island dapat dipandang sebagai: 1) Semata-mata suguhan
buruk, atau 2) guilty pleasure yang kebodohannya
bisa ditertawakan. Tapi apakah waktu dan uang kalian pantas dihabiskan hanya
untuk menertawakan keburukan seperti ini? Silahkan pikir ratusan kali.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)
























5 komentar :
Comment Page:Posting Komentar