REVIEW - LUDO

5 komentar

Pernah merasa hidup anda dipenuhi takdir-takdir misterius, seolah Tuhan sedang bermain gim di mana manusia merupakan bidaknya? Film antologi yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Anurag Basu ini, menerjemahkan situasi tersebut secara metaforikal, mengibaratkannya sebagai permainan Ludo, di mana para pemain menggerakkan bidak-bidak dalam perjalanan menuju ke “rumah”.  

Ludo memiliki empat segmen yang saling terkoneksi secara tak terduga, layaknya suratan takdir yang aneh. Penghubung tiap segmen adalah obrolan dua pria. Satu berpakaian hitam selaku perwujudan Yamraj (Anurag Basu), satunya berpakaian putih selaku perwujudan Chitragupta (Rahul Bagga). Keduanya mengawasi seluruh kejadian, sembari bermain Ludo dan membicarakan soal kehidupan, kematian, serta takdir.

Sebagaimana sebuah dadu, Sattu (Pankaj Tripathi), seorang gangster paling ditakuti yang dianggap tidak bisa mati, menentukan nasib semua bidak. Pun serupa Ludo, masing-masing cerita direpresentasikan oleh warna. Sisi merah adalah cerita Bittu (Abhishek Bachchan), mantan tangan kanan Sattu, yang baru keluar dari penjara saat mendapati mantan istrinya sudah menikahi pria lain, sementara puterinya yang masih kecil menganggap pria itu sebagai ayah kandungnya.

Di sisi kuning ada Akash (Aditya Roy Kapur) dan Shruti (Sanya Malhotra), yang berusaha mencari pelaku penyebaran video seks mereka, sebelum calon suami Shruti mengetahuinya, sebelum pernikahan yang tinggal hitungan hari. Rahul (Rohit Suresh Saraf) ada sisi biru. Setelah tidak sengaja menyaksikan pembunuhan yang dilakukan oleh Sattu, ia dan seorang perawat bernama Sheeja (Pearle Maaney), malah berpeluang mendapatkan harta yang disembunyikan oleh gang Sattu. Terakhir adalah sisi hijau, yang mengisahkan soal penjahat kampung bernama Alu (Rajkummar Rao), yang rela mengorbankan segalanya demi Pinky (Fatima Sana Shaikh), termasuk membebaskan suami sang pujaan hati yang dituduh melakukan pembunuhan.

Biarpun masing-masing segmen punya konflik serta tone berlainan, semuanya terhubung lewat benang merah, berupa perjuangan karakternya memperbaiki hidup, di mana dalam tiap perjuangan, selalu diwarnai ambiguitas moral, juga pengorbanan demi orang-orang tercinta. Semua karakter melakukan kekeliruan, bahkan kriminalitas, baik bersifat kecil maupun besar (pembunuhan). Tapi begitu menyentuh konklusi, akan sulit menetapkan mana benar dan salah. Apalagi jika dibenturkan dengan bahasan religiusitas. Siapa pantas masuk surga? Siapa yang mesti berakhir di neraka?

Ludo bakal mengingatkan pada  deretan hyperlink cinema bertema kriminalitas (saya yakin banyak komentar terkait fillm ini menyebut nama Quentin Tarantino dan Pulp Fiction), namun selipan religiusitas tadi memberinya identitas tersendiri, yang hanya bisa dilahirkan sineas India. Merangkai antologi, apalagi ditambah gaya hyperlink, di mana setiap segmen saling berkaitan langsung dalam struktur alur multilinear, tentu bukan perkara gampang. Walau akhirnya kerap membuat dampak emosi tidak sekuat harapan, Anurag Basu sanggup menciptakan ikatan luar biasa rapi di naskahnya. Meski diisi begitu banyak tokoh serta konflik, tidak sulit memahami alur penuh konflik, twist, dan koneksi-koneksi tak terduga milik filmnya.

Satu elemen berisiko adalah terkait penggambaran karakter wanita, yang hampir seluruhnya merupakan sosok oportunis yang enggan memedulikan perjuangan sang pria, bahkan memanfaatkan itu sebagai alat manipulasi. Sebaliknya, obsesi karakter prianya diglorifikasi sebagai bentuk heroisme. Apakah Anurag Basu pernah disakiti sedemikian parah oleh seorang wanita? Beruntung, konklusinya mampu dibawa ke ranah heartful, dalam penutup memuaskan penuh haru yang mempresentasikan buah manis atas perjuangan demi cinta. Baik cinta bagi pasangan, atau keluarga sebagaimana kisah mengenai Bittu, yang hadir begitu kuat hingga pantas dijadikan film panjang tersendiri.

Berdurasi 150 menit, Ludo memang berlangsung agak terlalu panjang akibat beberapa perhentian tak perlu, namun berkat penceritaan mulus Anurag Basu, pula performa memikat ensemble cast-nya (Abhishek Bachchan si “pria bermuka preman berhati Hello Kitty” dan Pankaj Tripathi si gangster intimidatif jadi dua penampil paling berkesan), tidak satu momen pun dari Ludo terasa membosankan.


Available on NETFLIX

5 komentar :

Comment Page:

10 FILM INDONESIA TERBAIK 2020

14 komentar

Sebagaimana di belahan dunia lain, 2020 adalah tahun yang berat bagi industri film Indonesia. Sangat berat. Banyak proses produksi tertunda. Beberapa film memundurkan jadwal tayang, beberapa lainnya berpindah ke layanan streaming. Selama lebih dari sembilan bulan tiada satu pun film lokal menghiasi bioskop. Padahal 2019 bisa dibilang merupakan salah satu tahun gemilang bagi perfilman kita, khususnya berkaca pada angka penonton.

Karena itulah daftar “Film Indonesia Terbaik” tahun ini saya persembahkan bagi seluruh pelaku industri. Mari berharap 2021 berjalan dengan lebih baik!

Berikut adalah 10 Film Indonesia Terbaik 2020 versi Movfreak.

10) TEMEN KONDANGAN

Komedi yang rusuh dan kacau, namun dari kerusuhan dan kekacauan itulah kelucuannya hadir. Tampil segar pula sedikit absurd bak adaptasi webtoon, Temen Kondangan murni dibuat untuk bersenang-senang, dan itulah yang saya dapatkan. (Available on Netflix)


9) BETWEEN THE DEVIL AND THE DEEP BLUE SEA

Dokumenter yang menyuguhkan wajah pahit negeri ini perihal diskriminasi gender. Tema sensitif berupa dampak pemerkosaan dibahas, sembari menyampaikan bahwa masalah yang sudah rumit itu bisa makin ruwet tatkala cinta terlibat.


8) MUDIK

Salah satu film paling relatable tahun ini. Ketika isu soal gender dipertemukan dengan ironi, di mana mudik lebaran yang mestinya memberi kehangatan, malah memunculkan ketakutan. Ketakutan akan dihakimi, ketakutan akan dijatuhkan oleh keluarga yang semestinya menjadi “rumah”. (Available on Mola TV)


7) QUARANTINE TALES

Quarantine Tales menjadi salah satu film omnibus terbaik Indonesia, berkat kualitas yang cukup merata di antara segmen, pula beragam genre yang diangkat. Memang benar, terkadang keterbatasan memancing kreativitas. (Available on Bioskop Online)


6) THE SCIENCE OF FICTIONS

Yosep Anggi Noen memperlihatkan “sains dari karya fiksi”, di mana untuk menyampaikan gagasan, ia bersedia mendobrak ikatan-ikatan seperti logika, kesesuaian latar, dan sebagainya. Andai bukan karena salah satu momen problematik, saya akan menempatkan film ini di posisi lebih tinggi.


5) YOU AND I

You and I merupakan upaya agar masyarakat tidak pernah lupa, bukan saja soal sisi sejarah kelam Indonesia, juga pentingnya kemanusiaan. Kedua karakter film ini bukan saudara kandung, tapi sebagai sesama manusia (yang jadi korban kejahatan kemanusiaan manusia lain), mereka berbagi cinta tanpa diminta. Dan cinta itu yang jadi kekuatan filmnya.


4) HELP IS ON THE WAY

Memberikan observasi mendalam terkait kehidupan para TKW, baik sebelum maupun setelah keberangkatan, Help is on the Way adalah banyak hal. Kisah tentang perempuan, tentang kemiskinan, tentang budaya, dan terpenting, tentang manusia.


3) TEMAN TAPI MENIKAH 2

Walau belum sehebat film pertamanya, Teman tapi Menikah 2 mengajak penonton tertawa, berbahagia bersama mereka, dalam sebuah tuturan cinta yang membuat kita ikut jatuh cinta. (Available on Netflix)


2) MEKAH I’M COMING

Mekah I’m Coming punya value besar karena keberaniannya menertawakan isu bertema religi. Ketika bangsa ini makin kehilangan selera humor akibat mabuk agama, Jeihan Angga seolah membawa saya kembali ke masa tatkala lawakan “Bahasa Arab” milik Bajaj Bajuri belum dianggap ofensif. Bukan agama yang ditertawakan, melainkan kengawuran penganutnya. (Available on Viu)


1) NANTI KITA CERITA TENTANG HARI INI

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini adalah tentang dinamika kompleks antara anak sulung, tengah, dan bungsu. Juga soal kebebasan dalam hubungan, baik romansa atau di lingkup keluarga. Ini juga mengenai impian, kebahagiaan, bahkan menyentil perihal patriarki, dan maskulinitas di mana ayah sebagai kepala keluarga senantiasa mengatur, sedangkan anak laki-laki (apalagi kalau berstatus putera sulung) harus jadi yang paling kuat. Sajian slice of life bernuansa kontemplatif yang tetap mudah dinikmati kalangan luas. Versi director’s cut-nya lebih kuat lagi, berkat penggalian yang lebih menyeluruh di beberapa sisi. (Available on Netflix)

14 komentar :

Comment Page:

REVIEW - SOUL

11 komentar

Beberapa film berkata, “live your life” atau “life is for living”. Beberapa lainnya mengajarkan agar kita mengikuti passion, sebagai api yang membakar semangat hidup. Tanpanya, hidup tiada berarti. Semuanya benar, tapi Soul, yang lahir dari sentuhan emas Pete Docter (Monsters, Inc., Up, Inside Out), mengajak penonton kembali ke awal, membicarakan esensi dasar namun lewat tuturan ambisius. Pertanyaan eksistensial dilontarkan, “Percikan macam apa yang dibutuhkan dalam kehidupan?”.

Bagi Joe Gardner (Jamie Foxx), percikan itu adalah musik. Tepatnya musik jazz. Sejak dibawa sang ayah ke sebuah pertunjukan saat masih kecil, Joe meyakini bahwa ia terlahir untuk bermusik. Tapi kenyataan berkata lain. Karirnya jalan di tempat, dan kini Joe mengajar musik di SMP. Sebuah pekerjaan yang tak ia nikmati, meski sang ibu (Phylicia Rashad), menuntutnya agar melupakan mimpi bermusik dan mencari pekerjaan tetap.

Kesempatan datang sewaktu musisi jazz ternama, Dorothea William (Angela Bassett), menawari Joe menjadi pianis di pertunjukkannya. Joe berhasil meraih kesempatan tersebut, tapi akibat terlalu gembira, di perjalanan pulang ia jatuh ke lubang got. Begitu terbangun, Joe mendapati dirinya sudah berbentuk jiwa, dan berada di tengah antrean menuju Great Beyond alias akhirat. Di titik ini saya mulai menyayangkan tidak adanya theatrical release bagi Soul. Bagaimana tim animator menerjemahkan “pintu akhirat” sebagai sesuatu yang megah nan magis tanpa harus tampak rumit, jelas pantas disaksikan di layar lebar.

Menolak “pergi” di saat kesempatan mulai menghampiri, Joe mencoba kabur, tapi malah berakhir di Great Before. Tempat di mana jiwa-jiwa berkumpul guna diberi kepribadian sebelum menjalani hidup di bumi. Terjadi kesalahpahaman, dan Joe malah diminta menjadi mentor untuk 22 (Tina Fey). Walau sudah ribuan tahun berlalu, 22 belum juga menemukan “percikan” yang membuatnya ingin hidup. Padahal nama-nama seperti Bunda Teresa, Carl Jung, Abraham Lincoln, Muhammad Ali, dan lain-lain, pernah menjadi mentornya (salah satu humor terlucu sekaligus paling berani di film ini).

Demi membantu 22 menemukan “percikan” itu, sekaligus mengembalikan Joe ke bumi, keduanya pun melakoni petualangan “lintas alam” yang selalu berhasil membawa alurnya ke arah tak terduga, berkat eksplorasi luas dari ketiga penulis naskahnya: Pete Docter, Mike Jones (turut menulis naskah Luca yang rilis 2021), Kemp Powers. Jika Inside Out (2015) adalah penjelajahan ke dalam (otak manusia), maka Soul menjelajah ke luar, memperkenalkan penonton pada dunia-dunia imajinatif yang “menjelaskan” dinamika jiwa manusia. Salah satunya zona di mana orang-orang mengalami trance saat tenggelam dalam passion mereka, sekaligus tempat terperangkapnya jiwa-jiwa yang hilang akibat terobsesi akan hal tertentu.

Di zona itulah Soul melempar salah satu gagasannya, bahwa “passion yang menghidupkan” dan “obsesi yang mematikan” hanya memiliki perbedaan tipis. Bahkan dibanding Inside Out sekalipun, film ini lebih diperuntukkan bagi penonton dewasa. Khususnya mereka yang mempertanyakan tujuan hidup. “Those really aren’t purpose. That’s regular old living”, ucap Joe pada 22, yang menyebut hal-hal remeh seperti berjalan-jalan, menikmati permen, atau menangkap benih maple sebagai tujuannya menjalani hidup. Joe, sebagaimana banyak dari kita, sudah tenggelam dalam ambisi-ambisi serta tuntutan kehidupan. Sebaliknya, kemurnian 22 membantunya melihat “the beauty of life”.

Soul adalah soal keindahan. Keindahan yang efektif mengaduk-aduk emosi penonton, melalui perpaduan artistik dan penceritaan. Diiringi lantunan musik jazz bernyawa gubahan Trent Reznor dan Atticus Ross, filmnya kembali membuktikan menegaskan kehebatan Pixar membangun realisme melalui animasi. Contoh mudahnya adalah ketika Terry (Rachel House) yang bertugas menghitung jumlah jiwa di Great Beyond datang ke bumi untuk mencari Joe dan 22. Semua “petugas” di alam jiwa punya desain sederhana. Hanya berupa sambungan garis-garis. Dan ketika Terry membaur ke bumi, ia seperti figur animasi yang masuk ke dunia live action.

Emosi bakal mencapai puncak ketika pencapaian artistik di atas bertemu kisahnya, yang mengajak penonton merenungkan cara memaknai hidup. Menjawab pertanyaan di paragraf pembuka, “Percikan macam apa yang dibutuhkan dalam kehidupan?”. Rasanya kesadaran bahwa hidup itu sendiri sudah merupakan anugerah adalah percikan yang kita butuhkan.


Available on DISNEY HOTSTAR+

11 komentar :

Comment Page:

REVIEW - ASIH 2

8 komentar

Pada ulasan untuk Danur (2017), saya menyebut bahwa filmnya bagai eksperimen seputar "Berapa banyak ekspresi mengerikan yang mampu Shareefa Daanish perlihatkan?". Tiga tahun berselang, franchise-nya sudah mempunyai lima film, termasuk dua spin-off bagi Asih yang diperankan Shareefa. Di Asih 2, sang hantu rupanya mendapat upgrade. Selain jago nampang, sekarang Asih mampu mengeluarkan suara memekakkan yang niscaya membuat para vokalis band screamo minder, sementara di bangku penonton, saya mengkhawatirkan keselamatan gendang telinga.

Masih ingat pasutri Andi (Darius Sinathrya) dan Puspita (Citra Kirana) dari film pertama? Keduanya kembali muncul. Yah, setidaknya dalam beberapa menit awal, karena Asih langsung menghabisi, kemudian menculik bayi mereka. Beberapa tahun berselang, seorang dokter bernama Sylvia (Marsha Timothy), kedatangan pasien seorang gadis cilik (Anantya Rezky) yang tertabrak mobil. Dia tidak punya keluarga, dan diyakini hidup sendirian di tengah hutan. Teringat puterinya yang meninggal akibat kecelakaan empat tahun lalu, Sylvia memutuskan mengadopsi bocah itu dan menamainya Ana, meski sang suami, Razan (Ario Bayu) sempat menentang.

Tapi merawat Ana tak semudah itu. Selain tidak bisa bicara, ia kerap tertawa sendiri, juga bersikap aneh. Ya, Ana adalah bayi Andi dan Puspita yang diculik Asih. Sebagai hantu narsis yang gemar memasang ekspresi-ekspresi ajaib, pastilah Asih cemburu melihat perhatian Sylvia kepada Ana. “ANAK SAYAA!”, begitu teriaknya berulang-ulang, dengan suara yang tidak kalah menusuk dibanding feedback dari sound system di acara kumpul-kumpul desa. Tentu Sylvia tidak mau kalah, sehingga menghasilkan klimaks di mana kedua karakter secara bergantian meneriakkan, “ANAK SAYAAAA!!!” berulang kali sambil menarik-narik tangan si bocah, seperti dua ibu-ibu komplek tengah berebut sisa cabai di tukang sayur. Mungkin di akhirat, Puspita juga ikut berteriak, “ANAAAAK SAYAAAA!!!!”.

Masih setia menulis naskah sejak Danur adalah Lele Laila. Melanjutkan pendekatan di Asih, teror film ini pun digerakkan secara bertahap cenderung lambat. Menginjak satu jam pertama, barulah Razan berkonfrontasi langsung dengan Asih. Niatnya untuk tidak menghasilkan tontonan yang cuma diisi jump scare mungkin baik, namun lebih baik lagi jika sang penulis coba menjalin cerita mumpuni. Karena praktis, filmnya kosong. Nihil misteri, kecuali kalau anda menganggap kebingungan Sylvia soal lirik lagu Indung Indung (apakah “di udik” atau “diusik”?) sebagai misteri. Saya juga dulu pernah kebingungan memahami lirik di reff lagu Kau Auraku, tapi tidak menganggapnya sebagai misteri. Daripada soal lagu, saya lebih penasaran, mengapa karakternya kadang menyebut diri sebagai “aku”, namun di waktu lain memakai “saya”.

Kualitas terornya pun menurun drastis. Walau tak selalu berhasil tampil menyeramkan, setidaknya Awi Suryadi masih bersedia membangun momentum sebelum hantunya muncul. Di sini, Rizal Mantovani hanya berhasil melahirkan satu-dua jump scare yang mampu tampil mengagetkan. Sisanya, bersiaplah mendengar teriakan “ANAK SAYAAAAA!!!!” di banyak kesempatan.

Padahal saya cukup menaruh harapan bagi Asih 2, mengingat keberadaan nama-nama besar di jajaran cast. Marsha Timothy tetap solid, berusaha sekuat tenaga mengangkat materi kelas teri yang ia dapatkan. Ario Bayu tidak buruk, tapi ketimbang akting, rasanya fokus penonton bakal lebih sering tertuju ke arah wignya. Sedangkan Ully Triani menyia-nyiakan bakatnya kala memerankan Suster Rita, yang seperti Sylvia, lebih banyak memikirkan soal lirik lagu Indung Indung.

8 komentar :

Comment Page:

REVIEW - LET THEM ALL TALK

Tidak ada komentar

Setiap Steven Soderbergh merilis karya baru, pertanyaan-pertanyaan seperti, “Eksperimen apa yang akan dilakukan?”, dan “Genre apa yang bakal dieksplorasi?”, selalu muncul. Let Them All Talk tidak terkecuali. Melakukan pengambilan gambar selama dua minggu dengan latar kapal Queen Mary 2 (yang disewakan secara gratis), Soderbergh memanfaatkan pencahayaan alami, memakai tiga set kamera RED Komodo, menggunakan kursi roda sebagai pengganti dolly, dan yang paling sering dibicarakan adalah ketiadaan naskah final, yang menuntut para pemain berimprovisasi.

Bagaimana membuat keterbatasan di atas tak disadari penonton adalah tantangan yang Soderbergh berikan bagi dirinya. Dia berhasil. Beberapa kali gambar mengikuti pergerakan aktor, dan anda takkan menyadari kamera itu dipegang oleh Soderbergh sembari duduk di atas kursi roda. Terkait naskah, sejatinya ada sedikit miskonsepsi. Deborah Eisenberg yang memperoleh kredit atas naskah Let Them All Talk bukan sekadar membuat outline singkat, melainkan detail karakter, situasi, serta APA yang mereka ucapkan. BAGAIMANA kalimat itu diucapkanlah yang bebas dieksplorasi. Di situlah ensemble cast-nya berperan luar biasa besar.

Meryl Streep memerankan Alice Hughes, seorang penulis yang memenangkan Pulitzer melalui novelnya, You Always/You Never. Pihak penerbit melalui sang agen, Karen (Gemma Chan), berharap Alice melahirkan sekuel, tapi ia menolak. Karen coba merayu secara halus, termasuk dengan menyewakan kapal Queen Mary 2, guna membawa Alice berlayar ke Inggris menghadiri sebuah malam penghargaan literatur. Alice bersedia, asalkan ia boleh mengajak tiga orang: dua sahabatnya, Roberta (Candice Bergen) dan Susan (Dianne Wiest) yang tak ditemuinya selama puluhan tahun, juga sang keponakan, Tyler (Lucas Hedges).

Sepanjang perjalanan itulah, Let Them All Talk, well, membiarkan tokoh-tokohnya berbicara. Roberta masih sakit hati, karena yakin Alice menulis You Always/You Never berdasarkan kisah hidupnya tanpa izin, dan bahwa itulah alasan pernikahannya hancur. Alice sendiri beberapa kali mengajak untuk bicara empat mata, tapi Roberta terus menolak, lebih memilih “berburu” pria-pria kaya, berharap bisa lepas dari jeratan kesulitan finansial. Susan muncul bak penengah, sosok bijak yang berusaha membuat semua orang memandang masalah dari perspektif lain. Sedangkan Tyler mulai menaruh hati pada Karen, yang diam-diam turut serta, dan meminta bantuan Tyler untuk mencari informasi mengenai manuskrip yang sedang Alice buat.

Apakah Soderbergh dan Eisenberg berniat menyampaikan satu gagasan besar di balik interaksi tokoh-tokohnya? Rasanya tidak. Let Them All Talk adalah eksperimen Soderbergh terkait kenaturalan komunikasi verbal. Serupa perihal improvsasi di atas, yang terpenting bukan APA tujuan suatu pembicaraan, tapi BAGAIMANA pembicaraan itu dihantarkan, sehingga penonton merasa terikat tanpa memedulikan konteks di dalamnya.

Tantangan lain dihadirkan oleh monotonitas latar. Alice dan Tyler lebih sering mengobrol pada pagi hari di kamar Alice, Roberta dan Susan sambil bermain Scrabble, sedangkan keempatnya rutin berkumpul di restoran. Apa yang diobrolkan di masing-masing titik pun cenderung sama. Hanya interaksi Tyler dengan Karen yang selalu berpindah lokasi, karena cuma hubungan keduanya yang bersifat “adventurous”. Kesan stagnan, di mana progres minim terjadi sayangnya gagal terhindarkan, namun bukan berarti filmnya membosankan.

Setiap obrolan mampu menarik atensi, bahkan memberi kesan nyaman, yang diperkuat oleh iringan musik-musik jazz garapan Thomas Newman. Trio Streep-Bergen-Wiest membuat saya rela jadi pendengar setia, sekaligus menarik keingintahuan mengamati respon alami yang diberikan ketiganya atas perkataan satu sama lain. Khusus Streep, di sini si aktris legendaris memberi bobot tersendiri bagi jeda antar kata. Bahwa jeda memiliki banyak makna. Entah bentuk aksi-reaksi, upaya memikirkan kata apa yang sebaiknya diucapkan, atau proses regulasi emosi. Sementara bagi Lucas Hedges dan Gemma Chan, merupakan prestasi tersendiri tatkala mereka tidak tenggelam meski bersanding dengan nama-nama senior, bahkan menghasilkan warna berbeda di luar interaksi Alice dan teman-temannya.


Available on HBO MAX

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - SOUND OF METAL

4 komentar

REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER

Apa yang anda bayangkan tiap mendengar sebutan “musisi metal”? Rasanya tidak jauh dari rambut gondrong, tato, gaya hidup rock ‘n roll, hingga sosok gahar, bahkan menyeramkan. Kesan yang muncul karena persona macam itu kerap dipilih oleh para musisi cadas. Sehingga menarik saat melalui Sound of Metal yang ia tulis naskahnya bersama adiknya, Abraham Marder, sutradara Darius Marder justru menampilkan hal sebaliknya, yakni sewaktu musisi metal berada dalam fase paling rapuh nan penuh ketidakberdayaan. Sewaktu sang musisi tak lagi mampu mendengar kebisingan yang identik dengan hidupnya.

Ruben (Riz Ahmed) merupakan penabuh drum duo metal Blackgammon, di mana kekasihnya, Lou (Olivia Cooke), menjadi vokalis. Ruben selalu bangun pagi, membuat jus sehat untuk sarapan sembari memutar musik delta blues. Kemudian setelah Lou membuka mata, keduanya berdansa diiringi lagu romantis. Marder Bersaudara nampaknya memang ingin mendobrak stereotip-setereotip di atas.

Hingga telinga Ruben berdenging keras, dan sejak itu pendengarannya menurun dengan cepat. Dokter menyebut bahwa kini Ruben hanya bisa mendengar 20-30% suara, dan itu bakal segera memburuk. Terdapat opsi memasang implan koklea, namun biayanya begitu tinggi, pun tidak ditanggung asuransi. Momen kali pertama Lou mengetahui kondisi kekasihnya, dikemas mengharukan oleh Darius, tanpa perlu pernak-pernik dramatisasi, membuktikan kapasitasnya membangun emosi lewat visual (selain tentunya suara, yang nanti akan saya bahas).

Berkat bantuan seorang kawan, Ruben dan Lou menemukan sebuah komunitas khusus orang tuli di area pedesaan, yang dijalankan oleh Joe (Paul Raci), yang kehilangan pendengarannya akibat ledakan bom kala Perang Vietnam. Joe menyarankan agar Ruben menetap sementara waktu di sana. Bukan untuk penyembuhan, melainkan belajar hidup tanpa indera pendengaran. Ruben meragu, karena di sana, ia harus mengisolasi diri dari dunia luar, yang artinya, berpisah dengan Lou, yang mesti melanjutkan tur seorang diri.

Di komunitas tersebut, tanpa disadari, Ruben melakukan perjalanan mencari kedamaian, ketika dituntut menghabiskan waktu dengan berdiam diri, atau melakukan hal-hal “remeh” seperti belajar bahasa isyarat, atau bermain bersama anak-anak sesama tuna rungu. Indahnya ketenangan adalah apa yang bakal ia dapat, tapi tentu saja proses itu begitu sulit bagi Ruben, yang terbiasa akan kebisingan dan keriuhan musik.

Kondisi protagonisnya diwakili oleh tata suara luar biasa, yang berpeluang besar mendaratkan nominasi Oscar bagi Sound of Metal. Acap kali suara diredupkan, guna menempatkan kita di posisi Ruben. Bahkan nantinya saat Ruben telah dipasangi implan, seperti apa suara yang dihasilkan implan tersebut juga direka ulang oleh film ini. Walau saya yakin ketepatannya tidak 100%, elemen itu membantu agar penonton tidak dihadapkan pada kondisi abstrak, sehingga dapat ikut merasakan dan memahami kekecewaan, amarah, dan frustrasi dalam benak sang protagonis.

Dari situ saya dibuat mendukung penuh perjalanan Ruben, alhasil kala akhirnya ia mulai bisa beradaptasi, dan memperlihatkan senyum bahagia yang tulus, ada keharuan yang muncul. Sudah pasti performa Riz Ahmed turut berperan. Akting non-verbalnya memaparkan rasa-rasa yang dapat penonton resapi serta pahami. Tatkala Ruben akhirnya menguasai “seni” menerima dan merelakan, di situlah Sound of Metal mencapai puncak emosinya. Saya pun bersyukur Marder Bersaudara menyelipkan konflik romansa secara tepat guna, tanpa kompleksitas berlebih, yang berujung menguatkan kesan bittersweet filmnya. Tidak ada perselingkuhan, tidak ada kekasih jahat, hanya dua manusia yang berusaha menerima, bahwa setelah terpisah beberapa lama, mereka telah menjadi orang yang berbeda.


Available on PRIME VIDEO

4 komentar :

Comment Page:

REVIEW - TENET

25 komentar

Kita semua tahu kecintaan Christopher Nolan terhadap seri James Bond, baik dari pernyataan sang sutradara langsung, maupun lewat karya-karyanya. Tiap ada proyek 007 baru diumumkan, namanya selalu digadang-gadang menjadi nakhoda. Tapi ia mengakui bahwa pembuatan Tenet merupakan masa paling lama di mana ia tidak menonton film si agen rahasia. Menariknya, Tenet justru merupakan film Nolan yang “paling James Bond” sejauh ini, bahkan lebih dari Inception.

Protagonis seorang agen rahasia? Ada. Aksi curi-mencuri dengan berbagai negara sebagai latar? Ada. Sekuen bombastis? Ada. Karakter pendukung wanita cantik? Ada. Antagonis yang berambisi menguasai dunia? Ada, walau kata “menguasai” di sini tidak seliteral itu. Bedanya, Bond tidak harus berurusan dengan waktu yang terbalik.

Ya, Nolan kembali bermain-main dengan konsep waktu kegemarannya, dan jika anda menganggap Inception, Interstellar, apalagi Memento membingungkan, bersiaplah, sebab Tenet bakal membuat judul-judul itu bak soal ujian SD. Bahkan sebelum gagasan utamanya diperkenalkan, adegan pembuka yang memperlihatkan protagonis tanpa nama kita (John David Washington) menjalankan misi di Kyiv sebagai anggota CIA, sudah akan memancing pertanyaan. Siapa dia? Siapa mereka? Apa yang sedang dilakukan? Kenapa?

Singkat cerita, pasca misi tersebut, si protagonis direkrut ke dalam organisasi misterius bernama Tenet, yang bertujuan menghentikan akhir dunia. Bukan karena nuklir sebagaimana si protagonis kira, namun akibat senjata dari masa depan yang dapat memutarbalikkan waktu. Bersama seorang kontak bernama Neil (Robert Pattinson), penyelidikan si protagonis terhadap sang pemilik senjata membawanya berurusan dengan oligark Rusia, Andrei Sator (Kenneth Branagh). Istri Sator, Kat (Elizabeth Debicki), yang sudah tidak tahan lagi terhadap kekangan sang suami pun turut mengulurkan bantuan.

Tidak terdengar rumit, karena seperti telah disinggung, kerangka alurnya memang mencerminkan formula Bond. Menjadi kompleks ketika elemen time inversion mulai ambil bagian, terlebih pasca suatu mesin berbentuk pintu putar (disebut “turnstile”) diperkenalkan. Mesin itu bisa membuat seseorang menjalani waktu secara terbalik, dan saat itu terjadi, kita akan melihat dua linimasa berjalan beriringan.

Sebenarnya konsep waktu Tenet tidak serumit itu. Cukup pahami konsep turnstile, dan semuanya terjelaskan. Menjadi terksan rumit, karena naskah buatan Nolan sebatas menyediakan penjelasan melalui kalimat-kalimat singkat yang berlalu dengan cepat, sambil terus menggerakkan alurnya. Salah satu alasan mengapa Nolan spesial adalah keengganannya “menyuapi” penonton, tapi kali ini, dampaknya adalah kompleksitas yang acap kali tidak diperlukan.

Mengapa tidak diperlukan? Karena sejatinya, Tenet menyimpan potensi untuk melahirkan kisah emosional, andai drama berbasis karakter dikedepankan, dengan time inversion sebagai pendukung, alih-alih sebaliknya. Misalnya perjuangan Kat mendapatkan kebebasan (tanpa disadari Kat telah menyaksikan kebebasannya sendiri). Pula persahabatan unik protagonis kita dengan Neil, yang begitu hidup berkat banter Washington dan Pattinson. Atau yang lebih filosofis, tentang sang protagonis sebagai “penjinak bom yang tidak pernah meledak”. Bayangkan dari balik kegelapan, anda menyelamatkan seseorang, tanpa orang itu tahu sudah anda selamatkan. Bahkan ia tidak sadar kalau butuh diselamatkan. Isn’t that heartful?

Setidaknya bagi para pecinta teka-teki khususnya yang berkaitan dengan konsep perjalanan waktu, melihat dua linimasa bertemu, lalu mendapati bagaimana tanpa disadari keduanya saling terikat dan mempengaruhi, merupakan aktivitas yang menyenangkan. Di sinilah ketidaksukaan Nolan kepada dramatisasi justru memperkuat filmnya. Jika banyak sineas lain bakal memperlakukan tiap keterikatan sebagai “big reveal’, Nolan tidak demikian. Seolah baginya semua itu merupakan kewajaran, dan bagi saya, proses mengungkap sendiri kaitan peristiwa A dan B, menjadi hiburan tersendiri.

Tentu hiburan terbesar Tenet berasal dari aksinya. Saya cukup yakin, ketertarikan utama Nolan atas konsep ini bukan didasari keinginan bercerita, melainkan mengeksekusi ide-ide sekuen aksi yang (seperti biasa) mendobrak batas. Masih tanpa bantuan green screen, selain beberapa “rutinitas” masif khas Nolan seperti meledakkan Boeing 747, momen-momen paling memukau tentu saja selalu melibatkan time inversion. Gedung tidak sekadar luluh lantah, namun seolah dihancurkan dan “didirikan” secara simultan. Time inversion juga berguna menyembunyikan fakta, bahwa lebih dari satu dekade setelah The Dark Knight, kemampuan Nolan membungkus aksi baku hantam belum mengalami peningkatan berarti.

Anda harus menontonnya sendiri untuk memahami maksud deskripsi di atas, dan merasakan betapa imajinatif sang sineas mengemas aksi. Saya terpukau walau cuma menyaksikannya di Blu-ray. Entah bagaimana di layar lebar, apalagi IMAX. Bersabarlah sedikit lagi, sebab kalau tidak ada rintangan, menurut sumber terpercaya, rencananya Tenet akan tayang di bioskop Indonesia mulai Januari 2021.


Available on DVD, BLU-RAY & DIGITAL SERVICES

25 komentar :

Comment Page:

REVIEW - QUARANTINE TALES

4 komentar

Dibuat semasa pandemi dengan berbagai keterbatasan, rupanya tak menghalangi Quarantine Tales menjadi salah satu omnibus terbaik Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Padahal, dari kelima sutradara yang membidani lima segmen pengisi 87 menit durasinya, hanya Ifa Isfansyah yang berpengalaman menggarap film feature. Jason Iskandar, Sidharta Tata, dan Aco Tenriyagelli lebih dikenal di skena film pendek, sedangkan seperti kita tahu, Dian Sastrowardoyo baru menjalani debutnya.

Alasan Quarantine Tales menonjol dibanding sesamanya adalah perbandingan kualitas tiap segmen yang cenderung seimbang, sehingga dinamikanya terjaga secara konsisten. Nougat yang selain disutradarai, juga ditulis sendiri oleh Dian Sastrowardoyo, membuka Quarantine Tales lewat kisah tiga saudari, yang tumbuh bersama, namun seiring pertambahan usia, hubungan mereka makin renggang, dan cuma berkomunikasi lewat video call.

Ubay (Marissa Anita) menjauh dari kedua adiknya selepas menikahi seorang pria yang mengontrol hidupnya, si bungsu Deno (Faradina Mufti) tengah menyelesaikan kuliah, sementara Ajeng (Adinia Wirasti) yang masih tinggal di rumah mendiang orang tua mereka, jadi figur yang berusaha menyatukan keluarganya. Bukan kejutan bila saya menyebut bahwa ketiga aktrisnya merupakan penggerak utama Nougat. Adinia yang lebih pendiam, Faradina yang ceria, dan Marissa yang cepat panas, membuat saya bersedia duduk berjam-jam mendengarkan obrolan ketiganya. Di ranah penulisan, daripada mengambil latar pandemi, Dian dengan cerdik memilih melahirkan komparasi. Tanpa COVID pun, kita sudah berjarak.

Prankster selaku segmen kedua merupakan yang terlemah. Kisah tentang “Youtuber prank” bernama Didit Iseng (Roy Sungkono) yang tengah melakukan siaran langsung bersama Aurel (Windy Apsari) sang bintang tamu ini sejatinya tidak buruk, hanya saja dipenuhi keklisean genre revenge horror/thriller. Naskah buatan sang sutradara, Jason Iskandar, perlu menyediakan rencana balas dendam yang lebih pintar bagi karakternya, yang tak membuatnya terkesan “menggali kuburan sendiri”. Paling tidak, hasrat terpendam penonton untuk menghukum para prankster dunia nyata mampu diwakili oleh Jason.

Segmen Cook Book, yang ditulis Ifa Isfansyah bersama Ahmad Aditya, menyusul kemudian. Mengisahkan usaha Chef Halim (Verdi Solaiman) menulis buku resep di tengah masa karantina, Cook Book menyelipkan salah satu tragedi bangsa, dalam penuturan mengenai kerinduan terhadap “ikatan”. Di tengah kesepian akibat karantina, rasa itu menguat, dan kita mulai merindukan sosok-sosok tercinta, termasuk yang sudah meninggalkan kita. Cook Book menyajikan kepahitan yang rasanya dapat dipahami oleh banyak penonton.

Happy Girls Don’t Cry milik Aco Tenriyagelli adalah segmen favorit saya. Sri Arawinda Kirana memerankan Adin, gadis remaja yang keluarganya diterjang masalah bertubi-tubi akibat COVID. Adiknya (Muzakki Ramdhan) baru saja meninggal, sementara kedua orang tuanya (diperankan Teuku Rifnu Wikana dan Marissa Anita) terlilit begitu banyak hutang. Adin bermimpi memenangkan giveaway dari Youtuber favoritnya demi memperbaiki kondisi finansial keluarga. Tapi tatkala impian itu terwujud, masalah lebih besar justru menghampiri.

Aco menghadirkan satir tajam nan menggelitik perihal eksploitasi kemiskinan di media sosial, pada masa di mana orang-orang berharap memperoleh “uang kaget”. Sindirannya adil, sebab Aco menyentil seluruh pihak, baik kaya maupun miskin. Anda bakal berujar, “Ah, segmen ini memihak A”, kemudian, “Oh, ternyata B”, sebelum akhirnya menyadari, tidak ada satu pun yang “dimenangkan” oleh Happy Girls Don’t Cry. Tidak ada tawa yang tak dibarengi keperihan di segmen ini.

Sebagai penutup adalah The Protocol karya Sidharta Tata, di mana seorang pria (Abdurrahman Arif) sedang kelabakan, begitu mengetahui rekan seperjalanannya, Icuk (Kukuh Prasetya), meninggal di dalam mobil setelah memperlihatkan gejala COVID. Berikutnya, kita diperlihatkan pemandangan-pemandangan menggelikan kala sang protagonis kebingungan, harus mengurus jenazah temannya dengan cara apa. The Protocol begitu efektif memancing tawa di menit-menit pertama, namun ketika humor setipe diulang terus-menerus, kekuatannya perlahan memudar. Memang bukan penutup luar biasa, paling tidak segmen ini sukses mengakhiri sebuah film mengenai masa sulit dengan tawa bahagia.


Available on BIOSKOP ONLINE

4 komentar :

Comment Page:

REVIEW - WONDER WOMAN 1984

22 komentar

Di salah satu adegan, Wonder Woman/Diana Prince (Gal Gadot) berayun dengan mengaitkan lasonya ke sebuah roket. Itu saja sudah merupakan momen memukau, tapi yang membuatnya spesial adalah, Wonder Woman repot-repot melakukan itu bukan Cuma untuk mengalahkan musuh, melainkan menyelamatkan dua anak kecil yang berada di tengah jalan. Sutradara Patty Jenkins menyebut Superman (1978) sebagai inspirasi kala menggarap Wonder Woman (2017), dan pengaruh karya Richard Donner tersebut makin kentara di Wonder Woman 1984. Sebuah escapism, sebuah film pahlawan super penuh keajaiban, hati, serta harapan.

Di pertengahan pandemi, banyak pihak mengira Christopher Nolan bakal menyelamatkan industri film, termasuk keberlangsungan bioskop, melalui Tenet. Prediksi itu meleset. Tapi mungkin saja Wonder Woman 1984-lah penyelamat yang dinanti. Penonton sedang butuh harapan. Daripada otak, hati lebih memerlukan asupan. Film ini langsung menjawab kebutuhan itu sejak adegan pembuka, ketika sinematografer Matthew Jensen menyapukan kamera di atas bentangan alam Themyscira, diiringi musik Hans Zimmer, yang walau masih epik, kali ini lebih mengedepankan nuansa magis alih-alih dentuman. Awal yang indah, apalagi mengingat begitu banyak dari kita merindukan kebebasan berada di luar.

Dari situ, kita diajak menyaksikan turnamen atletik, di mana Diana kecil turut serta, melawan prajurit-prajurit Amazon dewasa. Lilly Aspel melanjutkan perannya di film pertama sebagai Diana kecil, dan sungguh berbakat bocah ini. Anda bakal percaya jika kelak ia tumbuh menjadi salah satu pahlawan super terkuat di semesta DC. Pembukaan tersebut punya dua fungsi. Pertama, memberi latar bagi Diana sebagai sosok yang senantiasa berpegang pada kebenaran, dan kedua, menanam benih soal Asteria, si pemilik baju zirah emas yang di puncak film akan dikenakan Diana. Jangan lewatkan mid-credits scene yang mengungkap siapa pemeran Asteria. Jika anda tidak mengenalnya, ia adalah legenda, salah satu figur yang paling berjasa mengangkat Wonder Woman di budaya populer dunia.

Melompat ke tahun 1984, Diana dewasa telah hidup di tengah masyarakat dan bekerja sebagai antropolog di The Smithsonian, meski duka akibat kematian Steve Trevor (Chris Pine) membuatnya selalu menenggelamkan diri dalam kesendirian. Di The Smithsonian, terjadilah pertemuan Diana dengan ilmuwan bernama Barbara (Kristen Wiig), yang mengidolakan segala kesempurnaan Dunia. Sejak era SNL, Wiig jagonya menghidupkan karakter canggung yang mudah disukai penonton, dan Barbara bukan pengecualian. Bahkan selepas bertransformasi menjadi Cheetah, saya tetap bersimpati padanya. Barbara bukan villain haus kekuatan yang ingin menguasai dunia. Dia hanya ingin merasakan cintanya dibalas.

Tapi bukan Cheetah saja musuh Wonder Woman di sini. Ancaman terbesar justru datang dari artefak misterius yang konon bisa mengabulkan semua permintaan. Artefak itu membawa Diana berkonfrontasi dengan Maxwell Lord (Pedro Pascal), si pebisnis minyak sekaligus bintang televisi. Keberadaan lebih dari satu antagonis otomatis memperbanyak cabang penceritaan film, dan Patty Jenkins, Geoff Johns, dan David Callaham yang menulis naskahnya, mampu menyatukannya secara rapi.

Bahkan cabang-cabang itu mereka manfaatkan untuk melahirkan rangkaian cerita masif berdurasi 151 menit, yang membawa karakternya berpetualang ke berbagai lokasi, termasuk Mesir. The stakes are high in this movie. Banyak film pahlawan super menampilkan ancaman berskala global, tapi sedikit yang mampu membuat penonton ikut merasakan seberapa besar ancaman itu (khsusnya kalau bukan berstatus film team-up) sebagaimana Wonder Woman 1984. Meski harus diakui, di banyak titik sewaktu aksinya absen, film ini kerap limbung, akibat minimnya penulisan dialog menarik, juga kisah yang stagnan.

Kesan masif di atas turut diciptakan oleh rangkaian aksinya. Film pertama memang punya adegan “No Man’s Land”, tapi sisanya tak begitu spesial, terlebih klimaks medioker berorientasi CGI-nya. Jenkis memperbaiki semua kekurangan itu. Pondasinya adalah kreativitas di ranah konsep. Sebagai salah satu holy trinity milik DC, haram hukumnya melibatkan Wonder Woman dalam pertarungan ala kadarnya. Bersama Johns dan Callaham, Jenkins memanfaatkan benda-benda ajaib milik Diana, yang mungkin oleh penonton di luar pembaca komik, belum diketahui kehebatannya.

Kalau Batman punya batarang, maka Wonder Woman bisa melemparkan tiara untuk melumpuhkan musuh. Selain dipakai menjerat dan memaksa lawan bicara jujur, Lasso of Truth dapat membuat Wonder Woman berayun di angkasa. Seperti Spider-Man? Nanti dulu. Apakah jaring milik Peter Parker bisa menjerat petir yang sedang menyambar? Dibantu penataan Matthew Jensen yang membuat kamera bergerak dinamis mengikuti kelincahan Wonder Woman, Jenkins menjadikan tiap shot terlihat besar, masif, epik.

Di titik ini saya rasa cuma orang bodoh, dengki, atau pembenci ulung yang mempertanyakan pemilihan Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Jika di film pertama ia tangguh tetapi naif, di sini Gal Gadot memberi kita sosok pahlawan berpengalaman, yang tampak meyakinkan kala berakrobat, melayang di udara, atau mendorong sebuah mobil lapis baja sebagai tameng sambil berlari secepat kilat.

Tapi seperti sudah disinggung di awal tulisan, Wonder Woman 1984 bukan cuma suguhan  bombastis. Film ini mempunyai hati yang tidak kalah besar. Mungkin anda ingat sebuah shot di trailer, ketika Diana dan Steve berada dalam pesawat, sementara di luar, kembang api menghiasi langit malam. Satu yang tak diungkap secara gamblang di trailer (walau pembaca komik pasti sudah bisa menebaknya), mereka berdua ada di pesawat tak terlihat. Bagi saya itulah momen paling romantis di sini. Di bawah warna-warni kembang api, Diana dan Steve tersembunyi dari dunia luar, seolah ruang dan waktu hanya milik mereka berdua.

Dan tidak ada yang lebih sempurna merepresentasikan pesan heroisme film ini dibanding klimaksnya. Di blockbuster lain, klimaks tersebut mungkin akan terasa mengecewakan. Antiklimaks. Tapi tidak dalam Wonder Woman 1984, sebuah film yang berpesan bahwa sesungguhnya, sosok pahlawan bukan Diana seorang, namun seluruh umat manusia. Semua bisa menyelamatkan dunia melalui caranya masing-masing. Sungguh pesan yang relevan sekaligus berharga di kondisi dunia seperti sekarang.

22 komentar :

Comment Page:

REVIEW - THE WRETCHED

Tidak ada komentar

The Wretched adalah film pertama sejak Avatar (2009) yang sukses memuncaki daftar Box Office selama enam minggu beruntun. Tentu saja kalau bukan akibat pandemi, kecil kemungkinan rekor itu tercipta. Pertama, karena judul-judul lebih besar termasuk Black Widow sejatinya bakal tayang di bulan yang sama (Mei). Kedua, pencapaian itu pun sebenarnya bisa dibantah, kalau distributor selain IFC melaporkan angka pendapatan mereka. Beberapa analis percaya bahwa Trolls World Tour adalah jawara sebenarnya.

Pun berkaca pada filmnya, The Wretched bukan tipikal horor yang akan dibanjiri common audience. Pendekatan sepi jump scare jadi alasan. Tapi penikmat horor alternatif rasanya juga takkan sebegitu terpukau, tatkala filmnya sendiri bak kebingungan ingin menjadi apa. Duo sutradara sekaligus penulis naskah, Brett Pierce dan Drew T. Pierce (dipanggil “Pierce Bersaudara”), coba melahirkan satu lagi homage terhadap horor 80an, namun terombang-ambing, antara horor arus samping yang mengedepankan atmosfer dan imagery, atau horor keluarga Spielbergian, yang cenderung menghasilkan petualangan seru.

Atmosfernya tak cukup mencekam, barisan imageries-nya belum menghasilkan ketidaknyamanan sebagaimana mestinya, sedangkan petualangannya tak cukup menyenangkan. Maka sewaktu musik garapan Devin Burrows beberapa kali memperdengarkan orkestrasi Spielbergian, rasanya tidak pernah benar-benar cocok.

Protagonisnya kita adalah Ben (John-Paul Howard), remaja bermasalah yang sedang menghabiskan libur musim panas bekerja di pelabuhan bersama ayahnya, Liam (Jamison Jones), sementara kedua orang tuanya tengah menjalani proses perceraian. Di situlah Ben mencium ketidakberesan dari rumah tetangga mereka, Abbie (Zarah Mahler). Rangkaian peristiwa aneh mendorong Ben melakukan investigasi, kemudian berkesimpulan bahwa tubuh Abbie sudah diambil alih sesosok penyihir yang mampu menghapus seseorang dari ingatan keluarganya. Target si penyihir adalah Dillon (Blane Crockarell), putera Abbie.

Ben kesulitan meyakinkan orang-orang atas cerita tersebut. Baik sang ayah, hingga Mallory (Piper Curda), sesama pegawai pelabuhan yang belakangan berhubungan dekat dengannya, semua menolak percaya. Wajar saja. Sebagai penonton, saya pun gagal dibuat memedulikan Ben. Dia remaja kurang ajar yang mencium gadis lain hanya beberapa saat setelah nyaris mencium Mallory, juga seenaknya kabur dari makan malam bersama Sara (Azie Tesfai), pacar baru Liam, yang ia gagas sendiri. Apa sisi positif protagonis satu ini?

Mengapa pula saya harus peduli pada misterinya, di tengah kedangkalan serta inkonsistensi yang dibangun Pierce Bersaudara terkait mitologi si penyihir, termasuk kemampuannya? Konon penyihir itu mampu mencuci otak manusia. Hanya lewat suatu bisikan, seseorang akan melakukan semua perintahnya. Sampai di satu titik, si penyihir memerintahkan polisi membunuh Ben, namun karena Ben merupakan tokoh utama, mendadak polisi itu tidak sanggup menarik pelatuk.

Harus diakui The Wretched didukung tata rias dan efek praktikal mumpuni. Tampilan penyihir, pula ketika ia keluar dari tubuh manusia tampak amat meyakinkan, penonton berperut lemah mungkin merasa perlu memalingkan wajah. Tapi secara keseluruhan, The Wretched tidak mengerikan. Sesederhana itu. Menempatkan figur aneh di sudut gelap tidak serta merta menimbulkan kengerian. Klimaks kacau berlatar gelapnya hutan juga lebih terasa memusingkan ketimbang menegangkan, akibat penyuntingan kilat yang susah dilihat.

Belum lagi membicarakan twist yang membuat saya mempertanyakan sudut pandang penceritaan naskahnya. Twist yang menjadikan protagonis kita seorang unreliable narrator, tapi mengingat The Wretched dituturkan melalui sudut pandang orang ketiga, kejutan itu terasa tidak lebih dari sebuah usaha mencurangi penonton.


Available on HULU

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - THE PROM

1 komentar

Ryan Murphy kembali ke kursi penyutradaraan film panjang setelah satu dekade absen (terakhir melalui Eat Pray Love). Tapi berkat karya-karyanya di layar kaca, kita tahu harus berekspektasi seperti apa terhadap The Prom, sebuah komedi musikal remaja sarat pesan relevan mengenai kesetaraan dan self-love, serta inklusivitas yang memberi kesempatan bersuara bagi para minoritas, meski di tangan Murphy, suara tersebut dipenuhi keklisean, drama opera sabun, serta kemustahilan.

Diadaptasi oleh duo penulis naskah Bob Martin dan Chad Beguelin dari musikal Broadway berjudul sama, yang juga dilahirkan oleh mereka berdua, The Prom mengisahkan tentang malam prom di sebuah SMA di Indiana, yang dibatalkan. Menurut Greene (Kerry Washington) selaku ketua POMG, pembatan itu dikarenakan salah satu siswi, yaitu Emma Nolan (Jo Ellen Pellman), berniat membawa sesama perempuan ke acara tersebut. Walau didukung penuh oleh Tom Hawkins (Keegan-Michael Key) sang kepala sekolah, Emma tetap mendapat celaan dari seisi sekolah.

Di tempat lain, dua bintang Broadway narsis, Dee Dee Allen (Meryl Streep) dan Barry Glickman (James Corden), tengah merasa hancur karena pertunjukan terbaru mereka dicela habis-habisan oleh kritikus. Sampai berita mengenai Emma memberi keduanya ide. Demi publisitas, Dee Dee dan Barry, ditemani Trent Oliver (Andrew Rannells) si lulusan Julliard graduate dan Angie Dickinson (Nicole Kidman) si chorus girl, berniat datang ke Indiana guna membantu Emma.

Sebagaimana negara-negara adidaya merasa negara miskin butuh uluran tangan mereka untuk meraih kesejahteraan, atau SJW kota besar penghuni cafe mahal menganggap orang-orang desa perlu mereka edukasi, keempat bintang Broadway ini ngotot memberi bantuan, tanpa tahu (baca: peduli) apa yang Emma butuhkan. Tapi sekali lagi, ini film Ryan Murphy, di mana manusia-manusia berperangai buruk bakal menyadari kesalahan, kemudian berubah. Walau perubahan itu tak melalui proses yang meyakinkan.

Bahkan melalui kacamata musikal, di mana nyanyian dapat menyelesaikan masalah, simplifikasi yang dilakukan The Prom termasuk berlebihan. Sesuka apa pun saya mendengar sindiran terhadap kemunafikan para homofobia soal pengaplikasian ajaran Alkitab dalam nomor Love Thy Neihgbor, sekuen musikal ini jadi bukti nyata penyederhanaan filmnya atas masalah kompleks. Tapi saya yakin Murphy, Martin, dan Beguelin menyadari itu.

Meski mengganggu, rasanya mereka bukan sedang membodohi penonton. Kekurangan di atas merupakan kesengajaan. Seperti perkataan Pak Hawkins mengenai bagaimana Broadway menjadi eskapisme, The Prom menyediakan tempat bagi penonton untuk kabur dari ketidakadilan realita, ditemani lagu-lagu super catchy berlirik super cheesy. Murphy pun mampu melahirkan hiburan menyenangkan di deretan sekuen musikal, contohnya klimaks meriah berlatar malam prom, yang biarpun lagi-lagi terkesan naif, mengandung niat baik, yakni menyediakan safe haven bagi semua orang, apa pun gender dan preferensi seksual mereka.

Penceritaan The Prom bukan hanya terganggun simplifikasi, juga penyertaan subplot, juga momen-momen tidak perlu. Mungkin para penulis ingin penonton juga peduli pada karakter-karakter selain Emma, namun akibatnya, fokus melebar, pun durasi membengkak hingga 131 menit. Mungkin bakal melelahkan andai filmnya tidak memiliki jajaran pemain jempolan. Di luar dugaan Corden cukup baik mengolah rasa, Keegan memberi kita figur likeable, begitu pula Pellman, sebagai protagonis yang dengan senang hati kita dukung berkat keteguhan dan kekuatannya. Streep? Mungkin tidak banyak aktris selain Streep yang mampu menggabungkan sisi komikal over-the-top dengan kerapuhan sosok bintang paruh baya yang hatinya tak seglamor citranya. Sementara performa Kidman di lagu Zazz bakal membuatmu merindukan Satine dari Moulin Rouge!, berharap suatu hari sang aktris akan mendapatkan proyek musikal serupa sebagai bintang utama.


Available on NETFLIX

1 komentar :

Comment Page: