REVIEW - KUNTILANAK 3
Seperti telah saya sebutkan di ulasan untuk Mangkujiwo (2020), seri baru Kuntilanak menunjukkan keberanian menjauh dari citra trilogi "aslinya", walaupun secara kualitas tidak begitu solid. Horor anak di film pertama, ditambah sedikit sentuhan fantasi di film kedua, lalu total bertransformasi jadi fantasi ala Wizarding World di film ketiga, yang mana belum pernah dijamah industri kita.
Dinda (Nicole Rossi) dianggap aneh gara-gara kekuatan telekinesisnya (She's like the Scarlet Witch of 'Kuntilanak' universe), dan belakangan ia makin meyakini tudingan tersebut. Apalagi pasca secara tidak sengaja melukai Panji (Adlu Fahrezy) dan Ambar (Ciara Brosnan yang jago mencuri perhatian kali ini sayangnya cuma jadi extended cameo). Karena itulah Dinda memutuskan masuk ke sekolah cenayang bernama Sekolah Mata Hati agar dapat mengontrol kekuatannya.
Di sanalah Dinda bertemu anak-anak spesial lain, seperti Dennis (Farras Fatik) bisa membuat bola api, Uchi (Clarice Cutie) dengan kemampuan teleportasi, hingga Mala (Romaria Simbolon) si penyembuh. Anak-anak berkekuatan super, tata artistik mumpuni, scoring bernuansa magis milik Stevesmith Music Production. Berkat semua itu, menginjakkan kaki ke Sekolah Mata Hati terasa seperti memasuki dunia baru yang asing dalam perfilman Indonesia. Dunia fantasi ala Wizarding World.
Terlebih begitu berkenalan dengan orang-orang berpenampilan eksentrik di balik Sekolah Mata Hati. Baskara (Wafda Saifan) si kepala sekolah, Adela (Nafa Urbach) dan Bejo (Amink) selaku pengajar, juga Eyang Sukma (Sara Wijayanto) yang mengatur segalanya dari belakang layar. Tampilan ala Limbad milik Amink mungkin agak menggelitik, namun kostum Sara Wijayanto di klimaks bak penebusan yang layak dari Agustino Mohede selaku penata busana.
Kelemahan utama Kuntilanak 3 memang terkait inkonsistensi. Sebuah departemen bisa tampil apik di satu titik, kemudian mengalami penurunan di titik berikutnya. Naskah buatan Alim Sudio tidak terkecuali. Bangunan dunianya kreatif, tapi cukup keteteran ketika mengembangkan mitologi. Miko (Ali Fikry) dan Kresna (Andryan Brima) nekat menjemput Dinda selepas membaca berita mengenai murid Sekolah Mata Hati yang melihat kuntilanak, sebelum menghilang secara misterius. Sekolah cenayang yang menyembunyikan alamatnya ternyata tak serahasia itu, sampai hilangnya para murid diketahui wartawan.
Rizal Mantovani kembali duduk di kursi penyutradaran, dan keunggulan sekaligus kekurangan pengarahannya terangkum lengkap di klimaks. Rizal tegas meninggalkan shot-shot horor termasuk menekan kuantitas jump scare. Sosok kuntilanak lebih dekat ke antagonis fantasi, yang fungsi kemunculannya adalah menakut-nakuti protagonisnya. Bukan penonton.
Tapi biarpun dibekali CGI kelas satu (filmnya menyadari itu, lalu tidak ragu memperlihatkan sang kuntilanak secara jelas dan sering), Rizal masih lemah dalam membungkus adegan berintensitas tinggi. Pilihan shot-nya di beberapa adegan aksi amatlah canggung. Klimaksnya berpotensi tampil luar biasa andai tak diganggu kelemahan tersebut, ditambah naskah yang menawarkan cara sangat sederhana guna mengalahkan kuntilanak, tapi anehnya, cara itu baru disebut ketika memasuki situasi genting.
Begitulah Kuntilanak 3. Inkonsisten. Konsepnya unik, namun keseruan dihalangi oleh aliran alur yang tergolong draggy bagi hiburan berisikan protagonis anak. Tapi mengalihkan perhatian dari layar pun sulit ketika Nicole Rossi, yang menggantikan Sandrinna Michelle, menghantarkan akting kuat. Menarik pula menantikan eksplorasi ke arah mana lagi yang bakal dijajal franchise ini, apalagi membaca nama familiar yang muncul di tengah-tengah kredit akhir.
REVIEW - KKN DI DESA PENARI
Sudah mundur berkali-kali sejak rencana awal penayangan 19 Maret 2020, nyatanya KKN Di Desa Penari tetap dibanjiri penonton (angka sejuta bakal dicapai sebelum seminggu). Apa yang membuatnya fenomenal? Utas viral di Twitter yang disampaikan SimpleMan efektif karena ada "kedekatan". Sebab sebelum ini pun, peristiwa mistis di tengah KKN, termasuk yang melibatkan kemesuman mahasiswa, sudah kerap mengisi obrolan.
Kedekatan itu memudahkan pembaca mengasosiasikan diri dengan nasib tokoh-tokohnya, baik yang jadi "korban langsung", maupun mereka yang terkena dampak perbuatan kawan-kawannya. Kedekatan itu lenyap dari adaptasi layar lebar buatan Awi Suryadi, yang cuma tertarik memvisualkan petikan-petikan tweet SimpleMan layaknya sketsa, ketimbang membangun keutuhan dunianya.
Setelah mendapat persetujuan Pak Prabu (Kiki Narendra) selaku kades, entam mahasiswa menjalankan KKN di sebuah desa terpencil. Nur (Tissa Biani), Bima (Achmad Megantara), Ayu (Aghniny Haque), Widya (Adinda Thomas), Anton (Calvin Jeremy), dan Wahyu (M. Fajar Nugraha), mulai melaksanakan proker, meski sejak kedatangan sudah mencium aroma ketidakberesan.
Saya jarang mengharapkan penokohan solid di film horor, tapi tanpanya, kekuatan KKN Di Desa Penari berkurang drastis. Sedikit melompat, film ini mempunyai third act kuat (belongs in a better movie) berisi tarian intens (performa Aghniny Haque yang di sepanjang film biasa saja, tiba-tiba melonjak di titik ini) dan konklusi yang mengincar rasa tragis. Masalahnya, tidak satu pun individu diberi penokohan jelas, interaksi kurang digali, apa yang dikerjakan selama KKN juga entah apa. Sulit terkoneksi dengan karakternya, dan tanpa koneksi, tiada sense of tragedy.
Naskahnya ditulis oleh Lele Laila, yang jadi langganan Awi Suryadi dalam semua keterlibatannya di seri Danur sebagai sutradara. Berkaca dari masa lalu, mudah menebak pendekatan kolaborasi keduanya: kompilasi teror. Naskahnya mengadaptasi utas SimpleMan secara apa adanya, tanpa usaha menjalin penceritaan secara utuh.
Gaya pengarahan Awi untuk KKN Di Desa Penari cenderung lebih dekat ke Asih ketimbang trilogi Danur. Tempo lambat di awal guna menciptakan atmosfer, sembari menghindari kebisingan jump scare. Harus diakui, gaya di atas, ditambah biaya tinggi yang memfasilitasi "hobi" sang sutradara tampil stylish (camerawork, efek transisi), menjauhkan film ini dari kesan murahan. Tapi menjadi percuma tatkala masih menyamakan "alur" dengan "kompilasi teror".
Sebuah sekuen cocok dijadikan gambaran mengapa KKN Di Desa Penari cocok disebut "kompilasi teror" atau "sketsa horor". Nur dan Widya hendak bergantian mandi. Nur masuk lebih dulu, namun akhirnya mengurungkan niat mandi gara-gara melihat genderuwo. Widya lebih beruntung. Dia sempat mandi (kalau "berkali-kali mengguyurkan air ke satu tempat" bisa disebut "mandi"), sebelum dikunjungi oleh Badarawuhi (Aulia Sarah) si hantu penari.
Repetisi ala sketsanya makin terasa akibat presentasi setiap penampakan tak seberapa berkesan, walau sekali lagi, biaya tinggi menguatkan kualitas elemen artistik, termasuk tata rias meyakinkan saat Badarawuhi muncul dengan wujud aslinya.
Hasilnya akan lain apabila di sela-sela waktu tersebut penonton berhasil dibuat terkoneksi dengan tokoh-tokohnya, sekaligus diajak ikut tenggelam dalam pertanyaan serta ketidakberdayaan mereka. Kisahnya selalu lebih menarik tatkala Pak Prabu menyinggung sedikit demi sedikit masa lalu kelam desanya, atau ketika Mbah Buyut (Diding Boneng) berbagi sekilas ilmu mengenai mistisisme. Alias, tersimpan setumpuk potensi berbentuk cerita perihal kepercayaan mistis khas daerah Indonesia, yang dibiarkan terkubur tanpa sering dijamah oleh filmnya.
REVIEW - GARA-GARA WARISAN
Melakoni debut penyutradaraannya, Muhadkly Acho (juga selaku penulis naskah, posisi yang pernah ia tempati di Kapal Goyang Kapten) mengikuti jejak Ernest Prakasa (menjabat produser film ini) sebagai komika yang mampu menggabungkan humor dengan drama keluarga menyentuh.
Tapi Gara-Gara Warisan takkan langsung menggigit. Film ini lambat panas. Sekitar 15-20 menit pertama, saya bahkan mengira bakal pulang dengan kekecewaan. Sekuen pembukanya meletakkan pondasi bagi konflik utama, di mana kita mengunjungi Dahlan (Yayu Unru) dan Salma (Lydia Kandou), pasutri pengelola guest house dengan tiga anak. Salma mengidap kanker, lalu meninggalkan suami beserta anak-anaknya.
Pembukaan tersebut, yang dikemas bak kumpulan fragmen, sayangnya dirangkai kurang rapi, pula kurang intim untuk bisa menghasilkan dampak emosi (seperti replikasi lebih lemah dari Up). Lalu secara bergantian kita menyambangi hidup ketiga anaknya.
Adam (Oka Antara) si sulung, yang sejak kecil merasa tak dianggap oleh ayahnya, menikahi Rini (Hesti Purwadinata), memiliki satu putera, dan bekerja di bagian customer service. Laras (Indah Permatasari) mengabdi dengan cara mengelola panti wreda bersama Benny (Ernest Prakasa). Si bungsu yang paling dimanja, Dicky (Ge Pamungkas), adalah musisi yang lebih banyak menghabiskan waktu mengonsumsi narkoba bersama Vega (Sheila Dara), pacarnya, ketimbang bermusik.
Semua tengah kesulitan ekonomi, semua punya masalah personal dengan anggota keluarga lain. Adam merasa sang ayah hanya menyayangi Dicky, sedangkan Laras pergi dari rumah karena enggan bertemu ibu tirinya, Asmi (Ira Wibowo). Alurnya terus melompat, harus membagi waktu antar karakter karena bentuknya yang lebih dekat ke arah ensambel ketimbang fokus ke satu sosok. Bukan perkara mudah. Naskah buatan Acho cukup tertatih-tatih di fase ini. Apalagi tatkala serupa banyak produksi Starvision, departemen penyuntingan (vital di film ensambel) bekerja kurang mulus.
Sampai Dahlan jatuh sakit, kemudian memanggil tiga anaknya, meminta mereka "berlomba" mengelola guest house. Pemenangnya bakal menjadi pimpinan baru guest house. Memasuki titik inilah Gara-Gara Warisan mulai "memanas". Meski masih membawa persoalan masing-masing, tiap tokoh bergerak ke satu tujuan, sehingga memudahkan fokus penceritaan.
Secara alamiah pun, setelah menghabiskan beberapa waktu mengikuti karakternya, kita mulai mengenal sekaligus terhanyut dalam problematika mereka. Salah satu poin terbaik terkait penokohan naskahnya adalah, tidak ada karakter yang benar-benar patut dicaci maupun sepenuhnya suci. Kadang timbul simpati, namun ada kalanya memancing rasa benci.
Bukan keluarga harmonis yang ingin ditampilkan, melainkan sekumpulan individu tidak sempurna, dengan beraneka ragam kelebihan/kebaikan dan kekurangan/keburukan. Tinggal bagaimana mereka dapat mengisi lubang masing-masing. Terdapat fase menarik di alurnya yang mewakili gagasan di atas, yakni ketika Adam, Laras, dan Dicky bergantian mengurus guest house.
Adam selaku petugas customer service menekankan perihal keramahan, mengajari karyawan cara memperlakukan tamu bak raja. Laras yang sarat pengalaman mengelola panti wreda, memaparkan rencana terstruktur, termasuk soal strategi promosi. Sedangkan Dicky yang terbiasa hidup semaunya, fokus pada kebahagiaan karyawan. Ketiga perspektif tersebut sebenarnya komponen penting, yang bila disatukan, akan membentuk kesempurnaan. Sama halnya dengan esensi "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh" dalam konteks keluarga. Sayang, poin ini tidak diberi payoff memadai.
Di sela-sela konflik keluarga pelik miliknya, Gara-Gara Warisan menaruh humor sebagai penyegar suasana. Keempat karyawan guest house diberi tugas mengeksekusi humornya. Wiwin (Aci Resti), Ijul (Lolox), Aceng (Ence Bagus), dan Umar (Dicky Difie) sanggup menjadi scene stealer, yang kemunculannya efektif memancing tawa berkat kepiawaian cast. Belum lagi tambahan kekuatan dari beberapa cameo.
Bagaimana dengan debut Acho di kursi penyutradaraan? Memang belum sempurna, sebab ia sendiri masih meraba-raba cara memperkuat emosi lewat pengadeganan, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada akting pemain. Sebuah keributan besar di peralihan menuju third act, yang terasa seperti versi lebih mentah dari adegan serupa di Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, merupakan contohnya.
Tapi Acho juga membuktikan potensinya. Di klimaks, tatkala semua (ya, semua) pemeran utama mencurahkan seluruh emosi mereka, Acho tahu mana saja gestur-gestur yang harus ditangkap kamera. Gestur-gestur yang mewakili luapan ekspresi kasih sayang antar anggota keluarga.
Dipimpin oleh penampilan heartbreaking Yayu Unru, klimaksnya luar biasa dalam mengaduk-aduk perasaan, salah satunya karena perspektif yang ditawarkan. Entah sudah berapa banyak film keluarga kita menjustifikasi kesalahan orang tua dengan mengatasnamakan "niat baik". Gara-Gara Warisan menolak hal tersebut. Filmnya merangkul ketidaksempurnaan. Bahwa orang tua pun bisa salah. Benar-benar salah, tanpa alasan, tanpa pembenaran. Bahwa "memohon pengampunan" bukan cuma ucapan yang patut dilontarkan anak. Ada kalanya mengakui kesalahan justru membuka lembaran baru yang penuh kehangatan.
REVIEW - THE RESCUE
Saya masih ingat betul bagaimana empat tahun lalu proses penyelamatan 12 bocah dan satu pelatih tim sepakbola junior Wild Boars, yang terjebak selama hampir tiga minggu di gua Tham Luang, menyitar perhatian setiap hari. Ketika akhirnya semua orang berhasil diselamatkan, dunia diingatkan bahwa kemanusiaan sama sekali belum lenyap.
Itu pula yang coba ditekankan pasutri sutradara, Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin (pembuat dokumenter pemenang Academy Awards, Free Solo), dalam The Rescue. Lebih dari 10 ribu orang dari puluhan negara, dengan beragam latar belakang serta kepercayaan (termasuk skeptisme Barat dan mistisisme Timur yang sempat berbenturan), berkumpul demi satu tujuan.
Kita takkan mendengar pengalaman para Wild Boars karena hak terkait cerita mereka lebih dulu diamankan Netflix, tapi para pembuat The Rescue mampu memutar otak untuk menyuguhkan kemasan yang kreatif. Kisah para penyelam dikedepankan, kemudian disulap layaknya film team up, di mana mereka digambarkan bak pahlawan (well, they are) yang bersatu membentuk sebuah tim super.
Tatkala upaya penyelamatan termasuk oleh Navy SEAL Thailand kesulitan menemukan titik terang, dua penyelam gua asal Inggris, John Volanthen dan Rick Stanton pun dihubungi. Mereka bukan militer maupun pasukan khusus. "Hanya" dua pria paruh baya, yang tiap akhir Minggu melakukan hobi berbahaya menyelami gua-gua bawah air. Siapa sangka ketika Navy SEAL kelabakan, mereka justru mampu mengarungi trek gua sepanjang empat kilometer, berenang selama lebih dari dua jam, dan jadi harapan terakhir 13 orang yang terjebak di Tham Luang?
Terdengar ajaib, pun "keajaiban" memang selalu ditekankan oleh Chin dan Vasarhelyi dalam narasi mereka. Misalnya soal hubungan Stanton dengan Amp, seorang suster asal Thailand yang berlibur ke Inggris. Mereka jatuh cinta, meski hanya bersama sekitar dua minggu, sebelum Amp kembali ke kampung halaman, yang ternyata begitu dekat dengan lokasi kejadian. "Sungguh sebuah kebetulan", kata Amp. Benarkah sebatas kebetulan, atau semesta sedang membukakan jalan?
Keberhasilan The Rescue menekankan perihal keajaiban itu menjadikannya makin emosional. Ditambah kepiawaian dua sutradara membangun kesan "running out of time (or oxygen?)", intensitas pun terjaga, walau penonton sudah tahu bagaimana semua bakal berakhir.
Bukan berarti filmnya nihil informasi baru. Didesain seperti team up movie, pengenalan terhadap tiap penyelam pun dilakukan. Penempatan di tengah proses penyelamatan memang kerap sedikit menurunkan tensi narasi, tapi berguna menambah informasi. Terutama fakta bahwa mereka kurang ahli dalam kehidupan sosial, sehingga akrab dengan perundungan. Terlibat di misi ini ibarat justifikasi pilihan mereka mencurahkan waktu menekuni hobi yang dipandang aneh dan "cari mati".
Kita tahu garis besar peristiwa pula misi penyelamatannya, namun tidak dengan detail di baliknya. The Rescue menyuplai detail itu, memaparkan beberapa intrik sekaligus masalah teknis yang tak sempat disorot media. Adegan reka ulang jadi kunci. Vasarhelyi dan Chin menciptakan adegan reka ulang yang luar biasa meyakinkan. Didukung penyuntingan rapi yang menggabungkannya dengan stock footage, sulit memilah mana reka ulang mana rekaman asli.
Mempertahankan realisme adalah faktor penting. Kita diajak mengulang kembali perasaan saat kali pertama mengikuti beritanya empat tahun lalu, kali ini secara lebih immersive, seolah dibawa terjun langsung ke lokasi. Ketika semuanya usai, timbul keyakinan bahwa dunia tidak segelap gua tempat bocah-bocah ini terkurung. Setidaknya selama kemanusiaan masih terus menerangi sepanjang jalan.
(Disney+ Hotstar)
REVIEW - MIRACLE: LETTERS TO THE PRESIDENT
Walau memakai kata "miracle" di judul, dan punya beberapa peristiwa yang mendekati keajaiban, Miracle: Letters to the President sesungguhnya membicarakan hal yang amat dekat, yaitu rumah. Tentang ikatan dan kerinduan terhadapnya. Baik rumah sebagai tempat, maupun orang-orang yang jadi tujuan untuk pulang.
Berlatar 1980an, naskah buatan Son Joo-yeon dan sang sutradara, Lee Jang-hoon (Be with You), terinspirasi dari pembuatan stasiun swasta pertama di Korea Selatan, tepatnya di provinsi Gyeongsang Utara. Meski terdapat rel, tidak ada stasiun di sana. Para warga pun harus berjalan kaki menyusuri rel tersebut dari stasiun terdekat. Bukan perjalanan mudah, bahkan cenderung berbahaya. Tiga terowongan plus tiga jembatan mesti dilewati. Kecelakaan berujung kematian kerap terjadi.
Joon-kyeong (Park Jeong-min) merupakan siswa SMA jenius dalam bidang matematika. Banyak kesempatan baginya untuk memperoleh pendidikan lebih baik di kota besar, namun didorong cita-citanya membangun stasiun bagi warga setempat, Joon-kyeong memilih tetap tinggal di Gyeongsang bersama kakaknya, Bo-kyeong (Lee Soo-kyung). Ayahnya, Tae-yoon (Lee Sung-min), adalah masinis. Hubungan ayah-anak ini sayangnya kurang harmonis.
Satu yang rutin Joon-kyeong lakukan adalah, menulis surat bagi presiden, berisi permintaan membangun stasiun. Tahun demi tahun berlalu, entah sudah berapa surat dikirim, tapi belum juga muncul tanggapan. Kata "menyerah" tidak ada dalam kamus Joon-kyeong. Surat terus ditulis, termasuk dengan uluran bantuan Ra-hee (Yoona), teman sekelas yang menaruh ketertarikan pada polah unik Joon-kyeong.
Alurnya tentu mengikuti pola film-film serupa, yang memadukan kisah inspiratif dan suguhan tearjerker. Begitu pula urusan pengadeganan. Tentu momen sepasang kekasih melihat kunang-kunang bakal kita temukan. Menariknya, biarpun garis besarnya formulaik, film ini bukan seperti kereta yang selalu setia berjalan di relnya. Beberapa kejutan ditawarkan.
Pertama, sekaligus yang paling menonjol, jelas twist besar di pertengahan durasi. Twist yang sejatinya tidak memiliki urgensi bila mengacu pada cerita mengenai pembangunan stasiun, tapi minimal presentasinya enggan mencurangi penonton. Naskahnya menebar remah-remah petunjuk yang akan membuat penonton berujar, "Oh pantas!" begitu kejutan itu dibuka. Terpenting, twist tersebut memberi makna lebih pada salah satu temanya, yakni tentang sulitnya melepas ikatan (dengan "rumah"). Alasan Joon-kyeong pantang menyerah jadi lebih personal serta bisa dipahami.
Masih terkait twist di atas, tersimpan satu lagi sisi menarik, dan untuk membahasnya, saya harus menuliskan spoiler. (SPOILER STARTS) Bo-kyeong meninggal akibat jatuh dari jembatan kala menghindari kereta. Sosoknya yang kita lihat cuma imajinasi Joon-kyeong...or is it? Penokohan Bo-kyeong agak menjauh dari tipikal "karakter imajiner". Sosoknya lebih ambigu. Daripada figur khayalan, Bo-kyeong lebih dekat ke representasi spritual, yang erat kaitannya dengan sensitivitas sineas Asia. Perwujudan dari "rumah". Perpanjangan tangan semesta yang sesekali membantu lewat cara-cara misterius. (SPOILER ENDS)
Kejutan berikutnya terkait peletakkan titik dalam penceritaan. Pendirian stasiun bukan jadi puncak, namun hadir di pertengahan. Poin satu ini sebenarnya dampak dari banyaknya subplot dalam naskah, sehingga harus meluangkan waktu ekstra untuk menuntaskan seluruhnya. Selain perihal stasiun, masih ada romansa dan kisah kejeniusan Joon-kyeong. Ambisius, dan hasilnya tidak selalu mulus. Alurnya terasa penuh sesak, sehingga tak jarang naskahnya kelabakan membagi porsi. Misal, sebagai film berjudul "Letters to the President", momen kala surat-surat itu akhirnya menemui hasil justru kurang diberi sorotan. Tidak terasa seperti payoff.
Naskahnya memang belum sempurna, tapi pengarahan Lee Jang-hoon, yang memahami bagaimana cara kerja tearjerker, memastikan emosinya berhasil tersampaikan. Musik gubahan Kim Tae-seong (1987: When the Day Comes, The Admiral: Roaring Currents) juga efektif membangun rasa, dan selaku pelengkap, lagu Reality milik Richard Sanderson tidak pernah gagal memperkuat situasi romantis.
Jajaran cast-nya tanpa cela. Park Jeong-min adalah protagonis simpatik, Lee Sung-min dan Lee Soo-kyung mumpuni melakoni adegan emosional masing-masing, sementara Yoona jadi penyeimbang. Di antara cerita mengharu biru yang dibumbui tragedi, Yoona memimpin selipan humornya dalam menyegarkan suasana.
Miracle: Letters to the President bicara mengenai stasiun, baik secara literal atau figuratif. Joon-kyeong bercita-cita membangun stasiun. Di sisi lain ia juga tertahan di stasiun. Dia menanti sang ayah singgah layaknya penumpang menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Pun masih berat baginya meninggalkan stasiun itu karena hal-hal yang belum usai. Sampai ketika beban-beban tersebut tuntas, dan kereta yang ditunggu tiba, Joon-kyeong akhirnya siap pergi menuju destinasi berikutnya, meninggalkan stasiun yang jadi persinggahan pertama. Stasiun itu bernama "rumah".
(VIDIO)
REVIEW - NITRAM
Melabeli pelaku aksi kriminalitas sadis sebagai "iblis" wajar terjadi. Ada kalanya itu diperlukan guna menghindari justifikasi atas tindakannya. Tapi sebatas berhenti pada "pelabelan" tidak jarang menutup mata kita dari masalah utama, termasuk soal sistem. Bagi pihak-pihak yang mestinya turut bertanggung jawab pun, itu bisa menjadi bentuk "cuci tangan".
Diangkat dari kisah Martin Bryant, pelaku pembantaian di Port Arthur yang menewaskan 35 jiwa pada 1996, Nitram dibuat untuk memahami sebab suatu tragedi. Harapannya, selepas mengutuk kekejian, langkah preventif dapat dicanangkan.
Nitram (Caleb Landry Jones) adalah pemuda dengan disabilitas intelektual (di realita, Martin Bryant memiliki IQ 66, setara bocah 11 tahun). Hobinya menyalakan petasan, yang membuatnya tak disukai warga sekitar. Sang ibu (Judy Davis) memasang sikap antara memandang rendah si putera tunggal, jengah, tapi juga peduli. Walau kepedulian tersebut cenderung lebih dekat ke arah mengontrol.
Di sebuah sesi bersama psikiater, sang ibu menyampaikan bahwa obat yang diresepkan untuk Nitram "membantu memudahkan hidupnya". Lalu si psikiater bertanya, "Memudahkan hidup Nitram atau hidup anda?". Satu kalimat dari naskah buatan Shaun Grant tersebut cukup menggambarkan masalah mendasar dalam penanganan bagi anggota keluarga penderita disabilitas (terutama psikis).
Apakah ibu merupakan sosok antagonis film ini? Dia bersalah, tapi Nitram bukan penuturan hitam-putih, Mungkin lebih pas disebut "kelabu". Dunia milik Nitram adalah dunia kompleks yang destruktif. Ayah Nitram (Anthony LaPaglia), selaku satu dari sedikit orang yang mau coba memahami si tokoh utama, bermimpi membeli BnB bermodalkan uang pinjaman bank. Nantinya ini turut menyentil satu lagi wajah kelam terkait kelas ekonomi. Tatkala si kaya selalu mengangkangi golongan pekerja, lahirlah dunia di mana hati dan kepedulian telah tiada.
Nitram sempat menemukan pelipur lara kala bertemu Helen (Essie Davis), wanita kaya (mantan aktris sekaligus pemilik permainan lotere) yang berusia jauh lebih tua darinya. Sayangnya kebahagiaan itu berlangsung singkat. Apakah dengan demikian kita diajak bersimpati pada pemuda yang kelak jadi pelaku pembantaian? Untungnya tidak.
Baik naskah maupun pengarahan Justin Kurzel di kursi sutradara sama-sama mampu bersikap netral, memperlakukan kisahnya sebagai proses observasi. Kurzel, yang kembali menangani drama psikologis sebagaimana debutnya di Snowtown (2011), bersikap bagai peneliti yang mendalami sambil tetap menjaga jarak dari subjek.
Melalui aktingnya, Caleb Landry Jones melahirkan subjek menarik. Kadang pemuda rapuh yang mencari kasih sayang, kadang figur yang menebar kejanggalan mengerikan dalam diam, kadang histerikal. Apakah ia iblis sebagaimana disebut orang-orang? Atau manusia biasa yang dinding batinnya retak akibat kekeliruan bersama?
Kompleks, ambigu. Itulah mengapa Nitram sanggup mengikat penonton yang bersedia ditantang untuk menelusuri persoalan pelik. Satu-satunya hal pasti di film ini adalah mengenai regulasi senjata api yang diangkat memasuki paruh akhir. Walau keberadannya diperlukan karena termasuk isu paling vital, kegamblangan tersebut membuat third act-nya tak sekuat babak-babak sebelumnya.
(Klik Film)
REVIEW - OMA THE DEMONIC
Mengapa jika dibanding genre lain horor kita terkesan stagnan? Pertama karena horor merupakan ladang uang yang bisa mendatangkan untung dengan biaya minim. Fakta yang oleh para pembuat kerap diterjemahkan sebagai "Kalau jelek saja laku kenapa harus bagus?". Kedua, horor bagus memerlukan orang yang bukan cuma "sering menonton", tapi benar-benar passionate terhadap genrenya. Maka tidak heran ketika Joko Anwar dan Timo Tjahjanto selaku horror aficionado berdiri di garis depan.
Joel Fadly nampaknya bukan horror aficionado. Menyaksikan Oma the Demonic, maupun karya sebelumnya, Nightmare Side: Delusional (2019), saya bahkan ragu ia gemar mengulik horor. Tapi ada satu kengerian yang saya rasakan selama menonton. Bukan karena konten filmnya, melainkan dari fakta bahwa ada sineas yang menganggap ini horor bagus. Mendapati industri kita diisi orang-orang seperti itu amatlah mengerikan.
Fiona (Karina Nadila) sering mendapat penglihatan tentang sosok wanita yang menyuruhnya mendatangi rumah Oma (Jajang C. Noer). Fiona belakangan ini jarang berkomunikasi dengan Oma, walau semasa kecil sering menghabiskan waktu bersamanya. Ditemani dua temannya, Luna (Syahra Larez) dan Jeff (Bobby Rizky), ia memutuskan mengunjungi Oma, tanpa tahu misteri mematikan telah menunggu di rumahnya.
Nenek dikenal sebagai figur penyayang dalam keluarga, dan karena itulah sosoknya kerap jadi sumber teror film horor. Bagaimana kalau di balik kebaikannya tersimpan rahasia kelam? Jajang C. Noer cocok memerankan karakter semacam itu, yang mengubah senyum hangat jadi kejanggalan. Sedangkan di beberapa titik, Karina Nadila membuktikan pantas diberi materi yang lebih mumpuni, walau bakat terbesarnya tetaplah di suguhan komedi.
That's it. Cuma mereka saja (sedikit) nilai positif Oma the Demonic. Ketika lima menit sekali filmnya berusaha menakut-nakuti (tentu saja gagal), menggunakan green screen untuk adegan yang seharusnya bisa diambil secara langsung di lokasi, lalu menampilkan monster CGI yang bagai hasil kawin silang antara babi hutan dengan Blanka dari gim Street Fighter yang dibakar sampai gosong, saya langsung sadar sudah menghamburkan uang 35 ribu rupiah.
Salah satu jenis penonton bioskop yang paling saya benci adalah "mas-mas mulut besar otak kerdil". Spesies laki-laki yang agar dianggap pintar oleh pacarnya, terus bicara selama pemutaran, melempar "kritik" dengan nada sok tahu. Kalau menemui spesies macam itu, biasanya akan saya lempari uang receh. Tapi kali ini saya memilih diam. Selain alasan "bulan puasa", sia-sia rasanya membuang tenaga untuk Oma the Demonic. Penonton lain pun tidak mengeluh. Karena mereka sadar sedang jadi saksi sebuah bencana.
Pilihan shot ngawur yang gagal memahami "kenapa sebuah adegan film horor terasa mengerikan", timing berantakan di segala lini (kapan musik masuk, kapan reaction shot diselipkan, bagaimana urutannya, dll.), hingga desain hantu yang bak mengambil inspirasi dari riasan gembel di prank Atta Halilintar, semua bisa ditemukan di sini. Oma the Demonic adalah horor di mana ketimbang mantera atau ritual, karakternya melempar barang guna melawan hantu. Ingin saya berkata, "Mbak, beliau itu hantu, bukan maling". Daripada memakai kekuatan supernatural, si hantu pun malah kelihatan enjoy.
Naskah buatan Anang Pangestu tidak kalah mengenaskan. Kekacauan timeline menghasilkan kerumitan tak perlu di alur, sementara beberapa poin cerita dimasukkan secara tiba-tiba (termasuk soal ibu Fiona, yang diperankan Diah Permatasari dalam cameo menggelikan) tanpa eksplorasi atau dampak emosi.
Sudah pasti ada twist di penghujung durasi. Twist yang memfasilitasi munculnya dialog ajaib antara dua arwah penasaran, saat sama-sama kaget melihat mata mereka berubah warna jadi putih. Tercium semerbak aroma kebusukan sinema.
REVIEW - THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT
Nicolas Cage bukan aktor pertama yang memerankan diri sendiri (maupun versi parodinya) dalam film. Daftarnya sudah amat panjang. Tapi persona unik hasil metode akting Nouveau Shamanic miliknya, serta lika-liku karir yang tiada duanya, membuat Nicolas Fuckiiiiiiiiiiiiiiing Cage" jadi salah satu figur paling menarik di daftar tersebut.
Kehidupan pribadi berantakan, terlilit utang, penurunan karir, terjebak di kejayaan masa lalu. Cage di The Unbearable Weight of Massive Talent punya citra sebagaimana publik dunia nyata memandang sosoknya. Tentu beberapa elemen bersifat fiktif. Misalnya, Cage di sini baru menikah sekali (sebenarnya lima kali). Mantan istrinya bernama Olivia (Sharon Horgan), sedangkan sang puteri yang memasuki usia remaja, Addy (Lily Sheen), tak sebegitu akrab dengannya.
Perbedaan lain? Cage asli tidak melihat wujud imajiner dari masa mudanya yang ia panggil Nicky (Cage dari era Wild at Heart).....well, mungkin. Tapi semakin mengenal Cage, semakin anda akan menyadari, versinya di film ini tidak terlalu melenceng. Misal obsesinya terhadap The Cabinet of Dr. Caligari (tepatnya segala bentuk film ekspresionisme Jerman), yang jadi salah satu pemicu konflik dengan Addy. Ayah mana yang memaksa puteri remajanya menonton film ekspresionisme berusia seabad? Nic Cage tentu saja.
Poinnya, meski tetap menghibur bagi penonton awam, The Unbearable Weight of Massive Talent menghadirkan kepuasan lebih di hati penggemar, yang niscaya memahami antusiasme Javi Gutierrez (Pedro Pascal), kala Cage menerima undangan ("seharga"1 juta dollar) ke pesta ulang tahun sang miliarder.
Javi memuja Cage. Face/Off (1997) termasuk dalam tiga film favoritnya sepanjang masa (nomor satunya mengejutkan). Di mata Javi, kehadiran Cage bak realisasi fantasi. Pahlawan fiktif idolanya jadi nyata. Itu pula tujuan The Unbearable Weight of Massive Talent. Ditulis naskahnya oleh Tom Gormican (juga selaku sutradara) dan Kevin Etten, film ini merupakan surat cinta hangat untuk "Lord Cage", yang membawa persona fiktifnya ke "dunia nyata".
Cage si aktor dipaksa berubah jadi jagoan laga sungguhan, tatkala CIA mengungkap bahwa Javi adalah kriminal berbahaya. Tentu prosesnya tak semudah di depan kamera. Apalagi telah timbul koneksi antara keduanya, yang melebihi hubungan selebritas-penggemar, dan dari situ kehangatan berikutnya datang. Cage menemukan sahabat. Orang yang dapat diajak berbagi, mengobrol santai mengenai kegemarannya, terutama film.
Percayalah itu melegakan. Apalagi jika telah melalui penantian lama (been there done that). Cage senantiasa total dalam berakting. Di depan kamera ia mengeluarkan seluruhnya. Tapi di belakang kamera, rupanya banyak hal masih terkubur, menunggu medium yang tepat untuk dicurahkan.
Cage kembali menampilkan akting over-the-top selaku ciri khasnya, yang kali ini menghasilkan bobot berbeda. Bukan sekadar kegilaan menghibur, juga cerminan artis yang tersiksa. Pedro Pascal mampu mengimbangi. Walau memakai gaya berbeda, Pascal tidak kalah berwarna. Kadang intimidatif dan misterius, kadang menggelitik, bahkan bisa menyentuh hati ketika memancarkan kebahagiaan karena bertemu idola.
Menurut Cage, ia menolak tawaran bermain di film ini tiga sampai empat kali, sebelum surat personal dari Tom Gormican mengubah keputusannya. Entah apa isi surat tersebut, tapi saya bisa membayangkan bahwa tokoh Javi merupakan representasi dirinya. Gormican memuja Cage, dan itu nampak betul dari caranya membuat film ini, baik selaku penulis naskah maupun sutradara.
Naskahnya, terlebih perihal membungkus komedi. Memakai humor meta, beberapa referensi dilempar secara kreatif. Contohnya saat menyelipkan momen tersohor "Not the bees" dari The Wicker Man (2006) yang kerap dijadikan meme. Begitu pun dalam mengarahkan aksi. Gormican paham bagaimana semestinya mengemas aksi yang melibatkan seorang Nicolas Cage. Mulai dari melibatkan LSD, hingga menambahkan efek dramatisasi berlebih jadi beberapa opsi. Banyak film berstatus surat cinta bagi aktor, tapi tidak semuanya sekreatif dan semenghibur The Unbearable Weight of Massive Talent.
REVIEW - YAKSHA: RUTHLESS OPERATIONS
Yaksha: Ruthless Operations merupakan aksi spionase yang dibuat secara layak walau jauh dari sempurna. A proper one. Tetapi pada era di mana kelas industri hiburan Korea Selatan terus naik (semakin inovatif di film, baik blockbuster maupun alternatif, juga drama), status "proper" saja takkan cukup meninggalkan kesan.
Disutradarai Na Hyeon, yang turut menulis naskahnya bersama Ahn Sang-hoon, Yaksha sebenarnya dibuka dengan menjanjikan. Sekuen pembuka di mana Ji Kang-in (Sol Kyung-gu) menabrak, memukul, bahkan meledakkan segala rintangan di tengah Hong Kong yang berhiaskan warna-warni neon, bagai perwujudan kata "ruthless" di judulnya. Seru, liar.
Tapi setelahnya, film ini tak pernah jauh-jauh dari formula, selepas kita berkenalan dengan Han Ji-hoon (Park Hae-soo), jaksa jujur yang baru turun pangkat akibat kegagalan di sebuah kasus. Peluang membersihkan nama datang saat ia diutus ke cabang NIS (National Intelligence Service) di Shenyang, Cina, guna menyelidiki soal tim black ops yang dipimpin oleh Kang-in. Alasannya, selain kerap menggunakan metode ekstrim yang tidak jarang melanggar hukum, Kang-in pun diduga menggelapkan dana.
Tim Kang-in terdiri dari Hong (Yang Dong-geun), Hee-won (Lee El), Jae-gyu (Song Jae-rim), dan Jeong-dae (Park Jin-young). Begitu kedua belah pihak bertemu, terlihat jelas keklisean serta kedangkalan naskah filmnya. Komparasi coba dibangun. Ji-hoon dan Kang-in beserta timnya ibarat dua sisi mata uang. Sama-sama mengabdi untuk negara, namun ketika pihak pertama menjunjung tinggi kejujuran, pihak lainnya mau menghalalkan segala cara.
Tapi naskahnya terlampau lemah untuk dapat mengeksplorasi bentrokan ideologi tersebut. Misalnya penokohan Ji-hoon. Dia digambarkan sangat menaati aturan, yang mana sebuah kewajaran. Tapi Ji-hoon terlalu naif untuk jaksa yang tak lagi muda. Saking naifnya, ia menyuruh Kang-in mengenakan sabuk pengaman.
Naskahnya berniat memperlihatkan proses belajar tiap pihak. Ji-hoon jadi lebih membuka mata dalam memandang realita, sementara Kang-in bersedia mengurangi keliarannya. Itu titik yang hendak dicapai di akhir cerita. Tapi prosesnya tidak pernah meyakinkan. Mereka terus bergesekan, kukuh pada pendirian masing-masing, sebelum tiba-tiba "tercerahkan" jelang akhir, saat alurnya membutuhkan itu untuk menuntaskan konflik.
Antagonisnya bernama Ozawa Yoshinobu (Hiroyuki Ikeuchi), seorang mata-mata Jepang. Dikisahkan, Korea Selatan, Korea Utara, dan Jepang memperebutkan sebuah benda rahasia. Saya takkan membocorkan benda apa, tapi kalau sudah sering menonton film spionase, rasanya mudah menebak keklisean yang disembunyikan Yaksha. Sama halnya dengan bentuk kejutan usang, saat beberapa kali filmnya pura-pura membunuh karakter dengan trik sama persis, yang entah sudah berapa kali kita temui di genre aksi.
Tapi kesampingkan tetek bengek kelemahan naskah, apakah sebagai film hiburan Yaksha sanggup memenuhi tugasnya? Kurang lebih. Na Hyeon nampak terombang-ambing dalam pilihan membuat popcorn flick dengan bumbu komedi khas Korea Selatan atau tontonan gritty, tapi kapasitasnya mengarahkan aksi terbukti cukup memadai.
Dibantu teknis yang solid di segala lini, sang sutradara melahirkan rilisan OTT yang bakal lebih maksimal di layar lebar. Simak ledakan besar-besaran selaku titik balik alur, yang dibekali efek visual dan tata suara kelas satu. Begitu pula babak klimaksnya. Sekali lagi, Yaksha: Ruthless Operations memang suguhan proper. Sayangnya di titik ini, kata "proper" di sinema Korea Selatan dengan beragam inovasinya, sudah bukan lagi wujud pujian.
(Netflix)
REVIEW - LANGUAGE LESSONS
Pemanfaatan teknis "seadanya" identik dengan horor. Gaya found footage di Cannibal Holocaust (1980) dan The Blair Witch Project (1999), hingga penggunaan aplikasi zoom kala pandemi menghambat industri dalam Host (2020). Judul-judul di atas bukan yang pertama memakai gaya/medium masing-masing, tapi jelas masuk jajaran paling populer. Kesederhanaan yang menghasilkan realisme memang membantu menciptakan kengerian pada horor.
Tapi realisme tentu tidak melulu soal ketakutan. Diproduksi selama fase lockdown berbekal aplikasi Zoom, Language Lessons mengangkat wajah lain realisme yang disebut "interaksi manusia". Seperti judulnya, debut penyutradaraan Natalie Morales (membuat satu lagi film bagus, Plan B, secara nyaris bersamaan) ini mengetengahkan aktivitas les bahasa dua karakternya.
Adam (Mark Duplass) mendapat kejutan dari sang suami, Will (Desean Terry), berupa les Bahasa Spanyol selama 100 minggu. Gurunya adalah Cariño (Natalie Morales), yang bertempat tinggal di Kosta Rika (Adam ada di Oakland). Meski sempat ragu, pasca pertemuan perdana yang dengan cepat berubah dari canggung ke hangat, Adam bersedia mengikuti kelas via Zoom tiap Senin pagi.
Bukan kelas konvensional, sebab ketimbang proses belajar-mengajar biasa, keduanya lebih banyak mengobrol santai (dalam Bahasa Spanyol tentu saja). Alih-alih guru-murid, Adam dan Cariño lebih seperti teman. Lalu sebuah tragedi menimpa Adam, pun seiring waktu kita mengetahui bahwa Cariño juga menyimpan masalahnya sendiri.
Ditulis naskahnya oleh Morales dan Duplass, satu poin menarik dari alur Language Lessons adalah pertemuan seminggu sekali protagonisnya. Kita dibawa menyaksikan bagaimana seminggu dapat mengubah segalanya. Kebahagiaan dapat berubah jadi kesedihan, memiliki berganti kehilangan, hubungan pun bisa merenggang. Dari situ karakternya belajar menghargai hidup, sedangkan alurnya menemukan cara menyuntikkan ketidakpastian dan kejutan.
Gagasannya adalah, penonton cuma tahu apa yang tokohnya tahu tentang satu sama lain, sehingga jeda seminggu itu (atau beberapa hari, karena ada kalanya mereka berkomunikasi di luar kelas) punya dampak besar. Eksekusinya mungkin tak sempurna, karena sesekali kita masih melihat karakternya beraktivitas selepas panggilan usai walau cuma sejenak. Tapi itu sebatas retak kecil di konsep yang sama sekali tak mengurangi dampak emosi.
Membawakan naskah yang dirumuskan bersama, memudahkan Duplass dan Morales mengekspresikan rasa secara nyata. Realis. Natural. Sejak menit-menit awal, hati saya sudah tercuri oleh chemistry mereka. Sejalan dengan kenaturalan tersebut, filmnya pun tak menyuapi penonton. Kita diajak mengobservasi.
Terselip satu nilai penting soal komunikasi dalam cara Adam menyikapi masalah Cariño. Ketika menyadari ada yang tak beres, Adam sebatas mengetuk, bukan membuka paksa "pintu" Cariño, sembari membuka lebar "pintunya" sendiri. Adam mengamati, mengobservasi, lalu memproses apa yang Cariño alami, serta bagaimana ia harus memberi respon. Berkat penampilan kuat Duplass, lewat matanya kita bisa merasakan kepedulian nyata dari Adam.
Ending-nya membuat saya tersenyum lebar. Sangat lebar. Di titik itulah karakternya lulus dari kelas bahasa. Bukan Bahasa Spanyol, tapi bahasa yang jauh lebih universal. Bahasa yang tak terpisahkan negara, suku, budaya, atau zona waktu. Bahasa itu bernama "kemanusiaan".
(Klik Film)
REVIEW - TUTUGE
Tutuge jelas salah satu horor Indonesia berdurasi terpanjang. Itu alasan saya tertarik menontonnya. Bukan status "menyabet 7 penghargaan di kancah internasional" sebagaimana tertera di akun Instagram resminya (lewat sedikit riset, anda bakal tahu ada di level mana festival-festival tersebut). Ketika banyak horor kita masih terlampau bergantung pada jump scare dengan cerita tipis, apa yang film ini tuturkan selama 141 menit?
Di Yogyakarta, Tutuge cuma tayang di Empire XXI. Saya menonton di jam terakhir (selesai pukul 21:00), dan kebetulan jalan pulang dari bioskop mesti melewati beberapa area rawan klitih yang belakangan makin marak. Tapi otak saya terlalu penuh oleh pertanyaan sampai tidak sempat merasa khawatir. Pertanyaan berupa, "Bagaimana bisa naskah sementah ini jadi produk final?".
Tentu banyak naskah horor yang jauh lebih buruk ketimbang buatan Virlan W. Langgong (juga bertindak selaku sutradara) ini. Tapi apa yang terlihat di layar lebih seperti draft awal yang dipenuhi hal-hal tak perlu. Obrolan, selipan humor, hingga aktivitas sepele yang semestinya dihapus demi memadatkan penceritaan, masih bertebaran di sana-sini.
Sejatinya kisah Tutuge amat sederhana. Ameera (Rania Putrisari), seorang penulis novel misteri ternama, berada di Bali guna mencari inspirasi untuk karya terbarunya. Tapi risetnya gagal menemui hasil. Sampai ia bertemu Ketut (Langlang Buana), putera pemilik villa tempatnya menetap, yang mulai membagi beberapa kepercayaan mistis setempat.
Pertama kali bertemu Ameera, ia sedang berselancar di pantai, dan ada dua informasi yang kita dapat. Pertama pewarnaan gambarnya sungguh menyakiti mata. Virlan yang juga menduduki posisi sinematografer, ingin filmnya tampak artistik. Tapi alih-alih mengkombinasikan penataan cahaya dengan coloring cermat, dia bak asal memasang filter Instagram, tanpa memperhatikan kondisi lokasi dan raw footage. Jauh dari natural. Apalagi ketika matahari bersinar terik di latar outdoor. Rasanya seperti memelototi bohlam dari jarak 10 cm.
Informasi kedua adalah bahwa Ameera seorang indigo. Itu sebabnya saat melihat perangai aneh dari Laras (Imelda Therinne), Ameera langsung sadar wanita itu sedang kesurupan. Sayangnya, Cokro (Rizky Hanggono), suami Laras yang skeptis terhadap hal mistis, tak mengindahkan ucapan Ameera. Cokro percaya, Laras yang sering linglung bahkan lupa jalan pulang, mengidap alzheimer alih-alih kesurupan.
Ameera menolak tinggal diam. Dia kukuh berusaha menolong Laras. Apa cara yang ditempuh? Mencari "ciri-ciri orang kesurupan" di Google. Ya, seorang indigo melakukan itu. Ibarat ada dokter mencari "apa saja gejala flu", atau seorang ustaz googling soal "bacaan salat lima waktu". Itu merupakan pemahaman dasar, dan kalau pun muncul kebingungan, tentu Google bukan sumber jawaban yang bakal dipilih.
Pemandangan seperti itu yang mendominasi 141 menit durasinya. Laras kesurupan, Ameera khawatir, Cokro skeptis, Ketut melempar lawakan. Ketika adik Cokro, Inggit (Givina), datang berkunjung, sumber lawakan bertambah jadi dua orang. Setidaknya Givina (yang juga adik Uus) cukup berbakat menangani komedi. Dialah penampil paling menghibur di sini, meski mendapat materi yang tidak spesial.
Selain repetisi ditambah momen-momen tidak perlu (memakan waktu kalau disebutkan satu per satu), membengkaknya durasi Tutuge turut diakibatkan adegan yang kerap bergulir terlalu lama tanpa ada substansi, misalnya membangun atmosfer atau mengajak penonton mengobservasi detail. Tidak ada. Seolah penyuntingan yang ditangani Ilan Hype cuma "menggabungkan" ketimbang "mengedit".
Tutuge enggan bergantung ke jump scare berisik sehingga menghindarkan penonton dari risiko pecah gendang telinga, namun sekuen teror yang Virlan bangun pun tidak mengandung kengerian maupun ketegangan. Musik serta tata suara, yang mana elemen esensial dalam horor, juga gagal membantu. Bahkan memperburuk keadaan. Tata suaranya buruk cenderung ngawur (cek bagaimana efek "mendengarkan musik" digarap di sini), sedangkan musik seperti dimasukkan tanpa memedulikan timing.
Lupakan fakta bahwa konsep tutuge yang jadi judul luput dieksplorasi, dan baru mendadak diperkenalkan jelang konklusi. Filmnya belum mencapai tingkatan itu. Ibarat memasak nasi goreng, mengolah mitos tutuge adalah proses menambahkan bumbu. Sementara film ini seperti menggoreng beras, lalu menyajikannya dalam porsi menggunung. Kenyang kalau dimakan? Iya. Membawa penyakit juga iya.
REVIEW - FANTASTIC BEASTS: THE SECRETS OF DUMBLEDORE
Belum lama ini diberitakan bahwa nasib film keempat dan kelima Fantastic Beasts belum resmi mendapat lampu hijau. Nasibnya bergantung pada pendapatan The Secrets of Dumbledore, alias ada kemungkinan seri ini berakhir sebagai trilogi saja. Digarap oleh J. K. Rowling dan Steve Kloves (penulis naskah hampir seluruh film Harry Potter), naskahnya pun menyesuaikan sebagai bentuk rencana cadangan.
Rencana cadangan yang dimaksud berupa "konklusi malu-malu". Cerita tokoh-tokohnya diberi closure sebagaimana akhir suatu saga. Tapi disebut "akhir" pun kurang tebat, karena konflik utama belum sepenuhnya usai. Terasa betul ada kebimbangan. Tidak mengejutkan, mengingat sejak awal, Fantastic Beasts selalu digerogoti kebingungan menentukan arah.
The Secrets of Dumbledore masih sama. Konflik memang tak penuh sesak seperti The Crimes of Grindelwald (2018), namun krisis identitas nyata terlihat sepanjang 142 menit durasinya. Kecuali sosok separuh burung separuh naga (Snallygaster?) yang menolong Newt Scamander (Eddie Redmayne) di awal cerita, para fantastic beasts tidak lagi fantastis. Porsi menipis, signifikansi pun berkurang, dengan kemunculan yang makin jauh dari memorable.
Memang ada Qilin, makhluk ajaib yang mampu melihat ke dalam jiwa manusia sehingga jadi rebutan protagonis dan antagonis, tapi perannya sekadar MacGuffin, yang sekali lagi, tidak memorable. Kalau bukan film tentang fantastic beasts, apakah cerita soal Newt? Walau screen time-nya paling banyak mengingat dialah jagoan utama seri ini, Newt tidak punya proses atau story arc apa pun. He's just.....there.
Bagaimana dengan Albus Dumbledore (Jude Law) yang namanya dijadikan subjudul? Adegan pembuka The Secrets of Dumbledore menampilkan pertemuan Dumbledore dan Gellert Grindelwald (Mads Mikkelsen). Mereka berbincang, dan kedua aktor mampu menciptakan dinamika intens antara mantan kekasih yang mendapati diri mereka berada di kubu berlawanan. Terutama Mikkelsen. Senyumnya getir, menyiratkan kompleksitas emosi Grindelwald. Sesuatu yang sulit dibayangkan dapat diberikan oleh Johnny Depp (yang sekarang).
Tersimpan potensi besar terkait konflik personal Dumbledore-Grindelwald, tapi naskahnya tidak cukup kompeten menangani itu. Eksplorasi kedua karakter dilupakan, sementara alur beralih ke petualangan membosankan yang tampil bak benang kusut (I'll talk about it later), pula sama sekali tidak "ajaib", apalagi untuk ukuran film yang jadi bagian brand bernama "Wizarding World".
Di kursi penyutradaraan, David Yates masih piawai memvisualkan dunia sarat keajaiban. Bhutan selaku latar third act-nya misal, yang memadukan elemen magis dengan nuansa futuristik. Tapi Yates bukan penyihir. Dia tak mampu menyulap naskah buruk jadi hiburan kelas satu. Sebuah naskah yang tersesat, baik soal menentukan jati diri maupun menjalin penceritaan utuh.
Ada banyak titik di mana penonton bakal kesulitan memahami apa yang karakternya lakukan beserta golnya. Dumbledore mencetuskan taktik untuk membuat membuat musuh kebingungan. Begitu sukses taktik itu, tidak cuma Grindelwald saja yang bingung, penonton pun demikian. Ya, seperti benang kusut, akibat Rowling sendiri tidak tahu ingin membuat film apa. Melihat bagaimana penokohan Credence (Ezra Miller) dikembangkan, saya pun ragu Rowling tahu arti kata "kontinuitas". Dan seperti biasa, ia tidak tahu cara membuat klimaks, lalu cuma muncul dengan sekuen aksi pendek yang mendadak berakhir.
Satu-satunya hal positif dari Fantastic Beasts adalah lahirnya karakter Jacob Kowalski (Dan Fogler). Hanya dia karakter yang sejak film pertama konsisten mencuri perhatian, karena hanya dia yang punya tujuan jelas. Tujuan yang memiliki bobot emosi, yaitu berharap bisa bersatu kembali dengan Queenie (Alison Sudol). Bahkan berkat romansa Kowalski-Queenie, "konklusi malu-malu" tadi jadi memancarkan sedikit kehangatan.
REVIEW - CATCH THE FAIR ONE
Di film aksi atau thriller arus utama, profesi berorientasi fisik protagonis dapat menyulapnya jadi one-person army. Catch the Fair One tidak demikian. Status mantan petinju tak serta merta membuat si karakter utama dengan enteng menghabisi pasukan musuh (walau tetap jadi bekal penting). Josef Kubota Wladyka membangun dunia realis, di mana satu pukulan di kepala akan membuatmu tergeletak, dan misi penyelamatan bukan melulu soal baku hantam.
Kaylee (Kali Reis), seorang Native American sekaligus mantan petinju, mencari adiknya yang hilang. Petunjuk mengarah pada kemungkinan sang adik diculik lalu dijadikan pekerja seks. Kaylee berniat menyamar sebagai salah satu pekerja seks baru, dan untuk itu beberapa persiapan dilakukan. Latihan tinju kembali dijalani, pun tiap malam ia tidur sambil mengulum silet. Rutinitas menyakitkan itu semacam "strategi rahasia", walau bisa jadi Kaylee juga memandang aktivitas melukai diri sebagai hukuman. Dia merasa bertanggung jawab atas hilangnya sang adik.
Hari yang ditunggu tiba. Bersama gadis-gadis lain, Kaylee dibawa bertemu si germo, yang menyuntikkan narkoba ke tubuhnya, mengambil foto, lalu bermasturbasi sambil melihat tubuh Kaylee. Kita tidak melihat apa yang si germo lihat. Kita tidak melihat apa yang merangsang nafsu bejatnya. Kita hanya melihat ekspresi Kaylee yang campur aduk, antara bingung, marah, jijik. Wladyka bukan sedang mengeksploitasi seksualitas, tapi mengajak penonton merasakan emosi korban.
Seperti telah disebutkan, film ini tampil realis. Tepatnya, menghidupkan realita kelam, didukung oleh nuansa dingin, gelap, bahkan tidak jarang mencekik, yang diciptakan visualnya. Bahasa visual memang jadi senjata Wladyka bercerita. Bahkan pembangunan intensitas terbaik datang saat musik atmosferik generik buatan Nathan Halpern berhenti mengalun.
Di situ Kaylee menyusup ke dalam rumah salah satu penculik. Tanpa dialog, pula tanpa menunjukkan sosok Kaylee, namun kita tahu ia sudah menjalankan aksinya berkat petunjuk-petunjuk visual. Hasilnya adalah sekuen slow-burning yang intens.
Melalui debut filmnya, Kali Reis jadi pilihan tepat menghidupkan perannya. Tentu ia meyakinkan sebagai petinju, mengingat Reis sendiri merupakan penyandang gelar juara dunia tinju dalam dua kelas berbeda. Tapi tidak kalah penting adalah emosi raw miliknya, yang sejalan dengan visi realis sang sutradara.
Di balik gelaran thriller-nya, Catch the Fair One menyimpan subteks terkait perbudakan modern. Bagaimana wanita, terlebih person of color, nyatanya masih coba diperbudak para pria kulit putih. Baik sebagai PSK yang cuma dianggap komoditas, maupun istri yang diperlakukan bak pelayan dan bisa disiksa kapan saja. Mengesampingkan subteks di atas, sejatinya Catch the Fair One berjalan mengikuti formula klise bagi film bertema "memburu penculik", khususnya pasca titik balik mengejutkan di pertengahan durasi.
Film yang solid, dan berpotensi jauh lebih baik kalau bukan karena pilihan konklusinya. Eksekusi Wladyka terlampau datar untuk bisa menusuk hati penonton lewat realita soal lenyapnya harapan dari dunia. Konklusinya mengecewakan bukan karena tidak bahagia atau meninggalkan rasa tidak nyaman, tetapi justru karena tak meninggalkan rasa apa pun, di tengah upaya menyajikan kepahitan.
(Klik Film)
REVIEW - JACKASS FOREVER
Di salah satu stunt, Machine Gun Kelly tercebur ke kolam dan langsung meminta handuk. Tubuhnya menggigil, wajahnya terkejut. Di situasi yang sama, seluruh anggota Jackass tertawa. Di stunt lain, Dark Shark, ayah Jasper Dolphin (salah satu anggota baru), seorang mantan gangster dan narapidana, ketakutan setengah mati saat laba-laba merambati tubuhnya. Bagaimana reaksi anggota Jackass di situasi serupa? Tentu saja tertawa.
Sekitar 22 tahun pasca musim pertama serial televisinya, pria-pria gila yang rata-rata sudah berkepala lima ini masih menertawakan bahaya. Film superhero boleh menguasai industri, tapi Jackass Forever punya jajaran manusia super sungguhan.
Filmnya diawali oleh sekuen pembuka terbesar dalam sejarah Jackass, yang menyelipkan stunt khas serinya ke dalam sketsa soal invasi monster raksasa. Jangan mengharapkan monster dari CGI mewah, karena yang kita lihat adalah penis dan zakar Chris Pontius dalam balutan "tata rias". Sekuen tersebut jadi penegas, bahwa di installment keempat sekaligus (kemungkinan besar) pamungkas, alih-alih melunak, kegilaan justru memuncak.
Nama-nama baru mengisi jajaran cast. Zach "Zackass" Holmes yang dikenal lewat stunt series berjudul Too Stupid to Die yang mewarisi jiwa Jackass, jelas paling menonjol. Dia berpengalaman, pun begitu enteng melakoni tantangan paling berbahaya. Demikian juga Sean "Poopsies" Mclnerney, yang bakal diingat melalui aksinya menerima gigitan ular berbisa. Sedangkan Rachel Wolfson, selaku anggota wanita pertama, mendapat "perawatan kecantikan" berupa sengatan kalajengking di wajah.
Selain anggota baru, ada pula stunt baru, tapi beberapa stunt lama pun turut hadir. Bukan bentuk kemalasan. Cup test yang kembali dihadapi Ehren McGhehey mewakili semangat Jackass untuk selalu mendobrak batas, sedangkan saat akhirnya kentut Steve-O berhasil diledakkan dalam air (telah dicoba sejak film kedua 16 tahun lalu), kita diperlihatkan betapa gigih orang-orang ini.
Hal-hal di atas membuat Jackass Forever lebih dari sebatas kekonyolan kosong. Saya mengagumi kreativitas dan kegigihannya, tapi lebih dari itu, persahabatan antar anggotanya. Sesakit apa pun, semengerikan apa pun, mereka selalu tertawa kala jadi korban keisengan. Ketika giliran orang lain yang jadi korban, mereka tertawa sambil bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi, tanpa lupa memastikan kondisi si teman baik-baik saja.
Johnny Knoxville sekali lagi beradu melawan banteng. Selepas satu serudukan, Knoxville tergeletak. Dia mengalami gegar otak, tulang rusuk dan pergelangan tangannya patah, hingga pendarahan di otak. Begitu bangkit, anggota lain berkata, "That's why he is the captain". Di situ muncul kehangatan yang tak saya duga dapat dimiliki film Jackass.
Semua stunt tampil menghibur. Kata "menghibur" di sini punya banyak arti, dari memancing tawa, ngeri, sampai rasa mual. Anda bakal terkejut melihat bagaimana cast-nya bersedia menembus batasan ekstrim. The Paddle Penis membawa kita mempertanyakan anatomi tubuh manusia (atau tepatnya tubuh Chris Pontius), sementara The Lie Detector Test jadi segmen yang paling menyulut kecemasan.
Kembali menduduki kursi penyutradaraan, Jeff Termaine tentu paham betul momen apa saja yang mesti ditangkap. Penempatan kameranya selalu menangkap dua hal penting: reaksi "korban" dan penekanan seberapa gila sebuah stunt (setinggi apa suatu lompatan, sekeras apa sebuah pukulan, dll.).
Saya bukan pengagum komedi slapstick, namun Jackass Forever (atau judul-judul Jackass lain) adalah spesies berbeda. Tiada usaha menahan diri. Total, ekstrim, gila, mengejutkan, dan tanpa disangka menyimpan sedikit kehangatan. Durasi 96 menit berlalu amat cepat.
(Paramount+)

%20(1).png)



%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

.png)

.jpeg)

.png)









%20(1).png)

.png)
5 komentar :
Comment Page:Posting Komentar