SOMETHING IN BETWEEN (2018)

13 komentar
Untuk pertama kalinya, romana produksi Screenplay Films mampu tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan 1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau tragedi, semata sebagai alat agar para pemain mengalirkan air mata sederas mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di kursi sutradara, Asep Kusdinar (Magic Hour, London Love Story, Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.

Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif. Titien dan Novia melakukan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films, seperti dialog puitis dan twist dramatis, yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama di 4 film (tidak termasuk cameo), serta bakal kita jumpai lagi pada akhir bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.

Saya tidak bisa banyak menuliskan alurnya, sebab mengungkap kejadian selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang pemuda yan memutuskan kembali ke Indonesia dari London setelah ia terus bermimpi tentang sebuah tempat dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang siswa-siswi SMA yang saling cinta.

Tidak ada alasan kuat mengapa Gema (Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), sebab keduanya pun jarang berinteraksi, salah satunya karena mereka berasal dari kelas yang berbeda. Gema adalah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan. Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan menjadikannya bahan pembicaraan. Gema sendiri beralasan jika “Menyukai Maya karena tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi mencintai dalamnya?”. Tidak masuk akal memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.

Bicara romantika milik Screenplay Films sama saja bicara tuturan verbal gombal. Something in Between menekan dialog (sok) puitisnya sampai ke dosis yang dapat dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah perilaku antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan keduanya.

Melewati satu jam pertama, tensi sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali populer di kisah cinta SMA perfilman kita. Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup menciptakan nuansa manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa bodoh ketimbang romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak semudah itu diterima.

Perihal elemen fantasi, lagi-lagi saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma) mementingkan efek kejut, juga menjadikan elemen fantasi itu sebagai alat memainkan drama emosional seputar relasi berbasis memori antara karakter. Memori yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.

Dari Yayu Unru sebagai penjaga sekolah, sampai Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang tua Maya, semua mendapat kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.

Andai bukan karena ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya inkonklusif, terburu-buru mengakhiri kisah sebelum memberi resolusi memuaskan yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya meragukan sekuelnya bakal segera diproduksi. Sayang sekali.

13 komentar :

Comment Page:

JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN (2018)

7 komentar
Tentu Johnny English Strikes Again, selaku film ketiga dalam seri Johnny English tidak menawarkan hal baru, tapi secara mengejutkan, merupakan sekuel yang superior, setidaknya dibanding Johnny English Reborn (2011). Tanpa usaha berlebihan menawarkan kelucuan yang berbeda merupakan kunci. Debut penyutradaraan layar lebar David Kerr ini sadar takkan mampu menggaet penggemar baru apalagi merebut hati kritikus. Hasilnya adalah hiburan yang kembali ke formula dasar berupa parodi oldskul film bertema agen rahasia (khususnya seri 007).

Apabila ada modifikasi yang ditawarkan naskah buatan William Davies yang turut menulis 2 film pertamanya, itu tak lain berupa penolakan Johnny English (Rowan Atkinson) menjadi agen rahasia berbekal teknologi semodern mungkin. Dia menolak smartphone dan memilih telepon umum, juga menampik mobil-mobil hibrida mewah demi Aston Martin bergaya lama. Tapi jangan harap itu menghadirkan kritik tajam perihal ketergantungan masyarakat akan teknologi. Bukan pula perkara besar, mengingat Johnny akan selalu membuat kekacauan, tidak peduli seberapa canggih atau kuno peralatannya.

Selepas tak lagi aktif menjadi agen rahasia, Johnny menjalani profesi sebagai guru, yang diam-diam mengajari muridnya teknik-teknik spionase. Namun serangan cyber terhadap pusat data MI7, yang berujung terungkapnya seluruh identitas agen rahasia, memaksa Johnny, yang datanya tak terbongkar karena telah penisun, kembali menjalankan misi. Bersama Agen Bough (Ben Miller) si kawan lama, Johnny harus membongkar dalang di balik serangan tersebut. Di saat bersamaan, Perdana Menteri Inggris (Emma Thompson) berjuang menyelamatkan negara (dan mukanya) dengan menjadikan ahli teknologi, Jason Volta (Jake Lacy), sebagai kepala keamanan digital.

Anda tahu ke mana arah investigasinya, termasuk identitas si pelaku yang teramat jelas sejak kemunculan pertamanya. Beruntung, Johnny English Strikes Again enggan mati-matian menutupinya atau menganggap penonton tak mampu menebaknya dan memposisikan pengungkapan identitas sang pelaku sebagai kejutan. Sekali lagi, itulah kelebihan film ini. Sadar atas segala keklisean juga kebodohannya, tanpa berpura-pura menjadi sesuatu yang lebih. Alurnya melompat dari satu banyolan menuju banyolan lain yang belum seluruhnya sukses memancing tawa, tapi paling tidak, di humor yang bekerja kurang maksimal pun, senyum masih bisa dihadirkan. Olga Kurylenko, yang juga mantan Bond Girl di Quantum of Solace (2008) memerankan Ophella si agen rahasia Rusia dengan perpaduan sempurna antara figur femme fatale dengan sentuhan komedi. Saya berharap ia diberi lebih banyak momen komikal di sini.

Kuncinya adalah kesederhanaan. Deretan slapstick mendominasi namun tidak mencoba tampil sebesar atau seabsurd mungkin. Kebodohan Johnny tak mesti melulu menampilkan kekacauan berskala besar. Rangkaian kejenakaan berlingkup kecil seperti salah satu humor yang melibatkan “nama samaran” justru merupakan puncak gelak tawa filmnya. Tentu pencapaian itu turut dimungkinkan oleh kembalinya Rowan Atkinson pada puncak performa, yang memunculkan perasaan serupa ketika menyaksikan era kejayaan Mr. Bean dahulu. Ambil adegan “gas tidur” di paruh awal. Bahkan, cara si aktor merespon situasi, plus bagaimana David Kerr menangkap situasinya, mengingatkan pada episode Back to School Mr. Bean.

Tidak banyak elemen dapat dibahas dari Johnny English Strikes Again. Filmnya tahu apa harapan penonton, anda tahu harus berekspektasi seperti apa, dan itu pula yang filmnya berikan. Tidak kurang, tidak lebih. Sebuah hiburan sekali waktu dengan kemampuan memberi kesenangan selama anda duduk dalam studio, lalu ketika pulang ke rumah, kontennya akan segera terlupakan, terkubur oleh penantian terhadap film-film lain yang lebih memancing rasa penasaran. 

7 komentar :

Comment Page:

ARWAH TUMBAL NYAI THE TRILOGY: PART ARWAH (2018)

23 komentar
Mari sambut Arwah Tumbal Nyai The Trilogy: Part Arwah selaku film Indonesia dengan judul paling membingungkan sejak Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013). Arwah sendiri merupakan pembuka sebelum Tumbal dan Nyai yang masing-masing dibintangi Dewi Perssik dan Ayu Ting Ting ikut menyusul rilis tahun ini. Saya merasa patut berterimakasih, karena tanpa film ini, saya takkan tahu kalau Zaskia Gotik telah menjadi brand ambassador Go-Jek lalu mengubah namanya menjadi Zaskia Gotix. Jangan kaget jika di film kedua ia berganti nama lagi jadi Zaskia Go-Ride.

Digarap oleh sutradara spesialis film ajaib, yaitu Arie Azis (Oops!! Ada Vampir, Tali Pocong Perawan, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend), Arwah mengisahkan seorang gadis bernama Syurkiani (Zaskia Go-Car), yang untungnya tidak gemar beradegan syur, melainkan bermimpi ingin menari jaipong seperti mendiang ibunya. Tapi rentetan kasus hilangnya para penari jaipong secara misterius ditambah larangan sang nenek, Lela (Minati Atmanegara), membuat impian Mbak Syur sukar terwujud.

Tapi Mbak Syur nekat, kemudian memilih meminta diajari oleh Nyi Imas (Dewi Gita), yang tinggal di sebuah rumah tua. Di rumah Nyi Imas pula terdapat kendang terkutuk yang apabila dipukul tiga kali, bakal membangkitkan para hantu. Di sinilah naskah karya Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Alas Pati) mulai menunjukkan kejeniusannya berlogika. Nyi Imas bersedia melatih Mbak Syur menari jaipong asal Mbak Syur mau memukul kendang itu 3 kali. Pertanyaan bagi anda: Mbak Syur ingin belajar jaipong, tapitak mau memanggil hantu. Jalan apa yang mesti dia ambil agar 2 hal tersebut terpenuhi?

Apabila anda menjawab “pergi dari sana, cari guru jaipong di kota lain”, maka SELAMAT, anda cukup pintar juga waras. Sayang, Mbak Syur (dan penulis naskahnya) tidak sepintar itu. Karena pantangannya adalah “JANGAN PUKUL KENDANG 3 KALI”, dia pun MEMUKUL KENDANG 4 KALI! Begini Mbak Syur, sebagai orang yang peduli pada sesama, beri saya kesempatan untuk menjelaskan. Jika anda memukul kendang itu 4 kali, bukankah artinya anda sempat memukulnya sebanyak 3 kali yang artinya hantu-hantu sudah keluar?

Selanjutnya, kebodohan demi kebodohan elemen cerita menyusul bergantian. Tapi jangan khawatir. Bukan cuma itu kehebatan film ini. Sebagaimana Dewi Perssik sebut di sebuah wawancara, ia ingin trilogi ini menjadi bak trilogi “GOD FATHER”. Peduli setan bahwa penulisan judul yang benar adalah “The Godfather”. Mungkin maksud Dewi, keduanya sama-sama total. Apabila trilogi garapan Francis Ford Coppola itu memukau di seluruh elemen, maka Arwah Tumbal Nyai remuk di segala sisi.

Tata suaranya lebih berantakan daripada arus lalu lintas Ibukota di jam pulang kantor. Karakternya bagai bicara dari balik bantal sehingga sulit mencerna apa yang dikatakan. Apalagi kalau kalimat itu diucapkan oleh Shakti Arora yang memerankan Shakti, kekasih Mbak Syur. Orang bicara sambil kumur-kumur masih lebih jernih di telinga ketimbang obrolan film ini. Sedangkan musik gubahan Tya Subiakto termasuk salah satu scoring paling menyayat telinga yang pernah saya dengar. Baru kali ini saya benar-benar menutup telinga karena tidak kuat.

Tentu saja “musik” tersebut rutin menemani deretan jump scare “asal masuk” yang disusun Arie Azis. Jujur, Arwah sejatinya diawali dengan cukup meyakinkan. Hantu tidak buru-buru dimunculkan, dan waktu coba dimanfaatkan guna menuturkan kisahnya, walau apa sebenarnya yang ingin dikisahkan tak pernah jelas. Sekitar 15-20 menit pertama plus beberapa titik-titik berikutnya, Arie Azis nampak ingin membuat slow burning horror.

Ya, bukan saja The Godfather, Arie pun berusaha menciptakan Hereditary versinya, yang mengalun pelan, luar biasa pelan sampai satu sekuen jump scare saja sempat makan waktu 5 menit. Dari Mbak Syur terbangun akibat barang di kamarnya jatuh, duduk di kasur, pelan-pelan berjalan ke arah barang itu, pelan-pelan mengeceknya, pelan-pelan membuka pintu, pelan-pelan menutup pintu, pelan-pelan menengok ke bawah kasur, dan berbagai “pelan-pelan” lain yang ditutup menggunakan payoff antiklimaks kala musik penyayat telinganya terdengar beberapa detik lebih cepat sebelum si setan menampakkan wajah.

Melakoni debut akting layar lebarnya,  Zaskia Go-Pay masih luar biasa canggung. Sewaktu dituntut berakting kaget akibat gangguan setan, Zaskia Go-Massage malah bagai orang yang dikejutkan bunyi alarm. Satu-satunya hal yang terlihat natural hanya ketika Zaskia Go-Food mencoba beberapa gerakan tari jaipong. Akting sang aktris kaku sekaligus monoton, sama monotonnya dengan gelaran alur yang berjalan memakai formula: Datang ke rumah Nyi Imas - Diusir - Menemukan misteri - Datang ke rumah Nyi Imas - Ulangi dari awal.

Semakin mencapai akhir, kekonyolan alurnya makin dahsyat, sayangnya, begitu pula histeria penonton kebanyakan, yang rupanya sangat terhibur menyaksikan Zaskia Go-Send terjebak dalam satu lagi “horor berisik”. Fakta mengenaskan: Jumlah penonton Arwah pada hari pertama penayangan mengalahkan Aruna & Lidahnya juga Something in Between, walau di antara ketiganya, film yang dibintangi Zaskia Go-Box ini diberi jatah layar paling sedikit. Bukan salah bioskop, bukan salah Rapi Amat, bukan salah Zaskia Go-Pulsa. Kita sebagai penonton yang perlu introspeksi.

23 komentar :

Comment Page:

ARUNA & LIDAHNYA (2018)

8 komentar
Saya teringat satu adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 ketika Cinta diam-diam tersipu di samping Rangga yang tengah menyetir. Momen itu menunjukkan kepiawaian Dian Sastrowardoyo bertutur secara non-verbal dalam situasi menggelitik. Aruna & Lidahnya, yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak praktis menampilkan bagaimana jadinya apabila adegan beberapa detik itu dijadikan suguhan 106 menit. Hasilnya sedap, bahkan lebih sedap dari piring demi piring makanan yang memiliki screentime lebih banyak dibanding beberapa pemainnya sekalipun.

Kali ini Dian memerankan Aruna, epidemiologist (ahli wabah) yang oleh kantornya ditugaskan melakukan investigasi terhadap wabah flu burung di berbagai daerah Indonesia, sembari secara bersamaan melakukan wisata kuliner bersama sahabatnya, Bono (Nicholas Saputra), yang berprofesi sebagai chef. Seiring perjalanan, turut hadir Nadezhda (Hannah Al Rashid), penulis makanan yang selama ini tinggal di luar negeri, juga Farish (Oka Antara) yang ditugaskan membantu investigasi. Sejak dulu Aruna menyimpan perasaan lebih kepada Farish, sebagaimana Bono juga menyukai Nadezhda.

Berbasis naskah garapan Titien Wattimena (Salawaku, Dilan 1990), Edwin yang tahun lalu baru saja memenangkan “Sutradara Terbaik” pada Festival Film Indonesia, membawa keempat tokohnya dalam perjalanan separuh road movie separuh food porn guna belajar soal kehidupan pula cinta yang dijembatani oleh rasa. Serupa judulnya yang mengandung kata “lidah” selaku indera perasa, “rasa” memang memainkan peranan penting di sini.

Dibayangi patah hati akibat cintanya pada Farish yang tak kesampaian ditambah kepenatan kerja, Aruna bagai mati rasa. Di awal film, ia mendeklarasikan bahwa untuk menyantap makanan enak tidak perlu melibatkan romantisasi berupa keharusan menikmatinya bersama orang spesial. Menutup hatinya, lidah Aruna pun turut kehilangan kemampuan mengecap rasa makanan, termasuk masakan kelas wahid buatan Bono. Melalui perjalanan ini, dia mulai coba pelan-pelan belajar merasakan lagi, baik dengan lidah maupun hatinya.

Naskahnya rapi merajut subteks yang sejatinya tak seberapa subtil di atas, yang seluruhnya, termasuk sempilan subplot tentang pencarian resep “nasi goreng bibi”, bermuara menuju kesimpulan bahwa rasa paling paripurna sejatinya bersumber dari orang-orang tercinta. Sementara investigasi terhadap kasus flu burung memberi kesempatan filmnya menyentil beberapa isu sosial sekaligus menarik benang merah perihal “rahasia”, suatu hal yang nampaknya begitu digemari para karakternya. Anda akan tahu rahasia apa saja yang dibawa investigasi ini setelah menonton filmnya.

Fokus utamanya tetap berkutat dalam 3 poin: pencarian rasa, romansa, dan makanan. Sayang, romansanya tidak semeyakinkan poin yang disebut pertama. Mengapa hati Aruna urung beranjak dari Farish—si pria kaku sekaligus judes—bahkan ketika reuni mereka diawali dengan kurang menyenangkan? Selain berparas rupawan, apa yang spesial dari Farish? Sedangkan hubungan Bono-Nadezhda belum mampu mencapai potensinya menjadi subplot yang mendukung tema “pencarian rasa” sewaktu presentasinya sendiri tidak pernah tampil emosional. Pertanyaannya sama. Mengapa (apabila akhirnya menerima cinta Bono) Nadezhda bersedia menghentikan petualangan cintanya?

Tapi berkat jajaran cast kelas satunya, kelemahan tersebut tidak pernah terlalu mengganggu. Interaksi keempatnya menyenangkan disimak, entah saat membicarakan makanan, mengaitkannya dengan beragam sendi kehidupan (yang dirangkai oleh dialog-dialog “kaya”), atau sekedar melontarkan canda. Apalagi Dian dan Nic, yang setelah bertahun-tahun dipandang sebagai pasangan legendaris perfilman Indonesia, nampak demikian mudah menjalin chemistry natural. Saya takkan terkejut kalau beberapa obrolan merupakan hasil improvisasi di mana Edwin membiarkan keduanya berinteraksi bebas.

Dian adalah energi terbesar Aruna & Lidahnya, dengan ekspresi non-verbal quirky sebagai senjata andalan, tatkala Aruna, secara rutin sekaligus diam-diam, merespon omongan atau tingkah karakter lain. Mungkin Aruna bukan pertunjukkan akting terbaik Dian, namun jelas karakter paling berwarna, paling dinamis, paling kaya rasa, dan pastinya paling lucu sepanjang karirnya. Pun penampilan sang aktris mendukung pemakaian metode breaking the fourth wall yang filmnya terapkan agar penonton merasa lebih dekat dengan Aruna. Tentu keberhasilan itu juga berkat pengetahuan Edwin mengenai cara memanfaatkan keunggulan aktisnya, walau saat dihadapkan pada makanan, nyatanya sang sutradara belum seberapa mumpuni.

Ditangkap oleh kamera Amalia TS (Tabula Rasa, Galih & Ratna) selaku sinematografer, aroma, apalagi tekstur masakan belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan dalam bahasa visual. Apabila anda merasa lapar (seperti saya) saat menontonnya, itu bukan dikarenakan pencapaian artistik filmnya, melainkan “Siapa yang tidak berliur melihat makanan sedemikian banyak selama hampir 2 jam?”. Setidaknya Aruna & Lidahnya mampu mengenalkan ragam masakan khas daerah-daerah yang dikunjungi, sehingga besar kemungkinan pasca menyaksikannya, para penonton tertarik berburu makanan-makanan yang ada.
Menebus kelemahannya membungkus food porn, Edwin memamerkan cara uniknya bersenda gurau. Setelah menerapkan pendekatan “normal” melalui Posesif, inilah film di mana visi (for lack of a better word) absurd yang ia bangun sejak bermain-main di ranah sureal dahulu, berpadu apik dengan hiburan arus utama guna menghasilkan perjalanan mengasyikkan. Dari “adegan burung mati” hingga dua sekuen mimpi, adalah bukti keberhasilan Edwin menemukan formula yang memfasilitasi signature-nya tanpa mengalienasi penonton umum. Wisata kuliner (atau investigasi?) mungkin tak sedalam yang diniati, namun kelezatannya jelas sukar ditolak.

8 komentar :

Comment Page:

MUNAFIK 2 (2018)

10 komentar
Munafik (2016) adalah horor overrated biarpun jauh dari buruk. Filmnya sedemikian fenomenal tak lain karena kedekatan kultural serta keberanian sutradara sekaligus penulis naskah (plus aktor utama, editor, penata efek spesial dan efek visual) Syamsul Yusof (Evolusi KL Drift, KL Gangster) menjabarkan krisis keimanan seorang pemuka agama Islam. Namun di luar kisah spritualnya, teror Munafik belum bisa disebut spesial. Dua tahun berselang, sekuelnya “melipatgandakan” dua elemen di atas. Drama religinya dua kali lebih kompleks pula bernyali, sementara terornya dua kali lebih buruk.

Munafik 2, dengan bujet lebih tinggi (RM 2,8 juta, film pertamanya RM 1,6 juta), memang berambisi tampil lebih besar, bahkan sejak awal ketika Yusof langsung memperlakukan adegan layaknya klimaks, salah satunya karena musik garapan Extreme Music langsung mengalun kencang, nyaris tak berhenti sepanjang durasi. Tambahkan teriakan tiada ujung saat karakternya meneriakkan ayat-ayat suci Al Qur’an (total sekitar 10 surat), Munafik 2 semakin tampak berusaha terlalu keras menjadi epic, bahkan sesekali menyentuh teritori film superhero.

Saya serius. Di sini, Ustaz Adam (Syamsul Yusof) bagai pahlawan super dengan ayat suci sebagai kekuatan supernya, yang tiap pelafalan dilakukan secara dramatis lengkap dengan pose heroik juga balutan gerak lambat kala menghadapi iblis atau manusia kesurupan. Yusof—yang dilihat dari naskahnya jelas bukan seorang kolot—sadar bahwa protagonis seorang ahli agama berpotensi nampak “kuno” di mata penonton muda masa kini. Menjadikannya sosok superhero keren merupakan upaya modernisasi efektif yang pantas diapresiasi. Oh, bahkan seorang karakter wanita sempat membantai para musuh menggunakan kapak bak heroine dari film-film slasher.

Dua tahun selepas tragedi yang menimpa keluarganya, Adam telah menata lagi hidup pula imannya, memantapkan diri menolong orang-orang yang mendapat gangguan supranatural, walau hatinya belum sepenuhnya tenang. Iblis pun masih sering mengunjunginya, coba menggoyahkan iman Adam dengan menyatakan bahwa sang Ustaz berjuang demi kepentingan pribadi ketimbang agama. Adam berusaha tegar. Itulah mengapa ia bersedia menempuh bahaya guna menolong Sakinah (Maya Karin) dan keluarganya yang berasal dari desa sebelah. Sebuah desa yang dikuasai para pemeluk aliran sesat.

Setiap superhero butuh supervillain, dan sebagai lawan Adam, Munafik 2 memiliki Abu Jar (Nasir Bilal Khan), yang bagi penonton Indonesia akan terlihat seperti “Limbad dengan kemampuan bicara”. Abu Jar mendeklarasikan dirinya sebagai utusan Allah yang memahami seluruh hadis hingga diberi kebebasan memiliki apa pun yang ia inginkan di dunia. Keyakinan itu membawa Abu Jar menjadi salah satu antagonis paling kejam sepanjang sejarah film horor, yang melakukan seluruh hal kejam yang mampu kita bayangkan. Dari membunuh ulama-ulama yang coba menghentikan ajarannya sampai menjadikan wanita budak nafsunya dan para pengikutnya.

Abu Jar menguasai desa, memanfaatkan rasa takut demi memperoleh kontrol layaknya para diktator lalim, walau sulit menerima begitu saja fakta jika setelah sebegitu banyak nyawa melayang, tak ada satu pun penduduk desa berani melapor pada polisi sementara pihak kepolisian sendiri tidak menyadari rangkaian pembantaian tersebut. Diperankan oleh Nasir Bilal Khan secara over-the-top, Abu Jar merupakan antagonis yang dengan senang hati penonton benci. Melalui Abu Jar kita melihat pemandangan mengenaskan kala orang-orang “mengafirkan” mereka yang menganut kepercayaan berbeda, menjadikan itu alat justifikasi tindakan persekusi hingga ke taraf pembunuhan. Menyedihkan, sebab pemandangan serupa mudah ditemui di dunia nyata termasuk negeri ini.

Lewat perspektif protagonis, Munafik 2 juga melayangkan beberapa pertanyan. Bisakah kita membenarkan pembunuhan demi keselamatan seseorang? Haruskah kita membahayakan diri untuk menegakkan agama? Dan masih banyak lagi. Karakternya, khususnya Adam, coba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu meski harus melalui siksaan batin dan fisik yang lebih sulit, lebih berbahaya, juga memberi dampak lebih tragis dari sebelumnya.

Berjalan selama 2 jam, Munafik 2 enggan mengendurkan tensi, terus memacu tempo tanpa pernah bersedia melambat. Pilihan eksekusi ini menghasilkan pisau bermata dua. Di satu sisi, terus dipacunya intensitas mampu meniadakan kebosanan, namun di sisi lain, kerap terasa melelahkan, apalagi saat beberapa elemen mulai tampil repetitif. Anda akan mendengar tokoh-tokohnya terus meneriakkan hal sama, yang kebanyakan (selain pembacaan ayat suci) berkutat pada saling tuduh tentang siapa paling sesat, dan tentunya paling munafik. Belum lagi nihilnya jump scare yang mampu menggedor jantung. Hampir seluruhnya medioker, minim kreativitas, tetapi maksimal dalam menghajar telinga lewat musik plus efek suara tanpa henti.

Saya memaklumi pilihan Yusof, mengingat horor berisik bertempo cepat adalah primadona bagi mayoritas penonton. Satu hal yang sulit dimaklumi yaitu pengungkapan fakta mengejutkan di babak resolusi, yang bukan saja bodoh, pula susah dicerna akal sehat. Sebuah kejutan dengan lubang yang membesar sewaktu Yusof coba mengaitkannya dengan peristiwa film sebelumnya. Dan Munafik 2 masih menerapkan elemen deus ex machina untuk menutup cerita, meski berbeda dengan film pertama, kali ini elemen tersebut bukan bertugas merangkum perjalanan si tokoh utama, melainkan murni simplifikasi terhadap solusi permasalahan.

10 komentar :

Comment Page:

ALPHA (2018)

10 komentar
Sejak kapan manusia dan anjing bersahabat? Jika pertanyaan itu diajukan kepada Albert Hughes (From Hell, The Book of Eli), yang menyutradarai Alpha berdasarkan cerita buatannya yang diadaptasi ke dalam naskah oleh Daniele Sebastian Wiedenhaupt, jawabannya adalah “sejak 20.000 tahun lalu”, ketika dunia menginjak masa Last Glacial Maximum alias periode akhir zaman es. Tentu Alpha bukan dimaksudkan menjadi kisah sejarah akurat, tetapi Hughes cerdik bermain-main dengan latar belakang fiktif yang ia tanam mengenai hubungan manusia dengan anjing, atau di film ini, seekor Anjing Serigala Cekoslowakia.

Kodi Smit-McPhee mengaktifkan mode “Leonardo-DiCaprio-di-The-Revenant” saat karakter yang ia perankan, Keda, terpisah dari sukunya kala berburu bison. Ini perburuan perdananya, dan Tau (Jóhannes Haukur Jóhannesson), sang ayah sekaligus kepala suku, bersemangat melihat Keda mulai menapaki jejaknya menjadi sesosok “alpha”. Namun Keda nampak cemas. Mungkin sebagaimana ibunya (Natassia Malthe) rasa, Keda belum siap. “Dia memimpin menggunakan hatinya, bukan dengan tombaknya”, sebut sang ibu.

Benar saja, Keda buruk perihal melempar tombak. Alhasil seekor bison menyeruduk, menjatuhkannya ke ujung tebing. Tau beserta sukunya pergi, tanpa tahu bahwa Keda masih bernyawa. Sendirian, sang remaja dituntut menghadapi rentetan bahaya yang memaksanya melatih keberanian dan kekuatan guna bertahan hidup. Terseret air bah, kekurangan makan dan minum, terjebak badai es,  semua dialami, tapi kejaran sekelompok serigala lah yang mengubah jalurnya. Melukai seekor serigala ketika menyelamatkan diri, Keda berujung merawat si serigala, mengobati lukanya, memberi makan, menamainya Alpha. Alpha pun mengikuti Keda, sesuatu yang awalnya tak ia kehendaki. Berbagai cara dilakukan untuk mengusir Alpha, termasuk melempar sebatang kayu, yang justru dia kembalikan pada Keda. Ya, ini asal muasal permainan “lempar tangkap” versi Hughes.  

Smit-McPhee meyakinkan sebagai seseorang yang terluka, susah payah berjalan, namun transformasi bertahapnya dari pemuda lemah nan ragu menjadi sosok yang lebih kuat pula dewasa adalah alasan mengapa pujian layak disematkan bagi sang aktor. Pun itu bukan elemen terbaik Alpha. Sihir sesungguhnya tampak dari cara Hughes memperlakukan Alpha. Memakai anjing serigala terlatih, Hughes mampu membuat Alpha interaktif. Hanya diam menatap, duduk, melolong, tapi saya seolah dapat memahami maksud di balik segala perbuatan itu berkat kepiawaian Hughes bercerita lewat visual plus penyuntingan cermat Sandra Granovsky sehingga Alpha memiliki emosi alami, yang berjasa menguatkan ikatannya dengan Keda.

Hanya satu dari dua tokoh utama berbicara dan berakting sungguhan, nyatanya Alpha malah lebih dinamis sekaligus emosional ketimbang banyak film mengenai persahabatan antara dua karakter manusia. “Magis” mungkin kata yang tepat mewakili persahabatan Keda-Alpha, sama magisnya dengan departemen visualnya. Nyaris semua shot, entah diisi pemandangan alam prasejarah, bintang di angkasa, atau pergulatan hewan melawan manusia, dikemas indah. Kadang saya merasa bagai sedang menyaksikan dokumenter di mana pembuatnya kembali ke masa lalu memakai mesin waktu untuk merekam footage-nya. Sinematografi Martin Gschlacht layak dipuji, tapi kreativitas Hughes turut berjasa. Tengok saja pemakaian split screen di adegan “danau es”.

Di luar imajinasi Hughes akan permulaan hubungan manusia-anjing serupa momen “lempar tangkap” tadi, narasi Alpha sejatinya formulaik. Daniele Sebastian Wiedenhaupt mengikuti pola film survival di mana protagonisnya terluka, tersesat, tersiksa, kelaparan, yang pelan-pelan mulai menunjukkan tanda repetisi meski durasinya cuma 96 menit. Klimaksnya bisa dibilang nihil, dan mendadak kita langsung dilempar menuju konklusi, tapi kelemahan itu ditebus oleh momen penutup indah yang menyiratkan bahwa persahabatan Keda dan Alpha bakal dilanjutkan oleh keturunan-keturunan mereka hingga 20.000 tahun ke depan, dan seterusnya.

10 komentar :

Comment Page:

SAKRAL (2018)

6 komentar
Sakral merupakan kolaborasi kelima (keempat sepanjang 2018) MD Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya “paling tidak menyiksa”, karena sejak Gasing Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding penyakit lain. Tetap saja menyiksa.

Setidaknya para pembuat film ini belajar dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya tersusun atas fragmen-fragmen jump scare yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu agar mampu lebih dulu memaparkan cerita, walau bukan cerita yang solid, menghasilkan penantian melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi, setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan, Dheeraj Kalwani akhirnya mengalami kemajuan.

Kisahnya dibuka saat sepasang suami istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???). Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui duka justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya, naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan cinta milik suami-istri mampu mengalahkan apa pun termasuk duka (dan iblis). Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.

Melina terus melihat hal-hal mengerikan seperti penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel meragukan kewarasan sang istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog sekaligus teman Daniel dengan mudah mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan mengucapkan dialog (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar, Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa saya membahas akting si pemeran setan dengan caranya memberi penekanan di tiap akhir kata yang luar biasa menggelikan.

Progresi alurnya cukup rapi karena bersedia menanti hingga momen yang tepat guna memunculkan penampakan hantu, menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, dibutuhkan cerita untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput memahami jika logika turut dibutuhkan dalam cerita, sebab setelah satu hari berlalu, saya masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.

Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan penonton bukan karena disusun begitu baik, melainkan gempuran tata suara luar biasa keras yang sampai membuat studio bergetar hebat. Padahal saya sempat menaruh sedikit (sangat sedikit) harapan saat mendapati penampakan perdana sang hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan klimaks seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun puncak kekacauan menegangkan. Ada niat menciptakan klimaks brutal, tapi tak peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bagian tubuh terpotong gergaji mesin, tanpa sudut kamera tepat (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong, kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina diam-diam pasangan ninja Konoha?

6 komentar :

Comment Page:

BELOK KANAN BARCELONA (2018)

11 komentar
(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang mampu membawa saya dalam hubungan cinta/benci seperti Belok Kanan Barcelona. Saya mencintai caranya menuturkan betapa cinta dapat mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya mencintai caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mencintai masing-masing karakter utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai terjun ke bab agama bahkan terkesan offensive di beberapa titik.

Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang kini tinggal terpisah di empat negara berbeda. Francis adalah pianis pemenang Grammy pertama asal Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan pernikahan Francis dengan Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi, walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.

Semua bermula dari masa SMA, tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi tempat curhat Retno juga tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan Farah, turut diam-diam memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan kelulusan SMA selaku pembuka, Belok Kanan Barcelona menempatkannya di tengah, setelah terlebih dulu membawa penonton mengarungi flashback yang menyoroti dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi karakter beserta persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus pahitnya mencintai kawan sendiri, ketika pengungkapan perasaan bak haram hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.

Departemen akting merupakan elemen terkuat filmnya. Morgan kharismatik seperti biasa sehingga mudah menerima saat Francis disukai dua gadis cantik walau detail penokohannya tak seberapa digali (baca: dia populer karena ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala Deva akhirnya memperoleh materi yang pas guna memfasilitasi talenta komediknya. Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui deretan ekspresi aneh dan ketiadaan urat malu dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah merupakan peran yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas satu.

Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik 2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif menciptakan adegan emosional saat melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan.  Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi cuci mata belaka, melainkan panggung pembuktian bahwa kekuatan cinta mampu mendorong seseorang melintasi dunia.

Mengesankan, hingga elemen religi menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan keyakinan Francis dan Retno. Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi, “Apa kamu tega membuat Francis harus memilih antara kamu (Retno) atau Tuhannya?”. Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak menyalahkan perspektif tersebut, sebab kenyataannya, hal itu sulit dijalani di Indonesia. (Spoiler starts hereSaya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis akhirnya memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang keyakinan personal), itu cara paling aman agar bisa menghabiskan hidup bersama.

Masalah mencuat saat Belok Kanan Barcelona melukiskan orang Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah keyakinan demi pernikahan dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya, Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih memanjatkan doa, setelah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai materi komedi), tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu membuktikan ketidakpekaan para pembuatnya.

11 komentar :

Comment Page:

THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS (2018)

5 komentar
Dalam salah satu perubahan jalur karir paling ekstrim sejak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi darah menuju adaptasi novel The House with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland sejak buku ketujuh setelah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik Amblin Entertainment, film ini bersahabat bagi penonton anak. Jika biasanya Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba menghangatkannya, meski akhirnya sang sutradara total bergantung pada jajaran pemain untuk mencapai itu.

Kasus lain tentang perubahan karir aneh adalah saat Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man. Raimi berhasil karena sutradara horor yang baik selalu memiliki sensitivitas dalam menciptakan intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”. Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan.  Berbeda dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung menciptakan kelemahan terbesar The House with a Clock in Its Walls.

Filmnya menghabiskan mayoritas durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah tertutup yang dianggap aneh oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis belajar menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.

Apabila anda perhatikan, dua poin di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan seperti jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun datang begitu kisahnya melewati separuh jalan. Sebelum sampai di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan menghibur. Visualnya, yang melibatkan kaca patri yang rutin berubah gambar, perabotan yang dapat bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air di bak pasir, terlihat menarik  dalam balutan sinematografi Rogier Stoffers (School of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan ide imajinatif tersebut memang didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa menghidupkannya.

Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi usaha Lewis melatih ilmu sihirnya bisa kita temui. Montage yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil kuat berkat keberadaan Jack Black selaku salah satu keputusan casting yang tepat. Black sempurna menangani peran di dunia fantasi ajaib seperti ini. Vaccaro si aktor cilik pun tampil apik, khususnya saat diminta menangis tanpa perlu terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini jelas Cate Blanchett sebagai Florence Zimmerman, penyihir wanita tetangga Jonathan dengan obsesi terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah ularnya menjadi ungu.

Blanchett mengajarkan bagaimana cara berakting di tontonan family-friendly. Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah saat bertukar ejekan dengan Black atau ketika secara elegan tetapi playful, terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang mempunyai bagian dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan yang mana saat menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan matanya, pula keraguan kala melangkah, yang seperti halnya seseorang ketika dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.

Tanpa kebolehan akting pemainnya, film ini akan menjadi perjalanan yang enak dilihat namun nihil kepekaan akan intensitas. Narasinya terasa draggy, juga nyaris tanpa sentakan, sebab sekali lagi, Roth bukan ahlinya menciptakan ketegangan bahkan saat menggarap horor. Tanpa gore dia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak sampai jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror. Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali memperlihatkan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.

Akibat sisi lemah penyutradaraan Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera mencapai titik di mana bahaya besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu akhirnya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melakukan hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup memesona bagi kawan-kawannya.

The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran trio protagonis melawan monster labu plus berbagai makhluk aneh lain, yang kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akibat klimaks yang berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack Black” membuktikan bahwasanya Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, memiliki otak sinting yang dapat memproduksi hiburan.

5 komentar :

Comment Page:

HEILSTÄTTEN (2018)

5 komentar
Silahkan googlingfound footage haunted hospital horror movie”. Anda akan menemukan setumpuk judul termasuk Gonjiam: Haunted Asylum asal Korea Selatan yang rilis beberapa bulan lalu. Sebab ini adalah lokasi menjemukan di subgenre yang makin menjemukan pula. Mungkin memang ada ketakutan dalam diri kita terhadap rumah sakit maupun sanatorium, di mana koridor gelap mengelilingi sementara aroma kematian tercium pekat bahkan meski belum ditinggalkan atau bukan tempat melangsungkan eksperimen terlarang. Sementara konsep found footage (selain bentuk penghematan biaya) diharapkan menangkap nuansanya secara nyata. Tapi Heilstätten keliru menangkap esensi found footage. Visualnya menyolok, terlampau berusaha terlihat bergaya dan terpoles untuk menciptakan atmosfer tidak nyaman, juga begitu bising ketika penggunaan musik berlebih melucuti realisme alih-alih merayap tanpa penonton sadari selaku ambient.

Jajaran tokoh utamanya adalah para YouTuber. Marnie (Sonja Gerhardt) dari kanal soal mengahadapi ketakutan yang juga “final girl” kita, Betty (Nilam Farooq), seorang daily vlogger (pastinya membicarakan tentang apa entahlah), dan duet prankster, Chris-Finn (Davis Schulz dan Timmi Trinks), yang gemar melawan hukum termasuk menyelinap ke kamar mayat untuk mengambil swafoto bersama jenazah. Singkatnya, mereka adalah 2 remaja tolol yang bahkan tak tahu jika Perang Dunia belum lima kali pecah dan memutuskan menghabiskan malam di rumah sakit angker demi mendongkrak popularitas.

Duo penulis naskahnya, Michael David Pate (juga menyutradarai) dan Ecki Ziedrich jelas ingin menggambarkan mereka sebagai orang-orang bodoh dengan kepedulian nol besar sehingga pantas menerima hukuman dari hantu penunggu rumah sakit yang konon menebar kutukan mematikan pada siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Pada film horor di mana kebodohan karakter dihalalkan atas nama intensitas, intensi tersebut terasa cocok. Ketika di film lain kita terpancing berujar, “Kenapa karakternya begitu bodoh??!!”, di sini kita bisa maklum, “Tentu saja remaja-remaja penggila popularitas ini sebodoh itu”.

Heilstätten kentara menyimpan keinginan agar penonton menertawakan karakternya, pun beberapa poin berpotensi jadi komedi gelap menggelitik saat kebodohan mengakibatkan kecelakaan bahkan kematian. Sayang, Michael David Pate tidak memiliki keberanian melangkah sepenuhnya ke sana. Dia ragu mengajak kita menertawakan kemalangan. Di satu titik, filmnya malah coba memberi pengampunan pada salah seorang tokoh dengan memberinya peran “teman yang setia”. Inkonsistensi tone yang membingungkan pun gagal dihindari.

Beberapa ide menarik terkait cara memunculkan hantu sejatinya bertebaran, namun metode yang Pate pakai membuatnya sulit disaksikan, entah akibat kamera yang bergoyang hebat atau penyuntingan chaotic. Setiap penampakan hadir, kamera bergetar atau adegan berpindah (atau gabungan keduanya) sebelum kita bisa melihat jelas peristiwa di layar. Titik balik jelang akhir berpotensi menyegarkan dan mengangkat keseluruhan film, namun lagi-lagi karena pendekatan “Jangan tunjukkan terornya”, peluang itu gagal dimanfaatkan. Heilstätten melewatkan kesempatan banting setir melangkah ke ranah torture porn brutal banjir darah. Sewaktu kejutan pertama di awal babak ketiga masih selaras dengan tema, momen pamungkasnya membunuh segala harapan Heilstätten menjadi horor layak tonton.

5 komentar :

Comment Page:

BISIKAN IBLIS (2018)

19 komentar
Seperti apa bunyi bisikan iblis? Kalau dalam banyak horor lokal termasuk karya teranyar sutradara Hanny R. Saputra (Mirror, Heart, Sajen) ini, bunyinya kurang lebih “was wes wos hhhhh hau siang hau siang hashama hashama”. Tapi jika bicara realita, tidak perlu jauh-jauh. Simak saja adaptasi novel Ghost Dormitory buatan Sucia Ramadhani ini. Iblis-iblis neraka bak tengah dikuasai dengki menyaksikan kemajuan perfilman Indonesia, lalu berbisik pada produser dan sutradara Bisikan Iblis agar menciptakan film berkualitas compang-camping demi menjegal pergerakan industri negeri ini, toh penonton bakal tetap berbondong-bondong meramaikan studio.

Perkenalkan Nany (Amanda Manopo), gadis yang selalu dirundung ketakutan, kerap bersembunyi dalam lemari, akibat melihat kematian sang ibu, Sophia (Elsa Diandra), semasa kecil. Nany yakin makhluk yang ia panggil Iblis Hitam merupakan dalang kematian ibunya, meski sang ayah, Frans (Dicky Wahyudi) menolak percaya. Berusaha mengalahkan rasa takut itu, Nany memilih bersekolah di asrama Erly yang dahulu juga jadi pilihan Sophia. TAPI TUNGGU SEBENTAR SAUDARA-SAUDARA!!! Kenapa papan nama asrama menunjukkan tulisan “Erly”, tapi di sekolahnya (yang dibuat memakai CGI pada tahap pasca-produksi) tertulis “Early”?  Saya berniat membahas kesalahan penulisan ini lebih lanjut, tapi terdengar bisikan iblis, “Sssst, nikmati saja filmnya”. Saya pun menurut. Rayuan iblis memang begitu kuat meracuni pikiran korbannya.

Bisa ditebak, rentetan kejadian aneh mulai menimpa asrama Erly...eh, Early....ah, maksudnya Erly....well, apa pun itu namanya. Hantu-hantu menampakkan diri, satu per satu nyawa siswi melayang, lembar demi lembar uang penonton terbuang. Nany yang mampu melihat para hantu tersebut awalnya ketakutan, tapi setelah teman sekamarnya, Gie (Zoe Jackson), memberi tahu bahwa mereka muncul guna menyampaikan pesan, Nany mulai memberanikan diri, walau seringkali, akhirnya berujung lari kocar-kacir juga. Bicara soal lari, para pemain khususnya Amanda Manopo perlu belajar bagaimana berlari dikejar setan secara meyakinkan. Lambat, canggung, mereka berlari bak tokoh film komedi yang kabur karena lupa membawa uang ketika makan bakso.

Sedangkan Hanny R. Saputra perlu belajar cara menakut-nakuti penonton. Setelah sebuah jump scare tergarap baik, yakni sewaktu Nany dikagetkan oleh hantu yang bersandar di pintu kamarnya, Bisikan Iblis kembali pada rutinitas horor medioker di mana para hantu sebatas setor muka dibarengi tata musik berisik. Tapi momen saat kita pertama kali diperlihatkan kematian seorang siswi berhasil menyita perhatian. Diceritakan, sang siswi tewas tercekik selimut kala sedang tidur. Ajaibnya, ia tidur dalam kondisi mengenakan seragam sekolah lengkap dan kalau ingatan saya tepat, masih pula memakai sepatu. Tidak perlu Iblis Hitam turun tangan, dengan kostum tidur demikian, bocah ini akan mati sendiri karena sakit.

Kelak terungkap jika Nany merupakan bocah indigo, sanggup mendeteksi target Iblis Hitam berikutnya berkat simbol mirip garpu tala di jidat mereka. Menurut Bisikan Iblis, itu adalah lambang Necronomicon, padahal di dunia ini hanya ada 2 hal yang memakai garpu tala sebagai lambang: Yamaha dan Psikologi. Artinya, entah Yamaha dianggap sebagai kendaraan iblis, atau para Psikolog adalah pesuruh iblis. Sementara itu, naskah buatan Farhan Noaru (Kembang Kantil, Rumah Belanda) menggiring alur menuju penelusuran misteri mengenai asal muasal teror Iblis Hitam, yang diyakini Nany berkaitan dengan kematian ibunya. Penelusuran yang bermuara di hasil mencengangkan sekaligus amat sangat luar biasa super duper bodoh sekali.

Begitu banyak kebodohan, yang andai dijabarkan satu per satu takkan usai sampai Valak banting setir jadi ustazah sekalipun. Menurut film ini, polisi tidak bisa mendeteksi apakah sebuah racun berasal dari dalam kue atau tidak sengaja terciprat ke permukaannya. Menurut film ini pula, polisi tak sanggup menemukan botol bekas menyimpan racun yang terjatuh di TKP, yang tentunya penuh sidik jari guna mencari tahu siapa pemilik racun itu sebenarnya. Ditambah CGI menggelikan yang membuat sebuah jenazah tampak mengambang alih-alih tergeletak, lengkap sudah elemen yang Bisikan Iblis butuhkan guna mencemari industri film kita. Sampai saya keluar dari studio, mendengar seorang penonton berkata, “Serem yaah filmnya! Hiiiii!!!!”. Rayuan iblis memang begitu kuat meracuni pikiran korbannya

19 komentar :

Comment Page: