SOMETHING IN BETWEEN (2018)
Rasyidharry
September 30, 2018
Amanda Rawles
,
Asep Kusdinar
,
Cukup
,
Djenar Maesa Ayu
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Novia Faizal
,
REVIEW
,
Romance
,
Slamet Rahardjo
,
Surya Saputra
,
Titien Wattimena
,
Yayu AW Unru
13 komentar
Untuk pertama kalinya, romana
produksi Screenplay Films mampu tampil menyentuh hati. Naskah karya Titien
Wattimena (Aruna & Lidahnya, Dilan
1990, Tanda Tanya) dan Novia Faizal (Cinta
Tapi Beda, Heart Beat) bertindak selaku pembeda. Apabila naskah di
film-film sebelumnya yang digarap oleh Tisa TS memperlakukan patah hati atau
tragedi, semata sebagai alat agar para pemain mengalirkan air mata sederas
mungkin, musik mengalun sekeras mungkin, sementara di kursi sutradara, Asep
Kusdinar (Magic Hour, London Love Story,
Promise) berkesempatan mengeksploitasi gerak lambat demi efek dramatis.
Tapi dalam Something in Between, peristiwa menyedihkan bertugas memicu efek
domino berupa tersulutnya emosi-emosi lain, termasuk yang bersifat positif.
Titien dan Novia melakukan itu tanpa menjauh dari gaya khas Screenplay Films,
seperti dialog puitis dan twist dramatis,
yang kali ini disertai bumbu fantasi (we’ll
get into that later). Pasangan pemeran utamanya pun masih diisi wajah
familiar, yakni Jefri Nichol dan Amanda Rawles, yang sebelum ini telah bersama
di 4 film (tidak termasuk cameo),
serta bakal kita jumpai lagi pada akhir bulan ini lewat Dear Nathan Hello Salma.
Saya tidak bisa banyak menuliskan
alurnya, sebab mengungkap kejadian selepas 20 menit pertama saja berpotensi spoiler. Pastinya, dalam Something in Between ada seorang pemuda
yan memutuskan kembali ke Indonesia dari London setelah ia terus bermimpi
tentang sebuah tempat dan seorang gadis. Dari sana, kita dibawa melihat
pemandangan familiar: Jefri Nichol dan Amanda Rawles memerankan sepasang
siswa-siswi SMA yang saling cinta.
Tidak ada alasan kuat mengapa Gema
(Jefri Nichol) begitu kepincut pada Maya (Amanda Rawles), sebab keduanya pun
jarang berinteraksi, salah satunya karena mereka berasal dari kelas yang
berbeda. Gema adalah murid kelas reguler, sementara Maya anak kelas unggulan.
Menariknya, naskah film ini menyadari ketiadaan alasan tersebut, bahkan
menjadikannya bahan pembicaraan. Gema sendiri beralasan jika “Menyukai Maya
karena tampak luarnya saja sudah sekuat ini, apalagi mencintai dalamnya?”. Tidak
masuk akal memang. Tapi begitulah cara kerja cinta SMA.
Bicara romantika milik Screenplay
Films sama saja bicara tuturan verbal gombal. Something in Between menekan dialog (sok) puitisnya sampai ke dosis
yang dapat dikonsumsi secara aman, walau beberapa kalimat ditambah perilaku
antik Gema guna merebut hati Maya sesekali masih terasa cringey. Beruntung, Jefri dan Amanda memainkan “interaksi gulali” Gema-Maya
melalui cara yang menyenangkan, sehingga saya pun menikmati keberamaan
keduanya.
Melewati satu jam pertama, tensi
sempat anjlok seiring permasalahan yang semakin menipis, sementara
tingkah-tingkah unik Gema mulai menjadi pisau bermata dua. Berkat Dilan dan
Nathan, metode rayuan tidak lazim kembali populer di kisah cinta SMA perfilman kita.
Di sini, “proposal cinta” dan “kue ulang tahun” dari Gema sanggup menciptakan nuansa
manis. Namun kemudian ia melangkah terlalu jauh, dan pada sebuah momen (anda
akan tahu yang mana), “kreativitas” miliknya mulai terasa bodoh ketimbang
romantis. Sayangnya momen tersebut turut berposisi sebagai titik balik dramatis
filmnya, sehingga proses “banting setir” itu berlangsung kurang mulus, tak
semudah itu diterima.
Perihal elemen fantasi, lagi-lagi
saya tak bisa menjabarkan detailnya. Elemen tersebut memang berfungsi sebagai twist, tapi naskahnya bukan (cuma)
mementingkan efek kejut, juga menjadikan elemen fantasi itu sebagai alat
memainkan drama emosional seputar relasi berbasis memori antara karakter. Memori
yang memberi bobot rasa, bukan saja terkait urusan romansa, pula pertemanan dan
keluarga. Dalam pengemasannya, alih-alih mengharu biru secara berlebihan sebagaimana
biasa, kali ini penyutradaraan Asep Kusdinar lebih sederhana, membiarkan
jajaran pemain, khususnya para pendukung, mengatrol kekuatan adegan.
Dari Yayu Unru sebagai penjaga
sekolah, sampai Surya Saputra dan Djenar Maesa Ayu yang memerankan orang tua
Maya, semua mendapat kesempatan mengaduk-aduk perasaan penonton. Hadir pula
Slamet Rahardjo, memerankan Pak Bagus si Kepala Sekolah yang hampir tiap
kalimatnya terdengar menggelitik. Sejak Slamet Rahardjo di The Perfect Husband yang rilis April lalu, romansa produksi
Screenplay Films memang mulai menampilkan aktor-aktor berpengalaman, yang
terbukti merupakan keputusan tepat. Mari menantikan Christine Hakim dalam Dancing in the Rain bulan depan.
Andai bukan karena ending-nya, Something in Between takkan berhenti hanya sebagai persembahan
terbaik Screenplay Films sejauh ini, bahkan layak disebut salah satu film
Indonesia terbaik sepanjang tahun. Ending-nya
inkonklusif, terburu-buru mengakhiri kisah sebelum memberi resolusi memuaskan
yang berpotensi membawa emosi menuju puncak. Ada kesan semuanya disimpan untuk
materi sekuel. Bukan keputusan bijak. Selain melucuti kekuatan filmnya, melihat
perolehan penonton hari pertama yang cukup rendah, saya meragukan sekuelnya
bakal segera diproduksi. Sayang sekali.
JOHNNY ENGLISH STRIKES AGAIN (2018)
Rasyidharry
September 29, 2018
Ben Miller
,
Comedy
,
Cukup
,
David Kerr
,
Emma Thompson
,
Olga Kurylenko
,
REVIEW
,
Rowan Atkinson
,
William Davies
7 komentar
Tentu Johnny English Strikes Again, selaku film ketiga dalam seri Johnny English tidak menawarkan hal
baru, tapi secara mengejutkan, merupakan sekuel yang superior, setidaknya
dibanding Johnny English Reborn
(2011). Tanpa usaha berlebihan menawarkan kelucuan yang berbeda merupakan
kunci. Debut penyutradaraan layar lebar David Kerr ini sadar takkan mampu
menggaet penggemar baru apalagi merebut hati kritikus. Hasilnya adalah hiburan
yang kembali ke formula dasar berupa parodi oldskul film bertema agen rahasia
(khususnya seri 007).
Apabila ada modifikasi yang
ditawarkan naskah buatan William Davies yang turut menulis 2 film pertamanya,
itu tak lain berupa penolakan Johnny English (Rowan Atkinson) menjadi agen
rahasia berbekal teknologi semodern mungkin. Dia menolak smartphone dan memilih telepon umum, juga menampik mobil-mobil
hibrida mewah demi Aston Martin bergaya lama. Tapi jangan harap itu
menghadirkan kritik tajam perihal ketergantungan masyarakat akan teknologi.
Bukan pula perkara besar, mengingat Johnny akan selalu membuat kekacauan, tidak
peduli seberapa canggih atau kuno peralatannya.
Selepas tak lagi aktif menjadi agen
rahasia, Johnny menjalani profesi sebagai guru, yang diam-diam mengajari
muridnya teknik-teknik spionase. Namun serangan cyber terhadap pusat data MI7, yang berujung terungkapnya seluruh
identitas agen rahasia, memaksa Johnny, yang datanya tak terbongkar karena
telah penisun, kembali menjalankan misi. Bersama Agen Bough (Ben Miller) si
kawan lama, Johnny harus membongkar dalang di balik serangan tersebut. Di saat
bersamaan, Perdana Menteri Inggris (Emma Thompson) berjuang menyelamatkan
negara (dan mukanya) dengan menjadikan ahli teknologi, Jason Volta (Jake Lacy),
sebagai kepala keamanan digital.
Anda tahu ke mana arah investigasinya,
termasuk identitas si pelaku yang teramat jelas sejak kemunculan pertamanya.
Beruntung, Johnny English Strikes Again
enggan mati-matian menutupinya atau menganggap penonton tak mampu menebaknya
dan memposisikan pengungkapan identitas sang pelaku sebagai kejutan. Sekali
lagi, itulah kelebihan film ini. Sadar atas segala keklisean juga kebodohannya,
tanpa berpura-pura menjadi sesuatu yang lebih. Alurnya melompat dari satu banyolan
menuju banyolan lain yang belum seluruhnya sukses memancing tawa, tapi paling
tidak, di humor yang bekerja kurang maksimal pun, senyum masih bisa dihadirkan.
Olga Kurylenko, yang juga mantan Bond
Girl di Quantum of Solace (2008) memerankan Ophella si agen rahasia Rusia dengan perpaduan sempurna
antara figur femme fatale dengan
sentuhan komedi. Saya berharap ia diberi lebih banyak momen komikal di sini.
Kuncinya adalah kesederhanaan.
Deretan slapstick mendominasi namun
tidak mencoba tampil sebesar atau seabsurd mungkin. Kebodohan Johnny tak mesti
melulu menampilkan kekacauan berskala besar. Rangkaian kejenakaan berlingkup
kecil seperti salah satu humor yang melibatkan “nama samaran” justru merupakan
puncak gelak tawa filmnya. Tentu pencapaian itu turut dimungkinkan oleh
kembalinya Rowan Atkinson pada puncak performa, yang memunculkan perasaan
serupa ketika menyaksikan era kejayaan Mr. Bean dahulu. Ambil adegan “gas tidur”
di paruh awal. Bahkan, cara si aktor merespon situasi, plus bagaimana David
Kerr menangkap situasinya, mengingatkan pada episode Back to School Mr. Bean.
Tidak banyak elemen dapat dibahas
dari Johnny English Strikes Again. Filmnya
tahu apa harapan penonton, anda tahu harus berekspektasi seperti apa, dan itu
pula yang filmnya berikan. Tidak kurang, tidak lebih. Sebuah hiburan sekali
waktu dengan kemampuan memberi kesenangan selama anda duduk dalam studio, lalu ketika pulang
ke rumah, kontennya akan segera terlupakan, terkubur oleh penantian terhadap
film-film lain yang lebih memancing rasa penasaran.
ARWAH TUMBAL NYAI THE TRILOGY: PART ARWAH (2018)
Rasyidharry
September 29, 2018
Arie Azis
,
Aviv Elham
,
Ayu Ting Ting
,
Dewi Gita
,
Dewi Perssik
,
horror
,
Indonesian Film
,
Minati Atmanegara
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Shakti Arora
,
Tya Subiakto
,
Zaskia Gotix
23 komentar
Mari sambut Arwah Tumbal Nyai The Trilogy: Part Arwah selaku film Indonesia
dengan judul paling membingungkan sejak Laskar
Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013). Arwah
sendiri merupakan pembuka sebelum Tumbal dan
Nyai yang masing-masing dibintangi
Dewi Perssik dan Ayu Ting Ting ikut menyusul rilis tahun ini. Saya merasa patut
berterimakasih, karena tanpa film ini, saya takkan tahu kalau Zaskia Gotik
telah menjadi brand ambassador Go-Jek
lalu mengubah namanya menjadi Zaskia Gotix. Jangan kaget jika di film kedua ia
berganti nama lagi jadi Zaskia Go-Ride.
Digarap oleh sutradara spesialis
film ajaib, yaitu Arie Azis (Oops!! Ada
Vampir, Tali Pocong Perawan, The Secret: Suster Ngesot Urban Legend), Arwah mengisahkan seorang gadis bernama
Syurkiani (Zaskia Go-Car), yang untungnya tidak gemar beradegan syur, melainkan bermimpi ingin menari
jaipong seperti mendiang ibunya. Tapi rentetan kasus hilangnya para penari
jaipong secara misterius ditambah larangan sang nenek, Lela (Minati
Atmanegara), membuat impian Mbak Syur sukar terwujud.
Tapi Mbak Syur nekat, kemudian
memilih meminta diajari oleh Nyi Imas (Dewi Gita), yang tinggal di sebuah rumah
tua. Di rumah Nyi Imas pula terdapat kendang terkutuk yang apabila dipukul tiga
kali, bakal membangkitkan para hantu. Di sinilah naskah karya Aviv Elham (Tali Pocong Perawan, Alas Pati) mulai
menunjukkan kejeniusannya berlogika. Nyi Imas bersedia melatih Mbak Syur menari
jaipong asal Mbak Syur mau memukul kendang itu 3 kali. Pertanyaan bagi anda: Mbak
Syur ingin belajar jaipong, tapitak mau memanggil hantu. Jalan apa yang mesti
dia ambil agar 2 hal tersebut terpenuhi?
Apabila anda menjawab “pergi dari
sana, cari guru jaipong di kota lain”, maka SELAMAT, anda cukup pintar juga
waras. Sayang, Mbak Syur (dan penulis naskahnya) tidak sepintar itu. Karena
pantangannya adalah “JANGAN PUKUL KENDANG 3 KALI”, dia pun MEMUKUL KENDANG 4
KALI! Begini Mbak Syur, sebagai orang yang peduli pada sesama, beri saya
kesempatan untuk menjelaskan. Jika anda memukul kendang itu 4 kali, bukankah
artinya anda sempat memukulnya sebanyak 3 kali yang artinya hantu-hantu sudah keluar?
Selanjutnya, kebodohan demi
kebodohan elemen cerita menyusul bergantian. Tapi jangan khawatir. Bukan cuma itu
kehebatan film ini. Sebagaimana Dewi Perssik sebut di sebuah wawancara, ia
ingin trilogi ini menjadi bak trilogi “GOD
FATHER”. Peduli setan bahwa penulisan judul yang benar adalah “The Godfather”. Mungkin maksud Dewi,
keduanya sama-sama total. Apabila trilogi garapan Francis Ford Coppola itu
memukau di seluruh elemen, maka Arwah
Tumbal Nyai remuk di segala sisi.
Tata suaranya lebih berantakan
daripada arus lalu lintas Ibukota di jam pulang kantor. Karakternya bagai
bicara dari balik bantal sehingga sulit mencerna apa yang dikatakan. Apalagi
kalau kalimat itu diucapkan oleh Shakti Arora yang memerankan Shakti, kekasih
Mbak Syur. Orang bicara sambil kumur-kumur masih lebih jernih di telinga
ketimbang obrolan film ini. Sedangkan musik gubahan Tya Subiakto termasuk salah
satu scoring paling menyayat telinga
yang pernah saya dengar. Baru kali ini saya benar-benar menutup telinga karena tidak
kuat.
Tentu saja “musik” tersebut rutin
menemani deretan jump scare “asal
masuk” yang disusun Arie Azis. Jujur, Arwah
sejatinya diawali dengan cukup meyakinkan. Hantu tidak buru-buru
dimunculkan, dan waktu coba dimanfaatkan guna menuturkan kisahnya, walau apa
sebenarnya yang ingin dikisahkan tak pernah jelas. Sekitar 15-20 menit pertama
plus beberapa titik-titik berikutnya, Arie Azis nampak ingin membuat slow burning horror.
Ya, bukan saja The Godfather, Arie pun berusaha menciptakan Hereditary versinya, yang mengalun pelan, luar biasa pelan sampai
satu sekuen jump scare saja sempat
makan waktu 5 menit. Dari Mbak Syur terbangun akibat barang di kamarnya jatuh,
duduk di kasur, pelan-pelan berjalan ke arah barang itu, pelan-pelan
mengeceknya, pelan-pelan membuka pintu, pelan-pelan menutup pintu, pelan-pelan
menengok ke bawah kasur, dan berbagai “pelan-pelan” lain yang ditutup
menggunakan payoff antiklimaks kala
musik penyayat telinganya terdengar beberapa detik lebih cepat sebelum si setan
menampakkan wajah.
Melakoni debut akting layar
lebarnya, Zaskia Go-Pay masih luar biasa
canggung. Sewaktu dituntut berakting kaget akibat gangguan setan, Zaskia
Go-Massage malah bagai orang yang dikejutkan bunyi alarm. Satu-satunya hal yang
terlihat natural hanya ketika Zaskia Go-Food mencoba beberapa gerakan tari
jaipong. Akting sang aktris kaku sekaligus monoton, sama monotonnya dengan
gelaran alur yang berjalan memakai formula: Datang ke rumah Nyi Imas - Diusir - Menemukan misteri - Datang ke rumah Nyi Imas - Ulangi dari awal.
Semakin mencapai akhir, kekonyolan
alurnya makin dahsyat, sayangnya, begitu pula histeria penonton kebanyakan, yang
rupanya sangat terhibur menyaksikan Zaskia Go-Send terjebak dalam satu lagi “horor
berisik”. Fakta mengenaskan: Jumlah penonton Arwah pada hari pertama penayangan mengalahkan Aruna & Lidahnya juga Something
in Between, walau di antara ketiganya, film yang dibintangi Zaskia Go-Box
ini diberi jatah layar paling sedikit. Bukan salah bioskop, bukan salah Rapi
Amat, bukan salah Zaskia Go-Pulsa. Kita sebagai penonton yang perlu introspeksi.
ARUNA & LIDAHNYA (2018)
Rasyidharry
September 28, 2018
Comedy
,
Dian Sastrowardoyo
,
Drama
,
Edwin
,
Hannah Al Rashid
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
Nicholas Saputra
,
Oka Aurora
,
REVIEW
,
Romance
,
Titien Wattimena
8 komentar
Saya teringat satu adegan Ada Apa Dengan Cinta 2 ketika Cinta
diam-diam tersipu di samping Rangga yang tengah menyetir. Momen itu menunjukkan
kepiawaian Dian Sastrowardoyo bertutur secara non-verbal dalam situasi
menggelitik. Aruna & Lidahnya,
yang merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak praktis
menampilkan bagaimana jadinya apabila adegan beberapa detik itu dijadikan suguhan
106 menit. Hasilnya sedap, bahkan lebih sedap dari piring demi piring makanan
yang memiliki screentime lebih banyak
dibanding beberapa pemainnya sekalipun.
Kali ini Dian memerankan Aruna,
epidemiologist (ahli wabah) yang oleh kantornya ditugaskan melakukan
investigasi terhadap wabah flu burung di berbagai daerah Indonesia, sembari
secara bersamaan melakukan wisata kuliner bersama sahabatnya, Bono (Nicholas
Saputra), yang berprofesi sebagai chef. Seiring perjalanan, turut hadir
Nadezhda (Hannah Al Rashid), penulis makanan yang selama ini tinggal di luar
negeri, juga Farish (Oka Antara) yang ditugaskan membantu investigasi. Sejak
dulu Aruna menyimpan perasaan lebih kepada Farish, sebagaimana Bono juga
menyukai Nadezhda.
Berbasis naskah garapan Titien
Wattimena (Salawaku, Dilan 1990),
Edwin yang tahun lalu baru saja memenangkan “Sutradara Terbaik” pada Festival
Film Indonesia, membawa keempat tokohnya dalam perjalanan separuh road movie separuh food porn guna belajar soal kehidupan pula cinta yang dijembatani
oleh rasa. Serupa judulnya yang mengandung kata “lidah” selaku indera perasa, “rasa”
memang memainkan peranan penting di sini.
Dibayangi patah hati akibat
cintanya pada Farish yang tak kesampaian ditambah kepenatan kerja, Aruna bagai
mati rasa. Di awal film, ia mendeklarasikan bahwa untuk menyantap makanan enak
tidak perlu melibatkan romantisasi berupa keharusan menikmatinya bersama orang
spesial. Menutup hatinya, lidah Aruna pun turut kehilangan kemampuan mengecap
rasa makanan, termasuk masakan kelas wahid buatan Bono. Melalui perjalanan ini,
dia mulai coba pelan-pelan belajar merasakan lagi, baik dengan lidah maupun
hatinya.
Naskahnya rapi merajut subteks yang
sejatinya tak seberapa subtil di atas, yang seluruhnya, termasuk sempilan
subplot tentang pencarian resep “nasi goreng bibi”, bermuara menuju kesimpulan bahwa
rasa paling paripurna sejatinya bersumber dari orang-orang tercinta. Sementara
investigasi terhadap kasus flu burung memberi kesempatan filmnya menyentil
beberapa isu sosial sekaligus menarik benang merah perihal “rahasia”, suatu hal
yang nampaknya begitu digemari para karakternya. Anda akan tahu rahasia apa
saja yang dibawa investigasi ini setelah menonton filmnya.
Fokus utamanya tetap berkutat dalam
3 poin: pencarian rasa, romansa, dan makanan. Sayang, romansanya tidak
semeyakinkan poin yang disebut pertama. Mengapa hati Aruna urung beranjak dari
Farish—si pria kaku sekaligus judes—bahkan ketika reuni mereka diawali dengan kurang
menyenangkan? Selain berparas rupawan, apa yang spesial dari Farish? Sedangkan hubungan
Bono-Nadezhda belum mampu mencapai potensinya menjadi subplot yang mendukung
tema “pencarian rasa” sewaktu presentasinya sendiri tidak pernah tampil
emosional. Pertanyaannya sama. Mengapa (apabila akhirnya menerima cinta Bono)
Nadezhda bersedia menghentikan petualangan cintanya?
Tapi berkat jajaran cast kelas satunya, kelemahan tersebut
tidak pernah terlalu mengganggu. Interaksi keempatnya menyenangkan disimak,
entah saat membicarakan makanan, mengaitkannya dengan beragam sendi kehidupan
(yang dirangkai oleh dialog-dialog “kaya”), atau sekedar melontarkan canda. Apalagi
Dian dan Nic, yang setelah bertahun-tahun dipandang sebagai pasangan legendaris
perfilman Indonesia, nampak demikian mudah menjalin chemistry natural. Saya takkan terkejut kalau beberapa obrolan merupakan
hasil improvisasi di mana Edwin membiarkan keduanya berinteraksi bebas.
Dian adalah energi terbesar Aruna & Lidahnya, dengan ekspresi
non-verbal quirky sebagai senjata
andalan, tatkala Aruna, secara rutin sekaligus diam-diam, merespon omongan atau
tingkah karakter lain. Mungkin Aruna bukan pertunjukkan akting terbaik Dian,
namun jelas karakter paling berwarna, paling dinamis, paling kaya rasa, dan
pastinya paling lucu sepanjang karirnya. Pun penampilan sang aktris mendukung pemakaian
metode breaking the fourth wall yang
filmnya terapkan agar penonton merasa lebih dekat dengan Aruna. Tentu
keberhasilan itu juga berkat pengetahuan Edwin mengenai cara memanfaatkan
keunggulan aktisnya, walau saat dihadapkan pada makanan, nyatanya sang
sutradara belum seberapa mumpuni.
Ditangkap oleh kamera Amalia TS (Tabula Rasa, Galih & Ratna) selaku
sinematografer, aroma, apalagi tekstur masakan belum sepenuhnya berhasil
diterjemahkan dalam bahasa visual. Apabila anda merasa lapar (seperti saya)
saat menontonnya, itu bukan dikarenakan pencapaian artistik filmnya, melainkan “Siapa
yang tidak berliur melihat makanan sedemikian banyak selama hampir 2 jam?”.
Setidaknya Aruna & Lidahnya mampu
mengenalkan ragam masakan khas daerah-daerah yang dikunjungi, sehingga besar
kemungkinan pasca menyaksikannya, para penonton tertarik berburu
makanan-makanan yang ada.
Menebus
kelemahannya membungkus food porn,
Edwin memamerkan cara uniknya bersenda gurau. Setelah menerapkan pendekatan “normal”
melalui Posesif, inilah film di mana
visi (for lack of a better word) absurd
yang ia bangun sejak bermain-main di ranah sureal dahulu, berpadu apik dengan
hiburan arus utama guna menghasilkan perjalanan mengasyikkan. Dari “adegan
burung mati” hingga dua sekuen mimpi, adalah bukti keberhasilan Edwin menemukan
formula yang memfasilitasi signature-nya
tanpa mengalienasi penonton umum. Wisata kuliner (atau investigasi?) mungkin
tak sedalam yang diniati, namun kelezatannya jelas sukar ditolak.
MUNAFIK 2 (2018)
Rasyidharry
September 27, 2018
horror
,
Kurang
,
Malaysian Movie
,
Maya Karin
,
Nasir Bilal Khan
,
REVIEW
,
Syamsul Yusof
10 komentar
Munafik (2016) adalah horor overrated biarpun jauh dari buruk. Filmnya
sedemikian fenomenal tak lain karena kedekatan kultural serta keberanian sutradara
sekaligus penulis naskah (plus aktor utama, editor, penata efek spesial dan
efek visual) Syamsul Yusof (Evolusi KL
Drift, KL Gangster) menjabarkan krisis keimanan seorang pemuka agama Islam.
Namun di luar kisah spritualnya, teror Munafik
belum bisa disebut spesial. Dua tahun berselang, sekuelnya “melipatgandakan”
dua elemen di atas. Drama religinya dua kali lebih kompleks pula bernyali,
sementara terornya dua kali lebih buruk.
Munafik 2, dengan bujet lebih tinggi (RM 2,8 juta, film
pertamanya RM 1,6 juta), memang berambisi tampil lebih besar, bahkan sejak awal
ketika Yusof langsung memperlakukan adegan layaknya klimaks, salah satunya
karena musik garapan Extreme Music langsung mengalun kencang, nyaris tak
berhenti sepanjang durasi. Tambahkan teriakan tiada ujung saat karakternya
meneriakkan ayat-ayat suci Al Qur’an (total sekitar 10 surat), Munafik 2 semakin tampak berusaha
terlalu keras menjadi epic, bahkan
sesekali menyentuh teritori film superhero.
Saya serius. Di sini, Ustaz Adam
(Syamsul Yusof) bagai pahlawan super dengan ayat suci sebagai kekuatan
supernya, yang tiap pelafalan dilakukan secara dramatis lengkap dengan pose
heroik juga balutan gerak lambat kala menghadapi iblis atau manusia kesurupan. Yusof—yang
dilihat dari naskahnya jelas bukan seorang kolot—sadar bahwa protagonis seorang
ahli agama berpotensi nampak “kuno” di mata penonton muda masa kini.
Menjadikannya sosok superhero keren
merupakan upaya modernisasi efektif yang pantas diapresiasi. Oh, bahkan seorang
karakter wanita sempat membantai para musuh menggunakan kapak bak heroine dari film-film slasher.
Dua tahun selepas tragedi yang menimpa
keluarganya, Adam telah menata lagi hidup pula imannya, memantapkan diri
menolong orang-orang yang mendapat gangguan supranatural, walau hatinya belum
sepenuhnya tenang. Iblis pun masih sering mengunjunginya, coba menggoyahkan
iman Adam dengan menyatakan bahwa sang Ustaz berjuang demi kepentingan pribadi
ketimbang agama. Adam berusaha tegar. Itulah mengapa ia bersedia menempuh
bahaya guna menolong Sakinah (Maya Karin) dan keluarganya yang berasal dari
desa sebelah. Sebuah desa yang dikuasai para pemeluk aliran sesat.
Setiap superhero butuh supervillain,
dan sebagai lawan Adam, Munafik 2
memiliki Abu Jar (Nasir Bilal Khan), yang bagi penonton Indonesia akan terlihat
seperti “Limbad dengan kemampuan bicara”. Abu Jar mendeklarasikan dirinya
sebagai utusan Allah yang memahami seluruh hadis hingga diberi kebebasan
memiliki apa pun yang ia inginkan di dunia. Keyakinan itu membawa Abu Jar
menjadi salah satu antagonis paling kejam sepanjang sejarah film horor, yang
melakukan seluruh hal kejam yang mampu kita bayangkan. Dari membunuh
ulama-ulama yang coba menghentikan ajarannya sampai menjadikan wanita budak
nafsunya dan para pengikutnya.
Abu Jar menguasai desa,
memanfaatkan rasa takut demi memperoleh kontrol layaknya para diktator lalim,
walau sulit menerima begitu saja fakta jika setelah sebegitu banyak nyawa
melayang, tak ada satu pun penduduk desa berani melapor pada polisi sementara
pihak kepolisian sendiri tidak menyadari rangkaian pembantaian tersebut.
Diperankan oleh Nasir Bilal Khan secara over-the-top,
Abu Jar merupakan antagonis yang dengan senang hati penonton benci. Melalui Abu
Jar kita melihat pemandangan mengenaskan kala orang-orang “mengafirkan” mereka
yang menganut kepercayaan berbeda, menjadikan itu alat justifikasi tindakan
persekusi hingga ke taraf pembunuhan. Menyedihkan, sebab pemandangan serupa
mudah ditemui di dunia nyata termasuk negeri ini.
Lewat perspektif protagonis, Munafik 2 juga melayangkan beberapa
pertanyan. Bisakah kita membenarkan pembunuhan demi keselamatan seseorang?
Haruskah kita membahayakan diri untuk menegakkan agama? Dan masih banyak lagi.
Karakternya, khususnya Adam, coba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu meski
harus melalui siksaan batin dan fisik yang lebih sulit, lebih berbahaya, juga
memberi dampak lebih tragis dari sebelumnya.
Berjalan selama 2 jam, Munafik 2 enggan mengendurkan tensi,
terus memacu tempo tanpa pernah bersedia melambat. Pilihan eksekusi ini
menghasilkan pisau bermata dua. Di satu sisi, terus dipacunya intensitas mampu
meniadakan kebosanan, namun di sisi lain, kerap terasa melelahkan, apalagi saat
beberapa elemen mulai tampil repetitif. Anda akan mendengar tokoh-tokohnya
terus meneriakkan hal sama, yang kebanyakan (selain pembacaan ayat suci)
berkutat pada saling tuduh tentang siapa paling sesat, dan tentunya paling
munafik. Belum lagi nihilnya jump scare
yang mampu menggedor jantung. Hampir seluruhnya medioker, minim kreativitas,
tetapi maksimal dalam menghajar telinga lewat musik plus efek suara tanpa
henti.
Saya memaklumi pilihan Yusof,
mengingat horor berisik bertempo cepat adalah primadona bagi mayoritas
penonton. Satu hal yang sulit dimaklumi yaitu pengungkapan fakta mengejutkan di
babak resolusi, yang bukan saja bodoh, pula susah dicerna akal sehat. Sebuah
kejutan dengan lubang yang membesar sewaktu Yusof coba mengaitkannya dengan
peristiwa film sebelumnya. Dan Munafik 2
masih menerapkan elemen deus ex machina
untuk menutup cerita, meski berbeda dengan film pertama, kali ini elemen
tersebut bukan bertugas merangkum perjalanan si tokoh utama, melainkan murni simplifikasi
terhadap solusi permasalahan.
ALPHA (2018)
Rasyidharry
September 24, 2018
Adventure
,
Albert Hughes
,
Bagus
,
Daniele Sebastian Wiedenhaupt
,
Jóhannes Haukur Jóhannesson
,
Kodi Smit-McPhee
,
Natassia Malthe
,
REVIEW
10 komentar
Sejak kapan manusia dan anjing
bersahabat? Jika pertanyaan itu diajukan kepada Albert Hughes (From Hell, The Book of Eli), yang
menyutradarai Alpha berdasarkan
cerita buatannya yang diadaptasi ke dalam naskah oleh Daniele Sebastian
Wiedenhaupt, jawabannya adalah “sejak 20.000 tahun lalu”, ketika dunia menginjak
masa Last Glacial Maximum alias
periode akhir zaman es. Tentu Alpha
bukan dimaksudkan menjadi kisah sejarah akurat, tetapi Hughes cerdik
bermain-main dengan latar belakang fiktif yang ia tanam mengenai hubungan
manusia dengan anjing, atau di film ini, seekor Anjing Serigala Cekoslowakia.
Kodi Smit-McPhee mengaktifkan mode “Leonardo-DiCaprio-di-The-Revenant” saat karakter yang ia
perankan, Keda, terpisah dari sukunya kala berburu bison. Ini perburuan
perdananya, dan Tau (Jóhannes Haukur Jóhannesson), sang ayah sekaligus kepala
suku, bersemangat melihat Keda mulai menapaki jejaknya menjadi sesosok “alpha”. Namun Keda nampak cemas. Mungkin
sebagaimana ibunya (Natassia Malthe) rasa, Keda belum siap. “Dia memimpin
menggunakan hatinya, bukan dengan tombaknya”, sebut sang ibu.
Benar saja, Keda buruk perihal
melempar tombak. Alhasil seekor bison menyeruduk, menjatuhkannya ke ujung tebing.
Tau beserta sukunya pergi, tanpa tahu bahwa Keda masih bernyawa. Sendirian,
sang remaja dituntut menghadapi rentetan bahaya yang memaksanya melatih
keberanian dan kekuatan guna bertahan hidup. Terseret air bah, kekurangan makan
dan minum, terjebak badai es, semua dialami,
tapi kejaran sekelompok serigala lah yang mengubah jalurnya. Melukai seekor
serigala ketika menyelamatkan diri, Keda berujung merawat si serigala,
mengobati lukanya, memberi makan, menamainya Alpha. Alpha pun mengikuti Keda,
sesuatu yang awalnya tak ia kehendaki. Berbagai cara dilakukan untuk mengusir
Alpha, termasuk melempar sebatang kayu, yang justru dia kembalikan pada Keda. Ya,
ini asal muasal permainan “lempar tangkap” versi Hughes.
Smit-McPhee meyakinkan sebagai
seseorang yang terluka, susah payah berjalan, namun transformasi bertahapnya
dari pemuda lemah nan ragu menjadi sosok yang lebih kuat pula dewasa adalah
alasan mengapa pujian layak disematkan bagi sang aktor. Pun itu bukan elemen
terbaik Alpha. Sihir sesungguhnya
tampak dari cara Hughes memperlakukan Alpha. Memakai anjing serigala terlatih,
Hughes mampu membuat Alpha interaktif. Hanya diam menatap, duduk, melolong,
tapi saya seolah dapat memahami maksud di balik segala perbuatan itu berkat
kepiawaian Hughes bercerita lewat visual plus penyuntingan cermat Sandra
Granovsky sehingga Alpha memiliki emosi alami, yang berjasa menguatkan
ikatannya dengan Keda.
Hanya satu dari dua tokoh utama
berbicara dan berakting sungguhan, nyatanya Alpha
malah lebih dinamis sekaligus emosional ketimbang banyak film mengenai
persahabatan antara dua karakter manusia. “Magis” mungkin kata yang tepat
mewakili persahabatan Keda-Alpha, sama magisnya dengan departemen visualnya.
Nyaris semua shot, entah diisi
pemandangan alam prasejarah, bintang di angkasa, atau pergulatan hewan melawan
manusia, dikemas indah. Kadang saya merasa bagai sedang menyaksikan dokumenter
di mana pembuatnya kembali ke masa lalu memakai mesin waktu untuk merekam footage-nya. Sinematografi Martin
Gschlacht layak dipuji, tapi kreativitas Hughes turut berjasa. Tengok saja
pemakaian split screen di adegan “danau
es”.
Di luar imajinasi Hughes akan
permulaan hubungan manusia-anjing serupa momen “lempar tangkap” tadi, narasi Alpha sejatinya formulaik. Daniele
Sebastian Wiedenhaupt mengikuti pola film survival
di mana protagonisnya terluka, tersesat, tersiksa, kelaparan, yang pelan-pelan
mulai menunjukkan tanda repetisi meski durasinya cuma 96 menit. Klimaksnya bisa
dibilang nihil, dan mendadak kita langsung dilempar menuju konklusi, tapi
kelemahan itu ditebus oleh momen penutup indah yang menyiratkan bahwa
persahabatan Keda dan Alpha bakal dilanjutkan oleh keturunan-keturunan mereka
hingga 20.000 tahun ke depan, dan seterusnya.
SAKRAL (2018)
Rasyidharry
September 21, 2018
Baskoro Adi Wuryanto
,
Dheeraj Kalwani
,
horror
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Olla Ramlan
,
REVIEW
,
Tema Patrosza
,
Teuku Zacky
6 komentar
Sakral merupakan kolaborasi kelima (keempat sepanjang 2018) MD
Pictures dan Dee Company sekaligus yang terbaik. Kata “terbaik” di sini artinya
“paling tidak menyiksa”, karena sejak Gasing
Tengkorak tahun lalu, kebersamaan dua rumah produksi ini telah menghasilkan
judul-judul yang berpotensi merusak kembali kepercayaan penonton terhadap
perfiman Indonesia. Menyebut Sarkal “lebih
baik” dibanding filmografi Baginda KK Dheeraj pasca berganti identitas menjadi
Dheeraj Kalwani pun layaknya menyatakan terkena flu lebih baik dibanding
penyakit lain. Tetap saja menyiksa.
Setidaknya para pembuat film ini
belajar dari kesalahan sebelumnya dengan tidak membuat horor yang hanya
tersusun atas fragmen-fragmen jump scare
yang disusun kasar. Digawangi oleh sutradara Tema Patrosza (Tumbal: The Ritual), Sakral bersedia menahan diri untuk
memunculkan hantunya, meminta penonton menunggu agar mampu lebih dulu
memaparkan cerita, walau bukan cerita yang solid, menghasilkan penantian
melelahkan pula tanpa penebusan yang sepadan di akhir. Tapi sekali lagi,
setidaknya mereka belajar. Walau makan waktu lima film dan belum signifikan,
Dheeraj Kalwani akhirnya mengalami kemajuan.
Kisahnya dibuka saat sepasang suami
istri, Melina (Olla Ramlan) dan Daniel (Teuku Zacky) tengah menanti kelahiran puteri
kembar mereka yang akan diberi nama Flora dan Fiona (kenapa bukan “Fauna”???).
Malang, hanya Flora yang bertahan hidup. Tapi Flora tumbuh sebagai gadis cilik
pendiam, enggan berinteraksi dengan kedua orang tuanya, dan hanya memandangi
kotak musik sepanjang hari. Di sisi lain, Melina yang masih dihantui duka
justru mulai dihantui juga oleh peristiwa-peristwa misterius. Singkatnya,
naskah karya Baskoro Adi Wuryanto (Jailangkung,
Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) ingin membicarakan bagaimana kekuatan
cinta milik suami-istri mampu mengalahkan apa pun termasuk duka (dan iblis).
Bukan suatu kejutan rasanya kalau kisahnya gagal menjadi observasi mendalam.
Melina terus melihat hal-hal
mengerikan seperti penampakan hantu yang kadang berwajah putih pucat kadang
hitam pekat bagai versi murahan dari gelandangan setan di Mulholland Drive-nya David Lynch. Daniel meragukan kewarasan sang
istri, yang bakal menggiring kita menuju adegan konyol ketika seorang psikolog
sekaligus teman Daniel dengan mudah mendiagnosa Melina menderita skizofrenia. Akting
jajaran pemain sama sekali tidak membantu. Sewaktu Teuku Zacky kerepotan
mengucapkan dialog (yang aslinya memang dangkal) supaya tak terdengar datar,
Olla Ramlan sekedar berteriak, bertingkah sehisteris mungkin. Jangan paksa saya
membahas akting si pemeran setan dengan caranya memberi penekanan di tiap akhir
kata yang luar biasa menggelikan.
Progresi alurnya cukup rapi karena
bersedia menanti hingga momen yang tepat guna memunculkan penampakan hantu,
menghabiskan satu jam pertama melangkah pelan sebelum tancap gas di 30 menit
akhir. Kisahnya—meski tak pernah tampil meyakinkan—mengalir alih-alih asal
melompat dari satu titik ke titik berikutnya sembari diselingi jump scare berkuantitas lebih tinggi
ketimbang ceritanya. Akhirnya Baskoro Adi tahu bahwa dalam film horor, dibutuhkan
cerita untuk menjembatani teror-terornya. Walau sayangnya, ia masih luput
memahami jika logika turut dibutuhkan dalam cerita, sebab setelah satu hari
berlalu, saya masih kesulitan mencerna logika konklusi ajaibnya.
Jump scare-nya sendiri medioker, jenis yang akan mengejutkan
penonton bukan karena disusun begitu baik, melainkan gempuran tata suara luar
biasa keras yang sampai membuat studio bergetar hebat. Padahal saya sempat
menaruh sedikit (sangat sedikit) harapan saat mendapati penampakan perdana sang
hantu tidak dibarengi musik berisik. Di tangan sutradara yang tepat, Sakral berpotensi menghasilkan klimaks
seru, namun Tema belum cukup handal dan/atau berpengalaman dalam menyusun
puncak kekacauan menegangkan. Ada niat menciptakan klimaks brutal, tapi tak
peduli berapa galon pun darah tumpah, seberapa banyak bagian tubuh terpotong
gergaji mesin, tanpa sudut kamera tepat (yang makin vital ketika kadar gore ditekan demi menghindari gunting
sensor), sekuen demi sekuen sadis hanya akan numpang lewat. Ngomong-ngomong,
kenapa di bawah sink tersimpan katana? Apakah Daniel dan Melina diam-diam
pasangan ninja Konoha?
BELOK KANAN BARCELONA (2018)
Rasyidharry
September 21, 2018
Adhitya Mulya
,
Anggika Bolsterli
,
Cok Simbara
,
Comedy
,
Cukup
,
Deva Mahenra
,
Guntur Soeharjanto
,
Indonesian Film
,
Mikha Tambayong
,
Morgan Oey
,
REVIEW
,
Romance
11 komentar
(Review ini mengandung SPOILER)
Belum ada film yang mampu membawa
saya dalam hubungan cinta/benci seperti Belok
Kanan Barcelona. Saya mencintai caranya menuturkan betapa cinta dapat
mendorong seseorang berkorban meski harus menembus batas jarak dan waktu. Saya
mencintai caranya mendefinisikan “cinta sejati” sebagai seseorang yang selalu
ada di samping pujaan hatinya tanpa memaksa balik dicintai. Saya pun mencintai
masing-masing karakter utamanya. Namun saya membenci ketika narasinya mulai
terjun ke bab agama bahkan terkesan offensive
di beberapa titik.
Mengadaptasi novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona
karya Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, dan Iman Hidayat, filmnya
mengisahkan persahabatan Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Yusuf
(Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang kini tinggal terpisah di
empat negara berbeda. Francis adalah pianis pemenang Grammy pertama asal
Indonesia yang kini menetap di Los Angeles, Retno mengejar impiannya menjadi
chef di Copenhagen, Yusuf mulai mendulang sukses di perusahaan di Cape Town, sedangkan
Farah bekerja sebagai arsitek di Vietnam. Undangan pernikahan Francis dengan
Inez (Millane Fernandez) di Barcelona memberi mereka alasan untuk bertemu lagi,
walau satu sama lain tak mengetahui intensi tersebut.
Semua bermula dari masa SMA,
tatkala persahabatan keempatnya mulai bersemi, demikian pula cinta. Francis
menyukai Retno pun sebaliknya, Farah yang jadi tempat curhat Retno juga
tertarik pada Francis, sementara Yusuf, si “penyedia bahu” bagi kesedihan
Farah, turut diam-diam memendam rasa kepadanya. Apabila banyak film kita memposisikan
kelulusan SMA selaku pembuka, Belok Kanan
Barcelona menempatkannya di tengah, setelah terlebih dulu membawa penonton
mengarungi flashback yang menyoroti
dinamika empat tokoh utama semasa SMA, memantapkan pondasi karakter beserta
persahabatan mereka. Naskah yang disusun Adhitya Mulya (Jomblo, Shy Shy Cat) apik dalam mempresentasikan manis sekaligus
pahitnya mencintai kawan sendiri, ketika pengungkapan perasaan bak haram
hukumnya demi menjaga kelanggengan pertemanan.
Departemen akting merupakan elemen
terkuat filmnya. Morgan kharismatik seperti biasa sehingga mudah menerima saat
Francis disukai dua gadis cantik walau detail penokohannya tak seberapa digali
(baca: dia populer karena ganteng dan keren). Mikha mencurahkan emosi yang
cukup meyakinkan untuk menjadkan ini performa terbaik sepanjang karirnya, tatkala
Deva akhirnya memperoleh materi yang pas guna memfasilitasi talenta komediknya.
Tapi magnet terbesar berasal dari Anggika melalui deretan ekspresi aneh dan
ketiadaan urat malu dalam berlagak konyol termasuk merangkak di aspal, Farah
merupakan peran yang bakal membuka lapang jalannya meraih status bintang kelas
satu.
Sampai sini, Belok Kanan Barcelona bisa jadi salah satu film Indonesia terbaik
2018. Tontonan yang konsisten memberi tawa dalam pengalaman menonton
menyenangkan. Penyutradaraan Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) pun cukup efektif
menciptakan adegan emosional saat melukiskan momen “crack-and-heal” suatu persahabatan. Berbeda dibanding caranya menangani 2 film 99 Cahaya di Langit Eropa, latar luar
negeri urung dieksploitasi sebagai lokasi cuci mata belaka, melainkan panggung
pembuktian bahwa kekuatan cinta mampu mendorong seseorang melintasi dunia.
Mengesankan, hingga elemen religi
menggedor masuk, yang awalnya dipicu perbedaan keyakinan Francis dan Retno.
Saya suka sebaris kalimat ucapan ayah Retno (Cok Simbara) yang kurang lebih berbunyi,
“Apa kamu tega membuat Francis harus memilih antara kamu (Retno) atau Tuhannya?”.
Itu cara lembut untuk berkata “Jangan memacari orang berbeda agama”. Saya tak
menyalahkan perspektif tersebut, sebab kenyataannya, hal itu sulit dijalani di
Indonesia. (Spoiler starts here) Saya pun tak mempermasalahkan konklusi sewaktu Francis akhirnya
memeluk Islam. Apa pun alasannya (sebatas untuk menikah atau memang keyakinan
personal), itu cara paling aman agar bisa menghabiskan hidup bersama.
Masalah mencuat saat Belok Kanan Barcelona melukiskan orang
Islam sebagai pemeluk agama luar biasa taat yang enggan berpindah keyakinan
demi pernikahan dan bersedia solat di tengah padang pasir, tetapi sebaliknya,
Pastor dan Suster di tengah situasi mengancam kala mesin pesawat yang ditumpang
meledak, malah bertingkah konyol, saling menyatakan cinta, merengek alih-alih
memanjatkan doa, setelah sepanjang perjalanan diperlihatkan sebagai orang-orang
menyebalkan yang tak mempedulikan sekitarnya. Apabila cuma memunculkan salah
satu (Muslim luar biasa taat atau mengolok-olok Pastor sebagai materi komedi),
tidak jadi masalah. Namun ketika dihadirkan bersamaan, secara otomatis tercipta
komparasi jomplang yang begitu mengganggu. Sengaja atau tidak, hal itu
membuktikan ketidakpekaan para pembuatnya.
THE HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS (2018)
Rasyidharry
September 20, 2018
Cate Blanchett
,
Comedy
,
Cukup
,
Eli Roth
,
Eric Kripke
,
Fantasy
,
Jack Black
,
Owen Vaccaro
,
REVIEW
,
Rogier Stoffers
5 komentar
Dalam salah satu perubahan jalur
karir paling ekstrim sejak George Miller membuat Babe: Pig in the City (1998) dan Happy Feet (2006), Eli Roth (Cabin
Fever, Hostel, Death Wish) beralih sejenak (?) dari kegemarannya mandi
darah menuju adaptasi novel The House
with a Clock in Its Walls, buku pertama dari 12 seri Lewis Barnavelt buatan John Bellairs (diteruskan Brad Strickland
sejak buku ketujuh setelah Bellairs meninggal). Seperti banyak produksi klasik
Amblin Entertainment, film ini bersahabat bagi penonton anak. Jika biasanya
Roth menusuk dan merobek hati, kali ini ia coba
menghangatkannya, meski akhirnya sang sutradara total bergantung pada jajaran
pemain untuk mencapai itu.
Kasus lain tentang perubahan karir
aneh adalah saat Sam Raimi membuat trilogi Spider-Man.
Raimi berhasil karena sutradara horor yang baik selalu memiliki
sensitivitas dalam menciptakan intensitas, yang mana penting bagi “film popcorn”.
Itu sebabnya saya menaruh kepercayaan terhadap Aquaman garapan James Wan. Berbeda
dengan para kompatriotnya, Roth lebih banyak mengandalkan parade kekerasan
brutal nan vulgar ketimbang memainkan tensi, yang berujung menciptakan
kelemahan terbesar The House with a Clock
in Its Walls.
Filmnya menghabiskan mayoritas
durasi untuk: 1) Memperkenalkan Lewis Barnavelt (Owen Vaccaro), si bocah
tertutup yang dianggap aneh oleh teman sebayanya, kepada dunia sihir ketika
sang paman, Jonathan (Jack Black), menampung Lewis pasca kedua orang tuanya
meninggal; dan 2) Menyoroti proses Lewis belajar menjadi warlock alias penyihir sebagaimana Jonathan. Tentu skenario buatan
Eric Kripke (Boogeyman) kental aroma “underdog story”, lengkap dengan pesan
soal “Kamu mempunyai kelebihan walau dipandang sebelah mata”.
Apabila anda perhatikan, dua poin
di atas tak mengandung elemen pertempuran kebaikan melawan kejahatan seperti
jamaknya film anak-anak. Elemen serupa tetap ada, namun datang begitu kisahnya melewati
separuh jalan. Sebelum sampai di sana, Roth sanggup membawa kita mengarungi perjalanan
menghibur. Visualnya, yang melibatkan kaca patri yang rutin berubah gambar,
perabotan yang dapat bergerak, serta singa dari rumput yang menolak buang air
di bak pasir, terlihat menarik dalam
balutan sinematografi Rogier Stoffers (School
of Rock, The Vow, Death Wish). Deretan ide imajinatif tersebut memang
didasari materi aslinya, tetapi visi kreatif Roth berjasa
menghidupkannya.
Mengikuti formula “underdog story”, tentu montage berisi usaha Lewis melatih ilmu
sihirnya bisa kita temui. Montage
yang berjalan singkat namun memikat lewat humor yang tampil kuat berkat keberadaan
Jack Black selaku salah satu keputusan casting
yang tepat. Black sempurna menangani peran di dunia fantasi ajaib seperti ini. Vaccaro
si aktor cilik pun tampil apik, khususnya saat diminta menangis tanpa perlu
terlihat menyebalkan. Tapi bintang terbesar film ini jelas Cate Blanchett
sebagai Florence Zimmerman, penyihir wanita tetangga Jonathan dengan obsesi
terhadap warna ungu. Pakaiannya berwarna ungu, bahkan ia berusaha mengubah
ularnya menjadi ungu.
Blanchett mengajarkan bagaimana
cara berakting di tontonan family-friendly.
Dia bersenang-senang di adegan-adegan ringan, entah saat bertukar ejekan dengan
Black atau ketika secara elegan tetapi playful,
terlibat di tengah-tengah aksi. Pun The
House with a Clock in Its Wall tak ubahnya film keluarga lain yang
mempunyai bagian dramatis, dan sewaktu momen itu tiba, cukup melalui satu
monolog pendek, Blanchett berhasil mencengkeram perasaan. Anda akan tahu adegan
yang mana saat menontonnya. Dengarkan getaran suaranya, perhatikan tatapan
matanya, pula keraguan kala melangkah, yang seperti halnya seseorang ketika
dikuasai emosi, tak tahu mesti berbuat apa.
Tanpa kebolehan akting pemainnya,
film ini akan menjadi perjalanan yang enak dilihat namun nihil kepekaan akan
intensitas. Narasinya terasa draggy,
juga nyaris tanpa sentakan, sebab sekali lagi, Roth bukan ahlinya menciptakan
ketegangan bahkan saat menggarap horor. Tanpa gore dia kehilangan banyak taring, walau untungnya tidak sampai
jadi macan ompong. Roth memanfaatkan kesintingannya demi menghasilkan teror.
Dia terbiasa mendobrak batas. Itulah mengapa imajinasinya bergerak liar tatkala
menangani hiburan visual, dan rasanya nyaris tak ada sutradara yang bernyali
memperlihatkan sosok iblis dalam tampilan se-disturbing Azazel versi Roth di sini.
Akibat sisi lemah penyutradaraan
Roth, saya tak sabar guna beralih dari dua poin alur di atas untuk segera
mencapai titik di mana bahaya besar, hasil dari jam yang disembunyikan dalam
dinding rumah Jonathan oleh seorang penyihir, mulai merangsek masuk. Jam itu
terus berdetak tiap malam. Jonathan dan Florence tak tahu ke mana jam itu bakal
membawa mereka, walau pastinya bukan menuju hal menyenangkan. Bahaya itu
akhirnya menampakkan wujudnya sewaktu Lewis, didorong keputusasaannya untuk
mencari teman melalui pembuktian bahwa ia bisa menguasai sihir, nekat melakukan
hal terlarang. Timbul pertanyaan, “Kenapa Lewis tak memamerkan kemampuannya
menggerakkan barang yang telah dikuasainya saja?”. Saya yakin itu sudah cukup
memesona bagi kawan-kawannya.
The House with a Clock in Its Walls bermuara di pertempuran
trio protagonis melawan monster labu plus berbagai makhluk aneh lain, yang
kembali, gagal menyentuh intensitas maksimum, salah satunya akibat klimaks yang
berakhir terlampau mudah. Setidaknya, satu momen konyol (dan agak creepy) yang melibatkan “badan Jack
Black” membuktikan bahwasanya Roth, biarpun bukan produsen ketegangan handal, memiliki
otak sinting yang dapat memproduksi hiburan.
HEILSTÄTTEN (2018)
Rasyidharry
September 18, 2018
Davis Schulz
,
Ecki Ziedrich
,
horror
,
Kurang
,
Michael David Pate
,
Nilam Farooq
,
REVIEW
,
Sonja Gerhardt
,
Timmi Trinks
5 komentar
Silahkan googling “found footage
haunted hospital horror movie”. Anda akan menemukan setumpuk judul termasuk
Gonjiam: Haunted Asylum asal Korea
Selatan yang rilis beberapa bulan lalu. Sebab ini adalah lokasi menjemukan di subgenre yang makin menjemukan pula. Mungkin
memang ada ketakutan dalam diri kita terhadap rumah sakit maupun sanatorium, di
mana koridor gelap mengelilingi sementara aroma kematian tercium pekat bahkan
meski belum ditinggalkan atau bukan tempat melangsungkan eksperimen terlarang.
Sementara konsep found footage
(selain bentuk penghematan biaya) diharapkan menangkap nuansanya secara nyata. Tapi Heilstätten keliru menangkap esensi found footage. Visualnya menyolok, terlampau berusaha terlihat
bergaya dan terpoles untuk menciptakan atmosfer tidak nyaman, juga begitu
bising ketika penggunaan musik berlebih melucuti realisme alih-alih merayap
tanpa penonton sadari selaku ambient.
Jajaran tokoh utamanya adalah para YouTuber. Marnie (Sonja Gerhardt) dari
kanal soal mengahadapi ketakutan yang juga “final
girl” kita, Betty (Nilam Farooq), seorang daily vlogger (pastinya membicarakan tentang apa entahlah), dan
duet prankster, Chris-Finn (Davis
Schulz dan Timmi Trinks), yang gemar melawan hukum termasuk menyelinap ke kamar
mayat untuk mengambil swafoto bersama jenazah. Singkatnya, mereka adalah 2
remaja tolol yang bahkan tak tahu jika Perang Dunia belum lima kali pecah dan
memutuskan menghabiskan malam di rumah sakit angker demi mendongkrak
popularitas.
Duo penulis naskahnya, Michael
David Pate (juga menyutradarai) dan Ecki Ziedrich jelas ingin menggambarkan
mereka sebagai orang-orang bodoh dengan kepedulian nol besar sehingga pantas
menerima hukuman dari hantu penunggu rumah sakit yang konon menebar kutukan mematikan
pada siapa saja yang menginjakkan kaki di sana. Pada film horor di mana
kebodohan karakter dihalalkan atas nama intensitas, intensi tersebut terasa
cocok. Ketika di film lain kita terpancing berujar, “Kenapa karakternya begitu
bodoh??!!”, di sini kita bisa maklum, “Tentu saja remaja-remaja penggila
popularitas ini sebodoh itu”.
Heilstätten kentara menyimpan keinginan agar penonton
menertawakan karakternya, pun beberapa poin berpotensi jadi komedi gelap
menggelitik saat kebodohan mengakibatkan kecelakaan bahkan kematian. Sayang, Michael
David Pate tidak memiliki keberanian melangkah sepenuhnya ke sana. Dia ragu
mengajak kita menertawakan kemalangan. Di satu titik, filmnya malah coba
memberi pengampunan pada salah seorang tokoh dengan memberinya peran “teman
yang setia”. Inkonsistensi tone yang
membingungkan pun gagal dihindari.
Beberapa ide menarik terkait cara memunculkan
hantu sejatinya bertebaran, namun metode yang Pate pakai membuatnya sulit
disaksikan, entah akibat kamera yang bergoyang hebat atau penyuntingan chaotic. Setiap penampakan hadir, kamera
bergetar atau adegan berpindah (atau gabungan keduanya) sebelum kita bisa
melihat jelas peristiwa di layar. Titik balik jelang akhir berpotensi menyegarkan
dan mengangkat keseluruhan film, namun lagi-lagi karena pendekatan “Jangan
tunjukkan terornya”, peluang itu gagal dimanfaatkan. Heilstätten melewatkan kesempatan banting setir melangkah ke ranah torture porn brutal banjir darah. Sewaktu
kejutan pertama di awal babak ketiga masih selaras dengan tema, momen
pamungkasnya membunuh segala harapan Heilstätten
menjadi horor layak tonton.
BISIKAN IBLIS (2018)
Rasyidharry
September 14, 2018
Amanda Manopo
,
Dicky Wahyudi
,
Elsa Diandra
,
Farhan Noaru
,
Hanny R. Saputra
,
horror
,
Indonesian Film
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Zoe Jackson
19 komentar
Seperti apa bunyi bisikan iblis?
Kalau dalam banyak horor lokal termasuk karya teranyar sutradara Hanny R.
Saputra (Mirror, Heart, Sajen) ini,
bunyinya kurang lebih “was wes wos hhhhh
hau siang hau siang hashama hashama”. Tapi jika bicara realita, tidak perlu
jauh-jauh. Simak saja adaptasi novel Ghost
Dormitory buatan Sucia Ramadhani ini. Iblis-iblis neraka bak tengah
dikuasai dengki menyaksikan kemajuan perfilman Indonesia, lalu berbisik pada
produser dan sutradara Bisikan Iblis
agar menciptakan film berkualitas compang-camping demi menjegal pergerakan
industri negeri ini, toh penonton bakal tetap berbondong-bondong meramaikan
studio.
Perkenalkan Nany (Amanda Manopo),
gadis yang selalu dirundung ketakutan, kerap bersembunyi dalam lemari, akibat
melihat kematian sang ibu, Sophia (Elsa Diandra), semasa kecil. Nany yakin makhluk
yang ia panggil Iblis Hitam merupakan dalang kematian ibunya, meski sang ayah,
Frans (Dicky Wahyudi) menolak percaya. Berusaha mengalahkan rasa takut itu,
Nany memilih bersekolah di asrama Erly yang dahulu juga jadi pilihan Sophia. TAPI
TUNGGU SEBENTAR SAUDARA-SAUDARA!!! Kenapa papan nama asrama menunjukkan tulisan
“Erly”, tapi di sekolahnya (yang dibuat memakai CGI pada tahap pasca-produksi) tertulis
“Early”? Saya berniat membahas kesalahan
penulisan ini lebih lanjut, tapi terdengar bisikan iblis, “Sssst, nikmati saja
filmnya”. Saya pun menurut. Rayuan iblis memang begitu kuat meracuni pikiran
korbannya.
Bisa ditebak, rentetan kejadian
aneh mulai menimpa asrama Erly...eh, Early....ah, maksudnya Erly....well, apa pun itu namanya. Hantu-hantu
menampakkan diri, satu per satu nyawa siswi melayang, lembar demi lembar uang
penonton terbuang. Nany yang mampu melihat para hantu tersebut awalnya ketakutan,
tapi setelah teman sekamarnya, Gie (Zoe Jackson), memberi tahu bahwa mereka muncul
guna menyampaikan pesan, Nany mulai memberanikan diri, walau seringkali,
akhirnya berujung lari kocar-kacir juga. Bicara soal lari, para pemain khususnya
Amanda Manopo perlu belajar bagaimana berlari dikejar setan secara meyakinkan.
Lambat, canggung, mereka berlari bak tokoh film komedi yang kabur karena lupa
membawa uang ketika makan bakso.
Sedangkan Hanny R. Saputra perlu
belajar cara menakut-nakuti penonton. Setelah sebuah jump scare tergarap baik, yakni sewaktu Nany dikagetkan oleh hantu
yang bersandar di pintu kamarnya, Bisikan
Iblis kembali pada rutinitas horor medioker di mana para hantu sebatas setor
muka dibarengi tata musik berisik. Tapi momen saat kita pertama kali
diperlihatkan kematian seorang siswi berhasil menyita perhatian. Diceritakan,
sang siswi tewas tercekik selimut kala sedang tidur. Ajaibnya, ia tidur dalam
kondisi mengenakan seragam sekolah lengkap dan kalau ingatan saya tepat, masih pula
memakai sepatu. Tidak perlu Iblis Hitam turun tangan, dengan kostum tidur
demikian, bocah ini akan mati sendiri karena sakit.
Kelak terungkap jika Nany merupakan
bocah indigo, sanggup mendeteksi target Iblis Hitam berikutnya berkat simbol
mirip garpu tala di jidat mereka. Menurut Bisikan
Iblis, itu adalah lambang Necronomicon,
padahal di dunia ini hanya ada 2 hal yang memakai garpu tala sebagai
lambang: Yamaha dan Psikologi. Artinya, entah Yamaha dianggap sebagai kendaraan
iblis, atau para Psikolog adalah pesuruh iblis. Sementara itu, naskah buatan
Farhan Noaru (Kembang Kantil, Rumah
Belanda) menggiring alur menuju penelusuran misteri mengenai asal muasal
teror Iblis Hitam, yang diyakini Nany berkaitan dengan kematian ibunya.
Penelusuran yang bermuara di hasil mencengangkan sekaligus amat sangat luar
biasa super duper bodoh sekali.
Begitu banyak kebodohan, yang andai
dijabarkan satu per satu takkan usai sampai Valak banting setir jadi ustazah
sekalipun. Menurut film ini, polisi tidak bisa mendeteksi apakah sebuah racun
berasal dari dalam kue atau tidak sengaja terciprat ke permukaannya. Menurut
film ini pula, polisi tak sanggup menemukan botol bekas menyimpan racun yang
terjatuh di TKP, yang tentunya penuh sidik jari guna mencari tahu siapa pemilik
racun itu sebenarnya. Ditambah CGI menggelikan yang membuat sebuah jenazah
tampak mengambang alih-alih tergeletak, lengkap sudah elemen yang Bisikan Iblis butuhkan guna mencemari
industri film kita. Sampai saya keluar dari studio, mendengar seorang penonton
berkata, “Serem yaah filmnya! Hiiiii!!!!”. Rayuan iblis memang begitu kuat
meracuni pikiran korbannya
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






















13 komentar :
Comment Page:Posting Komentar