ANNA (2019)
Rasyidharry
Juni 30, 2019
Action
,
Bagus
,
Cillian Murphy
,
Helen Mirren
,
Luc Besson
,
Luke Evans
,
REVIEW
,
Sasha Luss
,
Thriller
8 komentar
Banyak pihak menyebut Luc Besson
sudah habis, di mana mayoritas mengkritisi judul-judul terbarunya seperti Lucy dan Valerian and the City of a Thousand Planets sebagai tontonan
popcorn bodoh. Mungkin benar, tapi sejak kapan karya Besson jadi destinasi
pencari film berintelegensi tinggi? Mengkreasi hiburan ringan bertabur gimmick merupakan keahliannya, tidak
terkecuali Anna yang kembali
menampilkan protagonis femme fatale kesukaan
sang sutradara.
Gimmick utama Anna adalah
cara bertutur maju-mundur yang Besson terapkan guna membangun alur penuh
tikungan, seolah mencerminkan dunia spionase yang sarat rahasia, pengkhianatan,
dan kejutan. Kita mengenal Anna (Sasha Luss) sebagai penjual boneka Matryoshka
di Moskow, sampai seorang pencari bakat merekrutnya untuk menjadi model di
Paris. Beberapa bulan berselang, karir Anna melesat pesat.
Terlihat seperti cerita indah dari
negeri dongeng, tapi fakta tidak selalu sama dengan apa yang terlihat.
Begitulah prinsip film ini. Kita pun mengikuti perjalanan Anna dari pasar
tradisional di Moskow, menggeluti dunia model di Paris, terlibat praktek
spionase bersama KGB di bawah pengawasan Olga (Helen Mirren) dan Alex (Luke
Evans), hingga berhadapan dengan tim operasi CIA yang dipimpin Leonard (Cillian
Murphy).
Anna menggiring penonton dalam petualangan berisi kejutan-kejutan
yang memiliki bentuk serta timing tidak
terduga. Kecuali di klimaks, sulit menerka kapan Luc Besson sedang
mempermainkan ekspektasi kita dan dalam bentuk apa. Sebab kisahnya sendiri
tidak berputar di sekitar satu skema besar, entah soal menyelamatkan dunia, usaha
pembunuhan, atau misi-misi lain, yang mana lebih gampang ditebak polanya.
Cerita milik Anna sejatinya sederhana, yakni mengenai perjuangan sesosok wanita
mengejar kebebasan sembari merangkak keluar dari lubang kehidupan yang hina. Pasca
tuduhan pelecehan seksual yang menimpanya (walau pengadilan tak menemukan cukup
bukti), sentuhan feminisme khas Besson mungkin terasa hambar, namun sulit
disangkal, ia cukup ahli menyampaikan tema itu, termasuk di Anna, yang mempunyai konklusi memuaskan
tatkala karakter wanitanya berhasil mempermainkan para lelaki yang gemar
mempermainkan janji.
Besson menuliskan kisah character-based yang tak mengedepankan
pernak-pernik plot, membuat filmnya mengalir bak buku harian seorang mata-mata.
Anna bertemu satu demi satu figur yang awalnya dingin nan misterius, lalu mulai
mengenal lebih jauh bahkan mengunjungi ruang personal masing-masing, sehingga
di mata penonton pelan-pelan sisi kemanusiaan mereka mulai nampak.
Andai saja Anna dirilis dua dekade lalu, niscaya film ini bakal menandai
lahirnya calon megabintang bernama Sasha Luss. Mengawai debut layar lebarnya di
Valerian and the City of a Thousand
Planets, Luss adalah perwujudan sempurna dari femme fatale seksi yang sekilas berdarah dingin, tapi sebenarnya
berperasaan. Hanya saja, ia memilih menyembunyikan perasaan itu akibat sudah
terlalu sering hatinya teriris-iris.
Luss pun meyakinkan kala dituntut
melakoni adegan aksi. Pesonanya memancar kuat di tengah gelaran baku hantam
beradrenalin tinggi dengan balutan koreografi kelas satu, yang kembali
menegaskan bahwa perihal kemampuan menggarap hiburan, Luc Besson belum habis.
Studi karakter yang ia lakukan mungkin tak seutuhnya berhasil, sebab ketika
deretan gimmick absen dari layar,
kisahnya sedikit menjemukan. Tapi sewaktu publik memuja-muji seri John Wick berkat aksi bertenaga
miliknya, Anna menunjukkan jika Luc
Besson pantas diberi kredit lebih.
SABYAN MENJEMPUT MIMPI (2019)
Rasyidharry
Juni 29, 2019
Ade Firman Hakim
,
Alim Ishaq
,
Aquino Umar
,
Biography
,
Cici Tegal
,
Diky Chandra
,
Fuad Idris
,
Indonesian Film
,
Kanaya Gleadys
,
Kurang
,
Meni Agus Nori
,
Nissa Sabyan
,
Novia Faizal
,
REVIEW
,
Shandy William
12 komentar
Saya tidak tahu siapa Sabyan Gambus
sebelum mendengar kabar perilisan film ini. Penasaran, saya pun membuka halaman
YouTube mereka dan terkejut melihat jumlah subscribers
sebesar 5,6 juta. Semakin terkejut saat mendapati video Ya Habibal Qolbi telah ditonton 305 juta
kali. Sebagai perbandingan, video klip Gee
milik Girls’ Generation yang legendaris itu “cuma” punya 232 juta penonton.
A-Pop (Arab Pop) is more popular
than K-Pop I guess?
Statistik di atas mendorong saya
untuk menonton Sabyan Menjemput Mimpi,
yang rupanya menampilkan para personel Sabyan memerankan diri mereka sendiri.
Kisah dibuka kala mereka tengah gugup sebelum menjalani proses pengambilan
gambar video klip bersama musisi luar negeri. Tiba-tiba, tanpa diduga tanpa
dinyana, obrolan soal kegugupan berbelok ke arah mengenang masa lalu, dan
filmnya pun mendadak memasuki fase flashback.
Apabila hendak menonton film ini,
anda mesti mempersiapkan diri dengan gaya penulisan Novia Faizal (Something in Between, Calon Bini) yang
menerapkan penuturan maju-mundur tanpa esensi pasti. Tanpa harus kembali ke
masa kini tiap beberapa waktu sekali pun, alurnya bisa berjalan. Bahkan lebih
mulus, karena peristiwa masa kini seringkali miskin korelasi dengan adegan masa
lalu, atau hanya bertindak selaku rekap.
Melalui flashback, kita melihat perjalanan Sabyan, khususnya Nissa, yang
hidup sederhana di rumah susun bersama kedua orang tua (Diky Chandra dan Cici
Tegal) dan kakaknya, Iin (Aquino Umar). Ada kesemarakan di sana. Ketimbang
menggambarkan kemiskinan, Sabyan
Menjemput Mimpi menjadikan komplek rumah susun sebagai ruang penuh
interaksi hangat antara penghuni.
Tapi serupa kondisi rumah susun,
film ini terasa penuh sesak akibat subplot dengan dosis berlebih. Selain
perjuangan Sabyan, ada cinta monyet antara Nissa dengan Dimas (Shandy William),
kesulitan ekonomi keluarga Nissa, kerinduan anak kecil dari rumah sebelah
bernama Nurul (Kanaya Gleadys) terhadap sang ibu, hingga perjalanan Bilal
(Chandra Wahyu Aji) si penggemar Sabyan yang memiliki cacat fisik untuk
menonton konser idolanya.
Begitu banyak cabang, tidak ada
satu pun memperoleh penebusan emosi setimpal. Romansanya diakhiri kesan bahwa
Dimas adalah pria manja sekaligus brengsek yang mengeluh saat wanita pujaannya
sibuk meniti karir, lalu dengan mudah memalingkan hati tak lama setelah
cintanya kandas. Seolah ia berprinsip, “Ah, wanita mana pun boleh, daripada
jomblo”.
Konklusi kisah Bilal tidak kalah mengecewakan.
Filmnya membangun momentum terkait pertemuannya—yang datang ke Garut bersama
Ndut Kece (Meni Agus Nori) si penggemar Sabyan nomor satu—dengan Sabyan, hanya
untuk menutupnya lewat adegan konser medioker. Kenapa pula Alim Ishaq, yang
menjalani debut penyutradaraannya di sini, menutup momen tersebut dengan gerak
lambat dramatis sambil menyoroti wajah Ndut Kece, seolah ia akan meninggal
dunia?
Cara Alim Ishaq menangani adegan
musikal pun sangat lemah. Sabyan
Menjemput Mimpi dikemas mengikuti pakem Bohemian
Rhapsody, alias bagai kompilasi video klip. Tapi, walau bermodalkan biaya
jauh lebih besar, versi layar lebarnya memiliki kualitas tata artistik serta camerawork setara—bahkan di beberapa
bagian lebih buruk—ketimbang video klip yang diunggah di kanal YouTube Sabyan
Gambus. Murahan dan miskin kreativitas.
Beruntung film ini punya dua
elemen, yaitu jajaran pemain mumpuni
dan suara indah Nissa, yang di saat bersamaan mampu mengejutkan lewat
penampilan natural yang acap kali menggelitik. Nissa jelas punya potensi. Saya
bisa membayangkannya mencuri perhatian di film-film komedi. Sedangkan Diky
Chandra tidak kalah luwes menyeimbangkan humor dengan tuturan dramatik.
Kolaborasi kedua elemen di atas
bahkan sempat memproduksi satu adegan emosional. Diceritakan, di seberang rumah
Nissa sekeluarga tinggal pria bernama Saman (Ade Firman Hakim) bersama
puterinya, Nurul, juga Marno, sang ayah (Fuad Idris), yang tidak lagi bisa
melihat. Suatu malam, Marno mendengar lagu Allahumma
Labbaik milik Sabyan diputar di radio. Didorong keinginan besar mengunjungi
tanah suci, tangis Marno pun pecah. Biasanya saya membenci adegan demikian,
tapi karena akting heartbreaking dari
Fuad Idris dan Ade Firman Hakim, ditambah lantunan suara indah Nissa, hati saya
tersentuh.
Benar bahwa Sabyan Menjemput Mimpi mampu menghibur di beberapa titik serta
memiliki hati. Saya sempat menimbang-nimbang untuk memberikan penilaian positif
terhadap film ini, hingga adegan penutupnya tiba. Sebuah adegan yang tidak
sepantasnya disertakan, dan lebih pantas muncul di halaman media sosial sebagai
materi promosi atau sambutan sebelum gala premiere. That’s “the final nail in the coffin” for this movie.
YESTERDAY (2019)
Rasyidharry
Juni 29, 2019
Comedy
,
Danny Boyle
,
Fantasy
,
Himesh Patel
,
Kate McKinnon
,
Lily James
,
Lumayan
,
Musical
,
REVIEW
,
Richard Curtis
,
Romance
12 komentar
Terkadang saya duduk sendirian di
tengah malam dengan earphone terpasang
sambil mendengarkan Live Forever atau
Cigarettes and Alcohol, berkhayal, “Bagaimana
kalau saya adalah Liam Gallagher?”. Itulah kenapa, meski mengusung konsep
fantasi, karya teranyar Danny Boyle (Trainspotting,
Slumdog Millionaire, 127 Hourse) ini terasa dekat. It’s relatable, at least for my imagination, cause I long for yesterday.
Apa jadinya bila The Beatles hilang
dari eksistensi? Mungkin sebagian besar menganggapnya mengerikan, namun bagi
Jack Malik (Himesth Patel), itu justru anugerah. Jack menghabiskan 10 tahun
menulis serta menyanyikan lagunya sendiri dari panggung ke panggung, bar ke
bar, sayangnya kesuksesan tak kunjung datang.
Dia siap menyerah andai bukan
karena dukungan Ellie (Lily James), sahabat lama, manajer, sekaligus cintanya. Tapi
Jack enggan mengutarakan isi hatinya, tanpa tahu bahwa Ellie menyimpan perasaan
serupa. Sampai suatu malam, kegelapan total menimpa seluruh dunia selama 12
detik. Lalu dalam sebuah adegan bernuansa agak mistis yang dibangun berdasarkan
lagu A Day in the Life (juga
merupakan lagu The Beatles paling mistis), Jack tertabrak bus.
Dia terbangun, kehilangan dua gigi,
namun mendapatkan hal yang jauh lebih besar. Jack menjadi satu-satunya orang
yang mengetahui The Beatles. Bersama beberapa hal lain, kuartet legendaris itu
hilang dari sejarah. Jack pun mendapat ide untuk mengaku sebagai pencipta
lagu-lagu mereka. Alhasil, tidak butuh lama hingga ia ditasbihkan selaku musisi
jenius.
Tersimpan setumpuk opsi eksplorasi
dalam konsep “what if” yang diusung,
dan sejatinya naskah buatan Richard Curtis (Four
Weddings and a Funeral, Notting Hill, Love Actually) bekerja dengan baik
mempresentasikan situasi menghibur kala Jack menipu orang-orang, dari
keluarganya sampai para figur industri musik termasuk Ed Sheeran dan sang
manajer, Debra Hammer (diperankan Kate McKinnon yang piawai mencampurkan sisi kejam
dan menggelitik).
Biarpun menyenangkan disimak, sukar
menampik pemikiran jika Yesterday
termasuk gagal memenuhi potensinya. Mendengar premisnya saja, imajinasi saya
bergerak liar memikirkan bagaimana film ini memaparkan proses kreatif Jack.
Tapi selain sekuen sambil lalu ketika ia mengunjungi lokasi-lokasi di Liverpool
yang berperan akan terciptanya lagu The Beatles, tidak banyak yang Yesterday tawarkan.
Pun Curtis bagai enggan memberi
kesempatan lebih pada Jack guna menikmati kondisi misterius itu. Dia terus
menghadapi penderitaan, kesulitan, bahkan saat akhirnya sukses mendobrak dunia
industri, ia langsung tersandung masalah terkait kebebasan berkarya yang
dilucuti. Ketimbang artis yang bebas berekspresi, Jack adalah produk
perusahaan. Terkait persoalan ini, Yesterday
hadir terlampau mendekati realita.
Beruntung, sewaktu naskahnya sedikit
mengecewakan, penyutradaraan Danny Boyle bersinar, membuktikan kecintaan
sekaligus pemahaman tingginya perihal jiwa dalam karya-karya “The Fab Four”. Lagu pertama The Beatles yang
Jack lantunkan adalah Yesterday, dan
momen itu terjadi di tengah atmosfer magis, di mana semesta bagai tengah
menyambut turunnya messiah dunia
musik.
Demikian pula tatkala Ob-La-Di, Ob-La-Da diperdengarkan, yang
sempurna memotret kebahagiaan murni nan sederhana lagu gubahan Lennon-McCartney
tersebut. Penyutradaraan Boyle (ditambah beberapa referensi plus kejutan) menjadikan
Yesterday sebuah penghormatan layak,
walau sebenarnya film ini tidak banyak memberi penonton kesempatan berkaraoke,
karena mayoritas lagu cuma diputar sejenak.
Berkat performa kedua penampil
utama, Yesterday turut menyuguhkan
komedi-romantis manis khas British (baca: Richard Curtis). Himesh Patel
menghidupkan protagonis likeable dan relatable yang terjebak dalam gesekan
dilematis antara ambisi personal dan moral, antara cita-cita dan cinta.
Sementara Lily James seperti biasa mudah merebut hati melalui pesona
naturalnya. She’s so lovable, she’ll
makes you believe that all you need is love.
KOKI-KOKI CILIK 2 (2019)
Rasyidharry
Juni 28, 2019
Adhiyat Abdulkhadir
,
Christian Sugiono
,
Comedy
,
Drama
,
Farras Fatik
,
Indonesian Film
,
Kimberly Ryder
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Ringgo Agus Rahman
,
Vera Varidia
,
Viva Westi
2 komentar
Dua minggu terakhir merupakan waktu
yang mengasyikkan bagi film anak. Setelah Doremi
& You menebar kebahagiaan lewat musikal, kini giliran Koki-Koki Cilik 2 menyuguhkan sekuel sedap.
Walau kali ini aktivitas memasak bagai hanya hidangan pendamping, drama
keluarga yang melibatkan jajaran penampil serta karakter baru, bertindak selaku
menu utama yang berhasil meluluhkan hati.
Bima (Farras Fatik) dan
teman-temannya kembali berkumpul, berencana mengadakan reuni di Cooking Camp
dua tahun selepas peristiwa film pertama, hanya untuk menemukan bahwa tempat
itu sudah ditutup setelah komentar miring dari Evan (Christian Sugiono), seorang
mantan chef sekaligus pemilik restoran ternama, mengakibatkan hilangnya
kepercayaan publik terhadap Cooking Camp yang sekarang dikelola Chef Grant
(Ringgo Agus Rahman).
Cukup aneh ketika anak-anak tidak
tahu perihal penutupan lokasi seterkenal Cooking Camp, yang juga mempunyai
tempat di hati mereka. Setidaknya para orang tua pasti mendengar kabar itu.
Alhasil, berangkat dengan penuh suka cita, mereka disambut kamp kosong dan Chef
Grant—dengan jenggot palsu jelek—yang kehilangan semangatnya.
Di tengah situasi tersebut,
datanglah Adit (M Adhiyat) bersama tantenya, Adel (Kimberly Ryder). Adit boleh
berusia paling muda, tapi kemampuan memasaknya luar biasa. Sayang, kesan
pertamanya di mata anak-anak Cooking Camp kurang baik. Bima dan teman-teman
menganggap Adit arogan.....sampai masakan si bocah menyentuh lidah.
Terpukau oleh masakannya, Adit pun
diajak turut bergabung dalam usaha food
truck yang dirintis guna membangkitkan Cooking Camp. Dari situlah
pelan-pelan Adit merasa dicintai, suatu hal yang jarang ia temukan, mengingat
ia senantiasa jadi korban perundungan di sekolah, pun kurang dekat dengan sang
ayah.
Paruh awal Koki-Koki Cilik 2 sebenarnya tidak berjalan mulus. Perubahan hati
dan sikap Adit terjadi begitu cepat, plus naskah buatan Vera Varidia (Me vs Mami, Surat Cinta untuk Kartini,
Koki-Koki Cilik) terlalu banyak menebar konflik. Tentu di saat anak-anak
membuat bisnis makanan bersama, masalah bakal kerap terjadi, namun bukan
berarti film ini mesti menyediakan gesekan dan/atau pertengkaran baru tiap
beberapa menit.
Tapi setelah drama utamanya
mengambil alih, Koki-Koki Cilik 2
mulai menemukan pijakan, bahkan membuat saya terenyuh oleh tuturannya. Ada satu
titik balik khusus yang amat berkesan, yakni tatkala Adit kehilangan kontrol
emosi akibat sikap salah satu pengunjung food
truck, dan Adel berusaha menenangkan sang keponakan dengan berkata, “Adit
anak baik”.
Terasa emosional berkat aura keibuan hangat dari Kimberly
ditambah bagaimana adegan tersebut memotret kasih sayang melalui kata-kata
sederhana. Makin bermakna setelah latar belakang Adit digali lebih jauh, yang
juga diikuti dua kejutan. Kejutan pertama mudah diprediksi, sementara yang kedua,
biarpun mengejutkan, agak bermasalah karena melibatkan insiden masa lalu, yang
secara logika, mustahil dilupakan karakternya. Di luar masalah itu, keberadaannya
efekif menambah bobot rasa. Salah satunya berkat penampilan paling solid
sepanjang karir Christian Sugiono, juga M. Adhiyat yang sekali lagi membuktikan
diri berpotensi menjadi aktor dengan sensibilitas tinggi di masa depan.
Mengedepankan Adit, porsi Bima pun
berkurang jauh, yang mana patut disayangkan setelah kita melalui banyak hal
bersamanya di film pertama. Tapi paling tidak, Koki-Koki Cilik 2 mampu membayarnya lunas dengan menciptakan ikatan
kuat di antara para bocah. Teramat kuat, air mata bisa saja menetes sewaktu
melihat mereka bicara hati ke hati, berpelukan, kemudian melakukan “ritual
transfer energi”.
Terselip pula pesan anti-bullying selaku bumbu penyedap, yang
walau takarannya minim, tetap meninggalkan dampak besar. Orang tua akan
memperoleh materi penting untuk diajarkan, yaitu tentang efek perundungan yang
masih bisa, atau bahkan baru dirasakan jauh di masa depan.
Mengambil alih tugas penyutradaraan,
Viva Westi (Rayya, Cahaya di Atas Cahaya,
Jenderal Soedirman) mungkin belum sejago Ifa Isfansyah dalam
mempresentasikan makanan guna membuatnya nampak sedap dengan mengeksplorasi
detail tekstur. Tapi kekurangan itu juga dipengaruhi variasi masakan yang
dipilih, juga fakta bahwa naskahnya tidak menyelipkan adegan memasak sebanyak
film pertama. Lain cerita jika membahas penghantaran rasa, di mana sang
sutradara menerapkan dramatisasi secukupnya sehingga sukses menjadikan Koki-Koki Cilik 2 sebuah film keluarga
yang demikian hangat.
ANNABELLE COMES HOME (2019)
Rasyidharry
Juni 26, 2019
Cukup
,
Gary Dauberman
,
horror
,
Katie Sarife
,
Madison Iseman
,
Mckenna Grace
,
Patrick Wilson
,
REVIEW
,
Vera Farmiga
14 komentar
Kita sudah melihat asal-usul boneka
Annabelle di film pertama yang hancur lebur, lalu mempelajari asal-usul dari
asal-usul tersebut melalui keseruan Anabelle:
Creation. Masih adakah cerita tersisa untuk dituturkan? Jawabannya “tidak”.
Annabelle Comes Home yang membawa
kita kembali ke zaman modern membuktikan itu, dengan nyaris sepenuhnya
mengesampingkan plot demi deretan set
pieces horor, yang untungnya, lumayan solid walau kurang berkesan.
“Annabelle adalah suar bagi para
roh”, demikian ucap Lorraine (Vera Farmiga) kepada sang suami, Ed (Patrick
Wilson), sebelum mengurung si boneka di balik kotak kaca suci, yang menandakan
bahwa film ini mengambil latar segera setelah adegan pembuka The Conjuring. Kalimat Lorraine menjadi
pondasi sutradara sekaligus penulis naskah Gary Dauberman dalam menggerakkan
filmnya. Sehingga, begitu Annabelle keluar dari kurungannya, ada alasan mengapa
barisan monster ikut berseliweran. Trik sederhana, dangkal, namun cukup cerdik.
Tapi siapa yang cukup bodoh untuk
berinisiatif mengeluarkan Annabelle? Semua berawal saat Ed dan Lorraine mesti
meninggalkan sang puteri, Judy (Mckenna Grace) di bawah pengawasan Mary Ellen
(Madison Iseman), selama mereka bekerja di luar kota. Ikut hadir pula Daniela
(Katie Sarife), sahabat Mary yang menyimpan penasaran besar terhadap aktivitas
supernatural Keluarga Warren. Ya, Daniela bertanggung jawab atas terlepasnya
Annabelle bersama lusinan roh jahat lain.
Tanpa menjustifikasi atau
mengurangi tingkat kebodohannya, tindakan Daniela itu bisa dipahami ketika
Dauberman menyelipkan latar belakang tragis pada karakternya, yang berpotensi
menginjeksi elemen drama menyentuh andai Daniela diposisikan sebagai tokoh
utama tunggal. Setidaknya berdua bersama Judy yang jadi korban perisakan karena
profesi orang tuanya. Sementara Mary urung diberikan porsi memadai.
Begitu Annabelle menghilang dari kotaknya,
demikian pula plot film ini. Set piece demi
set piece saling menyusul atau hadir secara
simultan dalam konsep yang mengingatkan kepada seri film Goosebumps ketika monster-monster “koleksi” tokoh utamanya kabur
dan menebar teror (trivia: Madison
Iseman bermain di Goosebumps 2: Haunted
Halloween). Ada hantu pengantin yang mengayunkan pisau, iblis bertanduk,
manusia serigala, hingga The Ferryman yang terinspirasi sosok Charon dari
mitologi Yunani.
Memiliki desain menarik, saya yakin
jajaran monster baru di atas bakal kesulitan menandingi status ikonik seniornya
seperti Valak dan tentunya Annabelle. Penyebabnya sederhana, yaitu kemunculan ala
kadarnya. Beberapa jump scare—yang muncul
menyusul build up yang kerap
terlampau lama—memang efektif meningkatkan denyut jantung sesaat, namun miskin
kreativitas, sebatas menampakkan wajah hantu secara tiba-tiba.
Kurangnya kreativitas turut
menciptakan antiklimaks di momen puncak tatkala Annabelle Comes Home gagal memanfaatkan banyaknya jumlah hantu.
Bahkan teror si boneka terkutuk ditutup dengan cara yang malas. Tapi saya
percaya Dauberman menyimpan banyak ide cemerlang (jangan lupa, dialah penulis Annabelle: Creation dan It). Terbukti, sewaktu dipaksa memutar
otak lebih keras guna menampilkan teror tanpa penampakan, beberapa situasi menarik
berhasil diproduksi, misalnya momen menegangkan yang melibatkan layar televisi.
Annabelle Comes Home tidak seseram, seseru, maupun selucu Creation, tapi memiliki paparan drama
yang meski kecil, cukup baik perihal menggerakkan rasa. Berkat penokohan likeable ditambah penampilan solid
khususnya dari Mckenna Grace, Katie Sarife, dan Vera Farmiga yang mumpuni
menghantarkan emosi, kalimat-kalimat singkat (“Life goes on, somehow”, “He
was the boyfriend”, etc.) bisa
terkesan hangat, pedih, manis, pahit. Beraneka rasa.
KABIR SINGH (2019)
Rasyidharry
Juni 25, 2019
Cukup
,
Drama
,
Hindi Movie
,
Kiara Advani
,
Nikita Dutta
,
Ravi K. Chandran
,
REVIEW
,
Romance
,
Sandeep Vanga
,
Shahid Kapoor
Tidak ada komentar
Kabir Singh, selaku remake film
Telugu Arjun Reddy, bisa terbang
tinggi sebagai kisah romansa epik (durasinya 172 menit). Penggambarannya akan
penderitaan akibat patah hati amat menyakitkan dalam paparan dramatis yang tetap
berpijak pada logika seputar psikis manusia. Sayang, kandungan misogini,
khususnya pada satu jam pertama, luar biasa mengganggu.
Sandeep Vanga, penulis sekaligus
sutradara sumber adaptasinya yang kali ini kembali mengemban peran serupa,
bagai memfilmkan mimpi basah para pria. Tengok saja penokohan Kabir (Shahid
Kapoor). Dia adalah pria tampan, eksplosif, dan memegang kontrol di kampus, di
mana ia bebas berbuat apa pun sesuka hati. Tidak ada konsekuensi menanti Kabir.
Banyak pria mengidamkan karakteristik di atas, menganggapnya sebagai lambang
maskulinitas.
Ketika perhatiannya tertuju kepada
mahasiswi baru bernama Preeti (Kiara Advani), Kabir langsung mengumumkan (baca:
mengancam) mahasiswa lain agar menjauhi Preeti, sebab si gadis adalah miliknya,
layaknya sebuah barang. Karakterisasi Preeti pun demikian, bak barang ketimbang
orang. Dia pasif, submisif, mengikuti segala kemauan Kabir. Bahkan di paruh
awal, suaranya nyaris tak terdengar.
Pada dasarnya, babak pertama
sebatas sajian percintaan satu sisi, ketika Kabir berbuat semaunya dibarengi
kepatuhan Preeti. Membosankan, problematik, pula jauh dari romantis. Tapi kita
tahu “sesuatu” bakal menimpa keduanya, sebab cerita berlatar dunia perkuliahan
tadi merupakan flashback. Pertama
kali penonton bertemu sang protagonis, dia adalah ahli bedah alkoholik yang
menjalani kehidupan self-destructive.
Butuh waktu sampai film ini
menjelaskan “sesuatu” itu, namun beruntung, selepas kelulusan Kabir, filmnya
pelan-pelan membaik. Saat itu, Kabir melanjutkan sekolah di kota berbeda,
memaksanya dan Preeti menjalani hubungan jarak jauh. Mereka cuma bisa bertemu
beberapa minggu sekali selama tiga tahun.
Kabir masih bermasalah mengatur
amarah, namun setidaknya kini Preeti telah diberi kekuatan lebih. Dia tampar
Kabir saat sang kekasih lepas kontrol. Walau secara keseluruhan masih
memaparkan romansa head over heels, Sandeep
mampu melahirkan beberapa momen romantis, termasuk montase manis untuk
menggambarkan hubungan jarak jauh dua tokoh utama, sewaktu mereka silih
berganti saling mengunjungi.
Visualnya turut berkontribusi
positif berkat sinematografi solid garapan Ravi K. Chandran (Ghajini, My Name is Khan, Student of the
Year 2) yang menjadi departemen teknis terbaik di film ini, ketika
penyuntingannya acap kali terkesan jumpy,
demikian pula tata suara yang sering memperdengarkan kemunculan musik dan/atau
penambahan volume secara kasar dan tiba-tiba.
Kualitas Kabir Singh makin meningkat tatkala perpisahan Kabir dan Preeti
terjadi, menggerakkan kisahnya ke arah tuturan soal post power syndrome. Di dunia nyata, Kabir bukanlah penguasa layaknya
semasa mahasiswa. Ketidakmampuan mengontrol emosi berujung merenggut segalanya.
Sekarang Kabir mesti menghadapi konsekuseni (konsep yang asing baginya), namun
ia tetap bertingkah seperti dulu, yang berakhir memperburuk keadaan, menjatuhkannya
ke jurang yang semakin dalam dan gelap.
Memang jejak “mimpi basah pria”
miliknya masih tersisa, semisal saat Kabir berhasil merayu Jia (Nikita Dutta),
seorang selebritis, untuk menjadi teman tidurnya, setelah memperlakukan
wanita-wanita teman kencannya yang lain sebagai alat pelampiasan nafsu. Tapi di
sisi lain, Kabir Singh juga merupakan
potret tajam mengenai betapa destruktif dampak dari patah hati.
Sekilas terkesan trivial, tapi
realitanya, kehilangan seseorang yang sungguh kita cintai memang bisa sebegitu
menghancurkan. Dan dengan matanya, Shahid Kapoor berhasil menangkap kekacauan
hati seorang pria yang terjebak derita dalam hidup penuh amarah, kesedihan, dan
ketiadaan harapan. Kabir Singh ditutup
oleh konklusi menyentuh yang bukan cuma membahas perihal cinta, pula keluarga.
Di luar kepribadiannya yang bermasalah, Kabir tetap layak mendapatkan
kebahagiaan pasca segala penderitaannya, dan film ini mampu meyakinkan bahwa cinta
Kabir terhadap Preeti memang nyata.
MENDADAK KAYA (2019)
Rasyidharry
Juni 23, 2019
Anggy Umbara
,
Comedy
,
Dwi Sasono
,
Edi Santoso
,
Fedi Nuril
,
Indonesian Film
,
Iyam Renzia
,
Jelek
,
Jihane Almira
,
Nirina Zubir
,
Pandji Pragiwaksono
,
REVIEW
28 komentar
Kita semua punya kerabat atau teman
yang berisik, sok asyik, banyak gaya, dan suka melucu walau tidak lucu.
Alih-alih senang menghabiskan waktu bersamanya, kita justru terganggu, berharap
waktu segera berlalu atau orang itu lenyap dari muka Bumi. Begitulah kesan yang
diberikan Mendadak Kaya, sekuel dari DOA: Cari Jodoh yang mengadaptasi komik
strip terbitan Poskota. Artinya, Anggy Umbara sukses menghasilkan dua installment berkualitas tiarap.
Tiga karakter utama kita masih
sama. Doyok (Fedi Nuril) masih membujang, Otoy (Pandji Pragiwaksono) terus
terlibat pertengkaran dengan sang istri, Eli (Nirina Zubir), sementara Ali
Oncom (Dwi Sasono) tetap menghadapi jalan berbatu dalam memperjuangkan
hubungannya dengan Yuli (Jihane Almira). Tentu saja ketiganya masih sama-sama
miskin dan bergelimang hutang.
Ditulis naskahnya oleh Anggy Umbara
bersama Iyam Renzia, Mendadak Kaya menghabiskan
separuh awal durasi menuturkan usaha tiga tokoh utama mencari kerja.
“Menuturkan” di sini bukan berarti bercerita secara layak, melainkan gabungan
sketsa-sketsa konyol soal keseharian Doyok-Otoy-Ali Oncom di tempat kerja. Tidak
ada cerita sungguhan, hanya pameran gaya Anggy (transisi animasi khasnya pun
masih dipertahankan) yang daripada lucu, justru tampak makin murahan.
Saya paham bahwa kemasan
murahannya, baik dari humor atau efek visual, adalah bentuk kesengajaan demi
menyesuaikan target pasarnya, yakni pembaca Poskota yang biasanya berasal dari
kalangan menengah ke bawah. Masalahnya, bukan cuma tidak lucu, gaya sok asyik
Anggy tidak terasa sebagai usaha melucu. Bagian mana yang lucu dari kemunculan
acak efek visual gelembung sabun sekelas video flash?
Apabila kita bedah satu per satu,
sejatinya humor yang film ini tawarkan tidak buruk. Terkesan “murahan”, namun
kekeliruan bukan terletak di situ, melainkan pada nihilnya kesadaran akan timing. Sekitar tiga atau empat titik
memilikinya, tapi menilik kualitas penghantaran komedin secara menyeluruh, saya
yakin itu sekadar kebetulan. Jam rusak saja masih bisa dua kali menunjukkan
waktu yang benar.
Praktis, Mendadak Kaya amat bergantung kepada trio pemeran utama yang
kembali berusaha semaksimal mungkin, khususnya Dwi Sasono, yang sempurna
memerankan karakter komikal berkelakuan antik berfisik unik macam Ali Oncom.
Setelah menanti beberapa lama,
akhirnya kita tiba pada titik di mana trio protagonisnya mendadak kaya, sesuatu
yang dinanti-nanti karena itulah premis dasarnya, tapi justru dari sini Mendadak Kaya berubah dari komedi
medioker menjadi komedi malas. Doyok, Otoy, dan Ali Oncom menghambur-hamburkan
uang, membeli barang-barang mewah sambil bertingkah norak. Klise, tapi tak
sampai menandingi kemalasan fase kala karakternya berlibur.
Berniat ke Disneyland, sebuah
peristiwa bodoh justru membawa mereka berada di JungleLand. Berikutnya, Mendadak Kaya hanya menampilkan
tiap-tiap tokoh menaiki wahana, diselingi humor ala kadarnya yang telah kita
temui jutaan kali (Doyok, Otoy, dan Ali Oncom ketakutan menunggangi wahana lalu
mual selepas melakukannya). Pun waktu dihabiskan terlalu lama, fase ini dapat
menjadi sebuah episode vlog jalan-jalan di YouTube.
Bahkan vlog sepertinya masih lebih
menghibur. Penataan kamera Edi Santoso (9
Naga, Susah Sinyal, DOA: Cari Jodoh) gagal mewakili keseruan aktivitas
senang-senang di taman bermain. Dan tidak peduli dengan kalimat “Cintailah
produk-produk Indonesia”, JungleLand bukanlah Disneyland. Tidak ada cukup
kemeriahan, apalagi saat dibungkus sinematografi sekenanya.
PARASITE (2019)
Rasyidharry
Juni 22, 2019
Bong Joon-ho
,
Choi Woo-shik
,
Comedy
,
Drama
,
Han Jin-won
,
Jang Hye-jin
,
Jung Jae-il
,
Korean Movie
,
Luar Biasa
,
Park So-dam
,
REVIEW
,
Song Kang-ho
54 komentar
Baik perihal cerita maupun gaya,
melalui Parasite yang merupakan pemenang
Palme d’Or pertama asal Korea Selatan,
Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder,
Snowpiercer) telah melangkah ke teritori yang belum terjamah. Teritori ini
begitu asing, hingga nyaris mustahil menerka arah guliran cerita menit demi
menit serta cara penanganannya. Parasite adalah
tragicomedy yang melukiskan betapa
hidup memang setragis itu, selucu itu, seironis itu, seaneh itu, dan
semengejutkan itu.
Sebelum special screening dimulai, penonton diberitahu pesan dari Bong,
yang melarang kami membocorkan semua yang terjadi selepas sebuah peristiwa.
Menghormati permintaan tersebut, saya hanya bisa menyebutka bahwa peristiwa itu
hadir sekitar 15-20 menit pertama durasi. Artinya, Parasite telah menyiapkan kejutan sedari awal.
Serupa pemenang Palme d’Or tahun
lalu, Shoplifters, film ini
mengangkat kisah soal usaha keluarga kelas bawah bertahan hidup dengan menempuh
jalur tidak jujur. Keluarga ini terdiri atas empat orang anggota: Ki-Taek (Song
Kang-ho) si ayah, Chung Sook (Jang Hye-jin) si ibu, Ki-woo (Choi Woo-shik) si
putera, dan Ki-jung (Park So-dam) si puteri. Mereka tinggal di kediaman semi-basement yang kumuh, menumpang WiFi
dari cafe terdekat, merasa kesal kala hampir tiap malam seorang pria pemabuk
mengencingi jedela rumah.
Kesempatan memperbaiki penghidupan
datang saat Ki-woo mendapat tawaran sebagai tutor pengganti untuk puteri sebuah
keluarga kaya. Dari situlah Ki-woo memperoleh akal bulus guna memakmurkan
kehidupan keluarganya melalui rencana licik nan cerdik yang menjelaskan mengapa
film ini mengusung judul “Parasite”.
Ditulis oleh Bong bersama asistennya
saat menggarap Okja, Han Jin-won,
naskahnya menuturkan cerita biasa mengenai jarak kelas ekonomi lewat cara tidak
biasa. Baik si kaya atau si miskin bukan perlambang kebusukan manusia. Walau
menggapai kesempatan mengeruk uang melalui tipu daya, setelahnya, mereka tetap
sungguh-sungguh bekerja keras. Sedangkan si kaya bukanlah keluarga
disfungsional.
Mengangkat permasalahan serius
tidak serta menjadikan Parasite tontonan
depresif. Serupa film-film Bong lain, humor tetap mendapat tempat. Bahkan saya
percaya inilah film terlucu sang sutradara sejauh ini. Senjata utamanya adalah
komedi situasi yang acap kali tak segan mendobrak batas absurditas dan dilengkapi
kesempurnaan timing.
Humornya terus menerjang sementara
Bong dengan mulus terus membawa filmnya berganti tone bahkan genre. Anda
bakal dibuat tertawa, lalu sejurus kemudian ditikam oleh ironi, lalu menjelang
akhir babak kedua dikejutkan oleh transformasi Parasite menjadi thriller yang
efektif meramu ketegangan berkat kejelian Bong menggerakkan kamera, menyusun mise-en-scène plus timing, sebelum akhirnya bergerak menuju kegilaan berdarah pada
klimaks. Bahkan, meski cuma beberapa detik, Parasite
sempat menebarkan aroma horor supernatural.
Pun film ini amat memperhatikan build up. Setiap kejutan, setiap hasil
dari rentetan peristiwa, tidak pernah muncul tiba-tiba. Penonton dibiarkan
meresapi prosesnya, sehingga saat mencapai destinasi, timbul kepuasan yang
mudah memancing teriakan juga tepuk tangan. Musik gubahan Jung Jae-il (Okja, Take Point) pun tidak kalah
menonjol, membentangkan ragam bentuk dari nomor berbasis piano yanng menghantui
(Opening) sampai orkestrasi megah (The Belt of Faith) yang menemani salah
satu momen paling “WOW” milik Parasite,
tatkala protagonis kita akhirnya berhasil menyukseskan misi mereka.
Sebagai aktor langganan sang
sutradara (empat kali berkolaborasi termasuk di sini), Song Kang-ho menegaskan
mengapa Bong menjadikannya pelakon favorit. Sebagaimana gaya Bong, Song mampu
menebar ranjau komedi sembari diam-diam dan pelan-pelan memupuk tensi dramatis
yang siap diletupkan saat dibutuhkan.
Bong Joon-ho ingin penontonnya
mennyaksikan jarak kelas ekonomi secara nyata. Bahkan, secara terpisah, ia
sempat menempatkan tokoh-tokohnya dalam dua aktivitas serupa namun terjadi pada
dua tempat berlawanan (petunjuk: jendela). Poin getir yang ingin ia lontarkan
adalah, apa pun kondisinya, biarpun sempat merasakan "kelas" masing-masing (si kaya merendahkan kelasnya, si miskin menikmati peningkatan kasta), si miskin tetaplah miskin, dan si kaya tetaplah
kaya. Pasca hujan deras berujung luapan air bah melanda, si kaya bahagia karena
cuaca menjadi segar, sedangkan si miskin semakin beraroma busuk.
TOY STORY 4 (2019)
Rasyidharry
Juni 22, 2019
Andrew Stanton
,
Animated
,
Annie Potts
,
Bagus
,
Christina Hendricks
,
Jordan Peele
,
Josh Cooley
,
Keanu Reeves
,
Keegan-Michael Key
,
REVIEW
,
Stephany Folsom
,
Tim Allen
,
Tom Hanks
,
Tony Hale
15 komentar
Toy Story 4 menunjukkan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di
luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri
mana mampu melakukan itu sampai judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan
mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai karakter yang hidup,
baik di dunianya maupun hati penonton.
Adegan pembukanya menjawab
pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3:
Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan
lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan
kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw)
yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.
Kehidupan mereka sejatinya bahagia,
tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap
Bonnie tak terkikis, sebab membuat si gadis cilik bahagia adalah tujuan hidup
utamanya. Sehingga saat Bonnie membuat mainan bernama Forky (Tony Hale) dari
garpu bekas di tempat sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody memutuskan
untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.
Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih
kesulitan beradaptasi dengan identitas baru sebagai mainan—kabur, Woody
bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui
sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menyeramkan
beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, sampai Bo Peep yang kini
hidup bebas di dunia luar.
Reuni Woody-Bo memperlihatkan bahwa
dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal
menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal,
hanya dua mainan yang berdiri bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata
berbinar, saling bertukar rasa setelah terpisah selama hampir satu dekade.
Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi
komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil
lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua
latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya.
Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi
detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.
Anda akan dimaafkan bila sesekali
lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan
para mainan bak miniatur dunia kita. Ambil contoh ketika Woody dan Bo berjalan
di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya membuat mereka
berdua nampak seperti sepasang manusia yang melintasi gang gelap nan sempit di
satu sisi kota.
Ditulis naskahnya oleh Andrew
Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory,
Wall-E) dan Stephany Folsom, sebenarnya plot Toy Story 4 sebatas pengulangan deretan cerita sebelumnya, yakni
kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan
mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, karena plot
generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.
Humornya, yang masih berbasis ragam
keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan
tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke tempat
sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan tentang “menghargai
diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang maut asal Kanadia, sampai
Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam
kejenakaan banter khas keduanya) yang
gemar mencetuskan imajinasi absurd.
Gabby Gabby pun bukan antagonis
dangkal berkat keberadaan alasan kuat atas segala tindakannya, meniupkan
kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif,
kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di
tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran karakter
lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti
dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa
interaksi sederhana yang memancing nostalgia.
Woody di sini layaknya banyak dari
kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya
dalam wujud cinta. Cinta adalah tujuan paling murni, dan sewaktu akhirnya Woody
menyadari itu, Toy Story 4 menggiring
kita menuju konklusi emosional yang membuat petualangan si koboi jadi lebih
bermakna.
DOREMI & YOU (2019)
Rasyidharry
Juni 21, 2019
Adyla Rafa Naura Ayu
,
Andi Rianto
,
BW Purba Negara
,
Devano Danendra
,
Ence Bagus
,
Fatih Unru
,
Indonesian Film
,
Jujur Prananto
,
Lumayan
,
Mila Rosinta
,
Musical
,
Nashwa Zahira
,
REVIEW
,
Teuku Rifnu Wikana
,
Toran Waibro
2 komentar
Siapa sangka sineas di balik arthouse tentang perjalanan wanita lanjut usia mencari makam sang suami berjudul Ziarah (2016), berujung menghasilkan salah satu film anak Indonesia
terbaik selama beberapa tahun terakhir, yang pula pantas disebut sebagai salah
satu musikal lokal modern paling meghibur. Doremi
& You ibarat ajang pembuktian versatilitas seorang BW Purbanegara.
Bagi saya, musikal yang baik adalah
pertemuan kreativitas dengan keindahan tak tergambarkan, yang mampu
menggerakkan rasa meski tanpa peristiwa penuh drama. Doremi & You menampilkan itu sedari momen pembuka tatkala para
tokoh utama bersatu dalam nomor musikal berlatar lingkungan sekolah.
Di situ, BW Purbanegara bukan sebatas
mengumpulkan sebanyak mungkin siswa untuk menari di lapangan sekolah, melainkan
menempatkan mereka di berbagai titik peristiwa, yang masing-masing menyimpan
elemen unik. Dipandu koreografi sarat kreativitas garapan Mila Rosinta (Another Trip to the Moon), kita
berkesempatan menyaksikan siswa-siswi menari dalam sapuan cat tubuh warna-warni
atau menggunakan peralatan pramuka sebagai properti. Sungguh momen pembuka yang
efektif merebut atensi.
Naskah hasil tulisan BW bersama
Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?,
Pendekar Tongkat Emas, Petualangan Menangkap Petir) sejatinya tidak
melakukan banyak modifikasi formula, yang mana bukan kewajiban dalam tontonan
ringan bagi anak semacam ini. Kisahnya mengangkat tentang persahabatan empat
murid SMP: Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Anisa (Nashwa Zahira), Markus (Toran
Waibro) dari ekstrakulikuler paduan suara, dan Inung (Fatih Unru) dari
ekstrakulikuler teater.
Suatu sore, akibat kecerobohan di
tengah perjalanan sepulang sekolah, mereka menghilangkan uang iuran jaket tim
paduan suara sebesar tiga juta rupiah. Demi menggantinya, mereka memutuskan
mengikuti Doremi & You, sebuah lomba tarik suara yang menjanjikan uang
sebesar 10 juta rupiah bagi sang pemenang. Anda mungkin merasa kejadian
tersebut bukan akhir dunia, tapi ingat, keempatnya adalah bocah SMP. Bayangkan
anda berada di usia mereka (ditambah bukan berasal dari keluarga kaya), masalah
serupa pasti bakal memberi tekanan luar biasa.
Tapi karena semakin dekatnya UAS,
si guru paduan suara (Ence Bagus) melarang adanya kegiatan ekstrakulikuler dan menolak
permintaan menjadi pelatih. Alhasi, Putri meminta pertolongan Reno (Devano
Danendra), siswa SMA yang berposisi sebagai asisten pelatih paduan suara.
Sebuah ide yang terbentur ketidaksukaan teman-teman Putri terhadap Reno, yang
menganggapnya dingin, galak, menyebalkan, dan pretensius. Reno sendiri awalnya
menolak tawaran itu.
Masalah belum berhenti. Karena
kegagalan di UAS berpotensi membuat beasiswanya dicabut, Anisa dilarang turut
serta oleh sang paman (Teuku Rifnu Wikana) yang keras, sementara Markus
mendapati bisnis jasa badut ayahnya mulai sekarat. Naskahnya cukup rapi guna
memposisikan konflik-konflik itu selaku pondasi penokohan ketimbang distraksi.
Kehadirannya justru memperkaya cerita alih-alih menghilangkan fokus.
Adegan pembuka beriringkan lagu Hari ini Indah tetap jadi favorit saya,
namun bukan berarti momen lainnya lemah. Harmoni
melahirkan musikal berskala lebih kecil tapi dengan romantisme besar,
sedangkan usaha melagukan beberapa dialog, walau tak selalu sukses (sesekali
berujung cringey), mayoritas sukses
menambah dinamika menyenangkan dalam interaksi karakternya, termasuk menghadirkan
tawa.
Klimaks berlatar kompetisi Doremi
& You (didahului twist yang
sebenarnya kurang substansial) menampilkan kepiawaian Andi Rianto (30 Hari Mencari Cinta, Arisan!, Kartini)
memadukan ragam musik nusantara. Keragaman memang salah satu pesan utama
filmnya, yang menekankan “unity in
diversity”. Keempat protagonis memiliki latar kultural berbeda, pun perspektif
Doremi & You tentang musik
mengandung pesan serupa, yang diwakili sempilan obrolan antara Reno dan Putri
mengenai perbedaan cara memakan bubur ayam.
Penonton anak bisa memetik pesan
berharga dari hal-hal tersebut, di samping selipan pernak-pernik lain, misalnya
pelajaran perihal mencari informasi via membaca buku yang kini mudah
dilakukan berkat fasilitas daring. Anak-anak pun berkesempatan menikmati
jajaran idola seusia unjuk gigi memamerkan talenta. Toran menggelitik, Nashwa tampil
baik melakoni mome dramatik, Fatih penuh warna seperti biasa, dan Naura “membabat
habis” seluruh nomor musikal berbekal aura bintang tak terbantahkan. Sebagai
penampil yang (sedikit) lebih dewasa, Devano membuktikan bahwa ia jauh lebih hidup
ketimbang saat dipaksa memerankan remaja (sok) keren di Melodylan.
Kelemahan muncul sewaktu BW menempatkan terlalu banyak shot tak perlu, yang bakal lebih berguna dalam suguhan “arus
samping” sebagai media membangun atmosfer dan kesadaran penonton akan latar sebuah
peristiwa, tapi justru melemahkan kelincahan gerak tontonan ringan macam Doremi & You. Tapi itu bisa
dipahami. Film ini merupakan transisi bagi sang sutradara, dan sungguh transisi
yang memuaskan.
MEN IN BLACK: INTERNATIONAL (2019)
Rasyidharry
Juni 20, 2019
Action
,
Art Marcum
,
Chris Hemsworth
,
Comedy
,
Emma Thompson
,
F. Gary Gray
,
Kurang
,
Liam Neeson
,
Matt Holloway
,
REVIEW
,
Science-Fiction
,
Tessa Thompson
8 komentar
Men in Black pertama sanggup menyihir lewat keberhasilannya
menghidupkan dunia unik milik komik The
Men in Black karya Lowell Cunningham, di mana manusia dan alien secara
diam-diam hidup berdampingan. Tapi tak ubahnya pertunjukan sulap, daya magis
makin menipis seiring terjadinya pengulangan minim (atau malah nihil)
modifikasi. Mungkin masih menyenangkan, tapi dampaknya melemah karena penonton
sudah memahami segala triknya.
Kurang lebih begitulah Men in Black: International, yang jadi
usaha mengenalkan seri ini ke khalayak modern. Pun filmnya mencoba tampil
relevan dengan menghadirkan protagonis wanita dalam diri Molly alias Agen M
(Tessa Thompson), membuatnya mempertanyakan pemakaian kata “Men” pada nama organisasi meski ada
banyak anggota wanita (dilakukan pula oleh rilisan minggu lalu, Dark Phoenix), termasuk sang pimpinan,
Agent O (Emma Thompson).
Tapi naskah buatan duo Art Marcum
dan Matt Holloway (Iron Man,
Transformers: The Last Knight) justru melupakan satu poin penting: plot
solid. Urgensi Men in Black:
International akan kualitas plot melebihi pendahulunya, sebab seperti saya
singgung di atas, penonton sudah memahami segala triknya. Satu-satunya bagian
menarik milik plotnya adalah ketika suatu kejutan klise nan predictable di babak ketiga, menggiring
kita menuju kejutan lain yang lebih menarik.
Alkisah, Molly mengabdikan seluruh
hidupnya mencari keberadaan MIB setelah mengintip aksi para pria berstelan
hitam tersebut sewaktu kecil. Molly terobsesi, ingin bergabung demi memenuhi
hasratnya mempelajari rahasia-rahasia semesta. Singkat cerita (tentu saja) ia sukses menemukan MIB, diterima sebagai
agen, mendapat kode nama “Agen M”, dan mesti menjalani masa percobaan di London
di bawah pimpinan Agen High T (Liam Neeson).
Berharap bisa segera membuktikan
diri, M nekat menawarkan bantuan kepada H (Chris Hemsworth), agen ternama yang
dikenal lewat aksi heroiknya menyelamatkan dunia bersama High T, sebelum
reputasinya tercoreng sebagai pembuat onar. Misi keduanya sederhana, yakni
menemani Vungus the Ugly (Kayvan Novak), si alien keluarga kerajaan, selama
kunjungannya ke Bumi. Misi tersebut berubah rumit kala Vungus tewas di tangan
dua alien berdesain keren (tubuh mereka bagai jendela luar angkasa,
mengingatkan saya pada karakter Eternity dari komik Marvel) dengan kemampuan
mematikan sekaligus jago menari (keduanya diperankan Les Twins, duo
penari/koreografer asal Prancis).
Sepanjang investigasi M dan H, kita
diajak melihat elemen-elemen khas Men in
Black, dari alien-alien yang membaur bersama manusia, hingga beberapa
teknologi keren seperti kereta yang bisa melesat ribuan kilometer hanya dalam
hitungan detik, atau mobil penuh amunisi canggih. Apakah semua itu mencengangkan?
Tidak lagi. Apakah menyenangkan? Lumayan.
Apalagi sutradara F. Gary Gray masih
cakap mengkreasi adegan aksi bertenaga sebagaimana ia pamerkan lewat judul-judul
seperti The Italian Job, Law Abiding
Citizen, Straight Outta Compton, dan pastinya The Fate of the Furious. Pengadeganan sang sutradara cukup
menghibur, selama aksinya melibatkan ragam teknologi tinggi kepunyaan para
agen. Tanpa itu, MIB: International sekadar
tontonan medioker yang memperlihatkan karakternya berlarian di berbagai negara,
karena, well, film ini mengandung
kata “International” dalam judulnya.
Terkait hiburan, naskahnya berusaha
keras menjadi jenaka melalui lemparan celetukan-celetukan, yang sayangnya tak
pernah hadir sesegar harapan kedua penulis. Beruntung, ikatan kuat di antara Tessa
Thompson dan Chris Hemsworth cukup sering memperkaya warna humornya. Saya pun
lega ketika hubungan M dan H urung terjerumus ke dalam romantika dangkal.
Terdapat adegan saat para protagonis
kita memakai Neuralyzer untuk menghapus memori puluhan warga yang menyaksikan
aksi heboh mereka (anehnya, mereka langsung lanjut beraksi di depan lebih
banyak warga tanpa “menetralisir” ingatan orang-orang itu, yang mana cukup
merusak esensi bangunan dunia Men in
Black). Sungguh malang, padahal pemandangan tersebut akan jadi kenangan
yang seru bagi warga. Tapi Men in Black:
International tidak perlu menggunakan Neuralyzer bagi penonton, sebab
keseruan yang ditawarkan amat mudah dilupakan. Anda mungkin (sedikit)
bersenang-senang di dalam bioskop, namun segalanya bakal lenyap dari ingatan
begitu melangkahkan kaki keluar.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)






















8 komentar :
Comment Page:Posting Komentar