ANNA (2019)

8 komentar
Banyak pihak menyebut Luc Besson sudah habis, di mana mayoritas mengkritisi judul-judul terbarunya seperti Lucy dan Valerian and the City of a Thousand Planets sebagai tontonan popcorn bodoh. Mungkin benar, tapi sejak kapan karya Besson jadi destinasi pencari film berintelegensi tinggi? Mengkreasi hiburan ringan bertabur gimmick merupakan keahliannya, tidak terkecuali Anna yang kembali menampilkan protagonis femme fatale kesukaan sang sutradara.

Gimmick utama Anna adalah cara bertutur maju-mundur yang Besson terapkan guna membangun alur penuh tikungan, seolah mencerminkan dunia spionase yang sarat rahasia, pengkhianatan, dan kejutan. Kita mengenal Anna (Sasha Luss) sebagai penjual boneka Matryoshka di Moskow, sampai seorang pencari bakat merekrutnya untuk menjadi model di Paris. Beberapa bulan berselang, karir Anna melesat pesat.

Terlihat seperti cerita indah dari negeri dongeng, tapi fakta tidak selalu sama dengan apa yang terlihat. Begitulah prinsip film ini. Kita pun mengikuti perjalanan Anna dari pasar tradisional di Moskow, menggeluti dunia model di Paris, terlibat praktek spionase bersama KGB di bawah pengawasan Olga (Helen Mirren) dan Alex (Luke Evans), hingga berhadapan dengan tim operasi CIA yang dipimpin Leonard (Cillian Murphy).

Anna menggiring penonton dalam petualangan berisi kejutan-kejutan yang memiliki bentuk serta timing tidak terduga. Kecuali di klimaks, sulit menerka kapan Luc Besson sedang mempermainkan ekspektasi kita dan dalam bentuk apa. Sebab kisahnya sendiri tidak berputar di sekitar satu skema besar, entah soal menyelamatkan dunia, usaha pembunuhan, atau misi-misi lain, yang mana lebih gampang ditebak polanya.

Cerita milik Anna sejatinya sederhana, yakni mengenai perjuangan sesosok wanita mengejar kebebasan sembari merangkak keluar dari lubang kehidupan yang hina. Pasca tuduhan pelecehan seksual yang menimpanya (walau pengadilan tak menemukan cukup bukti), sentuhan feminisme khas Besson mungkin terasa hambar, namun sulit disangkal, ia cukup ahli menyampaikan tema itu, termasuk di Anna, yang mempunyai konklusi memuaskan tatkala karakter wanitanya berhasil mempermainkan para lelaki yang gemar mempermainkan janji.

Besson menuliskan kisah character-based yang tak mengedepankan pernak-pernik plot, membuat filmnya mengalir bak buku harian seorang mata-mata. Anna bertemu satu demi satu figur yang awalnya dingin nan misterius, lalu mulai mengenal lebih jauh bahkan mengunjungi ruang personal masing-masing, sehingga di mata penonton pelan-pelan sisi kemanusiaan mereka mulai nampak.

Andai saja Anna dirilis dua dekade lalu, niscaya film ini bakal menandai lahirnya calon megabintang bernama Sasha Luss. Mengawai debut layar lebarnya di Valerian and the City of a Thousand Planets, Luss adalah perwujudan sempurna dari femme fatale seksi yang sekilas berdarah dingin, tapi sebenarnya berperasaan. Hanya saja, ia memilih menyembunyikan perasaan itu akibat sudah terlalu sering hatinya teriris-iris.  

Luss pun meyakinkan kala dituntut melakoni adegan aksi. Pesonanya memancar kuat di tengah gelaran baku hantam beradrenalin tinggi dengan balutan koreografi kelas satu, yang kembali menegaskan bahwa perihal kemampuan menggarap hiburan, Luc Besson belum habis. Studi karakter yang ia lakukan mungkin tak seutuhnya berhasil, sebab ketika deretan gimmick absen dari layar, kisahnya sedikit menjemukan. Tapi sewaktu publik memuja-muji seri John Wick berkat aksi bertenaga miliknya, Anna menunjukkan jika Luc Besson pantas diberi kredit lebih.

8 komentar :

Comment Page:

SABYAN MENJEMPUT MIMPI (2019)

12 komentar
Saya tidak tahu siapa Sabyan Gambus sebelum mendengar kabar perilisan film ini. Penasaran, saya pun membuka halaman YouTube mereka dan terkejut melihat jumlah subscribers sebesar 5,6 juta. Semakin terkejut saat mendapati video Ya Habibal Qolbi telah ditonton 305 juta kali. Sebagai perbandingan, video klip Gee milik Girls’ Generation yang legendaris itu “cuma” punya 232 juta penonton. A-Pop (Arab Pop) is more popular than K-Pop I guess?

Statistik di atas mendorong saya untuk menonton Sabyan Menjemput Mimpi, yang rupanya menampilkan para personel Sabyan memerankan diri mereka sendiri. Kisah dibuka kala mereka tengah gugup sebelum menjalani proses pengambilan gambar video klip bersama musisi luar negeri. Tiba-tiba, tanpa diduga tanpa dinyana, obrolan soal kegugupan berbelok ke arah mengenang masa lalu, dan filmnya pun mendadak memasuki fase flashback.

Apabila hendak menonton film ini, anda mesti mempersiapkan diri dengan gaya penulisan Novia Faizal (Something in Between, Calon Bini) yang menerapkan penuturan maju-mundur tanpa esensi pasti. Tanpa harus kembali ke masa kini tiap beberapa waktu sekali pun, alurnya bisa berjalan. Bahkan lebih mulus, karena peristiwa masa kini seringkali miskin korelasi dengan adegan masa lalu, atau hanya bertindak selaku rekap.

Melalui flashback, kita melihat perjalanan Sabyan, khususnya Nissa, yang hidup sederhana di rumah susun bersama kedua orang tua (Diky Chandra dan Cici Tegal) dan kakaknya, Iin (Aquino Umar). Ada kesemarakan di sana. Ketimbang menggambarkan kemiskinan, Sabyan Menjemput Mimpi menjadikan komplek rumah susun sebagai ruang penuh interaksi hangat antara penghuni.

Tapi serupa kondisi rumah susun, film ini terasa penuh sesak akibat subplot dengan dosis berlebih. Selain perjuangan Sabyan, ada cinta monyet antara Nissa dengan Dimas (Shandy William), kesulitan ekonomi keluarga Nissa, kerinduan anak kecil dari rumah sebelah bernama Nurul (Kanaya Gleadys) terhadap sang ibu, hingga perjalanan Bilal (Chandra Wahyu Aji) si penggemar Sabyan yang memiliki cacat fisik untuk menonton konser idolanya.

Begitu banyak cabang, tidak ada satu pun memperoleh penebusan emosi setimpal. Romansanya diakhiri kesan bahwa Dimas adalah pria manja sekaligus brengsek yang mengeluh saat wanita pujaannya sibuk meniti karir, lalu dengan mudah memalingkan hati tak lama setelah cintanya kandas. Seolah ia berprinsip, “Ah, wanita mana pun boleh, daripada jomblo”.

Konklusi kisah Bilal tidak kalah mengecewakan. Filmnya membangun momentum terkait pertemuannya—yang datang ke Garut bersama Ndut Kece (Meni Agus Nori) si penggemar Sabyan nomor satu—dengan Sabyan, hanya untuk menutupnya lewat adegan konser medioker. Kenapa pula Alim Ishaq, yang menjalani debut penyutradaraannya di sini, menutup momen tersebut dengan gerak lambat dramatis sambil menyoroti wajah Ndut Kece, seolah ia akan meninggal dunia?

Cara Alim Ishaq menangani adegan musikal pun sangat lemah. Sabyan Menjemput Mimpi dikemas mengikuti pakem Bohemian Rhapsody, alias bagai kompilasi video klip. Tapi, walau bermodalkan biaya jauh lebih besar, versi layar lebarnya memiliki kualitas tata artistik serta camerawork setara—bahkan di beberapa bagian lebih buruk—ketimbang video klip yang diunggah di kanal YouTube Sabyan Gambus. Murahan dan miskin kreativitas.

Beruntung film ini punya dua elemen, yaitu jajaran pemain mumpuni dan suara indah Nissa, yang di saat bersamaan mampu mengejutkan lewat penampilan natural yang acap kali menggelitik. Nissa jelas punya potensi. Saya bisa membayangkannya mencuri perhatian di film-film komedi. Sedangkan Diky Chandra tidak kalah luwes menyeimbangkan humor dengan tuturan dramatik.

Kolaborasi kedua elemen di atas bahkan sempat memproduksi satu adegan emosional. Diceritakan, di seberang rumah Nissa sekeluarga tinggal pria bernama Saman (Ade Firman Hakim) bersama puterinya, Nurul, juga Marno, sang ayah (Fuad Idris), yang tidak lagi bisa melihat. Suatu malam, Marno mendengar lagu Allahumma Labbaik milik Sabyan diputar di radio. Didorong keinginan besar mengunjungi tanah suci, tangis Marno pun pecah. Biasanya saya membenci adegan demikian, tapi karena akting heartbreaking dari Fuad Idris dan Ade Firman Hakim, ditambah lantunan suara indah Nissa, hati saya tersentuh.

Benar bahwa Sabyan Menjemput Mimpi mampu menghibur di beberapa titik serta memiliki hati. Saya sempat menimbang-nimbang untuk memberikan penilaian positif terhadap film ini, hingga adegan penutupnya tiba. Sebuah adegan yang tidak sepantasnya disertakan, dan lebih pantas muncul di halaman media sosial sebagai materi promosi atau sambutan sebelum gala premiere. That’s “the final nail in the coffin” for this movie.

12 komentar :

Comment Page:

YESTERDAY (2019)

12 komentar
Terkadang saya duduk sendirian di tengah malam dengan earphone terpasang sambil mendengarkan Live Forever atau Cigarettes and Alcohol, berkhayal, “Bagaimana kalau saya adalah Liam Gallagher?”. Itulah kenapa, meski mengusung konsep fantasi, karya teranyar Danny Boyle (Trainspotting, Slumdog Millionaire, 127 Hourse) ini terasa dekat. It’s relatable, at least for my imagination, cause I long for yesterday. 

Apa jadinya bila The Beatles hilang dari eksistensi? Mungkin sebagian besar menganggapnya mengerikan, namun bagi Jack Malik (Himesth Patel), itu justru anugerah. Jack menghabiskan 10 tahun menulis serta menyanyikan lagunya sendiri dari panggung ke panggung, bar ke bar, sayangnya kesuksesan tak kunjung datang.

Dia siap menyerah andai bukan karena dukungan Ellie (Lily James), sahabat lama, manajer, sekaligus cintanya. Tapi Jack enggan mengutarakan isi hatinya, tanpa tahu bahwa Ellie menyimpan perasaan serupa. Sampai suatu malam, kegelapan total menimpa seluruh dunia selama 12 detik. Lalu dalam sebuah adegan bernuansa agak mistis yang dibangun berdasarkan lagu A Day in the Life (juga merupakan lagu The Beatles paling mistis), Jack tertabrak bus.

Dia terbangun, kehilangan dua gigi, namun mendapatkan hal yang jauh lebih besar. Jack menjadi satu-satunya orang yang mengetahui The Beatles. Bersama beberapa hal lain, kuartet legendaris itu hilang dari sejarah. Jack pun mendapat ide untuk mengaku sebagai pencipta lagu-lagu mereka. Alhasil, tidak butuh lama hingga ia ditasbihkan selaku musisi jenius.

Tersimpan setumpuk opsi eksplorasi dalam konsep “what if” yang diusung, dan sejatinya naskah buatan Richard Curtis (Four Weddings and a Funeral, Notting Hill, Love Actually) bekerja dengan baik mempresentasikan situasi menghibur kala Jack menipu orang-orang, dari keluarganya sampai para figur industri musik termasuk Ed Sheeran dan sang manajer, Debra Hammer (diperankan Kate McKinnon yang piawai mencampurkan sisi kejam dan menggelitik).

Biarpun menyenangkan disimak, sukar menampik pemikiran jika Yesterday termasuk gagal memenuhi potensinya. Mendengar premisnya saja, imajinasi saya bergerak liar memikirkan bagaimana film ini memaparkan proses kreatif Jack. Tapi selain sekuen sambil lalu ketika ia mengunjungi lokasi-lokasi di Liverpool yang berperan akan terciptanya lagu The Beatles, tidak banyak yang Yesterday tawarkan.

Pun Curtis bagai enggan memberi kesempatan lebih pada Jack guna menikmati kondisi misterius itu. Dia terus menghadapi penderitaan, kesulitan, bahkan saat akhirnya sukses mendobrak dunia industri, ia langsung tersandung masalah terkait kebebasan berkarya yang dilucuti. Ketimbang artis yang bebas berekspresi, Jack adalah produk perusahaan. Terkait persoalan ini, Yesterday hadir terlampau mendekati realita.

Beruntung, sewaktu naskahnya sedikit mengecewakan, penyutradaraan Danny Boyle bersinar, membuktikan kecintaan sekaligus pemahaman tingginya perihal jiwa dalam karya-karya “The Fab Four”. Lagu pertama The Beatles yang Jack lantunkan adalah Yesterday, dan momen itu terjadi di tengah atmosfer magis, di mana semesta bagai tengah menyambut turunnya messiah dunia musik.

Demikian pula tatkala Ob-La-Di, Ob-La-Da diperdengarkan, yang sempurna memotret kebahagiaan murni nan sederhana lagu gubahan Lennon-McCartney tersebut. Penyutradaraan Boyle (ditambah beberapa referensi plus kejutan) menjadikan Yesterday sebuah penghormatan layak, walau sebenarnya film ini tidak banyak memberi penonton kesempatan berkaraoke, karena mayoritas lagu cuma diputar sejenak.

Berkat performa kedua penampil utama, Yesterday turut menyuguhkan komedi-romantis manis khas British (baca: Richard Curtis). Himesh Patel menghidupkan protagonis likeable dan relatable yang terjebak dalam gesekan dilematis antara ambisi personal dan moral, antara cita-cita dan cinta. Sementara Lily James seperti biasa mudah merebut hati melalui pesona naturalnya. She’s so lovable, she’ll makes you believe that all you need is love.

12 komentar :

Comment Page:

KOKI-KOKI CILIK 2 (2019)

2 komentar
Dua minggu terakhir merupakan waktu yang mengasyikkan bagi film anak. Setelah Doremi & You menebar kebahagiaan lewat musikal, kini giliran Koki-Koki Cilik 2 menyuguhkan sekuel sedap. Walau kali ini aktivitas memasak bagai hanya hidangan pendamping, drama keluarga yang melibatkan jajaran penampil serta karakter baru, bertindak selaku menu utama yang berhasil meluluhkan hati.

Bima (Farras Fatik) dan teman-temannya kembali berkumpul, berencana mengadakan reuni di Cooking Camp dua tahun selepas peristiwa film pertama, hanya untuk menemukan bahwa tempat itu sudah ditutup setelah komentar miring dari Evan (Christian Sugiono), seorang mantan chef sekaligus pemilik restoran ternama, mengakibatkan hilangnya kepercayaan publik terhadap Cooking Camp yang sekarang dikelola Chef Grant (Ringgo Agus Rahman).

Cukup aneh ketika anak-anak tidak tahu perihal penutupan lokasi seterkenal Cooking Camp, yang juga mempunyai tempat di hati mereka. Setidaknya para orang tua pasti mendengar kabar itu. Alhasil, berangkat dengan penuh suka cita, mereka disambut kamp kosong dan Chef Grant—dengan jenggot palsu jelek—yang kehilangan semangatnya.

Di tengah situasi tersebut, datanglah Adit (M Adhiyat) bersama tantenya, Adel (Kimberly Ryder). Adit boleh berusia paling muda, tapi kemampuan memasaknya luar biasa. Sayang, kesan pertamanya di mata anak-anak Cooking Camp kurang baik. Bima dan teman-teman menganggap Adit arogan.....sampai masakan si bocah menyentuh lidah.

Terpukau oleh masakannya, Adit pun diajak turut bergabung dalam usaha food truck yang dirintis guna membangkitkan Cooking Camp. Dari situlah pelan-pelan Adit merasa dicintai, suatu hal yang jarang ia temukan, mengingat ia senantiasa jadi korban perundungan di sekolah, pun kurang dekat dengan sang ayah.

Paruh awal Koki-Koki Cilik 2 sebenarnya tidak berjalan mulus. Perubahan hati dan sikap Adit terjadi begitu cepat, plus naskah buatan Vera Varidia (Me vs Mami, Surat Cinta untuk Kartini, Koki-Koki Cilik) terlalu banyak menebar konflik. Tentu di saat anak-anak membuat bisnis makanan bersama, masalah bakal kerap terjadi, namun bukan berarti film ini mesti menyediakan gesekan dan/atau pertengkaran baru tiap beberapa menit.

Tapi setelah drama utamanya mengambil alih, Koki-Koki Cilik 2 mulai menemukan pijakan, bahkan membuat saya terenyuh oleh tuturannya. Ada satu titik balik khusus yang amat berkesan, yakni tatkala Adit kehilangan kontrol emosi akibat sikap salah satu pengunjung food truck, dan Adel berusaha menenangkan sang keponakan dengan berkata, “Adit anak baik”.

Terasa emosional  berkat aura keibuan hangat dari Kimberly ditambah bagaimana adegan tersebut memotret kasih sayang melalui kata-kata sederhana. Makin bermakna setelah latar belakang Adit digali lebih jauh, yang juga diikuti dua kejutan. Kejutan pertama mudah diprediksi, sementara yang kedua, biarpun mengejutkan, agak bermasalah karena melibatkan insiden masa lalu, yang secara logika, mustahil dilupakan karakternya. Di luar masalah itu, keberadaannya efekif menambah bobot rasa. Salah satunya berkat penampilan paling solid sepanjang karir Christian Sugiono, juga M. Adhiyat yang sekali lagi membuktikan diri berpotensi menjadi aktor dengan sensibilitas tinggi di masa depan.

Mengedepankan Adit, porsi Bima pun berkurang jauh, yang mana patut disayangkan setelah kita melalui banyak hal bersamanya di film pertama. Tapi paling tidak, Koki-Koki Cilik 2 mampu membayarnya lunas dengan menciptakan ikatan kuat di antara para bocah. Teramat kuat, air mata bisa saja menetes sewaktu melihat mereka bicara hati ke hati, berpelukan, kemudian melakukan “ritual transfer energi”.

Terselip pula pesan anti-bullying selaku bumbu penyedap, yang walau takarannya minim, tetap meninggalkan dampak besar. Orang tua akan memperoleh materi penting untuk diajarkan, yaitu tentang efek perundungan yang masih bisa, atau bahkan baru dirasakan jauh di masa depan.

Mengambil alih tugas penyutradaraan, Viva Westi (Rayya, Cahaya di Atas Cahaya, Jenderal Soedirman) mungkin belum sejago Ifa Isfansyah dalam mempresentasikan makanan guna membuatnya nampak sedap dengan mengeksplorasi detail tekstur. Tapi kekurangan itu juga dipengaruhi variasi masakan yang dipilih, juga fakta bahwa naskahnya tidak menyelipkan adegan memasak sebanyak film pertama. Lain cerita jika membahas penghantaran rasa, di mana sang sutradara menerapkan dramatisasi secukupnya sehingga sukses menjadikan Koki-Koki Cilik 2 sebuah film keluarga yang demikian hangat.

2 komentar :

Comment Page:

ANNABELLE COMES HOME (2019)

14 komentar
Kita sudah melihat asal-usul boneka Annabelle di film pertama yang hancur lebur, lalu mempelajari asal-usul dari asal-usul tersebut melalui keseruan Anabelle: Creation. Masih adakah cerita tersisa untuk dituturkan? Jawabannya “tidak”. Annabelle Comes Home yang membawa kita kembali ke zaman modern membuktikan itu, dengan nyaris sepenuhnya mengesampingkan plot demi deretan set pieces horor, yang untungnya, lumayan solid walau kurang berkesan.

“Annabelle adalah suar bagi para roh”, demikian ucap Lorraine (Vera Farmiga) kepada sang suami, Ed (Patrick Wilson), sebelum mengurung si boneka di balik kotak kaca suci, yang menandakan bahwa film ini mengambil latar segera setelah adegan pembuka The Conjuring. Kalimat Lorraine menjadi pondasi sutradara sekaligus penulis naskah Gary Dauberman dalam menggerakkan filmnya. Sehingga, begitu Annabelle keluar dari kurungannya, ada alasan mengapa barisan monster ikut berseliweran. Trik sederhana, dangkal, namun cukup cerdik.

Tapi siapa yang cukup bodoh untuk berinisiatif mengeluarkan Annabelle? Semua berawal saat Ed dan Lorraine mesti meninggalkan sang puteri, Judy (Mckenna Grace) di bawah pengawasan Mary Ellen (Madison Iseman), selama mereka bekerja di luar kota. Ikut hadir pula Daniela (Katie Sarife), sahabat Mary yang menyimpan penasaran besar terhadap aktivitas supernatural Keluarga Warren. Ya, Daniela bertanggung jawab atas terlepasnya Annabelle bersama lusinan roh jahat lain.

Tanpa menjustifikasi atau mengurangi tingkat kebodohannya, tindakan Daniela itu bisa dipahami ketika Dauberman menyelipkan latar belakang tragis pada karakternya, yang berpotensi menginjeksi elemen drama menyentuh andai Daniela diposisikan sebagai tokoh utama tunggal. Setidaknya berdua bersama Judy yang jadi korban perisakan karena profesi orang tuanya. Sementara Mary urung diberikan porsi memadai.

Begitu Annabelle menghilang dari kotaknya, demikian pula plot film ini. Set piece demi set piece saling menyusul atau hadir secara simultan dalam konsep yang mengingatkan kepada seri film Goosebumps ketika monster-monster “koleksi” tokoh utamanya kabur dan menebar teror (trivia: Madison Iseman bermain di Goosebumps 2: Haunted Halloween). Ada hantu pengantin yang mengayunkan pisau, iblis bertanduk, manusia serigala, hingga The Ferryman yang terinspirasi sosok Charon dari mitologi Yunani.

Memiliki desain menarik, saya yakin jajaran monster baru di atas bakal kesulitan menandingi status ikonik seniornya seperti Valak dan tentunya Annabelle. Penyebabnya sederhana, yaitu kemunculan ala kadarnya. Beberapa jump scare—yang muncul menyusul build up yang kerap terlampau lama—memang efektif meningkatkan denyut jantung sesaat, namun miskin kreativitas, sebatas menampakkan wajah hantu secara tiba-tiba.

Kurangnya kreativitas turut menciptakan antiklimaks di momen puncak tatkala Annabelle Comes Home gagal memanfaatkan banyaknya jumlah hantu. Bahkan teror si boneka terkutuk ditutup dengan cara yang malas. Tapi saya percaya Dauberman menyimpan banyak ide cemerlang (jangan lupa, dialah penulis Annabelle: Creation dan It). Terbukti, sewaktu dipaksa memutar otak lebih keras guna menampilkan teror tanpa penampakan, beberapa situasi menarik berhasil diproduksi, misalnya momen menegangkan yang melibatkan layar televisi.

Annabelle Comes Home tidak seseram, seseru, maupun selucu Creation, tapi memiliki paparan drama yang meski kecil, cukup baik perihal menggerakkan rasa. Berkat penokohan likeable ditambah penampilan solid khususnya dari Mckenna Grace, Katie Sarife, dan Vera Farmiga yang mumpuni menghantarkan emosi, kalimat-kalimat singkat (“Life goes on, somehow”, “He was the boyfriend”, etc.) bisa terkesan hangat, pedih, manis, pahit. Beraneka rasa.

14 komentar :

Comment Page:

KABIR SINGH (2019)

Tidak ada komentar
Kabir Singh, selaku remake film Telugu Arjun Reddy, bisa terbang tinggi sebagai kisah romansa epik (durasinya 172 menit). Penggambarannya akan penderitaan akibat patah hati amat menyakitkan dalam paparan dramatis yang tetap berpijak pada logika seputar psikis manusia. Sayang, kandungan misogini, khususnya pada satu jam pertama, luar biasa mengganggu.

Sandeep Vanga, penulis sekaligus sutradara sumber adaptasinya yang kali ini kembali mengemban peran serupa, bagai memfilmkan mimpi basah para pria. Tengok saja penokohan Kabir (Shahid Kapoor). Dia adalah pria tampan, eksplosif, dan memegang kontrol di kampus, di mana ia bebas berbuat apa pun sesuka hati. Tidak ada konsekuensi menanti Kabir. Banyak pria mengidamkan karakteristik di atas, menganggapnya sebagai lambang maskulinitas.

Ketika perhatiannya tertuju kepada mahasiswi baru bernama Preeti (Kiara Advani), Kabir langsung mengumumkan (baca: mengancam) mahasiswa lain agar menjauhi Preeti, sebab si gadis adalah miliknya, layaknya sebuah barang. Karakterisasi Preeti pun demikian, bak barang ketimbang orang. Dia pasif, submisif, mengikuti segala kemauan Kabir. Bahkan di paruh awal, suaranya nyaris tak terdengar.

Pada dasarnya, babak pertama sebatas sajian percintaan satu sisi, ketika Kabir berbuat semaunya dibarengi kepatuhan Preeti. Membosankan, problematik, pula jauh dari romantis. Tapi kita tahu “sesuatu” bakal menimpa keduanya, sebab cerita berlatar dunia perkuliahan tadi merupakan flashback. Pertama kali penonton bertemu sang protagonis, dia adalah ahli bedah alkoholik yang menjalani kehidupan self-destructive.

Butuh waktu sampai film ini menjelaskan “sesuatu” itu, namun beruntung, selepas kelulusan Kabir, filmnya pelan-pelan membaik. Saat itu, Kabir melanjutkan sekolah di kota berbeda, memaksanya dan Preeti menjalani hubungan jarak jauh. Mereka cuma bisa bertemu beberapa minggu sekali selama tiga tahun.

Kabir masih bermasalah mengatur amarah, namun setidaknya kini Preeti telah diberi kekuatan lebih. Dia tampar Kabir saat sang kekasih lepas kontrol. Walau secara keseluruhan masih memaparkan romansa head over heels, Sandeep mampu melahirkan beberapa momen romantis, termasuk montase manis untuk menggambarkan hubungan jarak jauh dua tokoh utama, sewaktu mereka silih berganti saling mengunjungi.

Visualnya turut berkontribusi positif berkat sinematografi solid garapan Ravi K. Chandran (Ghajini, My Name is Khan, Student of the Year 2) yang menjadi departemen teknis terbaik di film ini, ketika penyuntingannya acap kali terkesan jumpy, demikian pula tata suara yang sering memperdengarkan kemunculan musik dan/atau penambahan volume secara kasar dan tiba-tiba.

Kualitas Kabir Singh makin meningkat tatkala perpisahan Kabir dan Preeti terjadi, menggerakkan kisahnya ke arah tuturan soal post power syndrome. Di dunia nyata, Kabir bukanlah penguasa layaknya semasa mahasiswa. Ketidakmampuan mengontrol emosi berujung merenggut segalanya. Sekarang Kabir mesti menghadapi konsekuseni (konsep yang asing baginya), namun ia tetap bertingkah seperti dulu, yang berakhir memperburuk keadaan, menjatuhkannya ke jurang yang semakin dalam dan gelap.

Memang jejak “mimpi basah pria” miliknya masih tersisa, semisal saat Kabir berhasil merayu Jia (Nikita Dutta), seorang selebritis, untuk menjadi teman tidurnya, setelah memperlakukan wanita-wanita teman kencannya yang lain sebagai alat pelampiasan nafsu. Tapi di sisi lain, Kabir Singh juga merupakan potret tajam mengenai betapa destruktif dampak dari patah hati.

Sekilas terkesan trivial, tapi realitanya, kehilangan seseorang yang sungguh kita cintai memang bisa sebegitu menghancurkan. Dan dengan matanya, Shahid Kapoor berhasil menangkap kekacauan hati seorang pria yang terjebak derita dalam hidup penuh amarah, kesedihan, dan ketiadaan harapan. Kabir Singh ditutup oleh konklusi menyentuh yang bukan cuma membahas perihal cinta, pula keluarga. Di luar kepribadiannya yang bermasalah, Kabir tetap layak mendapatkan kebahagiaan pasca segala penderitaannya, dan film ini mampu meyakinkan bahwa cinta Kabir terhadap Preeti memang nyata.

Tidak ada komentar :

Comment Page:

MENDADAK KAYA (2019)

28 komentar
Kita semua punya kerabat atau teman yang berisik, sok asyik, banyak gaya, dan suka melucu walau tidak lucu. Alih-alih senang menghabiskan waktu bersamanya, kita justru terganggu, berharap waktu segera berlalu atau orang itu lenyap dari muka Bumi. Begitulah kesan yang diberikan Mendadak Kaya, sekuel dari DOA: Cari Jodoh yang mengadaptasi komik strip terbitan Poskota. Artinya, Anggy Umbara sukses menghasilkan dua installment berkualitas tiarap.

Tiga karakter utama kita masih sama. Doyok (Fedi Nuril) masih membujang, Otoy (Pandji Pragiwaksono) terus terlibat pertengkaran dengan sang istri, Eli (Nirina Zubir), sementara Ali Oncom (Dwi Sasono) tetap menghadapi jalan berbatu dalam memperjuangkan hubungannya dengan Yuli (Jihane Almira). Tentu saja ketiganya masih sama-sama miskin dan bergelimang hutang.

Ditulis naskahnya oleh Anggy Umbara bersama Iyam Renzia, Mendadak Kaya menghabiskan separuh awal durasi menuturkan usaha tiga tokoh utama mencari kerja. “Menuturkan” di sini bukan berarti bercerita secara layak, melainkan gabungan sketsa-sketsa konyol soal keseharian Doyok-Otoy-Ali Oncom di tempat kerja. Tidak ada cerita sungguhan, hanya pameran gaya Anggy (transisi animasi khasnya pun masih dipertahankan) yang daripada lucu, justru tampak makin murahan.

Saya paham bahwa kemasan murahannya, baik dari humor atau efek visual, adalah bentuk kesengajaan demi menyesuaikan target pasarnya, yakni pembaca Poskota yang biasanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Masalahnya, bukan cuma tidak lucu, gaya sok asyik Anggy tidak terasa sebagai usaha melucu. Bagian mana yang lucu dari kemunculan acak efek visual gelembung sabun sekelas video flash?

Apabila kita bedah satu per satu, sejatinya humor yang film ini tawarkan tidak buruk. Terkesan “murahan”, namun kekeliruan bukan terletak di situ, melainkan pada nihilnya kesadaran akan timing. Sekitar tiga atau empat titik memilikinya, tapi menilik kualitas penghantaran komedin secara menyeluruh, saya yakin itu sekadar kebetulan. Jam rusak saja masih bisa dua kali menunjukkan waktu yang benar.

Praktis, Mendadak Kaya amat bergantung kepada trio pemeran utama yang kembali berusaha semaksimal mungkin, khususnya Dwi Sasono, yang sempurna memerankan karakter komikal berkelakuan antik berfisik unik macam Ali Oncom.

Setelah menanti beberapa lama, akhirnya kita tiba pada titik di mana trio protagonisnya mendadak kaya, sesuatu yang dinanti-nanti karena itulah premis dasarnya, tapi justru dari sini Mendadak Kaya berubah dari komedi medioker menjadi komedi malas. Doyok, Otoy, dan Ali Oncom menghambur-hamburkan uang, membeli barang-barang mewah sambil bertingkah norak. Klise, tapi tak sampai menandingi kemalasan fase kala karakternya berlibur.

Berniat ke Disneyland, sebuah peristiwa bodoh justru membawa mereka berada di JungleLand. Berikutnya, Mendadak Kaya hanya menampilkan tiap-tiap tokoh menaiki wahana, diselingi humor ala kadarnya yang telah kita temui jutaan kali (Doyok, Otoy, dan Ali Oncom ketakutan menunggangi wahana lalu mual selepas melakukannya). Pun waktu dihabiskan terlalu lama, fase ini dapat menjadi sebuah episode vlog jalan-jalan di YouTube.

Bahkan vlog sepertinya masih lebih menghibur. Penataan kamera Edi Santoso (9 Naga, Susah Sinyal, DOA: Cari Jodoh) gagal mewakili keseruan aktivitas senang-senang di taman bermain. Dan tidak peduli dengan kalimat “Cintailah produk-produk Indonesia”, JungleLand bukanlah Disneyland. Tidak ada cukup kemeriahan, apalagi saat dibungkus sinematografi sekenanya.

28 komentar :

Comment Page:

PARASITE (2019)

54 komentar
Baik perihal cerita maupun gaya, melalui Parasite yang merupakan pemenang Palme d’Or  pertama asal Korea Selatan, Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder, Snowpiercer) telah melangkah ke teritori yang belum terjamah. Teritori ini begitu asing, hingga nyaris mustahil menerka arah guliran cerita menit demi menit serta cara penanganannya. Parasite adalah tragicomedy yang melukiskan betapa hidup memang setragis itu, selucu itu, seironis itu, seaneh itu, dan semengejutkan itu.
  
Sebelum special screening dimulai, penonton diberitahu pesan dari Bong, yang melarang kami membocorkan semua yang terjadi selepas sebuah peristiwa. Menghormati permintaan tersebut, saya hanya bisa menyebutka bahwa peristiwa itu hadir sekitar 15-20 menit pertama durasi. Artinya, Parasite telah menyiapkan kejutan sedari awal.

Serupa pemenang Palme d’Or tahun lalu, Shoplifters, film ini mengangkat kisah soal usaha keluarga kelas bawah bertahan hidup dengan menempuh jalur tidak jujur. Keluarga ini terdiri atas empat orang anggota: Ki-Taek (Song Kang-ho) si ayah, Chung Sook (Jang Hye-jin) si ibu, Ki-woo (Choi Woo-shik) si putera, dan Ki-jung (Park So-dam) si puteri. Mereka tinggal di kediaman semi-basement yang kumuh, menumpang WiFi dari cafe terdekat, merasa kesal kala hampir tiap malam seorang pria pemabuk mengencingi jedela rumah.

Kesempatan memperbaiki penghidupan datang saat Ki-woo mendapat tawaran sebagai tutor pengganti untuk puteri sebuah keluarga kaya. Dari situlah Ki-woo memperoleh akal bulus guna memakmurkan kehidupan keluarganya melalui rencana licik nan cerdik yang menjelaskan mengapa film ini mengusung judul “Parasite”.

Ditulis oleh Bong bersama asistennya saat menggarap Okja, Han Jin-won, naskahnya menuturkan cerita biasa mengenai jarak kelas ekonomi lewat cara tidak biasa. Baik si kaya atau si miskin bukan perlambang kebusukan manusia. Walau menggapai kesempatan mengeruk uang melalui tipu daya, setelahnya, mereka tetap sungguh-sungguh bekerja keras. Sedangkan si kaya bukanlah keluarga disfungsional.

Mengangkat permasalahan serius tidak serta menjadikan Parasite tontonan depresif. Serupa film-film Bong lain, humor tetap mendapat tempat. Bahkan saya percaya inilah film terlucu sang sutradara sejauh ini. Senjata utamanya adalah komedi situasi yang acap kali tak segan mendobrak batas absurditas dan dilengkapi kesempurnaan timing.

Humornya terus menerjang sementara Bong dengan mulus terus membawa filmnya berganti tone bahkan genre. Anda bakal dibuat tertawa, lalu sejurus kemudian ditikam oleh ironi, lalu menjelang akhir babak kedua dikejutkan oleh transformasi Parasite menjadi thriller yang efektif meramu ketegangan berkat kejelian Bong menggerakkan kamera, menyusun mise-en-scène plus timing, sebelum akhirnya bergerak menuju kegilaan berdarah pada klimaks. Bahkan, meski cuma beberapa detik, Parasite sempat menebarkan aroma horor supernatural.

Pun film ini amat memperhatikan build up. Setiap kejutan, setiap hasil dari rentetan peristiwa, tidak pernah muncul tiba-tiba. Penonton dibiarkan meresapi prosesnya, sehingga saat mencapai destinasi, timbul kepuasan yang mudah memancing teriakan juga tepuk tangan. Musik gubahan Jung Jae-il (Okja, Take Point) pun tidak kalah menonjol, membentangkan ragam bentuk dari nomor berbasis piano yanng menghantui (Opening) sampai orkestrasi megah (The Belt of Faith) yang menemani salah satu momen paling “WOW” milik Parasite, tatkala protagonis kita akhirnya berhasil menyukseskan misi mereka.

Sebagai aktor langganan sang sutradara (empat kali berkolaborasi termasuk di sini), Song Kang-ho menegaskan mengapa Bong menjadikannya pelakon favorit. Sebagaimana gaya Bong, Song mampu menebar ranjau komedi sembari diam-diam dan pelan-pelan memupuk tensi dramatis yang siap diletupkan saat dibutuhkan.

Bong Joon-ho ingin penontonnya mennyaksikan jarak kelas ekonomi secara nyata. Bahkan, secara terpisah, ia sempat menempatkan tokoh-tokohnya dalam dua aktivitas serupa namun terjadi pada dua tempat berlawanan (petunjuk: jendela). Poin getir yang ingin ia lontarkan adalah, apa pun kondisinya, biarpun sempat merasakan "kelas" masing-masing (si kaya merendahkan kelasnya, si miskin menikmati peningkatan kasta), si miskin tetaplah miskin, dan si kaya tetaplah kaya. Pasca hujan deras berujung luapan air bah melanda, si kaya bahagia karena cuaca menjadi segar, sedangkan si miskin semakin beraroma busuk.

54 komentar :

Comment Page:

TOY STORY 4 (2019)

15 komentar
Toy Story 4 menunjukkan bahwa meski pencapaian film ketiga ada di luar jangkauan, melanjutkan kisahnya secara natural bukanlah kemustahilan. Seri mana mampu melakukan itu sampai judul keempat? Bahkan ini merupakan installment yang melengkapi perjalanan mainan-mainan tercinta kita, menyempurnakan mereka sebagai karakter yang hidup, baik di dunianya maupun hati penonton.

Adegan pembukanya menjawab pertanyaan yang ditimbulkan Toy Story 3: Ke mana Bo Peep (Annie Potts)? Jawabannya sederhana. Seperti banyak mainan lain, ia berpindah pemilik 9 tahun lalu. Sedangkan kini, Woody (Tom Hanks) dan kawan-kawan melanjutkan hidup sebagai mainan milik Bonnie (Madeleine McGraw) yang tengah menanti masa orientasi taman kanak-kanak.

Kehidupan mereka sejatinya bahagia, tapi Woody mulai ditinggalkan. Walau jarang dimainkan, toh afeksi Woody terhadap Bonnie tak terkikis, sebab membuat si gadis cilik bahagia adalah tujuan hidup utamanya. Sehingga saat Bonnie membuat mainan bernama Forky (Tony Hale) dari garpu bekas di tempat sampah yang kemudian menjadi favoritnya, Woody memutuskan untuk menjaga Forky sebisa mungkin. Semua demi Bonnie.

Itu sebabnya, ketika Forky—yang masih kesulitan beradaptasi dengan identitas baru sebagai mainan—kabur, Woody bersedia mempertaruhkan nyawa guna membawanya pulang. Beberapa mainan ia temui sepanjang jalan, dari Gabby Gabby (Christina Hendricks) si boneka menyeramkan beserta para pasukannya yang mengingatkan kepada Slappy dari Goosebumps, sampai Bo Peep yang kini hidup bebas di dunia luar.

Reuni Woody-Bo memperlihatkan bahwa dalam debut penyutradaraannnya, Josh Cooley mewarisi kekuatan Pixar perihal menghantarkan emosi melalui penceritaan visual. Tidak perlu bahasa verbal, hanya dua mainan yang berdiri bersandingan sambil menebar senyum lebar dan mata berbinar, saling bertukar rasa setelah terpisah selama hampir satu dekade.

Bicara soal visual, Toy Story 4 punya salah satu animasi komputer paling memukau yang pernah saya saksikan. Babak keduanya mengambil lokasi toko benda antik, sebelum berpindah ke karnaval pada babak ketiga. Kedua latar tersebut bagai panggung unjuk gigi hasil kerja luar biasa tim animasinya. Saat karnavalnya mengandung keriuhan kaya warna, toko benda antik dipenuhi detail barang-barang dalam tiap sudut lemari.

Anda akan dimaafkan bila sesekali lupa sedang menonton animasi. Semua tampak nyata, mendukung pendekatan seri Toy Story yang memposisikan lingkungan para mainan bak miniatur dunia kita. Ambil contoh ketika Woody dan Bo berjalan di sela-sela lemari. Permainan bayangan dan detail dekorasinya membuat mereka berdua nampak seperti sepasang manusia yang melintasi gang gelap nan sempit di satu sisi kota.

Ditulis naskahnya oleh Andrew Stanton (trilogi Toy Story, Finding Dory, Wall-E) dan Stephany Folsom, sebenarnya plot Toy Story 4 sebatas pengulangan deretan cerita sebelumnya, yakni kenekatan Woody dan teman-teman menempuh misi berbahaya untuk menyelamatkan mainan lain. Begitulah kelemahan film ini, namun jangan khawatir, karena plot generik itu tertutupi kesenangan yang ditawarkan.

Humornya, yang masih berbasis ragam keunikan setumpuk karakter, tampil segar khususnya berkat pengenalan tokoh-tokoh baru, dari Forky dengan tendensi membuang diri sendiri ke tempat sampah (dipakai oleh film ini untuk mempresentasikan pesan tentang “menghargai diri sendiri”), Duke Caboom (Keanu Reeves) si penantang maut asal Kanadia, sampai Ducky dan Bunny (disuarakan Jordan Peele dan Keegan-Michael Key dalam kejenakaan banter khas keduanya) yang gemar mencetuskan imajinasi absurd.

Gabby Gabby pun bukan antagonis dangkal berkat keberadaan alasan kuat atas segala tindakannya, meniupkan kegetiran yang bakal memancing simpati alih-alih kebencian penonton. Dia naif, kesepian, memimpikan hal yang Woody miliki, baik secara fisik (sebuah benda di tubuhnya) atau spiritual (kasih sayang pemilik). Sementara jajaran karakter lamannya, walau kuantitas penampilannya cenderung minim, bukan berarti dilupakan, terlebih Woody dan Buzz Lightyear (Tim Allen) melalui beberapa interaksi sederhana yang memancing nostalgia.

Woody di sini layaknya banyak dari kita pernah alami, sedang tersesat, kebingungan menemukan tujuan, sebelum mendapatkannya dalam wujud cinta. Cinta adalah tujuan paling murni, dan sewaktu akhirnya Woody menyadari itu, Toy Story 4 menggiring kita menuju konklusi emosional yang membuat petualangan si koboi jadi lebih bermakna.

15 komentar :

Comment Page:

DOREMI & YOU (2019)

2 komentar
Siapa sangka sineas di balik arthouse tentang perjalanan wanita lanjut usia mencari makam sang suami berjudul Ziarah (2016), berujung menghasilkan salah satu film anak Indonesia terbaik selama beberapa tahun terakhir, yang pula pantas disebut sebagai salah satu musikal lokal modern paling meghibur. Doremi & You ibarat ajang pembuktian versatilitas seorang BW Purbanegara.

Bagi saya, musikal yang baik adalah pertemuan kreativitas dengan keindahan tak tergambarkan, yang mampu menggerakkan rasa meski tanpa peristiwa penuh drama. Doremi & You menampilkan itu sedari momen pembuka tatkala para tokoh utama bersatu dalam nomor musikal berlatar lingkungan sekolah.

Di situ, BW Purbanegara bukan sebatas mengumpulkan sebanyak mungkin siswa untuk menari di lapangan sekolah, melainkan menempatkan mereka di berbagai titik peristiwa, yang masing-masing menyimpan elemen unik. Dipandu koreografi sarat kreativitas garapan Mila Rosinta (Another Trip to the Moon), kita berkesempatan menyaksikan siswa-siswi menari dalam sapuan cat tubuh warna-warni atau menggunakan peralatan pramuka sebagai properti. Sungguh momen pembuka yang efektif merebut atensi.

Naskah hasil tulisan BW bersama Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?, Pendekar Tongkat Emas, Petualangan Menangkap Petir) sejatinya tidak melakukan banyak modifikasi formula, yang mana bukan kewajiban dalam tontonan ringan bagi anak semacam ini. Kisahnya mengangkat tentang persahabatan empat murid SMP: Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Anisa (Nashwa Zahira), Markus (Toran Waibro) dari ekstrakulikuler paduan suara, dan Inung (Fatih Unru) dari ekstrakulikuler teater.

Suatu sore, akibat kecerobohan di tengah perjalanan sepulang sekolah, mereka menghilangkan uang iuran jaket tim paduan suara sebesar tiga juta rupiah. Demi menggantinya, mereka memutuskan mengikuti Doremi & You, sebuah lomba tarik suara yang menjanjikan uang sebesar 10 juta rupiah bagi sang pemenang. Anda mungkin merasa kejadian tersebut bukan akhir dunia, tapi ingat, keempatnya adalah bocah SMP. Bayangkan anda berada di usia mereka (ditambah bukan berasal dari keluarga kaya), masalah serupa pasti bakal memberi tekanan luar biasa.

Tapi karena semakin dekatnya UAS, si guru paduan suara (Ence Bagus) melarang adanya kegiatan ekstrakulikuler dan menolak permintaan menjadi pelatih. Alhasi, Putri meminta pertolongan Reno (Devano Danendra), siswa SMA yang berposisi sebagai asisten pelatih paduan suara. Sebuah ide yang terbentur ketidaksukaan teman-teman Putri terhadap Reno, yang menganggapnya dingin, galak, menyebalkan, dan pretensius. Reno sendiri awalnya menolak tawaran itu.

Masalah belum berhenti. Karena kegagalan di UAS berpotensi membuat beasiswanya dicabut, Anisa dilarang turut serta oleh sang paman (Teuku Rifnu Wikana) yang keras, sementara Markus mendapati bisnis jasa badut ayahnya mulai sekarat. Naskahnya cukup rapi guna memposisikan konflik-konflik itu selaku pondasi penokohan ketimbang distraksi. Kehadirannya justru memperkaya cerita alih-alih menghilangkan fokus.

Adegan pembuka beriringkan lagu Hari ini Indah tetap jadi favorit saya, namun bukan berarti momen lainnya lemah. Harmoni melahirkan musikal berskala lebih kecil tapi dengan romantisme besar, sedangkan usaha melagukan beberapa dialog, walau tak selalu sukses (sesekali berujung cringey), mayoritas sukses menambah dinamika menyenangkan dalam interaksi karakternya, termasuk menghadirkan tawa.

Klimaks berlatar kompetisi Doremi & You (didahului twist yang sebenarnya kurang substansial) menampilkan kepiawaian Andi Rianto (30 Hari Mencari Cinta, Arisan!, Kartini) memadukan ragam musik nusantara. Keragaman memang salah satu pesan utama filmnya, yang menekankan “unity in diversity”. Keempat protagonis memiliki latar kultural berbeda, pun perspektif Doremi & You tentang musik mengandung pesan serupa, yang diwakili sempilan obrolan antara Reno dan Putri mengenai perbedaan cara memakan bubur ayam.

Penonton anak bisa memetik pesan berharga dari hal-hal tersebut, di samping selipan pernak-pernik lain, misalnya pelajaran perihal mencari informasi via membaca buku yang kini mudah dilakukan berkat fasilitas daring. Anak-anak pun berkesempatan menikmati jajaran idola seusia unjuk gigi memamerkan talenta. Toran menggelitik, Nashwa tampil baik melakoni mome dramatik, Fatih penuh warna seperti biasa, dan Naura “membabat habis” seluruh nomor musikal berbekal aura bintang tak terbantahkan. Sebagai penampil yang (sedikit) lebih dewasa, Devano membuktikan bahwa ia jauh lebih hidup ketimbang saat dipaksa memerankan remaja (sok) keren di Melodylan.

Kelemahan muncul sewaktu BW menempatkan terlalu banyak shot tak perlu, yang bakal lebih berguna dalam suguhan “arus samping” sebagai media membangun atmosfer dan kesadaran penonton akan latar sebuah peristiwa, tapi justru melemahkan kelincahan gerak tontonan ringan macam Doremi & You. Tapi itu bisa dipahami. Film ini merupakan transisi bagi sang sutradara, dan sungguh transisi yang memuaskan.

2 komentar :

Comment Page:

MEN IN BLACK: INTERNATIONAL (2019)

8 komentar
Men in Black pertama sanggup menyihir lewat keberhasilannya menghidupkan dunia unik milik komik The Men in Black karya Lowell Cunningham, di mana manusia dan alien secara diam-diam hidup berdampingan. Tapi tak ubahnya pertunjukan sulap, daya magis makin menipis seiring terjadinya pengulangan minim (atau malah nihil) modifikasi. Mungkin masih menyenangkan, tapi dampaknya melemah karena penonton sudah memahami segala triknya.

Kurang lebih begitulah Men in Black: International, yang jadi usaha mengenalkan seri ini ke khalayak modern. Pun filmnya mencoba tampil relevan dengan menghadirkan protagonis wanita dalam diri Molly alias Agen M (Tessa Thompson), membuatnya mempertanyakan pemakaian kata “Men” pada nama organisasi meski ada banyak anggota wanita (dilakukan pula oleh rilisan minggu lalu, Dark Phoenix), termasuk sang pimpinan, Agent O (Emma Thompson).

Tapi naskah buatan duo Art Marcum dan Matt Holloway (Iron Man, Transformers: The Last Knight) justru melupakan satu poin penting: plot solid. Urgensi Men in Black: International akan kualitas plot melebihi pendahulunya, sebab seperti saya singgung di atas, penonton sudah memahami segala triknya. Satu-satunya bagian menarik milik plotnya adalah ketika suatu kejutan klise nan predictable di babak ketiga, menggiring kita menuju kejutan lain yang lebih menarik.

Alkisah, Molly mengabdikan seluruh hidupnya mencari keberadaan MIB setelah mengintip aksi para pria berstelan hitam tersebut sewaktu kecil. Molly terobsesi, ingin bergabung demi memenuhi hasratnya mempelajari rahasia-rahasia semesta. Singkat cerita (tentu saja)  ia sukses menemukan MIB, diterima sebagai agen, mendapat kode nama “Agen M”, dan mesti menjalani masa percobaan di London di bawah pimpinan Agen High T (Liam Neeson).

Berharap bisa segera membuktikan diri, M nekat menawarkan bantuan kepada H (Chris Hemsworth), agen ternama yang dikenal lewat aksi heroiknya menyelamatkan dunia bersama High T, sebelum reputasinya tercoreng sebagai pembuat onar. Misi keduanya sederhana, yakni menemani Vungus the Ugly (Kayvan Novak), si alien keluarga kerajaan, selama kunjungannya ke Bumi. Misi tersebut berubah rumit kala Vungus tewas di tangan dua alien berdesain keren (tubuh mereka bagai jendela luar angkasa, mengingatkan saya pada karakter Eternity dari komik Marvel) dengan kemampuan mematikan sekaligus jago menari (keduanya diperankan Les Twins, duo penari/koreografer asal Prancis).

Sepanjang investigasi M dan H, kita diajak melihat elemen-elemen khas Men in Black, dari alien-alien yang membaur bersama manusia, hingga beberapa teknologi keren seperti kereta yang bisa melesat ribuan kilometer hanya dalam hitungan detik, atau mobil penuh amunisi canggih. Apakah semua itu mencengangkan? Tidak lagi. Apakah menyenangkan? Lumayan.

Apalagi sutradara F. Gary Gray masih cakap mengkreasi adegan aksi bertenaga sebagaimana ia pamerkan lewat judul-judul seperti The Italian Job, Law Abiding Citizen, Straight Outta Compton, dan pastinya The Fate of the Furious. Pengadeganan sang sutradara cukup menghibur, selama aksinya melibatkan ragam teknologi tinggi kepunyaan para agen. Tanpa itu, MIB: International sekadar tontonan medioker yang memperlihatkan karakternya berlarian di berbagai negara, karena, well, film ini mengandung kata “International” dalam judulnya.

Terkait hiburan, naskahnya berusaha keras menjadi jenaka melalui lemparan celetukan-celetukan, yang sayangnya tak pernah hadir sesegar harapan kedua penulis. Beruntung, ikatan kuat di antara Tessa Thompson dan Chris Hemsworth cukup sering memperkaya warna humornya. Saya pun lega ketika hubungan M dan H urung terjerumus ke dalam romantika dangkal.

Terdapat adegan saat para protagonis kita memakai Neuralyzer untuk menghapus memori puluhan warga yang menyaksikan aksi heboh mereka (anehnya, mereka langsung lanjut beraksi di depan lebih banyak warga tanpa “menetralisir” ingatan orang-orang itu, yang mana cukup merusak esensi bangunan dunia Men in Black). Sungguh malang, padahal pemandangan tersebut akan jadi kenangan yang seru bagi warga. Tapi Men in Black: International tidak perlu menggunakan Neuralyzer bagi penonton, sebab keseruan yang ditawarkan amat mudah dilupakan. Anda mungkin (sedikit) bersenang-senang di dalam bioskop, namun segalanya bakal lenyap dari ingatan begitu melangkahkan kaki keluar.

8 komentar :

Comment Page: