KULARI KE PANTAI (2018)

12 komentar
Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan spesial. Tidak ada isu beraroma politis, konflik provokatif, maupun permasalahan sosial kompleks dengan potensi kontroversi. Memang terdapat relevansi soal pesan mencintai bahasa dan alam Indonesia serta orang-orang tercinta kita yang hidup di dalamnya, tapi kemasan ringan bernuansa ceria menghasilkan tontonan yang terasa tulus. Film yang mampu memunculkan senyum, tawa, kebahagiaan, kehangatan, bahkan kedamaian hati, yang kini makin mahal harganya, jelas spesial. Saya pun ingin segera ikut berlari ke pantai bersama tokoh-tokohnya.

Di tangan yang salah, Kulari ke Pantai bisa berujung iklan layanan masyarakat dan pariwisata semata. Tapi Riri Riza selaku sutradara beserta pengalamannya membesut Petualangan Sherina (1999) hingga Laskar Pelangi (2008) piawai mengemas rasa. Ketimbang terang-terangan menjejalkan deretan pesan di atas, terlebih dulu dia coba menghanyutkan penonton dalam aliran emosi positif, sehingga pesan dapat terserap, diamini dengan sendirinya. Suasana langsung dibangun sejak momen pembuka penuh semangat beriringkan lagu Selamat Pagi. Musik memang berjasa membangun suasana positif film ini, tak terkecuali lewat lagu tema Kulari ke Pantai (juga dibawakan RAN) yang begitu nyaman di telinga, pun takkan segera lenyap dari ingatan.

Dua sepupu, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil’li Latisha), kembali bertemu, untuk mendapati keduanya sudah tak saling cocok. Sam, si anak pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur yang hobi berselancar, merasa Happy, si anak kota yang manja juga selalu bicara menggunakan Bahasa Inggris, telah berubah jadi bocah sombong. Sebaliknya, Happy memandang rendah Sam dengan segala “kekampungannya”. Cara pandang Happy mewakili standar “racun” yang kerap dianut masyarakat modern, mulai terkait kesan keren dalam kegiatan berbahasa Inggris, sampai anggapan bahwa kulit gelap dan rambut merah hasil terbakar sinar matahari berlawanan dengan definisi “cantik”.

Bersama sang ibu, Uci (Marsha Timothy), Sam menyusun rencana melakukan perjalanan berdua dari Jakarta menuju Banyuwangi guna bertemu peselancar idolanya di pantai G-Land. Rencana itu “terganggu” oleh permintaan Kirana (Karina Suwandi), ibu Happy, agar puterinya turut serta. Hal itu bertujuan untuk mendekatkan lagi ia dengan Sam, sekaligus mengajarkan Happy satu-dua pelajaran berharga supaya kemanjaannya berkurang. Melepas gadis berusia 10 tahun secara mendadak dalam perjalanan jauh meski bersama saudara sendiri rasanya sulit dipercaya. Untungnya, babak proses, selaku titik esensial road movie, tak memiliki kejanggalan serupa.  Bagaimana para karakter berubah, lalu saling menerima dan memaafkan, semua beralaan kuat. Setidaknya, hasil yang didapat terjadi pasca beberapa pengalaman berharga, bukan karena ketiba-tibaan layaknya sihir.

Kedua bintang cilik bermain apik, sanggup melontarkan baris demi baris kalimat secara natural, pandai pula bermain emosi, tatkala masalah mayoritas aktor cilik terkait emosi tak pernah jauh dari luapan yang datar atau justru berlebihan. Kulari ke Pantai merupakan debut bagi Maisha dan Lil’li, dan saya bisa melihat masa depan cerah untuk karir film keduanya, yang bisa menjalin interaksi menyenangkan antara dua sosok berlawanan. Walau sekilas begitu berlainan, sejatinya mereka setipe, sama-sama mesti berurusan dengan ego masing-masing. Di antara bocah-bocah ini ada Marsha Timothy yang tak pernah tampak bagai “alien” dalam dunia para bocah. Pasca Marlina yang kelam, keras, nan brutal, memerankan Uci adalah bukti luasnya jangkauan akting sang aktris.

Jalur yang diambil naskah buatan Gina S. Noer (Habibie & Ainun, Posesif), Mira Lesmana (AADC?, Laskar Pelangi), Riri Riza, dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies), sebenarnya bukan jalur terbaik. Alurnya diisi setumpuk rintangan yang berdesak-desakan dalam durasi 112 menit, namun mayoritas tak mempunyai konflik mendalam. Gempuran permaalahannya tipis, mudah terselesaikan, tapi menumpuk sampai terasa penuh sesak. Sisanya lebih banyak menampilkan kegiatan jalan-jalan plus eksplorasi suasana destinasi alam. Untung, guliran kisahnya berhasil menangkap esensi indah sebuah perjalanan. Menemukan tempat baru, orang-orang baru, lalu menjalin persaudaraan baru pula dengan mereka.

Terpenting, sebagai film anak, Kulari ke Pantai tampil menyenangkan. Komedi yang ditangani Arie Kriting tampil efektif, sewaktu tiap lokasi konsisten menyimpan “ranjau” yang siap meledakkan gelak tawa. Saya bakal selalu mengingat Kulari ke Pantai sebagai salah satu film yang paling sukses memanfaatkan talenta jajaran komika yang tampil dalam porsi secukupnya. Kuantitas bukan prioritas utama, melainkan kualitas, berkat penokohan unik dilengkapi hook yang disesuaikan dengan kelebihan tiap komika. Kemungkinan besar Mukhidi (Dodit Mulyanto) si pemilik homestay yang berisik akan jadi favorit penonton. Saya tidak masalah menginap di tempat Mukhidi selama bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian sebagaimana dirasakan tokoh-tokoh film ini.

12 komentar :

Comment Page:

RASUK (2018)

39 komentar
Jamaknya, poster berguna selaku media promosi untuk menarik penonton, memberi sekilas gambaran mengenai konten suatu film. Tapi Rasuk, selaku produksi gabungan keempat Dee Company bersama MD Pictures mengangkat esensi poster ke tingkatan lebih jauh, yakni memprediksi apa yang penonton rasakan kala menyaksikan filmnya. Jika Shandy Aulia tampak ketakutan akibat ditarik sosok-sosok misterius, saya terjerat keburukan demi keburukan Rasuk yang tak butuh waktu lama untuk memancing frustrasi. Tapi film ini patut dirayakan sebagai pertanda kembalinya Dheeraj Kalwani menuju jati dirinya sebagai KKD yang kita kenal, puja, dan sayangi bersama.

Tentu Gasing Tengkorak (2017) dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati Bayi Hidup Lagi Bayi Prematur Bayi Setan (2018) buruk (saya melewatkan Kembang K*nt*l), namun film garapan Ubay Fox (Valentine) ini paling mendekati mahakarya Baginda Yang Termahsyur KK Dheeraj. Adegan yang dikemas sedemikian ajaib berpadu penyuntingan gambar tak kalah gaib? Ada. Hantu dengan riasan bagai bubur basi? Ada! Andai Rasuk dirilis satu dekade lalu, Alexis Texas, Lexi Belle, atau Sunny Leone mungkin bakal direkrut sebagai cameo, sementara judulnya berubah jadi Kerasukan Arwah Datang Bulan, atau semacamnya.

Rasuk yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Risa Saraswati, dibuka lewat presentasi sinematografi paling cantik sepanjang film, walau konteksnya layak dipertanyakan, dan baru dijawab menjelang akhir, itu pun tetap tak masuk akal. Tapi ini film KKD. Alangkah baiknya demi kesehatan penonton, logika serta akal sehat disimpan rapat-rapat. Kala situ Langgir (Shandy Aulia) berada di atas gunung, mengenakan gaun putih cantik tanpa alas kaki. Awal yang menjanjikan, sayangnya Rasuk merupakan film cerita, bukan video pre-wedding. Pasca kematian sang ayah, Langgir mulai membenci dunia, karena merasa sang ibu menyalahkannya atas peristiwa itu. Akibatnya, Langgir senantiasa murung, bersikap ketus pada semua orang.

Semua orang kecuali Abimanyu (Miller Khan), pria yang diam-diam ia sukai. Di depan Abimanyu, Langgir berubah ceria, atau lebih tepatnya, Shandy Aulia kembali menjadi Tita di Eiffel...I’m In Love. Selain Abimanyu, praktis Langgir bersikap tak menyenangkan di depan orang lain. Dia membentak adik tirinya yang masih balita, menyatakan ketidaksukaan pada keluarganya, yang menurutnya dipenuhi kebencian (meski sejatinya Langgir sendirilah yang penuh rasa benci), pun kesal setengah mati kepada sahabat-sahabatnya. Kenapa? Karena bagi Langgir kehidupan mereka terlampau sempurna. Oh, dan dia langsung mengamuk ketika tahu Abimanyu berpacaran dengan salah satu sahabatnya, padahal sedikitpun tidak pernah ia bercerita pada mereka.

Bagaimana bisa menaruh simpati untuk Langgir, yang bukannya tokoh tertindas, melainkan gadis menyebalkan, egois, enggan bersyukur, juga bersikap pahit terhadap seala hal? Bukan berarti karakter lainnya lebih baik. Sambutlah geng “Puteri Sejagat”, empat gadis termasuk Langgir, yang mesti menghadapi lawan luar biasa berat berupa dialog-dialog dalam naskah tulisan Alim Sudio (Dimsum Martabak, Kuntilanak), yang penuh kalimat tidak natual berisi perpaduan asal gaya kasual dan resmi, yang bak ditulis seseorang dengan pemahaman minim tentang interaksi manusia sehari-hari. Keempat protagonis kita begitu bangga dengan nama “Puteri Sejagat”, sewaktu bertemu wanita misterius di hutan, hal pertama yang dilakukan adalah berkenalan kemudian berkata, “kami berempat Puteri Sejagat”, saat seharusnya mereka membaca doa sapu jagat lalu kabur sejauh mungkin.

Alkisah, “Puteri Sejagat” ingin berlibur ke sebuah villa. Sayang seribu sayang, jembatan yang mesti dilalui putus, dan dengan begitu berani, keempatnya memasuki hutan. Bisa ditebak, mereka pun tersesat. Tapi tenang, setidaknya papan penunjuk jalan sudah menyebut villa tujuan mereka berada di Utara. Masalah timbul ketika jalan bercabang. Kompas sudah menunjukkan mana arah Utara, tapi feeling salah satu anggota “Puteri Sejagat” berkata kalau Selatan adalah arah yang tepat. Mana yang akhirnya dipilih? Tentu saja Selatan. Percayalah pada kata hatimu. Persetan dengan kompas dan papan kayu. Tahu apa benda-benda mati itu soal arah.

Luar biasa bodoh para tokoh utama kita, hingga elemen persahabatan ditambah pesan mengenai “semua punya masalah, jangan mengira dirimu paling menderita” terkubur bersama arwah penasaran, yang tiap kali muncul, disertai gebrakan efek suara memekakkan telinga. Bahkan tatkala hantu muka bubur basi tak muncul menyerang “Puteri Sejagat”, telinga kita terus saja diserang tata suara berisik tersebut. Mungkin pembuat filmnya mengira, jika volume ditingkatkan ke titik maksimal, penonton bakal tertipu, mengira di layar sedang terjadi sesuatu. Di sebuah kesempatan, Langgir memarahi teman-temannya karena berteriak meminta bantuan. “Berisik!”, begitu ucapnya. Wahai Langgir, itu pula yang ingin saya sampaikan pada film ini.

Sekitar 90% bangku penonton terisi dan nyaris semua terhibur, selalu berteriak ketakutan. Kondisi ini bisa memicu anggapan, “mengapa repot-repot membuat film bagus kalau suguhan berkualitas rendah macam ini pun laku keras dan disukai?”. Melalui Rasuk, KKD seolah mengacungkan jari tengah kepada penonton film Indonesia yang peduli dan mengharapkan tontonan berkualitas. Tapi kalau anda tetap penasaran, saya sarankan datang saja ke bioskop dengan tata suara terbaik yang menayangkan film ini. Begitu film dimulai, tidak perlu masuk, cukup duduk di samping studio. Pasang telinga baik-baik, dan anda tetap bisa mendengar gempuran-gempuran tata suaranya. Tidak perlu menyaksikan gambarnya, toh pembuatnya merasa, teror dalam horor bisa dicapai lewat gelaran musik berisik saja. 

39 komentar :

Comment Page:

SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018)

6 komentar
Sicario pertama (2015) bicara soal “sosok putih”, agen FBI bernama Kate Macer (Emily Blunt), yang mempelajari realita abu-abu setelah ditampar keras oleh ambiguitas moral di mana hukum tak berlaku. Pada sekuelnya, giliran dua sosok “penampar” Kate lah yang mendapati bahwa ketiadaan hukum mereka pun nampak bersih di hadapan intrik kotor politik internasional. Di satu kesempatan, agen CIA Matt Graver (Josh Brolin) menyuarakan kejengahannya pada sang atasan, Cynthia Foards (Catherine Keener), bahwa langkah yang diambil pemerintah takkan mengubah apa pun. Respon Cyhnthia membuat Matt, si prajurit brutal nihil aturan tampak bak bocah naif.

Ada pula dua muda-mudi terlibat dalam konflik: Isabela Reyes (Isabela Moner), puteri bungsu seorang pimpinan kartel Meksiko yang di sekolahnya bisa bersikap layaknya bos mafia tanpa takut tersentuh hukuman guru, dan Miguel Hernandez (Elijah Rodriguez), remaja Meksiko-Amerika yang ingin menjadi kriminal. Seperti Kate di film pertama, Isabela dan Miguel bagai domba, tapi di sini, domba-domba itu berlagak layaknya serigala, hingga akhirnya nasib mempertemukan mereka dengan kawanan serigala sungguhan yang tengah berperang. Apakah domba-domba ini akan jadi mangsa, kembali ke habitatnya, atau bertransformasi menjadi predator pula? Konklusinya memberi siratan cukup jelas bagi arah lingkaran kehidupan yang bakal mereka tempuh.

Day of the Soldado membahas dua pokok persoalan yang belakangan makin kerap menyulut kontroversi, khususnya di Amerika, yakni serbuan teroris asing serta imigran. Tapi Taylor Sheridan (Sicario, Wind River, Hell or High Water) yang masih menulis naskahnya tak tertarik menjabarkan “Apa yang seharusnya dilakukan?”, melainkan “Apa yang selama ini sudah dilakukan dari di balik layar”. Setidaknya menurut perspektif Sheridan, yang membuka filmnya langsung lewat hantaman mencekat dan menegangkan berupa aksi bom bunuh diri. Sayang, ketegangan di tingkatan setara gagal terulang di sisa durasi. Kementrian Pertahanan mengutus Matt guna menutup jalur para terors yang diselundupkan oleh kartel di Meksiko.

Taktik adu domba diterapkan. Kembali dibantu Alejandro (Benicio del Toro), Matt menculik puteri pimpinan kartel, Isabela, lalu mengaturnya agar tampak seperti perbuatan kartel saingan. Tujuannya agar kedua belah pihak saling menghancurkan tanpa perlu campur tangan pemerintah Amerika, yang nantinya diharapkan memutus mata rantai terorisme. Meski jika ditanya mengenai definisi terorisme, Matt menjawab, “Tugas Menteri Pertahanan untuk menyematkan definisi itu ke siapa”. Di sini Sheridan tengah menyentil tentang Amerika, sang negeri adidaya, mampu pengelompokkan “si baik” dan “si jahat” sesuai kepentingan mereka.

Artinya, ambiguitas pendahulunya masih dipertahankan. Sheridan menegaskan ketiadaan kepastian soal siapa kawan maupun lawan, yang diwakili suatu momen yang ia tulis secara cerdas tatkala Isabela berhasil “diselamatkan” dari kurungan penculik. Tapi tidak semua momen tampil secerdik itu. Ada kalanya rencana Sheridan pintar, ada kalanya tidak masuk akal. Atau mungkin di dalam imajinasinya, itu masuk akal, hanya saja, akibat kebencian Sheridan terhadap eksposisi (diakuinya sendiri), banyak poin terkesan membingungkan. Bahkan lebih membingungkan ketimbang film pertama karena kali ini konspirasi bertambah rumit seiring skala yang turut membesar, juga melibatkan lebih banyak pihak. Kadang kebingungan tersebut mempengaruhi intensitas.  

Untung penyutradaraan Stefano Sollima (Suburra) solid. Mengusung tempo lebih cepat, toh kita tetap bisa menemukan pergerakan kamera yang melayang lambat khususnya dalam establishing shot, yang mengingatkan akan gaya Denis Villeneuve. Masih dipertahankan pula musik atmosferik nan menghantui, walau departemen musik sekarang ditangani Hildur Guðnadóttir, menggantikan mendiang Jóhann Jóhannsson. Tidak mengherankan, sebab keduanya pernah berkolaborasi di Mary Magdalene (2018), dan Guðnadóttir pernah memainkan cello dalam Arrival (2016) yang musiknya digubah Jóhannsson. Sayang, meski tetap sedap dipandang, sinematografi Dariusz Wolski (The Martian, Prometheus) nyatanya tak seindah karya Roger Deakins.

Tidak ada Emily Blunt yang kehadirannya berfungsi sebagai kacamata penonton mengintip kerasnya dunia kriminalitas, namun Day of the Soldado masih punya Josh Brolin dan Benicio del Toro, dua aktor yang mampu menebarkan aura machismo cukup dengan duduk diam atau bertutur secara kasual. Karakter peranan del Toro memperoleh story arc bersifat personal selaku lanjutan film pertama, yang lagi-lagi Cuma berujung sempilan di tengah tanpa dampak emosi. Tidak ada pilihan lain. Apabila Sheridan begitu getol ingin menguatkan elemen drama di sekitar Alejandro, ia membutuhkan filmnya sendiri. Sementara Brolin memantapkan status sebagai “actor of the year”. Pasca Thanos, Cable, lalu Matt, pesan yang muncul jelas: “Jangan macam-maca dengan Josh Brolin!”.

Konklusinya membuka lapang beragam kemungkinan untuk kisah masa depan andai seri Sicario dilanjutkan. Kemungkinan yang rasanya nyaris tidak berujung mengingat kriminalitas dan konspirasi politik merupakan jalur utamanya. Tapi di waktu bersamaan, konklusi tersebut melucuti gambaran kerasnya dunia gelap milik seri Sicario, di mana semestinya tak ada pihak yang aman dalam tempat sekelam nan semematikan ini. Sicario: Day of the Soldado tidak se-memorable pendahulunya, tidak pula mengandung teror yang sama kuatnya, tetapi sebagai sajian aksi/thriller semata, Day of the Soldado memberikan cengkeraman cukup kencang.

6 komentar :

Comment Page:

BAD SAMARITAN (2018)

2 komentar
Bad Samaritan menampilkan Robert Sheehan sebagai Sean Falco, sang protagonis yang bersama rekannya, Derek (Carlito Olivero), menjalankan aksi perampokan berkedok parkir valet di sebuah restoran. Modus operandinya, salah satu dari keduanya akan menyatroni rumah korban dengan memanfaatkan GPS dalam mobil, lalu mengambil barang-barang kecil agar korban tak menyadari aksi tersebut. Sean dan Falco pikir metode itu menjamin mereka lolos, tapi tidak, sebab Bad Samaritan memastikan kejahatan itu, serta hal-hal buruk lain yang Sean perbuat (sengaja/tidak, besar/kecil) akan menerima balasan. Ini bukan soal justifikasi kriminalitas atau kebodohan muda-mudi yang berbuat tanpa pikir panjang, sebagaimana bertebaran di banyak sajian thriller, melainkan soal penebusan kesalahan, dan itu yang membuatnya menarik.

Melalui naskahnya, Brandon Boyce ingin menghukum Sean tanpa membuat filmnya menjadi nihilis. Prosesnya tidak mudah, konklusinya pun tak bisa sepenuhnya disebut “akhir bahagia”, namun ada secercah cahaya tatkala perlahan sang tokoh utama mampu berubah melalui cara yang bisa dipercaya. Sebab cuma orang dengan kebebalan luar biasa yang menolak berubah pasca menghadapi permasalahan serupa Sean. Fakta bahwa ia pun berusaha menyelamatkan nyawa turut membuat prosesnya bukan Cuma believable, pula likeable.

Sekali lagi, ini bukan perjalanan mudah. Target perampokan terbaru Sean dan Derek adalah Cale Erendreich (David Tennant), pria pengendara Maserati yang sombong, necis, dan tentu saja kaya raya. Merasa mendapat durian runtuh, Sean bergegas menguras barang-barang di rumah Cale, sampai ia menemukan seorang wanita dirantai di sebuah kamar dalam kondisi mengenaskan. Sean memilih kabur, keputusan yang memicu rasa bersalah, yang ujungnya, juga memicu “kucing-kucingan” ketika Cale menyadari perbuatan Sean. Cale bukan kucing sembarangan. Bermodalkan sumber daya (baca: kekayaan) melimpah, Cale membuat pertarungan ini berat sebelah. Betapa tidak? Cale mampu mengontrol seisi rumahnya dari telepon genggam, memiliki senjata, pun alat pelacak.

Di bawah penyutradaraan Dean Devlin (Geostorm), “kucing-kucingan” itu mengalir dinamis, punya ketepatan tempo, bertabur kejutan dengan kadar memadahi. Mencapai pertengahan, alih-alih kehabisan bensin, Bad Samaritan justru melangkah ke arah tak terduga. Ketimbang meruncing, konfliknya justru melebar, selaku cara menunjukkan sejauh apa Cale mampu menghancurkan kehidupan Sean, meski detail terkait “bagaimana” urung dijabarkan. Seperti perkataan Cale, “You don’t know how rich I am”, akhirnya memang sebatas itu yang kita tahu. Hal serupa terjadi saat filmnya berusaha memaparkan motivasi sang antagonis melalui penjelasan latar belakangnya oleh FBI (yang muncul hanya untuk memberi eksposisi). Cale menderita masalah psikologis yang dipicu peristiwa masa kecil. Itu saja.

Tapi melihat penampilan David Tennant, melihat tatapan bengisnya, mengamati senyum yang tersungging di bibirnya, mengikuti kecerdikan serta kecermatan taktiknya, mudah meyakini bahwa Cale adalah pria dengan gangguan mental sewaktu naskahnya gagal tampil semeyakinkan itu. Terkait naskah, saya pun terganggu dengan beberapa lubang logika. Cale merupakan sosok cerdik, cermat, nan teliti, tetapi saat ia coba menjebak Sean menggunakan bom, Cale justru meninggalkan Maserati disertai kuncinya yang tergeletak di tempat biasa, memberi Sean jalan melarikan diri. Mengapa tidak menyingkirkannya dulu? Paling tidak, cukup dengan melenyapkan kuncinya. Dengan uang plus kekuatan melimpah miliknya, tak bisakah Cale menyewa orang untuk mengambil mobil itu?

Bodoh memang, dan karena Bad Samaritan digarap memakai pendekatan serius, dilengkapi segala elemen moralitasnya. Lain cerita kalau keseluruhan filmnya memakai gaya seperti third act-nya, kala selama sekitar 10 menit, Bad Samaritan bertransformasi jadi lebih ringan, menyelipkan humor menggelitik, enggan menganggap dirinya terlampau serius. Pada momen singkat itu pula David Tennant melepaskan topeng ketenangan yang ia kenakan, tampil meletup sebagai antagonis over-the-top yang tetap menyenangkan disaksikan. Tapi bukan masalah. Lubang-lubang logika yang ada hanya “kejahatan kecil” yang berhasil ditebus oleh kebaikan lebih besar lain berupa poin-poin positif filmnya. Seperti tokoh utamanya, Bad Samaritan mampu menebus keburukan dirinya.

2 komentar :

Comment Page:

HEREDITARY (2018)

35 komentar
Sering title card film horor menampilkan bait ayat suci atau kutipan bernuansa mistis dari literatur lama yang intinya menyiratkan eksistensi kekuatan jahat, biasanya iblis. Tapi Hereditary, selaku debut penyutradaraan Ari Aster, justru memasang obituary, alias berita kematian berisi nama almarhum, keluarga yang ditinggalkan, waktu serta tempat pemakaman, sebagai pembuka. Karena di sini, kegelapan datang bukan dari dalam perut neraka, melainkan hati manusia, dari kematian, juga keluarga disfungsional. Menilik film-film pendek Aster macam The Strange Thing About the Johnsons (2011) hingga Munchausen (2013), hal-hal di atas memang pokok bahasan favorit sang sutradara.

Annie (Toni Collette) tengah berduka setelah sang ibu, Ellen, meninggal. Setidaknya itu yang baginya mesti ia rasakan. Tapi hubungan renggang di antara mereka menciptakan situasi kompleks. Dari cerita Annie, kerenggangan itu karena Ellen mengidap penyakit psikologis yang memunculkan perilaku aneh yang sukar dipahami. Tapi sungguh, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saudara kandung Annie menderita skizofrenia lalu meninggal bunuh diri, sementara Annie sendiri, well, silahkan kalian simpulkan sendiri. Pastinya, tampak ada yang kurang beres pada puteri Annie, Charlie (Milly Shapiro). Ketika kakaknya, Peter (Alex Wolff), sibuk dengan tetek bengek remaja kebanyakan (baca: menghisap ganja), mengoleksi bagian tubuh bangkai burung jadi aktivitas Charlie.

Sebelum menonton, perlu diketahui bahwa Hereditary bukan horor jalur utama. Lambat panas, bertempo pelan, dengan jump scare berkuantitas minimal yang sekalinya datang, tanpa musik menggelegar. Sebagai gantinya, jenis suara lain akan mengisi. Suara yang besar kemungkinan bakal terus anda coba tirukan pasca filmnya usai. Bahkan suara itu pun seringkali absen tatkala Aster memilih mencekik penonton menggunakan kesunyian. Sedangkan musik garapan Colin Stetson lebih ditujukan selaku pembangun atmosfer daripada alat pacu jantung dadakan. Apakah film ini mengerikan? Saya jawab, “Ya!”, walau bukan jenis kengerian seperti saat kita sedang berada di kegelapan sendirian, lalu takut kalau-kalau sesosok hantu bakal menampakkan diri.

Saya dibuat terikat pada paparan kondisi batin Keluarga Graham, khususnya Annie, berkat naskah yang juga hasil tulisan Aster. Satu demi satu lapisan tersingkap, dan semakin dalam kita mempelajari kegelapan dalam dirinya, yang juga dimiliki ibu beserta anak-anaknya (menjelaskan makna di balik judul “Hereditary”), kengerian pun mulai merayap. Kengerian yang dipicu usaha membayangkan dan ikut merasakan betapa kacau pula terganggunya keluarga ini. Colette sanggup mewakii segala kekacauan tersebut. Melihat sosoknya bagai melihat wajah seseorang yang tengah menatap neraka, atau setidaknya mimpi buruk yang terlampau nyata.

Bukan berarti Hereditary tanpa wujud kengerian tradisional. Aster memiliki visi mumpuni sekaligus daya kreasi tinggi guna menghasilkan gambar-gambar—khususnya di third actcreepy, aneh, dan disturbing yang jarang atau bahkan belum pernah ditawarkan horor mana pun. Dampak yang dihasilkan pun bukan sambil lalu. Banyak gambar-gambar buatan Aster bakal mengendap lama di otak. Seusai menonton, pada tengah malam saya duduk sendirian di teras rumah sambil menikmati rokok dan kopi, sebelum memori akan berbagai adegan muncul ke permukaan, dan saya segera masuk tanpa pikir panjang. Ya, Hereditary punya efek pasca yang kuat, walau ada kalanya saya berharap Aster mempercepat tempo ketika tiada satu pun hal terjadi di layar, dan sebaliknya, bertahan lebih lama di sebuah momen mencekam untuk memberi penonton waktu merasakan takut yang hendak disulut.

Poin mengagumkan berikutnya adalah bagaimana naskah milik Aster mampu menanam benih-benih petunjuk dengan amat rapi. Sehingga saat fakta-fakta perlahan mulai diungkap, selama anda bersedia memperhatikan beragam detail, timbul kepuasan luar biasa menyaksikan seluruh keping puzzle tersusun sempurna. Hereditary enggan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab untuk penontonnya. Begitu film berakhir, semua titik telah terhubung, kita akan mengerti kebenaran di balik hal-hal mistis yang terjadi, kita akan mengerti makna dari elemen-elemen misterius yang bertebaran sepanjang durasi, kita pun akan memahami karakternya, termasuk motivasi mereka, secara menyeluruh. Begitu film berakhir, Hereditary terasa lengkap, utuh, jauh lebih utuh ketimbang kondisi luar-dalam Keluarga Graham.


35 komentar :

Comment Page:

JAILANGKUNG 2 (2018)

9 komentar
Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947 untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.

Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar, punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.

Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu. Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya, mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat menyelidiki.

Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu selain Matianak ikut meneror.

Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.

Setelah berpetualang sedemikian jauh bersama karakternya, tentu saya mengharapkan puncak yang sepadan, bukannya konfrontasi canggung yang bak dikemas tanpa perencanaan, tanpa koreografi matang, tanpa totalitas. Beberapa horor terakhir karya duo sutradaranya, Jose Purnomo (Alas Pati, Ruqyah: The Exorcism, Gasing Tengkorak) dan Rizal Mantovani (Kuntilanak, Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati) memang buruk, tapi setidaknya ada energi. Jump scare-nya memiliki tenaga meski berhenti di taraf trik mengagetkan murahan. Jailangkung 2 bagai anak kurang gizi yang dipaksa berlari. Begitu pula jajaran pemainnya. Menyaksikan Amanda Rawles-Jefir Nichol bersama di layar lebar tak pernah sedatar dan semembosankan ini. 

9 komentar :

Comment Page:

INSYA ALLAH SAH 2 (2018)

8 komentar
Seorang wanita yang hamil sebelum menikah dan seorang perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, karena filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana jalan cerita novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 jelas tampil lebih baik ketimbang pendahulunya karena kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti bersikap sama terhadapnya dan film ini.

Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya. Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral seperti Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka adalah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik. Karena berbeda dibanding para manchild dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga ketika ia mencampuri urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang memandang dunia secara hitam-putih.

Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) buruk dari seseorang. Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka mendapat todongan pistol di kepala, seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan ketika terlibat baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang baru saja nekat kabur dari penjara lalu merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250 juta dibutuhkan.

Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar sebelumnya karena sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi, saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar) guna duduk di kursi sutradara jelas tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen aksi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran aksi luar biasa, elemen tersebut jelas jauh lebih menghibur daripada menyaksikan ceramah agama selama 90 menit.

Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani belajar bahwa tidak semua masalah dapat terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan studi permasalahan mendalam, tapi Insya Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa membayangkan kisah Gani-Mutia dieksekusi tanpa unsur agama dan tetap dapat bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), sebab ini kisah manusia yang berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa memakai perspektif agama pun, memang wajib ditepati.

Ada satu momen khusus yang seketika membuat Gani menjadi protagonis yang likeable serta layak didukung, yakni ketika Mutia menceritakan beberapa rahasia pada Raka di suatu restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa lalu kelam nan berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang mampu mendiamkan semua orang di ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi. Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon genggam dan suara tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi cantik yang mudah terbuai oleh pujian, atau bila anda tetap membenci penokohan Raka, anda akan bahagia melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.

8 komentar :

Comment Page:

DIMSUM MARTABAK (2018)

16 komentar
Meniliki judulnya, wajar mengira Dimsum Martabak adalah suguhan foodporn penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan & Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah berusaha, namun karena ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang mumpuni, target yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, membuat produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.

Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri) miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang pangeran kini menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik, bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai menu andalan.

Jika Mona adalah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”? Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak memakai truknya bersama Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana contoh sidekick yang baik, mampu mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis “kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi membuat keduanya ragu bisa terus bersama sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibuat yakin oleh ketiga fase di atas.

Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris tertabrak truk milik Soga yang hanya mampu diam terpukau, sementara Mona, meski terkejut karena nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia adalah gadis yang terbangun pukul 1 dinihari memakai riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.

Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong menyebabkan Mona dipecat, dan karena Soga telah terpikat, mudah baginya menerima Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam sebuah adegan yang jelas terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, karena ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius, pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan penonton dalam proses perencanaan.

Rasanya tidak mengejutkan saat saya menyebut duet Ayu-Boy kekurangan chemistry. Keduanya sebatas pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Ayat-Ayat Cinta 2). Mona adalah gadis sederhana yang memahami sistem warung makanan, Soga adalah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry Salim) demi impian pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya menulis “pesan order” dan “paling terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah ajaib itu dikarang sendiri oleh Ayu, sebagai contoh betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada debut layar lebarnya.

Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental penggambangan. Babak akhirnya berpindah ke setting berbeda, tapi saat itu saya sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi, tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.

16 komentar :

Comment Page:

INCREDIBLES 2 (2018)

15 komentar
Jika The Incredibles (2004) merupakan parodi film pahlawan super bertemu drama keluarga kelas menengah di pinggiran kota—pekerjaan membosankan sang ayah, ibu rumah tangga—dengan keseharian monoton mereka, maka Incredibles 2, walau tetap menyoroti nilai kekeluargaan dan aksi para pemilik kekuatan super, menyentil isu yang mengikuti zaman, yakni peran gender. Bagaimana jika ibu mempunyai pekerjaan mapan di luar sedangkan ayah mengurus rumah? Pria pemegang teguh nilai patriarki bakal kelabakan bahkan merasa terhina. Itu sebabnya ada relevansi pula urgensi tinggi di sini.

Melanjutkan akhir film pertama tatkala Mr. Incredible alias Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen Parr (Holly Hunter), bersama ketiga anak mereka menghadapi Underminer, meski hukum masih melarang aksi pahlawan super berkostum. Mereka yakin aksi tersebut baik, tapi ketika berujung melanggar hukum, apakah definisi baik masih layak disematkan? Secercah harapan muncul dari Winston Deavor (Bob Odenkirk), pemilik perusahaan telekomunikasi sekaligus penggemar berat pahlawan super, yang menawarkan jalan agar petinggi-petingi dunia bersedia menghentikan pelarangan terhadap pahlawan super. Kuncinya tak lain menggaet dukungan publik.

Rencana Winston dan adiknya, Evelyn (Catherine Keener) si ahli teknologi, adalah memasang kamera di tubuh pahlawan super, supaya publik dapat memahami lebih jauh seluk beluk di tengah pertarungan melawan kejahatan. Supaya publik tahu, betapa keselamatan mereka jadi prioritas utama para jagoan. Mengacu pada data soal “seberapa destruktif” tiap-tiap jagoan kala beraksi, Elastigirl, yang memiliki tingkat terendah pun dipilih. Data tersebut membawa kita sedikit mengintip tentang tema gender yang diangkat. Mr. Incredibles (pria) cenderung mengandalkan otot, tanpa pikir panjang, sementara Elastigirl (wanita) lebih taktis dan mengedepankan otak. Pekerjaan bagi sang istri mengharuskan Bob tinggal di rumah menjaga ketiga buah hati.

Seperti kebanyakan suami, Bob yakin tetek bengek rumah tangga bukan perkara sulit dan akan mudah dijalankan. Bob tak tahu apa yang menantinya. Menangani Violet (Sarah Vowell) dan urusan cinta monyetnya, tugas matematika Dash (Huck Milner), dan Jack-Jack yang memberi masalah lebih dari sekedar mengganti popok. Sulit bagi Bob. Dia lelah, mengeluh, tapi bukan karena sisi machonya terancam, melainkan rasa “gatal” untuk kembali beraksi. Semacam post-power syndrome, yang juga dialami Helen, meski kontrol diri sang istri lebih kuat. Bob mencoba melakukan yang terbaik, memberi contoh mengenai heroisme seorang ayah. Bagi orang tua yang bekerja, konsekuensinya yakni melewatkan tumbuh kembang anak. “Aku melewatkan kekuatan super pertama Jack-Jack”, ungkap Helen, sebagaimana keluhan orang tua yang melewatkan langkah pertama anaknya.

Intensitas Incredibles 2 tidak sepadat film pertama akibat kesan lebih “cerewet” dari setumpuk obrolan. Ada perdebatan panjang ayah-ibu sampai pembicaraan hati ke hati para wanita tentang peran gender, yang bakal sulit diikuti penonton bocah, namun cukup menyadarkan penonton dewasa, dan bukan mustahil memberi mereka bahan tentang parenting maupun pemberdayaan wanita untuk diajarkan ke anak mereka suatu hari kelak. Jangan khawatir elemen tersebut menurunkan daya hibur filmnya. Layaknya film pertama, Incredibles 2, dipandu penyutradaraan berenergi Brad Bird (The Incredibles, Mission: Impssible – Ghost Protocol) masih sajian pendobrak batas terkait urusan aksi pahlawan super.

Ditemani musik epic garapan Michael Giacchino, seri The Incredibles selalu sanggup menggelontorkan aksi yang akan tampak terlalu konyol atau membutuhkan CGI terlampau banyak di medium live action. Lihat aksi pembukanya, kala kamera bergerak amat dinamis, memakai tracking shot, mengikuti satu demi satu pameran kekuatan keluarga super kita, sebelum Frozone (Samuel L. Jackson) memasuki arena pertempuran, bak menari lincah di atas lintasan es buatannya. Atau ketika Elastigirl berusaha menghentikan upaya supervillain Screenslayer, yang mampu menghipnotis korbannya melalui berbagai jenis layar, dengan merenggangkan tubuhnya sementara motornya “terbelah” dua. Butuh kreativitas tinggi guna mengeksekusi sekuen macam itu.

Incredibles 2 masih berperan selaku parodi film-film pahlawan super. Kunjungan kita ke rumah Tony Stark (tidak diungkap secara gamblang) jadi contoh. Pun jika anda familiar dengan komik Fantastic Four, yang memberi inspirasi besar bagi pondasi The Incredibles sejak dulu, maka Jack-Jack mungkin mengingatkan kepada Franklin Richards, putera Reed Richards dan Susan Storm yang memiliki kekuatan tanpa batas, bahkan dianggap sebagai makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Jack-Jack sendiri merupakan sumber tawa terbesar film ini yang takkan sulit mencuri hati penonton mana saja.


Note: Jangan lewatkan film pendek Bao yang diputar di awal, satu lagi animasi indah Pixar yang menguras air mata. 

15 komentar :

Comment Page:

TARGET (2018)

30 komentar
Target lebih bagus daripada Hangout (2016). Sesama komedi meta di mana para aktor memerankan diri sendiri bercampur misteri whodunit, proses Raditya Dika mempermainkan image jajaran pemainnya di Target jauh lebih berhasil. Dia memberi Cinta Laura kesempatan jadi sosok paling tangguh. Dia memberi penokohan tak terduga kepada Willy Dozan dan Samuel Rizal  yang tak pernah kita kira ingin kita lihat. Tapi kita ingin melihat Ria Ricis kena batunya akibat lawakan-lawakan tak lucu ciri khasnya, dan Radit pun memberikan itu. Walau Hangout juga bermain-main dengan image dunia nyata itu, dalam Target peran mereka signifikan dan punya momen puncak masing-masing. Radit menepi, membiarkan sorotan terbagi rata, membuka kesempatan bagi humor yang lebih variatif. Alhasil, jadilah film soal ensemble cast, bukan “Radit dan kawan-kawan”.

Kredit pembukanya langsung menggigit lewat desain grafis yang mengingatkan akan karya-karya Saul Bass yang jadi langganan Alfred Hitchcock. Pun ditambah musik suspense garapan Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) aroma Hitichcockian seketika merebak, mengawali pertemuan sembilan selebritis yang bermain bersama dalam film berjudul Target: Raditya Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir, Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli. Mengharapkan proses cepat nan mudah selama sehari, para pesohor ini justru mendapati diri mereka tengah dikurung sosok misterius bertopeng bernama Game Master di sebuah gedung kosong. Bukan itu saja, mereka dipaksa melakukan berbagai permainan maut sembari direkam gerak-geriknya melalui kamera yang tersebar di tiap sudut gedung. Game Master ingin menciptakan film yang nyata, dengan konflik nyata, serta kematian nyata.

Penjahat bertopeng, perangkap dengan perintah dilematis yang memaksa para korban mengorbankan diri sendiri atau orang lain, praktis Target adalah modifikasi dari Saw. Hanya saja tiada peralatan canggih dengan cara kerja rumit, karena perangkapnya monoton, cuma “lubang lantai” dan pistol. Hanya ada hidup atau mati, tanpa ada kehilangan bersifat parsial. Dampaknya, saat seseorang meregang nyawa, momen itu cuma numpang lewat. Apalagi karakternya menganggap kematian-kematian itu bak angin lalu. Terdapat beberapa adegan perkelahian dengan eksekusi kurang meyakinkan, canggung, meski salah satunya membuat Cinta Laura terlihat badass sementara satu momen lain bakal membuat penonton bersorak, khususnya bagi yang menghabiskan masa kecil bermain peran sebagai tokoh-tokoh dalam sinetron laga Deru Debu (1994-1996) seperti saya.

Perangkapnya memang bersifat sekunder. Bagaimana para korban menyikapi perangkap itulah yang diutamakan. Karena bukan slasher yang bergerak secara “kill-and-run”, Target mampu menjalin dinamika tersebut. Willy Dozan si legenda laga diubah jadi pria genit yang membenci kekerasan dan berjualan obat anti-wasir. Samuel Rizal yang rasanya seumur hidup terjebak oleh typecast Adit si pria keren dalam dua film Eiffel...I’m In Love tampil memparodikan image itu, sebagai pria yang bangga atas status selebritisnya dan acap kali bertingkah bodoh karenanya. Dari situ komedinya bisa bekerja. Kita suka melihat seseorang memerankan sosok yang berlawanan dengan tipenya. Ada satu potensi lain, yakni Anggika Bolsterli sebagai aktris yang mengkhawatirkan tampang selaku asetnya, sayang opsi itu urung dimanfaatkan. Menyenangkan melihat nama-nama di atas memperoleh fokus besar, sebab “dick jokes” murahan jelas terdengar lebih lucu saat dilontarkan Samuel Rizal ketimbang Raditya Dika dengan gaya yang kita sudah hafal betul.

Apakah Target film pintar? Tentu tidak. Beberapa permainan mautnya tidak diberi aturan pasti, yang mengakibatkan intensitas minimalis, dan saat permainan itu dikaitkan dengan motif pelaku yang diungkap di paruh akhir, modus operandinya menyisakan setumpuk pertanyaan di ranah logika pula menghadirkan kesan penggampangan. Radit enggan repot-repot memikirkan segenap detail tadi, terpenting ada permainan misterius plus twist soal pelaku. Mungkin kesederhanaan pikir itu yang ada di kepalanya. Tapi berkat kesederhanaan itu, Radit lebih mudah menjalin konstruksi yang rapi. Dia menyempatkan diri menebar petunjuk, sehingga walau ditempatkan bukan dengan cara yang memancing keterlibatan penonton memecahkan teka-teki, tatkala jawaban diungkap, poin-poinnya saling terhubung, meninggalkan saya dengan rasa puas ketimbang kesan tiba-tiba nan dipaksakan.

Mengapa lagi-lagi Raditya Dika membuat meta whodunit? Entahlah. Mungkin ia tidak puas dengan eksperimen perdananya dua tahun lalu, mungkin dia memang mencintai konsep itu, atau mungkin sekedar “cari gampang” karena dia tidak perlu menciptakan karakter (plus lelucon) yang sepenuhnya baru, melainkan cukup sedikit menggali lalu memparodikan image jajaran nama-nama tenar. Namun berapa banyak sineas kita berani menjamah ranah itu? Tidak banyak. Berapa banyak film liburan secara umum, atau lebaran secara khusus, yang bersedia melangkah ke sana alih-alih mengangkat konsep familiar macam horor dan sajian religius? Jauh lebih sedikit. Saya akan menyambut gembira jika Raditya Dika terus kembali lewat eksperimennya.

30 komentar :

Comment Page:

OCEAN'S 8 (2018)

8 komentar
Genre heist caper punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng yang mustahil ditembus (brankas, kasino, museum), lalu kita (2) bertemu sekelompok pria necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka membeberkan rencana mengenai siapa harus melakukan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih pria necis, kita berkenalan dengan para wanita berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate Blanchett dalam lagak semaunya, sikap eksentrik Helena Bonham Carter sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis bodoh”.

Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson, Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma tentang multikultural, juga beragam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11 (1960) yang juga mengandalkan star power kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr., dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) baru keluar dari penjara, menemui partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun rencana merampok Toussaint, kalung berlian senilai $150 juta, lalu membentuk tim guna menjalankan perampokan.

Seperti saat Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny Ocean (George Clooney) menyelipkan usaha balas dendam personal di tengah misi, Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara akibat pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para karakter yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta hingga misi berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh eksekusi rencana yang disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jika penonton diasingkan dan tidak merasa terlibat?

Tidak peduli seberapa mustahil rencananya, penonton mesti diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya. Filmnya perlu memperlihatkan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas karakternya, bukan akibat kebodohan korban seperti saat Rose Weil (Helena Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian berusaha memindai barang target perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh, aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah itu, hilang pula tensi filmnya. Praktis sebelum sajian utama di klimaks, kenikmatan hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.

Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni asli pula, yang semuanya mampu diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus kurator Met Gala sejak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para pesohor diperlukan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama seperti Zayn Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di antara keglamoran yang mampu membuat penonton berteriak “oooohh”. Itu juga respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film memakai pakaian kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.

Apalah artinya heist tanpa twist yang bertempat pasca perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah pertanyaan terkait logika serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun mewah jauh lebih mencuri perhatian dibanding aksi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu rasanya menyaksikan film heist, cukup karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett, atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah aksi perampokan biasa oleh para wanita luar biasa.

8 komentar :

Comment Page: