KULARI KE PANTAI (2018)
Rasyidharry
Juni 30, 2018
Arie Kriting
,
Bagus
,
Comedy
,
Dodit Mulyanto
,
Drama
,
Gina S. Noer
,
Indonesian Film
,
Karina Suwandi
,
Lil’li Latisha
,
Maisha Kanna
,
Marsha Timothy
,
Mira Lesmana
,
REVIEW
,
Riri Riza
12 komentar
Kulari ke Pantai adalah kesederhanaan spesial. Tidak
ada isu beraroma politis, konflik provokatif, maupun permasalahan sosial
kompleks dengan potensi kontroversi. Memang terdapat relevansi soal pesan
mencintai bahasa dan alam Indonesia serta orang-orang tercinta kita yang hidup
di dalamnya, tapi kemasan ringan bernuansa ceria menghasilkan tontonan yang
terasa tulus. Film yang mampu memunculkan senyum, tawa, kebahagiaan, kehangatan,
bahkan kedamaian hati, yang kini makin mahal harganya, jelas spesial. Saya pun
ingin segera ikut berlari ke pantai bersama tokoh-tokohnya.
Di tangan yang salah, Kulari
ke Pantai bisa berujung iklan layanan masyarakat dan pariwisata semata. Tapi
Riri Riza selaku sutradara beserta pengalamannya membesut Petualangan Sherina (1999) hingga Laskar Pelangi (2008) piawai mengemas rasa. Ketimbang
terang-terangan menjejalkan deretan pesan di atas, terlebih dulu dia coba
menghanyutkan penonton dalam aliran emosi positif, sehingga pesan dapat
terserap, diamini dengan sendirinya. Suasana langsung dibangun sejak momen pembuka
penuh semangat beriringkan lagu Selamat
Pagi. Musik memang berjasa membangun suasana positif film ini, tak
terkecuali lewat lagu tema Kulari ke
Pantai (juga dibawakan RAN) yang begitu nyaman di telinga, pun takkan
segera lenyap dari ingatan.
Dua sepupu, Sam (Maisha Kanna) dan Happy (Lil’li Latisha),
kembali bertemu, untuk mendapati keduanya sudah tak saling cocok. Sam, si anak
pantai asal Rote, Nusa Tenggara Timur yang hobi berselancar, merasa Happy, si
anak kota yang manja juga selalu bicara menggunakan Bahasa Inggris, telah
berubah jadi bocah sombong. Sebaliknya, Happy memandang rendah Sam dengan
segala “kekampungannya”. Cara pandang Happy mewakili standar “racun” yang kerap
dianut masyarakat modern, mulai terkait kesan keren dalam kegiatan berbahasa
Inggris, sampai anggapan bahwa kulit gelap dan rambut merah hasil terbakar
sinar matahari berlawanan dengan definisi “cantik”.
Bersama sang ibu, Uci (Marsha Timothy), Sam menyusun rencana melakukan
perjalanan berdua dari Jakarta menuju Banyuwangi guna bertemu peselancar
idolanya di pantai G-Land. Rencana itu “terganggu” oleh permintaan Kirana
(Karina Suwandi), ibu Happy, agar puterinya turut serta. Hal itu bertujuan
untuk mendekatkan lagi ia dengan Sam, sekaligus mengajarkan Happy satu-dua
pelajaran berharga supaya kemanjaannya berkurang. Melepas gadis berusia 10
tahun secara mendadak dalam perjalanan jauh meski bersama saudara sendiri
rasanya sulit dipercaya. Untungnya, babak proses, selaku titik esensial road movie, tak memiliki kejanggalan
serupa. Bagaimana para karakter berubah,
lalu saling menerima dan memaafkan, semua beralaan kuat. Setidaknya, hasil yang
didapat terjadi pasca beberapa pengalaman berharga, bukan karena ketiba-tibaan
layaknya sihir.
Kedua bintang cilik bermain apik, sanggup melontarkan baris
demi baris kalimat secara natural, pandai pula bermain emosi, tatkala masalah
mayoritas aktor cilik terkait emosi tak pernah jauh dari luapan yang datar atau
justru berlebihan. Kulari ke Pantai merupakan
debut bagi Maisha dan Lil’li, dan saya bisa melihat masa depan cerah untuk
karir film keduanya, yang bisa menjalin interaksi menyenangkan antara dua sosok
berlawanan. Walau sekilas begitu berlainan, sejatinya mereka setipe, sama-sama
mesti berurusan dengan ego masing-masing. Di antara bocah-bocah ini ada Marsha
Timothy yang tak pernah tampak bagai “alien” dalam dunia para bocah. Pasca Marlina
yang kelam, keras, nan brutal, memerankan Uci adalah bukti luasnya jangkauan
akting sang aktris.
Jalur yang diambil naskah buatan Gina S. Noer
(Habibie & Ainun, Posesif), Mira Lesmana (AADC?, Laskar Pelangi), Riri
Riza, dan Arie Kriting (5 Cowok Jagoan: Rise of the Zombies), sebenarnya bukan
jalur terbaik. Alurnya diisi setumpuk rintangan yang berdesak-desakan dalam durasi
112 menit, namun mayoritas tak mempunyai konflik mendalam. Gempuran permaalahannya tipis, mudah terselesaikan, tapi menumpuk sampai terasa penuh sesak. Sisanya
lebih banyak menampilkan kegiatan jalan-jalan plus eksplorasi suasana destinasi
alam. Untung, guliran kisahnya berhasil menangkap esensi indah sebuah
perjalanan. Menemukan tempat baru, orang-orang baru, lalu menjalin persaudaraan
baru pula dengan mereka.
Terpenting, sebagai film anak, Kulari ke Pantai tampil menyenangkan. Komedi yang ditangani Arie
Kriting tampil efektif, sewaktu tiap lokasi konsisten menyimpan “ranjau” yang
siap meledakkan gelak tawa. Saya bakal selalu mengingat Kulari ke Pantai sebagai salah satu film yang paling sukses
memanfaatkan talenta jajaran komika yang tampil dalam porsi secukupnya.
Kuantitas bukan prioritas utama, melainkan kualitas, berkat penokohan unik
dilengkapi hook yang disesuaikan
dengan kelebihan tiap komika. Kemungkinan besar Mukhidi (Dodit Mulyanto) si
pemilik homestay yang berisik akan
jadi favorit penonton. Saya tidak masalah menginap di tempat Mukhidi selama
bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian sebagaimana dirasakan tokoh-tokoh film
ini.
RASUK (2018)
Rasyidharry
Juni 29, 2018
Alim Sudio
,
Dheeraj Kalwani
,
horror
,
KK Dheeraj
,
Miller Khan
,
REVIEW
,
Sangat Jelek
,
Shandy Aulia
,
Ubay Fox
39 komentar
Jamaknya, poster berguna selaku media promosi untuk menarik
penonton, memberi sekilas gambaran mengenai konten suatu film. Tapi Rasuk, selaku produksi gabungan keempat
Dee Company bersama MD Pictures mengangkat esensi poster ke tingkatan lebih
jauh, yakni memprediksi apa yang penonton rasakan kala menyaksikan filmnya. Jika
Shandy Aulia tampak ketakutan akibat ditarik sosok-sosok misterius, saya
terjerat keburukan demi keburukan Rasuk
yang tak butuh waktu lama untuk memancing frustrasi. Tapi film ini patut dirayakan
sebagai pertanda kembalinya Dheeraj Kalwani menuju jati dirinya sebagai KKD
yang kita kenal, puja, dan sayangi bersama.
Tentu Gasing Tengkorak (2017)
dan Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati Bayi
Hidup Lagi Bayi Prematur Bayi Setan (2018) buruk (saya melewatkan Kembang K*nt*l), namun film garapan Ubay
Fox (Valentine) ini paling mendekati
mahakarya Baginda Yang Termahsyur KK Dheeraj. Adegan yang dikemas sedemikian
ajaib berpadu penyuntingan gambar tak kalah gaib? Ada. Hantu dengan riasan
bagai bubur basi? Ada! Andai Rasuk
dirilis satu dekade lalu, Alexis Texas, Lexi Belle, atau Sunny Leone mungkin
bakal direkrut sebagai cameo,
sementara judulnya berubah jadi Kerasukan
Arwah Datang Bulan, atau semacamnya.
Rasuk yang mengadaptasi novel berjudul
sama karya Risa Saraswati, dibuka lewat presentasi sinematografi paling cantik
sepanjang film, walau konteksnya layak dipertanyakan, dan baru dijawab
menjelang akhir, itu pun tetap tak masuk akal. Tapi ini film KKD. Alangkah
baiknya demi kesehatan penonton, logika serta akal sehat disimpan rapat-rapat.
Kala situ Langgir (Shandy Aulia) berada di atas gunung, mengenakan gaun
putih cantik tanpa alas kaki. Awal yang menjanjikan, sayangnya Rasuk merupakan film cerita, bukan video
pre-wedding. Pasca kematian sang
ayah, Langgir mulai membenci dunia, karena merasa sang ibu menyalahkannya atas
peristiwa itu. Akibatnya, Langgir senantiasa murung, bersikap ketus pada semua
orang.
Semua orang kecuali Abimanyu (Miller Khan), pria yang
diam-diam ia sukai. Di depan Abimanyu, Langgir berubah ceria, atau lebih
tepatnya, Shandy Aulia kembali menjadi Tita di Eiffel...I’m In Love. Selain Abimanyu, praktis Langgir bersikap tak
menyenangkan di depan orang lain. Dia membentak adik tirinya yang masih balita,
menyatakan ketidaksukaan pada keluarganya, yang menurutnya dipenuhi kebencian
(meski sejatinya Langgir sendirilah yang penuh rasa benci), pun kesal setengah
mati kepada sahabat-sahabatnya. Kenapa? Karena bagi Langgir kehidupan mereka
terlampau sempurna. Oh, dan dia langsung mengamuk ketika tahu Abimanyu
berpacaran dengan salah satu sahabatnya, padahal sedikitpun tidak pernah ia
bercerita pada mereka.
Bagaimana bisa menaruh simpati untuk Langgir, yang bukannya
tokoh tertindas, melainkan gadis menyebalkan, egois, enggan bersyukur, juga
bersikap pahit terhadap seala hal? Bukan berarti karakter lainnya lebih baik.
Sambutlah geng “Puteri Sejagat”, empat gadis termasuk Langgir, yang mesti
menghadapi lawan luar biasa berat berupa dialog-dialog dalam naskah tulisan
Alim Sudio (Dimsum Martabak, Kuntilanak),
yang penuh kalimat tidak natual berisi perpaduan asal gaya kasual dan resmi,
yang bak ditulis seseorang dengan pemahaman minim tentang interaksi manusia
sehari-hari. Keempat protagonis kita begitu bangga dengan nama “Puteri Sejagat”,
sewaktu bertemu wanita misterius di hutan, hal pertama yang dilakukan adalah
berkenalan kemudian berkata, “kami berempat Puteri Sejagat”, saat seharusnya
mereka membaca doa sapu jagat lalu kabur sejauh mungkin.
Alkisah, “Puteri Sejagat” ingin berlibur ke sebuah villa. Sayang
seribu sayang, jembatan yang mesti dilalui putus, dan dengan begitu berani,
keempatnya memasuki hutan. Bisa ditebak, mereka pun tersesat. Tapi tenang,
setidaknya papan penunjuk jalan sudah menyebut villa tujuan mereka berada di
Utara. Masalah timbul ketika jalan bercabang. Kompas sudah menunjukkan mana
arah Utara, tapi feeling salah satu
anggota “Puteri Sejagat” berkata kalau Selatan adalah arah yang tepat. Mana
yang akhirnya dipilih? Tentu saja Selatan. Percayalah pada kata hatimu.
Persetan dengan kompas dan papan kayu. Tahu apa benda-benda mati itu soal arah.
Luar biasa bodoh para tokoh utama kita, hingga elemen
persahabatan ditambah pesan mengenai “semua punya masalah, jangan mengira
dirimu paling menderita” terkubur bersama arwah penasaran, yang tiap kali
muncul, disertai gebrakan efek suara memekakkan telinga. Bahkan tatkala hantu
muka bubur basi tak muncul menyerang “Puteri Sejagat”, telinga kita terus saja
diserang tata suara berisik tersebut. Mungkin pembuat filmnya mengira, jika
volume ditingkatkan ke titik maksimal, penonton bakal tertipu, mengira di layar
sedang terjadi sesuatu. Di sebuah kesempatan, Langgir memarahi teman-temannya
karena berteriak meminta bantuan. “Berisik!”, begitu ucapnya. Wahai Langgir,
itu pula yang ingin saya sampaikan pada film ini.
Sekitar 90% bangku penonton terisi dan nyaris semua terhibur,
selalu berteriak ketakutan. Kondisi ini bisa memicu anggapan, “mengapa
repot-repot membuat film bagus kalau suguhan berkualitas rendah macam ini pun
laku keras dan disukai?”. Melalui Rasuk,
KKD seolah mengacungkan jari tengah kepada penonton film Indonesia yang peduli
dan mengharapkan tontonan berkualitas. Tapi kalau anda tetap penasaran, saya
sarankan datang saja ke bioskop dengan tata suara terbaik yang menayangkan film
ini. Begitu film dimulai, tidak perlu masuk, cukup duduk di samping studio.
Pasang telinga baik-baik, dan anda tetap bisa mendengar gempuran-gempuran tata
suaranya. Tidak perlu menyaksikan gambarnya, toh pembuatnya merasa, teror dalam
horor bisa dicapai lewat gelaran musik berisik saja.
SICARIO: DAY OF THE SOLDADO (2018)
Rasyidharry
Juni 28, 2018
Benicio del Toro
,
Catherine Keener
,
Crime
,
Dariusz Wolski
,
Elijah Rodriguez
,
Hildur Guðnadóttir
,
Isabela Moner
,
Josh Brolin
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Stefano Sollima
,
Taylor Sheridan
,
Thriller
6 komentar
Sicario pertama (2015) bicara soal “sosok
putih”, agen FBI bernama Kate Macer (Emily Blunt), yang mempelajari realita
abu-abu setelah ditampar keras oleh ambiguitas moral di mana hukum tak berlaku.
Pada sekuelnya, giliran dua sosok “penampar” Kate lah yang mendapati bahwa
ketiadaan hukum mereka pun nampak bersih di hadapan intrik kotor politik
internasional. Di satu kesempatan, agen CIA Matt Graver (Josh Brolin)
menyuarakan kejengahannya pada sang atasan, Cynthia Foards (Catherine Keener),
bahwa langkah yang diambil pemerintah takkan mengubah apa pun. Respon Cyhnthia
membuat Matt, si prajurit brutal nihil aturan tampak bak bocah naif.
Ada pula dua muda-mudi terlibat dalam konflik: Isabela Reyes
(Isabela Moner), puteri bungsu seorang pimpinan kartel Meksiko yang di sekolahnya
bisa bersikap layaknya bos mafia tanpa takut tersentuh hukuman guru, dan Miguel
Hernandez (Elijah Rodriguez), remaja Meksiko-Amerika yang ingin menjadi
kriminal. Seperti Kate di film pertama, Isabela dan Miguel bagai domba, tapi di
sini, domba-domba itu berlagak layaknya serigala, hingga akhirnya nasib
mempertemukan mereka dengan kawanan serigala sungguhan yang tengah berperang. Apakah
domba-domba ini akan jadi mangsa, kembali ke habitatnya, atau bertransformasi
menjadi predator pula? Konklusinya memberi siratan cukup jelas bagi arah
lingkaran kehidupan yang bakal mereka tempuh.
Day of the Soldado membahas dua pokok persoalan yang
belakangan makin kerap menyulut kontroversi, khususnya di Amerika, yakni
serbuan teroris asing serta imigran. Tapi Taylor Sheridan (Sicario, Wind River, Hell or High Water) yang masih menulis
naskahnya tak tertarik menjabarkan “Apa yang seharusnya dilakukan?”, melainkan
“Apa yang selama ini sudah dilakukan dari di balik layar”. Setidaknya menurut
perspektif Sheridan, yang membuka filmnya langsung lewat hantaman mencekat dan
menegangkan berupa aksi bom bunuh diri. Sayang, ketegangan di tingkatan setara
gagal terulang di sisa durasi. Kementrian Pertahanan mengutus Matt guna menutup
jalur para terors yang diselundupkan oleh kartel di Meksiko.
Taktik adu domba diterapkan. Kembali dibantu Alejandro
(Benicio del Toro), Matt menculik puteri pimpinan kartel, Isabela, lalu
mengaturnya agar tampak seperti perbuatan kartel saingan. Tujuannya agar kedua
belah pihak saling menghancurkan tanpa perlu campur tangan pemerintah Amerika,
yang nantinya diharapkan memutus mata rantai terorisme. Meski jika ditanya
mengenai definisi terorisme, Matt menjawab, “Tugas Menteri Pertahanan untuk
menyematkan definisi itu ke siapa”. Di sini Sheridan tengah menyentil tentang
Amerika, sang negeri adidaya, mampu pengelompokkan “si baik” dan “si jahat”
sesuai kepentingan mereka.
Artinya, ambiguitas pendahulunya masih dipertahankan.
Sheridan menegaskan ketiadaan kepastian soal siapa kawan maupun lawan, yang
diwakili suatu momen yang ia tulis secara cerdas tatkala Isabela berhasil
“diselamatkan” dari kurungan penculik. Tapi tidak semua momen tampil secerdik
itu. Ada kalanya rencana Sheridan pintar, ada kalanya tidak masuk akal. Atau
mungkin di dalam imajinasinya, itu masuk akal, hanya saja, akibat kebencian
Sheridan terhadap eksposisi (diakuinya sendiri), banyak poin terkesan
membingungkan. Bahkan lebih membingungkan ketimbang film pertama karena kali
ini konspirasi bertambah rumit seiring skala yang turut membesar, juga
melibatkan lebih banyak pihak. Kadang kebingungan tersebut mempengaruhi
intensitas.
Untung penyutradaraan Stefano Sollima (Suburra) solid. Mengusung tempo lebih cepat, toh kita tetap bisa
menemukan pergerakan kamera yang melayang lambat khususnya dalam establishing shot, yang mengingatkan
akan gaya Denis Villeneuve. Masih dipertahankan pula musik atmosferik nan
menghantui, walau departemen musik sekarang ditangani Hildur Guðnadóttir,
menggantikan mendiang Jóhann Jóhannsson. Tidak mengherankan, sebab keduanya
pernah berkolaborasi di Mary Magdalene
(2018), dan Guðnadóttir pernah memainkan cello dalam Arrival (2016) yang musiknya digubah Jóhannsson. Sayang, meski
tetap sedap dipandang, sinematografi Dariusz Wolski (The Martian, Prometheus) nyatanya tak seindah karya Roger Deakins.
Tidak ada Emily Blunt yang kehadirannya berfungsi sebagai
kacamata penonton mengintip kerasnya dunia kriminalitas, namun Day of the Soldado masih punya Josh
Brolin dan Benicio del Toro, dua aktor yang mampu menebarkan aura machismo
cukup dengan duduk diam atau bertutur secara kasual. Karakter peranan del Toro
memperoleh story arc bersifat
personal selaku lanjutan film pertama, yang lagi-lagi Cuma berujung sempilan di
tengah tanpa dampak emosi. Tidak ada pilihan lain. Apabila Sheridan begitu
getol ingin menguatkan elemen drama di sekitar Alejandro, ia membutuhkan
filmnya sendiri. Sementara Brolin memantapkan status sebagai “actor of the year”. Pasca Thanos, Cable,
lalu Matt, pesan yang muncul jelas: “Jangan macam-maca dengan Josh
Brolin!”.
Konklusinya membuka lapang beragam kemungkinan untuk kisah
masa depan andai seri Sicario dilanjutkan.
Kemungkinan yang rasanya nyaris tidak berujung mengingat kriminalitas dan
konspirasi politik merupakan jalur utamanya. Tapi di waktu bersamaan, konklusi
tersebut melucuti gambaran kerasnya dunia gelap milik seri Sicario, di mana semestinya tak ada pihak yang aman dalam tempat
sekelam nan semematikan ini. Sicario: Day of the
Soldado tidak se-memorable
pendahulunya, tidak pula mengandung teror yang sama kuatnya, tetapi sebagai
sajian aksi/thriller semata, Day of the Soldado memberikan
cengkeraman cukup kencang.
BAD SAMARITAN (2018)
Rasyidharry
Juni 27, 2018
Brandon Boyce
,
Carlito Olivero
,
David Tennant
,
Dean Devlin
,
Lumayan
,
REVIEW
,
Robert Sheehan
,
Thriller
2 komentar
Bad Samaritan menampilkan Robert Sheehan sebagai
Sean Falco, sang protagonis yang bersama rekannya, Derek (Carlito Olivero),
menjalankan aksi perampokan berkedok parkir valet di sebuah restoran. Modus
operandinya, salah satu dari keduanya akan menyatroni rumah korban dengan memanfaatkan
GPS dalam mobil, lalu mengambil barang-barang kecil agar korban tak menyadari
aksi tersebut. Sean dan Falco pikir metode itu menjamin mereka lolos, tapi
tidak, sebab Bad Samaritan memastikan
kejahatan itu, serta hal-hal buruk lain yang Sean perbuat (sengaja/tidak,
besar/kecil) akan menerima balasan. Ini bukan soal justifikasi kriminalitas atau
kebodohan muda-mudi yang berbuat tanpa pikir panjang, sebagaimana bertebaran di
banyak sajian thriller, melainkan
soal penebusan kesalahan, dan itu yang membuatnya menarik.
Melalui naskahnya, Brandon Boyce ingin menghukum Sean tanpa
membuat filmnya menjadi nihilis. Prosesnya tidak mudah, konklusinya pun tak
bisa sepenuhnya disebut “akhir bahagia”, namun ada secercah cahaya tatkala
perlahan sang tokoh utama mampu berubah melalui cara yang bisa dipercaya. Sebab
cuma orang dengan kebebalan luar biasa yang menolak berubah pasca menghadapi
permasalahan serupa Sean. Fakta bahwa ia pun berusaha menyelamatkan nyawa turut
membuat prosesnya bukan Cuma believable,
pula likeable.
Sekali lagi, ini bukan perjalanan mudah. Target perampokan
terbaru Sean dan Derek adalah Cale Erendreich (David Tennant), pria pengendara
Maserati yang sombong, necis, dan tentu saja kaya raya. Merasa mendapat durian
runtuh, Sean bergegas menguras barang-barang di rumah Cale, sampai ia menemukan
seorang wanita dirantai di sebuah kamar dalam kondisi mengenaskan. Sean memilih
kabur, keputusan yang memicu rasa bersalah, yang ujungnya, juga memicu “kucing-kucingan”
ketika Cale menyadari perbuatan Sean. Cale bukan kucing sembarangan.
Bermodalkan sumber daya (baca: kekayaan) melimpah, Cale membuat pertarungan ini
berat sebelah. Betapa tidak? Cale mampu mengontrol seisi rumahnya dari telepon
genggam, memiliki senjata, pun alat pelacak.
Di bawah penyutradaraan Dean Devlin (Geostorm), “kucing-kucingan” itu mengalir dinamis, punya ketepatan
tempo, bertabur kejutan dengan kadar memadahi. Mencapai pertengahan, alih-alih
kehabisan bensin, Bad Samaritan
justru melangkah ke arah tak terduga. Ketimbang meruncing, konfliknya justru
melebar, selaku cara menunjukkan sejauh apa Cale mampu menghancurkan
kehidupan Sean, meski detail terkait “bagaimana” urung dijabarkan. Seperti
perkataan Cale, “You don’t know how rich
I am”, akhirnya memang sebatas itu yang kita tahu. Hal serupa terjadi saat
filmnya berusaha memaparkan motivasi sang antagonis melalui penjelasan latar
belakangnya oleh FBI (yang muncul hanya untuk memberi eksposisi). Cale
menderita masalah psikologis yang dipicu peristiwa masa kecil. Itu saja.
Tapi melihat penampilan David Tennant, melihat tatapan
bengisnya, mengamati senyum yang tersungging di bibirnya, mengikuti kecerdikan serta kecermatan taktiknya, mudah meyakini bahwa Cale
adalah pria dengan gangguan mental sewaktu naskahnya gagal tampil semeyakinkan
itu. Terkait naskah, saya pun terganggu dengan beberapa lubang logika. Cale
merupakan sosok cerdik, cermat, nan teliti, tetapi saat ia coba menjebak Sean menggunakan
bom, Cale justru meninggalkan Maserati disertai kuncinya yang tergeletak di tempat
biasa, memberi Sean jalan melarikan diri. Mengapa tidak menyingkirkannya dulu? Paling
tidak, cukup dengan melenyapkan kuncinya. Dengan uang plus kekuatan melimpah
miliknya, tak bisakah Cale menyewa orang untuk mengambil mobil itu?
Bodoh memang, dan karena Bad
Samaritan digarap memakai pendekatan serius, dilengkapi segala elemen
moralitasnya. Lain cerita kalau keseluruhan filmnya memakai gaya seperti third act-nya, kala selama sekitar 10
menit, Bad Samaritan
bertransformasi jadi lebih ringan, menyelipkan humor menggelitik, enggan
menganggap dirinya terlampau serius. Pada momen singkat itu pula David Tennant
melepaskan topeng ketenangan yang ia kenakan, tampil meletup sebagai antagonis over-the-top yang tetap menyenangkan
disaksikan. Tapi bukan masalah. Lubang-lubang logika yang ada hanya “kejahatan
kecil” yang berhasil ditebus oleh kebaikan lebih besar lain berupa poin-poin
positif filmnya. Seperti tokoh utamanya, Bad
Samaritan mampu menebus keburukan dirinya.
HEREDITARY (2018)
Rasyidharry
Juni 26, 2018
Alex Wolff
,
Ari Aster
,
Bagus
,
Colin Stetson
,
horror
,
Milly Shapiro
,
REVIEW
,
Toni Collette
35 komentar
Sering title card
film horor menampilkan bait ayat suci atau kutipan bernuansa mistis dari
literatur lama yang intinya menyiratkan eksistensi kekuatan jahat, biasanya
iblis. Tapi Hereditary, selaku debut
penyutradaraan Ari Aster, justru memasang obituary,
alias berita kematian berisi nama almarhum, keluarga yang ditinggalkan, waktu
serta tempat pemakaman, sebagai pembuka. Karena di sini, kegelapan datang bukan
dari dalam perut neraka, melainkan hati manusia, dari kematian, juga keluarga
disfungsional. Menilik film-film pendek Aster macam The Strange Thing About the Johnsons (2011) hingga Munchausen (2013), hal-hal di atas
memang pokok bahasan favorit sang sutradara.
Annie (Toni Collette) tengah berduka setelah sang ibu, Ellen,
meninggal. Setidaknya itu yang baginya mesti ia rasakan. Tapi hubungan renggang
di antara mereka menciptakan situasi kompleks. Dari cerita Annie, kerenggangan
itu karena Ellen mengidap penyakit psikologis yang memunculkan perilaku aneh
yang sukar dipahami. Tapi sungguh, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Saudara
kandung Annie menderita skizofrenia lalu meninggal bunuh diri, sementara Annie
sendiri, well, silahkan kalian
simpulkan sendiri. Pastinya, tampak ada yang kurang beres pada puteri Annie,
Charlie (Milly Shapiro). Ketika kakaknya, Peter (Alex Wolff), sibuk dengan tetek
bengek remaja kebanyakan (baca: menghisap ganja), mengoleksi bagian tubuh
bangkai burung jadi aktivitas Charlie.
Sebelum menonton, perlu diketahui bahwa Hereditary bukan horor jalur utama. Lambat panas, bertempo pelan,
dengan jump scare berkuantitas
minimal yang sekalinya datang, tanpa musik menggelegar. Sebagai gantinya, jenis
suara lain akan mengisi. Suara yang besar kemungkinan bakal terus anda coba
tirukan pasca filmnya usai. Bahkan suara itu pun seringkali absen tatkala Aster
memilih mencekik penonton menggunakan kesunyian. Sedangkan musik garapan Colin Stetson lebih ditujukan selaku pembangun atmosfer daripada alat pacu jantung dadakan. Apakah film ini mengerikan?
Saya jawab, “Ya!”, walau bukan jenis kengerian seperti saat kita sedang berada
di kegelapan sendirian, lalu takut kalau-kalau sesosok hantu bakal menampakkan
diri.
Saya dibuat terikat pada paparan kondisi batin Keluarga
Graham, khususnya Annie, berkat naskah yang juga hasil tulisan Aster. Satu demi
satu lapisan tersingkap, dan semakin dalam kita mempelajari kegelapan dalam
dirinya, yang juga dimiliki ibu beserta anak-anaknya (menjelaskan makna di
balik judul “Hereditary”), kengerian
pun mulai merayap. Kengerian yang dipicu usaha membayangkan dan ikut merasakan
betapa kacau pula terganggunya keluarga ini. Colette sanggup mewakii segala
kekacauan tersebut. Melihat sosoknya bagai melihat wajah seseorang yang tengah
menatap neraka, atau setidaknya mimpi buruk yang terlampau nyata.
Bukan berarti Hereditary tanpa wujud kengerian tradisional. Aster memiliki visi mumpuni sekaligus
daya kreasi tinggi guna menghasilkan gambar-gambar—khususnya di third act—creepy, aneh, dan disturbing
yang jarang atau bahkan belum pernah ditawarkan horor mana pun. Dampak yang
dihasilkan pun bukan sambil lalu. Banyak gambar-gambar buatan Aster bakal
mengendap lama di otak. Seusai menonton, pada tengah malam saya duduk sendirian
di teras rumah sambil menikmati rokok dan kopi, sebelum memori akan berbagai
adegan muncul ke permukaan, dan saya segera masuk tanpa pikir
panjang. Ya, Hereditary punya efek pasca
yang kuat, walau ada kalanya saya berharap Aster mempercepat tempo ketika tiada
satu pun hal terjadi di layar, dan sebaliknya, bertahan lebih lama di sebuah
momen mencekam untuk memberi penonton waktu merasakan takut yang hendak
disulut.
Poin mengagumkan berikutnya adalah bagaimana naskah milik
Aster mampu menanam benih-benih petunjuk dengan amat rapi. Sehingga saat fakta-fakta
perlahan mulai diungkap, selama anda bersedia memperhatikan beragam detail,
timbul kepuasan luar biasa menyaksikan seluruh keping puzzle tersusun sempurna.
Hereditary enggan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan
tak terjawab untuk penontonnya. Begitu film berakhir, semua titik telah
terhubung, kita akan mengerti kebenaran di balik hal-hal mistis yang terjadi,
kita akan mengerti makna dari elemen-elemen misterius yang bertebaran sepanjang
durasi, kita pun akan memahami karakternya, termasuk motivasi mereka, secara
menyeluruh. Begitu film berakhir, Hereditary
terasa lengkap, utuh, jauh lebih utuh ketimbang kondisi luar-dalam Keluarga Graham.
JAILANGKUNG 2 (2018)
Rasyidharry
Juni 18, 2018
Amanda Rawles
,
Baskoro Adi Wuryanto
,
Gabriella Quinlyn
,
Hannah Al Rashid
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jefri Nichol
,
Jose Purnomo
,
Kurang
,
Lukman Sardi
,
Naufal Samudra
,
REVIEW
,
Rizal Mantovani
,
Ve Handoyo
9 komentar
Jailangkung 2 diawali dengan meyakinkan, memberi
penyegaran dengan membawa kisahnya mundur jauh ke belakang, tepatnya pada 1947
untuk mengaitkan Matianak dengan legenda SS Ourang Medan, kapal yang konon karam
akibat kecelakaan misterius berbau mistis. Sekuen—yang sayangnya terlampau
singkat—itu bukan cuma menghadirkan suasana berbeda, pula berpotensi melebarkan
mitologi cerita, di mana Matianak dikurung dalam kargo SS Ourang Medan. Untuk
apa? Pertanyaan-pertanyaan logika serupa terulang berkali-kali, tapi tanya yang
lebih besar adalah “kenapa sekuel ini dibuat jika orang-orang yang terlibat
tampak setengah hati?”. Demi uang tentu saja. Bodohnya saya bertanya.
Padahal menengok konsepnya, Jailangkung 2 jelas sekuel ambisius. Lebih mahal, lebih besar,
punya lingkup lebih luas. Dimulai di tengah samudera, kisahnya berlanjut
menceritakan nasib tokoh-tokohnya pasca film pertama. Bella (Amanda Rawles) mendapati
keluarganya masih diteror Matianak. Ayahnya, Ferdi (Lukman Sardi) tetap
dihinggapi rasa tidak tenang, sementara sang kakak, Angel (Hannah Al Rashid) berada
di bawah pengaruh Matianak dalam wujud bayi yang ia lahirkan di film
sebelumnya. Kedua mata bayi itu berwarna putih, menyeramkan, tapi entah
bagaimana pihak rumah sakit seolah tak merasa ada kejanggalan.
Si puteri bungsu, Tasya (Gabriella Quinlyn), secara tak
sengaja menyaksikan video ayahnya bermain jailangkung, lalu terinspirasi
membuat jailangkung sendiri guna berkomunikasi dengan mendiang sang ibu.
Tindakan inilah awal segala teror yang memicu Bella, bersama Rama (Jefri
Nichol), melakukan perjalanan mencari jimat Kurungsukmo yang dipercaya bisa
membendung kekuatan Matianak, setelah memperoleh informasi dari Bram (Naufal
Samudra) si mahasiswa baru. Perjalanan ini diisi ragam tindakan karakter yang
terjadi semata sebagai pembuka jalan menyelipkan jump scare alih-alih didasari motivasi logis. Bella misalnya,
mendadak bergegas ke WC untuk cuci tangan. Bisa jadi dia menjunjung tinggi
kebersihan, meski saya yakin ini sekedar cara malas Ve Handoyo dan Baskoro Adi
Wuryanto (Gasing Tengkorak, Ruqyah: The
Exorcism) dari departemen penulisan naskah supaya Bella seorang diri di
ruangan gelap. Begitu lampu WC padam, daripada kabur, ia justru nekat
menyelidiki.
Di saat bersamaan Ferdi tinggal di rumah, berusaha mencari
Tasya yang hilang setelah bermain jailangkung. Selaras dengan tema kekeluargaan
yang diusung, Ferdi pun coba digambarkan sebagai seorang ayah dengan kepedulian
tinggi pada ketiga puterinya, walau tatkala Bella pamit ingin mencari jimat,—yang
jelas sebuah perjalanan berbahaya—Ferdi tak merasa perlu menanyakan
destinasinya. Benar saja, gangguan makhluk halus setia mengintai Bella dan
kawan-kawan. Bram berkata, bahwa semakin tinggi niat mereka menyingkirkan
Matianak, semakin banyak pula setan mengganggu demi menggagalkan usaha itu. Satu
momen singkat sempat memperlihatkan para hantu merangkak di depan Matianak
layaknya rakyat jelata memuja sang raja. Setidaknya poin itu cukup sebagai “rules”, penjabaran mengapa hantu-hantu
selain Matianak ikut meneror.
Samudera ganas baik di permukaan maupun kedalaman hingga Keraton
gaib Alas Ketonggo jadi contoh lokasi yang disinggahi petualangan Jailangkung 2. Cenderung nampak seperti
ajang unjuk gigi bujet besar ketimbang parade kengerian, untungnya variasi
lokasi serta cukup baiknya kualitas CGI menjadikan film ini tidak semelelahkan
mayoritas horor lokal buruk yang hanya bertahan di lokasi tunggal nan monoton. Petualangan
berskala besar ini sayangnya berakhir ala kadarnya, sewaktu jimat Kurungsukmo
yang telah tersembunyi selama puluhan tahun dalam reruntuhan kapal di dasar
laut jauh lebih mudah ditemukan ketimbang remote televisi yang hilang.
INSYA ALLAH SAH 2 (2018)
Rasyidharry
Juni 17, 2018
Action
,
Anggy Umbara
,
Bounty Umbara
,
Comedy
,
Cukup
,
Donny Alamsyah
,
Herry B. Arissa
,
Indonesian Film
,
Luna Maya
,
Nirina Zubir
,
Pandji Pragiwaksono
,
Ray Sahetapy
,
REVIEW
8 komentar
Seorang wanita yang hamil sebelum menikah dan seorang
perampok yang kabur dari penjara demi menikahinya. Film pertama Insya Allah Sah (2017) takkan
menempatkan Raka (Pandji Pragiwaksono) di antara kedua sosok tersebut, karena
filmnya sendiri rasanya takkan mau menjustifikasi mereka. Saya tidak tahu bagaimana
jalan cerita novel karya Achi TM selaku sumber adaptasinya, tapi Insya Allah Sah 2 jelas tampil lebih
baik ketimbang pendahulunya karena kesediaan memandang tokoh-tokohnya sebagai
manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan. Raka lebih toleran pada dua
protagonis yang punya pandangan hidup berbeda dengannya, untuk itu saya mesti
bersikap sama terhadapnya dan film ini.
Mungkin anda ingat betapa saya membenci film pertamanya.
Pembaca reguler blog ini pun rasanya tahu betapa saya membenci polisi moral
seperti Raka. Sebagai karakter, ia tidak berproses, hanya muncul mendadak
layaknya hantu, kemudian berceramah. Fakta bahwa Raka adalah sosok manchild tidak menjadikannya lebih baik.
Karena berbeda dibanding para manchild
dalam komedi berkualitas, sebutlah Will Ferrell dalam Elf (2003), meski berdandan dan bicara bagai bocah, Raka memahami
konsep-konsep yang cuma dipahami orang dewasa. Sehingga ketika ia mencampuri
urusan orang-orang di sekitarnya, itu bukan hasil kepolosan bocah yang
memandang dunia secara hitam-putih.
Kali ini Raka masih gemar berpetuah, namun ia mampu, atau
tepatnya mau melihat kebaikan dalam keputusan (yang menurutnya) buruk dari seseorang.
Pun acap kali di tengah ceramahnya, Raka mendapat todongan pistol di kepala,
seolah Anggy Umbara (Warkop DKI Reborn:
Jangkrik Boss!, Tiga) dan Herry B. Arissa (Generasi Kocak: 90-an vs Komika, Selebgram) selaku penata skrip
berkata, “diem lo!”. Tapi Raka memang sulit didiamkan, bahkan ketika terlibat
baku tembak bersama Gani (Donny Alamsyah), yang baru saja nekat kabur dari
penjara lalu merampok uang Freddy Coughar (Ray Sahetapy) si mafia, semua demi
menikahi Mutia (Luna Maya) yang sedang hamil tua. Untuk itu, uang sebesar 250
juta dibutuhkan.
Mungkin alasan mengapa ceramah Raka terasa tidak segencar
sebelumnya karena sekuel ini cenderung berorientasi pada aksi. Sekali lagi,
saya belum membaca sumber adaptasinya, sehingga tidak tahu apakah Achi TM
memang menggeser pendekatan novelnya ke arah laga. Tapi pemilihan Anggy Umbara
dan Bounty Umbara (Mama Cake, Rafathar)
guna duduk di kursi sutradara jelas tepat. Gaya-gayaan di antara rentetan momen
aksi seolah mendarah daging dalam diri Umbara Bersaudara, dan meski Insya Allah Sah 2 tak punya gelaran aksi
luar biasa, elemen tersebut jelas jauh lebih menghibur daripada menyaksikan
ceramah agama selama 90 menit.
Raka (dan agama) sekedar jembatan dalam proses Gani belajar
bahwa tidak semua masalah dapat terselesaikan lewat kekerasan dan amarah. Bukan
studi permasalahan mendalam, tapi Insya
Allah Sah 2 setidaknya menampilkan pergulatan personal. Saya bisa
membayangkan kisah Gani-Mutia dieksekusi tanpa unsur agama dan tetap dapat
bekerja dengan baik (bahkan mungkin lebih), sebab ini kisah manusia yang
berdamai dengan dirinya, bukan menemukan cahaya agama atau Tuhan. Gani ingin
berubah bagi orang-orang tercintanya, juga demi nazar, demi janji, yang tanpa
memakai perspektif agama pun, memang wajib ditepati.
Ada satu momen khusus yang seketika membuat Gani menjadi
protagonis yang likeable serta layak
didukung, yakni ketika Mutia menceritakan beberapa rahasia pada Raka di suatu
restoran. Sebelumnya, kita pun sempat diajak mengintip masa lalu kelam nan
berat miliknya, yang turut memberi Donny Alamsyah kesempatan memamerkan akting
dramatis, melalui lontaran amarah menusuk yang mampu mendiamkan semua orang di
ruangan. Kesukaran menggelayuti hidup tokoh-tokohnya, tapi tentu saja senjata
utama Insya Allah Sah 2 tetap komedi.
Beberapa humor bekerja efektif, sebutlah absurditas yang melibatkan telepon
genggam dan suara tangis bayi, Jingga (Nirina Zubir) si polisi cantik yang
mudah terbuai oleh pujian, atau bila anda tetap membenci penokohan Raka, anda
akan bahagia melihatnya jadi korban serbuan bersin bertubi-tubi.
DIMSUM MARTABAK (2018)
Rasyidharry
Juni 17, 2018
Alim Sudio
,
Andreas Sullivan
,
Ayu Ting Ting
,
Boy William
,
Chew Kin Wah
,
Ferry Salim
,
Indonesian Film
,
Kurang
,
Muhadkly Acho
,
REVIEW
,
Romance
16 komentar
Meniliki judulnya, wajar mengira Dimsum Martabak adalah suguhan foodporn
penuh pertunjukan masak-memasak dan menyajikan makanan, yang berkat
estetikanya, tak cuma menyegarkan mata, juga memancing kucuran air liur. Tapi
tidak. Sutradara Andreas Sullivan (Revan
& Reina, Sawadikap) enggan mengedepankan itu, atau mungkin telah
berusaha, namun karena ia dan Fachmi J. Saad (Hongkong Kasarung, Winter in Tokyo) selaku penata kamera kurang
mumpuni, target yang dicanangkan urung tercapai. Dimsum dibuat, martabak
disajikan, tapi seluk beluk pengolahan hanya terjadi di belakang layar, membuat
produksi kedua RA Pictures ini belum layak disebut foodporn.
Dimsum Martabak cenderung menyusuri jalur yang
dibentangkan formula klasik “Kisah Cinderella”, di mana gadis (atau puteri)
miskin bertemu lelaki (atau pangeran) kaya, meski ketimbang kuda putih, sang
pangeran kini menunggangi truk martabak kuning kemudian Ferrari merah. Walau
untuk menyebut Mona yang diperankan Ayu Ting Ting, dengan riasan lengkap apik,
bukan norak, yang senantiasa menghiasi wajahnya sebagai “gadis miskin” terasa
sulit dipercaya. Tidak peduli ia sekedar pelayan terpercaya di restoran milik
Koh Ah Yong (Chew Kin Wah) yang menyajikan dimsum sebagai menu andalan.
Jika Mona adalah “si dimsum”, maka siapakah “si martabak”?
Perkenalkan Soga (Boy William) yang menjual martabak memakai truknya bersama
Dudi (Muhadkly Acho). Dodi, sebagaimana contoh sidekick yang baik, mampu mencuri perhatian melalui celotehan-celotehan
serta tingkah menggelitik, yang jadi motor paruh pertama filmnya, menghadirkan
hiburan ringan menyenangkan sebelum dimsum dan martabak bersatu. Pada romansa berbasis
“kisah Cinderella” begini, tiga fase patut diperhatikan: 1) Bagaimana kedua
protagonis mulai saling terpikat walau ada jurang perbedaan, 2) Bagaimana cinta
keduanya menguat, 3) Bagaimana perbedaan tadi membuat keduanya ragu bisa terus bersama
sebelum dipersatukan kekuatan cinta. Penonton harus dibuat yakin oleh ketiga
fase di atas.
Fase pertama terjadi kala Mona, yang kebetulan di suatu malam
mengenakan baju yang lebih bagus dari biasanya, menyeberang jalan dan nyaris
tertabrak truk milik Soga yang hanya mampu diam terpukau, sementara Mona, meski
terkejut karena nyaris celaka, merespon setenang mungkin, sembari tersenyum
memasang lirikan cantik. Tidak mengherankan. Dia adalah gadis yang terbangun
pukul 1 dinihari memakai riasan lengkap termasuk bulu mata lentik. Dibalut
gerak lambat, pertemuan pertama dua sejoli tak bisa “lebih sinetron” dari ini.
Singkat cerita, kecemburuan istri kedua Koh Ah Yong
menyebabkan Mona dipecat, dan karena Soga telah terpikat, mudah baginya
menerima Mona bekerja di warung martabaknya sebagai perancang sistem. Dalam
sebuah adegan yang jelas terinspirasi (kalau enggan disebut mengambil) dari The Founder (2016), Mona mengajarkan
sistem buatannya di tengah lapangan yang digambari menggunakan kapur. Bedanya
dengan film biografi Ray Kroc itu, adegan versi Dimsum Martabak takkan membuatmu terpukau, karena ide Mona sekedar common sense ketimbang terobosan jenius,
pun pengemasan Andreas gagal menjadikannya momen intens yang melibatkan
penonton dalam proses perencanaan.
Rasanya tidak mengejutkan saat saya menyebut duet Ayu-Boy
kekurangan chemistry. Keduanya sebatas
pasangan berparas rupawan tanpa jangkauan emosi luas yang diperparah penokohan dangkal
dari naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak,
Ayat-Ayat Cinta 2). Mona adalah gadis sederhana yang memahami sistem warung
makanan, Soga adalah bocah kaya yang menolak meneruskan bisnis ayahnya (Ferry
Salim) demi impian pribadi. Itu saja. Nihil karakterisasi spesifik pemberi daya
tarik kala berinteraksi. Memang sulit berharap pada naskah yang dalam dialognya
menulis “pesan order” dan “paling
terberat”. Walau bukan tak mungkin dua istilah ajaib itu dikarang sendiri oleh
Ayu, sebagai contoh betapa ia masih kerepotan menangani kalimat-kalimat pada
debut layar lebarnya.
Konflik puncaknya sederhana, bahkan berjalan datar hasil penyutradaraan
Andreas yang kurang piawai membangun dinamika dramatis juga ketidakmampuan
naskah menyelipkan permasalahan kompleks yang ditutup oleh resolusi kental
penggambangan. Babak akhirnya berpindah ke setting berbeda, tapi saat itu saya
sudah kesulitan membuka mata. Ya, ini lebih pantas ditayangkan di televisi,
tapi kalau anda tak mengharapkan tontonan bergizi, filmnya masih menjadi
hiburan yang layak dengan segala keklisean dan elemen cheesy miliknya. Masalah terbesar bukan terletak di kedangkalan
maupun kebodohan cerita, melainkan ketiadaan dinamika. Dimsum Martabak bukan bencana. Cuma santapan membosankan.
INCREDIBLES 2 (2018)
Rasyidharry
Juni 17, 2018
Animated
,
Bagus
,
Bob Odenkirk
,
Brad Bird
,
Catherine Keener
,
Craig T. Nelson
,
Holly Hunter
,
Huck Milner
,
Michael Giacchino
,
REVIEW
,
Samuel L. Jackson
,
Sarah Vowell
15 komentar
Jika The Incredibles (2004)
merupakan parodi film pahlawan super bertemu drama keluarga kelas menengah di
pinggiran kota—pekerjaan membosankan sang ayah, ibu rumah tangga—dengan keseharian
monoton mereka, maka Incredibles 2,
walau tetap menyoroti nilai kekeluargaan dan aksi para pemilik kekuatan super,
menyentil isu yang mengikuti zaman, yakni peran gender. Bagaimana jika ibu
mempunyai pekerjaan mapan di luar sedangkan ayah mengurus rumah? Pria pemegang
teguh nilai patriarki bakal kelabakan bahkan merasa terhina. Itu sebabnya ada
relevansi pula urgensi tinggi di sini.
Melanjutkan akhir film pertama tatkala Mr. Incredible alias
Bob Parr (Craig T. Nelson), Elastigirl alias Helen Parr (Holly Hunter), bersama
ketiga anak mereka menghadapi Underminer, meski hukum masih melarang aksi
pahlawan super berkostum. Mereka yakin aksi tersebut baik, tapi ketika berujung
melanggar hukum, apakah definisi baik masih layak disematkan? Secercah harapan
muncul dari Winston Deavor (Bob Odenkirk), pemilik perusahaan telekomunikasi
sekaligus penggemar berat pahlawan super, yang menawarkan jalan agar
petinggi-petingi dunia bersedia menghentikan pelarangan terhadap pahlawan
super. Kuncinya tak lain menggaet dukungan publik.
Rencana Winston dan adiknya, Evelyn (Catherine Keener) si
ahli teknologi, adalah memasang kamera di tubuh pahlawan super, supaya publik
dapat memahami lebih jauh seluk beluk di tengah pertarungan melawan kejahatan.
Supaya publik tahu, betapa keselamatan mereka jadi prioritas utama para jagoan.
Mengacu pada data soal “seberapa destruktif” tiap-tiap jagoan kala beraksi,
Elastigirl, yang memiliki tingkat terendah pun dipilih. Data tersebut membawa
kita sedikit mengintip tentang tema gender yang diangkat. Mr. Incredibles
(pria) cenderung mengandalkan otot, tanpa pikir panjang, sementara Elastigirl
(wanita) lebih taktis dan mengedepankan otak. Pekerjaan bagi sang istri
mengharuskan Bob tinggal di rumah menjaga ketiga buah hati.
Seperti kebanyakan suami, Bob yakin tetek bengek rumah tangga
bukan perkara sulit dan akan mudah dijalankan. Bob tak tahu apa yang
menantinya. Menangani Violet (Sarah Vowell) dan urusan cinta monyetnya, tugas
matematika Dash (Huck Milner), dan Jack-Jack yang memberi masalah lebih dari
sekedar mengganti popok. Sulit bagi Bob. Dia lelah, mengeluh, tapi bukan karena
sisi machonya terancam, melainkan rasa “gatal” untuk kembali beraksi. Semacam post-power syndrome, yang juga dialami
Helen, meski kontrol diri sang istri lebih kuat. Bob mencoba melakukan yang
terbaik, memberi contoh mengenai heroisme seorang ayah. Bagi orang tua yang
bekerja, konsekuensinya yakni melewatkan tumbuh kembang anak. “Aku melewatkan
kekuatan super pertama Jack-Jack”, ungkap Helen, sebagaimana keluhan orang tua
yang melewatkan langkah pertama anaknya.
Intensitas Incredibles
2 tidak sepadat film pertama akibat kesan lebih “cerewet” dari setumpuk obrolan.
Ada perdebatan panjang ayah-ibu sampai pembicaraan hati ke hati para wanita
tentang peran gender, yang bakal sulit diikuti penonton bocah, namun cukup
menyadarkan penonton dewasa, dan bukan mustahil memberi mereka bahan tentang parenting maupun pemberdayaan wanita untuk
diajarkan ke anak mereka suatu hari kelak. Jangan khawatir elemen tersebut
menurunkan daya hibur filmnya. Layaknya film pertama, Incredibles 2, dipandu penyutradaraan berenergi Brad Bird (The Incredibles, Mission: Impssible – Ghost Protocol)
masih sajian pendobrak batas terkait urusan aksi pahlawan super.
Ditemani musik epic
garapan Michael Giacchino, seri The
Incredibles selalu sanggup menggelontorkan aksi yang akan tampak terlalu
konyol atau membutuhkan CGI terlampau banyak di medium live action. Lihat aksi pembukanya, kala kamera bergerak amat
dinamis, memakai tracking shot, mengikuti
satu demi satu pameran kekuatan keluarga super kita, sebelum Frozone (Samuel L.
Jackson) memasuki arena pertempuran, bak menari lincah di atas lintasan es buatannya.
Atau ketika Elastigirl berusaha menghentikan upaya supervillain Screenslayer, yang mampu menghipnotis korbannya
melalui berbagai jenis layar, dengan merenggangkan tubuhnya sementara motornya “terbelah”
dua. Butuh kreativitas tinggi guna mengeksekusi sekuen macam itu.
Incredibles 2 masih berperan selaku parodi film-film
pahlawan super. Kunjungan kita ke rumah Tony Stark (tidak diungkap secara
gamblang) jadi contoh. Pun jika anda familiar dengan komik Fantastic Four, yang memberi inspirasi besar bagi pondasi The Incredibles sejak dulu, maka
Jack-Jack mungkin mengingatkan kepada Franklin Richards, putera Reed Richards
dan Susan Storm yang memiliki kekuatan tanpa batas, bahkan dianggap sebagai
makhluk terkuat di seluruh alam semesta. Jack-Jack sendiri merupakan sumber
tawa terbesar film ini yang takkan sulit mencuri hati penonton mana saja.
Note: Jangan lewatkan film pendek Bao yang diputar di awal, satu lagi animasi indah Pixar yang menguras air mata.
TARGET (2018)
Rasyidharry
Juni 11, 2018
Abdur Arsyad
,
Andhika Triyadi
,
Anggika Bolsterli
,
Cinta Laura Kiehl
,
Comedy
,
Hifdzi Khoir
,
Indonesian Film
,
Lumayan
,
Raditya Dika
,
REVIEW
,
Ria Ricis
,
Romy Rafael
,
Samuel Rizal
,
Thriller
,
Willy Dozan
30 komentar
Target lebih bagus daripada Hangout (2016). Sesama komedi meta di mana para aktor memerankan diri
sendiri bercampur misteri whodunit, proses
Raditya Dika mempermainkan image
jajaran pemainnya di Target jauh
lebih berhasil. Dia memberi Cinta Laura kesempatan jadi sosok paling tangguh. Dia memberi penokohan tak terduga kepada Willy
Dozan dan Samuel Rizal yang tak pernah
kita kira ingin kita lihat. Tapi kita ingin melihat Ria Ricis kena batunya
akibat lawakan-lawakan tak lucu ciri khasnya, dan Radit pun memberikan itu. Walau
Hangout juga bermain-main dengan image dunia nyata itu, dalam Target peran mereka signifikan dan punya
momen puncak masing-masing. Radit menepi, membiarkan sorotan terbagi rata,
membuka kesempatan bagi humor yang lebih variatif. Alhasil, jadilah film soal ensemble cast, bukan “Radit dan
kawan-kawan”.
Kredit pembukanya langsung menggigit lewat desain grafis yang
mengingatkan akan karya-karya Saul Bass yang jadi langganan Alfred Hitchcock.
Pun ditambah musik suspense garapan
Andhika Triyadi (Dear Nathan, Dilan 1990,
Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss) aroma Hitichcockian
seketika merebak, mengawali pertemuan sembilan selebritis yang bermain bersama
dalam film berjudul Target: Raditya
Dika, Cinta Laura Kiehl, Samuel Rizal, Willy Dozan, Abdur Arsyad, Hifdzi Khoir,
Ria Ricis, Romy Rafael, Anggika Bolsterli. Mengharapkan proses cepat nan mudah
selama sehari, para pesohor ini justru mendapati diri mereka tengah dikurung sosok
misterius bertopeng bernama Game Master di sebuah gedung kosong. Bukan itu
saja, mereka dipaksa melakukan berbagai permainan maut sembari direkam
gerak-geriknya melalui kamera yang tersebar di tiap sudut gedung. Game Master
ingin menciptakan film yang nyata, dengan konflik nyata, serta kematian nyata.
Penjahat bertopeng, perangkap dengan perintah dilematis yang
memaksa para korban mengorbankan diri sendiri atau orang lain, praktis Target adalah modifikasi dari Saw. Hanya saja tiada peralatan canggih
dengan cara kerja rumit, karena perangkapnya monoton, cuma “lubang lantai” dan
pistol. Hanya ada hidup atau mati, tanpa ada kehilangan bersifat parsial. Dampaknya,
saat seseorang meregang nyawa, momen itu cuma numpang lewat. Apalagi
karakternya menganggap kematian-kematian itu bak angin lalu. Terdapat beberapa
adegan perkelahian dengan eksekusi kurang meyakinkan, canggung, meski salah
satunya membuat Cinta Laura terlihat badass
sementara satu momen lain bakal membuat penonton bersorak, khususnya bagi yang
menghabiskan masa kecil bermain peran sebagai tokoh-tokoh dalam sinetron laga Deru Debu (1994-1996) seperti saya.
Perangkapnya memang bersifat sekunder. Bagaimana para korban
menyikapi perangkap itulah yang diutamakan. Karena bukan slasher yang bergerak secara “kill-and-run”,
Target mampu menjalin dinamika
tersebut. Willy Dozan si legenda laga diubah jadi pria genit yang membenci
kekerasan dan berjualan obat anti-wasir. Samuel Rizal yang rasanya seumur hidup
terjebak oleh typecast Adit si pria
keren dalam dua film Eiffel...I’m In Love
tampil memparodikan image itu,
sebagai pria yang bangga atas status selebritisnya dan acap kali bertingkah
bodoh karenanya. Dari situ komedinya bisa bekerja. Kita suka melihat seseorang
memerankan sosok yang berlawanan dengan tipenya. Ada satu potensi lain, yakni Anggika
Bolsterli sebagai aktris yang mengkhawatirkan tampang selaku asetnya,
sayang opsi itu urung dimanfaatkan. Menyenangkan melihat nama-nama di atas
memperoleh fokus besar, sebab “dick jokes”
murahan jelas terdengar lebih lucu saat dilontarkan Samuel Rizal ketimbang
Raditya Dika dengan gaya yang kita sudah hafal betul.
Apakah Target film
pintar? Tentu tidak. Beberapa permainan mautnya tidak diberi aturan pasti, yang
mengakibatkan intensitas minimalis, dan saat permainan itu dikaitkan dengan
motif pelaku yang diungkap di paruh akhir, modus operandinya menyisakan setumpuk
pertanyaan di ranah logika pula menghadirkan kesan penggampangan. Radit enggan
repot-repot memikirkan segenap detail tadi, terpenting ada permainan misterius
plus twist soal pelaku. Mungkin kesederhanaan
pikir itu yang ada di kepalanya. Tapi berkat kesederhanaan itu, Radit lebih
mudah menjalin konstruksi yang rapi. Dia menyempatkan diri menebar petunjuk, sehingga
walau ditempatkan bukan dengan cara yang memancing keterlibatan penonton memecahkan
teka-teki, tatkala jawaban diungkap, poin-poinnya saling terhubung,
meninggalkan saya dengan rasa puas ketimbang kesan tiba-tiba nan dipaksakan.
Mengapa lagi-lagi Raditya Dika membuat meta whodunit? Entahlah.
Mungkin ia tidak puas dengan eksperimen perdananya dua tahun lalu, mungkin dia
memang mencintai konsep itu, atau mungkin sekedar “cari gampang” karena dia
tidak perlu menciptakan karakter (plus lelucon) yang sepenuhnya baru, melainkan
cukup sedikit menggali lalu memparodikan image
jajaran nama-nama tenar. Namun berapa banyak sineas kita berani menjamah ranah
itu? Tidak banyak. Berapa banyak film liburan secara umum, atau lebaran secara
khusus, yang bersedia melangkah ke sana alih-alih mengangkat konsep familiar
macam horor dan sajian religius? Jauh lebih sedikit. Saya akan menyambut
gembira jika Raditya Dika terus kembali lewat eksperimennya.
OCEAN'S 8 (2018)
Rasyidharry
Juni 09, 2018
Anne Hathaway
,
Awkwafina
,
Cate Blanchett
,
Crime
,
Cukup
,
Gary Ross
,
Helena Bonham-Carter
,
Mindy Kaling
,
REVIEW
,
Richard Armitage
,
Rihanna
,
Sanda Bullock
,
Sarah Poulson
,
Steven Soderbergh
8 komentar
Genre heist caper
punya formula klasik, aturan-aturan yang diawali dengan (1) perkenalan benteng
yang mustahil ditembus (brankas, kasino, museum), lalu kita (2) bertemu
sekelompok pria necis yang berencana membobolnya, (3) melihat mereka
membeberkan rencana mengenai siapa harus melakukan apa serta bagaimana. Ocean’s 8 sepenuhnya berjalan mengikuti
pakem kecuali pada poin kedua, di mana alih-alih pria necis, kita berkenalan
dengan para wanita berkelas. Sandra Bullock dengan ketenangan elegannya, Cate
Blanchett dalam lagak semaunya, sikap eksentrik Helena Bonham Carter
sebagaimana biasa, Rihanna yang melambungkan level “keren” peretas beberapa
tingkat lebih tinggi, Anna Hathaway dengan senyum yang mewakili definisi “selebritis
bodoh”.
Ocean’s 8 adalah sepenuhnya soal star power. Ditambah Sarah Paulson,
Awkwafina, dan Mindy Kaling, tercipta kombinasi menarik yang bukan cuma tentang
multikultural, juga beragam kepribadian. Walau bertindak selaku spin-off untuk remake dari Ocean’s 11
(1960) yang juga mengandalkan star power
kelima Rat Pack (Peter Lawford, Frank Sinatra, Dean Martin, Sammy Davis, Jr.,
dan Joey Bishop), toh naskah garapan Gary Ross bersama Olivia Milch bergerak
layaknya reka ulang dari versi Steven Soderbergh (di sini bertindak selaku
produser). Debbie Ocean (Sandra Bullock) baru keluar dari penjara, menemui
partner sekaligus sahabatnya, Lou (Cate Blanchett), menyusun rencana merampok Toussaint,
kalung berlian senilai $150 juta, lalu membentuk tim guna menjalankan
perampokan.
Seperti saat Rusty Ryan (Brad Pitt) menentang niatan Danny
Ocean (George Clooney) menyelipkan usaha balas dendam personal di tengah misi,
Lou pun bakal menyatakan hal serupa pada Debbie, yang dijebloskan ke penjara
akibat pengkhianatan Claude Becker (Richard Armitage), mantan kekasih sekaligus
rekan dalam praktek penipuan benda seni. Dari konsep, persamaan dengan Ocean’s Eleven (2001) memang tak
terhindarkan, sayang, detail eksekusinya justru mengingatkan akan Ocean’s Thirteen (2007), yang notabene film
terburuk dalam triloginya. Sebelum perampokan utama, penipuan, sabotase, dan
penyusupan dilakukan terlebih dahulu sebagai persiapan. Di fase ini, cuma para
karakter yang tahu apa rencananya, sementara penonton dibiarkan buta hingga misi
berakhir, tapi filmnya berharap kita terpukau oleh eksekusi rencana yang
disusun di balik layar itu. Bagaimana bisa jika penonton diasingkan dan tidak
merasa terlibat?
Tidak peduli seberapa mustahil rencananya, penonton mesti
diyakinkan bahwa itu bisa dilakukan, setidaknya oleh jajaran protagonisnya.
Filmnya perlu memperlihatkan keberhasilan misi terjadi berkat kapasitas
karakternya, bukan akibat kebodohan korban seperti saat Rose Weil (Helena
Bonham-Carter) sang desainer dan Amita (Mindy Kalling) si pembuat berlian
berusaha memindai barang target perampokan. Keduanya bersikap konyol, bodoh,
aneh, mencurigakan, namun urung dicurigai. Ketika karakternya lolos semudah
itu, hilang pula tensi filmnya. Praktis sebelum sajian utama di klimaks, kenikmatan
hidangan pembukanya sebatas menyaksikan kepiawaian aktris-aktris kelas satu
memerankan sederet tokoh tanpa kedalaman penokohan. Tapi siapa peduli? Film
macam ini bukan studi karakter. Kemampuan khusus masing-masing jadi kepribadian
pengganti yang mendefinisikan dan membedakan mereka.
Puncak aksinya berjalan cukup singkat, tapi dikemas penuh
gaya kala Ross mengkreasi ulang Met Gala secara otentik di Metropolitan Museum
of Art selaku lokasi asli, lengkap dengan barang-barang seni asli pula, yang semuanya
mampu diperoleh berkat restu Anna Wintour, pimpinan redaksi Vogue sekaligus
kurator Met Gala sejak 1995 yang juga menjadi cameo. Tentu cameo para
pesohor diperlukan demi menjaga otentitas, sehingga nama-nama seperti Zayn
Malik, Katie Holmes, Maria Sharapova, Serena Williams, Kim Kardashian, Adriana
Lima, Kylie Jenner, Kendall Jenner, Olivia Munn, dan lain-lain turut hadir di
antara keglamoran yang mampu membuat penonton berteriak “oooohh”. Itu juga
respon saya tatkala Rihanna, pasca menghabiskan sepanjang film memakai pakaian
kasual, mendadak memasuki lantai Met Gala dalam balutan gaun merah menawan.
Apalah artinya heist
tanpa twist yang bertempat pasca
perampokan ketika kita merasa segalanya telah usai. Kejutan yang hadir semata
untuk menghentak ketimbang memperkuat jalinan cerita, walau beberapa dari penonton
mungkin telah menyadarinya, mengingat film ini bukan berjudul Ocean’s 7. Kejutan yang justru menambah
pertanyaan terkait logika serta detail daripada menjawab. Dalam Ocean’s 8, star power, setting megah dan gaun mewah jauh lebih mencuri
perhatian dibanding aksi perampokannya sendiri. Kalau cuma itu, tidak perlu
rasanya menyaksikan film heist, cukup
karpet merah Met Gala sungguhan, walau di sana kita takkan melihat keluwesan
Sandra Bullock mengutil, terlibat pembicaraan renyah dengan Cate Blanchett,
atau Rihanna bersenang-senang mengakali sistem keamanan melalui laptop miliknya. Ocean's 8 adalah aksi perampokan biasa oleh para wanita luar biasa.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)






















12 komentar :
Comment Page:Posting Komentar