TERLALU TAMPAN (2019)
Rasyidharry
Januari 31, 2019
Ari Irham
,
Bagus
,
Calvin Jeremy
,
Dimas Danang
,
Iis Dahlia
,
Indonesian Film
,
Keliek Wicaksono
,
Marcellino Lefrandt
,
Nurita Anandia
,
Rachel Amanda
,
REVIEW
,
Sabrina Rochelle Kalangie
,
Tarra Budiman
18 komentar
Laju Visinema Pictures menjadi
rumah produksi paling menarik negeri ini rasanya tak tertahankan. Setelah
kesegaran Love for Sale tahun lalu,
disusul mempersembahkan salah satu drama keluarga terbaik lewat Keluarga Cemara yang mengumpulkan lebih
dari 1,6 juta penonton, kini giliran Terlalu
Tampan, selaku adaptasi webtoon berjudul sama karya Mas Okis a.k.a. Muhammad
Ahmes Avisiena Helvin dan S.M.S a.k.a. Savenia Melinda Sutrisno yang siap
memamerkan keunikannya.
Debut penyutradaraan layar lebar Sabrina
Rochelle Kalangie ini unik, sebab alih-alih dikurangi, gaya absurd ala komiknya
justru dijadikan senjata utama, sehingga menghasilkan suguhan yang belum pernah
ditemui di perfilman Indonesia. Pun gaya tersebut cocok membungkus kisah tak
kalah absurd tentang Mas Kulin (Ari Irham), remaja dengan tingkat ketampanan (terlalu)
tinggi yang dapat memancing huru-hara jika gadis-gadis menatap wajahnya. Mereka
berteriak histeris, mimisan, bahkan sampai kayang bak orang kesurupan. Bermodalkan
tampang “protagonis remaja tampan, polos, imut ” ala buku komik, merupakan
pilihan tepat menunjuk Ari Irham memerankan Mas Kulin.
Kulin yang bernama asli Witing
Tresna Jalaran Soko Kulina berasal dari keluarga tampan yang disebut tak pernah
gagal merebut hati wanita. Kakaknya, Mas Okis (Tarra Budiman) adalah playboy sekaligus
penulis buku 1001 Cara PDKT yang
sampulnya mengingatkan pada Aku karya
Sjuman Djaya. Ayahnya, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dikenal sebagai pria badass yang sanggup melelehkan hati
wanita lewat lontaran ejekan pedas. Sedangkan sang ibu, Bu Suk, yang tak kalah
tampan berkat kumis tipisnya, diperankan Iis Dahlia dalam salah satu keputusan casting paling lucu nan jenius.
Tapi menjadi tampan rupanya tak
mudah bagi Kulin. Dia tidak bisa bebas keluar rumah sehingga memilih mendekam
di kamar sepanjang waktu. Merasa khawatir, keluarga Kulin menyiapkan rencana
agar ia mau menghabiskan semester akhir SMA di sekolah umum. Namun di sekolah
khusus pria pun, masalah tetap menghampiri Kulin dalam wujud para penindas yang
dipimpin Sidi (Dimas Danang), yang tiga tahun terakhir menolak lulus karena
proposal prom nite gabungan bersama
SMA khusus wanita, BBM, dimentalkan oleh Amanda (Nikita Willy), si gadis “terlalu
cantik”.
Sidi memaksa Kulin mengirimkan
proposal tersebut, berharap ketampanannya dapat memuluskan langkah mereka. Walau
awalnya berat hati, perlahan Kulin malah menikmati hidup barunya. Apalagi
setelah ia menjalin persahabatan dengan satu lagi korban Sidi, Kibo (Calvin
Jeremy). Didorong kekesalan terhadap keluarganya, Kulin bahkan sempat tinggal
di rumah Kibo, menanggalkan rutinitas mewah yang ternyata hampa, digantikan
kesederhanaan hangat dari pertemanan.
Benar bahwa Terlalu Tampan terbantu oleh kekuatan materi asalnya, tetapi naskah
buatan Sabrina Rochelle Kalangie dan Nurita Anandia berjasa merangkumnya
menjadi film 106 menit yang rapi. Humornya tidak dibiarkan berserakan,
melainkan mengikuti ke mana alurnya bergulir. Ketika masih banyak film kita
memilih menyusun komedinya bagai kumpulan sketsa acak di mana banyolan menjajah
penceritaan, lega rasanya menyaksikan duo penulis naskah film ini bersedia
meluangkan usaha lebih.
Menerjemahkan Webtoon jadi gambar
bergerak berformat live action tanpa
kehilangan kekhasan sentuhan komikal bukan perkara gampang. Beruntung, Sabrina
memiliki insting visual mumpuni. Dibantu efek visual buatan Keliek Wicaksono,
sang sutradara mewarisi semangat bersenang-senang ala film live action adaptasi manga.
Selain itu, tak berlebihan rasanya menyebut comedic
timing Sabrina sebagai salah satu yang terbaik. Dia tahu kapan mesti
melepaskan absurditasnya agar tak meleset sedetikpun.
Selain persahabatan Kulin-Kibo yang
turut jadi panggung pembuktian kapasitas akting memuaskan Calvin Jeremy, ada
pula drama keluarga serta romansa. Khusus romansanya, elemen tersebut berjasa
tak kalah besar dibandung humornya perihal menjadikan Terlalu Tampan tontonan menyegarkan. Kulin terpikat pada Rere
(Rachel Amanda), karena gadis satu ini begitu dingin menyikapi ketampanannya. Daripada
mengikuti arah yang biasa ditelusuri drama romantika remaja SMA umumnya, Terlalu Tampan memakai opsi lebih
dewasa, guna menggiring karakternya menuju pembelajaran soal realita kehidupan.
THE MULE (2018)
Rasyidharry
Januari 31, 2019
Bagus
,
Bradley Cooper
,
Clint Eastwood
,
Crime
,
Drama
,
Nick Schenk
,
REVIEW
4 komentar
Melalui The Mule, Clint Eastwood menciptakan dunia yang mengedepankan code of honor. Hampir semua karakter
saling memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat, walau mereka adalah
kartel narkoba kejam, atau polisi dan sang buruan. Hasilnya adalah film kriminal
yang lembut meski tak jarang perih, senada dengan situasi hidup protagonisnya
yang telah berusia 90 tahun.
Apakah gambaran tersebut terlalu
naif untuk mewakili kejamnya dunia sekarang? Mungkin The Mule bukan potret akurat, tapi pilihan itu pun bukannya tanpa
tujuan. Earl Stone (Clint Eastwood)—yang sosoknya dibuat berdasarkan artikel
The New York Times berjudul The Sinaloa
Cartel's 90-Year-Old Drug Mule mengenai kisah hidup Leo Sharp—diperlakukan
dengan baik, bahkan pelan-pelan tampak akrab dengan anggota kartel tempatnya
bekerja sebagai kurir narkoba. Tapi kondisinya berbanding terbalik jika
membicarakan keluarga, yang selama bertahun-tahun jarang ia perhatikan.
Jangankan acara makan bersama, Earl
bahkan absen dari pernikahan puterinya. Dia menyibukkan diri dalam pekerjaan,
entah melanglang buana di jalan atau menanam bunga di kebun. Pesannya jelas:
Anda takkan sepenuhnya jadi orang terhormat bila belum memperlakukan keluarga
dengan baik. Karena keluarga wajib dinomorsatukan.
Tapi bagaimana pria 90 tahun bisa
menjadi kurir narkoba? Pertama, ia terbiasa berkendara jarak jauh di jalanan (pernah
mengunjungi 47 dari total 51 negara bagian) sehingga ia paham mana metode yang
terbaik. Kedua, siapa bakal mencurigai pria tua? Ketika polisi menghampirinya,
berkat sedikit trik cerdik, Earl sanggup lolos biarpun seekor anjing K9 turut
berada di sana. Tidak butuh waktu lama, Earl merebut tahta kurir terbaik pasca
secara konsisten, mengirim ratusan kilogram narkoba setiap bulan.
Awalnya, Earl bersedia mengambil
pekerjaan itu akibat tak lagi memiliki tujuan setelah rumah dan kebunnya
disita. Sampai tujuan-tujuan sederhana yang menginjeksi The Mule dengan bobot rasa mulai ia temukan, sebutlah membantu
biaya kuliah dan pernikahan sang cucu (Taissa Farmiga) hingga menghidupkan lagi
bar tempat berkumpulnya para veteran.
Eastwod sempurna mengisi peran
sebagai Earl, si pria tua tangguh yang demi kelancaran misinya berlagak rapuh
di luar, walau sejatinya ia memang rapuh di dalam. Wajah keras yang jadi ciri
khasnya masih terpampang jelas, namun kini, di usia 88 tahun fisiknya jelas
makin lemah. Dibanding kemunculan terakhirnya sebagai aktor di Trouble with the Curve tujuh tahun lalu,
sang legenda nampak ringkih, yang justru ia manfaatkan untuk memperkuat
performanya. Gestur, ekspresi, hingga tutur kata Eastwood mencerminkan beragam
kebimbangan serta penyesalan seorang pria di hari tua.
Sulit menahan pertanyaan, “Dari
mana datangnya energi dan dedikasi itu?”. Sebab untuk pertama kali sejak Gran Torino 10 tahun lalu, Eastwood
melakoni peran ganda sebagai aktor sekaligus sutradara. Selaku sutradara, pengalaman
empat dekade Eastwood bisa kita rasakan. Dia enggan memaksakan dramatisasi.
Momen paling menyentuh hadir lewat obrolan hati ke hati sederhana namun penuh
kejujuran, sedangkan pertemuan pertama Earl dengan Colin Bates (Bradley
Cooper), agen DEA yang ditugaskan meringkusnya, terjadi dalam situasi yang
sangat kasual tapi meninggalkan kesan kuat.
Naskah
garapan Nick Schenk (Gran Torino, The
Judge)—yang bersedia melontarkan barisan celetukan menggelitik meski
sarat kontemplasi—juga bertutur soal sosok dari masa lalu yang tak ubahnya
fosil hidup, yang coba berubah mengikuti perkembangan. Earl tidak bisa mengirim
SMS, membenci internet, baru mengenal Dykes
on Bikes, juga secara kasual melontarkan ucapan bernada rasisme. Sepanjang
jalan mengantarkan narkoba, Earl menyaksikan dunia modern yang baru dikenalnya,
lalu dengan senang hati menyesuaikan diri.
The Mule bagai sikap pria tua terhadap
kalimat “Live your life to the fullest”.
Earl selalu berusaha menikmati hidup sebisa mungkin, dan ia terpaksa membayar
itu dengan kehilangan keluarga. Dan tidakkah begitu besar rasa sakit juga
penyesalan yang menghampiri begitu kita menyadari itu, tetapi terlanjur
kehabisan waktu guna menebus segalanya?
GREEN BOOK (2018)
Rasyidharry
Januari 30, 2019
Bagus
,
Biography
,
Brian Currie
,
Mahershala Ali
,
Nick Vallelonga
,
Peter Farrelly
,
REVIEW
,
Viggo Mortensen
10 komentar
Meski jauh dari sempurna dan bukan
yang terbaik di antara nominasi Best
Picture Oscar tahun ini, saya tak
keberatan bila Green Book akhirnya
keluar sebagai jawara. Penyutradaraan solo kedua Peter Farrelly sejak Dumb and Dumber (1994) ini mengingatkan kepada
jajaran pemenang dari masa lalu, khususnya era 80 hingga 90-an, tatkala sajian
menghibur nan hangat sekaligus kental pesan positif yang dipaparkan lewat
optimisme mendominasi.
Ditulis naskahnya oleh Peter
Farrelly, Brian Currie (Two Tickets to
Paradise), dan Nick Vallelonga (Deadfall,
Choker), kisahnya terinspirasi kisah nyata tentang Tony Vallelonga (Viggo
Mortensen), pria Italia-Amerika yang menjadi sopir Don Shirley, pianis jazz
Afrika-Amerika yang hendak menjalani tur di area Deep South Amerika. Tony, yang tengah mencari pekerjaan sementara
pasca kelab malam tempatnya bekerja direnovasi, sebagaimana banyak orang di
tahun 1960-an (hell, even until now)
menyimpan ketidaksukaan pada kulit hitam.
Masalah terbesar Green Book terletak pada cara mempresentasikan perubahan sikap Tony. Kita sempat melihatnya membuang gelas yang
dipakai dua tukang ledeng berkulit hitam minum. Peristiwa itu memotretnya bak “rasis
sejati” yang memendam kebencian dan/atau rasa jijik terhadap kulit hitam. Benar bahwa ia bersedia bekerja
untuk Don demi uang, dan sepanjang perjalanan ia kerap melontarkan celotehan
stereotipikal, misalnya ekspresi keheranan Tony kala mengetahui Don tidak
mendengarkan “black music” atau makan
ayam goreng. Tapi dibandingkan aksi membuang gelas, karakterisasinya jelas
berubah jauh lebih lembut, bahkan sebelum mengalami pengalaman berharga, yang
jadi elemen penting dalam road movie
semacam ini.
Andai “adegan gelas” itu tidak ada,
atau naskahnya memberi gradasi lebih bagi proses yang terjadi, transformasi
Tony bakal jauh lebih berdampak. Tapi di luar lubang tersebut, Green Book menyimpan setumpuk momen
hangat meskipun karakternya harus menempuh jalan terjal, berjibaku melawan
rasisme serta segala bentuk prasangka.
Film ini pun tampil unik ketika
memposisikan dua tokoh utamanya dalam beberapa situasi terbalik terkait kondisi
sosial dan stereotip terkait ras di masa itu. Tony si kulit putih menjadi
pelayan kasar nan kurang berpendidikan, sedangkan Don memasang sikap yang lebih
bermartabat juga bertabur kemewahan. Ketika Don dibanjiri tepuk tangan lewat
permainan pianonya, Tony sibuk berjudi bersama para sopir berkulit hitam.
Perjalanan ini memantik rasa
kemanusiaan Tony seiring banyaknya ia menyaksikan ketidakadilan menimpa Don. Berkebalikan
dengan sang bos, Tony tak kuasa menahan luapan emosi. Bukan saja karena ia
bersumbu pendek, pula karena tanpa sadar, Tony selalu menikmati hak istimewa
sebagai pria kulit putih, yang takkan dibanjiri konsekuensi berbahaya bila
berbuat kekeliruan. Bayangkan jika Don yang memukuli seorang pemicu keributan di
awal film.
Don paham betul, bahwa untuk
bertahan hidup dan lebih dihargai, ia wajib menjaga sikap. Bahkan setelah semua
itu pun, sekadar memakai toilet pun ia tetap tak diperkenankan. Don berharap
dihormati, tapi pilihan itu justru sering membuatnya serba salah, sebab ia
tidak “cukup putih” untuk memperoleh perlakuan layak, pula “kurang hitam” untuk
dianggap sebagai satu kaum. Di sinilah naskah Green Book menyentuh area kompleks isu rasisme, yakni mengenai
tuntutan menjadi seragam agar bisa diterima dengan tangan terbuka. Bahwa
rasisme atau bentuk opresi lain terjadi akibat keengganan manusia merayakan
perbedaan. Green Book berusaha melawan prasangka. Bahkan Don—yang acap
kali jadi korban—pun terjebak dalam kecenderungan berprasangka.
Walau menyinggung subjek sensitif
dan cenderung gelap, Green Book sejatinya
tontonan crowd-pleaser. Beberapa
momen kebersamaan mampu menghangatkan hati, dan tentu saja, serupa film-film
Peter Farrelly lain, komedi jadi salah satu menu utama. Tidak seluruhnya tepat
sasaran, tapi kreativitas dalam kejenakaan usil Farrelly bukan saja menghibur,
juga menguatkan hubungan dua tokoh utamanya.
Berkat chemistry solid Viggo-Mahershala, Green Book menjadi buddy
comedy renyah. Keduanya piawai menyeimbangkan porsi drama dan komedi,
sambil terus saling melontarkan kelakar yang menjaga dinamika film, terlebih
ketika Tony dan Don mulai meruntuhkan tembok pembatas di antara mereka. Berbeda
dengan dua tahun lalu, kali ini saya mendukung Mahershala memenangkan Oscar
keduanya. Kompleksitas gejolak batin Don sanggup dimunculkan, sambil sesekali
memamerkan kemampuannya bermain piano.
THACKERAY (2019)
Rasyidharry
Januari 29, 2019
Abhijit Panse
,
Amrita Rao
,
Biography
,
Hindi Movie
,
Kurang
,
Nawazuddin Siddiqui
,
REVIEW
,
Sanjay Raut
,
Sudeep Chatterjee
4 komentar
Karakter dalam Thackeray sungguh miskin motivasi, sebab karya terbaru Abhijit
Panse (Rege) ini sibuk memberi
glorifikasi terhadap radikalisme yang jadi akar perjuangan sang protagonis.
Benar bahwa di satu sisi, filmnya enggan menutupi kontroversi terkait pendekatan
ekstrim Bal Thackeray sang pendiri partai sayap kanan Shiv Sena. Tapi, ditulis
naskahnya oleh Abhijit Panse selaku anggota Maharashtra Navnirman Sena
(diketuai Raj Thackeray, keponakan Bal Thackeray) berdasarkan cerita dari
Sanjay Raut yang merupakan salah satu petinggi Shiv Sena, ketimbang
objektivitas, justru dukungan akan kekerasan yang terasa dari cara tutur “apa
adanya” tersebut.
Naskahnya tak peduli soal
penggalian sisi personal Bal Thackeray sebagai cara mempresentasikan motivasinya,
karena tujuan filmnya sendiri murni surat cinta buta kalau tak mau disebut propaganda.
Bayangkan film biografi “jujur” tentang Prabowo Subianto tentang sepak
terjangnya semasa Orde Baru yang ditulis oleh Fadli Zon. Demikian kurang lebih
cara kerja Thackeray.
Filmnya dibuka sebelum
dilangsungkannya persidangan terhadap Bal Thackeray (Nawazuddin Siddiqui) yang
dituduh terlibat dalam aksi kekerasan terhadap muslim di Bombay, termasuk
perusakan sebuah masjid. Situainya kacau, di mana kita dapat mendengar
orang-orang beradu argumen mengenai Thackeray, menggambarkan betapa ia sosok
kontroversial yang dapat memecah publik menjadi dua kubu. Kemudian filmnya
bergerak mundur ke akhir 1950-an, tatkala Thackeray masih bekerja sebagai
pembuat karikatur bagi The Times of India.
Di sinilah mestinya dilakukan
eksplorasi supaya penonton memahami, apa yang membentuk seorang Bal Thackeray.
Sisi pemberontaknya memang nampak saat menolak mematuhi perintah atasan untuk
mengerem kritik pedasnya bagi kalangan politikus. Thackeray pun memilih mundur,
menunjukkan bahwa sebagai individu, ia selalu berpegang teguh pada idealisme.
Melalui fase ini pula Abhijit Panse,
dibantu penata kamera Sudeep Chatterjee yang berpengalaman menggarap
judul-judul cantik seperti Bajirao
Mastani (2015) dan Padmaavat (2018),
menerapkan beberapa pilihan visual menarik. Warna hitam-putih dipakai hingga
separuh perjalanan, sambil sesekali terselip animasi bergaya karikatur. Sinematografinya
sanggup memaksimalkan visual hitam-putihnya untuk menyajikan beberapa momen
yang memanjakan mata.
Tapi selanjutnya, Thackeray seolah berasumsi seluruh
penonton telah memahami konflik yang dituturkan. Bal Thackeray menerbitkan
majalah sendiri yang ia beri nama Marmik (straight
from the heart), lalu mendirikan Shiv Sena dengan tujuan membela
orang-orang Marathy yang menjadi korban opresi. Opresi macam apa? Filmnya urung
memperlihatkan secara pasti. Alurnya melompat dari satu masalah ke masalah lain
tanpa gambaran latar yang jelas, dan itu terus-menerus terjadi, sehingga
penonton awam niscaya bakal semakin tersesat.
Thackeray jengah menyaksikan
kaumnya diperlakukan tidak adil, namun itu belum cukup menjustifikasi
langkah-langkah radikalnya. Eksplorasi lebih jauh wajib filmnya lakukan agar
penonton memahami (tidak perlu sampai menyetujui) pilihan sikap karakternya.
Kegagalan tersebut turut membuat momen kontemplatif yang lebih lembut ketika
Meena (Amrita Rao), istri Thackeray, mempertanyakan alasan orang-orang
menganggap mereka jahat, padahal mereka hanya ingin menolong orang yang
membutuhkan. Apa manusia-manusia ini lupa saat pendukung fanatik Shiv Sena
menghancurkan kota beserta toko-toko sementara Bal Thackeray sama sekali tak
mengecam tindakan itu?
Setelah mencapai separuh jalan, Thackeray mulai bergerak lebih mulus dan
mengajak kita sesekali belajar memahami pola pikir karakternya. Bal Thackeray
ingin mencerdaskan masyarakat, karena baginya percuma publik berteriak “Sediakan
lapangan kerja!” andai mereka memang tak kompeten. Alasannya memperjuangkan hak
Marathy yang (konon) dikesampingkan di rumah sendiri pun dapat dimengerti.
Tapi haruskah jalan radikal
dipilih? Ketimbang berargumen mengenai masalah itu, Thackeray memilih menutup mata. Mungkin karena bagi pembuatnya,
hal-hal tersebut merupakan kebenaran hakiki yang tak perlu dijelaskan. Hasilnya
adalah film mengerikan (in a negative way)
yang pantas disingkirkan ke tempat sampah kalau bukan karena performa Nawazuddin
Siddiqui lewat keberhasilannya menghidupkan figur kharismatik, yang melalui
baris demi baris kalimatnya sanggup menggerakkan (atau mempengaruhi?) massa
tanpa harus berorasi dengan teriakan. Gesturnya pasti, pelafalan kalimatnya
jelas, ribuan kali lebih jelas dibanding keseluruhan filmnya.
MANIKARNIKA: THE QUEEN OF JHANSI (2019)
Rasyidharry
Januari 27, 2019
Ankit Balhara
,
Biography
,
Cukup
,
Edward Sonnenblick
,
Hindi Movie
,
Jisshu Sengupta
,
Kangana Ranaut
,
Krish
,
Manish Wadhwa
,
REVIEW
,
Richard Keep
,
Sanchit Balhara
,
Suresh Oberoi
Tidak ada komentar
Manikarnika: The Queen of Jhansi hanya kurang selangkah lagi menjadi
film empowerment memikat tentang penolakan
seorang pemimpin wanita untuk tunduk pada penjajah serta persepsi sosial yang
mengekang kebebasan wanita. Seluruh momen pendukung yang diperlukan telah
filmnya miliki, belum lagi ditambah performa kelas wahid sang aktris utama,
yang bukan mustahil bakal masuk jajaran klasik di masa depan. Sayang, akibat kecanggungan
di beberapa poin pengadeganan serta penyuntingan, elemen-elemen tersebut urung
menyatu dengan baik.
Berlatar pertengahan era 1800-an
tatkala kekuasaan Inggris di India semakin kejam, dan hampir semua kerajaan
memilih tunduk, Manikarnika: The Queen of
Jhansi menuturkan kisah hidup Manikarnika alias Manu (Kangana Ranaut), si
wanita tangguh yang dibesarkan layaknya prajurit oleh ayahnya (Manish Wadhwa)
dan Bajirao II (Suresh Oberoi) dari Bithoor. Semasa bayi, seorang peramal
menyebut bahwa kelak nama Manu bakal tercatat dalam sejarah India.
Perjalanan Manu menjadi salah satu
figur berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan India dimulai kala ia menikahi
Maharaja dari Jhansi, Gangadhar Rao (Jisshu Sengupta), lalu mengganti namanya
menjadi Lakshmibai. Sejak itulah ia mulai belajar soal situasi politik, pula
penderitaan rakyatnya selama kolonialisme mencengkeramkan tanah India. Sampai
suatu hari, pasca menyaksikan sang suami menundukkan kepala kepada Kapten
Gordon (Edward Sonnenblick), hasrat meletuskan perlawanan mulai tumbuh di dada
Manu.
Tentu itu bukan perkara mudah. Manu
tidak sajamesti menghadapi kekuatan militer Inggris yang berkali lipat lebih
besar dan kuat, juga kultur yang kurang bersahabat dengan wanita. Tidak semua
orang bersedia tunduk di hadapan Manu, walau ia berstatus seorang Ratu. Ibu
mertuanya sendiri bahkan menyuruh Manu berkonsentrasi saja di dapur ketimbang
ikut mengurusi masalah politik.
Persekusi, seksisme, juga budaya
misogini merupakan konteks yang masih relevan biarpun lebih dari 200 tahun
telah berlalu sejak kisah film ini. Itu sebabnya perjuangan Manu teraa
bermakna. Manikarnika: The Queen of
Jhansi mampu menjalankan perannya untuk meyakinkan penonton, betapa sang
Ratu tituler adalah sosok besar yang kisahnya pantas diangkat.
Saya dibuat kagum oleh beberapa
keberanian Manu, mulai dari penolakannya menjalankan ritual sebagai janda dan
memilih fokus menyusun rencana perlawanan, hingga aksi-aksi penuh nyalinya di
medan perang. Manu tak gentar melancarkan serangan terbuka walau nyawa jadi
taruhannya. Sebab ia yakin, kematiannya justru akan menyulut semangat rakyat.
Keberaniannya bahkan membuat Jenderal Hugh Rose (Richard Keep) yang terkenal
atas kekejamannya (literally)
mengalami mimpi buruk hingga berteriak bak pengecut.
Kangana Ranaut, yang turut duduk di
kursi sutradara bersama Krish (Gautamiputra
Satakarni, Gabbar is Back), menghadirkan akting yang tak kalah membara dari
api perjuangan Manu. Tatapan matanya dapat membuat prajurit nomor wahid
sekalipun ciut nyalinya. Kangana adalah salah satu alasan mengapa momen ketika
Manu mulai menduduki tampuk kekuasaan—yang dibarengi musik epic gubahan Ankit Balhara dan Sanchit Balhara (Bajirao Mastani, Padmaavat)—terasa menggetarkan
walau keseluruhan penceritaan film ini urung mencapai hasil maksimal.
Terdapat adegan mengerikan saat
gadis cilik digantung karena ia bernama Lakshmi, namun peristiwa keji itu pun
nihil dampak, karena diselipkan paksa di antara sekuen uplifting lengkap dengan musik pengiring bernuansa positif. Kelemahan
di atas terulang beberapa kali, sehingga tensi dramatis filmnya pun acap kali
berakhir lemah.
Meski masih “gagap” saat bercerita,
Kangana dan Krish cukup mumpuni menciptakan sekuen aksi epic nan megah, walau dalam hal film sejarah, visual seperti apa
pun bakal tampak kerdil setelah kehadiran Padmaavat
tahun lalu. Peperangannya brutal, tak pernah ragu menumpahkan darah di
tengah aksi saling tebas. Tapi jangan mengharapkan kuantitas tinggi, mengingat
deretan laga baru tersaji begitu filmnya berlangsung hampir dua jam.
INSTANT FAMILY (2018)
Rasyidharry
Januari 27, 2019
Bagus
,
Comedy
,
Drama
,
Isabela Moner
,
John Morris
,
Mark Wahlberg
,
Octavia Spencer
,
REVIEW
,
Rose Byrne
,
Sean Anders
6 komentar
Mungkin banyak yang memandang
sebelah mata Instant Family karena
statusnya sebagai drama-komedi ringan. Tapi karya terbaru Sean Anders (Horrible Bosses 2, Daddy’s Home, Daddy’s
Home 2) ini sejatinya mengusung pesan penting soal parenting. Pun balutan komedi tak melucuti kekuatan ceritanya,
sebab seperti perkataan Karen (Octavia Spencer), “It’s important to have sense of humor in this (parenting)”. Mengasuh anak dapat menimbulkan frustrasi, namun tawa
tak boleh dienyahkan dari prosesnya.
Instant Family mengajak kita menertawakan sulitnya mengasuh anak,
sambil mengaduk emosi lewat drama keluarga menyentuh. Film ini bagai versi
ringan dari Shoplifters milik
Hirokazu Kore-eda. Walau pendekatannya amat berbeda, kedua film sama-sama
mempertanyakan, “What makes a family?”.
Apakah ikatan darah merupakan kewajiban? Ataukah besarnya cinta kasih jadi hal
terpenting?
Keinginan menimang buah hati mulai
timbul dalam benak pasangan suami-istri, Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose
Byrne). Tapi mempertimbangkan usianya, Pete khawatir jika kelak ia sudah
terlalu tua begitu sang anak mulai beranjak dewasa. Walau dipresentasikan
secara jenaka, topik tersebut sebenarnya relevan. Saya sendiri kerap terlibat
obrolan serupa dengan ayah. Itulah alasan di balik keputusan mereka memilih
mengadopsi anak berusia sekitar lima tahun.
Tapi atensi mereka justru direbut
oleh remaja 14 tahun bernama Lizzie (Isabela Moner), yang juga memiliki dua
adik, Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Pete dan Ellie pun
berujung membawa pulan tiga anak. Keduanya boleh mencari nafkah dari bisnis
reparasi rumah, namun itu tak otomatis memudahkan pekerjaan “memperbaiki”
ketiga anak angkat mereka, yang mempunyai masa lalu suram akibat sosok ibu tak
bertanggung jawab.
Hari-hari yang tadinya sunyi
mendadak riuh, kacau, dan tentunya penuh tekanan. Lita yang terobsesi pada
keripik kentang selalu histerikal, Juan amat sensitif sehingga bisa menangis
karena hal kecil, sedangkan Lizzie, well.....remaja.
Mayoritas konflik yang menggambarkan repotnya proses mengasuh, dibungkus menggunakan
sampul komedi dengan presentasi keberhasilan memancing tawa yang sangat tinggi
berkat materi lawakan segar dari naskah buatan Sean Anders bersama John Morris
(Hot Tube Time Machine, We’re the
Millers, Dumb and Dumber To).
Porsi Mark Wahlberg dan Rose Byrne
bagai mencerminkan pembagian peran orang tua. Terlepas dari kesanggupan mereka
menangani kedua elemen, terlihat bahwa Byrne—dengan talenta luar biasa dalam
merespon segala situasi menggelikan—menyokong porsi komedi, sementara Wahlberg—berbekal
kharisma sosok ayah keren—hadir untuk menghangatkan perasaan kita (dan anak-anaknya).
Kesuksesan terbesar Instant Family terletak pada kecakapan
beralih antara komedi dan drama secara konstan. Di satu titik, filmnya bisa
mengocok perut kita lewat gelak tawa, lalu sejurus kemudian mencengkeram dada melalui
rasa haru. Penggambaran ikatan keluarganya selalu kuat, sebab Anders—yang
menulis naskah ini berdasarkan cerita hidupnya—tahu, pemandangan terkait
hubungan anak dengan orang tua seperti apa yang efektif melelehkan hati. Benang
merahnya selalu sama: ungkapan cinta.
Instang Family adalah soal cinta, dan dalam menyampaikan pesannya,
film ini beruntung mempunyai kreativitas Sanders perihal menjalin kata-kata,
yang ketimbang terdengar murahan atau terlalu melankolis, justru mampu seketika
menusuk perasaan penontonnya, sekaligus menggiring kita supaya menyadari,
bahwasanya setiap anak di muka Bumi pantas dicintai. Instant Family adalah suguhan kaya rasa, sehingga biarpun bergerak
cukup panjang untuk ukuran drama-komedi keluarga (119 menit), saya takkan
keberatan bila kisahnya terus digulirkan.
MATT & MOU (2019)
Rasyidharry
Januari 26, 2019
Alim Sudio
,
Comedy
,
Irsyadillah
,
Kurang
,
Marthino Lio
,
Maxime Bouttier
,
Monty Tiwa
,
Prilly Latuconsina
,
REVIEW
,
Romance
3 komentar
Tidak semua film perlu cerita
kompleks atau mengusung konflik berat. Terkadang, kesederhanaan dan sentuhan ringan
justru opsi terbaik. Semua tergantung kebutuhan. Matt & Mou adalah contoh terkini tentang bagaimana kegagalan
menyadari itu berujung melemahkan filmnya, yang sebenarnya merupakan romansa
remaja ceria nan menyenangkan, andai tak dibarengi hasrat “melakukan lebih”.
Di antara Matt (Maxime Bouttier)
dan Mou (Prilly Latuconsina) terjalin hubungan “kakak-adik” yang bersemi sejak
keduanya bertemu semasa kecil. Matt dan Mou tinggal bersebelahan, dalam dua
rumah yang—sama semaraknya dengan pertemanan mereka—dikelilingi warna-warni
pastel juga motif bunga-bunga menghiasi dinding. Sebuah sentuhan artistik apik
yang sempurna mewakili hubungan dua tokoh utamanya.
Bentuk interaksi mereka pun
menggemaskan, dari memanggil diri sendiri memakai nama hingga bicara melalui
telepon kaleng yang menghubungkan kedua kamar. Mereka begitu dekat, sampai Mou
membutuhkan persetujuan Matt tentang siapa lelaki yang pantas menjadi
kekasihnya. Matt sendiri belum pernah berpacaran, dan kita tahu pasti alasan
yang ia pilih untuk pendam.
Sampai suatu hari, Mou benar-benar
jatuh hati kepada Reza (Irsyadillah), penyanyi cafe yang dikenalnya lewat Instagram.
Tentu Matt enggan semudah itu memberi Reza jalan. Syarat-syarat berat ia ajukan
sebelum merestui Reza dan Mou berpacaran. Di sinilah Matt & Mou semestinya “berhenti”. Di situlah sebaiknya naskah
buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Chrisye,
Ayat-Ayat Cinta 2), yang mengadaptasi novel berjudul sama Wulanfadi,
meletakkan fokus alih-alih melangkah menuju rangkaian problematika kelam.
Mou berasal dari keluarga yang jauh
dari kata harmonis. Elemen ini bukanlah permasalahan, selama bertujuan menguatkan
serta memperdalam penokohan. Bahkan eksistensi Matt bisa saja menjadi lebih bermakna
karena elemen tersebut. Tapi sayangnya tidak demikian. Matt & Mou memilih memperluas cakupan begitu mencapai sebuah
titik balik berupa twist. Sejak itu,
alur bukan lagi mengetengahkan relasi dua protagonis, yang akhirnya melemahkan
intimasi yang semestinya merupakan menu utama.
Titik balik itu pun terlalu kelam, memberi
distraksi dan inkonsistensi tone bila
disandingkan rasa manis yang dijadikan jualan utama filmnya, walau paling
tidak, berkat aspek tersebut, kita berkesempatan melihat performa solid
Marthino Lio sebagai sang antagonis. Tidak jelas apa yang coba diraih twist-nya selain untuk membuat penonton
tercengang. Jika tujuan akhirnya adalah menggambarkan kuatnya perasaan Matt, maka
momen ketika ia merestui hubungan sahabatnya (selama Reza berjanji bakal terus
menjaga Mou) justru lebih efektif.
Perubahan jalur filmnya pun tak
memfasilitasi performa bertenaga Prilly, yang berjasa menjadi mesin penggerak Matt & Mou. Sewatu Maxime masih
belum juga mampu memberi penampilan natural yang nyaman disaksikan (terlebih
caranya bicara), Prilly berhasil menghidupkan sosok lovable, yang termasuk salah satu alasan mengapa karir layar
lebarnya pantas dihargai lebih dari sekadar “That lead actress from ‘Danur’ movie series”.
Konklusi milik Matt & Mou berusaha membawa kembali atmosfer jenaka nan
menggemaskan sebagaimana di paruh awal. Hasilnya memuaskan. Matt & Mou sukses ditutup dengan
manis, bahkan berpotensi mengharukan bagi sebagian penonton. Penyutradaraan
Monty Tiwa pun masih menunjukkan kehandalan merangkai momen romantis emosional
bermodalkan situasi sederhana. Meski di saat bersamaan, mengembalikan "rasa
cotton candy” membuat tonal jump pasca titik balik di babak
keduanya semakin kentara.
TABU (2019)
Rasyidharry
Januari 25, 2019
Agatha Chelsea
,
Angga Yunanda
,
Angling Sagaran
,
Bastian Steel
,
Haqi Achmad
,
horror
,
Indonesian Film
,
Isel Fricella
,
Kurang
,
REVIEW
6 komentar
Horor lokal berkualitas bobrok
memang mengesalkan, namun lebih menyesakkan menonton sajian seperti Tabu, yang menyimpan intensi baik untuk
tak sekadar membuat produk asal jadi, tetapi berakhir sebagai kegagalan akibat
nyaris tiada satu pun elemen yang bekerja. Ditulis naskahnya oleh Haqi Achmad (Sajen, Rompis, Ada Cinta di SMA), pondasi
Tabu mengikuti jalur formulaik soal
siswa-siswi SMA yang ingin menyambangi tempat angker demi menangkap penampakan
hantu. Momen-momen “wajib” seperti
menyusun rencana perjalanan di sekolah lengkap dengan rangkaian pembicaraan
yang telah kita dengar ratusan kali di film-film setipe lain, hingga diperlihatkannya
kliping beberapa lokasi berhantu di kamar salah satu karakternya, bisa anda
temukan di sini.
Pembeda film karya Angling Sagaran
(From London to Bali, Total Chaos)
dari banyak kompatriotnya sesama horor semenjana adalah keberanian untuk tak
bergantung pada hantu yang menyergap tiap lima menit. Haqi berusaha meluangkan
waktu pada eksplorasi karakter sembari menyelipkan konflik keluarga
disfungsional di antaranya. Supaya berhasil, penonton perlu dibuat menyukai
karakter-karakter beserta interaksi mereka.
Tapi sewaktu yang muncul adalah dialog
hambar, penokohan membosankan, plus akting seadanya, interaksi enam remaja yang
nekat mendatangi Leuweung Hejo ini pun kekurangan rasa dan warna agar bisa
dinikmati. Keliru jika mengira kegemaran Mahir (Bastian Steel) mengumbar rayuan gombal kepada Muti (Agatha Chelsea) dapat memancing senyum. Hasilnya ironis. Keberanian menekan kuantitas jump scare berujung menjadi pisau bermata dua, sebab Tabu bergerak tak bertenaga bagai orang
kekurangan gizi. Membosankan.
Bahkan setelah mereka memutuskan
pulang lebih cepat dari Leuweung Hejo, ketika Diaz (Angga Yunanda) kesurupan—yang
dikarenakan inkonsistensi akting, kadang tampak seperti mayat hidup, kadang
seperti demam, kadang seperti anak kurang makan—sedangkan Keyla (Isel
Fricella), karena alasan yang diungkap jelang akhir, memaksa kawan-kawannya
membawa pulang bocah bisu misterius yang mereka temui di tengah hutan.
Andai pengembangan karakternya
berhasil, begitu teror yang membuntuti keenam remaja ini mulai membawa maut, Tabu berpotensi jadi horor yang menusuk
perasaan. Sebab secara struktur penceritaan, pendekatan Haqi sudah tepat dengan
mengajak penonton menghabiskan waktu bersama karakternya sebelum melepaskan
teror ke permukaan. Pun sebuah subplot mengenai rahasia Leuweung Hejo serta
kaitannya dengan beberapa karakter disajikan terburu-buru sehingga hanya
melahirkan eksplorasi mitologi setengah matang.
Tabu menyimpan segelinter ide potensial perihal cara
menakut-nakuti, namun penyutradaraan Angling Sagaran terlampau lemah guna
memaksimalkannya, termasuk dalam klimaks tak bertaring miliknya. Ditambah tata
rias medioker, kita patut bersyukur Tabu
enggan melempar banyak jump scare, sebab
dengan begitu, kelemahan-kelemahan di atas tak berkesempatan menyeruak lebih
sering. Filmnya ditutup lewat cliffhanger,
yang lagi-lagi terdengar menjanjikan di atas kertas tapi berakhir tanpa
dampak karena kegagalan Tabu
memancing kepedulian terhadap karakternya.
ORANG KAYA BARU (2019)
Rasyidharry
Januari 25, 2019
Comedy
,
Cut Mini
,
Derby Romero
,
Fatih Unru
,
Indonesian Film
,
Joko Anwar
,
Lukman Sardi
,
Lumayan
,
Ody C. Harahap
,
Raline Shah
,
Refal Hady
,
REVIEW
5 komentar
Orang Kaya Baru disutradarai oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, Sweet 20, Me vs Mami) yang sekali lagi membuktikan
kapasitasnya menggarap tontonan berdaya hibur tinggi. Tapi sebenarnya film ini
lebih terasa sebagai pengingat tentang betapa bagusnya penulisan komedi seorang
Joko Anwar. Saya tertawa lepas sepanjang durasi, karena selain kreatif,
humornya begitu nyata. Joko merangkai absurditas berdasarkan realita yang
teramat dekat.
Kisahnya menampilkan sebuah
keluarga yang (harus) makan bersama tiap malam demi penghematan. Penghasilan Bapak
(Lukman Sardi) di bengkel tak seberapa, demikian pula hasil dagangan kue Ibu
(Cut Mini). Ketiga anak mereka pun mesti pontang-panting. Tika (Raline Shah)
dituntut mengerjakan tugas kuliah arsitekturnya memakai barang bekas, Duta
(Derby Romero) hanya bisa bermimpi membuat pementasan teater megah, sedangkan si
bungsu Dodi (Fatih Unru) sering jadi bahan olok-olok di sekolah akibat sepatu
bututnya.
Di tengah kondisi ekonomi serba
kekurangan tersebut, mereka justru memperoleh hal yang lebih bernilai ketimbang
uang: kebersamaan dan kehangatan keluarga. Selepas Bapak meninggal, kondisi
berbalik. Rupanya ia berasal dari keluarga kaya yang menyembunyikan hartanya
karena ingin keluarganya menghargai hasil kerja keras. Kini seluruh tabungan
tersebut diwariskan kepada istri serta anak-anaknya.
Seperti jamaknya stereotip orang
kaya baru yang kita kenal, mereka “kaget” dan menghambur-hamburkan uang
tersebut. Secepat kilat mereka mendapatkan apa yang selama ini tak dimiliki,
walau tanpa sadar, di saat bersamaan mereka pun kehilangan hal penting yang
dimiliki. Sekarang mereka sibuk berbelanja sendiri-sendiri, mampu makan di luar
rumah, dan jalan-jalan sesuka hati. Tidak perlu lagi ada penghematan dengan
cara makan bersama.
Joko memposisikan meja makan selaku
hati film ini. Hampir seluruh momen emosional Orang Kaya Baru bertempat di sana, sebutlah “pertemuan keluarga
mendadak” pasca penguburan Bapak, lamunan Dodi kala duduk sendirian merindukan
kehangatan keluarga, hingga saat si bungsu itu menumpahkan segala keluh
kesahnya. Fatih Unru melanjutkan pencapaian gemilangnya di Petualangan Menangkap Petir tahun lalu sebagai salah satu aktor
cilik paling menjanjikan di negeri ini.
Babak kedua film ini sejatinya sebatas kompilasi momen
komedik yang menyoroti kekonyolan perilaku para orang kaya baru. Pilihan ini
berisiko membuat alurnya jalan di tempat dan monoton, tapi beruntung, humor
tulisan Joko selalu segar, timing pengadeganan
Ody sempurna, dan performa jajaran pemain senantiasa menyuntikkan energi,
khususnya kedua pelakon wanita utama. Di luar glamoritas yang membuatnya layak memperoleh
peran di sekuel Crazy Rich Asians,
Raline Shah memamerkan sisi lain sekaligus penampilan terbaik sepanjang karir,
kala mulus melakoni tingkah norak Tika. Begitu pula Cut Mini dengan gaya
histerikal yang tak pernah gagal mengocok perut. Hampir setiap baris kalimat maupun
kelakuan sang aktris berujung momen komedi emas.
Naskahnya memperhatikan
pengembangan cerita serta karakter. Gesekan konfliknya jelas: Walau para orang
kaya baru tahu cara berfoya-foya, mereka belum siap menghadapi hal-hal yang datang
seiring bertambahnya isi tabungan. Tika dan kehidupan sosial ditambah romansanya dengan Banyu (Refal Hady), Duta dengan
tanggung jawab menangani pertunjukan berskala besar, Ibu dengan hal-hal berbau
hukum dan legalitas. Semuanya asing bagi mereka. Alhasil, alasan di balik kesulitan
tokoh-tokohnya bisa dipahami, termasuk saat mereka jatuh ke titik terendah
masing-masing. Orang Kaya Baru punya presentasi
elemen sebab-akibat mumpuni yang mana kerap dilupakan penulis naskah kita.
Sayang, naskahnya sedikit
tersandung di paruh konklusi yang berpotensi membingungkan bagi sebagian
penonton, akibat dituturkan secara terburu-buru, datang dan pergi begitu saja
sehingga melemahkan dampak dramatik yang semestinya muncul guna mengakhiri
cerita. Tapi toh berbekal segala kekuatannya, Orang Kaya Baru bakal berdiri tegak sebagai salah satu hiburan
terkuat tahun ini.
THE KID WHO WOULD BE KING (2019)
Rasyidharry
Januari 24, 2019
Angus Imrie
,
Dean Chaumoo
,
Denise Gough
,
Fantasy
,
Joe Cornish
,
Louis Ashbourne
,
Lumayan
,
Patrick Stewart
,
Rebecca Ferguson
,
REVIEW
,
Rhianna Doris
,
Tom Taylor
6 komentar
Entah dengan bocah zaman sekarang,
tapi jika menontonnya semasa SD, saya akan terobsesi dengan The Kid Who Would Be King, khususnya di
bagian klimaks, saat si tokoh utama memimpin teman-temannya berperang melawan
pasukan berkuda dengan tubuh membara dan penyihir berusia ribuan tahun yang
tampak bagai naga berwajah Gollum, dengan menyulap seisi sekolah menjadi
benteng pertahanan. Sejujurnya saya kerap melamunkan fantasi semacam itu
sewaktu kecil dulu.
Melalui The Kid Who Would Be King, Joe Cornish (Attack the Block) mengubah kisah Arthurian menjadi film keluarga bernuansa Amblin, yang bahkan
mengandung cue musik serupa, serta
pesan tentang kekuatan dalam diri dan cinta, sebagaimana banyak mahakarya
Steven Spielberg pada era 80-an.
Filmnya berlatar di dunia serupa
dunia kita, di mana kekacauan terjadi akibat penyalahgunaan kekuasaan serta
lenyapnya kemuliaan. Kondisi tersebut turut mempengaruhi proses tumbuh kembang
protagonis kita, Alex Elliot (Louis Ashbourne), yang hidup berdua bersama sang
ibu (Denise Gough) sembari terus merindukan sosok ayah yang telah lama hilang.
The Kid Who Would Be King membuka perjalanan Alex saat ia
menolong sahabatnya, Bedders (Dean Chaumoo), dari gangguan Lance (Tom Taylor)
dan Kaye (Rhianna Doris). Tapi kebaikan Alex justru mendatangkan masalah baru,
dan seperti banyak individu zaman sekarang, ia mulai meragukan esensi kebaikan.
Tapi jangan khawatir, sebab film ini mampu menyentuh permasalahan serius tanpa
harus membenamkan karakter anaknya dalam area yang terlampau gelap.
Tidak perlu juga bagi The Kid Who Would Be King berlama-lama
di fase perenungan. Kita dengan cepat diajak menyaksikan keberhasilan Alex
mencabut pedang Excalibur milik Raja Arthur, tanpa menyadari, bahwa secara
bersamaan, Morgana (Rebecca Ferguson), saudari tiri Arthur, mulai bangkit dan
bersiap membawa kegelapan bagi dunia sekaligus merebut Excalibur. Tentu Merlin
(Angus Imrie) pun terlibat. Sang penyihir hadir dengan samaran sebagai remaja
aneh bernama Mertin. Sesekali ia menunjukkan sosok tuanya, yang diperankan
Patrick Stewart lewat kharisma “pria tua bijak” yang jamak kita jumpai di
film-film setipe.
Merlin membimbing Alex memahami
takdirnya sebagai pewaris Excalibur yang mesti menghentikan rencana Morgana.
Untuk itu, selain Bedders, direkrut pula Lance dan Kaye. Sebab serupa Raja
Arthur, Alex pun bisa mengubah lawan menjadi kawan. Bermodalkan kecerdikan
berlatar semangat bersenang-senang, naskah buatan Cornish menyerap beberapa
elemen legenda Arthurian, tanpa perlu
mengekang kebebasan mengeksplorasi kisah ke arah berbeda.
Karena sejatinya salah satu pesan
utama film ini adalah soal “memilih arahmu sendiri”. Walau presentasinya
sedikit inkonsisten (tepat setelah pesan itu disampaikan, Cornish membuat
karakternya kembali bergantung pada buku guna memecahkan masalah), elemen
tersebut memang diperlukan oleh blockbuster
masa kini. Masih segar di ingatan bagaimana Star Wars: The Last Jedi menerima setumpuk kebencian akibat enggan
menjadikan Rey keturunan sosok penting. The
Kid Who Would Be King melontarkan pernyataan tegas jika golongan biasa pun
sanggup (dan berhak) menjadi figur luar biasa.
Absen menyutradarai selama
bertahun-tahun tak membuat Cornish kehilangan sentuhan. Berpijak pada naskah
penuh aksi di mana deretan laga muncul tepat waktu demi menjaga momentum,
Cornish berhasil melahirkan beberapa sekuen seru lengkap dengan napas fantasi.
Namun kemenangan terbesarnya adalah kesuksesan memberi hati. Cornish memanfaatkan
kalimat “Honor those you love” untuk
membangun momen ibu-anak menyentuh, yang dibungkus menggunakan sensitivitas
dalam pengadeganan, akting kuat Denise Gough, serta timing sempurna.
PREMAN PENSIUN (2019)
Rasyidharry
Januari 19, 2019
Aris Nugraha
,
Comedy
,
Cukup
,
Didi Petet
,
Drama
,
Epy Kusnandar
,
Indonesian Film
,
M. Fajar Hidayatullah
,
REVIEW
,
Safira Maharani
,
Tya Arifin
9 komentar
Cerita semacam ini kerap saya
dengar sejak kecil dari ayah. Tentang seorang pria “penguasa” jalanan yang
dihormati anak buahnya, yang terdiri atas segerombolan preman setempat paling
ditakuti. Bisa dimengerti ketika beliau tidak bangga akan kisah tersebut, namun
sebagai bocah, tumbuh kekaguman akan sosok-sosok demikian. Bahkan salah satu tontonan
favorit saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar adalah Goodbye Mr. Cool (2001) yang dibintangi Ekin Cheng.
Pada sebuah adegan dalam Preman Pensiun, Muslihat alias Kang Mus
(Epy Kusnandar) menyuruh Ujang (M. Fajar Hidayatullah) mencari orang untuk
diam-diam melindungi puterinya, Safira (Safira Maharani). Mereka senang hati
membantu, sebab Kang Mus bukan semata bos, melainkan keluarga. Saya pernah
mengalami hal serupa kala dahulu pertama tiba di perantauan untuk berkuliah. Saya
mengagumi bentuk hubungan tersebut.
Itulah kenapa saya menikmati Preman Pensiun, walau belum menonton
tiga musim serialnya. Kisah filmnya dimulai tiga tahun selepas episode
terakhir, di mana Kang Mus beserta anak buahnya membubarkan diri demi memulai
kehidupan baru. Tapi nyatanya, sulit
meninggalkan bisnis lama mereka, yang seperti diucapkan mendiang Kang Bahar
(Didi Petet), adalah “Bisnis yang bagus tapi bukan bisnis yang baik”.
Kang Mus mengalami nasib serupa,
tatkala usaha kecimpring miliknya semakin sepi setiap hari. Selain itu,
terdapat pula kisah lain, seperti kekhawatiran Kang Mus akan Safira yang telah
beranjak dewasa dan memiliki kekasih, hingga konflik lebih besar nan serius
perihal pengeroyokan seorang pria.
Saya asing dengan serialnya, tapi sekali
waktu saat pulang kampung, saya sempat menyimak beberapa judul produksi RCTI
lainnya (Tukang Ojek Pengkolan, Dunia
Terbalik, dan lain-lain). Sutradara sekaligus penulis naskah Aris Nugraha,
yang dahulu turut melahirkan tontonan legendaris Bajaj Bajuri, kentara berusaha mempertahankan gaya khas “sinetron
Sunda” tersebut. Aris pernah menyatakan keengganan mengangkat Preman Pensiun ke layar lebar, karena
khawatir bakal menjadikannya eksklusif. Baginya, Preman Pensiun merupakan hiburan rakyat.
Hasilnya, penggemar lama secara
khusus, atau pemirsa televisi secara umum, takkan merasa teralienasi begitu
disuguhi lawakan ringan atau musik bernuansa Sunda garapan Dani Supit yang
mengalun sepanjang film. Bedanya, berkat tambahan production value, otomatis Preman
Pensiun punya tampilan lebih sinematik, pun didukung pilihan sudut kamera
yang tak sinetron-ish.
Aris Nugraha juga mempertahankan
model tutur sinetron, di mana begitu banyak cabang cerita untuk disatukan
selama 90 menit durasi. Tempo cepat cenderung ngebut wajib diterapkan, ketika
lompatan antar momen terjadi sekejap mata. Guna mengakali itu, Aris memakai
teknik transisi yang membuat dialog dan gambar muncul silih berganti bak saling
bersautan (Bagi kebanyakan penonton, teknik ini dipopulerkan film-film Warkop
DKI).
Teknik bernuansa komedik di atas
mungkin takkan memancing tawa lepas, tapi cukup menyuntikkan nuansa keceriaan
yang memancing senyum. Cara tutur tersebut sejatinya melemahkan kekuatan drama
mengenai usaha pertobatan para pensiuman preman. Konflik yang sesungguhnya
sederhana berakhir lebih rumit ketimbang seharusnya. Desain narasi Preman Pensiun memang tak bertujuan
menguatkan emosi, melainkan memfasilitasi agar durasi singkatnya bisa mencakup
seluruh cabang cerita, dan tentu saja, bersenang-senang.
Biarpun tanpa cerita yang seberapa
dalam, Aris Nugraha telah berhasil mencapai tujuan awalnya, yaitu membuat film
hiburan bagi semua kalangan. Deretan karakternya “berwarna”, pun sesekali bertindak
absurd. Sebutlah Mang Uu (Mang Uu) dengan Bahasa Inggris ala kadarnya, atau
Kang Pipit (Ica Naga) yang gemar menggoda wanita dan memperhatikan
detail-detail kecil tidak penting. Humor dari karakternya hadir dalam dosis
secukupnya. Aris berusaha melucu tanpa memaksakan kekonyolan di tiap adegan.
Di luar dugaan, Preman Pensiun juga menyimpan hati,
seperti nampak kala Kang Mus mengenang masa-masa menjadi anak buah Kang Bahar
di depan puteri mantan bosnya itu, Kinanti (Tya Arifin). Saya terenyuh meski
tak pernah melihat langsung hubungan Kang Mus dengan Kang Bahar berkat akting
solid Epy Kusnandar (seperti biasa), serta sensibilitas Aris Nugraha membungkus
melankoli dalam proses mengenang sesuatu yang pantas dikenang.
MATA BATIN 2 (2019)
Rasyidharry
Januari 19, 2019
Bianca Hello
,
Fajar Umbara
,
horror
,
Indonesian Film
,
Jeremy Thomas
,
Jessica Mila
,
Kurang
,
Nabilah Ayu
,
REVIEW
,
Riheam Junianti
,
Rocky Soraya
,
Sophia Latjuba
10 komentar
“Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah
tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih
rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film
jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna:
Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The
Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti
nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist,
hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.
Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan
drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus.
Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang
suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet
penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan
baku twist khas opera sabun.
Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia
Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil
negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka
melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat
penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci
jawaban misteri kematian Abel.
Di sana pula Alia bertemu Nadia
(Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka
menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara
di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek
suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali.
Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata
Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.
Tata suara garapan Khikmawan
Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah
didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari
mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa
momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat
distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.
Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum
ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya
upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi
cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera
cepat, lalu ditutup banjir darah”,
mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2
begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di
ingatan begitu durasi berakhir.
Metode menumpahkan darahnya pun serupa,
di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang
lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau
seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya
lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar
berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.
Sialnya, keberhasilan parade
kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan
dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang
idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan
penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan
sebagai scream queen tak kuasa menolong
konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan
perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan
harapan tersebut jadi kenyataan.
Langganan:
Komentar
(
Atom
)
























18 komentar :
Comment Page:Posting Komentar