TERLALU TAMPAN (2019)

18 komentar
Laju Visinema Pictures menjadi rumah produksi paling menarik negeri ini rasanya tak tertahankan. Setelah kesegaran Love for Sale tahun lalu, disusul mempersembahkan salah satu drama keluarga terbaik lewat Keluarga Cemara yang mengumpulkan lebih dari 1,6 juta penonton, kini giliran Terlalu Tampan, selaku adaptasi webtoon berjudul sama karya Mas Okis a.k.a. Muhammad Ahmes Avisiena Helvin dan S.M.S a.k.a. Savenia Melinda Sutrisno yang siap memamerkan keunikannya.

Debut penyutradaraan layar lebar Sabrina Rochelle Kalangie ini unik, sebab alih-alih dikurangi, gaya absurd ala komiknya justru dijadikan senjata utama, sehingga menghasilkan suguhan yang belum pernah ditemui di perfilman Indonesia. Pun gaya tersebut cocok membungkus kisah tak kalah absurd tentang Mas Kulin (Ari Irham), remaja dengan tingkat ketampanan (terlalu) tinggi yang dapat memancing huru-hara jika gadis-gadis menatap wajahnya. Mereka berteriak histeris, mimisan, bahkan sampai kayang bak orang kesurupan. Bermodalkan tampang “protagonis remaja tampan, polos, imut ” ala buku komik, merupakan pilihan tepat menunjuk Ari Irham memerankan Mas Kulin.

Kulin yang bernama asli Witing Tresna Jalaran Soko Kulina berasal dari keluarga tampan yang disebut tak pernah gagal merebut hati wanita. Kakaknya, Mas Okis (Tarra Budiman) adalah playboy sekaligus penulis buku 1001 Cara PDKT yang sampulnya mengingatkan pada Aku karya Sjuman Djaya. Ayahnya, Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dikenal sebagai pria badass yang sanggup melelehkan hati wanita lewat lontaran ejekan pedas. Sedangkan sang ibu, Bu Suk, yang tak kalah tampan berkat kumis tipisnya, diperankan Iis Dahlia dalam salah satu keputusan casting paling lucu nan jenius.

Tapi menjadi tampan rupanya tak mudah bagi Kulin. Dia tidak bisa bebas keluar rumah sehingga memilih mendekam di kamar sepanjang waktu. Merasa khawatir, keluarga Kulin menyiapkan rencana agar ia mau menghabiskan semester akhir SMA di sekolah umum. Namun di sekolah khusus pria pun, masalah tetap menghampiri Kulin dalam wujud para penindas yang dipimpin Sidi (Dimas Danang), yang tiga tahun terakhir menolak lulus karena proposal prom nite gabungan bersama SMA khusus wanita, BBM, dimentalkan oleh Amanda (Nikita Willy), si gadis “terlalu cantik”.

Sidi memaksa Kulin mengirimkan proposal tersebut, berharap ketampanannya dapat memuluskan langkah mereka. Walau awalnya berat hati, perlahan Kulin malah menikmati hidup barunya. Apalagi setelah ia menjalin persahabatan dengan satu lagi korban Sidi, Kibo (Calvin Jeremy). Didorong kekesalan terhadap keluarganya, Kulin bahkan sempat tinggal di rumah Kibo, menanggalkan rutinitas mewah yang ternyata hampa, digantikan kesederhanaan hangat dari pertemanan.

Benar bahwa Terlalu Tampan terbantu oleh kekuatan materi asalnya, tetapi naskah buatan Sabrina Rochelle Kalangie dan Nurita Anandia berjasa merangkumnya menjadi film 106 menit yang rapi. Humornya tidak dibiarkan berserakan, melainkan mengikuti ke mana alurnya bergulir. Ketika masih banyak film kita memilih menyusun komedinya bagai kumpulan sketsa acak di mana banyolan menjajah penceritaan, lega rasanya menyaksikan duo penulis naskah film ini bersedia meluangkan usaha lebih.

Menerjemahkan Webtoon jadi gambar bergerak berformat live action tanpa kehilangan kekhasan sentuhan komikal bukan perkara gampang. Beruntung, Sabrina memiliki insting visual mumpuni. Dibantu efek visual buatan Keliek Wicaksono, sang sutradara mewarisi semangat bersenang-senang ala film live action adaptasi manga. Selain itu, tak berlebihan rasanya menyebut comedic timing Sabrina sebagai salah satu yang terbaik. Dia tahu kapan mesti melepaskan absurditasnya agar tak meleset sedetikpun.

Selain persahabatan Kulin-Kibo yang turut jadi panggung pembuktian kapasitas akting memuaskan Calvin Jeremy, ada pula drama keluarga serta romansa. Khusus romansanya, elemen tersebut berjasa tak kalah besar dibandung humornya perihal menjadikan Terlalu Tampan tontonan menyegarkan. Kulin terpikat pada Rere (Rachel Amanda), karena gadis satu ini begitu dingin menyikapi ketampanannya. Daripada mengikuti arah yang biasa ditelusuri drama romantika remaja SMA umumnya, Terlalu Tampan memakai opsi lebih dewasa, guna menggiring karakternya menuju pembelajaran soal realita kehidupan.

18 komentar :

Comment Page:

THE MULE (2018)

4 komentar
Melalui The Mule, Clint Eastwood menciptakan dunia yang mengedepankan code of honor. Hampir semua karakter saling memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat, walau mereka adalah kartel narkoba kejam, atau polisi dan sang buruan. Hasilnya adalah film kriminal yang lembut meski tak jarang perih, senada dengan situasi hidup protagonisnya yang telah berusia 90 tahun.

Apakah gambaran tersebut terlalu naif untuk mewakili kejamnya dunia sekarang? Mungkin The Mule bukan potret akurat, tapi pilihan itu pun bukannya tanpa tujuan. Earl Stone (Clint Eastwood)—yang sosoknya dibuat berdasarkan artikel The New York Times berjudul The Sinaloa Cartel's 90-Year-Old Drug Mule mengenai kisah hidup Leo Sharp—diperlakukan dengan baik, bahkan pelan-pelan tampak akrab dengan anggota kartel tempatnya bekerja sebagai kurir narkoba. Tapi kondisinya berbanding terbalik jika membicarakan keluarga, yang selama bertahun-tahun jarang ia perhatikan.

Jangankan acara makan bersama, Earl bahkan absen dari pernikahan puterinya. Dia menyibukkan diri dalam pekerjaan, entah melanglang buana di jalan atau menanam bunga di kebun. Pesannya jelas: Anda takkan sepenuhnya jadi orang terhormat bila belum memperlakukan keluarga dengan baik. Karena keluarga wajib dinomorsatukan.

Tapi bagaimana pria 90 tahun bisa menjadi kurir narkoba? Pertama, ia terbiasa berkendara jarak jauh di jalanan (pernah mengunjungi 47 dari total 51 negara bagian) sehingga ia paham mana metode yang terbaik. Kedua, siapa bakal mencurigai pria tua? Ketika polisi menghampirinya, berkat sedikit trik cerdik, Earl sanggup lolos biarpun seekor anjing K9 turut berada di sana. Tidak butuh waktu lama, Earl merebut tahta kurir terbaik pasca secara konsisten, mengirim ratusan kilogram narkoba setiap bulan.

Awalnya, Earl bersedia mengambil pekerjaan itu akibat tak lagi memiliki tujuan setelah rumah dan kebunnya disita. Sampai tujuan-tujuan sederhana yang menginjeksi The Mule dengan bobot rasa mulai ia temukan, sebutlah membantu biaya kuliah dan pernikahan sang cucu (Taissa Farmiga) hingga menghidupkan lagi bar tempat berkumpulnya para veteran.

Eastwod sempurna mengisi peran sebagai Earl, si pria tua tangguh yang demi kelancaran misinya berlagak rapuh di luar, walau sejatinya ia memang rapuh di dalam. Wajah keras yang jadi ciri khasnya masih terpampang jelas, namun kini, di usia 88 tahun fisiknya jelas makin lemah. Dibanding kemunculan terakhirnya sebagai aktor di Trouble with the Curve tujuh tahun lalu, sang legenda nampak ringkih, yang justru ia manfaatkan untuk memperkuat performanya. Gestur, ekspresi, hingga tutur kata Eastwood mencerminkan beragam kebimbangan serta penyesalan seorang pria di hari tua.

Sulit menahan pertanyaan, “Dari mana datangnya energi dan dedikasi itu?”. Sebab untuk pertama kali sejak Gran Torino 10 tahun lalu, Eastwood melakoni peran ganda sebagai aktor sekaligus sutradara. Selaku sutradara, pengalaman empat dekade Eastwood bisa kita rasakan. Dia enggan memaksakan dramatisasi. Momen paling menyentuh hadir lewat obrolan hati ke hati sederhana namun penuh kejujuran, sedangkan pertemuan pertama Earl dengan Colin Bates (Bradley Cooper), agen DEA yang ditugaskan meringkusnya, terjadi dalam situasi yang sangat kasual tapi meninggalkan kesan kuat.

Naskah garapan Nick Schenk (Gran Torino, The Judge)—yang bersedia melontarkan barisan celetukan menggelitik meski sarat kontemplasi—juga bertutur soal sosok dari masa lalu yang tak ubahnya fosil hidup, yang coba berubah mengikuti perkembangan. Earl tidak bisa mengirim SMS, membenci internet, baru mengenal Dykes on Bikes, juga secara kasual melontarkan ucapan bernada rasisme. Sepanjang jalan mengantarkan narkoba, Earl menyaksikan dunia modern yang baru dikenalnya, lalu dengan senang hati menyesuaikan diri.

The Mule bagai sikap pria tua terhadap kalimat “Live your life to the fullest”. Earl selalu berusaha menikmati hidup sebisa mungkin, dan ia terpaksa membayar itu dengan kehilangan keluarga. Dan tidakkah begitu besar rasa sakit juga penyesalan yang menghampiri begitu kita menyadari itu, tetapi terlanjur kehabisan waktu guna menebus segalanya?  

4 komentar :

Comment Page:

GREEN BOOK (2018)

10 komentar
Meski jauh dari sempurna dan bukan yang terbaik di antara nominasi Best Picture Oscar tahun ini,  saya tak keberatan bila Green Book akhirnya keluar sebagai jawara. Penyutradaraan solo kedua Peter Farrelly sejak Dumb and Dumber (1994) ini mengingatkan kepada jajaran pemenang dari masa lalu, khususnya era 80 hingga 90-an, tatkala sajian menghibur nan hangat sekaligus kental pesan positif yang dipaparkan lewat optimisme mendominasi.

Ditulis naskahnya oleh Peter Farrelly, Brian Currie (Two Tickets to Paradise), dan Nick Vallelonga (Deadfall, Choker), kisahnya terinspirasi kisah nyata tentang Tony Vallelonga (Viggo Mortensen), pria Italia-Amerika yang menjadi sopir Don Shirley, pianis jazz Afrika-Amerika yang hendak menjalani tur di area Deep South Amerika. Tony, yang tengah mencari pekerjaan sementara pasca kelab malam tempatnya bekerja direnovasi, sebagaimana banyak orang di tahun 1960-an (hell, even until now) menyimpan ketidaksukaan pada kulit hitam.

Masalah terbesar Green Book terletak pada cara mempresentasikan perubahan sikap Tony. Kita sempat melihatnya membuang gelas yang dipakai dua tukang ledeng berkulit hitam minum. Peristiwa itu memotretnya bak “rasis sejati” yang memendam kebencian dan/atau rasa jijik terhadap kulit hitam. Benar bahwa ia bersedia bekerja untuk Don demi uang, dan sepanjang perjalanan ia kerap melontarkan celotehan stereotipikal, misalnya ekspresi keheranan Tony kala mengetahui Don tidak mendengarkan “black music” atau makan ayam goreng. Tapi dibandingkan aksi membuang gelas, karakterisasinya jelas berubah jauh lebih lembut, bahkan sebelum mengalami pengalaman berharga, yang jadi elemen penting dalam road movie semacam ini.

Andai “adegan gelas” itu tidak ada, atau naskahnya memberi gradasi lebih bagi proses yang terjadi, transformasi Tony bakal jauh lebih berdampak. Tapi di luar lubang tersebut, Green Book menyimpan setumpuk momen hangat meskipun karakternya harus menempuh jalan terjal, berjibaku melawan rasisme serta segala bentuk prasangka.

Film ini pun tampil unik ketika memposisikan dua tokoh utamanya dalam beberapa situasi terbalik terkait kondisi sosial dan stereotip terkait ras di masa itu. Tony si kulit putih menjadi pelayan kasar nan kurang berpendidikan, sedangkan Don memasang sikap yang lebih bermartabat juga bertabur kemewahan. Ketika Don dibanjiri tepuk tangan lewat permainan pianonya, Tony sibuk berjudi bersama para sopir berkulit hitam.

Perjalanan ini memantik rasa kemanusiaan Tony seiring banyaknya ia menyaksikan ketidakadilan menimpa Don. Berkebalikan dengan sang bos, Tony tak kuasa menahan luapan emosi. Bukan saja karena ia bersumbu pendek, pula karena tanpa sadar, Tony selalu menikmati hak istimewa sebagai pria kulit putih, yang takkan dibanjiri konsekuensi berbahaya bila berbuat kekeliruan. Bayangkan jika Don yang memukuli seorang pemicu keributan di awal film.

Don paham betul, bahwa untuk bertahan hidup dan lebih dihargai, ia wajib menjaga sikap. Bahkan setelah semua itu pun, sekadar memakai toilet pun ia tetap tak diperkenankan. Don berharap dihormati, tapi pilihan itu justru sering membuatnya serba salah, sebab ia tidak “cukup putih” untuk memperoleh perlakuan layak, pula “kurang hitam” untuk dianggap sebagai satu kaum. Di sinilah naskah Green Book menyentuh area kompleks isu rasisme, yakni mengenai tuntutan menjadi seragam agar bisa diterima dengan tangan terbuka. Bahwa rasisme atau bentuk opresi lain terjadi akibat keengganan manusia merayakan perbedaan. Green Book  berusaha melawan prasangka. Bahkan Don—yang acap kali jadi korban—pun terjebak dalam kecenderungan berprasangka.

Walau menyinggung subjek sensitif dan cenderung gelap, Green Book sejatinya tontonan crowd-pleaser. Beberapa momen kebersamaan mampu menghangatkan hati, dan tentu saja, serupa film-film Peter Farrelly lain, komedi jadi salah satu menu utama. Tidak seluruhnya tepat sasaran, tapi kreativitas dalam kejenakaan usil Farrelly bukan saja menghibur, juga menguatkan hubungan dua tokoh utamanya.

Berkat chemistry solid Viggo-Mahershala, Green Book menjadi buddy comedy renyah. Keduanya piawai menyeimbangkan porsi drama dan komedi, sambil terus saling melontarkan kelakar yang menjaga dinamika film, terlebih ketika Tony dan Don mulai meruntuhkan tembok pembatas di antara mereka. Berbeda dengan dua tahun lalu, kali ini saya mendukung Mahershala memenangkan Oscar keduanya. Kompleksitas gejolak batin Don sanggup dimunculkan, sambil sesekali memamerkan kemampuannya bermain piano.

10 komentar :

Comment Page:

THACKERAY (2019)

4 komentar
Karakter dalam Thackeray sungguh miskin motivasi, sebab karya terbaru Abhijit Panse (Rege) ini sibuk memberi glorifikasi terhadap radikalisme yang jadi akar perjuangan sang protagonis. Benar bahwa di satu sisi, filmnya enggan menutupi kontroversi terkait pendekatan ekstrim Bal Thackeray sang pendiri partai sayap kanan Shiv Sena. Tapi, ditulis naskahnya oleh Abhijit Panse selaku anggota Maharashtra Navnirman Sena (diketuai Raj Thackeray, keponakan Bal Thackeray) berdasarkan cerita dari Sanjay Raut yang merupakan salah satu petinggi Shiv Sena, ketimbang objektivitas, justru dukungan akan kekerasan yang terasa dari cara tutur “apa adanya” tersebut.

Naskahnya tak peduli soal penggalian sisi personal Bal Thackeray sebagai cara mempresentasikan motivasinya, karena tujuan filmnya sendiri murni surat cinta buta kalau tak mau disebut propaganda. Bayangkan film biografi “jujur” tentang Prabowo Subianto tentang sepak terjangnya semasa Orde Baru yang ditulis oleh Fadli Zon. Demikian kurang lebih cara kerja Thackeray.

Filmnya dibuka sebelum dilangsungkannya persidangan terhadap Bal Thackeray (Nawazuddin Siddiqui) yang dituduh terlibat dalam aksi kekerasan terhadap muslim di Bombay, termasuk perusakan sebuah masjid. Situainya kacau, di mana kita dapat mendengar orang-orang beradu argumen mengenai Thackeray, menggambarkan betapa ia sosok kontroversial yang dapat memecah publik menjadi dua kubu. Kemudian filmnya bergerak mundur ke akhir 1950-an, tatkala Thackeray masih bekerja sebagai pembuat karikatur bagi The Times of India.

Di sinilah mestinya dilakukan eksplorasi supaya penonton memahami, apa yang membentuk seorang Bal Thackeray. Sisi pemberontaknya memang nampak saat menolak mematuhi perintah atasan untuk mengerem kritik pedasnya bagi kalangan politikus. Thackeray pun memilih mundur, menunjukkan bahwa sebagai individu, ia selalu berpegang teguh pada idealisme.

Melalui fase ini pula Abhijit Panse, dibantu penata kamera Sudeep Chatterjee yang berpengalaman menggarap judul-judul cantik seperti Bajirao Mastani (2015) dan Padmaavat (2018), menerapkan beberapa pilihan visual menarik. Warna hitam-putih dipakai hingga separuh perjalanan, sambil sesekali terselip animasi bergaya karikatur. Sinematografinya sanggup memaksimalkan visual hitam-putihnya untuk menyajikan beberapa momen yang memanjakan mata.

Tapi selanjutnya, Thackeray seolah berasumsi seluruh penonton telah memahami konflik yang dituturkan. Bal Thackeray menerbitkan majalah sendiri yang ia beri nama Marmik (straight from the heart), lalu mendirikan Shiv Sena dengan tujuan membela orang-orang Marathy yang menjadi korban opresi. Opresi macam apa? Filmnya urung memperlihatkan secara pasti. Alurnya melompat dari satu masalah ke masalah lain tanpa gambaran latar yang jelas, dan itu terus-menerus terjadi, sehingga penonton awam niscaya bakal semakin tersesat.

Thackeray jengah menyaksikan kaumnya diperlakukan tidak adil, namun itu belum cukup menjustifikasi langkah-langkah radikalnya. Eksplorasi lebih jauh wajib filmnya lakukan agar penonton memahami (tidak perlu sampai menyetujui) pilihan sikap karakternya. Kegagalan tersebut turut membuat momen kontemplatif yang lebih lembut ketika Meena (Amrita Rao), istri Thackeray, mempertanyakan alasan orang-orang menganggap mereka jahat, padahal mereka hanya ingin menolong orang yang membutuhkan. Apa manusia-manusia ini lupa saat pendukung fanatik Shiv Sena menghancurkan kota beserta toko-toko sementara Bal Thackeray sama sekali tak mengecam tindakan itu?

Setelah mencapai separuh jalan, Thackeray mulai bergerak lebih mulus dan mengajak kita sesekali belajar memahami pola pikir karakternya. Bal Thackeray ingin mencerdaskan masyarakat, karena baginya percuma publik berteriak “Sediakan lapangan kerja!” andai mereka memang tak kompeten. Alasannya memperjuangkan hak Marathy yang (konon) dikesampingkan di rumah sendiri pun dapat dimengerti.

Tapi haruskah jalan radikal dipilih? Ketimbang berargumen mengenai masalah itu, Thackeray memilih menutup mata. Mungkin karena bagi pembuatnya, hal-hal tersebut merupakan kebenaran hakiki yang tak perlu dijelaskan. Hasilnya adalah film mengerikan (in a negative way) yang pantas disingkirkan ke tempat sampah kalau bukan karena performa Nawazuddin Siddiqui lewat keberhasilannya menghidupkan figur kharismatik, yang melalui baris demi baris kalimatnya sanggup menggerakkan (atau mempengaruhi?) massa tanpa harus berorasi dengan teriakan. Gesturnya pasti, pelafalan kalimatnya jelas, ribuan kali lebih jelas dibanding keseluruhan filmnya.

4 komentar :

Comment Page:

MANIKARNIKA: THE QUEEN OF JHANSI (2019)

Tidak ada komentar
Manikarnika: The Queen of Jhansi hanya kurang selangkah lagi menjadi film empowerment memikat tentang penolakan seorang pemimpin wanita untuk tunduk pada penjajah serta persepsi sosial yang mengekang kebebasan wanita. Seluruh momen pendukung yang diperlukan telah filmnya miliki, belum lagi ditambah performa kelas wahid sang aktris utama, yang bukan mustahil bakal masuk jajaran klasik di masa depan. Sayang, akibat kecanggungan di beberapa poin pengadeganan serta penyuntingan, elemen-elemen tersebut urung menyatu dengan baik.

Berlatar pertengahan era 1800-an tatkala kekuasaan Inggris di India semakin kejam, dan hampir semua kerajaan memilih tunduk, Manikarnika: The Queen of Jhansi menuturkan kisah hidup Manikarnika alias Manu (Kangana Ranaut), si wanita tangguh yang dibesarkan layaknya prajurit oleh ayahnya (Manish Wadhwa) dan Bajirao II (Suresh Oberoi) dari Bithoor. Semasa bayi, seorang peramal menyebut bahwa kelak nama Manu bakal tercatat dalam sejarah India.

Perjalanan Manu menjadi salah satu figur berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan India dimulai kala ia menikahi Maharaja dari Jhansi, Gangadhar Rao (Jisshu Sengupta), lalu mengganti namanya menjadi Lakshmibai. Sejak itulah ia mulai belajar soal situasi politik, pula penderitaan rakyatnya selama kolonialisme mencengkeramkan tanah India. Sampai suatu hari, pasca menyaksikan sang suami menundukkan kepala kepada Kapten Gordon (Edward Sonnenblick), hasrat meletuskan perlawanan mulai tumbuh di dada Manu.

Tentu itu bukan perkara mudah. Manu tidak sajamesti menghadapi kekuatan militer Inggris yang berkali lipat lebih besar dan kuat, juga kultur yang kurang bersahabat dengan wanita. Tidak semua orang bersedia tunduk di hadapan Manu, walau ia berstatus seorang Ratu. Ibu mertuanya sendiri bahkan menyuruh Manu berkonsentrasi saja di dapur ketimbang ikut mengurusi masalah politik.

Persekusi, seksisme, juga budaya misogini merupakan konteks yang masih relevan biarpun lebih dari 200 tahun telah berlalu sejak kisah film ini. Itu sebabnya perjuangan Manu teraa bermakna. Manikarnika: The Queen of Jhansi mampu menjalankan perannya untuk meyakinkan penonton, betapa sang Ratu tituler adalah sosok besar yang kisahnya pantas diangkat.

Saya dibuat kagum oleh beberapa keberanian Manu, mulai dari penolakannya menjalankan ritual sebagai janda dan memilih fokus menyusun rencana perlawanan, hingga aksi-aksi penuh nyalinya di medan perang. Manu tak gentar melancarkan serangan terbuka walau nyawa jadi taruhannya. Sebab ia yakin, kematiannya justru akan menyulut semangat rakyat. Keberaniannya bahkan membuat Jenderal Hugh Rose (Richard Keep) yang terkenal atas kekejamannya (literally) mengalami mimpi buruk hingga berteriak bak pengecut.

Kangana Ranaut, yang turut duduk di kursi sutradara bersama Krish (Gautamiputra Satakarni, Gabbar is Back), menghadirkan akting yang tak kalah membara dari api perjuangan Manu. Tatapan matanya dapat membuat prajurit nomor wahid sekalipun ciut nyalinya. Kangana adalah salah satu alasan mengapa momen ketika Manu mulai menduduki tampuk kekuasaan—yang dibarengi musik epic gubahan Ankit Balhara dan Sanchit Balhara (Bajirao Mastani, Padmaavat)—terasa menggetarkan walau keseluruhan penceritaan film ini urung mencapai hasil maksimal.

Ketidakmulusan pengadeganan dibarengi penyuntingan kasar jadi sumber persoalan. Anda akan menemukan beberapa titik balik dramatis yang jumpy, di mana sikap maupun emosi karakter berubah tiba-tiba, kebanyakan di antaranya terjadi setelah mendengar pidato inspirasional. Niatnya jelas: memperlihatkan betapa kuat pidato-pidato tersebut. Tapi tanpa transisi layak, justru kekonyolan yang muncul.

Terdapat adegan mengerikan saat gadis cilik digantung karena ia bernama Lakshmi, namun peristiwa keji itu pun nihil dampak, karena diselipkan paksa di antara sekuen uplifting lengkap dengan musik pengiring bernuansa positif. Kelemahan di atas terulang beberapa kali, sehingga tensi dramatis filmnya pun acap kali berakhir lemah.

Meski masih “gagap” saat bercerita, Kangana dan Krish cukup mumpuni menciptakan sekuen aksi epic nan megah, walau dalam hal film sejarah, visual seperti apa pun bakal tampak kerdil setelah kehadiran Padmaavat tahun lalu. Peperangannya brutal, tak pernah ragu menumpahkan darah di tengah aksi saling tebas. Tapi jangan mengharapkan kuantitas tinggi, mengingat deretan laga baru tersaji begitu filmnya berlangsung hampir dua jam.

Tidak ada komentar :

Comment Page:

INSTANT FAMILY (2018)

6 komentar
Mungkin banyak yang memandang sebelah mata Instant Family karena statusnya sebagai drama-komedi ringan. Tapi karya terbaru Sean Anders (Horrible Bosses 2, Daddy’s Home, Daddy’s Home 2) ini sejatinya mengusung pesan penting soal parenting. Pun balutan komedi tak melucuti kekuatan ceritanya, sebab seperti perkataan Karen (Octavia Spencer), “It’s important to have sense of humor in this (parenting)”. Mengasuh anak dapat menimbulkan frustrasi, namun tawa tak boleh dienyahkan dari prosesnya.

Instant Family mengajak kita menertawakan sulitnya mengasuh anak, sambil mengaduk emosi lewat drama keluarga menyentuh. Film ini bagai versi ringan dari Shoplifters milik Hirokazu Kore-eda. Walau pendekatannya amat berbeda, kedua film sama-sama mempertanyakan, “What makes a family?”. Apakah ikatan darah merupakan kewajiban? Ataukah besarnya cinta kasih jadi hal terpenting?

Keinginan menimang buah hati mulai timbul dalam benak pasangan suami-istri, Pete (Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne). Tapi mempertimbangkan usianya, Pete khawatir jika kelak ia sudah terlalu tua begitu sang anak mulai beranjak dewasa. Walau dipresentasikan secara jenaka, topik tersebut sebenarnya relevan. Saya sendiri kerap terlibat obrolan serupa dengan ayah. Itulah alasan di balik keputusan mereka memilih mengadopsi anak berusia sekitar lima tahun.

Tapi atensi mereka justru direbut oleh remaja 14 tahun bernama Lizzie (Isabela Moner), yang juga memiliki dua adik, Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Pete dan Ellie pun berujung membawa pulan tiga anak. Keduanya boleh mencari nafkah dari bisnis reparasi rumah, namun itu tak otomatis memudahkan pekerjaan “memperbaiki” ketiga anak angkat mereka, yang mempunyai masa lalu suram akibat sosok ibu tak bertanggung jawab.

Hari-hari yang tadinya sunyi mendadak riuh, kacau, dan tentunya penuh tekanan. Lita yang terobsesi pada keripik kentang selalu histerikal, Juan amat sensitif sehingga bisa menangis karena hal kecil, sedangkan Lizzie, well.....remaja. Mayoritas konflik yang menggambarkan repotnya proses mengasuh, dibungkus menggunakan sampul komedi dengan presentasi keberhasilan memancing tawa yang sangat tinggi berkat materi lawakan segar dari naskah buatan Sean Anders bersama John Morris (Hot Tube Time Machine, We’re the Millers, Dumb and Dumber To).

Porsi Mark Wahlberg dan Rose Byrne bagai mencerminkan pembagian peran orang tua. Terlepas dari kesanggupan mereka menangani kedua elemen, terlihat bahwa Byrne—dengan talenta luar biasa dalam merespon segala situasi menggelikan—menyokong porsi komedi, sementara Wahlberg—berbekal kharisma sosok ayah keren—hadir untuk menghangatkan perasaan kita (dan anak-anaknya).

Kesuksesan terbesar Instant Family terletak pada kecakapan beralih antara komedi dan drama secara konstan. Di satu titik, filmnya bisa mengocok perut kita lewat gelak tawa, lalu sejurus kemudian mencengkeram dada melalui rasa haru. Penggambaran ikatan keluarganya selalu kuat, sebab Anders—yang menulis naskah ini berdasarkan cerita hidupnya—tahu, pemandangan terkait hubungan anak dengan orang tua seperti apa yang efektif melelehkan hati. Benang merahnya selalu sama: ungkapan cinta.

Instang Family adalah soal cinta, dan dalam menyampaikan pesannya, film ini beruntung mempunyai kreativitas Sanders perihal menjalin kata-kata, yang ketimbang terdengar murahan atau terlalu melankolis, justru mampu seketika menusuk perasaan penontonnya, sekaligus menggiring kita supaya menyadari, bahwasanya setiap anak di muka Bumi pantas dicintai. Instant Family adalah suguhan kaya rasa, sehingga biarpun bergerak cukup panjang untuk ukuran drama-komedi keluarga (119 menit), saya takkan keberatan bila kisahnya terus digulirkan.

6 komentar :

Comment Page:

MATT & MOU (2019)

3 komentar
Tidak semua film perlu cerita kompleks atau mengusung konflik berat. Terkadang, kesederhanaan dan sentuhan ringan justru opsi terbaik. Semua tergantung kebutuhan. Matt & Mou adalah contoh terkini tentang bagaimana kegagalan menyadari itu berujung melemahkan filmnya, yang sebenarnya merupakan romansa remaja ceria nan menyenangkan, andai tak dibarengi hasrat “melakukan lebih”.

Di antara Matt (Maxime Bouttier) dan Mou (Prilly Latuconsina) terjalin hubungan “kakak-adik” yang bersemi sejak keduanya bertemu semasa kecil. Matt dan Mou tinggal bersebelahan, dalam dua rumah yang—sama semaraknya dengan pertemanan mereka—dikelilingi warna-warni pastel juga motif bunga-bunga menghiasi dinding. Sebuah sentuhan artistik apik yang sempurna mewakili hubungan dua tokoh utamanya.

Bentuk interaksi mereka pun menggemaskan, dari memanggil diri sendiri memakai nama hingga bicara melalui telepon kaleng yang menghubungkan kedua kamar. Mereka begitu dekat, sampai Mou membutuhkan persetujuan Matt tentang siapa lelaki yang pantas menjadi kekasihnya. Matt sendiri belum pernah berpacaran, dan kita tahu pasti alasan yang ia pilih untuk pendam.

Sampai suatu hari, Mou benar-benar jatuh hati kepada Reza (Irsyadillah), penyanyi cafe yang dikenalnya lewat Instagram. Tentu Matt enggan semudah itu memberi Reza jalan. Syarat-syarat berat ia ajukan sebelum merestui Reza dan Mou berpacaran. Di sinilah Matt & Mou semestinya “berhenti”. Di situlah sebaiknya naskah buatan Alim Sudio (Kuntilanak, Chrisye, Ayat-Ayat Cinta 2), yang mengadaptasi novel berjudul sama Wulanfadi, meletakkan fokus alih-alih melangkah menuju rangkaian problematika kelam.

Mou berasal dari keluarga yang jauh dari kata harmonis. Elemen ini bukanlah permasalahan, selama bertujuan menguatkan serta memperdalam penokohan. Bahkan eksistensi Matt bisa saja menjadi lebih bermakna karena elemen tersebut. Tapi sayangnya tidak demikian. Matt & Mou memilih memperluas cakupan begitu mencapai sebuah titik balik berupa twist. Sejak itu, alur bukan lagi mengetengahkan relasi dua protagonis, yang akhirnya melemahkan intimasi yang semestinya merupakan menu utama.

Titik balik itu pun terlalu kelam, memberi distraksi dan inkonsistensi tone bila disandingkan rasa manis yang dijadikan jualan utama filmnya, walau paling tidak, berkat aspek tersebut, kita berkesempatan melihat performa solid Marthino Lio sebagai sang antagonis. Tidak jelas apa yang coba diraih twist-nya selain untuk membuat penonton tercengang. Jika tujuan akhirnya adalah menggambarkan kuatnya perasaan Matt, maka momen ketika ia merestui hubungan sahabatnya (selama Reza berjanji bakal terus menjaga Mou) justru lebih efektif.

Perubahan jalur filmnya pun tak memfasilitasi performa bertenaga Prilly, yang berjasa menjadi mesin penggerak Matt & Mou. Sewatu Maxime masih belum juga mampu memberi penampilan natural yang nyaman disaksikan (terlebih caranya bicara), Prilly berhasil menghidupkan sosok lovable, yang termasuk salah satu alasan mengapa karir layar lebarnya pantas dihargai lebih dari sekadar “That lead actress from ‘Danur’ movie series”.

Konklusi milik Matt & Mou berusaha membawa kembali atmosfer jenaka nan menggemaskan sebagaimana di paruh awal. Hasilnya memuaskan. Matt & Mou sukses ditutup dengan manis, bahkan berpotensi mengharukan bagi sebagian penonton. Penyutradaraan Monty Tiwa pun masih menunjukkan kehandalan merangkai momen romantis emosional bermodalkan situasi sederhana. Meski di saat bersamaan, mengembalikan "rasa cotton candy” membuat tonal jump pasca titik balik di babak keduanya semakin kentara.

3 komentar :

Comment Page:

TABU (2019)

6 komentar
Horor lokal berkualitas bobrok memang mengesalkan, namun lebih menyesakkan menonton sajian seperti Tabu, yang menyimpan intensi baik untuk tak sekadar membuat produk asal jadi, tetapi berakhir sebagai kegagalan akibat nyaris tiada satu pun elemen yang bekerja. Ditulis naskahnya oleh Haqi Achmad (Sajen, Rompis, Ada Cinta di SMA), pondasi Tabu mengikuti jalur formulaik soal siswa-siswi SMA yang ingin menyambangi tempat angker demi menangkap penampakan hantu. Momen-momen “wajib” seperti menyusun rencana perjalanan di sekolah lengkap dengan rangkaian pembicaraan yang telah kita dengar ratusan kali di film-film setipe lain, hingga diperlihatkannya kliping beberapa lokasi berhantu di kamar salah satu karakternya, bisa anda temukan di sini.

Pembeda film karya Angling Sagaran (From London to Bali, Total Chaos) dari banyak kompatriotnya sesama horor semenjana adalah keberanian untuk tak bergantung pada hantu yang menyergap tiap lima menit. Haqi berusaha meluangkan waktu pada eksplorasi karakter sembari menyelipkan konflik keluarga disfungsional di antaranya. Supaya berhasil, penonton perlu dibuat menyukai karakter-karakter beserta interaksi mereka.

Tapi sewaktu yang muncul adalah dialog hambar, penokohan membosankan, plus akting seadanya, interaksi enam remaja yang nekat mendatangi Leuweung Hejo ini pun kekurangan rasa dan warna agar bisa dinikmati. Keliru jika mengira kegemaran Mahir (Bastian Steel) mengumbar rayuan gombal kepada Muti (Agatha Chelsea) dapat memancing senyum. Hasilnya ironis. Keberanian menekan kuantitas jump scare berujung menjadi pisau bermata dua, sebab Tabu bergerak tak bertenaga bagai orang kekurangan gizi. Membosankan.

Bahkan setelah mereka memutuskan pulang lebih cepat dari Leuweung Hejo, ketika Diaz (Angga Yunanda) kesurupan—yang dikarenakan inkonsistensi akting, kadang tampak seperti mayat hidup, kadang seperti demam, kadang seperti anak kurang makan—sedangkan Keyla (Isel Fricella), karena alasan yang diungkap jelang akhir, memaksa kawan-kawannya membawa pulang bocah bisu misterius yang mereka temui di tengah hutan.

Andai pengembangan karakternya berhasil, begitu teror yang membuntuti keenam remaja ini mulai membawa maut, Tabu berpotensi jadi horor yang menusuk perasaan. Sebab secara struktur penceritaan, pendekatan Haqi sudah tepat dengan mengajak penonton menghabiskan waktu bersama karakternya sebelum melepaskan teror ke permukaan. Pun sebuah subplot mengenai rahasia Leuweung Hejo serta kaitannya dengan beberapa karakter disajikan terburu-buru sehingga hanya melahirkan eksplorasi mitologi setengah matang.

Tabu menyimpan segelinter ide potensial perihal cara menakut-nakuti, namun penyutradaraan Angling Sagaran terlampau lemah guna memaksimalkannya, termasuk dalam klimaks tak bertaring miliknya. Ditambah tata rias medioker, kita patut bersyukur Tabu enggan melempar banyak jump scare, sebab dengan begitu, kelemahan-kelemahan di atas tak berkesempatan menyeruak lebih sering. Filmnya ditutup lewat cliffhanger, yang lagi-lagi terdengar menjanjikan di atas kertas tapi berakhir tanpa dampak karena kegagalan Tabu memancing kepedulian terhadap karakternya.

6 komentar :

Comment Page:

ORANG KAYA BARU (2019)

5 komentar
Orang Kaya Baru disutradarai oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, Sweet 20, Me vs Mami) yang sekali lagi membuktikan kapasitasnya menggarap tontonan berdaya hibur tinggi. Tapi sebenarnya film ini lebih terasa sebagai pengingat tentang betapa bagusnya penulisan komedi seorang Joko Anwar. Saya tertawa lepas sepanjang durasi, karena selain kreatif, humornya begitu nyata. Joko merangkai absurditas berdasarkan realita yang teramat dekat.

Kisahnya menampilkan sebuah keluarga yang (harus) makan bersama tiap malam demi penghematan. Penghasilan Bapak (Lukman Sardi) di bengkel tak seberapa, demikian pula hasil dagangan kue Ibu (Cut Mini). Ketiga anak mereka pun mesti pontang-panting. Tika (Raline Shah) dituntut mengerjakan tugas kuliah arsitekturnya memakai barang bekas, Duta (Derby Romero) hanya bisa bermimpi membuat pementasan teater megah, sedangkan si bungsu Dodi (Fatih Unru) sering jadi bahan olok-olok di sekolah akibat sepatu bututnya.

Di tengah kondisi ekonomi serba kekurangan tersebut, mereka justru memperoleh hal yang lebih bernilai ketimbang uang: kebersamaan dan kehangatan keluarga. Selepas Bapak meninggal, kondisi berbalik. Rupanya ia berasal dari keluarga kaya yang menyembunyikan hartanya karena ingin keluarganya menghargai hasil kerja keras. Kini seluruh tabungan tersebut diwariskan kepada istri serta anak-anaknya.

Seperti jamaknya stereotip orang kaya baru yang kita kenal, mereka “kaget” dan menghambur-hamburkan uang tersebut. Secepat kilat mereka mendapatkan apa yang selama ini tak dimiliki, walau tanpa sadar, di saat bersamaan mereka pun kehilangan hal penting yang dimiliki. Sekarang mereka sibuk berbelanja sendiri-sendiri, mampu makan di luar rumah, dan jalan-jalan sesuka hati. Tidak perlu lagi ada penghematan dengan cara makan bersama.

Joko memposisikan meja makan selaku hati film ini. Hampir seluruh momen emosional Orang Kaya Baru bertempat di sana, sebutlah “pertemuan keluarga mendadak” pasca penguburan Bapak, lamunan Dodi kala duduk sendirian merindukan kehangatan keluarga, hingga saat si bungsu itu menumpahkan segala keluh kesahnya. Fatih Unru melanjutkan pencapaian gemilangnya di Petualangan Menangkap Petir tahun lalu sebagai salah satu aktor cilik paling menjanjikan di negeri ini.

Babak kedua film ini sejatinya sebatas kompilasi momen komedik yang menyoroti kekonyolan perilaku para orang kaya baru. Pilihan ini berisiko membuat alurnya jalan di tempat dan monoton, tapi beruntung, humor tulisan Joko selalu segar, timing pengadeganan Ody sempurna, dan performa jajaran pemain senantiasa menyuntikkan energi, khususnya kedua pelakon wanita utama. Di luar glamoritas yang membuatnya layak memperoleh peran di sekuel Crazy Rich Asians, Raline Shah memamerkan sisi lain sekaligus penampilan terbaik sepanjang karir, kala mulus melakoni tingkah norak Tika. Begitu pula Cut Mini dengan gaya histerikal yang tak pernah gagal mengocok perut. Hampir setiap baris kalimat maupun kelakuan sang aktris berujung momen komedi emas.

Naskahnya memperhatikan pengembangan cerita serta karakter. Gesekan konfliknya jelas: Walau para orang kaya baru tahu cara berfoya-foya, mereka belum siap menghadapi hal-hal yang datang seiring bertambahnya isi tabungan. Tika dan kehidupan sosial ditambah romansanya dengan Banyu (Refal Hady), Duta dengan tanggung jawab menangani pertunjukan berskala besar, Ibu dengan hal-hal berbau hukum dan legalitas. Semuanya asing bagi mereka. Alhasil, alasan di balik kesulitan tokoh-tokohnya bisa dipahami, termasuk saat mereka jatuh ke titik terendah masing-masing. Orang Kaya Baru punya presentasi elemen sebab-akibat mumpuni yang mana kerap dilupakan penulis naskah kita.

Sayang, naskahnya sedikit tersandung di paruh konklusi yang berpotensi membingungkan bagi sebagian penonton, akibat dituturkan secara terburu-buru, datang dan pergi begitu saja sehingga melemahkan dampak dramatik yang semestinya muncul guna mengakhiri cerita. Tapi toh berbekal segala kekuatannya, Orang Kaya Baru bakal berdiri tegak sebagai salah satu hiburan terkuat  tahun ini.

5 komentar :

Comment Page:

THE KID WHO WOULD BE KING (2019)

6 komentar
Entah dengan bocah zaman sekarang, tapi jika menontonnya semasa SD, saya akan terobsesi dengan The Kid Who Would Be King, khususnya di bagian klimaks, saat si tokoh utama memimpin teman-temannya berperang melawan pasukan berkuda dengan tubuh membara dan penyihir berusia ribuan tahun yang tampak bagai naga berwajah Gollum, dengan menyulap seisi sekolah menjadi benteng pertahanan. Sejujurnya saya kerap melamunkan fantasi semacam itu sewaktu kecil dulu.

Melalui The Kid Who Would Be King, Joe Cornish (Attack the Block) mengubah kisah Arthurian menjadi film keluarga bernuansa Amblin, yang bahkan mengandung cue musik serupa, serta pesan tentang kekuatan dalam diri dan cinta, sebagaimana banyak mahakarya Steven Spielberg pada era 80-an.

Filmnya berlatar di dunia serupa dunia kita, di mana kekacauan terjadi akibat penyalahgunaan kekuasaan serta lenyapnya kemuliaan. Kondisi tersebut turut mempengaruhi proses tumbuh kembang protagonis kita, Alex Elliot (Louis Ashbourne), yang hidup berdua bersama sang ibu (Denise Gough) sembari terus merindukan sosok ayah yang telah lama hilang.

The Kid Who Would Be King membuka perjalanan Alex saat ia menolong sahabatnya, Bedders (Dean Chaumoo), dari gangguan Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Doris). Tapi kebaikan Alex justru mendatangkan masalah baru, dan seperti banyak individu zaman sekarang, ia mulai meragukan esensi kebaikan. Tapi jangan khawatir, sebab film ini mampu menyentuh permasalahan serius tanpa harus membenamkan karakter anaknya dalam area yang terlampau gelap.

Tidak perlu juga bagi The Kid Who Would Be King berlama-lama di fase perenungan. Kita dengan cepat diajak menyaksikan keberhasilan Alex mencabut pedang Excalibur milik Raja Arthur, tanpa menyadari, bahwa secara bersamaan, Morgana (Rebecca Ferguson), saudari tiri Arthur, mulai bangkit dan bersiap membawa kegelapan bagi dunia sekaligus merebut Excalibur. Tentu Merlin (Angus Imrie) pun terlibat. Sang penyihir hadir dengan samaran sebagai remaja aneh bernama Mertin. Sesekali ia menunjukkan sosok tuanya, yang diperankan Patrick Stewart lewat kharisma “pria tua bijak” yang jamak kita jumpai di film-film setipe.

Merlin membimbing Alex memahami takdirnya sebagai pewaris Excalibur yang mesti menghentikan rencana Morgana. Untuk itu, selain Bedders, direkrut pula Lance dan Kaye. Sebab serupa Raja Arthur, Alex pun bisa mengubah lawan menjadi kawan. Bermodalkan kecerdikan berlatar semangat bersenang-senang, naskah buatan Cornish menyerap beberapa elemen legenda Arthurian, tanpa perlu mengekang kebebasan mengeksplorasi kisah ke arah berbeda.

Karena sejatinya salah satu pesan utama film ini adalah soal “memilih arahmu sendiri”. Walau presentasinya sedikit inkonsisten (tepat setelah pesan itu disampaikan, Cornish membuat karakternya kembali bergantung pada buku guna memecahkan masalah), elemen tersebut memang diperlukan oleh blockbuster masa kini. Masih segar di ingatan bagaimana Star Wars: The Last Jedi menerima setumpuk kebencian akibat enggan menjadikan Rey keturunan sosok penting. The Kid Who Would Be King melontarkan pernyataan tegas jika golongan biasa pun sanggup (dan berhak) menjadi figur luar biasa.

Absen menyutradarai selama bertahun-tahun tak membuat Cornish kehilangan sentuhan. Berpijak pada naskah penuh aksi di mana deretan laga muncul tepat waktu demi menjaga momentum, Cornish berhasil melahirkan beberapa sekuen seru lengkap dengan napas fantasi. Namun kemenangan terbesarnya adalah kesuksesan memberi hati. Cornish memanfaatkan kalimat “Honor those you love” untuk membangun momen ibu-anak menyentuh, yang dibungkus menggunakan sensitivitas dalam pengadeganan, akting kuat Denise Gough, serta timing sempurna.

6 komentar :

Comment Page:

PREMAN PENSIUN (2019)

9 komentar
Cerita semacam ini kerap saya dengar sejak kecil dari ayah. Tentang seorang pria “penguasa” jalanan yang dihormati anak buahnya, yang terdiri atas segerombolan preman setempat paling ditakuti. Bisa dimengerti ketika beliau tidak bangga akan kisah tersebut, namun sebagai bocah, tumbuh kekaguman akan sosok-sosok demikian. Bahkan salah satu tontonan favorit saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar adalah Goodbye Mr. Cool (2001) yang dibintangi Ekin Cheng.

Pada sebuah adegan dalam Preman Pensiun, Muslihat alias Kang Mus (Epy Kusnandar) menyuruh Ujang (M. Fajar Hidayatullah) mencari orang untuk diam-diam melindungi puterinya, Safira (Safira Maharani). Mereka senang hati membantu, sebab Kang Mus bukan semata bos, melainkan keluarga. Saya pernah mengalami hal serupa kala dahulu pertama tiba di perantauan untuk berkuliah. Saya mengagumi bentuk hubungan tersebut.

Itulah kenapa saya menikmati Preman Pensiun, walau belum menonton tiga musim serialnya. Kisah filmnya dimulai tiga tahun selepas episode terakhir, di mana Kang Mus beserta anak buahnya membubarkan diri demi memulai kehidupan baru.  Tapi nyatanya, sulit meninggalkan bisnis lama mereka, yang seperti diucapkan mendiang Kang Bahar (Didi Petet), adalah “Bisnis yang bagus tapi bukan bisnis yang baik”.

Kang Mus mengalami nasib serupa, tatkala usaha kecimpring miliknya semakin sepi setiap hari. Selain itu, terdapat pula kisah lain, seperti kekhawatiran Kang Mus akan Safira yang telah beranjak dewasa dan memiliki kekasih, hingga konflik lebih besar nan serius perihal pengeroyokan seorang pria.

Saya asing dengan serialnya, tapi sekali waktu saat pulang kampung, saya sempat menyimak beberapa judul produksi RCTI lainnya (Tukang Ojek Pengkolan, Dunia Terbalik, dan lain-lain). Sutradara sekaligus penulis naskah Aris Nugraha, yang dahulu turut melahirkan tontonan legendaris Bajaj Bajuri, kentara berusaha mempertahankan gaya khas “sinetron Sunda” tersebut. Aris pernah menyatakan keengganan mengangkat Preman Pensiun ke layar lebar, karena khawatir bakal menjadikannya eksklusif. Baginya, Preman Pensiun merupakan hiburan rakyat.

Hasilnya, penggemar lama secara khusus, atau pemirsa televisi secara umum, takkan merasa teralienasi begitu disuguhi lawakan ringan atau musik bernuansa Sunda garapan Dani Supit yang mengalun sepanjang film. Bedanya, berkat tambahan production value, otomatis Preman Pensiun punya tampilan lebih sinematik, pun didukung pilihan sudut kamera yang tak sinetron-ish.

Aris Nugraha juga mempertahankan model tutur sinetron, di mana begitu banyak cabang cerita untuk disatukan selama 90 menit durasi. Tempo cepat cenderung ngebut wajib diterapkan, ketika lompatan antar momen terjadi sekejap mata. Guna mengakali itu, Aris memakai teknik transisi yang membuat dialog dan gambar muncul silih berganti bak saling bersautan (Bagi kebanyakan penonton, teknik ini dipopulerkan film-film Warkop DKI).

Teknik bernuansa komedik di atas mungkin takkan memancing tawa lepas, tapi cukup menyuntikkan nuansa keceriaan yang memancing senyum. Cara tutur tersebut sejatinya melemahkan kekuatan drama mengenai usaha pertobatan para pensiuman preman. Konflik yang sesungguhnya sederhana berakhir lebih rumit ketimbang seharusnya. Desain narasi Preman Pensiun memang tak bertujuan menguatkan emosi, melainkan memfasilitasi agar durasi singkatnya bisa mencakup seluruh cabang cerita, dan tentu saja, bersenang-senang.

Biarpun tanpa cerita yang seberapa dalam, Aris Nugraha telah berhasil mencapai tujuan awalnya, yaitu membuat film hiburan bagi semua kalangan. Deretan karakternya “berwarna”, pun sesekali bertindak absurd. Sebutlah Mang Uu (Mang Uu) dengan Bahasa Inggris ala kadarnya, atau Kang Pipit (Ica Naga) yang gemar menggoda wanita dan memperhatikan detail-detail kecil tidak penting. Humor dari karakternya hadir dalam dosis secukupnya. Aris berusaha melucu tanpa memaksakan kekonyolan di tiap adegan.

Di luar dugaan, Preman Pensiun juga menyimpan hati, seperti nampak kala Kang Mus mengenang masa-masa menjadi anak buah Kang Bahar di depan puteri mantan bosnya itu, Kinanti (Tya Arifin). Saya terenyuh meski tak pernah melihat langsung hubungan Kang Mus dengan Kang Bahar berkat akting solid Epy Kusnandar (seperti biasa), serta sensibilitas Aris Nugraha membungkus melankoli dalam proses mengenang sesuatu yang pantas dikenang.

9 komentar :

Comment Page:

MATA BATIN 2 (2019)

10 komentar
Don’t change a winning formula”. Rocky Soraya menuruti petuah tersebut. Sebab buat apa berubah, bila sebuah formula mampu membawanya meraih rekor MURI sebagai sutradara pertama yang empat kali beruntun menghasilkan film jutaan penonton? Alhasil, kecuali Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018), sejak The Doll (2016) Rocky selalu menerapkan templat sama. Dia hanya perlu mengganti nama karakter. Sisanya, dari konflik, twist, hingga resolusi, nyaris tanpa perbedaan.

Begitu pula di Mata Batin 2. Hidup Alia (Jessica Mila) boleh mengalami perubahan drastis pasca kematian adiknya, Abel (Bianca Hello), di tangan makhluk halus. Tapi peristiwa seterusnya masih berkutat soal teror hantu terhadap sepasang suami-istri, yang nantinya diketahui menyimpan rahasia. Rahasia yang oleh duet penulis naskah langganan Rocky, Riheam Junianti dan Fajar Umbara, dijadikan bahan baku twist khas opera sabun.

Pasangan itu adalah Laksmi (Sophia Latjuba) dan Fadli (Jeremy Thomas), pemilik panti asuhan megah bak kastil negeri dongeng, yang jadi tempat Alia menjalani kerja sosial dalam rangka melangkah menuju hidup baru. Tapi bukan itu saja tujuan protagonis kita. Lewat penerawangan yang didapat, Alia yakin panti asuhan tersebut memegang kunci jawaban misteri kematian Abel.

Di sana pula Alia bertemu Nadia (Nabilah Ayu), gadis dengan mata batin yang juga terbuka sepertinya. Berdua, mereka menyelidiki teror sesosok hantu bocah yang mengirim pesan melalui suara-suara di dinding. Suara itu lirih, berbanding terbalik dengan gebrakan-gebrakan efek suara berisik yang gemar menusuk telinga penonton tiap beberapa menit sekali. Sekecil apa pun kejanggalan terjadi, Mata Batin 2 selalu menaikkan volume ke titik maksimum.

Tata suara garapan Khikmawan Santosa cuma mempedulikan volume, hingga lalai mengatur agar dialognya mudah didengar. Berkali-kali saya kesulitan mencerna kaliamt apa yang meluncur dari mulut jajaran pemainnya. Sementara soal dampaknya terhadap teror, beberapa momen dengan potensi kengerian cukup tinggi berujung kehilangan daya akibat distraksi efek suara meledak-ledak filmnya.

Mata Batin 2 merupakan titik nadir seorang Rocky Soraya. Sebelum ini, walau menerapkan pola mirip, Rocky kentara masih mencurahkan segenap daya upaya. Kali ini, ketimbang presentasi kekhasan, Rocky bagai membuat parodi bagi cirinya sendiri. “Film saya harus mengandung adegan kaca pecah, gerakan kamera cepat,  lalu ditutup banjir darah”, mungkin begitu ia pikir. Mata Batin 2 begitu malas, berlawanan dengan karya-karya Rocky sebelunya, tak satu pun jump scare berhasil, apalagi melekat di ingatan begitu durasi berakhir.

Metode menumpahkan darahnya pun serupa, di mana salah satu karakter dirasuki arwah pembawa dendam guna membunuh orang lain atau melukai diri sendiri. Caranya? Tentu saja memakai tusukan pisau seperti biasa. Beruntung, momen gore penutupnya lebih inovatif. Kuantitas banjir darahnya menurun, namun dampaknya lebih besar berkat keberanian Rocky mengeskalasi tingkat sadisme.

Sialnya, keberhasilan parade kekerasan film ini diganggu upaya memantik emosi lewat dramatisasi menggelikan dilengkapi ceramah perihal “larangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang idealnya hanya dapat ditemui dalam sinetron religi bertema alam baka. Bahkan penampilan solid Sophia Latjuba maupun Jessica Mila yang makin bisa diandalkan sebagai scream queen tak kuasa menolong konklusinya. Saya berharap Rocky mulai perlahan mencoba gaya baru. Tapi dengan perolehan lebih dari 53 ribu penonton di hari pertama, tipis kemungkinan harapan tersebut jadi kenyataan.

10 komentar :

Comment Page: